Shooting Competition has officially started!

IMG_9814Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU) bekerjasama dengan Selamatkan Yaki kembali mengadakan suatu event yang menarik dan terbilang masih baru di Sulawesi Utara. Dalam rangka menyalurkan hobby menembak dari masyarakat Minahasa dan sekitarnya, maka pada tanggal 16 Agustus 2014 lalu, lomba menembak bertajuk “Pa’dior Shooting Competition” dibuka untuk umum.
Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU – North Sulawesi Institute for Art and Culture Foundation) in collaboration with Selamatkan Yaki has organized yet another radical event for North Sulawesi. To accommodate the shooting hobby of Minahasan people, on August 16th 2014 the “Pa’dior Shooting Competition” was opened to the public.

IMG_9834“Menjaring atlit berprestasi yang berkarakter cinta lingkungan” adalah tema yang diangkat dalam kejuaraan ini. Selain berpotensi menghasilkan atlit-atlit berbakat di masa yang akan datang, dengan kejuaraan menembak ini diharapkan juga bisa meningkatkan pengetahuan serta rasa cinta terhadap lingkungan hidup yang ada di Sulawesi Utara ini.
“Gather accomplished, nature-loving athletes” is the general theme of the competition. Apart from producing talented future athletes, this shooting competition is expected to increase knowledge and consideration for the North Sulawesi’s natural wonders.

IMG_9842Untuk kejuaraan kali ini dibuka beberapa kategori, yaitu Air Rifle 10M Kelas Remaja (sampai 16 tahun) dan Kelas Umum, serta kategori Air Rifle Metal Silhouette 20M Kelas Umum. Lomba menembak ini merupakan yang pertama dari serangkaian lomba menembak yang rencananya akan diadakan selama setahun penuh, dimulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi dan ditutup dengan final di Pa’Dior Shooting Club Tompaso. Hasil lomba umumnya dimenangkan oleh atlit-atlit menebak muda Sulawesi Utara.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

This competition is divided into several categories, which are Air Rifle 10M Teenagers (up to 16 years old) and General, and Air Rifle Metal Silhouette 20M General. This competition is the first of a series of shooting competitions spaced out over an entire year, starting from district-level up to province-level competitions, ending with the finals in Pa’Dior Shooting Club Tompaso. The General category was won by young shooting athletes of North Sulawesi.

IMG_9887

Beberapa penggiat menembak yang masih belia. Some of the younger shooting enthusiasts.

Lomba pembukaan ini berlangsung selama 1 hari dan dilaksanakan di kompleks YISBSU, Jl. Pinabetengan, kecamatan Tompaso. Lomba ini dirangkaikan dengan pembukaan Pa’dior Shooting Club dan peresmian Lapangan Tembak Indoor. Kejuaraan menembak ini bukan semata-mata suatu kegiatan kompetisi biasa. Selain kejuaraan ini terbilang baru karena dilaksanakan oleh organisasi masyarakat,  namun juga dengan kejuaraan ini diharapkan bisa merangkul para pecinta menembak dan masyarakat yang  punya hobby berburu, bukan hanya sekedar menyalurkan hobinya tetapi juga memperoleh edukasi tentang kekayaan alam Indonesia dan sebagai pemburu yang mampu melestarikan kekayaan alam ini, khususnya di Sulawesi Utara maka  “Berburu untuk masa depan” adalah salah satu moto yang di angkat juga dalam acara ini serta Torang bangga nyanda batembak satwa dilindungi”. Kegiatan ini merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk bangga akan potensi alam Indonesia khususnya satwa khas Sulawesi Utara. Hobi masyarakat tetap dijalankan, tapi perlindungan satwa pun lebih diperhatikan sehingga keharmonisan hidup antara sesama makhluk ciptaan Tuhan juga tetap terjaga dan bisa terhindar dari bencana alam.

IMG_9894

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

This opening competition was held for a day at YISBSU, Jl. Pinabetengan, district of Tompaso. This opening competition is part of the launching of Pa’Dior Shooting Club and the opening of the Indoor Shooting Range. This competition is no ordinary event. Not only is it a relatively new sport, organized by a community organization, it is also expected to unite shooting enthusiasts and hunters within a community. These hunters will have the chance, not only to pursue their hobby, but also to be educated on the riches of Indonesia’s nature and motivated to be hunters who are able to protect the natural riches of North Sulawesi. For that reason, “Hunting for the future” and “We are proud of not shooting protected wildlife” were set as two minor themes of the event. This activity is an appeal to everyone in North Sulawesi to be proud of Indonesia and North Sulawesi’s nature. Hobbies need not be neglected, but wildlife protection should also have its share of attention so harmony may be maintained and environmental emergencies may be avoided.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Lanjutan dari serial kejuaraan menembak ini diadakan di  eks PT. Hijau, Ratahan, kec. Tombatu pada hari Sabtu tanggal 13 September 2014. Kali ini ada empat kategori yang dipertandingkan: Air Rifle 10M Kelas Remaja dan Kelas Umum, Air Rifle 10M Masyarakat Minteng, dan Air Rifle Metal Shilouette 30M. Perjalanan yang jauh tidak menyurutkan semangat tim Selamatkan Yaki untuk mendukung acara ini! Dalam acara ini dilantik pengurus cabang Minahasa Tenggara Perbakin yang dipimpin langsung oleh Ketua Perbakin Sulawesi Utara, bapak Drs. Sutoyo, M.Hum. Tim Selamatkan Yaki memperoleh kesempatan untuk menyam-paikan sosialisasi kepada pengurus Pengcab Perbakin Minahasa Tenggara dan masyarakat. Tanggapan masyarakat baik dan melalui kejuaraan ini, peningkatan kesadaran Kampanye Kebanggaan Yaki semakin luas.

