Several Programs and Ideas sharing at the Triwulan Meeting FMKH! Berbagi Program dan Ide pada Pertemuan Triwulan FMKH

Setelah melaksanakan dua kali pertemuan rutin bulanan dan kunjungan lapangan, maka pada tanggal 11 Desember 2014 telah dilakukan pertemuan triwulan FMKH yang dilaksanakan di PPS Tasikoki. Yang membedakan pertemuan kali ini dengan permuan sebelumnya yaitu peserta yang diudang merupakan perwakilan FMKH dari kelurahan-kelurahan Duasudara, Batuputih Bawah, Winenet Satu, Kawasari dan Pinangunian, sedangkan pada pertemuan sebelumnya hanya dilakukan di dalam kelurahan dan pesertanya adalah anggota FMKH dalam kelurahan masing-masing.

IMG_0216After held two time’s routine meeting and field trip, on December 11th 2014 the triwulan meeting FMKH was held in Tasikoki Wildlife Rescue Center. What different at the meeting that time was the participants were the representative of the 5 villages; Duasudara, Batuputih Bawah, Winenet Satu, Kasawari, and Pinangunian, where the monthly meeting happens once in a month in each village with the each representative.
Pertemuan triwulan juga menghadirkan perwakilan instansi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan kawasan konservasi Tangkoko. Disamping untuk mempertemukan perwakilan seluruh FMKH, pertemuan ini juga bertujuan untuk: a. Mensosialisasikan rencana dan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan kawasan konservasi (seperti: pal batas, aturan di bidang kehutanan dan peraturan pemerintah daerah); b. Sarana bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kepedulian, ide-ide dan masukan bagi pemerintah terkait; dan c. Menginformasikan fakta-fakta tindak pidana kehutanan dan upaya penegakan hukum yang telah dilakukan.

We had also the representative of the government who works with the management of the conservation area Tangkoko. This meeting was not only to gather each representative of the five villages but also aimed to: a. To do socialization about the planning and law regarding the management of the conservation area (such as: boundaries of the area and the village, laws in forestry department and the local law); b. This is the place for the society to express their aspiration, awareness, ideas and input to the local government; and c. To inform the illegal activities in the forest as also how to enforce the law.

Perwakilan instansi pemerintah yang menghadiri pertemuan triwulan ini adalah Kepala
Seksi konservasi Wilayah I BKSDA Sulut sebagai otorita pengelola kawasan konservasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kota Bitung, serta Dinas Kehutanan dan Pertanian kota Bitung. Pak Askhari Masikki, SHut. (Kepala Seksi I BKSDA) juga memberikan presentasi tentang pengelolaan kawasan konservasi wilayah Bitung yang meliputi CA. Tangkoko, CA. Duasudara, TWA. Batuputih dan TWA. Batuangus. Ibu Erfinna (Dinas Pariwisata) mempresentasikan tentang potensi wisata dan kalender tahunan kegiatan pariwisata di kota Bitung.

The representative of the government at this time was the Head of Section I Conservation Area of BKSDA Sulut as the author to the management of conservation area, Tourism and Creative Economy Department of Bitung, and Forestry and Agriculture Department of Bitung. Mr Askhari Masikki, SHut. (Head of Section I Conservation Area of BKSDA Sulut) gave a talk about the work of BKSDA in managing the conservation areas including Tangkoko Nature Reserve, Duasudara Nature Reserve, Batuputih Recreational Park, and Batuangus Recreational Park. Mrs.Erfinna from Tourim Department was talking about the tourism potentials as also the yearly tourism activities in Bitung city.

Disamping menyimak beberapa presentasi termasuk dari Selamatkan Yaki dan PPS IMG_0149Tasikoki, dalam pertemuan ini juga dilaksanakan FGD dengan kelompok dari FMKH masing-masing kelurahan. Kegiatan ini sangat produktif dan semua peserta antusias dalam mengambil bagian. Mereka membahas tentang pemilihan personil untuk FMKH; Isu-isu lingkungan terpenting di masing-masing kelurahan; slogan untuk tiap kelurahan yang akan ditulis di gapura kelurahan; desain gapura; dan poin-poin penting yang akan dimasukkan pada lembar “Persetujuan Bersama”.

Not just listened to the talks given by Selamatkan Yaki and Tasikoki, in this meeting the participant were engaged into forum group discussion where they were divided into small groups per village. It was really productive and all participants were excited to take part. They were discussing about who’s going to be the member of the forum of each village, environmental issues in each neighborhood, a slogan that will be representing the village in their archway, the design of the archway, and important points to put in agreement of the forum.

