Stand Informasi tentang Yaki hadir di pasar Airmadidi

Yaki information stand come to Airmadidi’s market

1434764784564-2Sabtu 20 Juni 2015 lalu, Selamatkan Yaki kembali mengadakan kegiatan stand informasi di pasar Airmadidi, Minahasa Utara. Tujuan diadakannya stand informasi adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara berbagi langsung kepada masyarakat informasi tentang Yaki, yang merupakan satwa yang hanya ditemukan di Sulawesi Utara, dilindungi oleh Undang-undang No. 5 Tahun 1990 dan keberadaannya sudah sangat mengkhawatirkan karena jika tidak dilestarikan maka kepunahan akan menghadangnya.

On Saturday, June 20th 2015, Selamatkan Yaki held an information stand in Airmadidi market, North Minahasa. Information stands are meant to raise the community awareness through direct conversation with the people about the yaki, an animal only found in North Sulawesi, protected through national laws and with facing a worrying population decline that could lead to extinction.

DSC_8014Kegiatan stand informasi dari program Selamatkan Yaki sudah beberapa kali dilaksanakan sebelumnya di area kampanye tahun pertama yaitu Langowan dan Tomohon. Stand informasi merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki, sebuah kampanye yang dicanangkan oleh Selamatkan Yaki untuk menggalang rasa bangga masyarakat terhadap satwa endemik Sulawesi Utara ini. Kegiatan stand informasi di Langowan dan Tomohon mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat dengan pengunjung kurang lebih 1600 orang. Untuk tahun kedua ini, program Kampanye Kebanggaan Yaki difokuskan di Bitung dan Airmadidi, di mana Bitung merupakan lokasi harapan terakhir dari bagi Yaki untuk bisa hidup dan berkembang biak secara alami yaitu Cagar Alam Tangkoko serta Airmadidi yang relatif dekat dengan hutan lindung Gunung Klabat.

Selamatkan Yaki’s information stands has previously been held several times in their first-year campaign areas of Langowan and Tomohon. Information stands are part of the Yaki Pride Campaign, a campaign initiated by Selamatkan Yaki to instil a sense of pride in the people towards this endemic animal of North Sulawesi. Information stands in Langowan and Tomohon were well-received by the community, garnering approximately 1600 visitors. For this second year, the Yaki Pride Campaign will be focused in Bitung and Airmadidi, with Bitung being the last surviving hope for the yaki to live in a natural habitat in Tangkoko Nature Reserve, and Airmadidi being situated relatively closely to Mount Klabat Forest Reserve.

DSC_7993

Let’s put color on our Yaki mask!

Pasar merupakan pusat keramaian di mana terjadi aktivitas perdagangan dan ekonomi lainnya dan dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. Dengan pertimbangan ini maka Selamatkan Yaki mencoba mendekati masyarakat lewat dibukanya stand informasi di pasar dan membagikan informasi sebanyak-banyaknya kepada pengunjung pasar. Kali ini walaupun diguyur hujan deras tapi masyarakat cukup antusias dalam mendengarkan informasi yang dibagikan oleh Asisten Pendidikan Selamatkan Yaki Caroline Tasirin dan Yohanes Sambuaga yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat.

DSC_7982

Our partner Tangkoko Conservation Education took part on the day.

Markets are trade centres for the local community, and are visited by a wide variety of demographics. To reach these groups, Selamatkan Yaki opened an information stand in the heart of the market and shared information with market visitors. Despite the heavy rain, people showed interest in the information being shared by Selamatkan Yaki’s Education Assistants, Caroline Tasirin and Yohanes Sambuaga, who also answered their questions.

Dengan bantuan dari mitra kami Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT), KMPA Tunas Hijau Airmadidi dan Duta dari Yaki Youth Camp 2015, sosialisasi ini bisa berjalan dengan baik dan juga mendapatkan perhatian khusus dari anak-anak pengunjung pasar karena mereka bisa belajar sambil bermain, yaitu dengan mewarnai dan membuat topeng Yaki. Selain itu masyarakat juga memperoleh stiker gratis dan penjelasan tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan jika kita melihat atau mendapatkan Yaki yang dijual ataupun yang dijadikan piaraan.

With the help of our partners Tangkoko Conservation Education (TCE), KMPA Tunas Hijau Airmadidi and our Ambassador from Yaki Youth Camp 2015, the information stand was a success and earned particular interest from the local children through fun, educational activities, namely colouring sheets and yaki masks. Visitors also got free stickers and got an explanation regarding what to do if they saw or found yaki being sold or kept as a pet.

DSC_8031

Not only admiring the pictures, children find out lots of info about the Yaki.

Mengingat semakin dekatnya acara pengucapan syukur di daerah Minahasa ini maka Selamatkan Yaki akan terus mensosialisasikan Kampanye Kebanggaan Yaki ini dengan harapan ancaman terhadap Yaki dari konsumsi diharapkan akan berkurang. Dalam beberapa bulan ke depan Selamatkan Yaki akan melanjutkan terus stand informasi ini di pasar-pasar yang lain di Bitung dan Airmadidi serta akan kembali berkunjung ke Langowan. Sampai bertemu di kunjungan berikut!

With Minahasan thanksgiving drawing near, Selamatkan Yaki will continue Yaki Pride Campaign activities, with the hope that threats towards the yaki, particularly through bushmeat trade, will decrease. Within the next few months Selamatkan Yak will continue this information stand in other markets in Bitung and Airmadidi and will also visit Langowan again. We’ll see you at our next information stand!

Torang jaga Yaki karna torang peduli! Together we will save the Yaki!

Rainforest: Live 2015

Conservation organisations around the world bring incredible rainforest lifve straight to your home

Organisasi-organisasi konservasi di seluruh dunia membawa hutan hujan yang luar biasa secara langsung ke rumah Anda

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. A strangler fig tree in the forest. They are parasitic trees that literally strangle their host, killing it and leaving a hollow tube of branches in the middle.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia
Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.
A strangler fig tree in the forest. They are parasitic trees that literally strangle their host, killing it and leaving a hollow tube of branches in the middle.

On the 19th June 2015, people from around the world won’t need to leave the comfort of their homes to experience the amazing diversity of life found in tropical rainforests.

Pada 19 Juni 2015, orang-orang dari seluruh dunia tidak perlu meninggalkan rumah nyaman mereka untuk merasakan keanekaragaman hayati yang luar biasa dari kehidupan yang ditemukan di hutan hujan tropis.

Conservation organisations will be using social media to share live wildlife sightings from the rainforest as part of an exciting initiative called #RainforestLive

Organisasi-organisasi konservasi akan menggunakan media sosial untuk membagikan pemandangan satwaliar dari hutan hujan sebagai salah satu bagian yang menarik dari inisiatif yang disebut #RainforestLive

Now in its second year, Rainforest: Live is a project initiated by the Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop), a research and conservation organisation based in Indonesian Borneo. This year, 16 other tropical conservation organisations will join forces to share their experiences living and working in these beautiful and diverse habitats during this special one-day event.

Ini merupakan tahun kedua, Rainforest: Live adalah proyek inisiatif dari Orangutan tropical Peatland Project (OuTrop), sebuah organisasi penelitian dan konservasi berbasis di Kalimantan Indonesia. Tahun ini, 16 oranisasi konservasi lainnya akan bergabung untuk membagikan pengalaman-pengalaman mereka tinggal dan bekerja di tempat hidup yang indah dan beraneka raga dalam satu hari iven yang istimewa.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia

As OuTrop’s Matt Williams explains, this event is all about positivity, “So much of the media coverage of rainforests is negative, concentrating on habitat and species losses. While this is important, Rainforest: Live is designed to focus on the diversity of life in forests and the amazing species that conservationists are fighting to protect. It is to remind us all why they’re worth saving.”