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

The next series of this shooting competition was held in the old factory of PT. Hijau, Ratahan, district of Tombatu, on Saturday, September 13th 2014. This time there were four categories: Air Rifle 10M Teenagers and General, Air Rifle 10M People of Southeast Minahasa and Air Rifle Metal Silhouette 30M General. The long trip to the location didn’t dampen the Selamatkan Yaki team’s spirit! In this event, the board for the Southeast Minahasa branch of Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia – Indonesian Association for Shooting) was appointed directly by the Chairman of North Sulawesi Perbakin Board, Drs. Sutoyo, M.Hum. The Selamatkan Yaki team got to give a socialization to the newly appointed board and the general public. People responded well and through this competition, awareness raising through our Yaki Pride Campaign spread even further.

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

►Tonton video dari Ratahan, Tombatu | Watch the video from Ratahan, Tombatu: http://youtu.be/eS99LSty9YE

Selamatkan Yaki merasa bangga bisa turut mendukung acara ini dan kami berharap dapat terus berkolaborasi dengan Perbakin serta masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan kerja sama kita bisa, dengan kerjasama yaki bisa dilindungi dan lestari. Kejuaraan selanjutnya direncanakan di Ratatotok. Sampai bertemu di Ratatotok!
Selamatkan Yaki is proud to support this event and we hope we can continue to collaborate with Perbakin and the community for awareness raising. Through collaboration we can reach our goals, through collaboration yaki may be protected. The next leg of the competition is planned for Ratatotok. We’ll see you at Ratatotok!

This slideshow requires JavaScript.

 

Lari maraton demi Yaki!

Memutuskan berlari untuk siapa, itu mudah. Yaki adalah spesies yang istimewa namun sulit dipercaya bahwa 90% dari populasi mereka telah lenyap. Setelah bekerja dengan Yaki dan mendengar tentang apa yang Selamatkan Yaki lakukan untuk menyelamatkan mereka serta lingkungan mereka, merupakan pilihan yang mudah, sudah waktunya untuk membantu menyelamatkan yaki….” kata Lauren.10717598_739186452814337_241619892_n

Perhatian terhadap satwa liar Sulawesi Utara tak ada habis-habisnya dari masyarakat dunia. Pada Minggu  28 September 2014 lalu, 2 orang gadis Inggris; pekerja kebun binatang dan sukarelawan di salah satu kebun binatang Inggris mengadakan aksi pengumpulan dana untuk kegiatan pelestarian satwa endemik Sulawesi Utara; Yaki (Monyet Hitam Sulawesi) dengan cara lari marathon.

Dua gadis cantik duta Yaki asal Inggris ini mengikuti acara Tonbridge Half Marathon yang  diselenggarakan setiap  tahun oleh West Ken College dan United Kingdom Athletic,  diikuti oleh masyarakat Inggris dengan tujuan untuk menggalang dana bagi kegiatan kemanusiaan dan lembaga sosial serta kegiatan lingkungan. Acara seperti ini banyak  dilaksanakan di Eropa untuk merangkul orang-orang yang senang beramal melalui lari marathon. Bantuan yang diberikan oleh kedua gadis ini sangat berarti bagi kegiatan pelestarian satwa Yaki di Sulawesi utara ini.marathon

Lauren Amos and Jennifer Dixon mampu menyelesaikan Tonbridge Half Marathon dalam waktu 2 jam 15 min, menempuh jarak  sekitar 11.5mil (19 km) dan harus berjalan sekitar 2,4 km , “Kami sangat senang dan lega sudah selesai karena saya belum pernah berlari sejauh lebih dari  5 mil sebelumnya” kata gadis cantik Jennifer.

Melihat ke belakang beberapa hari lalu di mana BKSDA serta aparatnya menangkap 2 orang asal Tomohon yang membantai sekelompok monyet di daerah Bolsel, maka adalah suatu perenungan bagi masyarakat Sulawesi Utara untuk kembali mencontoh kegiatan dari Duta Yaki pekerja kebun binatang di Inggris ini untuk lebih peduli dan bangga memiliki satwa khas Sulawesi Utara ini yang statusnya sangat terancam punah serta dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990.

