Dirgahayu Indonesia dari Batuputih Bawah dan Kasawari

Ale the winnerMoment 17an tidak dapat dilupakan oleh seluruh anak bangsa di bumi pertiwi Indonesia tercinta ini. Setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya seluruh anak bangsa ini mulai dari Sabang sampai Merauke tumpah-ruah dalam hiruk-pikuk perayaan hari kemerdekaan, mulai dari pemasangan bendera di depan rumah, membuat pagar serta mengadakan lomba di desa/ kelurahan masing-masing semuanya dilakukan dengan kegembiraan untuk merayakan hari kemerdekaan.

17 August is the most unforgettable moment time for all citizens in Indonesia. Same date every year, all people around the continent country from Sabang to Merauke spilled over in the seethe of Independence Day of Indonesia, starting by put pulling the flag up in front of every houses, painting the fences into red and white same color with as the National flag, and some community activities such as racing competitions, dance with balloons, all fun stuff to celebrate the special day.

Nah! Kali ini tim Selamatkan Yaki berkesempatan untuk merayakan hari kemerdekaan tahun ini bersama dengan masyarakat di kelurahan Batuputih Bawah dan kelurahan Kasawari. Simak ceritanya!

This time, our team had a chance to celebrate the day together with people in Batuputih Bawah and Kasawari village. Read the story!

Perlu diketahui bahwa kelurahan Batuputih bawah dan kelurahan Kasawari adalah dua desa dari sekian desa yang berada disekitar Cagar Alam Tangkoko. Berbatasan langsung dengan Cagar Alam keberadaan desa-desa tersebut sangatlah penting bagi kelangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati didalam kawasan Cagar Alam. Oleh karena itu Program Selamatkan Yaki melalui project Tangkoko memberikan perhatian khusus bagi desa-desa disekitar Cagar Alam dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi hutan bagi kelangsungan hidup alam sekitar dan manfaatnya kepada masyarakat. Untuk tujuan itu maka dibentuklah Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) di 5 desa sekitar Cagar Alam yaitu: FMKH Batuputih Bawah, FMKH Duasudara, FMKH winenet 1, FMKH Pinangunian dan FMKH Kasawari.

Batuputih Bawah and Kaswari are two of a few villages surrounded surrounding Tangkoko Nature Reserve s. Located next to the reserves these villages are playing an important role to the continuation of the ecosystem and the biodiversity. That is why Selamatkan Yaki, through the Tangkoko Rejuvenation Project is focusing at conservation activities in these villages, to get them involved more in conservation action for to protect the forest. That is one reason of for the establishment of Forest Conservation Society Forum (FMKH) in five villages; Batuputih Bawah, Duasudara, Winenet 1, Pinangunian, and Kasawari.

crowd

The crowd in Panjat Pinang.

Tahun ini, Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) Batuputih Bawah berinisiatif untuk mengadakan Kegiatan lomba Panjat Pinang yang di padukan dengan acara sosialisasi tentang melindungi alam dan satwa terlebih khusus Yaki yang saat ini sedang terancam punah. Tim Selamatkan Yaki berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN Unsrat, Ormas Divisi Bela Negara dan seluruh warga masyarakat Batuputih Bawah menyukseksan acara ini.

This year, the members of FMKH of Batuputih would love to combine the celebration of Independence Day with an informal socialization presentation to other members of the community about protecting the nature and wildlife especially the critically Critically Eendangered yaki. Our team collaborated with students from KKN (placement students) from the Unsrat University of Sam Ratulangi Manado (UNSRAT) as the organizer of the event, Ormas Divisi Bela Negara (local community group), and all people from Batuputih Bawah had enjoyed an eventful great succeed to the day.

Perjalanan hari itu dimulai pukul 10 pagi, beberapa anggota tim kami; Harry, Edyson, Ance, dan Caroline bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat menuju ke kelurahan Batuputih Bawah. Semua kebutuhan selama kegiatan, mulai dari tenda info stand, banners, yaki magz, sticker kampanye selamatkan yaki dan beberapa baliho dukungan dari group music Slank, serta juga hadiah-hadiah yang akan menjadi penyemangat bagi peserta lomba telah rapih di dalam mobil. Setelah mengemudi selama kurang lebih dua jam setengah, tim kemudian tiba di kelurahan Batuputih Bawah dan langsung mengadakan persiapan di lokasi kegiatan dengan kondisi hari yang panas terik dan berangin. Tim kali ini mendapat bantuan personil dari PPS Tasikoki, Billy Lolowang yang bergabung sampai selesai acara.

The journey started at 10am, Harry, Edyson, Ance, and Caroline prepared themselves and everything needed; info stand, programme banners, yaki magzazines, campaign stickers, and signature banners showing the support of our ambassadors the rock band SLANK our ambassador, and plus prizes for the competitions were packed in our project’s car. After a long drive around two and a half hours, our team arrived in Batuputih Bawah and prepared the venue straight away where whilst the day was hot and extremely windy!. We had alsowere also joined by Billy from our partner Tasikoki who helped until the end of the day.

Sosialisasi by Roy n Andre

Roy – FMKH Batuputih Bawah member delivering presentation

Sosialisasi kali ini berbeda, dimana Roy anggota FMKH dan Andre Mahasiswa KKN Unsrat bertindak sebagai pembawa materi di hadapan anak-anak dan orang dewasa, seluruh masyarakat Batuputih. Selain itu ada kuis-kuis seputar materi dimana masyarkat senang dengan hadiah hadiah material SY yang diserahkan langsung oleh Harry. Rame!

This time Socialization the presentation was differentthis time was different, whereby Roy – member of FMKH and Andre from KKN Unsrat (UNSRAT) delivered the presentation in front of many children and adults from the village, the whole people in Batuputih. We had also held quizzes about the information in the presentation by Harry, and everyone were was happy with SY materials handed out as prizes by Harry.! Crowded!

Setelah kegiatan sosialisasi, acara kemudian dilanjutkan dengan lomba panjat pinang. Kegiatan ini sangat menyenangkan, dimana para peserta harus memanjat batang pohon yang dilumuri minyak namun ada berbagai hadiah yang digantung di atas. Masyarakat sangat antusias menyaksikan perlombaan ini karena selain menantang, hadiah yang disediakan panitia juga sangat menarik seperti handphone, uang, peralatan rumah tangga, snack, dll. SY pun berkontribusi menyiapkan beberapa hadiah yang tentunya tetap dengan menyertakan material program kami. Setelah melalui perjuangan keras jatuh dan bangun, akhirnya salah satu tim yang mengikuti perlombaan itu menjadi pemenangnya dan berhak atas semua hadiah. Masyarakat pun senang dan kami pun lega karena kegiatan dapat berjalan dengan baik.

