Our Ambassadors talk at junior high schools in Langowan!

Early this year we visited high schools all over Langowan and picked a student from each school to be our Yaki Ambassador. Now, it’s these Ambassadors’ turn to talk in front of their juniors at junior high schools in Langowan and teach them to protect the environment and protect the yaki! Read more about their debut here!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

In mid-April, our Ambassadors, fresh out of our Yaki Youth Camp, went to SMP N 1 Langowan to give a talk, with our team overseeing. This debut talk in Langowan was delivered by Debora Manopo, Yaki Ambassador from SMA N 1 Langowan. “I graduated from SMP N 1 Langowan, so I wasn’t too nervous,” Debora said. “I think the students were initially interested because the yaki looks cute. They didn’t know that the yaki is nearly extinct, so they looked surprised when they discovered how few were left in the wild.”

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Junior high schools in Langowan are quite widespread. The furthest school we went to was in the village of Atep, a 30-minute car ride from Langowan . “I’ve never been to Atep, so I felt lucky to be able to go there to give a talk,” said Ira Manggribeth, Yaki Ambassador from SMA Kristen Schwarz Langowan. The people of Atep see the yaki quite often because the village is surrounded by relatively thick forests. “Even though the students have seen the yaki before, they seemed curious about our presentation. They’ve only ever seen yaki in passing, and don’t know the yaki’s daily habits. They also seemed surprised when they found out the yaki is almost extinct!”

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

After the intensive (but fun!) training in Yaki Youth Camp, we didn’t have to talk up front! Our team only accompanied and introduced the Ambassadors in the beginning of the presentation. The real talk, explaining the importance of protecting the environment and the yaki, was delivered by our Ambassadors. At SMP N 2 Langowan, The Ambassador who got the gig was Leyfi Kiling, from SMA N 2 Langowan. “I had mixed feelings during the presentation. My legs were shaking,” said Leyfi. “But talking in front of junior high school students was fun! They were noisy sometimes, but it was because they were interested in our topic. When we went into the Q&A and quiz session, they went wild trying to be the first hand in the air. Seeing them so enthusiastic and cheerful during my talk made me even more enthusiastic and cheerful!”

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

Apart from the talk, our Ambassadors motivated the students by telling them how conservation activities can be really fun, like what we did in Yaki Youth Camp, and of course we taught them our YYC Jingle! When the SY team visited SMP N 9 Langowan, the YYC Jingle was taught by Vanesa Tewuh, Yaki Ambassador from SMK N 1 Langowan. “The students laughed a lot when we taught them the jingle,” said Vanesa. “But when it was their turn to sing, they really bought it home!”

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Talks didn’t always go smoothly. In several schools, venue became an issue since they didn’t have a hall that could fit the students. “I went to the talk at SMP N 2 Langowan. All the students, from grade 7 to grade 9 were present, while the talk was held in one classroom. Some of the students had to stand through the presentation,” said Alfano Piri, Yaki Ambassador from SMK Yadika Langowan. In other schools, the hiccup came in the form of electrical problems. Our Ambassadors had to improvise and talk without the help of a projector! Ivan Welang, our Ambassador from SMA Yadika Langowan, delivered the presentation at SMP N 6 Langowan. Because the power went out, Ivan had to talk while holding up the laptop, occasionally walking among the students so they can see the presentation. “I felt nervous when the power went out, but I tried to act normal,” Ivan said. “Even without the projector, the students were enthusiastic because they were curious about the yaki.”

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

We’re very proud of our Ambassadors in Langowan. In the space of a few months, their public speaking abilities increased noticeably! Stay tuned for news about our Ambassadors in Tomohon, who have also given talks at junior high schools in Tomohon! We hope that with more awareness within the young generation about the threats the yaki face, the greater their actions to protect the yaki from extinction!

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Para Duta berbicara di SMP-SMP Langowan!

Awal tahun ini kami mengunjungi SMA-SMA di seluruh Langowan dan memilih satu orang siswa dari setiap SMA untuk menjadi Duta Yaki kami. Sekarang, giliran para Duta ini yang berbicara di depan adik-adik mereka di SMP-SMP di Langowan dan menghimbau mereka untuk menjaga lingkungan dan melindungi yaki! Simak sepak terjang para Duta Yaki ini di SMP-SMP di Langowan!

 

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Pada pertengahan April, Duta-Duta yang masih penuh semangat sesudah Yaki Youth Camp diterjunkan ke SMP N 1 Langowan untuk memberikan sosialisasi, tentu saja dengan tim kami sebagai pendamping. Sosialisasi pembuka ini dibawakan oleh Debora Manopo, Duta Yaki dari SMA N 1 Langowan. “Saya merupakan alumni SMP N 1 Langowan, jadi saya tidak terlalu gugup,” kata Debora. “Saya rasa pada awalnya para siswa tertarik karena mereka merasa yaki itu lucu. Mereka tidak tahu yaki itu hampir punah, jadi mereka tampak kaget ketika tahu betapa sedikit jumlah yang tersisa di hutan.”

