Yaki hampir punah: Gereja harus bertindak

This slideshow requires JavaScript.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik (hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia) Sulawesi Utara, dan keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis sampai 80%. Keadaan ini disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah diubah menjadi perkebunan bahkan perumahan, sehingga tidak ada lagi tempat untuk bernaung. Selain perambahan hutan ancaman lain yang menyebabkan penurunan populasi adalah karena perburuan. Alasan perburuan sering yang terjadi  adalah karena yaki dianggap hama, untuk dipelihara, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi.

Yaki or Macaca nigra, is one of North Sulawesi’s endemic (found only in one place and nowhere else in the world) species and their existence is currently at a very alarming state. In the period of the last 40 years, yaki population has declined drastically to 80%. This situation is caused by forests in which the yaki live having been turned into farming fields, even housing estates, eliminating places for shelter. Other than the threat of encroachment, threats that cause population decline is hunting. Reason as to why hunting often happens is because yaki are considered as pests, pets and the most common reason especially in North Sulawesi, is consumption.

Pada tanggal 15 Juli 2014, di Pa’Dior YISBSU Tompaso, Yayasan Selamatkan Yaki mengadakan workshop bertajuk Torang Bacirita:Green Gospel (TBGG), yang dihadiri oleh Pendeta, Pastor, dan Hamba Tuhan di tingkat Sinodal atau Majelis Daerah, dan turut mengundang Departemen Agama dan pemerhati lingkungan yang ada di sekitar Tomohon dan Langowan. Workshop ini dilaksanakan dalam rangka Kampanye Kebanggan Yaki oleh Yayasan Selamatkan Yaki. Keterlibatandari pihak gereja dalam menyebarkan pesan konservasi sangat diperlukan mengingat bahwa penduduk Minahasa yang oleh umat Kristiani, sehingga gereja memiliki peran yang sangat krusial di tengah masyarakat; itulah yang melandasi TBGG ini dilaksanakan. 

On July 15th 2014, Selamatkan Yaki foundation held a workshop at Pa’Dior YISBSU Tompaso, titled Torang Bacirita: Green Gospel (TBGG), attended by Reverends, Pastor and Servants of the Lord (Hamba Tuhan) in the Sinodal or Regional Assembly level and also invited the Department of Religion and other environmentalists around Tomohon and Langowan. This workshop was conducted as a part of the Yaki Pride Campaign by Selamatkan Yaki. The involvements of the church in spreading conservation messages is desperately needed, given the fact that the majority of Minahasa people are Christians, giving the church a crucial role within the community; it is the reason under which TBGG was implemented.

Sudah saatnya gereja langsung bertindak nyata menyelamatkan semua ciptaan Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satu peran gereja di tengah dunia adalah mengubah masyarakat dari konsumsi tinggi menjadi penyelamat dan penjaga lingkungan. Ini adalah perwujudan dari amanat agung yang diemban oleh seluruh umat manusia, yaitu untuk menjaga dan mengusahakan bumi, bukannya merombak dan mengeksploitasi berlebihan.

It is time for churches to take real action in saving all of God’s creations that are very meaningful for human lives. One of the church’s roles in the world is to change society’s habit of high consumerism into being the savior and stewards of the environment. It is the embodiment of the great and holy mandate that is carried by all mankind, which is to maintain and manage the Earth, not to destroy and exploit redundantly.

Workshop dalam bentuk diskusi ini didahului dengan pemaparan materi dari peneliti dan ahli primata, serta tokoh rohaniawan Sulawesi Utara. Dari seminar ini diharapkan akan terbentuk komitmen bersama dari pimpinan gereja dalam penyusunan materi pelayanan yang lebih meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya pelestarian dan perlindungan terhadap ciptaan Tuhan, terlebih khusus satwa endemik Sulawesi Utara Macaca nigra sebagai satu bentuk pernyataan iman kristiani.

This workshop that was organized in the form of discussions was preceded by talks given by researchers and primate experts, as well as religious icons of North Sulawesi. Through this seminar, joined-commitments are expected to be formed by leaders of churches with regards to preparations of service materials that will heighten awareness within the community about the importance of preservation as well as protection of God’s creations, especially the endemic species of North Sulawesi that is the Macaca nigra, as a form of statement of the Christian faith.

This slideshow requires JavaScript.

Stan Informasi untuk selamatkan yaki – Information stands to save the yaki!

Bulan lalu, sekelompok siswa asal Jakarta yang melakukan study tour dikejutkan dengan pemandangan seekor yaki, yang tampaknya belum lama mati, tergantung di atas salah satu meja penjual di Pasar Tomohon. Penjual-penjual sekitar tidak merasa bahwa ini adalah pemandangan yang tidak wajar. Bahkan, salah seorang sopir angkot berkata bahwa daging yaki dikonsumsi hampir setiap hari oleh beberapa orang.Masyarakat yang mengkonsumsi yaki secara teratur mungkin sedikit, tapi jumlah yang sedikit ini cukup untuk menekan populasi yaki hingga hampir punah.

Some time ago, a group of students from Jakarta visited the Tomohon Market as part of their study tour. They were shocked to see a yaki, which looked like it had recently died, hanging above one of the seller’s stalls. Other sellers did not seem to think that the sight was unusual. One angkot driver even said that yaki meat was consumed almost daily by some people. Despite this, it seems that only a few particular people still regularly eat yaki, but this is still enough to bring these animals close to disappearing forever.

20140607_080821_

Yaki adalah monyet sangat terancam namun masih dapat ditemukan di pasar-pasar di Sulawesi Utara, seperti yang tampak di pasar Tomohon. Despite that the Macaca nigra is Critically Endangered, this primate can still be seen for sale on the traditional markets in North Sulawesi, such as the market in Tomohon in the photo.