Antusiasme peserta perlu diapresiasi, karena sepanjang pertemuan mereka serius menyimak berbagai presentasi yang disampaikan dan memberikan tanggapan dan pertanyaan untuk memuaskan keingintahuannya tentang pengelolaan kawasan dan kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan oleh masing-masing instansi terkait. Demikian juga selama proses FGD dan pembahasan hasilnya, bahkan mereka juga menghasilkan desain gapura yang akan dibangun di kelurahan walaupun hasilnya masih akan didiskusikan dengan Lurah dan masyarakat lainnya.

We have to appreciate their excitement, as during the meeting they were engaged and paid attention as also really interactive during discussion session to express their desire to find more about the management of the conservation area and all activities. They did good job during the forum group discussion and had produced many good ideas and very creative in the archway designs where still need to be discussed with the head of their villages.

IMG_0240Akhirnya pada pukul 16.30 pertemuan ditutup dengan penyerahkan cinderamata kepada setiap desa berupa foto dari kegiatan lapangan bulan November yang lalu yang membawa banyak kenangan dari kunjungan melihat yaki di hutan yang menyenangkan. Sebagaimana saat itu merupakan akhir tahun, banyak sekali motivasi serta harapan dan perasaan positif mengakhiri triwulan meeting, semua peserta merasa bersyukur serta tak lupa pula hari itu ditutup dengan doa.

Finally at 4.30pm the productive triwulan meeting was closed by giving some merchandise which was the photo from field trip last November that brought up lots of memories of fun time followed the Yaki in the forest. As it was the end of the year there were many motivations and hopes and positive feelings to end the triwulan meeting, all participants felt grateful and end the day by a prayer.

Why we need to protect our Minahasan treasure, the yaki (Macaca nigra)

What to do when you see yaki being kept as pets

What to do when you see yaki being kept as pets

Christmas is filled with the joy of family gatherings to celebrate while enjoying various food. Like humans, the Yaki (Macaca nigra) live in social groups and need their family and friends to survive. The Yaki is a special monkey as they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world!

The Yaki plays an important role in people’s lives. Why? The Yaki eat up to 145 different species of fruit and plants and spread these seeds widely throughout the forests which allows new trees to grow. The Yaki keep the forests healthy and the forests keep humans healthy by providing fresh water, oxygen, food and other natural resources. The forest also protects the people against natural disasters such as floods and landslides. 

Unfortunately the Yaki experienced a population decline of more than 80% in the last 40 years and therefore have been given the status of Critically Endangered by the IUCN (International Union for Conservation of Nature). The major threats to the Yaki population are hunting and habitat loss. As the human population grows, people need more space to build their homes and land to grow food. When cutting trees to create more space for people, the homes of the Yaki (the forests) become smaller and smaller. The Yaki cannot find enough food in the forests anymore and therefore come to the farmers’ land to fill their empty stomachs.

The Yaki is protected by national law. UU No. 5 Tahun 1990 states that it is forbidden to capture, keep, hunt, sell, and transport Yaki (Macaca nigra), which applies to the skin or body, in part of whole, live or dead. The penalty for breaking this law is 5 years of imprisonment and a fine of 100 Million Rupiah.

Part of the reason why the Yaki has the Critically Endangered status is lack of effective law enforcement. People hunt and trade endangered wildlife with almost no consequences – at least up to now. We hope this will change and work closely together with the authorities to protect the remaining Yaki in the wild.

We will finish this Christmas consideration with asking you one more question: If there are more than 1 million Minahasan people in North Sulawesi and there are 5.000 Yaki left in the wild – how many Minahasan families can eat Yaki this Christmas before the species is extinct?

How can you help? Spread the word to friends and family about the Yaki and our plight to protect them! Politely refuse dishes with meat from endangered animals such as the Yaki. Send us a message on Facebook or email info@selamatkanyaki.com and we will send you our Yaki Information Banner that you can print and spread around your village! Help us spread the message about the importance of wildlife such as the Yaki, for a better future for the people of North Sulawesi and a life in harmony alongside Minahasa’s unique wildlife!

What to do when you see yaki trade in the market

What to do when you see yaki trade in the market

This article was written by Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator at Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki is a conservation program that aims to protect the remaining population of Yaki (Macaca nigra) in the wild. 

