Our volunteer Joe: Why I decided to join the team…

Dear viewers, say hi to another awesome volunteer: Joseph Lolong! He has a finger in almost all graphic-related pies here in Selamatkan Yaki. Read on to know more about him!
Pembaca yang baik, sapalah satu lagi volunteer keren kami: Joseph Lolong! Dia terlibat dalam hampir semua urusan yang berkaitan dengan desain grafis di Selamatkan Yaki. Lanjutkan membaca untuk mengenalnya lebih jauh!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki's graphic design volunteer!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki’s graphic design volunteer!

Ahoy people of the page! My name is Joe. I work as an all-around designer and am currently staying in Jakarta.
Ahoy pembaca halaman! Nama saya Joe. Saya merupakan seorang designer full-time dan saat ini sedang tinggal di Jakarta. 

I decided to join Selamatkan Yaki on February 2014. That time, my close friend Carol posted info about Selamatkan Yaki on her Facebook timeline. I checked it out, and I found Oriana’s cute yaki illustration. That was the main trigger. I thought the illustration was so cool, I was challenged to make something like that too. Furthermore I asked Carol about the possibility to donate an artwork, and yes you bet, it lead to a small and enthusiastic discussion about Selamatkan Yaki. Shortly, she introduced me to Thirza and I was welcomed to the club!
Saya memutuskan untuk bergabung dengan Selamatkan Yaki pada Februari 2014. Pada waktu itu, sahabatku Carol membuat post mengenai Selamatkan Yaki pada timeline Facebook-nya. Saya membukanya, dan melihat ilustrasi yaki Oriana yang menggemaskan. Itu adalah pemicu utama. Saya merasa ilustrasi itu sangat keren, saya pun tertantang untuk membuat desain seperti itu. Saya bertanya lebih jauh pada Carol mengenai kemungkinan menyumbangkan karya seni, dan seperti yang sudah kamu duga, kami pun berdiskusi mengenai Selamatkan Yaki dengan bersemangat. Tidak lama kemudian, saya dikenalkan pada Thirza dan saya disambut dalam kelompok!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team! | Hi! Saya yaki! Ilustrasi karya Oriana Chalbaud ini menginspirasi Joe untuk bergabung dengan tim Selamatkan Yaki!

As we spoke, Thirza explained to me about the current crisis of the yaki, how this species is now extremely threatened and facing extinction. Of course I was surprised by this fact. As a “half-blood” (Dad is Manadonese, Mom is Padang-Jakartanese), I always feel disturbed when people ask whether I also consume “exotic Manado menus” i.e. bats, rats, and monkeys. The answer would always be no, especially after I found out that one of the main causes of their near-extinction is this eating habit.

Dalam percakapan kami, Thirza menjelaskan mengenai krisis yang dihadapi yaki, bagaimana spesies ini sangat terancam dan menghadapi kepunahan. Tentu saja saya terkejut dengan fakta ini. Sebagai seorang “darah campuran” (ayah Manado, ibu Padang-Jakarta), saya selalu merasa terganggu ketika ditanyai apakah saya juga mengonsumsi “makanan eksotis Manado” mis. paniki, tikus, dan yaki. Jawaban saya selalu tidak, terutama setelah saya mengetahui bahwa salah satu penyebab utama nyaris punahnya spesies ini adalah kebiasaan makan ini.

I think you all wonder what a designer can do to help yaki conservation. Believe it or not, I wondered the same question too. Do not imagine me dressed up like Indiana Jones, wandering the forest and battling with illegal hunters (or piranhas!). Those stuff are for Thirza and friends, but me, yeah, let’s just say geographically I am incapable of doing that. (Cheers mates!)
Saya rasa kalian semua penasaran apa yang bisa dilakukan seorang designer untuk membantu konservasi yaki. Percaya atau tidak, saya juga menanyakan hal yang sama. Jangan membayangkan saya berpakaian seperti Indiana Jones, berkelana melintasi rimba dan berperang melawan pemburu ilegal (atau piranha!). Hal seperti itu adalah bagian Thirza dkk., tapi saya, yah, katakan saja secara geografis saya tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan itu. (Cheers mates!)

However, I understand people use design to communicate (heavy) messages. Conservation is a message and it must be communicated. This is my place in the organisation: to help spread the conservation message, through the best skill I have: designing.
Akan tetapi, saya paham bahwa desain digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan (yang berat). Konservasi adalah sebuah pesan dan perlu dikomunikasikan. Ini adalah bagian saya dalam organisasi: membantu menyebarkan pesan konservasi, melalui skill terbaik saya: desain.

Surprisingly, I was appointed to help developing the first yaki magazine. I felt very honored, considering my “newbie” status on the club.
Saya kaget ketika dipercayakan untuk membantu mengembangkan majalah yaki pertama. Saya merasa sangat tersanjung, terutama karena saya merupakan “pendatang baru” dalam kelompok ini.

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe!

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe! | Majalah Yaki pertama! Hasil karya master kami: Joe!

I believe lots of people consider “conservation” as a big word that requires big actions too. Well, I should say, even the biggest leap starts with small steps. You would never change anything if you don’t act.
Saya yakin banyak orang menganggap “konservasi” sebagai kata yang besar yang butuh tindakan besar pula. Perlu saya katakan, lompatan terbesar pun dimulai dengan langkah-langkah kecil. Kamu tidak akan mengubah apa-apa jika kamu tidak bertindak.