FMKH Batu putih Bawah with Ibu Lurah

FMKH Batuputih Bawah members with Ibu Lurah Selmi Katiandagho were just receiving the new FMKH t-shirts

After the socializationpresentation and other games, the event carried on with panjat pinang. This is a fun activity, where the participants have to climb a slippery pole to get prizes on the top, around 10 meters!. The people are were enthusiastic watching the competition because it’s not only challenging, but there are interesting prizes at the top provided by the organizer of the event, including such as phones, money, kitchen utensils, snacks , etc. SY also put contributedcontribution to by prepare preparing some prices prizes with adding additional programme materials on itincluded. After a long battle effort from groups up and down, one team finally reached the top and win won the prizes. Everyone were was pleased in good spirit and we were pleased that all the community activities run turned out great!well.

Hari berikutnya, berbeda dengan Batuputih Bawah, FMKH Keluarahan Kasawari dan tim Selamatkan Yaki juga berkolaborasi pada perayaan kemerdekaan dengan mengusung tema HUT RI ke 70, Pariwisata dan Selamatkan Yaki. Bersama dengan mahasiswa KKN Unsrat sebagai panitia, lomba yang diselenggarakan sangat beragam mulai dari lomba mewarnai kategori anak TK dan SD, lomba mengarang untuk SMP, baca puisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, berdansa dengan balon, dan banyak lagi.

2015-08-18 22.21.42

Celebrating Independence Day of Indonesia with Kasawari

The next day, FMKH Kasawari and Tim team Selamatkan Yaki collaborated in the celebration of Independence Day themed: HUT RI ke 70, Tourism and Save the Yaki. Together with more students from KKN Unsrat as the organizer of the event, there are were even more various activities here such as; coloring for kindergarten playschool and primary school students, writing article writing competitions, reading poems in Bahasa Indonesian and English, dancing with balloons, and many more.

Di sela-sela pelaksanaan lomba beberapa Anggota FMKH Kasawari menyempatkan diri untuk mangadakan sosialisasi tentang yaki dengan disaksikan oleh masyarakat yang saat itu sedang berkumpul di sekitar kantor kelurahan Kasawari. Mulai dari anak-anak dan orang dewasa semuanya berbaur dalam luapan kegembiraan dan semangat kemerdekaan. Tak ketinggalan juga Info stand dari Tim Selamatkan Yaki juga ramai dikunjungi oleh masyarakat terutama anak-anak yang ingin tahu lebih banyak tentang yaki dan beberapa satwa yang dilindungi di Sulawesi Utara.

In between the rundown of the day, a few members of FMKH Kasawari had a chance to deliver a presentation about the yaki to the crowded crowds of people around the Lurah’s village head’s office. From little kids to adults, everyone blended joined in the happy times of the Independence Day. Our info stand were was crowded by people visiting and reading many a lot of information about the yaki and some other protected species in North Sulawesi.Sosialisasi@Kasawari

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan hadiah bagi para. Hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Lurah kelurahan Kasawari, wakil dari mahasiswa KKN Unsrat dan Perwakilan dari Tim Selamatkan Yaki. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama. Enak sekali!

The whole activities in Kasawari ended again by handed handing out the prizes for all winners of the different competitions. The head of the village, the students from KKN Unsrat and representatives of our team helped with this session. All Finally we all had dinner together before leave leaving the venue. Yummy food!

Semoga kehadiran Tim Selamatkan Yaki dan Forum Masyarakat Konservasi Hutan dalam kegiatan 17an tahun ini dapat menginspirasi warga masyarakat di desa-desa daerah penyangga Cagar Alam Tangkoko agar tetap memiliki kepedulian yang sama untuk melestarikan hutan dan satwa liar yang ada di dalamnya sebagai warisan bagi generasi akan datang. Merdeka!

2015-08-18 14.05.06-1Hopefully, with the present presence of our team together with the FMKH members in for this Independence Day, people can get inspired more to take care and have the awareness to conserve the forest and the wildlife as the heritage for the future generation.
Merdeka!

Cheers,
Ance SY

Tugas Pemuda Remaja Kristen : Mengusahakan dan memelihara Bumi (Kej. 2:15)

The Task of Christian Youth: To make an effort and take care the earth (Gn. 2:15)

Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Youth Camp region one and two that held in Tonsea Lama, Tondano on June 29 to July this year is a bit different with the previous year.

Perkemahan Pemuda Remaja Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) wilayah SULUT Satu dan SULUT Dua yang diselenggarakan di Tonsea Lama, Tondano pada tanggal 29 Juni – 2 Juli tahun 2015 ini agak berbeda dengan dengan perkemahan-perkemahan sebelumnya.

DSC_8142This time, the youth had special guest on Tuesday June 30 from Selamatkan Yaki that deliver presentation about wildlife protection especially the crested black macaque that is well known as Yaki, unique to North Sulawesi. This population of this monkey is threatened to extinction, that is why they are protected by the Indonesian law (UU. No. 5 Tahun 1990).

Kali ini perkemahan Pemuda Remaja GSJA kedatangan tamu pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2015, yaitu pembicara dari program Selamatkan Yaki yang mengadakan sosialisasi tentang perlindungan satwa liar khususnya satwa khas Sulawesi Utara yaitu monyet hitam sulawesi yang dikenal akrab dengan nama Yaki. Adapun Yaki, monyet khas Sulawesi Utara ini, populasinya sudah terancam punah sehingga dilindungi oleh hukum negara (UU No. 5 Tahun 1990).

DSC_8138

The youth are important in getting this socialization, considering the majority society of North Sulawesi is Christian. And why the role of the youth is important in environmental conservation? As has been mandated in the Bible, humans took over as a “ruler” of the creation of the earth, and seeks the dam preserve the Earth (Gn. 1:18, Gn. 2:15).

Pemuda remaja Kristen dipandang penting untuk memperoleh sosialisasi ini mengingat akan warga masyarakat Sulawesi Utara yang pada umumnya umat Kristiani. Mengapa peran pemuda Kristen sangat penting dalam pelestarian lingkungan hidup? Seperti yang telah diamanatkan dalam Alkitab, manusia mengemban tugas sebagai “penguasa” atas ciptaanNya di bumi, serta mengusahakan dam memelihara Bumi (Kej. 1:18, Kej. 2:15 ).

The socialization which had around 700 participants from all around North Sulawesi were getting interesting with the questions and quiz where the winner Aiking Manopo from Kawangkoan Minahasa gave a good answer about the important role of the Yaki in human’s life.

Sosialisasi yang dihadiri oleh 700-an peserta dari seluruh Sulawesi Utara ini semakin menarik dengan adanya tanya jawab dan kuis yang pemenang utamanya berasal dari Kawangkoan Minahasa bernama Aiking Manopo, yang menjawab tentang peran penting yaki dalam kehidupan manusia.

The youth is future generation that will determine the fate of the wildlife and other living creatures in the world, with an understanding of the responsibility given to human as a ruler who maintain and take care good of the earth so the survival of wildlife especially the critically endangered Yaki.

Pemuda remaja adalah generasi penerus yang akan menentukan nasib satwa liar serta makhluk hidup lain yang ada di jagad raya ini, dengan diberikan pemahaman tentang tugas tanggung jawab manusia sebagai penguasa yang memelihara dan mengusahakan bumi dengan baik dan benar maka kelangsungan hidup satwa liar khususnya Yaki yang sudah terancam punah, tidak akan terjadi.

