Selamatkan Yaki Exhibition Year 2

On October 16th 2015 we officially opened our 2nd exhibition, this year held at the Gedung Kesenian Bitung. Double the content, double the information and double the fun!

Pada tanggal 16 Oktober 2015 kami resmi membuka pameran yang ke dua, tahun ini diadakan di Gedung Kesenian Bitung. Dua kali lebih banyak isinya, dua kali lebih banyak informasi dan dua kali lebih asyik!

The opening event started at 10 am on a Friday, attended by people from various types of community, including our partners, students from nearby schools, government officials, local priests that participated in our “Torang Bacirita: Green Gospel” workshop, members & coordinators of the Forest Conservation Society Forum (named FMKH) villages that are a part of our Tangkoko Rejuvenation Programme, as well as staff members of the Bitung Tourism Department who played a big role in helping make this exhibition happen. Vice Mayor of Bitung Max Lomban officially opened the exhibition, but not before providing the guests with a lengthy explanation as to why yaki conservation is important and sharing ideas on how local communities can help conservation efforts. After having Mr. Lomban formally cut the strings to the entrance of the exhibition, we walked him and wife Khouni Lomban-Rawung through the various exhibition materials while providing brief explanations along the way. Nearing the end of the walk, Mr. Lomban stopped at our 5 meter pledge banner (featuring SLANK!) to sign his pledge to support yaki conservation! Have you ever signed one of our SLANK banners? Visit our exhibition, sign it yourself and don’t forget to leave a message.

Bpk Max Lomban, Wakil Walikota Bitung (Vice Major of Bitung)

Bpk Max Lomban, Wakil Walikota Bitung (Vice Major of Bitung)

Acara pembukaan dimulai pukul 10:00 pada hari Jumat dan dihadiri oleh berbagai komunitas dan lapisan masyarakat, termasuk mitra kami, siswa siswi dari sekolah sekitar, pejabat pemerintah, para pendeta yang juga menjadi peserta workshop “Torang Bacirita: Green Gospel” kami, anggota dan koordinator dari Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) yang merupakan bagian dari Program Pemulihan Tangkoko kami, juga anggota staf Dinas Pariwisata Bitung yang berperan besar dalam merealisasikan pameran ini. Hadir juga Wakil Walikota Bitung bapak Max Lomban yang secara resmi membuka Pameran Selamatkan Yaki, tetapi tidak hanya memberikan para tamu penjelasan panjang tentang mengapa konservasi Yaki penting, juga berbagi ide bagaimana masyarakat lokal dapat membantu upaya konservasi. Setelah bapak Lomban memotong tali yang dibentang di “pintu masuk” pameran, kami menuntun bapak dan istrinya, Khouni Lomban-Rawung, berjalan menelusuri pameran sembari memberikan penjelasan singkat mengenai isi pameran. Mendekati akhir perjalanan kami, bapak Lomban berhenti di spanduk SLANK kami untuk menandatangani janjinya untuk mendukung konservasi Yaki! Apakah kamu sudah pernah menandatangani salah satu spanduk SLANK kami? Kunjungilah pameran kami, berikan tanda tangan kamu dan jangan lupa tinggalkan pesan.

_REY9335 (Medium)Also present at the opening were local youth communities; Tunas Hijau who accompanied us with acoustic performances of some fun tunes and Bitung Kreatif gracing us with their interesting folk-like melodies. Of course, we also had some of our Bitung high school Yaki Ambassadors, who played a big part of the 2-day preparation phase that we had to go through prior to the opening! We were ecstatic to have been able to spend more time with them, giving ourselves a total of 3 days’ worth of bonding time. Their dedication in raising awareness about yaki conservation never ceases to amaze us and we are all so grateful and proud to have them as Ambassadors! Christy, Cindy, Frenly, Joudy, Nadya: you guys are amazing!! We were

joined by 2 of our new Yaki Ambassadors, Judie and Marly, both of whom are finalists of the Putra Putri Bitung 2015 pageant and had been appointed as Yaki Ambassadors by the juries for having shown high interest, concern and support for yaki conservation. Judie and Marly, welcome to the club, it was really lovely to hang out with you guys; you’re super awesome and we’re all very happy and excited to have you guys on board!

Hadir juga pada pembukaan ini masyarakat muda setempat; Tunas Hijau yang menemani kami dengan penampilan akustik dari beberapa lagu yang menyenangkan dan komunitas Bitung Kreatif yang menyemarakkan suasana dengan irama musik folk yang menarik. Tentu saja, ada juga beberapa Duta Yaki SMA Bitung kami, yang sangat berperan besar dalam persiapan 2 hari yang harus kami lalui sebelum acara pembukaan! Kami sangat gembira bisa mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka, di mana kami mendapatkan 3 hari untuk lebih mempererat hubungan dengan mereka. Dedikasi mereka dalam meningkatkan kesadaran tentang konseravasi Yaki tidak pernah berhenti memukau kami dan kami semua sangat berterima kasih serta bangga dapat memiliki mereka sebagai Duta! Christy, Cindy, Frenly, Joudy, Nadya: kalian luar biasa!! Kami juga ditemani oleh 2 Duta Yaki yang baru, Judie dan Marly, yang keduanya adalah finalis Putra Putri Bitung 2015 dan telah ditunjuk sebagai_REY9276 (Medium) Duta Yaki oleh para juri karena telah menunjukkan minat, kepedulian dan dukungan yang tinggi untuk konservasi Yaki. Judie dan Marly, selamat datang di keluarga kami, begitu menyenangkan dapat melewati waktu dengan kalian; kalian sangat keren dan kami semua sangat senang dan gembira kalian bisa bergabung dengan kami!

Our 2nd exhibition is quite a step up from our last exhibition in Pa’Dior Tompaso; this year we have over fifty photos (and counting!), including the evergreen yaki photographs taken by wildlife photographer Andrew Walmsley—also featured at our 1st exhibition at Pa’Dior Tompaso—and new additions such as photos of our programme’s various activities involving local communities, as well as photos from our partners the Macaca Nigra Project, Tangkoko Conservation Education, Tasikoki Wildlife Rescue Center and UNSRAT. Featured also are many more photos of wildlife endemic to Sulawesi by Indonesian wildlife photographers such
as Esli Kakauhe, Stenly Pontolawokang and Iwan Hunowu. All of the photos that we feature are accompanied by descriptive information and fun facts that will help you learn more about not only the diversity and uniqueness of Sulawesi wildlife, but to also help you understand about what we do, why do it and how we do it!

Pameran kami yang ke dua ini lumayan naik tingkat dari pameran sebelumnya yang kami adakan di Pa’Dior Tompaso; tahun ini kami menampilkan lebih dari lima puluh foto (dan akan terus bertambah!), termasuk foto-foto Yaki yang lawas karya fotografer satwa liar Andrew Walmsely—juga ditampilkan di pameran pertama kami di Pa’Dior Tompaso—dan beberapa tambahan foto baru seperti foto dari berbagai kegiatan program kami yang melibatkan masyarakat lokal, serta foto dari mitra kami Macaca Nigra Project, Pendidikan Konservasi Tangkoko, Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan Universitas Sam Ratulangi Manado (UNSRAT). Terdapat juga foto berbagai satwa liar endemic pulau Sulawesi oleh beberapa fotografer satwa liar Indonesia seperti Esli Kakauhe, Stenly Pontolawokang dan Iwan Hunowu. Semua foto yang ditampilkan juga disertai informasi deskriptif dan fakta-fakta yang akan membantu kamu belajar lebih banyak, bukan hanya tentang keragaman dan keunikan satwa liar Sulawesi, tetapi juga membantu kamu memahami tentang apa yang kami lakukan, mengapa dan bagaimana kami melakukannya!