Yaki is a vital part of the grand treasure of North Sulawesi and Indonesia. Imagine what would you say to your grandchildren when they find yaki pictures in a book of extinct animals and ask you these questions:
“Granddad, what happened to the yaki? They are so very cute and charismatic!”
“Well dearest, they’re extinct!”
“Uh, that’s too bad. Why did they go extinct?”
“Well, we ate them all.”
Yaki adalah bagian penting dari harta karun Sulawesi Utara dan Indonesia. Bayangkan apa yang akan kamu katakan pada cucu-cucumu ketika mereka melihat foto yaki di buku satwa yang sudah punah dan memulai percakapan:
“Opa, apa yang terjadi pada yaki? Mereka sangat lucu dan kharismatik!”
“Mereka sudah punah sayang!”
“Yah, sayang sekali. Mengapa mereka bisa punah?”
“Eh, kami memakan mereka semua.”

We are obliged, especially all Manadonese, pure-bloods or half-bloods, to help conserve the yaki. Our future generations deserve to witness this magnificent species. I know this sounds so dramatic but that’s the truth.
Kita semua wajib, terutama orang-orang Manado, darah-murni maupun darah-campuran, untuk membantu mengkonservasi yaki. Generasi masa depan patut melihat spesies yang gagah ini secara langsung. Saya tahu kata-kata ini agak dramatis tapi ini adalah kenyataan.

Selamatkan Yaki is a very charming and dynamic organisation. It is a nice place with super cool, welcoming talents (we hit national newspaper Kompas and had SLANK as our musical ambassador). All you need to do is sign up. Don’t you worry yet about your part. You will definitely find your place in this organisation. No matter how small you are able to do, or how far you live from the yakis, as long as you have a sincere willingness to help, you will always be welcomed! :)
Selamatkan Yaki adalah organisasi yang sangat luwes dan dinamis. Ini adalah tempat yang nyaman dengan bebrapa talenta yang super keren dan ramah (kami berhasil masuk dalam koran nasional Kompas dan bekerja sama dengan SLANK sebagai Duta kami di dunia musik). Yang perlu kamu lakukan hanya menghubungi mereka. Jangan dulu khawatir dengan apa yang bisa kamu lakukan. Kamu pasti akan menemukan tempatmu di organisasi ini. Tidak peduli berapa kecil pun kemampuanmu, atau berapa jauh jarakmu dari para yaki, selama kamu bersedia dan sungguh-sungguh ingin membantu, kamu pasti akan disambut! :)

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp! But don't worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon!

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp. But don’t worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon! | Cetakan bahasa Indonesia pertama dari Yaki Magz! Semuanya diberikan pada para peserta Yaki Youth Camp. Jangan khawatir, versi online (Inggris dan Indonesia) akan segera tersedia!

Teachers Training Workshop by TCE (PKT)

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) menggelar pelatihan guru selama 3 hari untuk guru-guru dari sekolah yang termasuk dalam program PKT. Dimulai tanggal 28 Agustus di aula SMP Negeri 2 Bitung, rangkaian kegiatan pelatihan yang berlangsung hingga tanggal 30 Agustus dibuka dengan sambutan selamat datang oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project, Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sulut, juga Bapak Sudiyono dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara yang turut menghimbau agar guru-guru lebih giat mengajak para siswa mengunjungi kawasan-kawasan konservasi di Sulawesi Utara. 

Marjudie Menajang from North Sulawesi Education Department welcoming participants and opening the event

Marjudie Menajang from North Sulawesi Provincial Education Department welcoming participants and opening the event. | Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi SuLut menyambut peserta dan membuka kegiatan.

Tangkoko Conservation Education (TCE) organized a 3-day training program for teachers from schools that are part of the TCE program. Starting on August 28th at the hall of SMP N 2 Bitung, the training kicked off with welcome statements by Stephan Lentey from Macaca nigra Project, Mr. Marjudie Menajang from the North Sulawesi Provincial Education Department, as well as Mr. Sudiyono from the North Sulawesi Office of Conservation of Natural Resources who also encouraged teachers to take their students on trips to visit conservation areas in North Sulawesi more often.

Sesudah sambutan-sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi mengenai Kurikulum 2013 oleh Ibu Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung, serta presentasi program oleh Mathilde Chanvin dari Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) dan Yunita Siwi dari Selamatkan Yaki (SY). Topik pelajaran di hari pertama mencakup pengetahuan dasar lingkungan, ekosistem serta keragaman hayati, flora dan fauna di Indonesia dan Sulawesi, lebih khususnya yaki. Tim dari PKT yang beranggotakan Mathilde, Nona dan Deity memberikan penjelasan mengenai tiga topik pelajaran pertama, dilanjutkan oleh Caroline untuk menjelaskan lebih dalam tentang yaki.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

The opening remarks were followed by a presentation about the 2013 Curriculum by Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department, as well as program presentations by Mathilde Chanvin from Tangkoko Conservation Education (TCE) and Yunita Siwi from Selamatkan Yaki (SY). Lesson topics for Day 1 consisted of basic environmental knowledge, the ecosystem and biodiversity, floras and faunas of Indonesia and Sulawesi, more particularly yaki. TCE team consisting of Mathilde, Nona and Deity explained about the first three lessons, followed by a more in-depth explanation about yaki by Caroline.