Peran pemerintah yang dibantu oleh lembaga non profit lingkungan untuk pelestarian lingkungan hidup pada umumnya tidak akan berhasil tanpa peran aktif serta kesadaran masyarakat. Semua kegiatan baik oleh pemerintah dan NGO kuncinya adalah di tangan masyarakat. Sebagai Masyarakat Sulawesi Utara sudah selayaknya kita lebih sadar, peduli dan bangga melestarikan lingkungan terlebih satwa Yaki, karena Yaki cuma ada pa torang di sini, nyanda ada di tempat lain  di dunia ini. Jika bukan kita siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Torang jaga Yaki karena torang peduli. Kita tidak boleh kalah semangat dengan 2 gadis ini dalam melestarikan lingkungan.10354736_910806148949167_5329412529518958648_n

“Jennifer… Sangat terbalaskan ketika saya melewati garis finish dan sepanjang waktu memikirkan tentang betapa luar biasa proyek yang sedang saya lakukan yang terus mendorong saya! Benar-benar bahagia bisa mengambil bagian di dalamnya dan sepertinya saya akan terus berlatih lebih banyak di tahun-tahun berikut.”

New member for Tangkoko Rejuvenation Programme

The Selamatkan Yaki team is getting bigger. Please welcome Vian, our Tangkoko Project Assistant!

Ancaman kerusakan terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati juga pastinya mengancam kehidupan manusia. Manusia bergantung pada lingkungan alami untuk makan, minum sampai obat-obatan. Menjaga dan melestarikan alam sama artinya menjaga kehidupan dan masa depan manusia.

The threats to the environment and biodiversity are threatening human’s life. Humans are depending on the environment for food, drinks, and also medication. By keeping the environment it means that we are keeping our life and also the future. 1

Saya Yoviani HL, biasanya dipanggil Vian. Lulusan Fakultas Pertanian UNSRAT. Aktif dalam kelompok mahasiswa pencinta alam semasa kuliah dan hobi beraktifitas di alam bebas, menjadi latar belakang saya bekerja di bidang konservasi.

My name is Yoviani HL and people call me Vian for short. I graduated from Faculty of Agriculture of Sam Ratulangi University. Have been active in a nature club during studying and 4doing outdoor activity is my hobby became the reasons of why now I work for conservation.

Sebelum bergabung dengan tim Selamatkan Yaki, saya pernah bekerja sebagai konsultan pada program pemberdayaan masyarakat di pedesaan dalam mengembangkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam secara lestari. Saya juga pernah terlibat dalam beberapa kegiatan konservasi, baik marine maupun teresterial.

Before joining the Selamatkan Yaki team, I worked as a consultant for a community empowerment programme in villages in order to develop the potential of human and nature resources in sustainable way. I also joined some conservation activities in marine and also terrestrial.

Aktifitas di alam bebas lain yang saya senangi yaitu fotografi. Fotografi landscape merupakan favorit saya disamping fotografi wildlife.

Another outdoor activities that I love is photography. And landscape photography is one of my favorite alongside wildlife photography.

Danau Tondano - Lake Tondano

Danau Tondano – Lake Tondano

Senang dan merupakan suatu kebangaan bisa bergabung dan menjadi bagian dari tim Selamatkan Yaki. Program konservasi untuk satwa endemik yang unik dengan ciri yang khas dan lucu. Yaki salah satu satwa yang terancam punah yang harus dijaga kelestariannya.

Happy and also proud of joining and be on board with Selamatkan Yaki team. A conservation programme for this unique animal with cute characteristic. Yaki is one of many animal that listed as critically endangered that have to be saved.

Bayi Yaki (Macaca nigra) 

Bayi Yaki (Macaca nigra)

Bagimanapun juga, menghargai keanekaragaman hayati berarti menghargai kehidupan dan masa depan manusia.

However, protecting the biodiversity means appreciating human’s life and future.

Salam lestari!

Our volunteer Joe: Why I decided to join the team…

Dear viewers, say hi to another awesome volunteer: Joseph Lolong! He has a finger in almost all graphic-related pies here in Selamatkan Yaki. Read on to know more about him!
Pembaca yang baik, sapalah satu lagi volunteer keren kami: Joseph Lolong! Dia terlibat dalam hampir semua urusan yang berkaitan dengan desain grafis di Selamatkan Yaki. Lanjutkan membaca untuk mengenalnya lebih jauh!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki's graphic design volunteer!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki’s graphic design volunteer!

Ahoy people of the page! My name is Joe. I work as an all-around designer and am currently staying in Jakarta.
Ahoy pembaca halaman! Nama saya Joe. Saya merupakan seorang designer full-time dan saat ini sedang tinggal di Jakarta. 