_REY9308 (Medium)We are also featuring photos of new beautiful artworks that were inspired by the yaki, such as a series of yaki painting by Swiss-born artist and conservationist Helen Bersacola, wood carvings by artists Jane Leakey and Sergey Osipov, yaki comic strips by one of our long-time volunteer Jurriaan Gillissen, a 5 meter mural of Sulawesi endemic species by Chrisal Sumendap & friends whom are young talented artists hailing from Manado and different parts of Minahasa. To add to all that, we also thought that it would be fun to include some interactive games that you can play while visiting the Selamatkan Yaki Exhibition. This year, our exhibition is equipped with a 3 x 3 meter yaki live game! It’s our first ever yaki game, inspired by the legendary game of Snakes & Ladders, printed on a gigantic banner material so YOU can BE the one walking through the “forest” and look for fruits and escape hunters! For the exhibition opening we invited students from several nearby schools and we were glad to see that they had fun playing a round or two, while also learning a thing or…fifty. But, it was all fun and games…until someone lands in a cage halfway through the game. And has to go back to Start. And lose all points. Sigh.

Kami juga menampilkan foto-foto karya seni baru yang indah, yang terinspirasi oleh Yaki, seperti serangkaian lukisan Yaki karya seniman & pekerja konservasi kelahiran Swiss Helen Bersacola, ukiran kayu oleh seniman Jane Leakey dan Sergey Osipov, komik strip Yaki karya salah satu relawan kami yang paling lama Jurriaan Gillissen, mural sepanjang 5 meter bertema satwa endemik Sulawesi karya Chrisal Sumendap dkk. yang adalah pemuda berbakat asal Manado dan berbagai belahan tanah Minahasa lainnya. Selain itu, kami juga berpikir bahwa akan sangat menyenangkan bila pameran ini disertai juga oleh beberapa permainan interaktif yang dapat kamu mainkan saat mengunjungi Pameran Selamatkan Yaki. Tahun ini, pameran kami dilengkapi dengan permainan live bertema Yaki seukuran 3×3 meter! Ini merupakan permainan Yaki pertama kami, terinspirasi oleh permainan Ular-Tangga yang legendaris, yang kami cetak di bahan spanduk berukuran besar agar KAMU bisa MENJADI pemain yang berjalan menelusuri “hutan”, mencari buah-buahan dan menghindari pemburu! Untuk acara pembukaan pameran, kami mengundang siswa-siswi dari beberapa sekolah terdekat dan betapa senangnya kami ketika melihat para murid sekolah dengan asyiknya bermain satu atau dua ronde, sembari belajar satu atau…lima puluh hal tentang Yaki. Tapi, permainan adalah hal yang menyenangkan…sampai seseorang mendarat di sebuah kurungan di tengah-tengah permainan. Dan harus kembali lagi ke Start. Dan kehilangan semua poin. Yah.

Also, keep your eyes out for the sketches of 7 members of a yaki family, created by the insanely talented Helen Bersacola. You can play a little game of Who’s Who with DSC_4842lowthese sketches; we’ve provided 7 “name tags” for each yaki portrait and you can have a go at trying to figure out who is the grandma, the big brother or cheeky cousin in this yaki family!

Selain itu, lihatlah sketsa 7 anggota keluarga Yaki hasil karya Helen Bersacola yang sangat bertalenta. Kamu dapat bermain Tebak Nama dengan sketsa-sketsa ini; kami telah menyediakan 7 label nama untuk setiap gambar Yaki dan kamu dapat mencoba untuk menebak yang mana si nenek, kakak atau sepupu nakal dalam keluarga Yaki ini!

The Selamatkan Yaki Exhibition at the Gedung Kesenian Bitung is open for public for the next year and throughout the year we will be updating the exhibition materials, so be sure to keep an eye and ear out for new stuff from us! With the help of the local Education Department will be making a visiting schedule for local schools, so that each school can get a turn in walking through the exhibition comfortably. With the help of our partners and Yaki Ambassadors we also hope to coordinate various activities that the students can indulge in together while visiting the exhibition. So, when you visit, don’t be surprised when running into a group of students from local schools!

_REY9248 (Medium)Pameran Selamatkan Yaki di Gedung Kesenian Bitung terbuka untuk umum sepanjang satu tahun ke depan dan dalam satu tahun ini kami akan terus memperbarui isi pameran, jadi pastikan untuk terus cek informasi baru dari kami! Dengan bantuan para mitra dan Duta Yaki kami, kami juga berharap dapat mengkoordinasikan berbagai kegiatan yang dapat dinikmati oleh para siswa sekolah saat mengunjungi pameran. Jadi, ketika kamu berkunjung, jangan heran kalau bertemu dengan sekelompok siswa dari sekolah-sekolah di Bitung!

Anyone is welcome to visit and enjoy the beautiful photos and artworks, take photos with our 5-meter mural and any other available photo props, learn even more through reading our information banners and on the way out you can also sign our pledge banner! Also, don’t be shy to play the interactive games that we have! Feel free to contact any of the Selamatkan Yaki team for information and/or assistance regarding the exhibition and we hope you enjoy your visit!

Siapapun dipersilahkan untuk berkunjung dan menikmati foto-foto dan karya seni yang indah, mengambil foto dengan mural 5 meter kami atau dengan aksesoris foto yang tersedia lainnya, belajar lebih banyak dengan membaca berbagai spanduk informasi kami dan di akhir jalur pameran kamu juga bisa menandatangani spanduk dukungan untuk kami! Jangan lupa, jangan malu untuk memainkan permainan interaktif yang sudah kami sediakan! Jangan ragu untuk menghubungi salah satu anggota tim Selamatkan Yaki untuk informasi dan/atau bantuan mengenai Pameran Selamatkan Yaki dan kami harap kamu menikmati kunjungamu!

You can reach us through social media: Facebook, Twitter, Instagram; email: info@selamatkanyaki.com; phone: +62 431 869281

Kamu dapat menghubungi kami melalui media social: Facebook, Twitter, Instagram; email: info@selamatkanyaki.com; telepon: +62 431 869281

_REY9240 (Medium)The Selamatkan Yaki team would like to thank everyone who helped make this exhibition possible: our sponsors Cerza, Dublin Zoo and EAZA IUCN SSC Southeast Asia Conservation Fund, partners and collaborators; Bapak Max Lomban and Bitung governmental institutions that supported us and made the time to participate at the opening; Ibu Rita Tumewu + Ibu Erfinna Lalamentik and all staff members of the Bitung Tourism Department for the massive support, facilitating our team to the best of their abilities and helping us with final preparations; all photo and artwork contributors for the continuing support and especially for sharing your beautiful and amazing work with all of us; Tunas Hijau and Bitung Kreatif community for participating and gracing us with your talents, creating a fun and enjoyable atmosphere throughout the opening; every single person who attended and made the opening an eventful one. Last but most definitely never the least, thank you to Ibu Khouni Lomban-Rawung for all the support and our Yaki Ambassadors who enthusiastically helped with all preparations despite having other commitments, for being present and helping some more at the opening, but mostly thank you for your dedication and highly enjoyable company throughout the event and the days leading up to that!

Together we will save the yaki!

DSC_4373 (Medium)Seluruh tim Selamatkan Yaki ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua individu yang telah membantu kami merealisasikan pameran ini: sponsor kami Cerza, Dublin Zoo, EAZA IUCN SSC Conservation Fund bagian Asia Tenggara; para mitra & rekan; Bapak Max Lombah dan lembaga pemerintah Bitung yang telah mendukung kegiatan ini dan menyediakan waktu untuk berpartisipasi di acara pembukaan; Ibu Rita Tumewu + Ibu Erfinna Lalamentik dan semua aggota staf Dinas Pariwisata Bitung atas dukungan yang begitu besar, yang telah memfasilitasi tim kami dengan sebaik mungkin dan membantu kami dengan persiapan akhir; semua kontributor foto dan karya seni atas dukungan dan terlebih lagi atas kesediaannya dalam membagikan karya-karya yang indah dan menakjubkan dengan kita semua; Tunas Hijau dan komunitas Bitung Kreatif yang ikut berpartisipasi, meramaikan acara dengan bakat kalian dan menciptakan suasana yang sangat menyenangkan saat acara pembukaan. Yang terakhir tapi tidak kalah pentingnya, terima kasih kepada Ibu Khouni Lomban-Rawung untuk segala dukungannya dan kepada Duta Yaki kami yang begitu antusias dalam membantu segala persiapan walaupun sedang terikat komitmen lainnya, terima kasih sudah hadir dan membantu lebih lagi pada saat pembukaan, tetapi lebih khususnya, terima kasih atas dedikasi kalian semua dan pertemanan yang sangat menyenangkan sepanjang kegiatan berlangsung dan hari-hari menjelang acara!