Meskipun sebagian masyarakat mengklaim masih sering melihat yaki liar, hal ini tidak bisa dijadikan tolak ukur populasi mereka di hutan tersebut, apalagi di Sulawesi Utara secara keseluruhan. Biasanya masyarakat hanya menjumpai satu kelompok yaki secara berulang kali sehingga mereka mendapat kesan jumlah yaki di hutan tersebut masih banyak. Padahal menurut penelitian, populasi yaki di Sulawesi Utara kini tersisa kurang dari 5.000 ekor, dengan 2.000 ekor di antaranya hidup di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara. Jumlah ini adalah hasil dari penurunan populasi sebesar 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun yaki dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Even though people claim that yaki sightings happened frequently, this does not represent their population in that particular forest, let alone the entire North Sulawesi. People often spot one yaki group repeatedly, giving the impression of an abundant population in the forest, whereas research shows that there are less than 5.000 yaki remaining in North Sulawesi, 2.000 of which can be found in Tangkoko-Duasudara Nature Reserve. These numbers are the result of an 80% population decline over the past 40 years, despite the fact that yaki are protected under UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Menanggapi kenyataan ini, Selamatkan Yaki bekerjasama dengan P.D. Pasar Langowan dan Tomohon akan mengadakan stan informasi di Pasar Langowan pada tanggal 5 dan 12 Juli, diikuti Pasar Tomohon pada tanggal 26 Juli dan 2 Agustus. Tanggal-tanggal ini sengaja dipilih mengingat ini merupakan hari pasar yang ramai, baik di Langowan maupun Tomohon. Apalagi tanggal-tanggal ini adalah hari pasar menjelang masing-masing Pengucapan Minahasa dan Tomohon, sehingga bisa dipastikan animo membeli masyarakat lebih tinggi dari biasanya.

To address this issue, Selamatkan Yaki will collaborate with the market officials of Langowan and Tomohon and open information stands in the markets of Langowan on July 5th and 12th, followed by Pasar Tomohon on July 26th and August 2nd. The dates were chosen to coincide with the major market days in both Langowan and Tomohon. Each set of dates also happen to be market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, respectively, so market activity will be higher than usual.

Langowan 121213 (79)

The Selamatkan Yaki team raising awareness through information stands near the markets of Langowan and Tomohon last December around Christmas time.

Pengucapan di Minahasa dan Tomohon terkenal dengan acara ramah tamah yang menyajikan berbagai jenis makanan, dan satwa liar yang terancam punah, salah satunya yaki, pun termasuk dalam deretan hidangan yang bisa ditemui. Kami memilih hari pasar menjelang Pengucapan dengan harapan bisa meyakinkan masyarakat untuk tidak membeli dan menghidangkan daging satwa liar, terutama yaki. Di stand informasi ini, masyarakat bisa bertanya pada tim Selamatkan Yaki mengenai yaki dan habitatnya dan langsung mendapat jawaban yang jelas dan memiliki dasar ilmiah. Ini akan berguna untuk meluruskan pendapat-pendapat subjektif dan menggerakan masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan hidup pada umumnya dan yaki pada khususnya.

Thanksgiving celebrations in Minahasa and Tomohon are known for meals serving various types of food, with endangered animals, one of them the yaki, being part of the menu. The market days preceding Thanksgiving were chosen in the hopes that we convince people to abstain from buying and serving bushmeat, particularly yaki. In these information stands, people can ask the Selamatkan Yaki team about the yaki and their habitat and get direct, well-informed answers. This will help clarify subjective opinions and hopefully motivate people to care about the environment, especially the yaki.

Populasi satwa liar bukannya tidak terbatas; konsumsi terus menerus dari masyarakat, ditambah perambahan hutan yang tidak terkendali, akan mendorong jenis-jenis satwa ini semakin dekat ke ambang kepunahan. Hal ini terutama mengkhawatirkan bagi satwa endemik, seperti yaki, yang tidak bisa ditemui di luar Minahasa. Yaki menyebarkan biji dari 145 jenis buah yang tumbuh di hutan, dengan demikian membantu pertumbuhan mereka dan menjamin hutan yang sehat, yang pada akhirnya akan menguntungkan manusia. Apabila mereka punah, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan mereka atau mengganti peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Alangkah baiknya jika kita bangga dan aktif melindungi alam Sulawesi Utara kita, demi kebaikan kita dan anak cucu kita.

Wildlife populations are not unlimited; continuous consumption of endangered species, along with uncontrolled habitat encroachment, will push species even closer to the brink of extinction. This is particularly worrying for endemic species, like the yaki, that cannot be found outside of Minahasa. The yaki distributes the seeds of 145 different fruits that grow in the forest, thus assisting their growth and ensuring a healthy forest, which in turn will benefit humans. If they go extinct, there is nothing that we can do to bring them back or replace the role they play in maintaining the balance of our ecosystem.  We should be proudly and actively protecting the nature in North Sulawesi, for our own and our children’s benefits.

Stan informasi di Langowan Desember 2013

Untuk masa depan anak-anak kita, kita perlu melindungi hutan dan semua satwa yang tinggal di dalamnya. For the future of the next generation, our children, we need to conserve the forests and all animals in it.

Update kegiatan Selamatkan Yaki di Tangkoko

IMG_2184_

Kadis Pariwisata Bitung sedang menyampaikan presentasi tentang tugas pramuwisata. | Bitung’s head of Tourism giving a talk about the duties of tour guides.