I decided to join Selamatkan Yaki on February 2014. That time, my close friend Carol posted info about Selamatkan Yaki on her Facebook timeline. I checked it out, and I found Oriana’s cute yaki illustration. That was the main trigger. I thought the illustration was so cool, I was challenged to make something like that too. Furthermore I asked Carol about the possibility to donate an artwork, and yes you bet, it lead to a small and enthusiastic discussion about Selamatkan Yaki. Shortly, she introduced me to Thirza and I was welcomed to the club!
Saya memutuskan untuk bergabung dengan Selamatkan Yaki pada Februari 2014. Pada waktu itu, sahabatku Carol membuat post mengenai Selamatkan Yaki pada timeline Facebook-nya. Saya membukanya, dan melihat ilustrasi yaki Oriana yang menggemaskan. Itu adalah pemicu utama. Saya merasa ilustrasi itu sangat keren, saya pun tertantang untuk membuat desain seperti itu. Saya bertanya lebih jauh pada Carol mengenai kemungkinan menyumbangkan karya seni, dan seperti yang sudah kamu duga, kami pun berdiskusi mengenai Selamatkan Yaki dengan bersemangat. Tidak lama kemudian, saya dikenalkan pada Thirza dan saya disambut dalam kelompok!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team! | Hi! Saya yaki! Ilustrasi karya Oriana Chalbaud ini menginspirasi Joe untuk bergabung dengan tim Selamatkan Yaki!

As we spoke, Thirza explained to me about the current crisis of the yaki, how this species is now extremely threatened and facing extinction. Of course I was surprised by this fact. As a “half-blood” (Dad is Manadonese, Mom is Padang-Jakartanese), I always feel disturbed when people ask whether I also consume “exotic Manado menus” i.e. bats, rats, and monkeys. The answer would always be no, especially after I found out that one of the main causes of their near-extinction is this eating habit.

Dalam percakapan kami, Thirza menjelaskan mengenai krisis yang dihadapi yaki, bagaimana spesies ini sangat terancam dan menghadapi kepunahan. Tentu saja saya terkejut dengan fakta ini. Sebagai seorang “darah campuran” (ayah Manado, ibu Padang-Jakarta), saya selalu merasa terganggu ketika ditanyai apakah saya juga mengonsumsi “makanan eksotis Manado” mis. paniki, tikus, dan yaki. Jawaban saya selalu tidak, terutama setelah saya mengetahui bahwa salah satu penyebab utama nyaris punahnya spesies ini adalah kebiasaan makan ini.

I think you all wonder what a designer can do to help yaki conservation. Believe it or not, I wondered the same question too. Do not imagine me dressed up like Indiana Jones, wandering the forest and battling with illegal hunters (or piranhas!). Those stuff are for Thirza and friends, but me, yeah, let’s just say geographically I am incapable of doing that. (Cheers mates!)
Saya rasa kalian semua penasaran apa yang bisa dilakukan seorang designer untuk membantu konservasi yaki. Percaya atau tidak, saya juga menanyakan hal yang sama. Jangan membayangkan saya berpakaian seperti Indiana Jones, berkelana melintasi rimba dan berperang melawan pemburu ilegal (atau piranha!). Hal seperti itu adalah bagian Thirza dkk., tapi saya, yah, katakan saja secara geografis saya tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan itu. (Cheers mates!)

However, I understand people use design to communicate (heavy) messages. Conservation is a message and it must be communicated. This is my place in the organisation: to help spread the conservation message, through the best skill I have: designing.
Akan tetapi, saya paham bahwa desain digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan (yang berat). Konservasi adalah sebuah pesan dan perlu dikomunikasikan. Ini adalah bagian saya dalam organisasi: membantu menyebarkan pesan konservasi, melalui skill terbaik saya: desain.

Surprisingly, I was appointed to help developing the first yaki magazine. I felt very honored, considering my “newbie” status on the club.
Saya kaget ketika dipercayakan untuk membantu mengembangkan majalah yaki pertama. Saya merasa sangat tersanjung, terutama karena saya merupakan “pendatang baru” dalam kelompok ini.

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe!

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe! | Majalah Yaki pertama! Hasil karya master kami: Joe!

I believe lots of people consider “conservation” as a big word that requires big actions too. Well, I should say, even the biggest leap starts with small steps. You would never change anything if you don’t act.
Saya yakin banyak orang menganggap “konservasi” sebagai kata yang besar yang butuh tindakan besar pula. Perlu saya katakan, lompatan terbesar pun dimulai dengan langkah-langkah kecil. Kamu tidak akan mengubah apa-apa jika kamu tidak bertindak.

Yaki is a vital part of the grand treasure of North Sulawesi and Indonesia. Imagine what would you say to your grandchildren when they find yaki pictures in a book of extinct animals and ask you these questions:
“Granddad, what happened to the yaki? They are so very cute and charismatic!”
“Well dearest, they’re extinct!”
“Uh, that’s too bad. Why did they go extinct?”
“Well, we ate them all.”
Yaki adalah bagian penting dari harta karun Sulawesi Utara dan Indonesia. Bayangkan apa yang akan kamu katakan pada cucu-cucumu ketika mereka melihat foto yaki di buku satwa yang sudah punah dan memulai percakapan:
“Opa, apa yang terjadi pada yaki? Mereka sangat lucu dan kharismatik!”
“Mereka sudah punah sayang!”
“Yah, sayang sekali. Mengapa mereka bisa punah?”
“Eh, kami memakan mereka semua.”