Torang jaga Yaki karna torang peduli!

This slideshow requires JavaScript.

Torang Bacirita (“We discuss”) Green Gospel 2015

DSC_2151 (Medium)

The opening of the Torang Bacirita Green Gospel workshop which links conservation to religion.

Mengambil bagian dalam suatu kelompok mayoritas adalah suatu tanggung jawab. Contohnya, sebagai salah satu dari masyarakat mayoritas penganut agama Kristen yang bertanggung jawab terhadap Tuhan serta alam ciptaan-Nya. Menyadari akan tanggung jawab itu maka lewat Torang Bacirita Green Gospel 2015 Program Selamatkan Yaki kembali mengadakan Pertemuan dengan Pendeta pendeta yang ada di Bitung dan Airmadidi lewat Workshop Konservasi dalam Kekristenan tanggal 8 September 2015 di gereja  GMIM Sentrum Bitung.

Being part of a community is a responsibility. For example, becoming part of the Christian community carries the responsibility for protecting God His creation, under which nature. After identifying this responsibility together with priests from Tomohon and Langowan in 2014, Selamatkan Yaki gain held a second conservation workshop on Christianity named “Torang Bacirita Green Gospel”, this time with the Priests in Bitung and Airmadidi on September 8, 2015 in GMIM Sentrum church Bitung.

DSC_2179 (Medium)

Opening prayer by Pdt. Aser Esau S.Th.

Pendeta dan hamba Tuhan adalah tokoh masyarakat yang setiap hari berhubungan langsung dengan masyarakat, khususnya lewat Ibadah ibadah yang pasti setiap hari dilakukan. Salah satu cara pendekatan yang diambil oleh Selamatkan Yaki untuk meningkatan kesadaran masyarakat Bitung adalah khusunya masyarakat Kristiani adalah dengan workshop pendeta dan hamba Tuhan ini. Harapannya adalah dengan peran pendeta dan hamba Tuhan ini lewat pelajaran firman bisa menggugah kembali rasa tanggung jawab kristiani akan alam pemberian Tuhan khususnya terhadap Yaki, monyet yang hanya hidup di sulawesi Utara dan tidak terdapat di tempat lain di dunia atau Endemik. Dalam 40 tahun terakhir populasi Yaki sudah sangat menurun sebesar 80% disebabkan karena pengrusakan habitat dan perburuan sehingga membawa yaki dalam status terancam punah. Adapun status Yaki dalam hukum Indonesia adalah dilindungi oleh Undang Undang no 5 tahun 1990.

DSC_2190 (Medium)

Opening by Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi

Priests and ministers are public figures, who deal directly with the public every day especially through daily religious worship. As North Sulawesi is pre-dominantly Christian, one of the approaches adopted by Selamatkan Yaki to increase awareness of people in Bitung and Airmadidi on conservation, is this workshop for priests and ministers. The aim is to enhance the role of the priests and ministers in bringing across the sense of responsibility of the Christian communities for the natural gifts from God during their daily worships. Though focusing on conservation more generally, during this workshop one species was highlighted: the yaki (Macaca nigra), the monkeys that live only in North Sulawesi and are found nowhere else in the world, making them an endemic species. In the last 40 years, the population of yaki decreased by more than 80% due to habitat destruction and illegal hunting, resulting in the yaki being listed as Critically Endangered on the IUCN Red list of Threatened Species. The yaki is furthermore protected under Indonesian law (UU No. 5 tahun 1990).

DSC_2212 (Medium)

Introduction of the Selamatkan Yaki programme by Ance Tatinggulu

Sekilas mengenai acara Torang Bacirita green gospel 2015, seperti yang sudah pernah di lakukan sebelumnya di Tompaso Minahasa, kali ini di Bitung dihadiri oleh beberapa denominasi gereja yang ada di Bitung dan Pulau Lembeh seperti dari Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), dari Bimas Kristen Departemen Agama,  GMIM serta kehadiran Bapak Wakil walikota Max Lomban SE. MSi yang membuka acara ini dengan resmi serta menunjukkan support yang sangat luar biasa terhadap program Selamatkan Yaki dengan mengarahkan dan memotivasi para peserta sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk menyuarakan perlindungan terhadap CiptaanNya.

DSC_2325 (Medium)

Talk on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Yelty Ochotan S.Th, M.Th

The conservation workshop Torang Bacirita Green Gospel 2015 was attended by several church denominations from Bitung and Lembeh Island; Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), Bimas of Christian Religious Affairs Guidance and GMIM. Also the Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi, was present and opened this event officially. Bapak Lomban showed big support to our Selamatkan Yaki programme by directing and motivating the participants from his own religious point of view.

DSC_2246 (Medium)

Talk by Stephan Lentey, Macaca Nigra Project, about the important role that yaki (Macaca nigra) play in human lives.

Peserta yang hadir rata rata baru pertama kali menghadiri acara seperti ini merasa tertarik dan antusias  dengan  materi tentang Yaki yang dibawakan oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project dan Etika Lingkungan dan Hak binatang oleh Ibu Jelty Ochotan STh, Mth yang kembali mengangkat tentang peran gereja dalam menghadapi perkembangan jaman dan teknologi yang membawa ke arah pengrusakan lingkungan dan tanggung jawab Gereja menghadapi tantangan ini.

Most participants attended an event like this for the first time and were interested and enthusiastic about the material about the yaki, presented by Stephan Lentey from Macaca Nigra Project and on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Jelty Ochotan sth, Mth, which again raised the topic about the role of the church in facing present day’s environmental destruction, and the responsibility of the Church to face this challenge.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Sesi diskusi dilakukan sebelum makan siang dan berjalan dengan sangat baik , peserta di libatkan dalam menyumbangkan ide dalam mengkritisi isu isu lingkungan dan peran gereja dalam mengatasi isu isu tersebut. Sumbangan pemikiran dikumpulkan dan dibahas bersama dalam presentasi kelompok. Semangat peserta tetap tinggi sampai sesi diskusi berakhir. Atas bantuan motivasi juga oleh salah satu Duta Yaki Ibu Khouny Lomban Rawung, menghasilkan hasil yang baik pula untuk peserta yang baru pertama kali mengikuti workshop seperti ini.

DSC_2556 (Medium)

Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who is a big supporter of the Yaki Pride Campaign in Bitung

The discussion sessions were before lunch and ran very well; all participants were involved in contributing ideas about environmental issues, and the church’s role in addressing those issues. All ideas were collected and discussed together in a group presentation. The spirit of the participants remained high until the end of the workshop. With the help of Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who motivated the participant as well, the workshop brought good results, especially since the majority of participants participated for the first time in a workshop like this.

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Sebelum di tutup dengan kesimpulan peserta di perkenalkan dengan sylabus bahan ajaran untuk sekolah minggu yang disusun oleh Caroline Tasirin. Sambutan baik dari peserta terhadap silabus ini bisa terlihat dari antusias peserta membaca dan memberikan spontanitas feedback yang sangat baik dalam menyempurnakan sylabus ini. Perhatian peserta akan acara ini sangat baik dan kesan yang baik di berikan oleh salah satu peserta mewakili seluruh peserta yang hadir: Pendeta Asser Esau STh yang menyadari akan peran mereka sebagai Pendeta dan memotivasi peserta lainnya dalam mengadakan perkunjungan ibadah untuk menyebarkan luaskan pesan pelestarian alam terlebih khusus lagi pelestarian satwa Yaki dalam ibadah ibadah di mana saja dan kapan saja mereka pergi dan berada.