Selamatkan Yaki hopes can visit more camp from another church dnominations and spread Yaki conservation messages, a charismatic species that need the protection from us people of North Sulawesi.

Selamatkan Yaki berharap bisa berkunjung ke perkemahan perkemahan denominasiDSC_8129 gereja lainnya dan menyebarkan pesan pelestarian Yaki satwa kharismatik yang memerlukan perlindungan dari kita masyarakat Sulawesi Utara.

“Together we will save the Yaki!”

Stand Informasi tentang Yaki hadir di pasar Airmadidi

Yaki information stand come to Airmadidi’s market

1434764784564-2Sabtu 20 Juni 2015 lalu, Selamatkan Yaki kembali mengadakan kegiatan stand informasi di pasar Airmadidi, Minahasa Utara. Tujuan diadakannya stand informasi adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara berbagi langsung kepada masyarakat informasi tentang Yaki, yang merupakan satwa yang hanya ditemukan di Sulawesi Utara, dilindungi oleh Undang-undang No. 5 Tahun 1990 dan keberadaannya sudah sangat mengkhawatirkan karena jika tidak dilestarikan maka kepunahan akan menghadangnya.

On Saturday, June 20th 2015, Selamatkan Yaki held an information stand in Airmadidi market, North Minahasa. Information stands are meant to raise the community awareness through direct conversation with the people about the yaki, an animal only found in North Sulawesi, protected through national laws and with facing a worrying population decline that could lead to extinction.

DSC_8014Kegiatan stand informasi dari program Selamatkan Yaki sudah beberapa kali dilaksanakan sebelumnya di area kampanye tahun pertama yaitu Langowan dan Tomohon. Stand informasi merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki, sebuah kampanye yang dicanangkan oleh Selamatkan Yaki untuk menggalang rasa bangga masyarakat terhadap satwa endemik Sulawesi Utara ini. Kegiatan stand informasi di Langowan dan Tomohon mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat dengan pengunjung kurang lebih 1600 orang. Untuk tahun kedua ini, program Kampanye Kebanggaan Yaki difokuskan di Bitung dan Airmadidi, di mana Bitung merupakan lokasi harapan terakhir dari bagi Yaki untuk bisa hidup dan berkembang biak secara alami yaitu Cagar Alam Tangkoko serta Airmadidi yang relatif dekat dengan hutan lindung Gunung Klabat.

Selamatkan Yaki’s information stands has previously been held several times in their first-year campaign areas of Langowan and Tomohon. Information stands are part of the Yaki Pride Campaign, a campaign initiated by Selamatkan Yaki to instil a sense of pride in the people towards this endemic animal of North Sulawesi. Information stands in Langowan and Tomohon were well-received by the community, garnering approximately 1600 visitors. For this second year, the Yaki Pride Campaign will be focused in Bitung and Airmadidi, with Bitung being the last surviving hope for the yaki to live in a natural habitat in Tangkoko Nature Reserve, and Airmadidi being situated relatively closely to Mount Klabat Forest Reserve.

DSC_7993

Let’s put color on our Yaki mask!

Pasar merupakan pusat keramaian di mana terjadi aktivitas perdagangan dan ekonomi lainnya dan dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. Dengan pertimbangan ini maka Selamatkan Yaki mencoba mendekati masyarakat lewat dibukanya stand informasi di pasar dan membagikan informasi sebanyak-banyaknya kepada pengunjung pasar. Kali ini walaupun diguyur hujan deras tapi masyarakat cukup antusias dalam mendengarkan informasi yang dibagikan oleh Asisten Pendidikan Selamatkan Yaki Caroline Tasirin dan Yohanes Sambuaga yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat.

DSC_7982

Our partner Tangkoko Conservation Education took part on the day.

Markets are trade centres for the local community, and are visited by a wide variety of demographics. To reach these groups, Selamatkan Yaki opened an information stand in the heart of the market and shared information with market visitors. Despite the heavy rain, people showed interest in the information being shared by Selamatkan Yaki’s Education Assistants, Caroline Tasirin and Yohanes Sambuaga, who also answered their questions.

Dengan bantuan dari mitra kami Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT), KMPA Tunas Hijau Airmadidi dan Duta dari Yaki Youth Camp 2015, sosialisasi ini bisa berjalan dengan baik dan juga mendapatkan perhatian khusus dari anak-anak pengunjung pasar karena mereka bisa belajar sambil bermain, yaitu dengan mewarnai dan membuat topeng Yaki. Selain itu masyarakat juga memperoleh stiker gratis dan penjelasan tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan jika kita melihat atau mendapatkan Yaki yang dijual ataupun yang dijadikan piaraan.

With the help of our partners Tangkoko Conservation Education (TCE), KMPA Tunas Hijau Airmadidi and our Ambassador from Yaki Youth Camp 2015, the information stand was a success and earned particular interest from the local children through fun, educational activities, namely colouring sheets and yaki masks. Visitors also got free stickers and got an explanation regarding what to do if they saw or found yaki being sold or kept as a pet.

DSC_8031

Not only admiring the pictures, children find out lots of info about the Yaki.

Mengingat semakin dekatnya acara pengucapan syukur di daerah Minahasa ini maka Selamatkan Yaki akan terus mensosialisasikan Kampanye Kebanggaan Yaki ini dengan harapan ancaman terhadap Yaki dari konsumsi diharapkan akan berkurang. Dalam beberapa bulan ke depan Selamatkan Yaki akan melanjutkan terus stand informasi ini di pasar-pasar yang lain di Bitung dan Airmadidi serta akan kembali berkunjung ke Langowan. Sampai bertemu di kunjungan berikut!

With Minahasan thanksgiving drawing near, Selamatkan Yaki will continue Yaki Pride Campaign activities, with the hope that threats towards the yaki, particularly through bushmeat trade, will decrease. Within the next few months Selamatkan Yak will continue this information stand in other markets in Bitung and Airmadidi and will also visit Langowan again. We’ll see you at our next information stand!

Torang jaga Yaki karna torang peduli! Together we will save the Yaki!

Rainforest: Live 2015

Conservation organisations around the world bring incredible rainforest lifve straight to your home

Organisasi-organisasi konservasi di seluruh dunia membawa hutan hujan yang luar biasa secara langsung ke rumah Anda

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. A strangler fig tree in the forest. They are parasitic trees that literally strangle their host, killing it and leaving a hollow tube of branches in the middle.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia
Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.
A strangler fig tree in the forest. They are parasitic trees that literally strangle their host, killing it and leaving a hollow tube of branches in the middle.

On the 19th June 2015, people from around the world won’t need to leave the comfort of their homes to experience the amazing diversity of life found in tropical rainforests.

Pada 19 Juni 2015, orang-orang dari seluruh dunia tidak perlu meninggalkan rumah nyaman mereka untuk merasakan keanekaragaman hayati yang luar biasa dari kehidupan yang ditemukan di hutan hujan tropis.