We are obliged, especially all Manadonese, pure-bloods or half-bloods, to help conserve the yaki. Our future generations deserve to witness this magnificent species. I know this sounds so dramatic but that’s the truth.
Kita semua wajib, terutama orang-orang Manado, darah-murni maupun darah-campuran, untuk membantu mengkonservasi yaki. Generasi masa depan patut melihat spesies yang gagah ini secara langsung. Saya tahu kata-kata ini agak dramatis tapi ini adalah kenyataan.

Selamatkan Yaki is a very charming and dynamic organisation. It is a nice place with super cool, welcoming talents (we hit national newspaper Kompas and had SLANK as our musical ambassador). All you need to do is sign up. Don’t you worry yet about your part. You will definitely find your place in this organisation. No matter how small you are able to do, or how far you live from the yakis, as long as you have a sincere willingness to help, you will always be welcomed! :)
Selamatkan Yaki adalah organisasi yang sangat luwes dan dinamis. Ini adalah tempat yang nyaman dengan bebrapa talenta yang super keren dan ramah (kami berhasil masuk dalam koran nasional Kompas dan bekerja sama dengan SLANK sebagai Duta kami di dunia musik). Yang perlu kamu lakukan hanya menghubungi mereka. Jangan dulu khawatir dengan apa yang bisa kamu lakukan. Kamu pasti akan menemukan tempatmu di organisasi ini. Tidak peduli berapa kecil pun kemampuanmu, atau berapa jauh jarakmu dari para yaki, selama kamu bersedia dan sungguh-sungguh ingin membantu, kamu pasti akan disambut! :)

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp! But don't worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon!

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp. But don’t worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon! | Cetakan bahasa Indonesia pertama dari Yaki Magz! Semuanya diberikan pada para peserta Yaki Youth Camp. Jangan khawatir, versi online (Inggris dan Indonesia) akan segera tersedia!

Teachers Training Workshop by TCE (PKT)

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) menggelar pelatihan guru selama 3 hari untuk guru-guru dari sekolah yang termasuk dalam program PKT. Dimulai tanggal 28 Agustus di aula SMP Negeri 2 Bitung, rangkaian kegiatan pelatihan yang berlangsung hingga tanggal 30 Agustus dibuka dengan sambutan selamat datang oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project, Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sulut, juga Bapak Sudiyono dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara yang turut menghimbau agar guru-guru lebih giat mengajak para siswa mengunjungi kawasan-kawasan konservasi di Sulawesi Utara. 

Marjudie Menajang from North Sulawesi Education Department welcoming participants and opening the event

Marjudie Menajang from North Sulawesi Provincial Education Department welcoming participants and opening the event. | Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi SuLut menyambut peserta dan membuka kegiatan.

Tangkoko Conservation Education (TCE) organized a 3-day training program for teachers from schools that are part of the TCE program. Starting on August 28th at the hall of SMP N 2 Bitung, the training kicked off with welcome statements by Stephan Lentey from Macaca nigra Project, Mr. Marjudie Menajang from the North Sulawesi Provincial Education Department, as well as Mr. Sudiyono from the North Sulawesi Office of Conservation of Natural Resources who also encouraged teachers to take their students on trips to visit conservation areas in North Sulawesi more often.

Sesudah sambutan-sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi mengenai Kurikulum 2013 oleh Ibu Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung, serta presentasi program oleh Mathilde Chanvin dari Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) dan Yunita Siwi dari Selamatkan Yaki (SY). Topik pelajaran di hari pertama mencakup pengetahuan dasar lingkungan, ekosistem serta keragaman hayati, flora dan fauna di Indonesia dan Sulawesi, lebih khususnya yaki. Tim dari PKT yang beranggotakan Mathilde, Nona dan Deity memberikan penjelasan mengenai tiga topik pelajaran pertama, dilanjutkan oleh Caroline untuk menjelaskan lebih dalam tentang yaki.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

The opening remarks were followed by a presentation about the 2013 Curriculum by Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department, as well as program presentations by Mathilde Chanvin from Tangkoko Conservation Education (TCE) and Yunita Siwi from Selamatkan Yaki (SY). Lesson topics for Day 1 consisted of basic environmental knowledge, the ecosystem and biodiversity, floras and faunas of Indonesia and Sulawesi, more particularly yaki. TCE team consisting of Mathilde, Nona and Deity explained about the first three lessons, followed by a more in-depth explanation about yaki by Caroline.

Selain berbagai presentasi dan penjelasan, dibuka juga sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin menayakan hal-hal seputar lingkungan dan konservasi. Dibantu oleh Martha dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST), berbagai pertanyaan dilontarkan oleh peserta yang antusias mencari tahu lebih banyak mengenai alam dan satwa Sulawesi Utara.

Other than various presentations and explanations, there was also a Q&A session for participants who wanted to ask about the environment and conservation. Assisted by Martha from Tasikoki Wildlife Rescue Center, various questions were fired by participants whom were enthusiastic towards knowing more about North Sulawesi nature and wildlife.