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus Gbl. Fendra Hukom S.Th

Before closing with the conclusion, the participants were introduced with a teaching material syllabus for Sunday School, compiled by Caroline Tasirin, education assistant at Selamatkan Yaki. We received positive responses from participants on this syllabus, expressed by their enthusiastic feedback provided when reading the syllabus. This feedback will help us finalise this syllabus. We would like to thank the participants for giving their full attention during this workshop and sharing their impressions during the event, in particular Pastor Asser Esau sth who, already aware of his responsibilities as a priest towards God’s creation, has been motivating other participants in conducting visitation worship to disseminate the message of nature conservation widely, highlighting the yaki, in worships anywhere and anytime.

Lewat Ayat alkitab yang sudah tersusun mereka kembali diingatkan sebagai pekerja di Ladang Tuhan untuk bekerja memperbaiki hubungan dengan Tuhan lewat memperbaiki hubungan dengan alam. Hubungan solider sesama ciptaan berarti alam harus diberlakukan dengan belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai bagian dari hidup. Sikap ini merupakan sikap  respek terhadap alam sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia sekaligus sebagai cermin kemuliaan Allah.

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Through the Bible verses that have been discussed during this workshop, the participants were reminded of their plight to improve the relationship with God, through improving relations with nature. Aspects discussed were: 1) relations between fellow creatures should be developed with compassion, 2) humans should be aware of the suffering of nature, as it’s an integral part of human life, and 3) a respectful attitude should be developed towards nature, God’s creation, as nature fulfills human needs as well as a mirrors the glory of God.

Selamat menunaikan tugas pelayanan kepada seluruh peserta Torang bacirita Green gospel 2015, semoga pesan pelestarian Makhluk ciptaan Tuhan akan terus berlanjut seantero Bitung bahkan di mana saja.

Yunita leading the Q&A session

Yunita leading the Q&A session

It was an honour to work together with all participants of Torang Bacirita Green Gospel 2015. With your help, we hope the message of preserving the creatures of God’s creation will continue to spread throughout Bitung. 

A big thank you to our sponsors the EAZA IUCN SSC Southeast Asia Conservation Fund, Dublin Zoo and CERZA Conservation.

Yunita Siwi, Education Officer at Selamatkan Yaki and coordinator of Torang Bacirita Green Gospel 2015

This slideshow requires JavaScript.

SLANK Save the Yaki

Quality Hotel 16 Agustus 2015

Halo sahabat Yaki! Apa kabar kalian saat ini? Kami ingin membagi cerita yang menarik dari duta Yaki kita grup music yang saat ini tetap eksis dan sudah melegenda di blantika musik tanah air. Siapa lagi kalau bukan SLANK. Nah! Mendengar nama SLANK pasti ingatan kita langsung tertuju kepada warna music rock n roll yang mereka usung sejak awal mereka berdiri pada Desember 1983. Dinamakan SLANK karena mereka kelihatan “selengean”. Kata “selengean” biasa digunakan untuk anak-anak muda jaman sekarang yang gayanya semau gue banget. Slank yang kali ini beranggotakan : Vocal – Akhadi Wira Satriaji (Kaka), Drums – Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Guitars – Abdee Negara (Abdee), Guitars – Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho), dan Basses – Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka), di balik gaya yang selengean itu ternyata mereka banyak menciptakan lagu yang bertemakan lingkungan seperti : “Nggak perawan lagi, Tepi campuhan, Bocah, Lembah Baliem, dan Alami.” Semua lagu itu diciptakan sebagai wujud nyata kecintaan mereka terhadap tanah air Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, flora dan fauna serta keanekaragaman hayati yang melimpah. Segala keindahan ini untuk kita nikmati dan lestarikan sampai generasi di masa depan.

IMG_7721

Harry showing and explaining the Yaki Magz

Hello friends of the yaki! How are you guys? We would love to share interesting story from our Yaki Ambassador, a legendary music group in Indonesia and still exist and up to date. Who else but SLANK. Well! Hearing the name of SLANK, our surely memories immediately drawn to the color of rock n roll music, which they proclaimed since its establishment in December 1983. It is called SLANK from ‘slangean’ (Javanese word) refers to youth nowadays which means ‘whatever I want’. Slank consists Akhadi Wira Satriaji (Kaka) as Vocal, Drums – Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Guitars – Abdee Negara (Abdee), Guitars – Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho), dan Basses – Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka), and behind the slangean style they have actually created songs with environmental themed such as “Nggak perawan lagi, Tepi campuhan, Bocah, Lembah Baliem, dan Alami.” All songs were written as tangible manifestation of their love of the country Indonesia which is rich in natural resources, wildlife, and all biodiversity. All this beauty is for us to enjoy and take care until the next generation.

Setelah sekian lama tidak jumpa akhirnya pada tanggal 16 Agustus 2015 bertempat di Quality Hotel Manado. Tim Selamatkan Yaki mendapat kesempatan bertemu lagi dengan SLANK yang saat itu hadir tanpa Abdee – sang gitaris Sayang sekali Abdee tidak dapat hadir karena sakit. Semoga cepat sembuh ya Abdee! Pengen tahu apa saja keseruan yang  dalam pertemuan kali ini? Cekidot!

After a long time ago since we met, finally we catch up with them on August 16th in Quality Hotel manado. Our team had chance to catch up with Slank that by that day presented without Abdee the guitarist that was ill. Get well soon Abdee! Do you want to know the fun thing happened on that day? Check it out!

Kami menyiapkan kaos istimewa kali ini. SLANK SAVE THE YAKI! Dimulai dengan foto-foto bersama keempat personil SLANK dengan menggunakan kaos yang bertuliskan ‘Slank Save the Yaki’ serta template untuk photo boot kami. Seperti biasa gaya mereka yang selengean mengundang tawa dari semua tim Selamatkan Yaki, tidak terkecuali beberapa wartawan yang saat itu sedang melakukan pengambilan gambar. Jangan bilang SLANK kalau tidak Funky… We had a lot of fun!

Special tshirt "Slank Save the Yaki".

Special tshirt “Slank Save the Yaki”.

We had prepared special t-shirt that time. SLANK SAVE THE YAKI! Started by taking photos them wearing the t-shirt, and few yaki photo-booth templates. As usual, their slangean poses made laugh to the entire team and some journalists who presented at that time. It’s no SLANK if it’s not funky… We had a lot of fun!

Sobat Yaki masih ingat kan, dalam beberapa kesempatan setiap kali tim Selamatkan yaki melakukan kegiatan sosialisasi dalam bentuk Info Stand menyertakan banner ‘Slank Duta Yaki’ dengan foto semua personil Slank. Banner ini digunakan untuk menampung dukungan dari semua orang dalam bentuk tanda tangan. “Wah banyak benar dukungannya ya…” ujar Kaka yang pada waktu itu sempat melihat dengan seksama banner yang sudah penuh tanda tangan. Terima kasih untuk kalian yang sudah sempat menandatangani banner-banner itu yah..

Did you remember a banner of “SLANK Duta Yaki” (Slank Yaki Ambassador) that is always hanged whenever we have informative stand? This banner consists signatures from visitors as a support of yaki conservation. “Wow..there are lot of supports here..”, said Kaka when saw the banners full with signatures. And many thanks for all of you who has contributed on those banners.

Tidak lupa juga dalam pertemuan yang singkat ini, Harry berbincang-bincang dengan SLANK dan mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan konservasi hutan dan satwa liar khususnya yaki. Yuk simak wawancaranya!

In this short meeting, Harry chatted with SLANK and ask some questions related to forest conservation and wildlife in particular yaki. Let’s read to the interview!

Harry mewawancarai Slank. Harry is interviewing Slank.

Harry mewawancarai Slank. Harry is interviewing Slank.

Harry : Mengapa perlu ada konservasi di Indonesia?
Slank : Karena Indonesia dan Brazil boleh dikatakan the last paru-paru dunia yang hutannya harus dijaga dan dilestarikan.

Harry : Why conservation is needed in Indonesia?
Slank : Because Indonesia and Brazil can be said as the last world lungs that we need to protect.