Matt Williams OuTrop menjelaskan, iven ini adalah tentang semua hal positif, “Banyak sekali penyampaian media tentang hutan hujan yang negatif, terkonsentrasi pada kehilangan spesies dan habitat. Dimana ini sangat penting, Rainforest: Live yang didesain untuk fokus pada keanekaragaman dari kehidupan hutan serta spesies-spesies luar biasa yang sedang dilindungi oleh para konservasionis. Ini adalah untuk mengingatkan kita mengapa mereka butuh dilindungi.”

Last year, Rainforest: Live reached hundreds of thousands of people using the hashtag #rainforestlive on Facebook and Twitter. Sightings of species, from the endangered and iconic orangutan and the yaki to the colourful and spectacular hornbill, were shared with followers.

Tahun lalu, rainforest: Live menjangkau ratusan ribu orang yang menggunakan hashtag #rainforestlive di Facebook dan Twitter. Pemandangan spesies, dari terancam sampai ikonis orangutan dan Yaki sampai pada rangkong yang berwarna dan spektakuler, dibagikan dengan banyak orang.

Gavin Thurston, OuTrop Patron and wildlife cameraman photographer & Filmmaker, said “through my career as a wildlife cameraman I have been fortunate enough to visit and film in some splendid rainforests. It is an environment that I feel remarkably at home in and am constantly surprised and thrilled by the hidden beauty and complexity of life that has evolved to live and thrive there.”

“I realise that not everyone is lucky enough to visit a rainforest in their lifetime so I am delighted that Rainforest: Live will give many people the opportunity to experience this incredible and diverse world,” said Thurston. “I’m excited to see what wildlife will show up live from the rainforest.”AWalmsley-SY-2014-Yaki-Web-034

Gavin Thurston, Kameraman dan Fotografer dari OuTrop mengatakan, “melalui karir saya sebagai kameraman satwaliar, saya telah sangat beruntung untuk mengunjungi serta merekam beberapa hutan hujan yang luar biasa. Ini merupakan lingkunngan yang membuat saya merasa seperti di rumah dan terus terkejut dan senang dengan keindahan tersembunyi dan kompleksitas kehidupan yang telah berevolusi untuk hidup dan berkembang di sana.”

“Saya menyadari bahwa tidak semua orang cukup beruntung untuk mengunjungi hutan hujan dalam hidup mereka jadi saya senang bahwa Rainforest: Live akan memberikan banyak orang kesempatan untuk mengalami dunia yang luar biasa dan beragam ini,” kata Thurston. “Saya bersemangat untuk melihat apa satwa liar akan muncul langsung dari hutan hujan.”

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia
Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade.
Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator for Selamatkan Yaki mentioned that “though the Indonesian island Sulawesi knows many endemic species, a large number of the local communities here are not aware of the unique wildlife that they share the island with. During Rainforest: Live, alongside other participating conservationists, Selamatkan Yaki will take the opportunity to give the public insight in the life of Macaca nigra, locally known as yaki, from Tangkoko Nature Reserve in North Sulawesi. This beautiful reserve holds the largest connected population of this Critically Endangered primate species across its native range, in addition to many other unique species of wildlife.”

Thirza Loffeld, Koordinator Pendidikan dan Advokasi untuk Selamatkan Yaki menyebutkan bahwa “meskipun pulau kecil Indonesia,Sulawesi, diketahui memiliki banyak spesies endemik, sejumlah besar masyarakat lokal di sini tidak menyadari akan satwa liar unik yang hidup berbagi pulau dengan mereka. Selama Rainforest: Live, berdampingan dengan peserta konservasionis  lainnya , Selamatkan Yaki akan mengambil kesempatan untuk memberikan wawasan publik dalam kehidupan Macaca nigra, yang dikenal sebagai yaki, dari Cagar Alam Tangkoko di Sulawesi Utara. Cagar alam yang indah ini memegang populasi terhubung terbesar dari spesies primata terancam punah di seluruh jangkauan aslinya, di antara banyak spesies satwa liar unik lainnya.”

To follow the event, simply click onto the Facebook or Twitter page of the participating organisations on the 19th June 2015, look out for the hashtag #rainforestlive and it will provide a window to a beautiful, but threatened, world.

Untuk mengikuti iven ini, klik pada Facebook dan Twitter dari organisasi-organisasi yang berpartisipasi pada 19 Juni 2015, lihatlah hashtag #rainforestlive dan itu akan menyediakan sebuah jendela pada dunia yang indah namun terancam.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia Tangkoko is one of the last remaining strongholds of the Critically Endangered Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra). Wildlife photographer Andrew Walmsley is in the field documenting the work of Selamatkan Yaki, a non-governmental organisation (NGO) working to protect the monkeys which are threatened by habitat loss and the illegal bushmeat trade. Harry Hilser, program manager for Selamatkan Yaki, in the forest.

09/03/14 Tangkoko forest, North Sulawesi, Indonesia

Rainforest: Live was developed by the Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop); a conservation and research organisation established in 1999. OuTrop is dedicated to helping to protect Borneo’s biodiversity through conservation-orientated research, capacity building, education and on-the-ground conservation projects (www.outrop.com | http://www.facebook.com/OuTrop | https://twitter.com/outrop).

Rainforest: Live dibentuk oleh Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop); sebuah organisasi konservasi dan penelitian yang berdiri pada 1999. OuTrop berdedikasi untuk membantu melindungi keanekaragamanhayati Borneo melalui konservasi – penelitian yang terorientasi, pengembangan kapasitas, pendidikan serta proyek konservasi di lapangan (www.outrop.com | http://www.facebook.com/OuTrop | https://twitter.com/outrop).

Storify will be used to pull together social media posts from all participating organisations: https://storify.com/outrop/rainforest-live

Other organisations participating in Rainforest: Live 2015 are:
Burung Indonesia – http://www.burung.org
Crees Foundation – http://www.crees-manu.org
Fauna and Flora International – http://www.fauna-flora.org
Gunung Palung Orangutan Project – http://www.savegporangutans.org
Harapan Rainforest – http://www.harapanrainforest.org
HUTAN-Kinabatangan Orangutan Conservation Project – http://www.hutan.org.my
Orangutan Foundation UK – http://www.orangutan.org.uk
Orangutan Land Trust – http://www.forests4orangutans.org
Orangtuan Outreach – http://www.redapes.org
Selamatkan Yaki – http://www.selamatkanyaki.com
Sumatran Orangutan Conservation Program – http://www.sumatranorangutan.org
Sumatran Orangutan Society – http://www.orangutans-sos.org
SwaraOwa – http://www.swaraowa.com
Tamandua Expeditions – http://www.tamanduajungle.com
TEAM Network – http://www.teamnetwork.org

Please welcome our second batch of high school Yaki Ambassadors!

Hello readers, it’s Caroline speaking! Today I’ll walk you through our most recent awesome outing: Yaki Youth Camp 2015!

Participants and committee of Yaki Youth Camp 2015!

Participants and committee of Yaki Youth Camp 2015!