Selain berbagai presentasi dan penjelasan, dibuka juga sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin menayakan hal-hal seputar lingkungan dan konservasi. Dibantu oleh Martha dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST), berbagai pertanyaan dilontarkan oleh peserta yang antusias mencari tahu lebih banyak mengenai alam dan satwa Sulawesi Utara.

Other than various presentations and explanations, there was also a Q&A session for participants who wanted to ask about the environment and conservation. Assisted by Martha from Tasikoki Wildlife Rescue Center, various questions were fired by participants whom were enthusiastic towards knowing more about North Sulawesi nature and wildlife.

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Hari pertama kegiatan pelatihan guru banyak diisi dengan bahan teori, namun peserta tidak terlihat keberatan; mereka terus memperhatikan materi yang diberikan oleh tim penyelenggara dan aktif dalam menyuarakan pendapat maupun pertanyaan. Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta mengunjungi masing-masing Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan TWA Tangkoko-Batuputih, di mana mereka dapat mempelajari alam dan satwa Sulawesi Utara secara langsung!

Day 1 of the teachers training program was filled with theoretical materials, but the participants didn’t look burdened by it all; they listened and paid attention to what was given by the committee and stayed active in voicing their opinions and questions. Day 2 and 3 of the training, the participants got to visit Tasikoki Wildlife Rescue Center as well as Tangkoko-Batuputih Nature Recreation Park, respectively, where they got to learn more about North Sulawesi nature and wildlife directly!

Ini adalah langkah pertama yang baik dalam memperkenalkan dasar-dasar pendidikan lingkungan hidup pada para guru. Kami berharap para peserta dapat mengembangkan informasi yang mereka terima dalam program pelatihan ini dan menyertakan pendidikan lingkungan hidup dalam rencana mengajar mereka. Selamat kepada PKT yang telah menyelenggarakan event hebat ini; kami tidak sabar untuk berkolaborasi lagi di masa depan!

This was a great first step in getting teachers acquainted with the basics of environmental education. We hope that the participants will be able to build upon the information they gained during this training program and incorporate environmental education into their lesson plans. Congratulations to TCE for organizing such a wonderful event; we look forward to more collaboration in the future!

Environmental Education Weekend with Suara Pulau and Celebio!

Another collaboration! This time, SY was invited to join Suara Pulau and Celebio’s Environmental Education Weekend in Lihunu, a village on the island of Bangka! Bangka is situated approximately 50 km north-east of Manado and is blessed with stunning beaches and awesome dive spots. Read Caroline’s take on the event!
Satu lagi kegiatan kolaborasi! Kali ini, SY diundang untuk bergabung dalam Akhir Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup di Lihunu, sebuah desa di pulau Bangka! Bangka terletak sekitar 50 km di timur laut Manado dan diberkahi pantai-pantai yang indah serta banyak dive spot yang memukau. Baca ulasan Caroline mengenai kegiatan ini!

DSC_0018_

It was a typical Saturday in the tropics – the sky was sunny with scattered clouds, the temperature was warm, and there was a fair amount of wind whipping up stomach-churning waves on our way to Bangka! Prisi, Vian, and I were joined by Jose of Suara Pulau, Mary, one of Suara Pulau’s sponsors, Michelle, a reporter, and Sammy, a photographer, on the boat heading for Lihunu. After a 45-minute boat ride we docked on the jetty and headed straight to the elementary school, where the activities were already underway. Marthin, Vina, and their Celebio team, who arrived in Lihunu on Friday, had gathered the elementary school students inside the classrooms and were now busy with the colouring competition. The students seemed very excited; there was the usual chatter of people borrowing colouring pencils and crayons from their friends, but also lively discussions on ideas for colours, drawing in additional scenery, and general talk. Ulfa, the coordinator of Suara Pulau, welcomed us warmly, and we chatted away while we waited for our turn.
DSC_0024Cuaca hari Sabtu itu tipikal iklim tropis – langit cerah dengan beberapa awan di sana-sini, udaranya hangat, dan angin yang cukup kuat menciptakan ombak tinggi selama perjalanan kami ke Bangka! Saya, Prisi, dan Vian menuju Lihunu dengan kapal bersama Jose dari Suara Pulau, Mary, salah satu sponsor Suara Pulau, Michelle, seorang wartawan, dan Sammy, seorang fotografer. Setelah perjalanan kapal selama 45 menit, kami merapat ke dermaga dan langsung menuju gedung SD, di mana kegiatan sudah dimulai. Marthin, Vina, dan tim dari Celebio, yang telah tiba di Lihunu sejak hari Jumat, telah mengumpulkan para siswa SD di dalam ruang kelas dan kini disibukkan lomba mewarnai. Para siswa tampak sangat senang; selain percakapan pinjam meminjam alat warna, para siswa juga berdiskusi dengan semangat mengenai pilihan warna, menggambar pemandangan tambahan, dan percakapan biasa. Ulfa, koordinator Suara Pulau, menyambut kami dengan hangat, dan kami bercakap-cakap sambil menunggu giliran kami tampil.