Tangkoko Rejuvenation Program (TRP) merupakan salah satu aktivitas dari Selamatkan Yaki dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Pengembangan Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekitar Tangkoko.
Tangkoko Rejuvenation Program (TRP) is one of Selamatkan Yaki’s activities, aimed to increase conservation area management and protection of the biodiversity that inhabits it. The development of Forest Conservation Community Forums (Forum Masyarakat Konservasi Hutan – FMKH) is one such effort to increase the involvement of people living around Tangkoko.

DSCN3682

Pertemuan FMKH di Kasawari. |FMKH meeting in Kasawari.

Pada bulan Mei dan Juni telah dilakukan pertemuan FMKH pertama di kelurahan Winenet Satu, Duasudara, Pinangunian, Kasawari dan Batuputih Bawah. Pertemuan yang sukses dilaksanakan ini mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah setempat. Peserta sangat antusias dalam berdiskusi dan mengusulkan saran-saran untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Saran-saran yang disampaikan antara lain: Peta kawasan yang berisi informasi batas kawasan dan lokasi kantor/resort pengelola, Banner/baliho spesies yang dilindungi, sosialisasi dari pengelola, pengawasan hutan, peningkatan taraf ekonomi masyarakat, dan cara menghindari/mengatasi konflik antara manusia dan satwa.
DSCN3672In May and June, the first FMKH meeting was held in Winenet Satu, Duasudara, Pinangunian, Kasawari and Batuputih Bawah. These successful meetings resulted in support from communities and the local government. The participants were very enthusiastic in their discussing and brainstorming ideas to increase the awareness and involvement of communities in managing Tangkoko-Batuangus Nature Reserve. Among the ideas suggested were maps of the area with clearly marked boundaries and management offices, information boards of protected species, socializations from managing entities, forest patrols, support for local economy, and techniques to avoid/resolve human-animal conflict.

IMG_9610_refresh training_

Pak Yunus dan Israel sedang latihan penggunaan GPS. | Mr. Yunus and Israel practicing their GPS-handling skills.

Pelatihan refresher training terhadap polisi hutan di resort Batuputih dilakukan untuk mengingatkan kembali cara penggunaan GPS dan pengisian tally-sheet seperti yang pernah diajarkan pada pelatihan polisi hutan pada awal April lalu. Kedua alat ini akan sangat bermanfaat untuk mendata, mengidentifikasi dan melaporkan hasil temuan baik potensi maupun ancaman yang ada di kawasan. Penggunaan yang berulang-ulang akan memudahkan para petugas dalam menguasai peralatan yang digunakan kegiatan pengelolaan kawasan. Hal ini sama seperti yang disampaikan oleh para petugas, agar pada saat pelaksanaan patroli sudah tidak ada lagi permasalahan terkait dengan cara pengoperasiannya.
DSCN3708-2A refresher training course for forest patrols in Batuputih was held to keep the officers up to speed on GPS and tally-sheet use, building on the training held last April. Both these tools are very useful in collecting data, identifying and reporting threats, both potential and tangible, inside the conservation area. Repeated use will help officers in mastering their use and adapting it to area management practices. As the officers have already testified, these activities helped them avoid problems due to mishandling equipment during patrols.

 

Pertemuan FMKH di Pinangunian. |FMKH meeting in Pinangunian.

Pertemuan FMKH di Pinangunian. |FMKH meeting in Pinangunian.

Pada bulan Juni ini juga Selamatkan Yaki telah memfasilitasi Diskusi Pengembangan Pariwisata dan Kelompok Pemandu TWA Batuputih dan TWA Batuangus. Diskusi yang dilaksanakan di kantor Dinas Pariwisata kota Bitung dan dihadiri oleh Kepala Dinas dan staff Dinas Pariwisata Kota Bitung, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 dan staff BKSDA Sulut, HPI Bitung, Pemandu Wisata Batuputih, Pemandu Wisata Batuangus, Lembeh Hill Resort, dan Macaca Nigra Project. Kepala SKW 1 mempresentasikan Kebijakan Pariwisata di Kawasan Konservasi dan Kadis Pariwisata mempresentasi Tugas Pramuwisata, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok membahas: Sistem Pemanduan saat ini, Pengembangan Sistem Pemanduan dan Strategi Pengembangan Wisata di Batuangus.
In June, Selamatkan Yaki facilitated a Discussion on Tourism and Guide Development in Batuputih Nature Recreation Park and Batuangus Nature Recreation Park. Discussions were held in the Tourism Department of Bitung and attended by the head and staff of the Tourism Department of Bitung, head of Area 1 Conservation Section (SKW 1) and staff from North Sulawesi’s BKSDA, HPI Bitung, Batuputih tour guides, Batuangus tour guides, Lembeh Hill Resort, and Macaca Nigra Project. The head of SKW 1 presented the Policies of Tourism in Conservation Areas and the head of the Tourism Department presented Duties of Tour Guides, followed by group discussions on: Current Guiding Systems, Development of Guiding Systems and Tourism Development Strategies in Batuangus.

IMG_2191_

Foto bersama setelah diskusi di Dinas Pariwisata. | Group photo after the discussion in the Tourism Department.

 

Diskusi kelompok menghasilkan beberapa masukan terkait pengembangan pariwisata di taman wisata alam, antara lain: pembangunan fasilitas pusat informasi, penerapan kode etik, peningkatan kapasitas pemandu khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan mempromosikan potensi wisata Batuangus. kelompok pemandu Batuputih akan melaksanakan diskusi dengan melibatkan lebih banyak pemandu untuk mematangkan hasil diskusi ini, dan akan dikonsultasikan dengan Kadis Pariwisata serta Kepala BKSDA kemudian akan dilakukan penandatanganan bersama untuk mengawal pelaksanaannya.
Group discussions resulted in several recommendations regarding the development of tourism in nature recreation parks, among them: the construction of information centers, enforcement of code of conduct, capacity building for guides, particularly English skills and promoting the tourism attractions in Batuangus. Batuputih guides will hold a discussion involving more guides to finalize this discussion. The results will be reviewed by the head of the Tourism Department and head of BKSDA before being signed and approved.