 

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

SMP-SMP di Langowan letaknya cukup tersebar. SMP paling jauh yang kami kunjungi terletak di desa Atep, yang dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari Langowan menggunakan mobil. “Saya belum pernah ke Atep, jadi saya merasa beruntung bisa jalan-jalan ke sana untuk sosialisasi,” ujar Ira Manggribeth, Duta Yaki dari SMA Kristen Schwarz Langowan. Masyarakat masih sering melihat yaki di sekitar Atep karena desa tersebut dikelilingi hutan yang cukup lebat. “Meski para siswa pernah melihat yaki, mereka tetap saja penasaran dengan materi kami. Mereka hanya melihat yaki sekilas, tapi tidak tahu kesehariannya seperti apa. Mereka juga terlihat terkejut ketika tahu yaki hampir punah!”

 

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Setelah pelatihan yang cukup intensif (tapi menyenangkan!) di Yaki Youth Camp, kami sudah tidak perlu berbicara lagi di depan! Tim kami hanya mendampingi dan memperkenalkan para Duta di awal presentasi. Sosialisasi yang sesungguhnya, yang menjelaskan betapa pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga yaki, dibawakan para Duta kami. Di SMP N 2 Langowan, Duta yang diberi tugas untuk menyampaikan materi sosialisasi adalah Leyfi Kiling, Duta kami dari SMA N 2 Langowan. “Perasaan saya campur aduk ketika presentasi. Kaki saya sampai gemetaran,” ujar Leyfi. “Tapi ternyata menyenangkan berbicara di depan adik-adik SMP! Mereka kadang-kadang ribut, tapi ribut karena tertarik dengan topik yang kami bawakan. Ketika kami masuk sesi tanya-jawab dan quiz, mereka berebut angkat tangan. Melihat mereka bersemangat dan ceria mengikuti presentasi saya membuat saya juga semakin semangat dan semakin senang!”

 

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

Selain itu, mereka juga menyemangati adik-adik SMP dengan menceritakan bagaimana kegiatan konservasi bisa menjadi sangat seru, seperti yang kami lakukan di Yaki Youth Camp, dan tentu saja mengajarkan Yel-yel YYC kami pada mereka! Ketika tim SY mengunjungi SMP N 9 Langowan, tugas mengajarkan Yel-yel YYC diberikan pada Vanesa Tewuh, Duta Yaki dari SMK N 1 Langowan. “Para siswa tertawa-tawa ketika kami mengajarkan Yel-yel YYC,” kata Vanesa. “Tapi ketika giliran mereka bernyanyi, mereka menyanyikannya dengan semangat 45!”

 

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Sosialisasi tidak selamanya berjalan mulus. Di beberapa sekolah, ruang pertemuan menjadi kendala karena tidak ada aula yang bisa menampung semua siswa dengan nyaman. “Waktu itu, saya ikut sosialisasi di SMP N 2 Langowan. Sosialisasi diikuti seluruh siswa, dari kelas 7 hingga 9, sementara sosialisasi diadakan di satu ruangan kelas. Terpaksa, sebagian siswa mengikuti materi sambil berdiri,” ujar Alfano Piri, Duta Yaki dari SMK Yadika Langowan. Di sekolah-sekolah lain, sosialisasi sempat terhambat karena masalah listrik. Mau tidak mau, tim kami serta para Duta harus berimprovisasi dan menyampaikan materi tanpa bantuan projector! Ivan Welang, Duta kami dari SMA Yadika Langowan, mendapat giliran berbicara di depan siswa SMP N 6 Langowan. Karena kendala listrik, Ivan pun menyampaikan materi sambil memegang laptop, sesekali berjalan di antara para siswa agar mereka bisa melihat presentasi. “Saya merasa gugup ketika tahu tidak ada listrik, tapi saya berusaha berbicara seperti biasa,” kata Ivan. “Meski tidak ada projector, mereka tetap semangat mengikuti sosialisasi karena penasaran tentang yaki.”

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Kami sangat bangga dengan Duta-Duta kami di Langowan. Dalam beberapa bulan, kemampuan mereka untuk menyampaikan pendapat di depan umum berkembang pesat! Nantikan kabar selanjutnya mengenai Duta-Duta kami di Tomohon, yang juga sudah melakukan sosialisasi kepada adik-adik mereka di SMP-SMP di Tomohon! Semoga dengan bertambahnya kesadaran generasi muda mengenai ancaman yang dihadapi yaki, semakin bertambah pula kesadaran untuk melindungi mereka dari ancaman kepunahan!

This slideshow requires JavaScript.

We have a new member on board: Prisi!

Ever wonder about the person behind the smart designs for our various campaign materials? Meet Prisillia Morley Loijens, our graphic-design-volunteer-turned-education-assistant!

Hello, everyone! My name is Prisillia Morley, also known as Prisi…but commonly known as Morley. Growing up, I had always been very much involved in music & visual arts; I took piano lessons, I drew and took painting lessons, my parents would take me to art museums and we would go see musical theater plays when we can. In school, I was that kid who got in trouble for doodling in class while the teacher babbled on about grammars & equations ;) Aside from being an arty kid, I also loved the outdoors; I absolutely adored the sea and just love the feeling of being surrounded by nature. It goes without saying that I ended up holding such an admiration towards nature and its vast variety of wildlife.

I enjoy taking photos. Sometimes I take over people's cameras and take nice photos for them ;) That camera in particular is my friend Oryza's. Historical camera with historical photos, that one...