 

It was already over a year since the last Yaki Youth Camp (YYC) was held. I could remember the enthusiasm and energy of the participants very clearly, but I had forgotten the shyness they showed when they first arrived. It was to be expected – 18 students, all representing different high schools, are meeting each other for the first time in this event. How did we select these students to represent their school? We visited each and every one of their schools and gave a talk to students and teachers about how important it is to save the yaki and protect our environment. Students who paid attention would be able to answer the quiz given at the end of the talk, and whoever managed to answer correctly won a Golden Ticket to YYC 2015! This year, we visited 34 high schools in Bitung and Airmadidi and reached over 2500 students. In the end, 18 representatives confirmed their invitation to attend YYC 2015 and travelled with us all the way from Bitung and Airmadidi to Pa’Dior museum complex, owned by North Sulawesi Institute of Art and Culture in Tompaso, Minahasa. I would imagine it was a mostly silent bus ride for the participants who barely knew each other. Well, that awkward silence won’t last long!

This slideshow requires JavaScript.

To break the ice that night, we played some name games so everyone would know everyone else’s names. Aside from the 18 participants and 8 members of the Selamatkan Yaki team, we had 5 very special guests: Angel, Chia, Uje, Edo and Ira, 5 of our high school Yaki Ambassadors from YYC 2014! Due to their impressive enthusiasm in spreading the word about yaki conservation, both through school talks with us and independent talks they organized themselves, we invited them to join in Yaki Youth Camp again, this time as mentors to inspire and help out the participants from Bitung and Airmadidi. You can imagine there were quite a lot of names to memorize! Many people got a little tongue-twisted and lots of laughter ensued – which was the whole point of the games! Things loosened up a bit more after practicing and performing the YYC Jingle, and by the time we were done, everyone was ready to receive some context for our weekend’s activities through a Movie Night. During the Movie Night, participants got a glimpse of the environmental issues humans are dealing with globally, before watching the BBC short movie featuring the yaki and the threats they face. It was both educational and entertaining, and participants gained more understanding about the species we are working so hard to save, preparing them for the activities of the following day.

This slideshow requires JavaScript.

Everyone was up bright and early the next day for a spot of morning exercise, led by Reyni. The workout effectively wiped out remaining drowsiness and prepared everyone for the busy day ahead. The morning started off with a session on 10 things you could do for yaki conservation, presented by myself and assisted by Angel, Chia and Uje. During this talk, they assisted me in explaining some of the general ideas the participants could build on, and also described their own experiences in putting those ideas to practice. It was quite an inspiring segment! Following the talk, everyone participated in a speed-storming session to dig up more practical ideas that can be applied by high school students yet effectively reach the community. Then the newly divided rambos (the name for a group of yaki, or in this case, the name for participant groups) then presented their own version of 10 things they could do to help yaki conservation. Rambo 4 won this round with their easy-to-apply ideas!

This slideshow requires JavaScript.

For our next session, we welcomed Ronny Buol, a prominent figure in photography in North Sulawesi. By day he works as a reporter for Kompas.com, but he is also the chairman of F/21, an organization that aims to promote the natural and cultural wonders of North Sulawesi through photography. He gave some very good examples of how important photography is for conservation, some rooting from his own journalistic experiences, and gave some very good tips for taking meaningful photos regardless of the type of camera used. Ronny also stressed the importance of captions to provide the information that can’t be conveyed through the photograph itself. The talk was put directly to practice as the rambos walked around Pa’Dior, searching for objects to photograph and coming up with a suitable caption that can motivate viewers to protect the environment. It was hard to choose between flowers and crocodiles and ants and rubbish, but eventually, the jury picked the photograph by Rambo 1 as the winner for this round!

This slideshow requires JavaScript.

Lunch came and went, and after everyone had their fill, we settled down to the third session, presented by our partner, Macaca Nigra Project (MNP)! Yandhi from MNP arrived earlier that day with Deity, Nona and Dilla from Tangkoko Conservation Education (TCE) to give us a hand in supervising and motivating these high school students. Yandhi’s talk about the link between the yaki, the environment, and humans gave more in-depth context for our efforts in protecting our funky guardians of the forest. To help the public relate to this fellow primate, Jurriaan also gave a talk in this session about presenting the yaki through illustrations. Being the creator of our yaki online game and comic strip contributor for all two Yaki Magz editions, there was no better person to deliver this talk! After the two talks, participants were again challenged to put the newfound ideas to practice by creating a simple story board about the yaki’s life. We weren’t looking for works of Michelangelo; rather, we wanted the Rambos to be as creative as possible in coming up with a story about the yaki that the public could relate to, accompanied by simple pictures to help describe the story. It was a tough call, but in the end Rambos 1 and 3 were ruled as the winners of this competition!

This slideshow requires JavaScript.

Late afternoon was the perfect time for Yaki & Dance! Reyni opened the session by leading everyone in a warm-up demonstration, before introducing how dance can also be used to help yaki conservation. Following the introduction, our programme manager himself hit the floor with his breakdancing skills! A hilarious dance battle ensued, and by the time it was over everyone had loosened up enough to come up with their own concepts for dance performances to promote yaki conservation. Dance routines were not the only thing the Rambos had to work on. Their concept also had to include the setting of their performance (location, time, etc.) and the messages that they were going deliver to accompany the dance routine. The variety was surprising! Between flash mobs and Kabasaran (a traditional war dance) -like concepts and music ranging from Waka Waka to the soundtrack of Masha and the Bear, Rambo 1 and 4 were tied for first place in this competition!

This slideshow requires JavaScript.

After dinner we started our final session of the day: music and how it could help yaki conservation. We had some very special guests to speak for this session! Opal and Ade of Bloodlines had come all the way from Manado to contribute their expertise in the local music industry. Not only that, Ira, our Langowan Yaki Ambassador, also joined camp by special invitation, thanks to the yaki song she created! Prisi introduced the importance of music and the role of Yaki Ambassadors in music before handing the stage to Bloodlines. Bloodlines was founded fifteen years ago and is now a household name for metal music in North Sulawesi with a large fan base. Through their short speeches during performances, they reach out to their fan base and spread the word about conservation. Ira, however, has a different story. After Yunita’s talk at her school last year, she immediately got to work and wrote a moving song about protecting the yaki. Ira gave a talk on how high school students can use their own music to help conservation efforts and gave some very good tips on writing, recording, and sharing their own songs! With this knowledge fresh in their minds, the Rambos split up for one last competition: making their own yaki-themed jingle. The Rambos came up with some hilarious medleys, but finally, Rambo 4 was crowned the champion for the final competition of the day!

This slideshow requires JavaScript.

After a good night’s rest, everyone got up early again for morning exercises. The exercise routine was livelier this morning thanks to the dance competition the previous day! After breakfast and showers, the Christian participants attended a short Sunday morning service. Then, it was time for participants to practice their own talks. To warm up the students, I gave an introduction on the purpose of public speaking in awareness raising with the help of Edo and Ira. Edo and Ira gave tips on how to deal with a younger audience, which would come in handy when these participants go to junior high schools and elementary schools, and also shared some of their experiences during talks. Now, participants were split into new groups based on their school’s location to practice these talks. It was wonderful seeing all the groups put everything they had learned over the weekend into practice!

This slideshow requires JavaScript.

In what felt like no time at all, we came to the close of Yaki Youth Camp 2015. Though the scores were very close, Rambo 1 took home the crown as the winning group for this year’s Yaki Youth Camp! The atmosphere couldn’t have been more different than when the participants first arrived, merely 42 hours ago. Those who used to be shy and reserved were now very enthusiastic, and any doubts or questions  about Yaki Youth Camp activities are now gone, replaced by all the fun memories and fresh knowledge about the yaki! We would like to thank our contributors: Ronny, Yandhi, Deity, Nona, Dila, Jurriaan, Opal, and Ade; our guest Yaki Ambassadors: Angel, Chia, Uje, Edo and Ira; our partner, North Sulawesi Institute of Art and Culture; and of course, all 18 participants of Yaki Youth Camp 2015! Together we will save the yaki!