Harry : Mengapa Slank mau menjadi Duta Yaki ?
Slank : “Makaka…kan ada nama saya Kaka didalamnya,” seru Kaka. Secara pribadi saya (Kaka) sangat tergugah melihat teman-teman dari Selamatkan Yaki yang berjuang untuk menyelamatkan yaki dari ancaman kepunahan, lagi pula yaki ini kan Endemik cuman ada di Sulawesi Utara, cuma ada di Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya.”

Harry : Why does Slank want to be Yaki Ambassador?
Slanks : Macaca…there is my name inside it, said Kaka. I personally feel motivated by seeing the work of Selamatkan Yaki to save this species, and this yaki is endemic to North Sulawesi, only in Indonesia. If not us, who else are going to protect them!

Harry : Bagaimana musik dapat berkontribusi dalam konservasi dan apa pesan-pesan Slank untuk para Slankers mania terkait konservasi?
Slank: “Kami tidak akan pernah menyerah untuk menyuarakan pesan-pesan konservasi karena buat kami music does a lot buat konservasi , music lebih efektif karena denga nyanyian kita dapat menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat ketimbang talk show dimana kadang orang hanya datang minta foto, makanya kami Slank selalu berpikir bagaimana music Rock n Roll show bisa menyampaikan pesan visi misi yang dapat di bawa pulang orang banyak seperti, Save Yaki, Save mangrove, Save coral, Save pulau terluar,” ungkap Kaka.

IMG_7795Harry : How can music contribute in conservation and what is your message for Slankers (the fan club)?
Slank : We are not going to give up to shout the conservation messages out, as for us music does a lot, it is more effective because through singing we can deliver positive messages to many people compare than doing talk show where fans come to only take pictures, that is why Slank always think of how Rock n Roll musci can deliver vision and mission, for example together with Selamatkan Yaki, save mangroves, save corals, save the outer islands,” said Kaka.

“Makanya jangan makan yaki! Yaki jangan di tumis! Makan kelinci saja gue nggak tega apalagi yaki yang bentuknya seperti kita, ia nggak?” seru Bimbim.
“Jangan ada Yaki di pasar ekstrim!” tegas Ivanka.
“Untuk Para Slankers dimana saja, Slankers bisa menjadi agen pelindung yaki yang memberitahu, mengajak teman, Kerabat atau siapa saja untuk peduli terhadap konservasi hutan dan satwa liar Yaki.”

“So, don’t eat yaki! Don’t saute yaki! I don’t even able to eat rabbit, especially yaki that looks so similar like us, right? said Bimbin.
“Don’t sell yaki in extreme market!” clear Ivanka.
“To all Slankers anywhere, Slankers can be the agent to save the yaki, through spreading message, invite people, family or friends to care about forest conservation and wildlife espceially yaki.”

Well, setelah mendengar jawaban-jawaban dari Slank ternyata mereka sangat peduli terhadap alam di Indonesia, luar biasa! Sahabat yaki bagaimana dengan kita? “Kalau Slank bisa masa torang nyanda?” demikian bunyi kalimat dalam Slank banner yang sampai hari ini mendapat respon yang sangat positif dari semua kalangan.

IMG_7864Well after heard the answers from Slank, they do care about the nature of Indonesia, cool! Friends of yaki, how about us? “If SLANK do why can’t us?” that’s what written on our Slank banner that have been getting positive responds from many people.

Setelah sesi wawancara, akhirnya pertemuan kali ini ditutup dengan foto bersama seluruh Tim Selamatkan Yaki. Kami juga merekap video singkat dengan mengucapkan slogan kampanye kebanggan Yaki; “Torang Jaga Yaki karna Torang Peduli! Peace!” Selamat berkarya SLANK! Terimakasih buat dukungannya! Semoga pertemuan kali ini akan memberi motivasi positif bagi Tim Selamatkan Yaki untuk lebih giat lagi dalam perlindungan dan pelestarian satwa Yaki dan tentunya bagi sahabat Yaki dan semua masyarakat untuk lebih peduli terhadap konservasi hutan di Sulawesi Utara dan Indonesia. Save Yaki! Cheers! Ance-SY

After the interview session, the meeting ended by group photos of all SY team and Slank. We had also recorded short message with our yaki pride campaign slogan; “We protect the yaki because we care!” Keep the good work SLANK! Thank you for the support! Hopefully this meeting will provide positive motivation for SY team to be more active in the protection and preservation of wildlife and of course for friends Yaki and for all the people to be more concerned about the forests and yaki conservation in North Sulawesi and Indonesia. Save Yaki! Cheers! Ance-SY.

SAVE AND LOVE ANIMAL EXPO 2015

SAVE AND LOVE ANIMAL EXPO 2015
Lapangan Parkir Mer99 Megamas Manado
4-6 September 2015.

Kicauan burung nan merdu hari itu terdengar seperti menyambut setiap peserta kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Pencinta Hewan Anjing di Manado (Manado Dog Lovers). Dalam rangka Merayakan HUTnya yang ke-1 komunitas MDL menggagas event yang bertajuk ‘SAVE AND LOVE ANIMAL EXPO 2015’. Event ini digelar di parkiran Mer99 Megamas Manado dan berlangsung selama 3 hari, Jumat-Minggu. Acara ini sendiri bertujuan mengkampanyekan bagaimana memperlakukan hewan/satwa dengan baik dan menolak segala bentuk kekerasan serta kebiasaan mengkonsumsi satwa peliharaan maupun satwa liar yang selama ini masih terjadi di masyarakat Sulawesi Utara.

DSC_1951Lovely voice of the birds tweeting seemed like welcoming every participants for the event held by Manado Dog Lovers Community. In celebrating their first anniversary, this community has organized an event named “Save and Love Animal EXPO 2015” in Megamas Manado for three days 4 to 6 September 2015. The aim of this event is to campaign how to treat animal right and no to animal abuse as also the trend of consuming pets or wildlife that is still happening in North Sulawesi.

Datang dengan membawa info stand, banner dan material edukasi pendukung lainnya,Tim Selamatkan Yaki berbagi Stand dengan PPS Tasikoki yang sama-sama di undang untuk memeriahkan event tersebut. Space stand yang diberikan panitia cukup lumayan, kami dapat menempatkan banyak banner, baliho, dan foto-foto yang berisi pesan tentang lingkungan dan satwa liar sehingga pengunjung dapat menemukan informasi yang bermanfaat tentang hutan dan satwa liar lebih khusus Yaki (Macaca Nigra). Sejak hari pertama dimulainya event Save and Love Animal Expo 2015, Info stand Selamatkan Yaki dan Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki banyak dikunjungi oleh warga masyarakat dari segala usia. Anak-anak, orang dewasa, tua-muda datang dengan antusias. Untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka kerapkali mereka bertanya/ berdialog secara terbuka dengan Tim yang saat itu berada disana untuk membantu mengedukasi masyarakat untuk lebih memahami bahwa Yaki (Macaca Nigra) adalah hewan Endemik yang sedang terancam punah dan sudah diLindungi oleh pemerintah Indonesia maupun dunia Internasional. Ada juga masyarakat yang secara antusias memberikan informasi mengenai keberadaan satwa liar Yaki didaerah/ didesa mereka tinggal.

DSC_1960Came with our info stand, banners, education materials, etc we collaborate with Tasikoki Wildlife Rescue Center. The tent provided was lovely and was enough to put all of our materials; banners, pictures with conservation environmental messages especially Yaki (Macaca nigra). Since the first day of the event, our tent has been visited by many people from different range of age. Children, adults, youth, all came with curiosity. They asked most of the time to the team which was a good chance to share information and education as well as help them to understand that Yaki is endemic, critically endanger, and protected by the law. There were also some people shared information about Yaki sighting in their areas.

Hari Pertama acara ini dibuka secara oleh Ketua Manado Dog lovers dengan menyerahkan1 ekor Satwa liar Yaki (Macaca Nigra) yang diserahkan oleh warga secara sukarela untuk direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki. Billy Lolowang Petugas PPS Tasikoki yang hadir langsung menerima Satwa Yaki ini dan kemudian langsung membawanya ke PPS Tasikoki untuk kemudian direhabilitasi.