I enjoy taking photos. Sometimes I take over people’s cameras and take nice photos for them ;) That camera in particular is my friend Oryza’s. Historical camera with historical photos, that one…

Hello, semuanya! Nama saya Prisillia Morley Loijens, juga dikenal sebagai Prisi…tapi banyak dikenal sebagai Morley. Dari kecil saya selalu terlibat dengan seni musik & seni visual; saya ikut les piano, saya menggambar dan les melukis, orang tua saya membawa saya ke museum seni dan kami melihat pentas teater musikal jika ada kesempatan. Di sekolah, saya adalah tipe murid yang selalu kena masalah karena senang menggambar disaat Guru mengoceh tentang tata bahasa & rumus hitungan ;) Selain menjadi anak yang senang dengan seni, saya juga sangat menyukai alam; saya sangat mengagumi laut dan sangat menyukai perasaan yang saya dapat ketika dikelilingi oleh alam. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa akhirnya muncul kekaguman tersendiri terhadap alam dan berbagai macam satwa liarnya.

With that admiration, came the need to save and protect; having gone through all these years learning about the issues threatening our environment & its wildlife helped me realize that I really wanted to take part in helping save our environment. Being in Design school just developed my way of thinking into one that is constantly conservation-related, always thinking of ways in which Design can help with conservation. It all started when my particular interest in marine conservation bloomed and blossomed rapidly; I found myself always trying to find ways to combine my academic background with conservation, by integrating the topic of both environmental & wildlife conservation into my school assignments.

When design meets marine conservation - I helped organized North Sulawesi's 1st Finathon in December 2013 and did some graphic design work for pledge banners and pins

Design meets marine conservation – I helped organized North Sulawesi’s 1st Finathon in December 2013 and did some graphic design work, too!

Now that I’m finally out of school, I’m gladly getting more involved and happily doing more work in conservation, by using my skills and knowledge in design & conceptualizing to help with conservation efforts in the real world, particularly in my beloved North Sulawesi!

Dengan adanya kekaguman tersebut, muncul pula rasa kebutuhan untuk menyelamatkan dan melindungi; setelah bertahun-tahun belajar tentang isu-isu yang mengancam alam kita & satwa liarnya, saya menyadari bahwa saya benar-benar ingin dapat ikut membantu menyelamatkan lingkungan kita. Sekolah di bidang desain membuat cara berpikir saya lebih berkembang menjadi cara berpikir yang selalu menghubungkan Desain dengan konservasi, selalu memikirkan cara-cara di mana Desain dapat membantu konservasi. Semua ini berawal ketika ketertarikan saya terhadap konservasi laut, khususnya, mulai mekar dan berkembang dengan begitu cepatnya; saya mulai menggabungkan latar belakang pendidikan saya dengan konservasi, dengan mengintegrasikan topik konservasi lingkungan & satwa liar ke dalam tugas-tugas sekolah saya. Sekarang, setelah akhirnya selesai dengan sekolah, saya dengan senang hati lebih terlibat dan bekerja di dunia konservasi, dengan menggunakan keterampilan & pengetahuan saya dalam desain & pemikiran konseptual untuk membantu upaya konservasi di dunia nyata, khususnya di daerah tercinta saya, Sulawesi Utara!

I first learned about Selamatkan Yaki when I met Program Manager Harry Hilser at a Christmas event in December 2012. I was in charge of guest registration that day and he was there to give SY some more exposure. When I was finally able to sit down next to him that day, I asked him about what SY is all about, which of course led him to explaining about the alarming fact that is the rapidly declining yaki population, mainly caused by human consumption and deforestation. The moment I learned about issues concerning our yaki (which is a North Sulawesi endemic species, found nowhere else in the world, by the way!), I knew that I had to get involved.

Saya pertama kali mengenal Selamatkan Yaki ketika saya bertemu Manajer Program, Harry Hilser,  di sebuah acara Natal pada bulan Desember 2012. Saat itu saya bertugas di bagian pendaftaran tamu dan Harry hadir untuk mempublikasikan SY ke lebih banyak orang. Ketika saya akhirnya bisa duduk di sebelahnya, saya bertanya-tanya tentang SY, yang tentu saja memancing dirinya untuk menjelaskan tentang fakta yang menghawatirkan yaitu penurunan populasi yaki yang sangat cepat, yang disebabkan oleh konsumsi manusia dan perambahan hutan. Ketika saya mengetahui lebih banyak tentang isu-isu seputar yaki (yang merupakan spesies endemik Sulawesi Utara, tidak dapat ditemukan di daerah lain di dunia, by the way!), saya tahu saat itu juga bahwa saya harus ikut terlibat.

I finally got the chance to join Selamatkan Yaki in November 2013 as a Graphic Design volunteer, a few months fresh out of college. I joined just in time to help get the 2013-2014 Yaki Pride Campaign going, by helping with informational text panel designs to accompany all the photographs that are currently up for display at the Yaki Exhibition in Pa’Dior, Tompaso-Minahasa, as well as other campaign materials. After wrapping up my studies in Bandung-West Java where I studied Visual Communication Design and graduated as a Bachelor of Design in August 2013, I settled back home in Manado and got back in touch with Harry to let him know that I was done with school and would love to finally offer some Design help for the SY program. He then told me to get in touch with Education & Advocacy Coordinator Thirza Loffeld…and the rest is history.