This slideshow requires JavaScript.

Mari sambut angkatan kedua Duta Yaki SMA!

Hello pembaca, ini Caroline! Hari ini saya akan bercerita mengenai acara keren kami yang paling baru: Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Sudah lebih dari setahun sejak Yaki Youth Camp (YYC) terakhir dilaksanakan. Saya masih ingat dengan jelas antusiasme dan semangat para peserta, tapi saya sudah lupa dengan sikap malu-malu mereka ketika mereka pertama kali tiba di lokasi kegiatan. Saya tidak terkejut – 18 siswa, semuanya mewakili SMA/sederajat yang berbeda-beda, kini bertemu untuk pertama kalinya dalam kegiatan ini. Bagaimana kami memilih siswa-siswa ini? Tahun ini, kami mengunjungi setiap SMA/sederajat di Bitung dan Airmadidi dan menyampaikan sosialisasi bagi siswa dan guru mengenai pentingnya melindungi yaki dan alam kita. Siswa yang memperhatikan materi presentasi dan berhasil menjawab pertanyaan quiz di akhir sosialisasi dengan benar akan memenangkan Golden Ticket untuk mengikuti YYC 2015! Kami mengunjungi 34 SMA/sederajat dan menjangkau lebih dari 2500 siswa. Akhirnya, 18 perwakilan sekolah mengkonfirmasi undangan mereka untuk mengikuti YYC 2015 dan pergi bersama kami menuju kompleks museum Pa’Dior, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso, Minahasa. Saya membayangkan perjalanan menuju Tompaso hening karena para peserta belum saling mengenal. Keadaan itu akan segera berubah!

 

This slideshow requires JavaScript.

Untuk mengakrabkan diri malam itu, kami memainkan beberapa permainan nama agar semua saling mengenal. Selain 18 peserta dan 8 anggota tim Selamatkan Yaki, kami mengundang 5 tamu istimewa: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira, 5 Duta Yaki SMA kami dari YYC 2014! Karena semangat mereka yang luar biasa dalam menyebarkan pesan konservasi yaki, baik di sosialisasi sekolah bersama kami maupun di sosialisasi yang mereka laksanakan secara mandiri, mereka kami undang untuk mengikuti Yaki Youth Camp lagi, kali ini sebagai mentor untuk menginspirasi dan membantu para peserta. Seperti bisa dibayangkan, ada banyak sekali nama yang harus dihafal! Banyak yang tertukar-tukar dan banyak juga yang tertawa – tentu saja, itulah tujuan games ini dimainkan! Suasana semakin santai sesudah para peserta belajar dan latihan menyanyikan yel-yel YYC, dan ketika games selesai, semua siap menerima latar belakang kegiatan kami selama akhir pekan ini melalui Nonton Bareng. Melalui film yang diputar, peserta melihat sekilas isu-isu lingkungan yang dihadapi manusia secara global, sebelum menonton film pendek dari BBC mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi. Kegiatan ini menghibur sekaligus mendidik, dan peserta semakin paham mengenai spesies yang berusaha kita lindungi dan mempersiapkan mereka untuk materi-materi esok harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Semua peserta bangun pagi-pagi esok harinya untuk mengikuti olahraga pagi, dipimpin oleh Reyni. Gerak badan ini efektif mengusir sisa-sisa kantuk sehingga semua siap untuk mengikuti kegiatan hari kedua yang padat. Pagi itu diawali dengan sesi mengenai 10 hal yang bisa kalian lakukan untuk konservasi yaki, dengan saya sendiri sebagai pembicara dan dibantu Angel, Chia dan Uje. Mereka bertiga membantu menjelaskan beberapa ide umum yang bisa dilakukan para peserta, dan juga menceritakan pengalaman mereka mempraktekkan ide-ide tersebut. Bagian ini cukup menginspirasi! Setelah materi, semua mengikuti kegiatan speed-storming untuk mencari lebih banyak lagi ide praktis yang bisa diterapkan siswa SMA tapi juga efektif menjangkau masyarakat. Setelah itu, para peserta mendiskusikan hasil speedstorming dengan anggota Rambonya (istilah bagi sekelompok yaki, atau dalam kasus ini, sebutan bagi kelompok peserta) yang baru terbentuk, kemudian mempresentasikan 10 hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu konservasi yaki versi mereka sendiri. Rambo 4 memenangkan ronde ini dengan ide-ide mereka yang mudah diterapkan!

This slideshow requires JavaScript.

Sesi berikutnya menampilkan Ronny Buol, fotografer yang cukup terkenal di Sulawesi Utara. Sehari-harinya ia bekerja sebagai reporter untuk Kompas.com, namun ia juga merupakan ketua F/21, lembaga pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mempromosikan keindahan alam dan budaya Sulawesi Utara melalui fotografi. Ia memberikan contoh-contoh yang sangat baik mengenai pentingnya fotografi bagi konservasi, beberapa di antaranya berasal dari pengalaman pribadi, dan juga memberikan tip-tip yang sangat bagus mengenai cara mengambil foto yang berkesan, tidak peduli jenis kamera apa yang digunakan. Ronny juga menekankan pentingnya caption untuk menyampaikan informasi yang tidak bisa disampaikan melalui foto. Materi ini langsung dipraktekkan ketika Rambo-Rambo berjalan-jalan dalam kompleks Pa’Dior, mencari objek untuk difoto dan membuat caption yang dapat memotivasi pemirsa untuk melindungi lingkungan. Agak sulit memilih di antara foto bunga dan buaya dan semut dan sampah, tapi akhirnya, juri memilih foto Rambo 1 sebagai pemenang ronde ini!

This slideshow requires JavaScript.

 