Mengapa kita perlu melindungi harta Minahasa kita, yaki (Macaca nigra)

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Natal dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati beragam makanan. Seperti manusia, yaki (Macaca nigra) juga tinggal dalam kelompok sosial dan membutuhkan keluarga dan teman untuk bertahan hidup. Yaki adalah monyet istimewa karena mereka hanya hidup secara liar di Sulawesi Utara dan tidak di tempat lain di dunia!

Yaki memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Mengapa? Yaki memakan hingga 145 jenis buah-buahan tumbuhan hutan yang berbeda dan menyebarkan biji-bijinya di seluruh hutan agar bisa bertumbuh menjadi pohon baru. Yaki menjaga hutan tetap sehat dan hutan menjaga manusia agar tetap sehat dengan menyediakan air, udara, makanan, dan sumber daya lain. Hutan juga menjaga manusia dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Sayangnya, yaki mengalami penurunan populasi sebesar lebih dari  80% dalam 40 tahun terakhir dan oleh karena itu mereka mendapat status Sangat Terancam oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ancaman utama terhadap populasi yaki adalah perburuan dan perusakan habitat. Seiring pertumbuhan penduduk, manusia membutuhkan semakin banyak ruang untuk membangun pemukiman dan lahan pertanian. Ketika mereka memotong pohon untuk menciptakan ruang bagi manusia, rumah yaki (hutan) semakin lama semakin kecil. Yaki tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup di hutan sehingga mereka terpaksa mencari makan di lahan pertanian untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Yaki dilindungi hukum negara. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 dinyatakan dengan jelas bahwa dilarang menangkap, memelihara, memburu, dan memindahkan yaki (Macaca nigra), yang berlaku pada kulit maupun tubuhnya, baik utuh maupun sebagian, baik hidup maupun mati. Hukuman bagi pelanggar undang-undang ini adalah 5 tahun penjara dan denda 100 juta Rupiah.

Salah satu alasan yaki memiliki status Sangat Terancam adalah kurang efektifnya penegakan hukum. Banyak orang berburu dan menjual satwa yang terancam punah tanpa dihukum – setidaknya, hingga saat ini. Kami berharap keadaan ini akan berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melindungi sisa populasi yaki di alam liar.

Sebagai penutup, kami berharap Anda bisa mempertimbangkan hal ini: Jika ada lebih dari 1 juta masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dan tersisa 5.000 ekor yaki di alam liar  – berapa banyak keluarga di Minahasa yang akan memakan yaki pada Natal tahun ini sebelum spesies ini punah?

Bagaimana Anda bisa membantu? Beritahu keluarga dan teman-teman mengenai yaki dan pentingnya kita melindungi mereka! Tolak dengan sopan  hidangan yang berisi daging satwa yang terancam punah seperti yaki. Kirimkan pesan pada kami di Facebook atau email info@selamatkanyaki.com dan kami akan mengirim banner informasi yang bisa Anda cetak dan sebarkan di desa Anda! Bantu kamI menyebarkan pesan mengenai pentingnya satwa liar seperti yaki,  demi masa depan masyarakat Minahasa yang lebih baik dan kehidupan yang harmonis di sisi satwa liar Minahasa!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki - tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki – tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Penulis oleh Thirza Loffeld, Pendidikan dan Advocacy Koordinator di Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki adalah program konservasi yang bertujuan untuk melindungi sisa populasi yaki (Macaca nigra) di alam liar. Selamatkan Yaki memberikan penyadartahuan dan menghubungi pihak penting lainnya. Kunjungi website kami: www.selamatkanyaki.com

Three Peaks Challenge has been completed! Tantangan Tiga Puncak telah dicapai!

On July 5th 2014, 9 Zookeepers from 6 Zoos across England took part in the Three Peaks Challenge, which means they had to climb 3 of the highest mountains in the United Kingdom.

Pada tanggal 5 Juli 2014, sepuluh pekerja kebun binatang dari lima kebun binatang di Inggris mengambil bagian dalam tantangan tiga puncak, yang artinya mereka harus mendaki tiga puncak tertinggi di Inggris.threepeaks3

All nine of the climbers are zoo keepers, working in zoo collections in the UK taking care of the beloved Yaki population in captivity. As passionate Macaque enthusiasts, the group decided to do the challenge to raise money for Selamatkan Yaki, raising both funds and much needed awareness for the project.