At the opening of this event, the chief of Manado Dog Lover community handed out a Yaki, given up by a local people straight to Tasikoki Wildlife Rescue Center  represented by Billy Lolowang. This Yaki has been sent to Tasikoki for further rehabilitation.

DSC_1899Dalam Talk show di hari kedua event yang berlangsung malam hari, Tim Selamatkan Yaki dan PPS Tasikoki berkesempatan mengkampanyekan pentingnya kepedulian dan pemahaman masyarakat terhadap perlindungan dan pelestarian Satwa liar Yaki di Sulawesi Utara. Selamatkan Yaki sendiri tidak henti-hentinya menyampaikan pesan konservasi hutan dan satwa liar khususnya Yaki kepada seluruh lapisan masyarakat karena ada manfaat yang besar untuk generasi hari ini dan masa depan manusia di bumi Sulawesi Utara. Satu slogan yang selalu di gaungkan oleh program Selamatkan Yaki “Torang jaga Yaki karena torang peduli” menjadi sebuah pesan yang dapat diterima oleh masyarakat di Sulawesi utara pada umumnya.

At the talk show on the second day at night, our team together with Tasikoki had a chance to do campaign talk about the awareness raising and the understanding of the society to the protection of the Yaki in North Sulawesi. We have been not stopping spreading the message about forest conservation and wildlife especially the Yaki to all level of society as it is really important not for the current society but for our next generation here in North Sulawesi. “We protect the Yakibecause we care,” is one powerful message that has been spreading through our activities.

DSC_1990Selain berkampanye melalui info di banner dan baliho, kami juga mengadakan pemutaran film tentang Yaki dan keanekaragaman hayati tidak ketinggalan kehadiran replika Yaki ‘Cheri” turut meramaikan info stand dari program Selamatkan Yaki. Nah! Di event kali ini para pengunjung juga diberikan kesempatan berdonasi lewat membeli kaos-kaos ber gambar Yaki.

Not only spreading yaki conservation messages through banners, we had play the short BBC movie about Yaki and biodiversity, and ‘cheri’ our Yaki replica from recycle material were there being the attraction. This time, the visitor had also chance to donate to the programme by buying Yaki t-shirts.

Acara ini lalu ditutup dengan orasi singkat dari setiap komunitas yang hadir tidak ketinggalan Caroline ‘Dea’Tasirin dari Selamatkan Yaki dan Billy G. Lolowang dari PPS Tasikoki menyampaikan pesan-pesan ‘Save Yaki’. Namun Sebelumnya teman-teman dari Tunas Hijau Hendra ‘Enda’ Pangandaheng Cs menghibur pengunjung dengan lagu-lagu bertemakan lingkungan. Kolaborasi yang apik, dentingan gitar yang merdu dan lirik-lirik lagu yang menginspirasi banyak orang semoga menjadi sebuah momentum untuk mengubah paradigma kita tentang alam sekitar, satwa liar didalamnya, ekosistem dan keanekaragaman hayati. Terimakasih kami juga bagi Panitia dalam hal ini Manado Dog Lovers, semua komunitas pencinta hewan yang hadir dalam event, masyarakat luas yang dengan senang hati meluangkan waktu berkunjung di stand Selamatkan Yaki. Terimakasih untuk semua dukungannya yaaa! Cheers!

We had a short oration from each community at the closing day of the event, and this time our education assistant Caroline together with Billy from Tasikoki did great job in spreading yaki conservation messages. We had also friends from nature club “Tunas Hijau Airmadidi” sang few songs about environmet. Nice! What a great collaboration, together with guitar melody and inspiring lyrics about the nature, wildlife, ecosystem and biodiversity. We would like to say many thanks to Manado Dog Lovers for hosting us at the event, and all visitors who visited our stand. Thanks for all your support! Cheers!

DSC_1916Ance – Tangkoko Project Assistant

Dirgahayu Indonesia dari Batuputih Bawah dan Kasawari

Ale the winnerMoment 17an tidak dapat dilupakan oleh seluruh anak bangsa di bumi pertiwi Indonesia tercinta ini. Setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya seluruh anak bangsa ini mulai dari Sabang sampai Merauke tumpah-ruah dalam hiruk-pikuk perayaan hari kemerdekaan, mulai dari pemasangan bendera di depan rumah, membuat pagar serta mengadakan lomba di desa/ kelurahan masing-masing semuanya dilakukan dengan kegembiraan untuk merayakan hari kemerdekaan.

17 August is the most unforgettable moment time for all citizens in Indonesia. Same date every year, all people around the continent country from Sabang to Merauke spilled over in the seethe of Independence Day of Indonesia, starting by put pulling the flag up in front of every houses, painting the fences into red and white same color with as the National flag, and some community activities such as racing competitions, dance with balloons, all fun stuff to celebrate the special day.

Nah! Kali ini tim Selamatkan Yaki berkesempatan untuk merayakan hari kemerdekaan tahun ini bersama dengan masyarakat di kelurahan Batuputih Bawah dan kelurahan Kasawari. Simak ceritanya!

This time, our team had a chance to celebrate the day together with people in Batuputih Bawah and Kasawari village. Read the story!

Perlu diketahui bahwa kelurahan Batuputih bawah dan kelurahan Kasawari adalah dua desa dari sekian desa yang berada disekitar Cagar Alam Tangkoko. Berbatasan langsung dengan Cagar Alam keberadaan desa-desa tersebut sangatlah penting bagi kelangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati didalam kawasan Cagar Alam. Oleh karena itu Program Selamatkan Yaki melalui project Tangkoko memberikan perhatian khusus bagi desa-desa disekitar Cagar Alam dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi hutan bagi kelangsungan hidup alam sekitar dan manfaatnya kepada masyarakat. Untuk tujuan itu maka dibentuklah Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) di 5 desa sekitar Cagar Alam yaitu: FMKH Batuputih Bawah, FMKH Duasudara, FMKH winenet 1, FMKH Pinangunian dan FMKH Kasawari.

Batuputih Bawah and Kaswari are two of a few villages surrounded surrounding Tangkoko Nature Reserve s. Located next to the reserves these villages are playing an important role to the continuation of the ecosystem and the biodiversity. That is why Selamatkan Yaki, through the Tangkoko Rejuvenation Project is focusing at conservation activities in these villages, to get them involved more in conservation action for to protect the forest. That is one reason of for the establishment of Forest Conservation Society Forum (FMKH) in five villages; Batuputih Bawah, Duasudara, Winenet 1, Pinangunian, and Kasawari.

crowd

The crowd in Panjat Pinang.

Tahun ini, Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) Batuputih Bawah berinisiatif untuk mengadakan Kegiatan lomba Panjat Pinang yang di padukan dengan acara sosialisasi tentang melindungi alam dan satwa terlebih khusus Yaki yang saat ini sedang terancam punah. Tim Selamatkan Yaki berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN Unsrat, Ormas Divisi Bela Negara dan seluruh warga masyarakat Batuputih Bawah menyukseksan acara ini.

This year, the members of FMKH of Batuputih would love to combine the celebration of Independence Day with an informal socialization presentation to other members of the community about protecting the nature and wildlife especially the critically Critically Eendangered yaki. Our team collaborated with students from KKN (placement students) from the Unsrat University of Sam Ratulangi Manado (UNSRAT) as the organizer of the event, Ormas Divisi Bela Negara (local community group), and all people from Batuputih Bawah had enjoyed an eventful great succeed to the day.

Perjalanan hari itu dimulai pukul 10 pagi, beberapa anggota tim kami; Harry, Edyson, Ance, dan Caroline bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat menuju ke kelurahan Batuputih Bawah. Semua kebutuhan selama kegiatan, mulai dari tenda info stand, banners, yaki magz, sticker kampanye selamatkan yaki dan beberapa baliho dukungan dari group music Slank, serta juga hadiah-hadiah yang akan menjadi penyemangat bagi peserta lomba telah rapih di dalam mobil. Setelah mengemudi selama kurang lebih dua jam setengah, tim kemudian tiba di kelurahan Batuputih Bawah dan langsung mengadakan persiapan di lokasi kegiatan dengan kondisi hari yang panas terik dan berangin. Tim kali ini mendapat bantuan personil dari PPS Tasikoki, Billy Lolowang yang bergabung sampai selesai acara.