Conservation organisations will be using social media to share live wildlife sightings from the rainforest as part of an exciting initiative called #RainforestLive

Organisasi-organisasi konservasi akan menggunakan media sosial untuk membagikan pemandangan satwaliar dari hutan hujan sebagai salah satu bagian yang menarik dari inisiatif yang disebut #RainforestLive

Now in its second year, Rainforest: Live is a project initiated by the Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop), a research and conservation organisation based in Indonesian Borneo. This year, 16 other tropical conservation organisations will join forces to share their experiences living and working in these beautiful and diverse habitats during this special one-day event.

Ini merupakan tahun kedua, Rainforest: Live adalah proyek inisiatif dari Orangutan tropical Peatland Project (OuTrop), sebuah organisasi penelitian dan konservasi berbasis di Kalimantan Indonesia. Tahun ini, 16 oranisasi konservasi lainnya akan bergabung untuk membagikan pengalaman-pengalaman mereka tinggal dan bekerja di tempat hidup yang indah dan beraneka raga dalam satu hari iven yang istimewa.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia

As OuTrop’s Matt Williams explains, this event is all about positivity, “So much of the media coverage of rainforests is negative, concentrating on habitat and species losses. While this is important, Rainforest: Live is designed to focus on the diversity of life in forests and the amazing species that conservationists are fighting to protect. It is to remind us all why they’re worth saving.”

Matt Williams OuTrop menjelaskan, iven ini adalah tentang semua hal positif, “Banyak sekali penyampaian media tentang hutan hujan yang negatif, terkonsentrasi pada kehilangan spesies dan habitat. Dimana ini sangat penting, Rainforest: Live yang didesain untuk fokus pada keanekaragaman dari kehidupan hutan serta spesies-spesies luar biasa yang sedang dilindungi oleh para konservasionis. Ini adalah untuk mengingatkan kita mengapa mereka butuh dilindungi.”

Last year, Rainforest: Live reached hundreds of thousands of people using the hashtag #rainforestlive on Facebook and Twitter. Sightings of species, from the endangered and iconic orangutan and the yaki to the colourful and spectacular hornbill, were shared with followers.

Tahun lalu, rainforest: Live menjangkau ratusan ribu orang yang menggunakan hashtag #rainforestlive di Facebook dan Twitter. Pemandangan spesies, dari terancam sampai ikonis orangutan dan Yaki sampai pada rangkong yang berwarna dan spektakuler, dibagikan dengan banyak orang.

Gavin Thurston, OuTrop Patron and wildlife cameraman photographer & Filmmaker, said “through my career as a wildlife cameraman I have been fortunate enough to visit and film in some splendid rainforests. It is an environment that I feel remarkably at home in and am constantly surprised and thrilled by the hidden beauty and complexity of life that has evolved to live and thrive there.”

“I realise that not everyone is lucky enough to visit a rainforest in their lifetime so I am delighted that Rainforest: Live will give many people the opportunity to experience this incredible and diverse world,” said Thurston. “I’m excited to see what wildlife will show up live from the rainforest.”AWalmsley-SY-2014-Yaki-Web-034

Gavin Thurston, Kameraman dan Fotografer dari OuTrop mengatakan, “melalui karir saya sebagai kameraman satwaliar, saya telah sangat beruntung untuk mengunjungi serta merekam beberapa hutan hujan yang luar biasa. Ini merupakan lingkunngan yang membuat saya merasa seperti di rumah dan terus terkejut dan senang dengan keindahan tersembunyi dan kompleksitas kehidupan yang telah berevolusi untuk hidup dan berkembang di sana.”

“Saya menyadari bahwa tidak semua orang cukup beruntung untuk mengunjungi hutan hujan dalam hidup mereka jadi saya senang bahwa Rainforest: Live akan memberikan banyak orang kesempatan untuk mengalami dunia yang luar biasa dan beragam ini,” kata Thurston. “Saya bersemangat untuk melihat apa satwa liar akan muncul langsung dari hutan hujan.”

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia
Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.
Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator for Selamatkan Yaki mentioned that “though the Indonesian island Sulawesi knows many endemic species, a large number of the local communities here are not aware of the unique wildlife that they share the island with. During Rainforest: Live, alongside other participating conservationists, Selamatkan Yaki will take the opportunity to give the public insight in the life of Macaca nigra, locally known as yaki, from Tangkoko Nature Reserve in North Sulawesi. This beautiful reserve holds the largest connected population of this Critically Endangered primate species across its native range, in addition to many other unique species of wildlife.”

Thirza Loffeld, Koordinator Pendidikan dan Advokasi untuk Selamatkan Yaki menyebutkan bahwa “meskipun pulau kecil Indonesia,Sulawesi, diketahui memiliki banyak spesies endemik, sejumlah besar masyarakat lokal di sini tidak menyadari akan satwa liar unik yang hidup berbagi pulau dengan mereka. Selama Rainforest: Live, berdampingan dengan peserta konservasionis  lainnya , Selamatkan Yaki akan mengambil kesempatan untuk memberikan wawasan publik dalam kehidupan Macaca nigra, yang dikenal sebagai yaki, dari Cagar Alam Tangkoko di Sulawesi Utara. Cagar alam yang indah ini memegang populasi terhubung terbesar dari spesies primata terancam punah di seluruh jangkauan aslinya, di antara banyak spesies satwa liar unik lainnya.”

To follow the event, simply click onto the Facebook or Twitter page of the participating organisations on the 19th June 2015, look out for the hashtag #rainforestlive and it will provide a window to a beautiful, but threatened, world.

Untuk mengikuti iven ini, klik pada Facebook dan Twitter dari organisasi-organisasi yang berpartisipasi pada 19 Juni 2015, lihatlah hashtag #rainforestlive dan itu akan menyediakan sebuah jendela pada dunia yang indah namun terancam.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia

Rainforest: Live was developed by the Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop); a conservation and research organisation established in 1999. OuTrop is dedicated to helping to protect Borneo’s biodiversity through conservation-orientated research, capacity building, education and on-the-ground conservation projects (www.outrop.com | http://www.facebook.com/OuTrop | https://twitter.com/outrop).

Rainforest: Live dibentuk oleh Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop); sebuah organisasi konservasi dan penelitian yang berdiri pada 1999. OuTrop berdedikasi untuk membantu melindungi keanekaragamanhayati Borneo melalui konservasi – penelitian yang terorientasi, pengembangan kapasitas, pendidikan serta proyek konservasi di lapangan (www.outrop.com | http://www.facebook.com/OuTrop | https://twitter.com/outrop).

Storify will be used to pull together social media posts from all participating organisations: https://storify.com/outrop/rainforest-live

Other organisations participating in Rainforest: Live 2015 are:
Burung Indonesia – http://www.burung.org
Crees Foundation – http://www.crees-manu.org
Fauna and Flora International – http://www.fauna-flora.org
Gunung Palung Orangutan Project – http://www.savegporangutans.org
Harapan Rainforest – http://www.harapanrainforest.org
HUTAN-Kinabatangan Orangutan Conservation Project – http://www.hutan.org.my
Orangutan Foundation UK – http://www.orangutan.org.uk
Orangutan Land Trust – http://www.forests4orangutans.org
Orangtuan Outreach – http://www.redapes.org
Selamatkan Yaki – http://www.selamatkanyaki.com
Sumatran Orangutan Conservation Program – http://www.sumatranorangutan.org
Sumatran Orangutan Society – http://www.orangutans-sos.org
SwaraOwa – http://www.swaraowa.com
Tamandua Expeditions – http://www.tamanduajungle.com
TEAM Network – http://www.teamnetwork.org

Please welcome our second batch of high school Yaki Ambassadors!