Kesepuluh dari pendaki-pendaki ini adalah pekerja kebun binatang, yang bekerja di koleksi kebun binatang Inggris yang mengurus populasi Yaki kesayangan dalam penangkaran. Sebagai penggemar Makaka yang sangat antusias, kelompok ini memutuskan untuk melakukan tantangan ini demi menggalang dana untuk Selamatkan yaki, meningkatkan kedua-duanya yaitu dana dan kesadaran sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk proyek ini.

threepeaks4The completing of the challenge took the Macaque mountaineers 26 hours and 59 minutes with a sprint finish to secure this time. During this time they travelled a total of 13 hours by car and a 27 mile route ascending and descending 2900m.

Penyelesaian tantangan ini menghantar para pendaki gunung demi Makaka selama 26 jam dan 59menit dengan berlari secepat-cepatnya sampai finish demi mencapai jam ini. Mereka telah melakukan perjalanan dengan total 13 jam dengan mobil dan 27 mil rute naik turun 2900m.

Despite the grueling challenge, lack of sleep, coldness and sore feet the group finished the challenge in good spirits feeling a sense of overwhelming pride that they had achieved so much.

Meskipun tantangan melelahkan, kurang tidur, kedinginan dan sakit kaki, kelompok ini menyelesaikannya dengan penuh semangat dan rasa bangga yang luar biasa bahwa mereka telah melakukan pencapaian besar.

Selamatkan Yaki Volunteer UK Regional Coordinator and fellow climber Jodie Dryden said ‘All three climbs were both physically and mentally challenging! We were all so tired and so sore but the thought of the Yaki and how much we care fothreepeaks5r these animals got us through. They fact that we know the effort that the Selamatkan Yaki team do to protect the species helped us to continue the climb and get us through. When any of the climbers would get tired or unhappy, myself and the rest of the group would mimic the vocalizations of the Yaki and lip smack which would lift the mood of the whole group! We met people along the journey who paid attention to our large Selamatkan Yaki banner and our T-shirts and we explained about the programme and the magnificent Sulawesi Crested Black Macaque to them. I am extremely proud of the other climbers, they have all put in so much effort and shown so much passion for the species!’

Koordinator Sukarelawan Daerah Inggris Selamatkan Yaki dan sesama pendaki Jodie Dryden mengatakan ‘Ketiga puncak yang baik secara fisik dan mental sangat menantang! Kami semua sangat lelah dan kesakitan namun perhatian terhadap Yaki dan seberapa besar kami peduli dengan satwa ini membantu kami melewati itu. Ketika salah satu dari pendaki merasa sangat lelah dan kurang senang, saya sendiri bersama sisa dari kelompok akan menirukan vokalisasi dari Yaki serta mengecap-ngecapkan bibir yang akan menghidupkan suasana hati seluruh kelompok! Kami bertemu orang sepanjang perjalanan yang memperhatikan banner Selamatkan Yaki yang besar serta T-shirt kami maka kamipun menjelaskan kepada mereka tentang program serta Monyet Hitam threepeaks2Sulawesi yang agung kepada mereka. Saya sangat luar biasa bangga pada pendaki yang lain, mereka telah memberikan perjuangan yang besar serta telah menunjukkan betapa besar semangat untuk spesies ini!’

The Challenge was organized as a fundraising project and thanks to the amazing generosity of so many the amount raised in total reached £2738.78. These funds will be used to support the ongoing project and efforts made by Selamatkan Yaki to save the Sulawesi Crested Black Macaque!

Tantangan ini diselenggarakan sebagai sebuak proyek penggalangan dana dan terima kasih untuk kemurahan hati yang luar biasa dari begitu banyak dana yang dicapai yaitu 2.738.78 Pounds atau sekitar. Dana ini akan digunakan untuk mendukung proyek yang sedang berjalan dari Selamatkan Yaki untuk menyelamakan Monyet Hitam Sulawesi!

►Watch the video (English): http://youtu.be/9a1ozokzuDQ
►Tonton videonya (Bahasa Indonesia): http://youtu.be/aO6NEYWo1MI

FMKH Daytrip Part II: Pinangunian dan Winenet Satu to TWA Batuputih

Jumat 21 November 2014, pelaksanaan FMKH Day Trip untuk Kelurahan Pinangunian dan Kelurahan Winenet Satu, di lokasi yang sama seperti FMKH Day Trip sebelumnya yaitu di TWA Batuputih. Peserta yang mengikuti kegiatan hari ini, berjumlah 33 orang. Sedikit istimewa dengan FMKH Day Trip sebelumnya, kegiatan hari ini dihadiri oleh Manager Program Selamatkan Yaki, Harry Hilser, yang menambah antusias peserta dalam mengikuti kegiatan hari ini.