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Hari pertama kegiatan pelatihan guru banyak diisi dengan bahan teori, namun peserta tidak terlihat keberatan; mereka terus memperhatikan materi yang diberikan oleh tim penyelenggara dan aktif dalam menyuarakan pendapat maupun pertanyaan. Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta mengunjungi masing-masing Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan TWA Tangkoko-Batuputih, di mana mereka dapat mempelajari alam dan satwa Sulawesi Utara secara langsung!

Day 1 of the teachers training program was filled with theoretical materials, but the participants didn’t look burdened by it all; they listened and paid attention to what was given by the committee and stayed active in voicing their opinions and questions. Day 2 and 3 of the training, the participants got to visit Tasikoki Wildlife Rescue Center as well as Tangkoko-Batuputih Nature Recreation Park, respectively, where they got to learn more about North Sulawesi nature and wildlife directly!

Ini adalah langkah pertama yang baik dalam memperkenalkan dasar-dasar pendidikan lingkungan hidup pada para guru. Kami berharap para peserta dapat mengembangkan informasi yang mereka terima dalam program pelatihan ini dan menyertakan pendidikan lingkungan hidup dalam rencana mengajar mereka. Selamat kepada PKT yang telah menyelenggarakan event hebat ini; kami tidak sabar untuk berkolaborasi lagi di masa depan!

This was a great first step in getting teachers acquainted with the basics of environmental education. We hope that the participants will be able to build upon the information they gained during this training program and incorporate environmental education into their lesson plans. Congratulations to TCE for organizing such a wonderful event; we look forward to more collaboration in the future!

Environmental Education Weekend with Suara Pulau and Celebio!

Another collaboration! This time, SY was invited to join Suara Pulau and Celebio’s Environmental Education Weekend in Lihunu, a village on the island of Bangka! Bangka is situated approximately 50 km north-east of Manado and is blessed with stunning beaches and awesome dive spots. Read Caroline’s take on the event!
Satu lagi kegiatan kolaborasi! Kali ini, SY diundang untuk bergabung dalam Akhir Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup di Lihunu, sebuah desa di pulau Bangka! Bangka terletak sekitar 50 km di timur laut Manado dan diberkahi pantai-pantai yang indah serta banyak dive spot yang memukau. Baca ulasan Caroline mengenai kegiatan ini!

DSC_0018_

It was a typical Saturday in the tropics – the sky was sunny with scattered clouds, the temperature was warm, and there was a fair amount of wind whipping up stomach-churning waves on our way to Bangka! Prisi, Vian, and I were joined by Jose of Suara Pulau, Mary, one of Suara Pulau’s sponsors, Michelle, a reporter, and Sammy, a photographer, on the boat heading for Lihunu. After a 45-minute boat ride we docked on the jetty and headed straight to the elementary school, where the activities were already underway. Marthin, Vina, and their Celebio team, who arrived in Lihunu on Friday, had gathered the elementary school students inside the classrooms and were now busy with the colouring competition. The students seemed very excited; there was the usual chatter of people borrowing colouring pencils and crayons from their friends, but also lively discussions on ideas for colours, drawing in additional scenery, and general talk. Ulfa, the coordinator of Suara Pulau, welcomed us warmly, and we chatted away while we waited for our turn.
DSC_0024Cuaca hari Sabtu itu tipikal iklim tropis – langit cerah dengan beberapa awan di sana-sini, udaranya hangat, dan angin yang cukup kuat menciptakan ombak tinggi selama perjalanan kami ke Bangka! Saya, Prisi, dan Vian menuju Lihunu dengan kapal bersama Jose dari Suara Pulau, Mary, salah satu sponsor Suara Pulau, Michelle, seorang wartawan, dan Sammy, seorang fotografer. Setelah perjalanan kapal selama 45 menit, kami merapat ke dermaga dan langsung menuju gedung SD, di mana kegiatan sudah dimulai. Marthin, Vina, dan tim dari Celebio, yang telah tiba di Lihunu sejak hari Jumat, telah mengumpulkan para siswa SD di dalam ruang kelas dan kini disibukkan lomba mewarnai. Para siswa tampak sangat senang; selain percakapan pinjam meminjam alat warna, para siswa juga berdiskusi dengan semangat mengenai pilihan warna, menggambar pemandangan tambahan, dan percakapan biasa. Ulfa, koordinator Suara Pulau, menyambut kami dengan hangat, dan kami bercakap-cakap sambil menunggu giliran kami tampil.