Hello readers, it’s Caroline speaking! Today I’ll walk you through our most recent awesome outing: Yaki Youth Camp 2015!

Participants and committee of Yaki Youth Camp 2015!

Participants and committee of Yaki Youth Camp 2015!

 

It was already over a year since the last Yaki Youth Camp (YYC) was held. I could remember the enthusiasm and energy of the participants very clearly, but I had forgotten the shyness they showed when they first arrived. It was to be expected – 18 students, all representing different high schools, are meeting each other for the first time in this event. How did we select these students to represent their school? We visited each and every one of their schools and gave a talk to students and teachers about how important it is to save the yaki and protect our environment. Students who paid attention would be able to answer the quiz given at the end of the talk, and whoever managed to answer correctly won a Golden Ticket to YYC 2015! This year, we visited 34 high schools in Bitung and Airmadidi and reached over 2500 students. In the end, 18 representatives confirmed their invitation to attend YYC 2015 and travelled with us all the way from Bitung and Airmadidi to Pa’Dior museum complex, owned by North Sulawesi Institute of Art and Culture in Tompaso, Minahasa. I would imagine it was a mostly silent bus ride for the participants who barely knew each other. Well, that awkward silence won’t last long!

This slideshow requires JavaScript.

To break the ice that night, we played some name games so everyone would know everyone else’s names. Aside from the 18 participants and 8 members of the Selamatkan Yaki team, we had 5 very special guests: Angel, Chia, Uje, Edo and Ira, 5 of our high school Yaki Ambassadors from YYC 2014! Due to their impressive enthusiasm in spreading the word about yaki conservation, both through school talks with us and independent talks they organized themselves, we invited them to join in Yaki Youth Camp again, this time as mentors to inspire and help out the participants from Bitung and Airmadidi. You can imagine there were quite a lot of names to memorize! Many people got a little tongue-twisted and lots of laughter ensued – which was the whole point of the games! Things loosened up a bit more after practicing and performing the YYC Jingle, and by the time we were done, everyone was ready to receive some context for our weekend’s activities through a Movie Night. During the Movie Night, participants got a glimpse of the environmental issues humans are dealing with globally, before watching the BBC short movie featuring the yaki and the threats they face. It was both educational and entertaining, and participants gained more understanding about the species we are working so hard to save, preparing them for the activities of the following day.

This slideshow requires JavaScript.

Everyone was up bright and early the next day for a spot of morning exercise, led by Reyni. The workout effectively wiped out remaining drowsiness and prepared everyone for the busy day ahead. The morning started off with a session on 10 things you could do for yaki conservation, presented by myself and assisted by Angel, Chia and Uje. During this talk, they assisted me in explaining some of the general ideas the participants could build on, and also described their own experiences in putting those ideas to practice. It was quite an inspiring segment! Following the talk, everyone participated in a speed-storming session to dig up more practical ideas that can be applied by high school students yet effectively reach the community. Then the newly divided rambos (the name for a group of yaki, or in this case, the name for participant groups) then presented their own version of 10 things they could do to help yaki conservation. Rambo 4 won this round with their easy-to-apply ideas!

This slideshow requires JavaScript.

For our next session, we welcomed Ronny Buol, a prominent figure in photography in North Sulawesi. By day he works as a reporter for Kompas.com, but he is also the chairman of F/21, an organization that aims to promote the natural and cultural wonders of North Sulawesi through photography. He gave some very good examples of how important photography is for conservation, some rooting from his own journalistic experiences, and gave some very good tips for taking meaningful photos regardless of the type of camera used. Ronny also stressed the importance of captions to provide the information that can’t be conveyed through the photograph itself. The talk was put directly to practice as the rambos walked around Pa’Dior, searching for objects to photograph and coming up with a suitable caption that can motivate viewers to protect the environment. It was hard to choose between flowers and crocodiles and ants and rubbish, but eventually, the jury picked the photograph by Rambo 1 as the winner for this round!

This slideshow requires JavaScript.

Lunch came and went, and after everyone had their fill, we settled down to the third session, presented by our partner, Macaca Nigra Project (MNP)! Yandhi from MNP arrived earlier that day with Deity, Nona and Dilla from Tangkoko Conservation Education (TCE) to give us a hand in supervising and motivating these high school students. Yandhi’s talk about the link between the yaki, the environment, and humans gave more in-depth context for our efforts in protecting our funky guardians of the forest. To help the public relate to this fellow primate, Jurriaan also gave a talk in this session about presenting the yaki through illustrations. Being the creator of our yaki online game and comic strip contributor for all two Yaki Magz editions, there was no better person to deliver this talk! After the two talks, participants were again challenged to put the newfound ideas to practice by creating a simple story board about the yaki’s life. We weren’t looking for works of Michelangelo; rather, we wanted the Rambos to be as creative as possible in coming up with a story about the yaki that the public could relate to, accompanied by simple pictures to help describe the story. It was a tough call, but in the end Rambos 1 and 3 were ruled as the winners of this competition!

This slideshow requires JavaScript.

Late afternoon was the perfect time for Yaki & Dance! Reyni opened the session by leading everyone in a warm-up demonstration, before introducing how dance can also be used to help yaki conservation. Following the introduction, our programme manager himself hit the floor with his breakdancing skills! A hilarious dance battle ensued, and by the time it was over everyone had loosened up enough to come up with their own concepts for dance performances to promote yaki conservation. Dance routines were not the only thing the Rambos had to work on. Their concept also had to include the setting of their performance (location, time, etc.) and the messages that they were going deliver to accompany the dance routine. The variety was surprising! Between flash mobs and Kabasaran (a traditional war dance) -like concepts and music ranging from Waka Waka to the soundtrack of Masha and the Bear, Rambo 1 and 4 were tied for first place in this competition!

This slideshow requires JavaScript.

After dinner we started our final session of the day: music and how it could help yaki conservation. We had some very special guests to speak for this session! Opal and Ade of Bloodlines had come all the way from Manado to contribute their expertise in the local music industry. Not only that, Ira, our Langowan Yaki Ambassador, also joined camp by special invitation, thanks to the yaki song she created! Prisi introduced the importance of music and the role of Yaki Ambassadors in music before handing the stage to Bloodlines. Bloodlines was founded fifteen years ago and is now a household name for metal music in North Sulawesi with a large fan base. Through their short speeches during performances, they reach out to their fan base and spread the word about conservation. Ira, however, has a different story. After Yunita’s talk at her school last year, she immediately got to work and wrote a moving song about protecting the yaki. Ira gave a talk on how high school students can use their own music to help conservation efforts and gave some very good tips on writing, recording, and sharing their own songs! With this knowledge fresh in their minds, the Rambos split up for one last competition: making their own yaki-themed jingle. The Rambos came up with some hilarious medleys, but finally, Rambo 4 was crowned the champion for the final competition of the day!