Friday November 21st 2014 was the second part of FMKH Day Trip and this time for Pinangunian and Winenet Satu but still at the same location which is at TWA Batuputih. We had 33 participants on that day, and a bit more special cause our Programme Manager, Harry Hilser was joining us that affected the enthusiasm of the participants.

Diawali dengan doa yang dibawakan oleh salah seorang peserta dimana mayoritas peserta beragama Kristen, selanjutnya briefing singkat yang disertai arahan-arahan dari Tim Selamatkan Yaki, pembacaan Kode Etik pengunjung yang dibacakan oleh John Ngala yang merupakan Koordinator FMKH Kelurahan Winenet Satu. Peserta pun minta untuk foto bersama sebelum memasuki TWA, diamana ada poster besar Yaki yang indah pada pintu masuk.1IMG_9447_A

Starting with an opening prayer as majority people here are Christian, then followed by briefing and John Ngala the coordinator of the forum of Winenet Satu helped us by reading the code of conducts for everyone. The participant asked for a group photo bellow a gigantic poster of Yaki at the entrance of the TWA.

Sambil menikmati suasana hutan Taman Wisata Alam Batuputih dengan berjalan kaki menuju Pos 2, beberapa peserta tampaknya bersemangat dengan bertanya tentang banyak hal mengenai TWA maupun satwa di dalamnya kepada Harry. Suasana terasa santai sesekali disertai dengan canda tawa. Beruntung! Tidak terlalu lama berjalan, salah satu kelompok Yaki sedang berada di area pantai antara Pos 1 dan Pos 2. Akhirnya peserta diarahkan ke area pantai untuk melihat Yaki. Beberapa pertanyaan seputar 1IMG_9451_Akehidupan Yaki, mengapa mereka senang mencari kutu, apa yang mereka makan, ditanyakan peserta dan sesekali para peserta tertawa karena melihat tingkah Yaki yang lucu. Hampir kurang lebih 1,5 jam peserta mengamati Yaki yang harus diakhiri karena rasa lapar yang mulai terasa.

While enjoying the forest by walking to Pos 2, some participant seemed excited by asking lots of questions to Harry about the TWA itself and the wildlife. It felt relaxing as they were laughing at small jokes. Lucky! Not long walking, a group of Yaki has seen in between Pos 1 and 2. Participant were heading to the beach to see them. They were also asking few questions about the Yaki, why do the Yaki love grooming, what do they eat, and some cheeky behavior entertain them. It was about one and half our watching the Yaki, ended by strafing feeling as it was already lunch time.

Setelah makan siang di Pos 3 (Pos MNP), acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan, baik peserta maupun dari Tim Selamatkan Yaki dan Macaca Nigra Project. Selanjutnya, sesi diskusi mengenai kehidupan Yaki lebih mendalam yang dibawakan oleh Stephan (MNP) ditemani dengan kudapan sore dan suasana alam-pantai Tangkoko membuat peserta antusias mengikuti jalannya diskusi ini.

After lunch at Pos 3 where MNP based, we continue with introduction 1IMG_9568_Aone by one for the participant to get to know each other as also Selamatkan Yaki and Macaca Nigra Project. Next, discussion more detail about Yaki were given by Stephan (MNP) next to the beach while everyone enjoying the afternoon snacks.

Banyak pertanyaan dari peserta seputar Yaki, sampai pada program kegiatan yang dilaksanakan oleh Selamatkan Yaki maupun MNP. Mendengar penjelasan dan pemaparan yang dibawakan oleh Harry, Edis dan Ephan, rasa kagum dan bangga serta rasa lebih memiliki terpancar dari wajah para peserta. “Memang enak….gagah disini !” komentar salah seorang peserta. “Mantap…terima kasih, sampe bakudapa lagi!” kata John Ngala (coordinator FMKH Winenet Satu)

1IMG_9588_AThere were lots of questions about Yaki and all programs of Selamatkan Yaki and Macaca Nigra Project. By hearing the explanation from Harry, Edies, and Ephan, we could see how they express proud and appreciation. “It’s comfy and beautiful here!” said one of the participant. “Awesome,..thank you so much and see you later!” said John Ngara (FMKH coordinator of Winenet Satu).