With Prof. Dr. W. A. Roeroe, a legend. Honored to have met him at the first Torang Bacirita event in November 2013, my first SY event as their new volunteer ;)

With Prof. Dr. W. A. Roeroe, a legend. Honored to have met him at the first Torang Bacirita event in November 2013, my first SY event as their new volunteer ;)

Saya akhirnya berkesempatan bergabung dengan Selamatkan Yaki di bulan November 2013 sebagai relawan Desain Grafis, beberapa bulan setelah lulus kuliah. Saya bergabung tepat waktu dan dapat ikut membantu menjalankan Kampanye Kebanggaan Yaki 2013-2014, dengan mendesain panel informasi yang menemani semua foto-foto yang saat ini dipamerkan di Pameran Yaki di Pa’Dior, Tompaso-Minahasa, beserta bahan-bahan kampanye lainnya. Setelah menyelesaikan kuliah Desain Komunikasi Visual di Bandung-Jawa Barat dan lulus sebagai Sarjana Desain pada bulan Agustus 2013, saya kembali lagi menetap di Manado dan kembali menghubungi Harry untuk mengabari bahwa saya sudah selesai sekolah dan dengan senang hati ingin menawarkan bantuan Desain untuk program SY. Ia kemudian memberitahu saya untuk langsung berhubungan dengan Koordinator Pendidikan & Advokasi, Thirza Loffeld…dan sisa ceritanya dapat ditebak.

Fast forward to 8 months later, just before my “gap-year” was coming to an end, a position opened up and I was offered to join the SY EARS (Education and Awareness Raising Strategy) team, as an Education Assistant, focusing mostly on Design & Communications, among other things. I most gladly accepted the offer, because I believe that design & visual communications can really support conservation efforts, especially in educating & spreading awareness. I also believe that good design is capable of bringing about positive changes in people’s behavior & ways of thinking. I want to help SY achieve all that and I’m super excited for everything that’s brewing here over at the SY HQ!

Fast forward ke 8 bulan kemudian, beberapa waktu sebelum “gap-year” saya berakhir, SY membuka lowongan kerja saya ditawarkan untuk bergabung dengan tim EARS (Strategi Pendidikan dan Penyadartahuan) SY, sebagai Education Assistant dengan tanggung jawab yang lebih terfokus pada bidang Desain & Komunikasi, di samping hal-hal lainnya. Dengan sangat senang hati saya menerima tawaran tersebut, karena saya percaya bahwa desain & komunikasi visual benar-benar dapat mendukung upaya-upaya konservasi, khususnya dalam memberikan edukasi dan penyadartahuan. Saya juga percaya bahwa desain yang baik mampu membawa perubahan positif terhadap perilaku dan cara berpikir masyarakat. Saya ingin membantu SY mencapai semua itu dan saya sangat antusias dengan semua yang sedang direncanakan & dipersiapkan di markas besar SY ini!

Me doing a little school project...about jumping Scrabble

Other than working on graphic design, I love spending time working on motion graphics. Here is me working on a stop-motion animation involving Scrabble letters! Shout out to my fellow Designer & partner-in-projects Olivia Pangkey for the killer photo.

Through this post I would also like to leave a message to my fellow Designers, that whether we realize it or not, design is a BIG part of conservation. On the one hand, conservation is all about scientific research, but all the different kinds of media that are available out there are pretty much the ammunition for a successful conservation campaign, through which we expose these scientific facts to people. By using the appropriate media, combined with good design execution, we will be able to send out messages effectively, giving us the amount of impact that we desire and achieving the results that we seek! I really hope that more Designers will realize how much help they can be for the environment & its wildlife and that they’d be willing to get involved with conservation by creating good designs, because it feels good to be good and do good!

Melalui postingan ini saya juga ingin meninggalkan pesan untuk teman-teman Desainer lainnya, bahwa sadar atau tidak, desain merupakan bagian BESAR dari konservasi. Di satu sisi dari konservasi, penelitian ilmiah mempunyai peranan besar, tetapi media-media yang tersedia dalam berbagai macam jenis merupakan amunisi dari suatu kampanye konservasi, yang mana kita gunakan untuk menyebarkan hasil-hasil penelitian ilmiah tersebut kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan media yang tepat, dikombinasikan dengan eksekusi desain yang baik, kita bisa menyalurkan pesan secara efektif, memberikan kita dampak yang kita inginkan dan mencapai hasil-hasil yang kita cari! Saya sangat berharap bahwa akan lebih banyak lagi Desainer yang sadar akan seberapa banyak bantuan yang bisa mereka berikan untuk lingkungan & satwa lainnya dan semoga menjadi lebih tergerak untuk mau terlibat dalam konservasi dengan menciptakan karya desain yang baik, karena senang rasanya bisa jadi orang baik dan melakukan hal-hal yang baik!

After her stint as one of our volunteer graphic designers, Prisi is full-time on our EARS team as an Education Assistant. We’re looking forward to her input on our upcoming projects!

Yaki hampir punah: Gereja harus bertindak

This slideshow requires JavaScript.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik (hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia) Sulawesi Utara, dan keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis sampai 80%. Keadaan ini disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah diubah menjadi perkebunan bahkan perumahan, sehingga tidak ada lagi tempat untuk bernaung. Selain perambahan hutan ancaman lain yang menyebabkan penurunan populasi adalah karena perburuan. Alasan perburuan sering yang terjadi  adalah karena yaki dianggap hama, untuk dipelihara, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi.