Makan siang pun berlalu, dan setelah semua sudah kenyang, kami mengikuti sesi ketiga yang dibawakan oleh partner kami, Macaca Nigra Project (MNP)! Yandhi dari MNP belum lama tiba bersama Deity, Nona dan Dilla dari Tangkoko Conservation Education (TCE) untuk membantu mengawasi dan memotivasi para siswa SMA ini. Materi Yandhi mengenai hubungan antara yaki, lingkungan hidup dan manusia memberikan informasi yang lebih lengkap pada peserta mengenai usaha kami melindungi si penjaga hutan berambut funky ini. Untuk membantu masyarakat lebih mengenal sesama primate ini, Jurriaan juga menyampaikan materi mengenai memperkenalkan yaki melalui ilustrasi. Sebagai pencipta game online yaki kami dan kontributor comic strip di kedua edisi Yaki Magz, tidak ada yang lebih baik untuk membawakan materi ini! Sesudah kedua materi ini, para peserta kembali ditantang untuk menerapkan pengetahuan baru mereka dengan membuat story board sederhana mengenai kehidupan yaki. Kami tidak mencari karya setara Michelangelo; kami ingin Rambo-Rambo ini menciptakan cerita mengenai yaki yang sekreatif mungkin dan mudah dipahami masyarakat, dengan bantuan beberapa gambar sederhana yang bisa membantu menjelaskan cerita itu. Setelah perundingan sengit, Rambo 1 dan 3 diputuskan menjadi pemenang lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Sore-sore merupakan waktu yang pas untuk Yaki & Dance! Reyni membuka sesi ini dengan memimpin semua peserta dalam demonstrasi dance sebagai pemanasan, sebelum memperkenalkan bagaimana dance dapat digunakan untuk membantu konservasi yaki. Setelah itu, manajer program Selamatkan Yaki turun tangan langsung dan mempertunjukkan keahlian breakdance-nya! Setelah dance battle yang sangat lucu, semua peserta sudah cukup santai untuk membuat konsep pertunjukan dance mereka sendiri untuk mempromosikan konservasi yaki. Koreografi dance bukan satu-satunya hal yang harus mereka pertimbangkan. Konsep mereka juga harus menjelaskan setting pertunjukan (lokasi, waktu, dll.) dan pesan yang akan mereka sampaikan bersama pertunjukan dance itu. Variasi yang ditampilkan cukup mengejutkan! Dari konsep flash mob hingga dance yang mirip Kabasaran dan pilihan musik dari Waka Waka hingga soundtrack Masha and the Bear, Rambo 1 dan 4 terpilih sebagai juara lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah makan malam kami memulai sesi terakhir hari itu: bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki. Kami menghadirkan beberapa tamu yang sangat istimewa sebagai pembicarasesi ini! Opal dan Ade dari Bloodlines datang jauh-jauh dari Manado untuk berbagi pengalaman mereka dalam dunia music lokal. Bukan hanya itu, Ira, Duta Yaki SMA kami dari Langowan, mendapat undangan khusus mengikuti YYC 2015 berkat lagu ciptaannya tentang yaki! Prisi memperkenalkan pentingnya musik dan peran Duta Yaki dalam bidang musik sebelum mempersilahkan Bloodlines berbicara. Bloodlines didirikan lima belas tahun yang lalu dan kini menjadi salah satu band metal yang cukup ternama di Sulawesi Utara, serta memiliki fan base yang cukup besar. Melalui orasi singkat mereka ketika naik panggung, mereka menjangkau fans mereka dan menyebarkan pesan mengenai konservasi. Ira memiliki kisah yang agak berbeda. Setelah sosialisasi dari Yunita di sekolahnya tahun lalu, ia langsung menulis lagu yang menyentuh mengenai melindungi yaki. Ira membahas bagaimana siswa SMA dapat menggunakan musik mereka untuk membantu usaha konservasi dan memberikan beberapa tips yang sangat bagus mengenai menulis, merekam, dan membagikan lagu! Dengan pengetahuan baru ini, para Rambo kembali berdiskusi untuk lomba terakhir: membuat yel-yel yaki mereka sendiri. Para Rambo ini berhasil membuat beberapa medley yang sangat menghibur, dan akhirnya Rambo 4 dinobatkan sebagai juara lomba terakhir!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah istirahat malam, semuanya kembali bangun pagi untuk olahraga. Sesi olahraga kali ini lebih bersemangat setelah semuanya mendapat pengalaman dalam lomba dance hari sebelumnya! Setelah makan pagi dan MCK, peserta yang beragama Kristen mengikuti ibadah singkat di Minggu pagi itu. Setelah itu, waktunya para peserta melatih sosialisasi mereka sendiri. Sebagai pemanasan, saya memperkenalkan manfaat public speaking dalam kegiatan awareness raising dengan bantuan Edo dan Ira. Edo dan Ira memberikan tips mengenai bagaimana menghadapi siswa-siswa yang lebih muda, yang akan berguna ketika mereka mengadakan sosialisasi di SMP dan SD, dan juga berbagi pengalaman mereka dalam sosialisasi-sosialisasi yang pernah mereka ikuti. Kini peserta dibagi dalam kelompok berdasarkan letak sekolah untuk latihan sosialisasi. Menyenangkan sekali melihat setiap kelompok mempraktekkan semua yang mereka pelajari selama akhir pekan ini!

This slideshow requires JavaScript.

Tidak terasa kami memasuki penutupan Yaki Youth Camp 2015. Meskipun perbedaan skor sangat tipis, Rambo 1 dinobatkan sebagai kelompok pemenang untuk Yaki Youth Camp tahun ini! Suasana penutupan sangat berbeda dibandingkan ketika peserta baru tiba, tidak lebih dari 42 jam yang lalu. Mereka yang dulunya malu-malu dan pendiam kini sangat bersemangat, dan semua keraguan dan pertanyaan mengenai kegiatan Yaki Youth Camp hilang tak tersisa, digantikan dengan kenangan-kenangan yang seru dan pengetahuan baru tentang yaki! Kami ingin berterima kasih pada para kontributor: Ronny, Yandhi, Deity, Nona, Dila, Jurriaan, Opal, dan Ade; Duta Yaki tamu kami: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira; partner kami, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara; dan tentu saja, 18 orang peserta Yaki Youth Camp 2015! Together we will save the yaki!

This slideshow requires JavaScript.

Yaki masuk sekolah di Bitung dan Airmadidi! Yaki school talks in Bitung and Airmadidi!

Dalam rangka Kampanye Kebanggaan Yaki Bitung dan Airmadidi 2015, selama bulan April dan Mei ini Selamatkan Yaki dengan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kota Bitung mengadakan sosialisasi di SMA dan SMK sederajat se-Bitung dan Airmadidi. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat khususnya pelajar tentang  satwa liar khususnya Yaki, serta pemilihan satu orang Duta Yaki dari setiap sekolah.
As part of our Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi, throughout the months of April and May Selamatkan Yaki has been holding talks in high schools across Bitung and Airmadidi, with the recommendation from the Department of Education in Bitung. These talks aim to educate and raise the awareness of the community, especially students, about our environment and the wildlife within it, particularly the yaki, and also to choose one Yaki Ambassador from each school.

Sebanyak 34 dari total 35 sekolah SMA dan SMK sederajat di Bitung dan Airmadidi telah dijangkau sepanjang bulan April dan Mei ini berfokus pada kelas X serta total murid yang berpartisipasi adalah sebanyak 2530 pelajar. Dalam sosialisasi ini, pelajar SMA diberikan pengetahuan tentang peran penting Yaki terhadap lingkungan serta belajar lebih banyak tentang keistimewaan Yaki yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang artinya tidak dapat ditemukan secara liar di tempat lain di dunia.
Out of the 35 high schools in Bitung and Airmadidi, 34 has been visited throughout the months of April and May and a total of 2530 tenth grade students have been reached through these talks. In these talks, students learned about the yaki’s role in the environment and found out what made the yaki so special, as a species endemic to North Sulawesi that can’t be found in the wild anywhere else in the world.

Sosialisasi di sekolah-sekolah ini sangat didukung penuh secara positif oleh setiap pimpinan sekolah yang dikunjungi karena disadari mereka bahwa dalam kurun waktu 40 tahun terakhir populasi sangat menurun jauh sebanyak kurang lebih 80% sehingga Yaki atau Macaca nigra dikategorikan Kritis atau keberadaanya sudah terancam punah. Yaki juga dilindungi oleh pemerintah lewat Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Diharapkan generasi sekarang ini sadar dan mampu untuk mengambil tindakan yang tepat dalam pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Utara.
The talks were well received by principals, knowing that within the past 40 years yaki populations have declined by 80%, earning them the title of being Critically Endangered and threatened by extinction. The yaki is also protected by government laws. The current generation is expected to be aware and capable of making the right decisions when it comes to protecting the biodiversity in North Sulawesi.

Perhatian pelajar Bitung dan Airmadidi terhadap sosialisasi ini sangat tinggi, terbukti dengan antusiasnya dalam memperhatikan presentasi serta partisipasi dalam sesi tanya jawab tentang Yaki. Hal ini merupakan suatu pertanda baik karena dari sekian banyaknya pelajar yang ikut serta, hanya sebagian kecil yang pernah melihat Yaki secara langsung dengan mata kepala sendiri sehingga rasa penasaran serta ingin tahu yang tinggi akan binatang ini.
The attention of students in Bitung and Airmadidi towards these talks were very high, as we can see in their enthusiasm towards the talk itself and through their questions about the yaki. This is a good sign because out of all the students who listened to the talks, only a very small number has ever seen the yaki in the wild, making the majority even more curious about this animal.