This slideshow requires JavaScript.

After a good night’s rest, everyone got up early again for morning exercises. The exercise routine was livelier this morning thanks to the dance competition the previous day! After breakfast and showers, the Christian participants attended a short Sunday morning service. Then, it was time for participants to practice their own talks. To warm up the students, I gave an introduction on the purpose of public speaking in awareness raising with the help of Edo and Ira. Edo and Ira gave tips on how to deal with a younger audience, which would come in handy when these participants go to junior high schools and elementary schools, and also shared some of their experiences during talks. Now, participants were split into new groups based on their school’s location to practice these talks. It was wonderful seeing all the groups put everything they had learned over the weekend into practice!

This slideshow requires JavaScript.

In what felt like no time at all, we came to the close of Yaki Youth Camp 2015. Though the scores were very close, Rambo 1 took home the crown as the winning group for this year’s Yaki Youth Camp! The atmosphere couldn’t have been more different than when the participants first arrived, merely 42 hours ago. Those who used to be shy and reserved were now very enthusiastic, and any doubts or questions  about Yaki Youth Camp activities are now gone, replaced by all the fun memories and fresh knowledge about the yaki! We would like to thank our contributors: Ronny, Yandhi, Deity, Nona, Dila, Jurriaan, Opal, and Ade; our guest Yaki Ambassadors: Angel, Chia, Uje, Edo and Ira; our partner, North Sulawesi Institute of Art and Culture; and of course, all 18 participants of Yaki Youth Camp 2015! Together we will save the yaki!

This slideshow requires JavaScript.

Mari sambut angkatan kedua Duta Yaki SMA!

Hello pembaca, ini Caroline! Hari ini saya akan bercerita mengenai acara keren kami yang paling baru: Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Sudah lebih dari setahun sejak Yaki Youth Camp (YYC) terakhir dilaksanakan. Saya masih ingat dengan jelas antusiasme dan semangat para peserta, tapi saya sudah lupa dengan sikap malu-malu mereka ketika mereka pertama kali tiba di lokasi kegiatan. Saya tidak terkejut – 18 siswa, semuanya mewakili SMA/sederajat yang berbeda-beda, kini bertemu untuk pertama kalinya dalam kegiatan ini. Bagaimana kami memilih siswa-siswa ini? Tahun ini, kami mengunjungi setiap SMA/sederajat di Bitung dan Airmadidi dan menyampaikan sosialisasi bagi siswa dan guru mengenai pentingnya melindungi yaki dan alam kita. Siswa yang memperhatikan materi presentasi dan berhasil menjawab pertanyaan quiz di akhir sosialisasi dengan benar akan memenangkan Golden Ticket untuk mengikuti YYC 2015! Kami mengunjungi 34 SMA/sederajat dan menjangkau lebih dari 2500 siswa. Akhirnya, 18 perwakilan sekolah mengkonfirmasi undangan mereka untuk mengikuti YYC 2015 dan pergi bersama kami menuju kompleks museum Pa’Dior, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso, Minahasa. Saya membayangkan perjalanan menuju Tompaso hening karena para peserta belum saling mengenal. Keadaan itu akan segera berubah!

 

This slideshow requires JavaScript.

Untuk mengakrabkan diri malam itu, kami memainkan beberapa permainan nama agar semua saling mengenal. Selain 18 peserta dan 8 anggota tim Selamatkan Yaki, kami mengundang 5 tamu istimewa: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira, 5 Duta Yaki SMA kami dari YYC 2014! Karena semangat mereka yang luar biasa dalam menyebarkan pesan konservasi yaki, baik di sosialisasi sekolah bersama kami maupun di sosialisasi yang mereka laksanakan secara mandiri, mereka kami undang untuk mengikuti Yaki Youth Camp lagi, kali ini sebagai mentor untuk menginspirasi dan membantu para peserta. Seperti bisa dibayangkan, ada banyak sekali nama yang harus dihafal! Banyak yang tertukar-tukar dan banyak juga yang tertawa – tentu saja, itulah tujuan games ini dimainkan! Suasana semakin santai sesudah para peserta belajar dan latihan menyanyikan yel-yel YYC, dan ketika games selesai, semua siap menerima latar belakang kegiatan kami selama akhir pekan ini melalui Nonton Bareng. Melalui film yang diputar, peserta melihat sekilas isu-isu lingkungan yang dihadapi manusia secara global, sebelum menonton film pendek dari BBC mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi. Kegiatan ini menghibur sekaligus mendidik, dan peserta semakin paham mengenai spesies yang berusaha kita lindungi dan mempersiapkan mereka untuk materi-materi esok harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Semua peserta bangun pagi-pagi esok harinya untuk mengikuti olahraga pagi, dipimpin oleh Reyni. Gerak badan ini efektif mengusir sisa-sisa kantuk sehingga semua siap untuk mengikuti kegiatan hari kedua yang padat. Pagi itu diawali dengan sesi mengenai 10 hal yang bisa kalian lakukan untuk konservasi yaki, dengan saya sendiri sebagai pembicara dan dibantu Angel, Chia dan Uje. Mereka bertiga membantu menjelaskan beberapa ide umum yang bisa dilakukan para peserta, dan juga menceritakan pengalaman mereka mempraktekkan ide-ide tersebut. Bagian ini cukup menginspirasi! Setelah materi, semua mengikuti kegiatan speed-storming untuk mencari lebih banyak lagi ide praktis yang bisa diterapkan siswa SMA tapi juga efektif menjangkau masyarakat. Setelah itu, para peserta mendiskusikan hasil speedstorming dengan anggota Rambonya (istilah bagi sekelompok yaki, atau dalam kasus ini, sebutan bagi kelompok peserta) yang baru terbentuk, kemudian mempresentasikan 10 hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu konservasi yaki versi mereka sendiri. Rambo 4 memenangkan ronde ini dengan ide-ide mereka yang mudah diterapkan!

This slideshow requires JavaScript.

Sesi berikutnya menampilkan Ronny Buol, fotografer yang cukup terkenal di Sulawesi Utara. Sehari-harinya ia bekerja sebagai reporter untuk Kompas.com, namun ia juga merupakan ketua F/21, lembaga pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mempromosikan keindahan alam dan budaya Sulawesi Utara melalui fotografi. Ia memberikan contoh-contoh yang sangat baik mengenai pentingnya fotografi bagi konservasi, beberapa di antaranya berasal dari pengalaman pribadi, dan juga memberikan tip-tip yang sangat bagus mengenai cara mengambil foto yang berkesan, tidak peduli jenis kamera apa yang digunakan. Ronny juga menekankan pentingnya caption untuk menyampaikan informasi yang tidak bisa disampaikan melalui foto. Materi ini langsung dipraktekkan ketika Rambo-Rambo berjalan-jalan dalam kompleks Pa’Dior, mencari objek untuk difoto dan membuat caption yang dapat memotivasi pemirsa untuk melindungi lingkungan. Agak sulit memilih di antara foto bunga dan buaya dan semut dan sampah, tapi akhirnya, juri memilih foto Rambo 1 sebagai pemenang ronde ini!