IMG_3611In no time at all, the junior high school students returned from their rehearsal for the Independence Day flag-raising ceremony (which was to be held the next morning) and filled the neighbouring classroom. We were ready to rumble! Vian loosened things up with his jokes and small games before I introduced the YYC jingle. It was an instant hit! After several spirited recitals, the students were ready to listen to our presentation. It was somewhat different to our previous school presentations; the small island ecosystem, along with the wildlife inhabiting it, was significantly different to the forest ecosystem that the yaki lives in. Thus, we had to make slight adjustments and accommodate several other wildlife species so it would remain relevant to the students. They were excellent listeners and quickly grasped the points I delivered. The quiz session saw plenty of enthusiastic hands; Prisi, Vian and I had to pay very close attention so we could tell who put up their hand first!
IMG_3610_FinTidak lama kemudian, para siswa SMP kembali dari latihan mereka untuk upacara bendera 17 Agustus (yang akan dilaksanakan esok paginya) dan segera berkumpul di ruang kelas sebelah. Kami siap mulai! Vian mencairkan suasana dengan candaannya dan games singkat sebelum saya mengajarkan Yel-yel YYC pada mereka. Yel-yel itu langsung hit! Setelah menyanyikan yel-yel beberapa kali, para siswa siap mendengarkan presentasi kami. Presentasi ini agak berbeda dengan presentasi yang kami bawakan di sekolah-sekolah dulu; ekosistem pulau kecil serta satwa yang tinggal di dalamnya agak berbeda dengan ekosistem hutan tempat tinggal yaki. Oleh karena itu, presentasi ini kami sesuaikan dan menyertakan beberapa spesies satwa lain yang relevan dengan lingkungan para siswa ini. Mereka pendengar yang sangat baik dan memahami materi kami dengan cepat. Para siswa sangat bersemangat ketika masuk sesi kuis; saya, Prisi dan Vian harus memperhatikan dengan cermat agar bisa melihat siapa yang pertama mengangkat tangan!

IMG_3624After we finished the presentation for the junior high school students, we switched with Celebio. Celebio had an arts and crafts session with the junior high school students, using recycled materials, while we gave a presentation to the elementary school students. They were really excited about the YYC jingle too! So excited, in fact, that we made it into an extra competition; the student with the most enthusiastic moves got a special prize!
Setelah kami menyelesaikan presentasi untuk siswa SMP, kami bertukar dengan Celebio. Celebio mengajarkan para siswa SMP untuk membuat kerajinan tangan dengan bahan daur ulang, sementara kami memberikan presentasi pada para siswa SD. Mereka pun sangat bersemangat ketika belajar yel-yel YYC! Saking bersemangatnya, kami membuat lomba tambahan; siswa dengan gerakan paling bersemangat mendapat hadiah istimewa!

In the evening we put up a screen for movie night. Celebio’s video, “Adung, Sahabatku” about an orangutan in a rehabilitation facility, and our BBC documentary, was an instant hit with the children. They got to see the animals we talked to them about in action, and see what was being done to protect them. Hopefully, they would be motivated to protect their environment too!
Pada malam hari kami memasang layar untuk nonton bareng. Video dari Celebio, “Adung, Sahabatku” tentang seekor orangutan di pusat rehabilitasi, serta film BBC kami, sangat disukai anak-anak. Mereka dapat melihat para satwa yang dibahas tadi, dan juga melihat apa saja usaha yang dilakukan untuk perlindungan mereka. Kami berharap anak-anak ini pun termotivasi untuk melindungi lingkungan mereka!

IMG_3828_FinThe next day was Indonesia’s Independence Day, so the whole village attended the flag-raising ceremony and was busied with competitions that would be held after the ceremony. Our turn came up near midday; Celebio started with a puppet show, which attracted children and adults alike, and the weekend was rounded off with an environment-themed quiz for the students. It was great to see how much of our presentations the students remembered!
IMG_3821_FinHari esoknya adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat desa mengikuti upacara bendera dan lomba-lomba. Kami mendapat giliran tampil sekitar tengah hari; Celebio mengawalinya dengan panggung boneka, yang menarik perhatian baik anak-anak maupun orang tua, dan akhir pekan kami ditutup dengan cerdas cermat lingkungan bagi para siswa. Senang rasanya melihat para siswa mengingat banyak hal dari materi kami!

That very afternoon we headed back to the mainland by boat. The weekend was extremely busy, but it was equally rewarding! We had a great time collaborating with Suara Pulau and Celebio, and we hope we can collaborate again in the future!
Sore itu kami kembali ke daratan utama dengan kapal. Akhir pekan ini sangat sibuk, tapi juga sangat memuaskan. Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan Suara Pulau dan Celebio, dan kami berharap bisa berkolaborasi lagi di masa depan!

► Watch the video – Tonton videonya: http://youtu.be/cqf7cDFH1Ik
► Watch the students sing the Yaki Youth Camp jingle – Tonton para murid menyanyikan yel-yel Yaki Youth Camp: http://youtu.be/cCtIgkzF8FU

Have a look through the photos from the Weekend. Special thanks to Samuel Mamoto for the contribution!

This slideshow requires JavaScript.