Di Inggris: Demi Selamatkan Yaki, 1 hari mendaki 3 gunung

Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Jodie Dryden, Zookeeper at Drusillas Park, training for the Three Peaks Challenge

Jodie Dryden, Penjaga Kebun Binatang Drussilas Park, berlatih untuk Tantangan Tiga Puncak

Sepuluh orang pekerja kebun binatang dari lima Kebun binatang di Inggris, mengadakan penggalangan dana untuk bantu menyelamatkan satwa Macaca nigra atau Yaki. Kegiatan ini dinamakan “Tantangan Tiga Puncak 2014” dimana mereka akan mendaki Gn. Ben Nevis (Skotlandia), Gn. Scafell Pyke (Inggris) dan Gn. Snowdon (Wales), dalam jangka waktu 24 jam, dengan total berjalan kaki 13 jam, sejauh 43km rute naik turun 2900mdpl pada tanggal 5 Juli nanti.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik Sulawesi Utarayang artinya hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia,namun keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis lebih dari 80%. Yaki terdaftar sebagai salah satu satwa sangat terancam punah oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Penurunan populasi disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah dialih fungsikan menjadi perkebunan bahkan perumahan, dll. Ancaman lainnya yaitu perburuan karena sebagian orang menganggap Yaki sebagai hama, selain itu dianggap lucu untuk dijadikan binatang peliharaan, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi. Perlu untuk diketahui bawah menurut UU.No. 5 Thn.90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Yaki adalah satwa yang dilindungi.

The Sulawesi crested black macaque, locally known as yaki, is a charismatic primate which only occurs in North Sulawesi, nowhere else in the world!

Monyet hitam Sulawesi, disebut orang lokal sebagai yaki, adalah primata karismatik yang hanya terdapat di Sulawesi Utara, tidak ada di tempat lain di dunia!

Para pekerja kebun binatang yang disebut Zoo Keeper ini nekat mengadakan pendakian gunung hanya dalam 1 hari, karena perhatian mereka terhadap pelestarian satwa liar yang sangat besar. Jodie Dryden, cewek imut yang bekerja sebagai penjaga kebun binatang Drusillas Park Inggris, sebagai koordinator kegiatan ini sangat aktif dan antusias dalam meningkatkan kesadaran bahkan penggalangan dana demi mendukung kegiatan konservasi yaki. Setelah kunjungannya di Taman Wisata Alam Batuputih Bitung setahun silam, ia berjanji akan terus berusaha berpartisipasi dalam konservasi yaki bersama tim Selamatkan Yaki yang ada di Manado demi pelestarian satwa yang hampir punah ini.

DSC00611

Spanduk ini akan dibawa ke puncak Gn. Ben Nevis, Gn. Scafell Pyke dan Gn. Snowdon

Kegiatan yang dilakukan oleh orang “luar” ini sangatlah patut untuk diacungkan jempol bahkan diteladani. “Sebagai seorang minahasa Asli, saya merasa merasa terharu dengan apa yang mereka lakukan. Bentuk kecintaan mereka terhadap satwa yang notabene bukan milik  mereka itu langsung mereka buktikan dengan penggalangan dana untuk membantu rekan mereka yang bekerja di Manado Indonesia. Adalah menjadi suatu perenungan bagi kita orang SULUT, jika mereka begitu peduli dengan Satwa milik kita, bagaimana dengan kita?  Sejauh manakah kepedulian kita terhadap lingkungan kita, hutan kita satwa kita? Masih banyak PR kita, masih banyak kerja kita, masih butuh banyak dukungan orang SULUT,  untuk pelestarian Yaki kita, pelestarian alam Indonesia kita,  untuk bumi kita”, kata Yunita Siwi, Education Officer Selamatkan Yaki.

Ikuti Jodie dan timnya serta terus perbaharui berita tentang Tantangan Tiga Puncak melalui Facebook dan Twitter Selamatkan Yaki! Apakah Anda ingin membantu menjaga yaki bersama banyak spesies lain di hutan hujan Sulawesi Utara? Ikuti link ke website Three Peaks Fundraiser

All expedition members are wearing T shirts with this logo: Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Semua anggota ekspedisi akan mengenakan T shirt dengan logo: Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Conquering three mountains to save the Sulawesi crested black macaque!

Three Peaks Challenge 2014

10295554_659620967437553_6066883768323145888_o
Jodie Dryden, Zookeeper at Drusillas Park, training for the Three Peaks Challenge.

Ten zookeepers from five zoos across the United Kingdom have swapped their zookeeping role for the mountains, in a bid to raise both funds and awareness for the Critically Endangered monkey Macaca nigra. During this Three Peak Challenge on July 5th they will climb Mt. Ben Nevis (Scotland), Mt. Scafell Pyke (England) and Mt. Snowdon (Wales), in a period of just 24 hours, with a total of 13 hours walking, the 27 mile route ascending/descending 2900m.

North Sulawesi is home to an incredible diversity of plant and animal species, with one of the highest levels of endemism (species unique to the area) in the world. However, due to hunting, forest loss and the pet trade many of these unique species are under threat. One of the most threatened is the Sulawesi crested black macaque – known locally as yaki. Restricted to small forest fragments in the Northern tip of the island, these monkeys have experienced an estimated population decline of more than 80% in the last 40 years, and are now Critically Endangered and in urgent need of protection.