Meet Puspita, Social Media Analysis Volunteer! Perkenalkan Puspita, Relawan Analisa Media Sosial!

I was on Mount Semeru. Hiking is one of my favorite activities. | Saya di Gunung Semeru. Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan favorite saya.

Hello :)

My name is Puspita Insan Kamil, and I graduated with a degree in Psychology from Universitas Indonesia in January 2014. I took Social Psychology as a concentration, and one of its related area of studies was Environmental Psychology. I’m currently focusing on my passion and research topics such as: Gamification, Social Network Analysis, Big Data, Conservation Psychology, Animal Behavior, and Community-based Conservation. Besides working as a digital platform developer and social network analyst, I also volunteer for several NGOs that focus on animal welfare, conservation, disaster mitigation, and education. Last movement that I participated in with regards to animal welfare was Santa’s Missing Deer, a campaign to promote better welfare for Rusa timorensis in Universitas Indonesia that ended with the decision to move all the deers out, since the enclosure in UI doesn’t meet conservation standards. For more info about that campaign, you can check it here http://rusaui.com/campaign/index.html
Hello :) Nama saya Puspita Insan Kamil, lulus dengan gelar Sarjana di bidang Psikologi dari Universitas Indonesia di bulan Januari 2014. Saya mengambil Psikologi Sosial sebagai mata kuliah utama, dan salah satu mata kuliah yang berhubungan dengan itu adalah Psikologi Lingkungan. Saat ini saya sedang fokus kepada topik penelitian dan kecintaan saya terhadap Gamification, Analisa Jejaring Sosial, Big Data, Psikologi Konservasi, Perilaku Hewan, dan Konservasi Berbasis Masyarakat. Selain bekerja sebagai developer platform digital dan analis jejaring sosial, saya juga merupakan relawan beberapa LSM yang fokus pada kesejahteraan hewan, konservasi, mitigasi bencana, dan pendidikan. Gerakan terakhir yang saya ikut terlibat adalah gerakan Santa’s Missing Deer, sebuah kampanye untuk menyuarakan kehidupan yang lebih sejahtera untuk Rusa timorensis di Universitas Indonesia yang berhasil diakhiri dengan dibuatnya keputusan untuk mengeluarkan rusa-rusa tersebut, karena area yang dibuat di UI tidak memenuhi standar-standar konservasi. Untuk informasih lebih mengenai gerakan ini, silahkan mengunjungi http://rusaui.com/campaign/index.html

I was in Cambodia, visiting one of the most wonderful temples. I like ancient thingies! | Saya di Cambodia, mengunjungi salah satu candi terindah yang ada. Saya menyukai hal-hal kuno.

I also have other favorite topics: geography, biology, and architecture (please don’t hesitate to contact me to chat about those topics! :). I love to write, to read, and to listen – enjoy reading National Geographic Magazine series the utmost. I also enjoy traveling, mountaineering, exploring new places and cultures, listening to folk songs, and planting. I also love to paint, design (but not too expert on that particular skill), and swimming.
Saya juga punya beberapa topik favorit: geografi, biologi, dan arsitektur (harap jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya untuk berbicara tentang topik-topik ini! :). Saya senang menulis, membaca, dan mendengar – paling senang membaca majalah National Geographic. Saya juga senang traveling, naik gunung, menjelajahi tempat-tempat baru serta budaya, mendengarkan lagu rakyat, dan menanam. Saya juga senang melukis, mendesain (tapi tidak terlalu mahir dalam skill tersebut), dan berenang.

I was in Malang doing volunteer work to introduce environmental issues to local children who are in the local theater club. I love cats! | Saya di Malang melakukan kerja sukarela untuk memperkenalkan isu-isu lingkungan kepada anak-anak yang tergabung dalam sebuah klub teater lokal. Saya sangat menyukai kucing!

First time I found Selamatkan Yaki was through a Facebook post on my timeline, shared by my friend from the department of Biology in Universitas Indonesia. I already had a big passion for animal welfare (don’t know where it came from, so don’t ask) and was curious about every living thing in this universe. At first I didn’t know about yaki at all, and didn’t know what I can do to help. So I just e-mailed SY and offered my skills on social network analytics and data interpretation as an alumni of the Psychology major, to help boost their campaign’s quality.
Saya pertama menemukan Selamatkan Yaki melalui sebuah postingan Facebook di timeline saya, yang dibagikan oleh teman saya dari fakultas Biologi di Universitas Indonesia. Saya memang sudah memiliki kecintaan terhadap kesejahteraan hewan (tidak tahu juga datangnya dari mana, jadi jangan ditanya) dan penasaran terhadap segala jenis makhluk hidup di dunia ini. Pertamanya saya tidak tahu apa-apa tentang yaki, dan tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu. Jadi saya mengirimkan e-email kepada SY dan menawarkan keterampilan saya dalam analisa jejaring sosial dan interpretasi data sebagai seorang alumni fakultas Psikologi, untuk membantu meningkatkan kualitas kampanye mereka.