The journey started at 10am, Harry, Edyson, Ance, and Caroline prepared themselves and everything needed; info stand, programme banners, yaki magzazines, campaign stickers, and signature banners showing the support of our ambassadors the rock band SLANK our ambassador, and plus prizes for the competitions were packed in our project’s car. After a long drive around two and a half hours, our team arrived in Batuputih Bawah and prepared the venue straight away where whilst the day was hot and extremely windy!. We had alsowere also joined by Billy from our partner Tasikoki who helped until the end of the day.

Sosialisasi by Roy n Andre

Roy – FMKH Batuputih Bawah member delivering presentation

Sosialisasi kali ini berbeda, dimana Roy anggota FMKH dan Andre Mahasiswa KKN Unsrat bertindak sebagai pembawa materi di hadapan anak-anak dan orang dewasa, seluruh masyarakat Batuputih. Selain itu ada kuis-kuis seputar materi dimana masyarkat senang dengan hadiah hadiah material SY yang diserahkan langsung oleh Harry. Rame!

This time Socialization the presentation was differentthis time was different, whereby Roy – member of FMKH and Andre from KKN Unsrat (UNSRAT) delivered the presentation in front of many children and adults from the village, the whole people in Batuputih. We had also held quizzes about the information in the presentation by Harry, and everyone were was happy with SY materials handed out as prizes by Harry.! Crowded!

Setelah kegiatan sosialisasi, acara kemudian dilanjutkan dengan lomba panjat pinang. Kegiatan ini sangat menyenangkan, dimana para peserta harus memanjat batang pohon yang dilumuri minyak namun ada berbagai hadiah yang digantung di atas. Masyarakat sangat antusias menyaksikan perlombaan ini karena selain menantang, hadiah yang disediakan panitia juga sangat menarik seperti handphone, uang, peralatan rumah tangga, snack, dll. SY pun berkontribusi menyiapkan beberapa hadiah yang tentunya tetap dengan menyertakan material program kami. Setelah melalui perjuangan keras jatuh dan bangun, akhirnya salah satu tim yang mengikuti perlombaan itu menjadi pemenangnya dan berhak atas semua hadiah. Masyarakat pun senang dan kami pun lega karena kegiatan dapat berjalan dengan baik.

FMKH Batu putih Bawah with Ibu Lurah

FMKH Batuputih Bawah members with Ibu Lurah Selmi Katiandagho were just receiving the new FMKH t-shirts

After the socializationpresentation and other games, the event carried on with panjat pinang. This is a fun activity, where the participants have to climb a slippery pole to get prizes on the top, around 10 meters!. The people are were enthusiastic watching the competition because it’s not only challenging, but there are interesting prizes at the top provided by the organizer of the event, including such as phones, money, kitchen utensils, snacks , etc. SY also put contributedcontribution to by prepare preparing some prices prizes with adding additional programme materials on itincluded. After a long battle effort from groups up and down, one team finally reached the top and win won the prizes. Everyone were was pleased in good spirit and we were pleased that all the community activities run turned out great!well.

Hari berikutnya, berbeda dengan Batuputih Bawah, FMKH Keluarahan Kasawari dan tim Selamatkan Yaki juga berkolaborasi pada perayaan kemerdekaan dengan mengusung tema HUT RI ke 70, Pariwisata dan Selamatkan Yaki. Bersama dengan mahasiswa KKN Unsrat sebagai panitia, lomba yang diselenggarakan sangat beragam mulai dari lomba mewarnai kategori anak TK dan SD, lomba mengarang untuk SMP, baca puisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, berdansa dengan balon, dan banyak lagi.

2015-08-18 22.21.42

Celebrating Independence Day of Indonesia with Kasawari

The next day, FMKH Kasawari and Tim team Selamatkan Yaki collaborated in the celebration of Independence Day themed: HUT RI ke 70, Tourism and Save the Yaki. Together with more students from KKN Unsrat as the organizer of the event, there are were even more various activities here such as; coloring for kindergarten playschool and primary school students, writing article writing competitions, reading poems in Bahasa Indonesian and English, dancing with balloons, and many more.

Di sela-sela pelaksanaan lomba beberapa Anggota FMKH Kasawari menyempatkan diri untuk mangadakan sosialisasi tentang yaki dengan disaksikan oleh masyarakat yang saat itu sedang berkumpul di sekitar kantor kelurahan Kasawari. Mulai dari anak-anak dan orang dewasa semuanya berbaur dalam luapan kegembiraan dan semangat kemerdekaan. Tak ketinggalan juga Info stand dari Tim Selamatkan Yaki juga ramai dikunjungi oleh masyarakat terutama anak-anak yang ingin tahu lebih banyak tentang yaki dan beberapa satwa yang dilindungi di Sulawesi Utara.

In between the rundown of the day, a few members of FMKH Kasawari had a chance to deliver a presentation about the yaki to the crowded crowds of people around the Lurah’s village head’s office. From little kids to adults, everyone blended joined in the happy times of the Independence Day. Our info stand were was crowded by people visiting and reading many a lot of information about the yaki and some other protected species in North Sulawesi.Sosialisasi@Kasawari

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan hadiah bagi para. Hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Lurah kelurahan Kasawari, wakil dari mahasiswa KKN Unsrat dan Perwakilan dari Tim Selamatkan Yaki. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama. Enak sekali!

The whole activities in Kasawari ended again by handed handing out the prizes for all winners of the different competitions. The head of the village, the students from KKN Unsrat and representatives of our team helped with this session. All Finally we all had dinner together before leave leaving the venue. Yummy food!

Semoga kehadiran Tim Selamatkan Yaki dan Forum Masyarakat Konservasi Hutan dalam kegiatan 17an tahun ini dapat menginspirasi warga masyarakat di desa-desa daerah penyangga Cagar Alam Tangkoko agar tetap memiliki kepedulian yang sama untuk melestarikan hutan dan satwa liar yang ada di dalamnya sebagai warisan bagi generasi akan datang. Merdeka!

2015-08-18 14.05.06-1Hopefully, with the present presence of our team together with the FMKH members in for this Independence Day, people can get inspired more to take care and have the awareness to conserve the forest and the wildlife as the heritage for the future generation.
Merdeka!

Cheers,
Ance SY

Tugas Pemuda Remaja Kristen : Mengusahakan dan memelihara Bumi (Kej. 2:15)

The Task of Christian Youth: To make an effort and take care the earth (Gn. 2:15)

Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Youth Camp region one and two that held in Tonsea Lama, Tondano on June 29 to July this year is a bit different with the previous year.

Perkemahan Pemuda Remaja Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) wilayah SULUT Satu dan SULUT Dua yang diselenggarakan di Tonsea Lama, Tondano pada tanggal 29 Juni – 2 Juli tahun 2015 ini agak berbeda dengan dengan perkemahan-perkemahan sebelumnya.

DSC_8142This time, the youth had special guest on Tuesday June 30 from Selamatkan Yaki that deliver presentation about wildlife protection especially the crested black macaque that is well known as Yaki, unique to North Sulawesi. This population of this monkey is threatened to extinction, that is why they are protected by the Indonesian law (UU. No. 5 Tahun 1990).

Kali ini perkemahan Pemuda Remaja GSJA kedatangan tamu pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2015, yaitu pembicara dari program Selamatkan Yaki yang mengadakan sosialisasi tentang perlindungan satwa liar khususnya satwa khas Sulawesi Utara yaitu monyet hitam sulawesi yang dikenal akrab dengan nama Yaki. Adapun Yaki, monyet khas Sulawesi Utara ini, populasinya sudah terancam punah sehingga dilindungi oleh hukum negara (UU No. 5 Tahun 1990).