AWalmsley-Yaki-015

The Sulawesi crested black macaque, locally known as yaki, is a charismatic primate which only occurs in North Sulawesi, nowhere else in the world!

The star behind the Three Peak Challenge is Jodie Dryden, zookeeper at Drusillas Park, UK. In 2013, Jodie went to see the Macaca nigra in the wild and volunteered at Selamatkan Yaki, a conservation programme in Manado, North Sulawesi, which focuses on the protection of this species and its habitat.

Selamatkan Yaki is a programme through the Whitley Wildlife Conservation Trust based at Paignton Zoo in the UK, comprising a strong collaboration of partners, with support and cooperation from key stakeholders. By focussing on protected area management, ecotourism, community development, education and awareness-raising the programme aims to reduce the threats to the species.

DSC00611

This banner which will be taken to the summits of Mt. Ben Nevis, Mt. Scafell Pyke and Mt. Snowdon

Yunita Siwi, Education Officer for Selamatkan Yaki, said “This event organised by foreigners deserves a big thumbs-up and should be an example for us all. As a native Minahasan, I am moved by their actions. Their love for these macaques is proven through fundraising for our programme in Manado, Indonesia. This should be food for thought for us; if they care so much for our animals, what about us? How much do we care for our environment, our forests, our wildlife? There is still much work to be done, much support needed from the people of North Sulawesi, for the conservation of our yaki, our Indonesian nature, and our earth.”

“We are excited about this event”, says Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator for Selamatkan Yaki, “as these zookeepers are taking on this daring 1-day climb illustrating their great support of wildlife conservation. After Jodie’s stay with us over a year ago, she has grasped every opportunity to raise awareness and funds for the Sulawesi crested black macaque and help our Selamatkan Yaki team in our plight to save this endangered primate. She is an inspiration to all.”

three peaks

All expedition members are wearing T shirts with this logo: Selamatkan Yaki – Three Peaks Challenge 2014

Follow Jodie and her team and stay updated on the Three Peaks Challenge through Selamatkan Yaki –  Facebook and Twitter! Would you like to help safeguard the yaki alongside many other species in the North Sulawesi rainforests? Follow the link to the Three Peaks Fundraiser website (click).  

Seminar “Biodiversity conservation: Selamatkan Yaki” at UNSRAT

Hello everyone!

We would like to share with you an amazing morning, organised by Dr. Wiske Rotinsulu, from Environmental Studies Center (PPLH-SDA), Sam Ratulangi University Manado (UNSRAT): A seminar themed “Biodiversity Conservation: Selamatkan Yaki”! We were very honoured to be invited as speakers at this event!
Kami ingin bercerita tentang acara luar biasa yang kami ikuti, yang diselenggarakan oleh Dr. Wiske Rotinsulu dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH-SDA) Universitas Sam Ratulangi Manado (UNSRAT): seminar bertajuk “Biodiversity Conservation: Selamatkan Yaki!” Kami merasa tersanjung diundang menjadi pembicara di kegiatan ini!

DSC_0051

At the same day and time, there was another happening, organised by our partners Tangkoko Conservation Education (TCE). So our team split up: Edies and Yunita were attending TCE’s end of year event which was held at Tasikoki and Caroline and I headed towards UNSRAT. We were very lucky to have Jurriaan and Prisi joining us! They were helping us record the event through photography and video. Our audience were 120 university students and 25 lecturers, which required a different talk than the last one Caroline and I did (remember our talk at the elementary school at Manado Tua?).

We did not expect the room to be so full. The students even added extra chairs in the back so they could sit! | Kami tidak menduga ruangannya akan penuh. Para mahasiswa bahkan menambah kursi agar mereka bisa duduk!

We did not expect the room to be so full. The students even added extra chairs in the back so they could sit! | Kami tidak menduga ruangannya akan penuh. Para mahasiswa bahkan menambah kursi agar mereka bisa duduk!

Pada hari dan waktu yang sama, ada kegiatan lain yang diselenggarakan partner kami, Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT). Karena itu, kami membentuk dua tim: Edies dan Yunita menghadiri kegiatan tutup tahun PKT di Tasikoki, sementara saya dan Caroline menuju UNSRAT. Kami sangat beruntung Jurriaan dan Prisi bisa bergabung dengan kami! Mereka membantu kami mendokumentasikan acara melalui foto dan video. Peserta seminar ini terdiri dari 120 mahasiswa dan 25 dosen, sehingga kami membutuhkan materi yang berbeda dengan materi sosialisasi terakhir kami (masih ingat sosialisasi di SD di Manado Tua?).

DSC_0047

Dr. Wiske Rotinsulu, the organizer of this event. | Dr. Wiske Rotinsulu, penyelenggara acara ini.

We were warmly welcomed by Wiske and her team in a beautiful auditorium. After setting everything up, it was time to be introduced. Professor Ir. Dantje T. Sembel, Director of International Affairs, made an opening speech expressing his thanks for our attendance and the importance of biodiversity conservation. His colleague Professor Doddy Sumajow, the Vice Rector of Planning, Supervision and Collaboration followed, also welcoming our team to the university.

Opening remarks by Professor Dantje Sembel and Professor Doddy Sumajow. | Kata-kata sambutan dari Professor Dantje Sembel dan Professor Doddy Sumajow.

Opening remarks by Professor Dantje Sembel and Professor Doddy Sumajow. | Kata-kata sambutan dari Professor Dantje Sembel dan Professor Doddy Sumajow.

Wiske dan timnya menyambut kami dengan hangat di auditorium yang indah. Setelah persiapan selesai, tiba saatnya kami diperkenalkan. Professor Ir. Dantje T. Sembel, Director of International Affairs, memberi sambutan dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran kami dan betapa pentingnya konservasi biodiversitas. Professor Doddy Sumajow, Pembantu Rektor Bidang Perencanaan, Pengawasan dan Kerjasama pun turut memberi sambutan.