This slideshow requires JavaScript.

 

Makan siang pun berlalu, dan setelah semua sudah kenyang, kami mengikuti sesi ketiga yang dibawakan oleh partner kami, Macaca Nigra Project (MNP)! Yandhi dari MNP belum lama tiba bersama Deity, Nona dan Dilla dari Tangkoko Conservation Education (TCE) untuk membantu mengawasi dan memotivasi para siswa SMA ini. Materi Yandhi mengenai hubungan antara yaki, lingkungan hidup dan manusia memberikan informasi yang lebih lengkap pada peserta mengenai usaha kami melindungi si penjaga hutan berambut funky ini. Untuk membantu masyarakat lebih mengenal sesama primate ini, Jurriaan juga menyampaikan materi mengenai memperkenalkan yaki melalui ilustrasi. Sebagai pencipta game online yaki kami dan kontributor comic strip di kedua edisi Yaki Magz, tidak ada yang lebih baik untuk membawakan materi ini! Sesudah kedua materi ini, para peserta kembali ditantang untuk menerapkan pengetahuan baru mereka dengan membuat story board sederhana mengenai kehidupan yaki. Kami tidak mencari karya setara Michelangelo; kami ingin Rambo-Rambo ini menciptakan cerita mengenai yaki yang sekreatif mungkin dan mudah dipahami masyarakat, dengan bantuan beberapa gambar sederhana yang bisa membantu menjelaskan cerita itu. Setelah perundingan sengit, Rambo 1 dan 3 diputuskan menjadi pemenang lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Sore-sore merupakan waktu yang pas untuk Yaki & Dance! Reyni membuka sesi ini dengan memimpin semua peserta dalam demonstrasi dance sebagai pemanasan, sebelum memperkenalkan bagaimana dance dapat digunakan untuk membantu konservasi yaki. Setelah itu, manajer program Selamatkan Yaki turun tangan langsung dan mempertunjukkan keahlian breakdance-nya! Setelah dance battle yang sangat lucu, semua peserta sudah cukup santai untuk membuat konsep pertunjukan dance mereka sendiri untuk mempromosikan konservasi yaki. Koreografi dance bukan satu-satunya hal yang harus mereka pertimbangkan. Konsep mereka juga harus menjelaskan setting pertunjukan (lokasi, waktu, dll.) dan pesan yang akan mereka sampaikan bersama pertunjukan dance itu. Variasi yang ditampilkan cukup mengejutkan! Dari konsep flash mob hingga dance yang mirip Kabasaran dan pilihan musik dari Waka Waka hingga soundtrack Masha and the Bear, Rambo 1 dan 4 terpilih sebagai juara lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah makan malam kami memulai sesi terakhir hari itu: bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki. Kami menghadirkan beberapa tamu yang sangat istimewa sebagai pembicarasesi ini! Opal dan Ade dari Bloodlines datang jauh-jauh dari Manado untuk berbagi pengalaman mereka dalam dunia music lokal. Bukan hanya itu, Ira, Duta Yaki SMA kami dari Langowan, mendapat undangan khusus mengikuti YYC 2015 berkat lagu ciptaannya tentang yaki! Prisi memperkenalkan pentingnya musik dan peran Duta Yaki dalam bidang musik sebelum mempersilahkan Bloodlines berbicara. Bloodlines didirikan lima belas tahun yang lalu dan kini menjadi salah satu band metal yang cukup ternama di Sulawesi Utara, serta memiliki fan base yang cukup besar. Melalui orasi singkat mereka ketika naik panggung, mereka menjangkau fans mereka dan menyebarkan pesan mengenai konservasi. Ira memiliki kisah yang agak berbeda. Setelah sosialisasi dari Yunita di sekolahnya tahun lalu, ia langsung menulis lagu yang menyentuh mengenai melindungi yaki. Ira membahas bagaimana siswa SMA dapat menggunakan musik mereka untuk membantu usaha konservasi dan memberikan beberapa tips yang sangat bagus mengenai menulis, merekam, dan membagikan lagu! Dengan pengetahuan baru ini, para Rambo kembali berdiskusi untuk lomba terakhir: membuat yel-yel yaki mereka sendiri. Para Rambo ini berhasil membuat beberapa medley yang sangat menghibur, dan akhirnya Rambo 4 dinobatkan sebagai juara lomba terakhir!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah istirahat malam, semuanya kembali bangun pagi untuk olahraga. Sesi olahraga kali ini lebih bersemangat setelah semuanya mendapat pengalaman dalam lomba dance hari sebelumnya! Setelah makan pagi dan MCK, peserta yang beragama Kristen mengikuti ibadah singkat di Minggu pagi itu. Setelah itu, waktunya para peserta melatih sosialisasi mereka sendiri. Sebagai pemanasan, saya memperkenalkan manfaat public speaking dalam kegiatan awareness raising dengan bantuan Edo dan Ira. Edo dan Ira memberikan tips mengenai bagaimana menghadapi siswa-siswa yang lebih muda, yang akan berguna ketika mereka mengadakan sosialisasi di SMP dan SD, dan juga berbagi pengalaman mereka dalam sosialisasi-sosialisasi yang pernah mereka ikuti. Kini peserta dibagi dalam kelompok berdasarkan letak sekolah untuk latihan sosialisasi. Menyenangkan sekali melihat setiap kelompok mempraktekkan semua yang mereka pelajari selama akhir pekan ini!

This slideshow requires JavaScript.

Tidak terasa kami memasuki penutupan Yaki Youth Camp 2015. Meskipun perbedaan skor sangat tipis, Rambo 1 dinobatkan sebagai kelompok pemenang untuk Yaki Youth Camp tahun ini! Suasana penutupan sangat berbeda dibandingkan ketika peserta baru tiba, tidak lebih dari 42 jam yang lalu. Mereka yang dulunya malu-malu dan pendiam kini sangat bersemangat, dan semua keraguan dan pertanyaan mengenai kegiatan Yaki Youth Camp hilang tak tersisa, digantikan dengan kenangan-kenangan yang seru dan pengetahuan baru tentang yaki! Kami ingin berterima kasih pada para kontributor: Ronny, Yandhi, Deity, Nona, Dila, Jurriaan, Opal, dan Ade; Duta Yaki tamu kami: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira; partner kami, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara; dan tentu saja, 18 orang peserta Yaki Youth Camp 2015! Together we will save the yaki!

This slideshow requires JavaScript.

Yaki masuk sekolah di Bitung dan Airmadidi! Yaki school talks in Bitung and Airmadidi!