Yaki sangat unik dan lucu! Pengetahuan tentang Yaki sangat berguna karena masih banyak anak-anak yang belum tahu tentang Yaki,” kata Indah Purwanto, salah satu peserta sosialisasi dari SMA N 2 Bitung. “Kita harus  share sebanyak-banyaknya tentang Yaki agar lebih banyak yang tahu tentang Yakisambung Gilbert Atang. Expresi yang sama juga disampaikan oleh pelajar SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, yang sangat tertarik dengan pengetahuan lingkungan. Menurut Joudy melalui sosialisasi ini  generasi muda menjadi lebih peduli dengan satwa langka khususnya Yaki. Gani Padengkalu juga menambahkan bahwa Yaki memegang peran penting bagi keseimbangan alam jadi harus dilestarikan.
The yaki is very unique and cute! Knowing about the yaki is very useful because a lot of kids my age don’t know anything about the yaki,” says Indah Purwanto, one of the participants in SMA N 2 Bitung. “We need to share info about the yaki as much as possible so more people know about the yaki,” Gilber Atang adds. A similar statement was expressed by a student from SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, who was very interested in the environment. According to Joudy, through these talks the young generation can learn to care more about rare wildlife, especially yaki. Gani Pandengkalu also adds that the yaki plays an important role to the balance of the ecosystem and thus needs to be protected.

Sosialisasi Kampanye Kebanggan Yaki 2015 di SMA dan SMK sederajat Bitung dan Airmadidi ditutup di Pulau Lembeh. Tiga sekolah terakhir yang dikunjungi adalah SMA LPM Motto, SMA N 3 Bitung dan SMK N 3 Bitung dengan tiga perwakilan Duta Yaki yaitu; Efrayanto Lumuhu (SMA LPM Motto), Dewi Manuho (SMA N 3 Bitung) dan Steven Tamarariha (SMK N 3 Bitung). Kunjungan ke Pulau Lembeh meninggalkan kesan yang sangat istimewa bagi seluruh tim Selamatkan atas penerimaan yang baik dari pihak pemerintah dalam hal Ini Camat Ibu Ledy Ambat, S.STP dan Lurah Pak Sofyan Mandiangan, pihak sekolah dan serta masyarakat.
High school talks for Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi was closed on the island of Lembeh. The final three schools that were visited are SMA LPM MOtto, SMA N 3 Bitung and SMK N 3 Bitung with their representatives Efrayanto Lumuhu, Dewi Manuho and Steven Tamarariha, respectively. The visit to Lembeh left a deep impression on the whole Selamatkan Yaki team due to the welcome from the government, Camat Ledy Ambat, S.STP and Lurah Pak Sofyan Mandiangan, also from the schools and the community.

Dengan berakhirnya sosialisasi dan pemilihan Yaki Ambassador (Duta Yaki) perwakilan setiap sekolah, kegiatan akan dilanjutkan dengan Yaki Youth Camp (perkemahan konservasi Yaki).  Atas dukungan Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., para Duta Yaki ini akan digodok dalam Yaki Youth Camp pada tanggal 22-24 Mei 2015 nanti yang rencananya akan dilaksanakan di Museum Minahasa “Pa’Dior” di Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Jl Pinabetengan, Tompaso, Minahasa.
With the end of the school talks and selection of Yaki Ambassadors from each school, the activity will continue with Yaki Youth Camp. Thanks to the support from Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., these Yaki Ambassadors will participate in Yaki Youth Camp that will be held on May 22nd – 24th 2015 in Pa’Dior Museum, North Sulawesi Institute for Art and Culture in Tompaso, Minahasa.

“Torang jaga Yaki karna torang peduli!  Together we will save the Yaki!” demikian seluruh peserta sosialisasi meneriakkan slogan Kampanye Kebanggan Yaki  menutup sosialisasi dari tim Selamatkan Yaki.
Torang jaga yaki karna torang peduli! Together we will save the yaki!” shouts the participating students, reciting our Yaki Pride Campaign slogan to end the talk from Selamatkan Yaki.

Stakeholder workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2015

Torang Bacirita tentang konservasi Macaca nigra (Yaki) di Bitung-Airmadidi 2015

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Setelah sukses dengan acara “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013” yang adalah workshop stakeholder mengenai konservasi Macaca nigra atau yaki, program Selamatkan Yaki kembali mengadakan workshop serupa pada tanggal 28 Maret 2015 lalu di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, dan acara tersebut sukses besar!

After the successful “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013”, a stakeholder workshop regarding Macaca nigra or Yaki conservation, Selamatkan Yaki programme once again held a similar workshop on March 28th 2015 at Tasikoki Wildlife Rescue Centre, and the event was a huge success!

Workshop ini diikuti 52 peserta dari instansi-instansi pemerintah di Bitung dan Airmadidi seperti Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kepolisian, Satkamla TNI-AL,serta para camat dan lurah. Di antara para peserta juga terdapat perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat yang berkecimpung di bidang lingkungan hidup dan akademisi-akademisi dari perguruan tinggi di Bitung, Airmadidi dan sekitarnya. Peserta difokuskan dari Bitung dan Airmadidi karena kedua area ini merupakan area fokus Kampanye Kebanggaan Yaki tahun kedua. Bitung dan Airmadidi dipilih menjadi area kampanye tahun kedua karena jaraknya yang dekat dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, yang merupakan rumah dari populasi yaki yang paling banyak pada habitat aslinya.

As many as 52 participants from government institutions in Bitung and Airmadidisuch as the Forestry Department, Education and Culture Department, Tourism Department, Police Department, Indonesian Navy Marine Safety Unit, as well as the heads of sub-districts and villages (Camat and Lurah) took part in this workshop. Amongst the participants are also representatives from community organisations that are involved in environmental fields and academics from Universities in Bitung, Airmadidi, and its surrounding areas. The concentrated participants are from Bitung and Airmadidi, based to the reason that these areas are the focus of our 2nd year Yaki Pride Campaign. Bitung and Airmadidi were chosen as campaign areas based on the short distance from the Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, which is the natural habitat of most of the Yaki population.

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Tujuan dari workshop ini adalah agar para pemangku kepentingan dapat duduk bersama dan mendiskusikan peran masing-masing dalam meningkatkan kesadaran serta pendidikan konservasi Macaca nigra. Seperti halnya pepatah lama yang menjadi filosofi bangsa Indonesia yaitu “berat sama dipikul ringan sama di jinjing” , maka diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan ini diharapkan mampu menghasilkan ide dan kegiatan yang efektif dan menunjang kegiatan konservasi yaki. Untuk kepentingan itu, para peserta mengikuti beberapa materi, yang dibawakan antara lain oleh Dr. Noldy Tuerah selaku pimpinan Synergy Pacific Institute yang menaungi program Selamatkan Yaki dengan materi tentang Konservasi Macaca nigra di SULUT, dan ilmuwan Dr. Saroyo Sumarto M.Si yang telah mendedikasikan dirinya untuk pelestarian yaki dengan materi Alasan Ilmiah Konservasi Macaca nigra. Kedua narasumber ini memotivasi peserta workshop

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan efisien bagi pelestarian satwa, bertolak dari kapasitas dan budaya Sulut. Selain kedua pembicara yang menginspirasi ini, Caroline Tasirin selakuEducation Assistant di Selamatkan Yakimembawakan materi yang membahas suksesnya Kampanye Kebanggaan Yaki di Tomohon dan Langowan tahun lalu, serta memberi masukan bagi para peserta mengenai bagaimana mereka dapat berkontribusi pada kampanye tahun ini.