IMG_3611In no time at all, the junior high school students returned from their rehearsal for the Independence Day flag-raising ceremony (which was to be held the next morning) and filled the neighbouring classroom. We were ready to rumble! Vian loosened things up with his jokes and small games before I introduced the YYC jingle. It was an instant hit! After several spirited recitals, the students were ready to listen to our presentation. It was somewhat different to our previous school presentations; the small island ecosystem, along with the wildlife inhabiting it, was significantly different to the forest ecosystem that the yaki lives in. Thus, we had to make slight adjustments and accommodate several other wildlife species so it would remain relevant to the students. They were excellent listeners and quickly grasped the points I delivered. The quiz session saw plenty of enthusiastic hands; Prisi, Vian and I had to pay very close attention so we could tell who put up their hand first!
IMG_3610_FinTidak lama kemudian, para siswa SMP kembali dari latihan mereka untuk upacara bendera 17 Agustus (yang akan dilaksanakan esok paginya) dan segera berkumpul di ruang kelas sebelah. Kami siap mulai! Vian mencairkan suasana dengan candaannya dan games singkat sebelum saya mengajarkan Yel-yel YYC pada mereka. Yel-yel itu langsung hit! Setelah menyanyikan yel-yel beberapa kali, para siswa siap mendengarkan presentasi kami. Presentasi ini agak berbeda dengan presentasi yang kami bawakan di sekolah-sekolah dulu; ekosistem pulau kecil serta satwa yang tinggal di dalamnya agak berbeda dengan ekosistem hutan tempat tinggal yaki. Oleh karena itu, presentasi ini kami sesuaikan dan menyertakan beberapa spesies satwa lain yang relevan dengan lingkungan para siswa ini. Mereka pendengar yang sangat baik dan memahami materi kami dengan cepat. Para siswa sangat bersemangat ketika masuk sesi kuis; saya, Prisi dan Vian harus memperhatikan dengan cermat agar bisa melihat siapa yang pertama mengangkat tangan!

IMG_3624After we finished the presentation for the junior high school students, we switched with Celebio. Celebio had an arts and crafts session with the junior high school students, using recycled materials, while we gave a presentation to the elementary school students. They were really excited about the YYC jingle too! So excited, in fact, that we made it into an extra competition; the student with the most enthusiastic moves got a special prize!
Setelah kami menyelesaikan presentasi untuk siswa SMP, kami bertukar dengan Celebio. Celebio mengajarkan para siswa SMP untuk membuat kerajinan tangan dengan bahan daur ulang, sementara kami memberikan presentasi pada para siswa SD. Mereka pun sangat bersemangat ketika belajar yel-yel YYC! Saking bersemangatnya, kami membuat lomba tambahan; siswa dengan gerakan paling bersemangat mendapat hadiah istimewa!

In the evening we put up a screen for movie night. Celebio’s video, “Adung, Sahabatku” about an orangutan in a rehabilitation facility, and our BBC documentary, was an instant hit with the children. They got to see the animals we talked to them about in action, and see what was being done to protect them. Hopefully, they would be motivated to protect their environment too!
Pada malam hari kami memasang layar untuk nonton bareng. Video dari Celebio, “Adung, Sahabatku” tentang seekor orangutan di pusat rehabilitasi, serta film BBC kami, sangat disukai anak-anak. Mereka dapat melihat para satwa yang dibahas tadi, dan juga melihat apa saja usaha yang dilakukan untuk perlindungan mereka. Kami berharap anak-anak ini pun termotivasi untuk melindungi lingkungan mereka!

IMG_3828_FinThe next day was Indonesia’s Independence Day, so the whole village attended the flag-raising ceremony and was busied with competitions that would be held after the ceremony. Our turn came up near midday; Celebio started with a puppet show, which attracted children and adults alike, and the weekend was rounded off with an environment-themed quiz for the students. It was great to see how much of our presentations the students remembered!
IMG_3821_FinHari esoknya adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat desa mengikuti upacara bendera dan lomba-lomba. Kami mendapat giliran tampil sekitar tengah hari; Celebio mengawalinya dengan panggung boneka, yang menarik perhatian baik anak-anak maupun orang tua, dan akhir pekan kami ditutup dengan cerdas cermat lingkungan bagi para siswa. Senang rasanya melihat para siswa mengingat banyak hal dari materi kami!

That very afternoon we headed back to the mainland by boat. The weekend was extremely busy, but it was equally rewarding! We had a great time collaborating with Suara Pulau and Celebio, and we hope we can collaborate again in the future!
Sore itu kami kembali ke daratan utama dengan kapal. Akhir pekan ini sangat sibuk, tapi juga sangat memuaskan. Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan Suara Pulau dan Celebio, dan kami berharap bisa berkolaborasi lagi di masa depan!

► Watch the video – Tonton videonya: http://youtu.be/cqf7cDFH1Ik
► Watch the students sing the Yaki Youth Camp jingle – Tonton para murid menyanyikan yel-yel Yaki Youth Camp: http://youtu.be/cCtIgkzF8FU

Have a look through the photos from the Weekend. Special thanks to Samuel Mamoto for the contribution!

This slideshow requires JavaScript.