DSC_0058Then it was showtime! :-) After an introduction to our team, including the many brilliant volunteers we work with, and an overview of our programme, we gave a look behind the scenes of… EARS!
Saatnya pertunjukan dimulai! :-) Setelah memperkenalkan tim kami, termasuk para sukarelawan kami yang hebat, dan ringkasan program kami, kami membahas kisah di balik layar… EARS!

DSC_0138Most of you probably already know our Education and Awareness Raising Strategy (EARS) and how we have taken the first step in implementing this strategy by organising our first Yaki Pride Campaign in 2013 for the areas of Tomohon and Langowan. During this talk, we not only gave an overview of our campaign activities so far and our future plans, but also explained about why we chose these activities. Remember that we did a survey interviewing almost 800 respondents during the months September to October last year? Well, this gave us information about the current state of the communities’ knowledge, attitudes and behaviours towards the hunting, consumption and trading of Macaca nigra (yaki). After this, we organised a conservation workshop and invited all community leaders of our campaign areas. We involved heads cultural, religious and educational institutes as well as heads of the districts (i.e. camats) and heads of the traditional markets. These people are the faces and voices of our campaigns. For example, Ibu Syske Wongkar, head of the district (kecamatan) of West Tomohon, who is featured on one of our campaign billboards. Watch our interview with her below!
DSC_0123Kalian mungkin sudah tahu mengenai Education and Awareness Raising Strategy (EARS)
 kami dan bagaimana kami mengambil langkah pertama dalam menerapkan strategi ini dengan menyelenggarakan Kampanye Kebanggaan Yaki 2013 di Tomohon dan Langowan. Kami tidak hanya membahas kegiatan kampanye kami sekarang dan yang akan datang, kami juga menjelaskan alasan di balik kegiatan-kegiatan ini. Masih ingat dengan survei kami yang pada hampir 800 responden bulan September hingga October tahun lalu? Survei ini memberi kami gambaran terbaru mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap perburuan, konsumsi dan perdagangan Macaca nigra (yaki). Setelah survei ini, kami menyelenggarakan workshop konservasi dan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dari area kampanye kami. Kami melibatkan kepala lembaga-lembaga masyarakat, pendidikan dan agama, juga para camat dan kepala pasar. Merekalah yang menjadi wajah dan suara kampanye kami. Contohnya, Ibu Syske Wongkar, camat Tomohon Barat, tampil dalam salah satu billboard kampanye kami. Simak wawancara kami dengannya di bawah!

Based on the recommendations of the community leaders, and based on our survey results, we developed our campaign plan. But that’s not all we revealed! Did you know that there is an international organisation, named RARE, who are training conservationists community-based solutions for global conservation? Together, they have already implemented more than 200 Pride Campaigns in more than 50 different countries around the world! Amazing, right? RARE actually has a wonder formula, which they call the “Theory of Change”, see it here:
Berdasarkan rekomendasi dari para tokoh masyarakat serta hasil survei kami, kami mengembangkan rencana kampanye kami. Tapi bukan cuma itu yang kami jelaskan! Tahukah kamu bahwa ada sebuah organisasi internasional bernama RARE yang melatih ahli-ahli konservasi mengenai solusi konservasi global yang berbasis masyarakat? Mereka telah menerapkan lebih dari 200 Kampanye Kebanggaan di lebih dari 50 negara di seluruh dunia! Luar biasa, bukan? RARE memiliki rumus ajaib, yang mereka namakan “Theory of Change” (Teori Perubahan), seperti yang bisa dilihat di bawah:

RARE's Theory of Change (adapted by SY)

In the figure you see (1) Knowledge (K) – which stands for increasing people’s awareness of nature around them and how their behaviour affects it, (2) Cause a shift in attitudes (A) by talking to people on an emotional level about the personal, cultural and economic benefits of protecting nature, (3) Interpersonal communication (IC) – Get people talking to each other about the conservation issues and (4) identify possible barriers (BR) that are prohibiting behavior change. With focusing on these four aspects and by promoting sustainable alternatives, we can trigger behaviour change which will lead to threat reduction and our desired conservation result: a self-sustaining population of Macaca nigra in the wild, valued and protected by local communities!
Pada gambar di atas, kita bisa melihat (1) Knowledge/Pengetahuan (K) – yang mewakili kesadaran masyarakat mengenai alam sekitar mereka dan bagaimana perilaku mereka berdampak pada alam (2) Cause a shift in attitudes/Perubahan sikap (A) melalui berbicara dengan orang lain secara personal mengenai manfaat pribadi, budaya dan ekonomi dari perlindungan alam, (3) Interpersonal communication/Komunikasi intrapersonal (IC) – Membuat masyarakat saling berbincang mengenai isu konservasi dan (4) identify possible barriers/mengidentifikasi penghambat potensial (BR) yang menghambat perubahan perilaku. Dengan fokus pada empat aspek ini dan mempromosikan alternatif yang berkelanjutan, kita dapat memicu perubahan perilaku yang akan berkembang menjadi penurunan ancaman dan tercapainya tujuan konservasi yang kami harapkan: populasi Macaca nigra yang sehat di alam liar, dihargai dan dilindungi oleh masyarakat lokal!

Would you like to know more about RARE? We recommend you to visit their website and find information about the many conservationists that have implemented a Pride Campaign to help an endangered species, like the yaki, that is in need of protection!
Ingin tahu lebih banyak mengenai RARE? Kami sarankan Anda mengunjungi situs mereka dan mencari informasi mengenai para ahli konservasi yang telah menerapkan Kampanye Kebanggaan untuk membantu sebuah spesies yang terancam punah, seperti yaki, dan perlu dilindungi!