Dalam rangka Kampanye Kebanggaan Yaki Bitung dan Airmadidi 2015, selama bulan April dan Mei ini Selamatkan Yaki dengan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kota Bitung mengadakan sosialisasi di SMA dan SMK sederajat se-Bitung dan Airmadidi. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat khususnya pelajar tentang  satwa liar khususnya Yaki, serta pemilihan satu orang Duta Yaki dari setiap sekolah.
As part of our Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi, throughout the months of April and May Selamatkan Yaki has been holding talks in high schools across Bitung and Airmadidi, with the recommendation from the Department of Education in Bitung. These talks aim to educate and raise the awareness of the community, especially students, about our environment and the wildlife within it, particularly the yaki, and also to choose one Yaki Ambassador from each school.

Sebanyak 34 dari total 35 sekolah SMA dan SMK sederajat di Bitung dan Airmadidi telah dijangkau sepanjang bulan April dan Mei ini berfokus pada kelas X serta total murid yang berpartisipasi adalah sebanyak 2530 pelajar. Dalam sosialisasi ini, pelajar SMA diberikan pengetahuan tentang peran penting Yaki terhadap lingkungan serta belajar lebih banyak tentang keistimewaan Yaki yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang artinya tidak dapat ditemukan secara liar di tempat lain di dunia.
Out of the 35 high schools in Bitung and Airmadidi, 34 has been visited throughout the months of April and May and a total of 2530 tenth grade students have been reached through these talks. In these talks, students learned about the yaki’s role in the environment and found out what made the yaki so special, as a species endemic to North Sulawesi that can’t be found in the wild anywhere else in the world.

Sosialisasi di sekolah-sekolah ini sangat didukung penuh secara positif oleh setiap pimpinan sekolah yang dikunjungi karena disadari mereka bahwa dalam kurun waktu 40 tahun terakhir populasi sangat menurun jauh sebanyak kurang lebih 80% sehingga Yaki atau Macaca nigra dikategorikan Kritis atau keberadaanya sudah terancam punah. Yaki juga dilindungi oleh pemerintah lewat Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Diharapkan generasi sekarang ini sadar dan mampu untuk mengambil tindakan yang tepat dalam pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Utara.
The talks were well received by principals, knowing that within the past 40 years yaki populations have declined by 80%, earning them the title of being Critically Endangered and threatened by extinction. The yaki is also protected by government laws. The current generation is expected to be aware and capable of making the right decisions when it comes to protecting the biodiversity in North Sulawesi.

Perhatian pelajar Bitung dan Airmadidi terhadap sosialisasi ini sangat tinggi, terbukti dengan antusiasnya dalam memperhatikan presentasi serta partisipasi dalam sesi tanya jawab tentang Yaki. Hal ini merupakan suatu pertanda baik karena dari sekian banyaknya pelajar yang ikut serta, hanya sebagian kecil yang pernah melihat Yaki secara langsung dengan mata kepala sendiri sehingga rasa penasaran serta ingin tahu yang tinggi akan binatang ini.
The attention of students in Bitung and Airmadidi towards these talks were very high, as we can see in their enthusiasm towards the talk itself and through their questions about the yaki. This is a good sign because out of all the students who listened to the talks, only a very small number has ever seen the yaki in the wild, making the majority even more curious about this animal.

Yaki sangat unik dan lucu! Pengetahuan tentang Yaki sangat berguna karena masih banyak anak-anak yang belum tahu tentang Yaki,” kata Indah Purwanto, salah satu peserta sosialisasi dari SMA N 2 Bitung. “Kita harus  share sebanyak-banyaknya tentang Yaki agar lebih banyak yang tahu tentang Yakisambung Gilbert Atang. Expresi yang sama juga disampaikan oleh pelajar SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, yang sangat tertarik dengan pengetahuan lingkungan. Menurut Joudy melalui sosialisasi ini  generasi muda menjadi lebih peduli dengan satwa langka khususnya Yaki. Gani Padengkalu juga menambahkan bahwa Yaki memegang peran penting bagi keseimbangan alam jadi harus dilestarikan.
The yaki is very unique and cute! Knowing about the yaki is very useful because a lot of kids my age don’t know anything about the yaki,” says Indah Purwanto, one of the participants in SMA N 2 Bitung. “We need to share info about the yaki as much as possible so more people know about the yaki,” Gilber Atang adds. A similar statement was expressed by a student from SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, who was very interested in the environment. According to Joudy, through these talks the young generation can learn to care more about rare wildlife, especially yaki. Gani Pandengkalu also adds that the yaki plays an important role to the balance of the ecosystem and thus needs to be protected.

Sosialisasi Kampanye Kebanggan Yaki 2015 di SMA dan SMK sederajat Bitung dan Airmadidi ditutup di Pulau Lembeh. Tiga sekolah terakhir yang dikunjungi adalah SMA LPM Motto, SMA N 3 Bitung dan SMK N 3 Bitung dengan tiga perwakilan Duta Yaki yaitu; Efrayanto Lumuhu (SMA LPM Motto), Dewi Manuho (SMA N 3 Bitung) dan Steven Tamarariha (SMK N 3 Bitung). Kunjungan ke Pulau Lembeh meninggalkan kesan yang sangat istimewa bagi seluruh tim Selamatkan atas penerimaan yang baik dari pihak pemerintah dalam hal Ini Camat Ibu Ledy Ambat, S.STP dan Lurah Pak Sofyan Mandiangan, pihak sekolah dan serta masyarakat.
High school talks for Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi was closed on the island of Lembeh. The final three schools that were visited are SMA LPM MOtto, SMA N 3 Bitung and SMK N 3 Bitung with their representatives Efrayanto Lumuhu, Dewi Manuho and Steven Tamarariha, respectively. The visit to Lembeh left a deep impression on the whole Selamatkan Yaki team due to the welcome from the government, Camat Ledy Ambat, S.STP and Lurah Pak Sofyan Mandiangan, also from the schools and the community.

Dengan berakhirnya sosialisasi dan pemilihan Yaki Ambassador (Duta Yaki) perwakilan setiap sekolah, kegiatan akan dilanjutkan dengan Yaki Youth Camp (perkemahan konservasi Yaki).  Atas dukungan Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., para Duta Yaki ini akan digodok dalam Yaki Youth Camp pada tanggal 22-24 Mei 2015 nanti yang rencananya akan dilaksanakan di Museum Minahasa “Pa’Dior” di Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Jl Pinabetengan, Tompaso, Minahasa.
With the end of the school talks and selection of Yaki Ambassadors from each school, the activity will continue with Yaki Youth Camp. Thanks to the support from Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., these Yaki Ambassadors will participate in Yaki Youth Camp that will be held on May 22nd – 24th 2015 in Pa’Dior Museum, North Sulawesi Institute for Art and Culture in Tompaso, Minahasa.

“Torang jaga Yaki karna torang peduli!  Together we will save the Yaki!” demikian seluruh peserta sosialisasi meneriakkan slogan Kampanye Kebanggan Yaki  menutup sosialisasi dari tim Selamatkan Yaki.
Torang jaga yaki karna torang peduli! Together we will save the yaki!” shouts the participating students, reciting our Yaki Pride Campaign slogan to end the talk from Selamatkan Yaki.