Sosialisasi di Perkemahan Kreatif Remaja GMIM

100_0078Masa liburan sekolah sudah berlalu dan sekarang semua aktivitas kembali normal. Apa saja yang dilakukan team Selamatkan Yaki untuk mengisi liburan sekolah? Seperti biasa team SY selalu sibuk dengan kegiatan penyadartahuan masyarakat dan masih tetap di lokasi target Langowan dan Tomohon. Tapi di liburan sekolah ini, Team “lovely ladies” Selamatkan Yaki juga menghadiri Perkemahan Kreatif Remaja GMIM tingkat sinode, yang diselenggarakan oleh Komisi Remaja Sinode GMIM. Kali ini Perkemahan Kreatif Remaja GMIM dilaksanakan di wilayah Manado Timur, tepatnya di daerah Mapanget. Bukan perkemahan remaja sinode namanya jika pesertanya sedikit; kali ini tercatat lebih dari tiga ribu peserta perkemahan yang datang dari seluruh penjuru Minahasa, Manado dan Bitung. Tidak seperti tahun lalu, di mana team SY sudah tercatat sebagai salah satu pembicara, kali ini, berkat kebaikan panitia pelaksana, kami diberikan kesempatan menyampaikan materi selama 2 jam dan kami sangat bersyukur untuk itu.
100_0082
School holiday has just finished and all activities have returned back to normal. What has the Selamatkan Yaki team been doing during the school holidays? As per usual, we have been busy with awareness raising activities in Langowan and Tomohon. This holiday, however, our “lovely ladies” from Selamatkan Yaki also joined the synodial-level GMIM Teens Creative Camp. This year, camp was held in Mapanget, East Manado. Around three thousand participants from all over Minahasa, Manado and Bitung joined the camp. Despite being unscheduled, the Selamatkan Yaki team was given a two-hour slot for the presentation.

100_0136Presentasi kami kali ini kami buka dengan pertanyaan, “Sudah tahu apa itu Selamatkan Yaki?” Banyak sekali peserta yang menjawab, “Sudaaaaah!” Pertanda yang baik, mengingat beberapa bulan terakhir ini kami sudah berkunjung ke lebih dari 40 SMP dan SMA di Tomohon dan Langowan, sehingga sangat wajar jika banyak dari mereka yang sudah tahu tentang SY. Presentasi berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi kali ini beberapa Duta Yaki kami juga merupakan peserta perkemahan remaja ini dan turut membantu menyampaikan materi. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo dan Vanessa Tewuh, serta volunteer junior kami, Zefanya, ikut membantu mengajarkan yel-yel Torang Jaga Yaki pada para peserta dan mencontohkan gerakannya. Yel-yel dinyanyikan dengan semangat dan gembira!
100_0094We opened our presentation with the question, “Do you know about Selamatkan Yaki?” Lots of participants answered, “Yeees!” A good sign, considering the time we spent over the past few months visiting over 40 high schools and junior high schools in Tomohon and Langowan. The presentation went very well, especially since several of our Yaki Ambassadors are also participants in the camp and helped out with the talk. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo and Vanesa Tewu, along with our junior volunteer, Zefanya, helped us teach our yaki jingle to the participants and demonstrate the moves. All the participants sang it out loud and had lots of fun!

100_0112Materi presentasi pada perkemahan kali ini sedikit berbeda dengan tahun yang lalu karena kehadiran para Duta serta pemutaran video animasi dan testimonial dari SLANK yang berhasil menarik perhatian peserta perkemahan. Cuaca yang sangat panas serta tenda induk yang agak sempit tidak mengurangi semangat mereka untuk menyimak presentasi yang dibawakan oleh Caroline serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bagus tentang yaki. Peserta semakin antusias ketika waktu quiz tiba. Seperti biasa, setiap pertanyaan yang diajukan mendapat sambutan yang sangat meriah sehingga kami harus memasang mata lebih tajam untuk melihat siapa yang lebih dulu angkat tangan karena banyak sekali yang ingin menjawab. Setelah pertarungan sengit, jawara untuk tahun ini jatuh kepada Maya Kiling dari GMIM Sion Taraitak, Langowan. Tidak heran jika Langowan bisa menjadi juara.
100_0159The presentation for this year’s Teens Camp was slightly different because we had the Ambassadors present and played the yaki animation and SLANK testimony. Even though it was very hot in the main tent, it didn’t burn out the participants’ enthusiasm to listen to Caroline’s presentation and ask several excellent questions about the yaki. Excitement increased when the quiz started. We needed particularly sharp eyes to spot the first hand in the air. After hard competition, this year’s winner is Maya Kiling from GMIM Sion Taraitak, Langowan. No wonder if Langowan could become the winner.

100_0166Perkemahan kali ini sangat luar biasa! Banyak peserta yang bertanya mengapa SY belum datang ke sekolah mereka dan antusias sekali ketika melihat video tentang Yaki Youth Camp yang mudah-mudahan menginspirasi mereka. Sekali lagi, dengan tiga ribuan remaja GMIM, Selamatkan Yaki menaruh harapan agar semakin kokoh fondasi kesadaran generasi muda tentang lingkungan hidup serta pentingnya peran yaki bagi kehidupan masyarakat. Sampai bertemu di perkemahan tahun depan, teman-teman!
100_0081This year’s camp was amazing! Many of the participants asked to us why we haven’t visited their school and were particularly enthusiastic when we showed them the Yaki Youth Camp video. Once again, Selamatkan Yaki team put out our conservation message to the three thousand GMIM teens in hopes of strengthening the foundation of environmental awareness in our young generation, particularly the importance of the yaki for the community. See you at the next Teens Camp!

Response to Yaki “Selfies”

Short Press Release/ Response to Yaki “Selfies” – August 12th, 2014

Selfie copyright? What about the monkeys?