10433526_10100932921646578_596363328_o

Group photo with the lecturers and some of the students. | Foto bersama para dosen dan beberapa mahasiswa.

We would like to give thanks to Dr. Wiske Rotinsulu and her team for organizing this event, Dr. Saroyo who helped us answer questions, as well as Professor Ir. Dantje T. Sembel, Director of International Affairs and Professor Doddy Sumajow, the Vice Rector of Planning, Supervision and Collaboration of UNSRAT. A big thank you to all students and lecturers for participating in this conservation seminar! We hope that we continue collaborating with UNSRAT’s lecturers and students, so please don’t hesitate to contact us for if you have any ideas, questions or upcoming events! Lastly, we would like to thank Jurriaan and Prisi for teaming up!
Kami ingin berterima kasih pada Dr. Wiske Rotinsulu dan tim yang telah menyelenggarkan kegiatan ini, Dr. Saroyo yang membantu kami menjawab pertanyaan, juga Professor Ir. Dantje T. Sembel, Director of International Affairs dan dan Professor Doddy Sumajow, Pembantu Rektor Bidang Perencanaan, Pengawasan dan Kerjasama UNSRAT. Terima kasih banyak pada
para mahasiswa dan dosen yang turut serta dalam seminar konservasi ini! Kami berharap bisa terus bekerjasama dengan mahasiswa dan dosen UNSRAT, jadi jangan sungkan untuk menghubungi kami bila ada ide, pertanyaan, atau kegiatan lain! Kami juga ingin berterima kasih pada Jurriaan dan Prisi yang bergabung!

Salam Lestari,
Thirza

This slideshow requires JavaScript.

 

Selamatkan Yaki team crosses Manado Bay…

Hello everyone! This is Caroline speaking! We uploaded a photo of our very special trip last week… could you guess where we went to?
Halo semuanya! Ini Caroline! Belum lama ini kami meng-upload foto perjalanan kami minggu lalu… bisakah kalian menebak kami pergi ke mana?
IMG_6126

Manado Tua!

Manado Tua (literally, old Manado) is an island approximately 21 kilometers from mainland Manado, dominated by a single mountain. Twelve villages surround the base of this mountain. On Friday (6/6) SY got a chance to visit one of these villages!
Manado Tua adalah pulau berjarak kira-kira 21 kilometer dari daratan utama dan didominasi sebuah gunung. Dua belas desa mengitari kaki gunung ini. Pada hari Jumat (6/6) SY mendapatkan kesempatan mengunjungi salah satu desa ini! 

IMG_6133

SD GMIM Pangalingan, our target school for the day.

DSC_0444

The students responded to our quiz very enthusiastically! | Para siswa menanggapi kuis kami dengan sangat baik!

It started when Olivia (Livi) Kulander contacted our programme to see if we could join a trip she planned for a group of students from the University of Puget Sound, Washington, USA. Livi stayed at Manado Tua for two weeks last year, accompanied by Pak Yunus Masala who is a ranger at the Tangkoko Nature Reserve. Together they researched the population of tarsiers there and also encountered Macaca nigra on this island! Exciting stuff! Livi was in touch with the teachers of the University of Puget Sound and heard that they planned a trip to visit North Sulawesi: great opportunity for Livi to go back to the wonders of North Sulawesi!

 

Semuanya berawal ketika Olivia (Livi) Kulander mengundang program kami untuk bergabung dengan kegiatan yang dia rencanakan bagi sekelompok mahasiswa University of Puget Sound, Washington, USA. Livi tinggal di Manado Tua selama dua minggu tahun lalu, didampingi Pak Yunus Masala, seorang ranger dari C.A. Tangkoko. Bersama mereka meneliti populasi tarsius di sana dan juga bertemu dengan Macaca nigra! Seru sekali! Livi saling kontak dengan beberapa dosen di University of Puget Sound dan mengetahui mereka berencana untuk mengunjungi Sulawesi Utara: kesempatan yang sangat baik bagi LIvi untuk kembali melihat keindahan Sulawesi Utara!

IMG_6105

Thirza and Peter passing time on the boat trip with a chat. | Thirza dan Peter menghabiskan waktu selama perjalanan di kapal dengan berbincang-bincang.

DSC_0448

The students loved our stickers and coloring sheets! | Para siswa sangat menyukai stiker dan lembar mewarnai kami!

So on Friday morning, Thirza, Jurriaan and I, together with Pak Yunus and the Celebes Wild team, departed from Manado’s harbor on a pre-booked boat. On our way to Manado Tua, we stopped at Bunaken to pick up the team from University of Puget Sound. We couldn’t have asked for better weather; it was a beautiful, sunny day, and the 2-hour trip flew by as fast as the sea wind blowing on our faces.

Pada Jumat pagi, Thirza, Jurriaan dan saya sendiri, bersama dengan Pak Yunus dan tim Celebes Wild, berangkat dengan kapal sewaan dari Pelabuhan Manado. Kami singgah di Bunaken untuk menjemput tim dari University of Puget Sound. Cuacanya sangat baik; matahari bersinar cerah dan perjalanan selama 2 jam berlalu secepat angin yang menerpa wajah kami.