The purpose of this workshop is for stakeholders to be able to sit down together and discuss their respective roles in raising awareness as well as in Macaca nigra conservation education. Just like the old saying that has become a philosophy for our nation, about sharing both the joys and sorrows, the stakeholders’ joint discussions are expected to be fruitful of effective ideas and activities that support Yaki conservation activities. For this particular purpose, the participants were provided with materials presented by Dr. Noldy Tuerah, Director of Synergy Pacific

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah - Direktur Synergy Pacific Institute

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah – Direktur Synergy Pacific Institute

Institute which the Selamatkan Yaki programme is under, who spoke about Macaca nigra conservation in North Sulawesi and scientist Dr. Saroyo Sumarto M.Si whom had dedicated himself for yaki conservation and spoke about the scientific reasons behind Macaca nigra conservation. Both speakers motivated the workshop participants to come up with creative and efficient ideas for wildlife conservation based on the capacity and culture of North Sulawesi. Aside from these two inspiring speakers, Selamatkan Yaki’s Education Assistant, Caroline Tasirin, gave a presentation that helped describe the success of the 1st Yaki Pride Campaign in Tomohon and Langowan last year, as well as helping give inputs to participants on how they can contribute in this year’s campaign.

Peran setiap peserta dalam penyadartahuan mengenai konservasi yaki dibahas lebih dalam di Focus Group Discussion (FGD) pertama, di mana para peserta membahas topic FGD dalam kelompok-kelompok campuran. Hasil diskusi kelompok dibahas dalam sesi pleno dengan kesimpulan yang menarik; para peserta memilih rekomendasi yang paling penting untuk diterapkan, dan tiga rekomendasi teratas antara lainpenyitaan dan penegakan hukum oleh polisi dan tentara serta alokasi anggaran dan penyusunan Peraturan Daerah untuk konservasi oleh walikota dan bupati. Akan tetapi, mengingat tujuan utama workshop adalah kegiatan pendidikan dan penyadartahuan konservasi, kegiatan yang sangat direkomendasi oleh peserta juga termasuk pemasangan billboard untuk sosialisasi peraturan yang melarang perdagangan satwa liar oleh Kepala P.D. Pasar, kampanye penyadartahuan oleh para NGO, dan penyusunan kurikulum dan materi konservasi yang bisa diterapkan oleh setiap tingkat pendidikan (SD, SMP and SMA) melalui kerjasama universitas dan Dinas Pendidikan. Kelompok media, seperti F/21 dan Tribun Manado yang juga merupakan peserta workshop, juga diidentifikasi sebagai stakeholder yang penting dan direkomendasikan untuk menyebarkan pesan konservasi yaki melalui pameran/pertunjukkan dan untuk meliput kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konservasi melalui media sosial.

Fokus Grup Diskusi 1 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 1 – rekomendasi dari para peserta

The role of each participant in Yaki conservation awareness was discussed more thoroughly in the first Focus Group Discussions (FGD), in which the participants discuss the FGD topics in mixed groups. The results were then discussed as a group discussion in the plenary session which resulted in interesting conclusions; the most votes were given to the recommendation of the Police to improve the law enforcement and for the Mayor to provide funding for conservation activities in addition to create local laws (PERDA) on conservation. However, as this workshop focused specifically on conservation education and awareness raising , other highly recommended activities were for the Kepala pasar to provide billboards to contribute to awareness raising on the Indonesian wildlife protection laws, for NGOs to hold awareness raising campaigns, and for universities and the Head of Education (Dinas Pendidikan) to work together on creating a conservation curriculum for each level of education (elementary school, junior and senior high school). Media groups, such as the participating F21 and Tribun Manado, also were identified as an important stakeholder by spreading yaki conservation messages through exhibitions and to cover any conservation related events through social media channels.

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Pada siang harinya, rekomendasi untuk rencana kampanye disusun melalui FGD kedua, termasuk usulan kegiatan dan pesan kampanye. Selamatkan Yaki akan menyusun rencana kampanye berdasarkan rekomendasi-rekomendasi ini serta hasil survey skala besar di mana 1135 orang penduduk Bitung dan Airmadidi diwawancarai mengenai konservasi, komunikasi, dan metode kampanye yang mereka sukai. Selamatkan Yaki berharap para tokoh masyarakat yang menghadiri workshop hari Sabtu lalu dapat menjadi wajah dan suara kampanye kami dan bertindak sebagai Duta Yaki yang menyebarkan pesan bahwa kita seharusnya tidak memburu, memperdagangkan atau mengkonsumsi Macaca nigra atau yaki yang sangat terancam punah.

Later on in the day, recommendations for campaign plans were arranged through the second FGD, including the activities and campaign messages suggestions. Selamatkan Yaki will construct a campaign plan based on these recommendations and the result of a large-scale survey through which we interviewed 1135 residents in Bitung and Airmadidi regarding conservation, communication, and campaign methods that they are in favor of. Selamatkan Yaki hopes that community leaders who attended the workshop last Saturday could be the faces and voices of our campaign and would act as a Yaki Ambassador, spreading the message that we should not hunt, trade nor consume the Critically Endangered Macaca nigra or yaki.

Fokus Grup Diskusi 2 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 2 – rekomendasi dari para peserta

Karena yaki merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang tidak bisa hidup secara liar di tempat manapun di dunia, patutlah area Airmadidi dan Bitung berbangga karena yaki dalam jumlah yang besar hanya bisa ditemukan di sini. Sayangnya, jumlah yang besar ini tampaknya tidak seimbang dengan kecenderungan masyarakat untuk memburu yaki, baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijadikan peliharaan di rumah, ataupun mengalih fungsikan hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Di samping adanya UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999 yang melindungi yaki, alangkah baiknya jika masyarakat pun bahu membahu mempertahankan keanekaragaman hayati yang unik ini. Dengan stakehorders meeting ini diharapkan langkah-langkah pelestarian alam pada umumnya dan pelestarian yaki pada khususnya akan mendapat perhatian yang lebih besar dari masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Bitung dan Airmadidi, sehingga nanti tidak ada lagi satwa liar yang akan punah serta usaha perlindungan satwa liar akan lebih baik lagi.

Yaki is a North Sulawesi endemic species that cannot naturally live in any other place in the world, and it is for that reason that the Airmadidi and Bitung areas should be proud; a large amount of Yaki populations are only found within these areas. Unfortunately, this large amount seems disproportionate to the society’s tendencies to hunt yaki, be it for consumption or to be kept as pets, or converting forest, where they live, to make space for humans. Aside from the national law (Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 and Peraturan Pemerintah no. 7 Tahun 1999) that protects the yaki, it would be better if the society also join hands in preserving this unique biodiversity. Through the stakeholders meeting, we hope that nature conservation efforts in general and yaki conservation, especially, will become a bigger concern for the people of North Sulawesi, especially in Bitung and Airmadidi, so that in the future, wildlife will no longer face the threats of extinction and that wildlife protection can improve.

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki - Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki – Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Beberapa hari setelah Workshop Torang Bacirita tentang Konservasi Yaki, Meneer Edhie dari Akademi Maritim Indonesia (AMI) Bitung sudah menyebarkan pesan konservasi yaki dengan memasang banner info yaki untuk dibaca masyarakat! Terima kasih banyak Meneer Edhie, semoga yang lain akan segera mengikuti!

Just a few days after Workshop Torang Bacirita Yaki Conservation, Meneer Edhie from the Indonesian Maritime Academy (Akademi Maritim Indonesia) Bitung was already spreading the yaki conservation message by putting up our yaki information banner for the public to read! Many thanks, Meneer Edhie, hopefully others will soon follow!11020480_1046900885339233_3492717509067554482_n

Sudahkah Anda memasang banner Anda? Harap men-share foto banner yang sudah dipasang, serta Anda dan rekan-rekan Anda yang berpose bersama banner tersebut di Facebook group Torang Bacirita Konservasi Macaca nigra!