Yaki or Macaca nigra, is one of North Sulawesi’s endemic (found only in one place and nowhere else in the world) species and their existence is currently at a very alarming state. In the period of the last 40 years, yaki population has declined drastically to 80%. This situation is caused by forests in which the yaki live having been turned into farming fields, even housing estates, eliminating places for shelter. Other than the threat of encroachment, threats that cause population decline is hunting. Reason as to why hunting often happens is because yaki are considered as pests, pets and the most common reason especially in North Sulawesi, is consumption.

Pada tanggal 15 Juli 2014, di Pa’Dior YISBSU Tompaso, Yayasan Selamatkan Yaki mengadakan workshop bertajuk Torang Bacirita:Green Gospel (TBGG), yang dihadiri oleh Pendeta, Pastor, dan Hamba Tuhan di tingkat Sinodal atau Majelis Daerah, dan turut mengundang Departemen Agama dan pemerhati lingkungan yang ada di sekitar Tomohon dan Langowan. Workshop ini dilaksanakan dalam rangka Kampanye Kebanggan Yaki oleh Yayasan Selamatkan Yaki. Keterlibatandari pihak gereja dalam menyebarkan pesan konservasi sangat diperlukan mengingat bahwa penduduk Minahasa yang oleh umat Kristiani, sehingga gereja memiliki peran yang sangat krusial di tengah masyarakat; itulah yang melandasi TBGG ini dilaksanakan. 

On July 15th 2014, Selamatkan Yaki foundation held a workshop at Pa’Dior YISBSU Tompaso, titled Torang Bacirita: Green Gospel (TBGG), attended by Reverends, Pastor and Servants of the Lord (Hamba Tuhan) in the Sinodal or Regional Assembly level and also invited the Department of Religion and other environmentalists around Tomohon and Langowan. This workshop was conducted as a part of the Yaki Pride Campaign by Selamatkan Yaki. The involvements of the church in spreading conservation messages is desperately needed, given the fact that the majority of Minahasa people are Christians, giving the church a crucial role within the community; it is the reason under which TBGG was implemented.

Sudah saatnya gereja langsung bertindak nyata menyelamatkan semua ciptaan Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satu peran gereja di tengah dunia adalah mengubah masyarakat dari konsumsi tinggi menjadi penyelamat dan penjaga lingkungan. Ini adalah perwujudan dari amanat agung yang diemban oleh seluruh umat manusia, yaitu untuk menjaga dan mengusahakan bumi, bukannya merombak dan mengeksploitasi berlebihan.

It is time for churches to take real action in saving all of God’s creations that are very meaningful for human lives. One of the church’s roles in the world is to change society’s habit of high consumerism into being the savior and stewards of the environment. It is the embodiment of the great and holy mandate that is carried by all mankind, which is to maintain and manage the Earth, not to destroy and exploit redundantly.

Workshop dalam bentuk diskusi ini didahului dengan pemaparan materi dari peneliti dan ahli primata, serta tokoh rohaniawan Sulawesi Utara. Dari seminar ini diharapkan akan terbentuk komitmen bersama dari pimpinan gereja dalam penyusunan materi pelayanan yang lebih meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya pelestarian dan perlindungan terhadap ciptaan Tuhan, terlebih khusus satwa endemik Sulawesi Utara Macaca nigra sebagai satu bentuk pernyataan iman kristiani.

This workshop that was organized in the form of discussions was preceded by talks given by researchers and primate experts, as well as religious icons of North Sulawesi. Through this seminar, joined-commitments are expected to be formed by leaders of churches with regards to preparations of service materials that will heighten awareness within the community about the importance of preservation as well as protection of God’s creations, especially the endemic species of North Sulawesi that is the Macaca nigra, as a form of statement of the Christian faith.

This slideshow requires JavaScript.

Stan Informasi untuk selamatkan yaki – Information stands to save the yaki!

Bulan lalu, sekelompok siswa asal Jakarta yang melakukan study tour dikejutkan dengan pemandangan seekor yaki, yang tampaknya belum lama mati, tergantung di atas salah satu meja penjual di Pasar Tomohon. Penjual-penjual sekitar tidak merasa bahwa ini adalah pemandangan yang tidak wajar. Bahkan, salah seorang sopir angkot berkata bahwa daging yaki dikonsumsi hampir setiap hari oleh beberapa orang.Masyarakat yang mengkonsumsi yaki secara teratur mungkin sedikit, tapi jumlah yang sedikit ini cukup untuk menekan populasi yaki hingga hampir punah.

Some time ago, a group of students from Jakarta visited the Tomohon Market as part of their study tour. They were shocked to see a yaki, which looked like it had recently died, hanging above one of the seller’s stalls. Other sellers did not seem to think that the sight was unusual. One angkot driver even said that yaki meat was consumed almost daily by some people. Despite this, it seems that only a few particular people still regularly eat yaki, but this is still enough to bring these animals close to disappearing forever.

20140607_080821_

Yaki adalah monyet sangat terancam namun masih dapat ditemukan di pasar-pasar di Sulawesi Utara, seperti yang tampak di pasar Tomohon. Despite that the Macaca nigra is Critically Endangered, this primate can still be seen for sale on the traditional markets in North Sulawesi, such as the market in Tomohon in the photo.