Transiting in Singapore, about to go to Bangkok. I’ve never actually gone to Singapore to travel, because I don’t like modern cities… | Transit di Singapura, menuju Bangkok. Saya sebenarnya belum pernah jalan-jalan di Singapura, karena saya sebenarnya tidak menyukai kota-kota modern…

Why I decided to join SY is just simply because I care and I do believe that change won’t happen unless we make it.
Mengapa saya memutuskan untuk bergabung dengan SY adalah karena saya peduli dan saya percaya bahwa perubahan tidak akan terjadi kalau tidak kita buat.

Meet me at my personal blog or just e-mail me!
Jumpai saya di blog personal saya atau silahkan kirimkan e-mail!

regards,
Puspita Insan Kamil

Surveying Airmadidi and Bitung

DSC_0144

Training in survey methods at the Selamatkan Yaki office in Manado.

Hello readers, Caroline speaking! After over month of surveys, I’m back with a fresh update on the happenings in Selamatkan Yaki’s Education Department. Currently we’re in the process of wrapping up EARS Year 1 in Langowan and Tomohon, but already we’re gearing up for EARS Year 2, this time in the district of Airmadidi and the city of Bitung. Unlike Langowan and Tomohon, both areas are in close proximity to North Sulawesi’s main biodiversity stronghold, Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, and thus have been exposed to some degree of awareness raising by various conservation organizations. Also unlike quiet Langowan and Tomohon, both Airmadidi and Bitung host high levels of trade activities. Bitung is a bustling port city in North Sulawesi, an important harbor that connects Indonesia with other nations around the Pacific, while Airmadidi is the center point that directly connects Minahasa and Manado to Bitung. Both areas are important hubs for all sorts of trade activities in North Sulawesi – including illegal wildlife and bushmeat trade. Close proximity to conservation areas, previous exposure to conservation activities, a markedly different lifestyle – this is going to be an interesting EARS Year 2!

Hallo pembaca, ini Caroline! Setelah beberapa bulan survey, saya kembali dengan update terbaru dari apa yang sedang dilakukan Bagian Pendidikan Selamatkan Yaki. Saat ini, kami sedang dalam proses merampungkan kegiatan EARS tahun pertama di Langowan dan Tomohon, namun sudah bersiap untuk tahun kedua, yang saat ini di daerah Airmadidi dan Kota Bitung. Berbeda dengan Langowan dan Tomohon, kedua area ini merupakan tuan rumah dengan tingkat perdagangan yang tinggi untuk kegiatan perdagangan. Bitung adalah kota pelabuhan yang ramai di Sulawesi Utara, sebuah pelabuhan penting yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara lain di seluruh Pasifik, sementara Airmadidi adalah titik pusat yang secara langsung menghubungkan Minahasa dan Manado ke Bitung. Kedua daerah ini penting untuk segala macam kegiatan perdagangan di Sulawesi Utara – termasuk perdagangan satwa liar dan dagingnya. Dekat dengan kawasan konservasi, telah mendapatkan paparan kegiatan konservasi sebelumnya, gaya hidup yang sangat berbeda – ini akan menjadi menarik EARS Tahun kedua!

DSC_0305

Preparing for survey in Bitung Tengah

Before we get anywhere with EARS activities, we need an objective picture of the community that we’re going to approach. Hence, the survey! Survey results will be the baseline for our EARS Year 2 activities in Airmadidi and Bitung and the comparison to measure the results of our campaign. Our survey team is now 8 people strong (including
Yunita and myself) and has been on the road since early October. We’re about to start our 7th week of surveys and after interviewing over 700 respondents between us, we have plenty of stories to tell!