Harry Hilser, Programme Manager, Selamatkan Yaki – North Sulawesi, Indonesia

As conservationists we are concerned that recent media stories featuring Sulawesi crested black macaques fail to highlight the fact that this species is seriously threatened with extinction. These stories may even encourage people to seek close contact with the monkeys, which could have negative consequences for their survival.
Sebagai penggiat konservasi kami prihatin dengan artikel-artikel di media yang menampilkan monyet hitam Sulawesi namun tidak membahas fakta bahwa spesies ini terancam kepunahan. Artikel-artikel ini dapat mendorong masyarakat untuk mendekati para monyet, yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan spesies ini.

As our inboxes swell with a plethora of “monkey selfie” articles, the distinctive black face peering out of the text is none other than the curious and captivating Sulawesi crested black macaque – the focus for our conservation programme, “Selamatkan Yaki” (meaning “Save the Monkeys!” in Indonesian).
Seiring bertambahnya artikel “selfie monyet” yang memenuhi inbox kami, wajah hitam khas yang mengintip dari teks tidak lain adalah monyet hitam Sulawesi yang menarik dan penuh rasa ingin tahu – fokus dari program konservasi kami, “Selamatkan Yaki.”

Our programme, based in North Sulawesi, Indonesia aims to protect the remaining wild populations of these unique monkeys, which dropped by around 80% within 40 years! One of our major objectives is to raise the profile of the species. Through a wide network of supporters and social media channels – at local, national and international levels, we endeavour to inform as many people about their plight as possible. However, it is often the most quirky stories that receive the most attention – the current virality of the monkey selfie is a clear example. We hope that amongst the cacophony of media dialogue around copyright ownership, the context to these images might be heard.
Program kami, berbasis di Sulawesi Utara, Indonesia, bertujuan melindungi sisa populasi liar dari monyet unik ini, yang telah turun hingga 80% dalam 40 tahun! Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan profil spesies ini. Melalui jaringan pendukung dan media sosial yang luas – di tingkat lokal, nasional dan internasional, kami berusaha memberitahu sebanyak mungkin orang mengenai ancaman yang dihadapi para monyet ini. Akan tetapi, biasanya cerita yang tidak lazim yang menerima perhatian paling besar – cerita viral tentang selfie monyet baru-baru ini adalah contoh yang jelas. Kami berharap di antara dengungan dialog media di seputar hak cipta foto ini, konteks pengambilan foto ini pun bisa didengar.

As conservationists, we have the monkeys’ best interests in mind. Ecotourism plays an important role in preserving their remaining forests. However, we would like to discourage people from wishing to visit these monkeys (or any other wildlife) with the desire to get “up close and personal”. This can have many potential negative impacts, such as injury, disease transmission and conflict with local communities through over-confident animals straying into villages. Despite their natural curiosity, we advise all visitors to keep a distance of 5m, as dictated by the Code of Conduct produced by the Indonesian Forestry Department. As for monkey photos…our patron Andrew Walmsley has shown that great shots can be taken at a respectable distance.
Sebagai penggiat konservasi, kami mengupayakan yang terbaik bagi para monyet ini. Ekowisata memainkan peran yang penting dalam melindungi apa yang tersisa dari hutan mereka. Akan tetapi, kami ingin mencegah masyarakat dari mengunjungi para monyet ini hanya untuk berdekatan secara fisik. Kegiatan ini dapat berdampak buruk, misalnya cedera, transmisi penyakit dan konflik dengan masyarakat lokal karena para satwa ini tidak lagi takut untuk mendekati manusia dan masuk ke dalam desa-desa. Meskipun rasa ingin tahu satwa ini besar, kami menyarankan para pengunjung untuk mempertahankan jarak 5m dengan mereka, seperti yang ditetapkan Kode Etik yang dirilis Kementerian Kehutanan Indonesia. Menyangkut foto-foto monyet… pendukung kami Andrew Walmsley telah membuktikan bahwa foto-foto hebat bisa diambil dari jarak yang aman.

With regards to monkeys owning copyright for images, as the Guardian reports…why not? As a Critically Endangered endemic species (found nowhere else!) facing possible extinction, the monkeys and their conservation programmes need all the help they can get. So why not envision the monkeys getting something back, through some form of creative licensing system, where the subjects of films or photographs receive due credit for their appearance in (or actual creation of) said media? This said…we also understand the effort it can take to get good shots (whichever primate does the button clicking!), and feel that if images are obtained ethically, photographers deserve to receive both credit and payment for their labours. The sharing of their work is an incredibly powerful tool to raise awareness from which our programme has already benefitted greatly.
Berbicara soal kepemilikan hak cipta oleh para monyet, seperti yang dilansir dilansir Guardian… kenapa tidak? Sebagai satwa endemik (tidak bisa ditemukan di tempat lain!) yang Sangat Terancam dan memiliki kemungkinan punah, para monyet dan program konservasi mereka membutuhkan bantuan apa saja yang bisa mereka peroleh. Jadi kenapa tidak para monyet ini mendapat kembalian, dalam bentuk sistem lisensi kreatif, di aman subyek film atau foto mendapat penghargaan yang sepantasnya untuk penampilan (atau usaha penciptaan) mereka dalam media tersebut? Kami paham usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh foto yang bagus (tidak peduli primata mana yang menekan tombol shutter!) dan kami rasa jika para fotografer ini memperoleh foto mereka secara etis, mereka pantas mendapat penghargaan dan bayaran untuk usaha mereka. pembagian foto mereka adalah alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran, dan program kami sudah merasakan manfaatnya.