Meskipun sebagian masyarakat mengklaim masih sering melihat yaki liar, hal ini tidak bisa dijadikan tolak ukur populasi mereka di hutan tersebut, apalagi di Sulawesi Utara secara keseluruhan. Biasanya masyarakat hanya menjumpai satu kelompok yaki secara berulang kali sehingga mereka mendapat kesan jumlah yaki di hutan tersebut masih banyak. Padahal menurut penelitian, populasi yaki di Sulawesi Utara kini tersisa kurang dari 5.000 ekor, dengan 2.000 ekor di antaranya hidup di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara. Jumlah ini adalah hasil dari penurunan populasi sebesar 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun yaki dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Even though people claim that yaki sightings happened frequently, this does not represent their population in that particular forest, let alone the entire North Sulawesi. People often spot one yaki group repeatedly, giving the impression of an abundant population in the forest, whereas research shows that there are less than 5.000 yaki remaining in North Sulawesi, 2.000 of which can be found in Tangkoko-Duasudara Nature Reserve. These numbers are the result of an 80% population decline over the past 40 years, despite the fact that yaki are protected under UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Menanggapi kenyataan ini, Selamatkan Yaki bekerjasama dengan P.D. Pasar Langowan dan Tomohon akan mengadakan stan informasi di Pasar Langowan pada tanggal 5 dan 12 Juli, diikuti Pasar Tomohon pada tanggal 26 Juli dan 2 Agustus. Tanggal-tanggal ini sengaja dipilih mengingat ini merupakan hari pasar yang ramai, baik di Langowan maupun Tomohon. Apalagi tanggal-tanggal ini adalah hari pasar menjelang masing-masing Pengucapan Minahasa dan Tomohon, sehingga bisa dipastikan animo membeli masyarakat lebih tinggi dari biasanya.

To address this issue, Selamatkan Yaki will collaborate with the market officials of Langowan and Tomohon and open information stands in the markets of Langowan on July 5th and 12th, followed by Pasar Tomohon on July 26th and August 2nd. The dates were chosen to coincide with the major market days in both Langowan and Tomohon. Each set of dates also happen to be market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, respectively, so market activity will be higher than usual.

Langowan 121213 (79)

The Selamatkan Yaki team raising awareness through information stands near the markets of Langowan and Tomohon last December around Christmas time.

Pengucapan di Minahasa dan Tomohon terkenal dengan acara ramah tamah yang menyajikan berbagai jenis makanan, dan satwa liar yang terancam punah, salah satunya yaki, pun termasuk dalam deretan hidangan yang bisa ditemui. Kami memilih hari pasar menjelang Pengucapan dengan harapan bisa meyakinkan masyarakat untuk tidak membeli dan menghidangkan daging satwa liar, terutama yaki. Di stand informasi ini, masyarakat bisa bertanya pada tim Selamatkan Yaki mengenai yaki dan habitatnya dan langsung mendapat jawaban yang jelas dan memiliki dasar ilmiah. Ini akan berguna untuk meluruskan pendapat-pendapat subjektif dan menggerakan masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan hidup pada umumnya dan yaki pada khususnya.

Thanksgiving celebrations in Minahasa and Tomohon are known for meals serving various types of food, with endangered animals, one of them the yaki, being part of the menu. The market days preceding Thanksgiving were chosen in the hopes that we convince people to abstain from buying and serving bushmeat, particularly yaki. In these information stands, people can ask the Selamatkan Yaki team about the yaki and their habitat and get direct, well-informed answers. This will help clarify subjective opinions and hopefully motivate people to care about the environment, especially the yaki.

Populasi satwa liar bukannya tidak terbatas; konsumsi terus menerus dari masyarakat, ditambah perambahan hutan yang tidak terkendali, akan mendorong jenis-jenis satwa ini semakin dekat ke ambang kepunahan. Hal ini terutama mengkhawatirkan bagi satwa endemik, seperti yaki, yang tidak bisa ditemui di luar Minahasa. Yaki menyebarkan biji dari 145 jenis buah yang tumbuh di hutan, dengan demikian membantu pertumbuhan mereka dan menjamin hutan yang sehat, yang pada akhirnya akan menguntungkan manusia. Apabila mereka punah, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan mereka atau mengganti peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Alangkah baiknya jika kita bangga dan aktif melindungi alam Sulawesi Utara kita, demi kebaikan kita dan anak cucu kita.

Wildlife populations are not unlimited; continuous consumption of endangered species, along with uncontrolled habitat encroachment, will push species even closer to the brink of extinction. This is particularly worrying for endemic species, like the yaki, that cannot be found outside of Minahasa. The yaki distributes the seeds of 145 different fruits that grow in the forest, thus assisting their growth and ensuring a healthy forest, which in turn will benefit humans. If they go extinct, there is nothing that we can do to bring them back or replace the role they play in maintaining the balance of our ecosystem.  We should be proudly and actively protecting the nature in North Sulawesi, for our own and our children’s benefits.

Stan informasi di Langowan Desember 2013

Untuk masa depan anak-anak kita, kita perlu melindungi hutan dan semua satwa yang tinggal di dalamnya. For the future of the next generation, our children, we need to conserve the forests and all animals in it.