DSC_0383The lack of transport to and from Manado made Manado Tua feel quite remote, despite being relatively close to the mainland. The forest was still inhabited by sizeable wildlife populations, and even a yaki group. The villages had narrow concrete streets barely wide enough for two motorbikes to pass side by side, let alone a car. Due to the limited time, we only managed to visit one school, SD GMIM Pangalingan. We refreshed ourselves with drinks and some snacks before starting our presentation. Livi started off with welcoming remarks and introduced our teams, and then it was our turn!
DSC_0384Kurangnya transportasi dari dan ke Manado membuat Manado Tua terasa terpencil, meski jaraknya relatif dekat ke daratan utama. Hutannya memiliki populasi satwa liar yang cukup besar, bahkan satu kelompok yaki. Desa-desanya memiliki jalan beton sempit yang sulit dilalui dua sepeda motor berdampingan, apalagi sebuah mobil. Karena waktu yang terbatas, kami hanya bisa mengunjungi satu sekolah, SD GMIM Pangalingan. Kami disuguhi minum dan makanan kecil sebelum memulai presentasi. Livi membuka acara dengan ucapan selamat datang dan memperkenalkan tim kami, dan setelah itu giliran kami berbicara!

DSC_0390

Don’t forget the speakers! We want to be able to hear the video as well! | Jangan lupa speakernya! Kami perlu mendengar videonya juga!

Thirza and I had prepared an awesome presentation that would surely make the students interested and enthusiastic… but there was a slight problem. Manado Tua had no electricity during the day! Unable to use the projector, we simply held up Thirza’s laptop (thank goodness it had a full charge!) so the students could see, even if it was small. We started off with Oriana’s yaki video, to which the students responded very well, and then continued with our YYC jingle. Everyone – including the Celebes Wild team and the University of Puget Sound team – memorized the catchy words, funny movements and simple tunes very quickly!

On your feet everyone! Let's sing the YYC Jingle! | Semuanya berdiri! Mari menyanyi Yel-yel YYC!

On your feet everyone! Let’s sing the YYC Jingle! | Semuanya berdiri! Mari menyanyi Yel-yel YYC!

Saya dan Thirza telah menyiapkan presentasi keren yang akan membuat para siswa tertarik dan bersemangat… tapi ada masalah kecil. Di Manado Tua, tidak ada listrik di siang hari! Karena kami tidak bisa menggunakan proyektor, kami hanya mengangkat laptop Thirza (syukurlah baterenya penuh!) sehingga para siswa bisa melihat, meski kecil. Kami memulai dengan video yaki dari Oriana, yang mendapat sambutan sangat baik dari para siswa, dilanjutkan dengan yel-yel YYC. Semuanya – termasuk tim Celebes Wild dan tim University of Puget Sound – menghafal lirik, gerakan lucu, dan nadanya yang sederhana dengan sangat cepat!

DSC_0462After our presentation, we handed out coloring sheets, yaki masks and campaign stickers to the students. Celebes Wild also chipped in, handing out their own coloring sheets and little stickers campaigning for the protection of endangered species. The University of Puget Sound team helped out the students in coloring in their sheets. Unfortunately we couldn’t stay long, as it was already past the students’ lunch time. Time to snap a group photo before we say goodbye!
DSC_0478Setelah presentasi, kami membagikan lembar mewarnai, topeng yaki dan stiker kampanye pada para siswa. Celebes Wild juga ikut membagikan lembar mewarnai mereka dan stiker-stiker kecil yang mengkampanyekan perlindungan spesies-spesies terancam. Tim University of Puget Sound membantu para siswa mewarnai. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama karena sudah lewat jam makan siang para siswa. Saatnya berfoto bersama sebelum berpisah!

DSC_0480

We ended our visit with lunch at the beach; grilled fish and coconut mixed with brown sugar were the stars of our seaside meal! In what felt like no time, we were boarding the boat to go back to Bunaken and Manado.
Kami mengakhiri kunjungan kami dengan makan siang di pantai; ikan bakar dan kelapa muda dicampur gula merah menjadi bintang utama! Tidak terasa kami harus naik kapal kembali ke Bunaken dan Manado.

DSC_0526

It was a brief visit, but it was worth it! We reached out across Manado Bay to students living near one of the few remaining natural yaki habitats, and hopefully they’ll remember our conservation message and become our ambassadors on that small island! We would like to thank the people who organized this trip: Livi, Pak Yunus and his wife, and the Celebes Wild team: Maryati Abiduna, Billy Lolowang, Spatman Naung and Serin Kakambong. Thank you to the University of Puget Sound team: Kasey Janousek, Chelsea Steiner, Holly Dixon, Brenda Seymour, Lisa Long, David Balgley, Leonard Henderson, Claire Grubb, Darth Caryn Stein, Logan Day, and Ian Latimer, supervised by Gareth Barkin and Peter Wimberger. Also a big thank you to the headmistress for facilitating our team at the school. It was an inspiring day and we hope to continue raising awareness about the yaki at Manado Tua.
Kunjungan yang singkat, tapi sepadan! Kami berhasil menjangkau melintasi Teluk Manado pada para siswa yang tinggal di dekat salah satu habitat yaki terakhir yang masih alami, dan kami berharap mereka mengingat pesan konservasi kami dan menjadi duta kami di pulau kecil itu! Terima kasih pada tim penyelenggara: Livi, Pak Yunus dan ibu, serta tim Celebes Wild: Maryati Abiduna, Billy Lolowang, Spatman Naung and Serin Kakambong. Terima kasih pada tim dari University of Puget Sound: Kasey Janousek, Chelsea Steiner, Holly Dixon, Brenda Seymour, Lisa Long, David Balgley, Leonard Henderson, Claire Grubb, Darth Caryn Stein, Logan Day, and Ian Latimer, di bawah bimbingan Gareth Barkin dan Peter Wimberger. Terima kasih banyak pada ibu Kepala Sekolah yang memfasilitasi tim kami di sekolahnya. Sungguh hari yang menginspirasi, dan kami berharap bisa terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai yaki di Manado Tua.

 

This slideshow requires JavaScript.