Images can touch the heart strings of many, such as this poignant article, the reader’s responses clearly demonstrating empathy for the mother mourning her dead infant. If you would like to help these forgotten players in this squabble over ownership rights, please visit our website http://www.selamatkanyaki.com and consider donating here, or simply spread the word.
Foto dapat menggerakkan hati banyak orang, seperti yang dibuktikan artikel miris ini, di mana reaksi pembaca menggambarkan empati untuk sang ibu yang menangisi bayinya yang mati. Jika anda ingin membantu para pemeran yang terlupakan dalam perebutan hak cipta, silahkan kunjungi website kami di http://www.selamatkanyaki.com dan pertimbangkan untuk menyumbang di sini, atau sekedar menyebarkan kabar.

Let us hope these images can benefit all: the public, with beautiful images and a greater awareness of these magnificent creatures; the photographer, with publicity and image sales; and the monkeys, with greater acknowledgement and support for their protection, and hope for their future.
Mari kita berharap foto-foto ini bermanfaat bagi semua pihak: masyarakat umum, dengan gambar yang indah dan kesadaran yang semakin meningkat akan satwa luar biasa ini; sang fotografer, dengan publisitas dan penjualan gambar; dan para monyet, dengan pengakuan dan dukungan yang semakin besar untuk perlindungan mereka, dan harapan untuk masa depan mereka.

Stan Informasi Pasar Tomohon | Tomohon Market Information Stand

Melanjutkan stan informasi yang diadakan di Langowan tanggal 5 dan 12 Juli, serta di Tomohon tanggal 26 Juli, pada hari Sabtu di minggu yang lalu tanggal 2 Agustus 2014, Selamatkan Yaki kembali ke Pasar Tomohon untuk mengadakan stan informasi yang kedua dan terakhir untuk daerah Tomohon. Stan informasi ini dijadwalkan pada hari-hari belanja menjelang Pengucapan Minahasa dan Tomohon, saat aktivitas jual-beli di pasar lebih tinggi dari biasanya.

JPG 1100_0225Following the previous information stands in Langowan on July 5th and 12th as well as in Tomohon on July 26th, our team headed out once more last weekend. On Saturday, August 2nd 2014, Selamatkan Yaki went back to the traditional market in Tomohon to set up another information stand there.These information stands were organised to take place on market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, when market activity is higher than usual.

Yaki, beserta satwa terancam punah lainnya, biasanya termasuk dalam menu makanan Pengucapan daerah Minahasa dan Tomohon, meskipun spesies ini sangat terancam punah. Stan informasi yaki ini merupakan salah satu cara untuk mengedukasi dan meningkatkan penyadartahuan di masyarakat mengenai masalah-masalah seputar yaki, khususnya perburuan ilegal untuk dijadikan bahan konsumsi manusia. Melalui stan informasi ini Selamatkan Yaki bisa menjangkau lebih banyak orang, tidak saja untuk menyampaikan informasi mengenai masalah-masalah tersebut dan meluruskan opini subjektif masyarakat terhadap yaki, tapi juga untuk meyakinkan mereka secara langsung untuk tidak lagi membeli, menyediakan dan mengkonsumsi daging satwa liar, khususnya yaki. Selain itu, kami juga mengajak masyarakat berdiskusi mengenai cara-cara agar masyarakat dapat ikut membantu perlindungan dan konservasi yaki serta habitatnya.

Yaki, along with other endangered animals, can be found on the Minahasan and Tomohon Thanksgiving menu, despite the fact that this particular species is now Critically Endangered. The yaki information stand is one of the ways to educate and raise awareness within the community about issues concerning yaki, especially illegal hunting for consumption. Through these information stands Selamatkan Yaki can reach out to more people to not only inform them of these issues and clarify any subjective opinions about yaki, but to also convince them to abstain from buying, serving and consuming bushmeat, particularly yaki. Other than that, we engage visitors to discuss about how they can help with the protection and conservation of the yaki and their habitat.

JPG 2Kami memulai hari dengan mempersiapkan stan, yang menarik perhatian para penjual dan pembeli yang ada di sekitar kami, sambil juga menarik perhatian sekelompok anak yang sedang lewat. Selalu kalah kalau melawan rasa ingin tahu, apalagi saat ada spanduk besar bergambar dan kertas mewarnai, anak-anak ini mampir dan dengan malu-malu menanyakan apakah mereka bisa mewarnai bersama-sama. Sepanjang kegiatan mewarnai, mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar yaki dan lingkungan kepada tim SY, bahkan juga menyatakan bahwa ketika mereka sampai di rumah nanti, mereka akan mendesak Ayah dan Kakek mereka untuk berhenti memburu dan mengkonsumsi yaki, juga untuk berhenti memelihara yaki. Ada pula 3 sekawan yang dengan semangat meninggalkan stan informasi dengan misi (dan kertas mewarnai mereka): untuk langsung bergerak, mendatangi teman mereka yang memelihara yaki untuk mendesak teman mereka dan keluarganya untuk “stop ba ambe yaki dari utang (stop mengambil yaki dari hutan)”. Sangatlah memuaskan ketika melihat antusiasme anak-anak dalam melindungi lingkungan dan dengan kelompok anak-anak kali ini pun kami merasakannya.