DSC_8138

The youth are important in getting this socialization, considering the majority society of North Sulawesi is Christian. And why the role of the youth is important in environmental conservation? As has been mandated in the Bible, humans took over as a “ruler” of the creation of the earth, and seeks the dam preserve the Earth (Gn. 1:18, Gn. 2:15).

Pemuda remaja Kristen dipandang penting untuk memperoleh sosialisasi ini mengingat akan warga masyarakat Sulawesi Utara yang pada umumnya umat Kristiani. Mengapa peran pemuda Kristen sangat penting dalam pelestarian lingkungan hidup? Seperti yang telah diamanatkan dalam Alkitab, manusia mengemban tugas sebagai “penguasa” atas ciptaanNya di bumi, serta mengusahakan dam memelihara Bumi (Kej. 1:18, Kej. 2:15 ).

The socialization which had around 700 participants from all around North Sulawesi were getting interesting with the questions and quiz where the winner Aiking Manopo from Kawangkoan Minahasa gave a good answer about the important role of the Yaki in human’s life.

Sosialisasi yang dihadiri oleh 700-an peserta dari seluruh Sulawesi Utara ini semakin menarik dengan adanya tanya jawab dan kuis yang pemenang utamanya berasal dari Kawangkoan Minahasa bernama Aiking Manopo, yang menjawab tentang peran penting yaki dalam kehidupan manusia.

The youth is future generation that will determine the fate of the wildlife and other living creatures in the world, with an understanding of the responsibility given to human as a ruler who maintain and take care good of the earth so the survival of wildlife especially the critically endangered Yaki.

Pemuda remaja adalah generasi penerus yang akan menentukan nasib satwa liar serta makhluk hidup lain yang ada di jagad raya ini, dengan diberikan pemahaman tentang tugas tanggung jawab manusia sebagai penguasa yang memelihara dan mengusahakan bumi dengan baik dan benar maka kelangsungan hidup satwa liar khususnya Yaki yang sudah terancam punah, tidak akan terjadi.

Selamatkan Yaki hopes can visit more camp from another church dnominations and spread Yaki conservation messages, a charismatic species that need the protection from us people of North Sulawesi.

Selamatkan Yaki berharap bisa berkunjung ke perkemahan perkemahan denominasiDSC_8129 gereja lainnya dan menyebarkan pesan pelestarian Yaki satwa kharismatik yang memerlukan perlindungan dari kita masyarakat Sulawesi Utara.

“Together we will save the Yaki!”

Stand Informasi tentang Yaki hadir di pasar Airmadidi

Yaki information stand come to Airmadidi’s market

1434764784564-2Sabtu 20 Juni 2015 lalu, Selamatkan Yaki kembali mengadakan kegiatan stand informasi di pasar Airmadidi, Minahasa Utara. Tujuan diadakannya stand informasi adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara berbagi langsung kepada masyarakat informasi tentang Yaki, yang merupakan satwa yang hanya ditemukan di Sulawesi Utara, dilindungi oleh Undang-undang No. 5 Tahun 1990 dan keberadaannya sudah sangat mengkhawatirkan karena jika tidak dilestarikan maka kepunahan akan menghadangnya.

On Saturday, June 20th 2015, Selamatkan Yaki held an information stand in Airmadidi market, North Minahasa. Information stands are meant to raise the community awareness through direct conversation with the people about the yaki, an animal only found in North Sulawesi, protected through national laws and with facing a worrying population decline that could lead to extinction.

DSC_8014Kegiatan stand informasi dari program Selamatkan Yaki sudah beberapa kali dilaksanakan sebelumnya di area kampanye tahun pertama yaitu Langowan dan Tomohon. Stand informasi merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki, sebuah kampanye yang dicanangkan oleh Selamatkan Yaki untuk menggalang rasa bangga masyarakat terhadap satwa endemik Sulawesi Utara ini. Kegiatan stand informasi di Langowan dan Tomohon mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat dengan pengunjung kurang lebih 1600 orang. Untuk tahun kedua ini, program Kampanye Kebanggaan Yaki difokuskan di Bitung dan Airmadidi, di mana Bitung merupakan lokasi harapan terakhir dari bagi Yaki untuk bisa hidup dan berkembang biak secara alami yaitu Cagar Alam Tangkoko serta Airmadidi yang relatif dekat dengan hutan lindung Gunung Klabat.

Selamatkan Yaki’s information stands has previously been held several times in their first-year campaign areas of Langowan and Tomohon. Information stands are part of the Yaki Pride Campaign, a campaign initiated by Selamatkan Yaki to instil a sense of pride in the people towards this endemic animal of North Sulawesi. Information stands in Langowan and Tomohon were well-received by the community, garnering approximately 1600 visitors. For this second year, the Yaki Pride Campaign will be focused in Bitung and Airmadidi, with Bitung being the last surviving hope for the yaki to live in a natural habitat in Tangkoko Nature Reserve, and Airmadidi being situated relatively closely to Mount Klabat Forest Reserve.

DSC_7993

Let’s put color on our Yaki mask!

Pasar merupakan pusat keramaian di mana terjadi aktivitas perdagangan dan ekonomi lainnya dan dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. Dengan pertimbangan ini maka Selamatkan Yaki mencoba mendekati masyarakat lewat dibukanya stand informasi di pasar dan membagikan informasi sebanyak-banyaknya kepada pengunjung pasar. Kali ini walaupun diguyur hujan deras tapi masyarakat cukup antusias dalam mendengarkan informasi yang dibagikan oleh Asisten Pendidikan Selamatkan Yaki Caroline Tasirin dan Yohanes Sambuaga yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat.

DSC_7982

Our partner Tangkoko Conservation Education took part on the day.

Markets are trade centres for the local community, and are visited by a wide variety of demographics. To reach these groups, Selamatkan Yaki opened an information stand in the heart of the market and shared information with market visitors. Despite the heavy rain, people showed interest in the information being shared by Selamatkan Yaki’s Education Assistants, Caroline Tasirin and Yohanes Sambuaga, who also answered their questions.

Dengan bantuan dari mitra kami Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT), KMPA Tunas Hijau Airmadidi dan Duta dari Yaki Youth Camp 2015, sosialisasi ini bisa berjalan dengan baik dan juga mendapatkan perhatian khusus dari anak-anak pengunjung pasar karena mereka bisa belajar sambil bermain, yaitu dengan mewarnai dan membuat topeng Yaki. Selain itu masyarakat juga memperoleh stiker gratis dan penjelasan tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan jika kita melihat atau mendapatkan Yaki yang dijual ataupun yang dijadikan piaraan.

With the help of our partners Tangkoko Conservation Education (TCE), KMPA Tunas Hijau Airmadidi and our Ambassador from Yaki Youth Camp 2015, the information stand was a success and earned particular interest from the local children through fun, educational activities, namely colouring sheets and yaki masks. Visitors also got free stickers and got an explanation regarding what to do if they saw or found yaki being sold or kept as a pet.

DSC_8031

Not only admiring the pictures, children find out lots of info about the Yaki.

Mengingat semakin dekatnya acara pengucapan syukur di daerah Minahasa ini maka Selamatkan Yaki akan terus mensosialisasikan Kampanye Kebanggaan Yaki ini dengan harapan ancaman terhadap Yaki dari konsumsi diharapkan akan berkurang. Dalam beberapa bulan ke depan Selamatkan Yaki akan melanjutkan terus stand informasi ini di pasar-pasar yang lain di Bitung dan Airmadidi serta akan kembali berkunjung ke Langowan. Sampai bertemu di kunjungan berikut!

With Minahasan thanksgiving drawing near, Selamatkan Yaki will continue Yaki Pride Campaign activities, with the hope that threats towards the yaki, particularly through bushmeat trade, will decrease. Within the next few months Selamatkan Yak will continue this information stand in other markets in Bitung and Airmadidi and will also visit Langowan again. We’ll see you at our next information stand!

Torang jaga Yaki karna torang peduli! Together we will save the Yaki!