Sebelum kami melanjutkan dengan kegiatan EARS, kami membutuhkan gambaran yang objektif dari masyarakat yang akan kami dekati. Karena itu, survey! Hasil dari survey akan menjadi dasar dari kegiatan EARS tahun ke dua di Airmadidi dan Bitung serta perbandingan untuk mengukur hasil dari kampanye kami. Tim survey kami saat ini ada delapan orang yang kuat (termasuk Yunita dan saya sendiri) yang sudah berjalan sejak awal Oktober. Saat ini kami segera memulai survey minggu ke 7 dan setelah mewawancarai lebih dari tujuh ratus responden, kami memiliki banyak sekali hal untuk diceritakan.

We kicked off the survey with Airmadidi and interviewed respondents in Airmadidi Atas, Airmadidi Bawah, Sarongsong 2 and Sampiri. These sub-districts were enormous, and looking for respondents involved a lot of walking! Each surveyor was allocated a certain number of respondents a day. Sometimes we were allotted respondents in different neighborhoods, and thanks to recent changes, consecutive neighborhoods may actually be situated on opposite ends of the sub-district. The majority of respondents are blue- and white-collar workers with minimum exposure to the “environment,” though some showed concern for environmental issues.

This yaki information banner is handed to each head of the village and head of the district (camat) in our survey areas

This yaki information banner is handed to each head of the village and head of the district (camat) in our survey areas

Kami memulai survey dengan Airmadidi dan mewawancarai responden di Airmadidi Atas, Airmadidi Bawah, Sarongsong 2 dan Sampiri. Kecamatan-kecamatan ini sangat besar, dan mencari responden memerlukan banyak berjalan kaki! Setiap surveyor diberi jatah responden di lingkungan yang berbeda-beda, dan terima kasih pada perubahan baru-baru ini, lingkungan yang berurutan bisa terletak pada akhir yang berlawanan dari kecamatan. Responden mayoritas pekerja dengan pekerja kantoran maupun wiraswasta dengan minimnya paparan tentang lingkungan, namun beberapa menunjukkan kepedulian tentang isu-isu lingkungan.

Bitung, on the other hand, was quite a different situation. The neighborhoods were very dense, the maze of side-streets was complicated, and the community also housed mostly blue- and white-collar workers. The people here, however, were much more aware of the environment, with Tangkoko-Duasudara Nature Reserve and Aertembaga Park virtually around the corner. The general location of our survey spots is also more diverse – aside from the busy downtown sub-districts, we will also be visiting villages that directly border Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, with a lifestyle that resembles our EARS Year 1 areas much more closely than the other spots of our EARS Year 2 survey. Another interesting village in Bitung that we’ve already surveyed is located on the island of Lembeh, a 10-minute ferry ride away from Bitung. It is popular belief that yaki populations on Lembeh have gone extinct. However, we heard differently… But only the results can tell for sure, so stay tuned for future updates!

Surveyors Ance and Donny - this calendar will be handed out to each of our 1135 respondents!

Surveyors Ance and Donny – this calendar will be handed out to each of our 1135 respondents!

Bitung, di sisi lain, memiliki situasi yang berbeda. Lingkungannya sangat padat, lorong-lorong jalan sangat membingungkan, dan masyarakat juga kebanyakan pekerja kantoran atau wiraswasta. Orang-orang di sini, bagaimanapun juga lebih sadar akan lingkungan, dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara dan Taman Aertembaga yang terlihat di sekitar. Titik-titik lokasi survey kami umumnya lebih bervariasi-disamping pusat kota yang sangat sibuk, kami juga akan mengunjungi kelurahan-kelurahan yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, dengan gaya hidup yang menyerupai area di EARS tahun pertama yang lebih mirip dibandingkan titik-titik lainnya. daerah menarik lain yang sudah kami survey terletak di Pulau Lembeh, sekitar sepuluh menit menyebrang dengan kapal ferry dari Bitung. Ada kepercayaan umum bahwa populasi yaki di Lembeh telah hilang. Namun, kami mendengar sebaliknya… Namun hanya hasil yang dapat menyebutkan dengan tepat, maka tetap ikuti pembaharuan kami di masa yang akan datang!We have three more sub-districts to survey, and just over 300 respondents to interview – it’s time for me to dive back into surveys!

Time for a group picture in stunning surroundings!

Meet our survey team! Caroline, Thirza, Linda, Yunita, Ruth, Ance, Donny, Yata and Idrus!

Kami masih punya tiga kecamatan untuk disurvey, dan hanya lebih dari 300 responden untuk diwawancarai – sudah saatnya saya menyelam kembali ke survey!

This slideshow requires JavaScript.