Sosialisasi di Perkemahan Kreatif Remaja GMIM

100_0078Masa liburan sekolah sudah berlalu dan sekarang semua aktivitas kembali normal. Apa saja yang dilakukan team Selamatkan Yaki untuk mengisi liburan sekolah? Seperti biasa team SY selalu sibuk dengan kegiatan penyadartahuan masyarakat dan masih tetap di lokasi target Langowan dan Tomohon. Tapi di liburan sekolah ini, Team “lovely ladies” Selamatkan Yaki juga menghadiri Perkemahan Kreatif Remaja GMIM tingkat sinode, yang diselenggarakan oleh Komisi Remaja Sinode GMIM. Kali ini Perkemahan Kreatif Remaja GMIM dilaksanakan di wilayah Manado Timur, tepatnya di daerah Mapanget. Bukan perkemahan remaja sinode namanya jika pesertanya sedikit; kali ini tercatat lebih dari tiga ribu peserta perkemahan yang datang dari seluruh penjuru Minahasa, Manado dan Bitung. Tidak seperti tahun lalu, di mana team SY sudah tercatat sebagai salah satu pembicara, kali ini, berkat kebaikan panitia pelaksana, kami diberikan kesempatan menyampaikan materi selama 2 jam dan kami sangat bersyukur untuk itu.
100_0082
School holiday has just finished and all activities have returned back to normal. What has the Selamatkan Yaki team been doing during the school holidays? As per usual, we have been busy with awareness raising activities in Langowan and Tomohon. This holiday, however, our “lovely ladies” from Selamatkan Yaki also joined the synodial-level GMIM Teens Creative Camp. This year, camp was held in Mapanget, East Manado. Around three thousand participants from all over Minahasa, Manado and Bitung joined the camp. Despite being unscheduled, the Selamatkan Yaki team was given a two-hour slot for the presentation.

100_0136Presentasi kami kali ini kami buka dengan pertanyaan, “Sudah tahu apa itu Selamatkan Yaki?” Banyak sekali peserta yang menjawab, “Sudaaaaah!” Pertanda yang baik, mengingat beberapa bulan terakhir ini kami sudah berkunjung ke lebih dari 40 SMP dan SMA di Tomohon dan Langowan, sehingga sangat wajar jika banyak dari mereka yang sudah tahu tentang SY. Presentasi berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi kali ini beberapa Duta Yaki kami juga merupakan peserta perkemahan remaja ini dan turut membantu menyampaikan materi. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo dan Vanessa Tewuh, serta volunteer junior kami, Zefanya, ikut membantu mengajarkan yel-yel Torang Jaga Yaki pada para peserta dan mencontohkan gerakannya. Yel-yel dinyanyikan dengan semangat dan gembira!
100_0094We opened our presentation with the question, “Do you know about Selamatkan Yaki?” Lots of participants answered, “Yeees!” A good sign, considering the time we spent over the past few months visiting over 40 high schools and junior high schools in Tomohon and Langowan. The presentation went very well, especially since several of our Yaki Ambassadors are also participants in the camp and helped out with the talk. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo and Vanesa Tewu, along with our junior volunteer, Zefanya, helped us teach our yaki jingle to the participants and demonstrate the moves. All the participants sang it out loud and had lots of fun!

100_0112Materi presentasi pada perkemahan kali ini sedikit berbeda dengan tahun yang lalu karena kehadiran para Duta serta pemutaran video animasi dan testimonial dari SLANK yang berhasil menarik perhatian peserta perkemahan. Cuaca yang sangat panas serta tenda induk yang agak sempit tidak mengurangi semangat mereka untuk menyimak presentasi yang dibawakan oleh Caroline serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bagus tentang yaki. Peserta semakin antusias ketika waktu quiz tiba. Seperti biasa, setiap pertanyaan yang diajukan mendapat sambutan yang sangat meriah sehingga kami harus memasang mata lebih tajam untuk melihat siapa yang lebih dulu angkat tangan karena banyak sekali yang ingin menjawab. Setelah pertarungan sengit, jawara untuk tahun ini jatuh kepada Maya Kiling dari GMIM Sion Taraitak, Langowan. Tidak heran jika Langowan bisa menjadi juara.
100_0159The presentation for this year’s Teens Camp was slightly different because we had the Ambassadors present and played the yaki animation and SLANK testimony. Even though it was very hot in the main tent, it didn’t burn out the participants’ enthusiasm to listen to Caroline’s presentation and ask several excellent questions about the yaki. Excitement increased when the quiz started. We needed particularly sharp eyes to spot the first hand in the air. After hard competition, this year’s winner is Maya Kiling from GMIM Sion Taraitak, Langowan. No wonder if Langowan could become the winner.

100_0166Perkemahan kali ini sangat luar biasa! Banyak peserta yang bertanya mengapa SY belum datang ke sekolah mereka dan antusias sekali ketika melihat video tentang Yaki Youth Camp yang mudah-mudahan menginspirasi mereka. Sekali lagi, dengan tiga ribuan remaja GMIM, Selamatkan Yaki menaruh harapan agar semakin kokoh fondasi kesadaran generasi muda tentang lingkungan hidup serta pentingnya peran yaki bagi kehidupan masyarakat. Sampai bertemu di perkemahan tahun depan, teman-teman!
100_0081This year’s camp was amazing! Many of the participants asked to us why we haven’t visited their school and were particularly enthusiastic when we showed them the Yaki Youth Camp video. Once again, Selamatkan Yaki team put out our conservation message to the three thousand GMIM teens in hopes of strengthening the foundation of environmental awareness in our young generation, particularly the importance of the yaki for the community. See you at the next Teens Camp!