Update kegiatan Selamatkan Yaki di Tangkoko

IMG_2184_

Kadis Pariwisata Bitung sedang menyampaikan presentasi tentang tugas pramuwisata. | Bitung’s head of Tourism giving a talk about the duties of tour guides.

Tangkoko Rejuvenation Program (TRP) merupakan salah satu aktivitas dari Selamatkan Yaki dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Pengembangan Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekitar Tangkoko.
Tangkoko Rejuvenation Program (TRP) is one of Selamatkan Yaki’s activities, aimed to increase conservation area management and protection of the biodiversity that inhabits it. The development of Forest Conservation Community Forums (Forum Masyarakat Konservasi Hutan – FMKH) is one such effort to increase the involvement of people living around Tangkoko.

DSCN3682

Pertemuan FMKH di Kasawari. |FMKH meeting in Kasawari.

Pada bulan Mei dan Juni telah dilakukan pertemuan FMKH pertama di kelurahan Winenet Satu, Duasudara, Pinangunian, Kasawari dan Batuputih Bawah. Pertemuan yang sukses dilaksanakan ini mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah setempat. Peserta sangat antusias dalam berdiskusi dan mengusulkan saran-saran untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Saran-saran yang disampaikan antara lain: Peta kawasan yang berisi informasi batas kawasan dan lokasi kantor/resort pengelola, Banner/baliho spesies yang dilindungi, sosialisasi dari pengelola, pengawasan hutan, peningkatan taraf ekonomi masyarakat, dan cara menghindari/mengatasi konflik antara manusia dan satwa.
DSCN3672In May and June, the first FMKH meeting was held in Winenet Satu, Duasudara, Pinangunian, Kasawari and Batuputih Bawah. These successful meetings resulted in support from communities and the local government. The participants were very enthusiastic in their discussing and brainstorming ideas to increase the awareness and involvement of communities in managing Tangkoko-Batuangus Nature Reserve. Among the ideas suggested were maps of the area with clearly marked boundaries and management offices, information boards of protected species, socializations from managing entities, forest patrols, support for local economy, and techniques to avoid/resolve human-animal conflict.

IMG_9610_refresh training_

Pak Yunus dan Israel sedang latihan penggunaan GPS. | Mr. Yunus and Israel practicing their GPS-handling skills.

Pelatihan refresher training terhadap polisi hutan di resort Batuputih dilakukan untuk mengingatkan kembali cara penggunaan GPS dan pengisian tally-sheet seperti yang pernah diajarkan pada pelatihan polisi hutan pada awal April lalu. Kedua alat ini akan sangat bermanfaat untuk mendata, mengidentifikasi dan melaporkan hasil temuan baik potensi maupun ancaman yang ada di kawasan. Penggunaan yang berulang-ulang akan memudahkan para petugas dalam menguasai peralatan yang digunakan kegiatan pengelolaan kawasan. Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh para petugas, agar pada saat pelaksanaan patroli sudah tidak ada lagi permasalahan terkait dengan cara pengoperasiannya.
DSCN3708-2A refresher training course for forest patrols in Batuputih was held to keep the officers up to speed on GPS and tally-sheet use, building on the training held last April. Both these tools are very useful in collecting data, identifying and reporting threats, both potential and tangible, inside the conservation area. Repeated use will help officers in mastering their use and adapting it to area management practices. As the officers have already testified, these activities helped them avoid problems due to mishandling equipment during patrols.

 

Pertemuan FMKH di Pinangunian. |FMKH meeting in Pinangunian.

Pertemuan FMKH di Pinangunian. |FMKH meeting in Pinangunian.

Pada bulan Juni ini juga Selamatkan Yaki telah memfasilitasi Diskusi Pengembangan Pariwisata dan Kelompok Pemandu TWA Batuputih dan TWA Batuangus. Diskusi yang dilaksanakan di kantor Dinas Pariwisata kota Bitung dan dihadiri oleh Kepala Dinas dan staff Dinas Pariwisata Kota Bitung, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 dan staff BKSDA Sulut, HPI Bitung, Pemandu Wisata Batuputih, Pemandu Wisata Batuangus, Lembeh Hill Resort, dan Macaca Nigra Project. Kepala SKW 1 mempresentasikan Kebijakan Pariwisata di Kawasan Konservasi dan Kadis Pariwisata mempresentasi Tugas Pramuwisata, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok membahas: Sistem Pemanduan saat ini, Pengembangan Sistem Pemanduan dan Strategi Pengembangan Wisata di Batuangus.
In June, Selamatkan Yaki facilitated a Discussion on Tourism and Guide Development in Batuputih Nature Recreation Park and Batuangus Nature Recreation Park. Discussions were held in the Tourism Department of Bitung and attended by the head and staff of the Tourism Department of Bitung, head of Area 1 Conservation Section (SKW 1) and staff from North Sulawesi’s BKSDA, HPI Bitung, Batuputih tour guides, Batuangus tour guides, Lembeh Hill Resort, and Macaca Nigra Project. The head of SKW 1 presented the Policies of Tourism in Conservation Areas and the head of the Tourism Department presented Duties of Tour Guides, followed by group discussions on: Current Guiding Systems, Development of Guiding Systems and Tourism Development Strategies in Batuangus.