Have you put up your banner? Please share your photo of the already installed banner, as well as you and your friends pose with the banner in Torang Bacirita Konsevasi Macaca Nigra Facebook group!

Mewakili Tim Selamatkan Yaki, kami ingin berterima kasih pada semua peserta untuk masukannya. Rekomendasi dari workshop ini akan didistribusikan pada semua peserta melalui email dan dibagikan melalui group Facebook Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra. Sekali lagi, terima kasih kepada para peserta dan crew Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

On behalf of the Selamatkan Yaki team, we would like to thank all the participants for their input. Recommendations from the workshop will be distributed to all participants via email and shared through Facebook group Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation. Once again, thank you to all participants and Tasikoki Wildlife Rescue Center crew!

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan, Fernando Lumowa dari Tribun Manado dan Themmy Doaly dari Mongabay, yang telah meliput acara kampanye kami, Workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra, seperti yang kita sudah menemukan 3 siaran pers, lihat di sini:

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

We would also like to thank the journalists, under which Fernando Lumowa from Tribun Manado and Themmy Doaly from Mongabay, who covered our campaign event, the workshop Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation, as we already found through these 3 press releases, see here:

http://www.seputarsulut.com/torang-bacirita-tentang-konservasi-yaki-di-bitung-airmadidi

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

Perjuangan kami melawan kepunahan: “Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!”

 Our fight against extinction: “Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

Band Bloodlines

Band asal Manado Bloodlines, Duta Yaki untuk generasi baru Manadonese band Bloodlines,Yaki Ambassadors for the new generation

Manado 16 April 2015 – Akhir pekan ini para penggemar musik akan membanjiri GodBless Park Manado dengan adanya penampilan dari band-band besar seperti Burgerkill, Taring dan Seringai. Di antara band-band ini adalah Bloodlines, yang pertama dari jenisnya di Manado dan sudah ada sejak tahun 2000, yang akan tampil pada hari Sabtu, 18 April. Bloodlines yang beranggotakan 6 orang ini telah menjadi Duta yaki sejak September 2014 dan secara aktif mendukung upaya konservasi di Sulawesi Utara. “Selain musik, kami juga tertarik dengan upaya konservasi,” kata Ade, salah satu vokalis Bloodlines, “karena upaya-upaya konservasi dapat berhasil jika turut didukung oleh masyarakat.” Pada bulan September 2014, para anggota Bloodlines memasuki panggung Manado Wheels Automorfosa Auto Contest di Lion Plaza, memakai kaos dengan logo dan slogan Kampanye Kebanggaan Yaki kami. Setelah penampilan yang luar biasa, band ini menutup penampilan mereka dengan menjelaskan mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi, sambil membagikan flyer mengenai program konservasi Selamatkan Yaki. “Sudah lumayan lama sejak kami pertama mendengar tentang Selamatkan Yaki, sekitar tahun 2011, melalui teman-teman pencinta alam saat kami masih di universitas. Sekarang kami akhirnya menemukan kesempatan untuk menyuarakan keprihatinan tentang monyet langka ini!” para anggota Bloodlines menjelaskan. Manado 16 April 2015 – This weekend music fans will pour into the GodBless Park with big bands playing such as Burgerkill, Taring and Seringai. Among these bands is the band Bloodlines, the first of its kind in Manado and have been around since 2000 who will perform on Saturday 18 April. Bloodlines, existing of 6 members, have been yaki ambassadors since September 2014 and actively support conservation efforts in North Sulawesi. “Apart from music, we are also interested in conservation efforts,” says Ade, one of Bloodlines’ vocalists, “because conservation of wildlife populations can be successful if supported by the community.” In September 2014, the members of bloodlines marched onto the stage of Manado Wheels Automorfosa Auto Contest in Lion Plaza, wearing T-shirts with the Yaki Pride Campaign logo and slogan. After an amazing performance, the band finished with a speech about the yaki and the threats that they face, while handing out pamphlets about the Selamatkan Yaki conservation programme. “It had been a while since we first heard about Selamatkan Yaki, around 2011, through our nature-loving friends, whom at the time were in university. Now we finally found the opportunity to give voice to our concerns about this endangered monkey!” members of Bloodlines explain.

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Yaki (Macaca nigra) adalah spesies primata yang endemik, yang artinya spesies yang hanya hidup secara alami di Sulawesi Utara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Sayangnya, yaki sangat terancam punah karena adanya perburuan dan perambahan hutan, serta jumlah populasi mereka yang telah menurun lebih dari 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun dilindungi oleh hukum nasional. “Melihat secara langsung kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan hidup di sekitar kita, juga melihat yaki yang dijadikan makanan oleh orang-orang rakus yang ingin memakan segala yang hidup, mengilhami kami untuk menjadi bagian dari upaya konservasi yaki”, kata Ade. Tapi bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki? Menurut Bloodlines, “Musik dapat menjangkau golongan masyarakat yang mungkin pada awalnya belum begitu akrab dengan masalah-masalah lingkungan, dan melalui musik kita bisa menyampaikan pesan-pesan mengenai masalah lingkungan tersebut. Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!” The yaki (Macaca nigra) is an endemic primate species, which means that they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world. Unfortunately, the yaki is Critically Endangered due to hunting and deforestation with their population number declining over 80% in the last 40 years, despite being protected by national law. “Seeing for ourselves all the activities that harm the environment around us, as well as seeing that yaki are being consumed by greedy people who want to eat any living thing inspired us to become part of yaki conservation efforts,” says Ade. But how can music help yaki conservation? According to Bloodlines, “Music can reach different groups of society which have yet to be exposed to environmental issues. Through music we can convey messages about these environmental issues. Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

This slideshow requires JavaScript.

Strategi Bloodlines dalam berkontribusi untuk konservasi yaki sangatlah jelas: “Menyelipkan pesan-pesan konservasi di acara-acara musik yang kami hadiri,” jelas Ade, “mengenai betapa pentingnya yaki bagi hutan Sulawesi Utara dan bagi kehidupan masyarakat Minahasa. Melalui kerjasama dengan program konservasi seperti Selamatkan Yaki, kami membantu memberikan suara bagi yaki dan berharap dapat memenangkan perjuangan melawan kepunahan!” tukasnya. Bloodlines strategy of contributing to yaki conservation is clear:By slipping in conservation messages at all the music events that we participate in”, clarifies Ade, “about how important the yaki is for the forest in North Sulawesi and the lives of the Minahasan people, and through collaboration with conservation programmes like Selamatkan Yaki, we give voice to the yaki and hope to win his fight against extinction!”

Loud praise from the fans after their last song

Loud praise from the fans after their last song

Ayo lihat orang-orang inspiratif ini beraksi! Bergabunglah di konser mereka di Godbless Park Manado pada Sabtu, 18 April 2015 (gratis, mulai pukul 17.00) dan beli kaos Yaki Ambassador Bloodlines x Selamatkan Yaki (edisi terbatas) yang akan tersedia di konser, atau silahkan pesan melalui Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines See these inspiring guys in action! Join their concert at the GodBless Park Manado on Saturday, 18 April 2015 (free entrance, starting at 17:00) and buy  the Bloodlines x Selamatkan Yaki Ambassador T shirt (limited edition) available at the concert, or order now through Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines

Email: wearebloodlines@gmail.com Facebook: www.facebook.com/Bloodlines

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines concert