IMG_2191_

Foto bersama setelah diskusi di Dinas Pariwisata. | Group photo after the discussion in the Tourism Department.

 

Diskusi kelompok menghasilkan beberapa masukan terkait pengembangan pariwisata di taman wisata alam, antara lain: pembangunan fasilitas pusat informasi, penerapan kode etik, peningkatan kapasitas pemandu khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan mempromosikan potensi wisata Batuangus. kelompok pemandu Batuputih akan melaksanakan diskusi dengan melibatkan lebih banyak pemandu untuk mematangkan hasil diskusi ini, dan akan dikonsultasikan dengan Kadis Pariwisata serta Kepala BKSDA kemudian akan dilakukan penandatanganan bersama untuk mengawal pelaksanaannya.
Group discussions resulted in several recommendations regarding the development of tourism in nature recreation parks, among them: the construction of information centers, enforcement of code of conduct, capacity building for guides, particularly English skills and promoting the tourism attractions in Batuangus. Batuputih guides will hold a discussion involving more guides to finalize this discussion. The results will be reviewed by the head of the Tourism Department and head of BKSDA before being signed and approved.

Di Inggris: Demi Selamatkan Yaki, 1 hari mendaki 3 gunung

Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Jodie Dryden, Zookeeper at Drusillas Park, training for the Three Peaks Challenge

Jodie Dryden, Penjaga Kebun Binatang Drussilas Park, berlatih untuk Tantangan Tiga Puncak

Sepuluh orang pekerja kebun binatang dari lima Kebun binatang di Inggris, mengadakan penggalangan dana untuk bantu menyelamatkan satwa Macaca nigra atau Yaki. Kegiatan ini dinamakan “Tantangan Tiga Puncak 2014” dimana mereka akan mendaki Gn. Ben Nevis (Skotlandia), Gn. Scafell Pyke (Inggris) dan Gn. Snowdon (Wales), dalam jangka waktu 24 jam, dengan total berjalan kaki 13 jam, sejauh 43km rute naik turun 2900mdpl pada tanggal 5 Juli nanti.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik Sulawesi Utarayang artinya hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia,namun keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis lebih dari 80%. Yaki terdaftar sebagai salah satu satwa sangat terancam punah oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Penurunan populasi disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah dialih fungsikan menjadi perkebunan bahkan perumahan, dll. Ancaman lainnya yaitu perburuan karena sebagian orang menganggap Yaki sebagai hama, selain itu dianggap lucu untuk dijadikan binatang peliharaan, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi. Perlu untuk diketahui bawah menurut UU.No. 5 Thn.90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Yaki adalah satwa yang dilindungi.

The Sulawesi crested black macaque, locally known as yaki, is a charismatic primate which only occurs in North Sulawesi, nowhere else in the world!

Monyet hitam Sulawesi, disebut orang lokal sebagai yaki, adalah primata karismatik yang hanya terdapat di Sulawesi Utara, tidak ada di tempat lain di dunia!

Para pekerja kebun binatang yang disebut Zoo Keeper ini nekat mengadakan pendakian gunung hanya dalam 1 hari, karena perhatian mereka terhadap pelestarian satwa liar yang sangat besar. Jodie Dryden, cewek imut yang bekerja sebagai penjaga kebun binatang Drusillas Park Inggris, sebagai koordinator kegiatan ini sangat aktif dan antusias dalam meningkatkan kesadaran bahkan penggalangan dana demi mendukung kegiatan konservasi yaki. Setelah kunjungannya di Taman Wisata Alam Batuputih Bitung setahun silam, ia berjanji akan terus berusaha berpartisipasi dalam konservasi yaki bersama tim Selamatkan Yaki yang ada di Manado demi pelestarian satwa yang hampir punah ini.

DSC00611

Spanduk ini akan dibawa ke puncak Gn. Ben Nevis, Gn. Scafell Pyke dan Gn. Snowdon

Kegiatan yang dilakukan oleh orang “luar” ini sangatlah patut untuk diacungkan jempol bahkan diteladani. “Sebagai seorang minahasa Asli, saya merasa merasa terharu dengan apa yang mereka lakukan. Bentuk kecintaan mereka terhadap satwa yang notabene bukan milik  mereka itu langsung mereka buktikan dengan penggalangan dana untuk membantu rekan mereka yang bekerja di Manado Indonesia. Adalah menjadi suatu perenungan bagi kita orang SULUT, jika mereka begitu peduli dengan Satwa milik kita, bagaimana dengan kita?  Sejauh manakah kepedulian kita terhadap lingkungan kita, hutan kita satwa kita? Masih banyak PR kita, masih banyak kerja kita, masih butuh banyak dukungan orang SULUT,  untuk pelestarian Yaki kita, pelestarian alam Indonesia kita,  untuk bumi kita”, kata Yunita Siwi, Education Officer Selamatkan Yaki.

Ikuti Jodie dan timnya serta terus perbaharui berita tentang Tantangan Tiga Puncak melalui Facebook dan Twitter Selamatkan Yaki! Apakah Anda ingin membantu menjaga yaki bersama banyak spesies lain di hutan hujan Sulawesi Utara? Ikuti link ke website Three Peaks Fundraiser

All expedition members are wearing T shirts with this logo: Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Semua anggota ekspedisi akan mengenakan T shirt dengan logo: Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014