We started our day by setting up shop, which caught the attention of the sellers and buyers around us, all the while catching the attention of a group of children passing by. As always curiosity wins, especially when big banners and colouring sheets are involved, and this group of kids stopped by and shyly asked if they could do some coloring together. Throughout their colouring activities, they kept firing questions about yaki and the environment towards the SY team, even stating that once they get home, they will demand that their fathers and grandfathers stop hunting and consuming yaki, as well as to stop keeping yaki as pets. A group of 3 friends had excitedly left the info stand with a mission (and their colouring sheets): to march over to their friend’s house and demand that she and her family “stop taking yaki from the forest”. It’s always so fulfilling to see how enthusiastic children are when it comes to protecting the environment and it was no different with these kids that day.

Pada akhirnya, para anak-anak ini kecewa saat mengetahui bahwa stan informasi hari itu merupakan stan informasi “terakhir” kami. Namun, seperti yang kami informasikan kepada mereka, stan informasi ini bukanlah yang paling terakhir, karena kami akan kembali lagi dengan jadwal yang baru yang bertepatan dengan acara-acara lainnya yang akan berlangsung di daerah Minahasa dan sekitarnya!

At the end of the day, the children were pretty bummed to learn that this information stand would be our “last” for now. But, as we have informed them, this will not be our last information stand ever, as we plan to come back with a new set of dates & places, in time for other festivities that will be happening around Minahasa!

100_0292

Tonton video Stan Informasi Pasar Tomohon | Watch the Tomohon Market Information Stand video: http://youtu.be/Agt-7YVtgUA

Baca tentang stan informasi sebelumnya | read about the previous information stands: Stan Informasi

Our Ambassadors talk at junior high schools in Langowan!

Early this year we visited high schools all over Langowan and picked a student from each school to be our Yaki Ambassador. Now, it’s these Ambassadors’ turn to talk in front of their juniors at junior high schools in Langowan and teach them to protect the environment and protect the yaki! Read more about their debut here!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

In mid-April, our Ambassadors, fresh out of our Yaki Youth Camp, went to SMP N 1 Langowan to give a talk, with our team overseeing. This debut talk in Langowan was delivered by Debora Manopo, Yaki Ambassador from SMA N 1 Langowan. “I graduated from SMP N 1 Langowan, so I wasn’t too nervous,” Debora said. “I think the students were initially interested because the yaki looks cute. They didn’t know that the yaki is nearly extinct, so they looked surprised when they discovered how few were left in the wild.”

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Junior high schools in Langowan are quite widespread. The furthest school we went to was in the village of Atep, a 30-minute car ride from Langowan . “I’ve never been to Atep, so I felt lucky to be able to go there to give a talk,” said Ira Manggribeth, Yaki Ambassador from SMA Kristen Schwarz Langowan. The people of Atep see the yaki quite often because the village is surrounded by relatively thick forests. “Even though the students have seen the yaki before, they seemed curious about our presentation. They’ve only ever seen yaki in passing, and don’t know the yaki’s daily habits. They also seemed surprised when they found out the yaki is almost extinct!”

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

After the intensive (but fun!) training in Yaki Youth Camp, we didn’t have to talk up front! Our team only accompanied and introduced the Ambassadors in the beginning of the presentation. The real talk, explaining the importance of protecting the environment and the yaki, was delivered by our Ambassadors. At SMP N 2 Langowan, The Ambassador who got the gig was Leyfi Kiling, from SMA N 2 Langowan. “I had mixed feelings during the presentation. My legs were shaking,” said Leyfi. “But talking in front of junior high school students was fun! They were noisy sometimes, but it was because they were interested in our topic. When we went into the Q&A and quiz session, they went wild trying to be the first hand in the air. Seeing them so enthusiastic and cheerful during my talk made me even more enthusiastic and cheerful!”

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

Apart from the talk, our Ambassadors motivated the students by telling them how conservation activities can be really fun, like what we did in Yaki Youth Camp, and of course we taught them our YYC Jingle! When the SY team visited SMP N 9 Langowan, the YYC Jingle was taught by Vanesa Tewuh, Yaki Ambassador from SMK N 1 Langowan. “The students laughed a lot when we taught them the jingle,” said Vanesa. “But when it was their turn to sing, they really bought it home!”

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Talks didn’t always go smoothly. In several schools, venue became an issue since they didn’t have a hall that could fit the students. “I went to the talk at SMP N 2 Langowan. All the students, from grade 7 to grade 9 were present, while the talk was held in one classroom. Some of the students had to stand through the presentation,” said Alfano Piri, Yaki Ambassador from SMK Yadika Langowan. In other schools, the hiccup came in the form of electrical problems. Our Ambassadors had to improvise and talk without the help of a projector! Ivan Welang, our Ambassador from SMA Yadika Langowan, delivered the presentation at SMP N 6 Langowan. Because the power went out, Ivan had to talk while holding up the laptop, occasionally walking among the students so they can see the presentation. “I felt nervous when the power went out, but I tried to act normal,” Ivan said. “Even without the projector, the students were enthusiastic because they were curious about the yaki.”

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

We’re very proud of our Ambassadors in Langowan. In the space of a few months, their public speaking abilities increased noticeably! Stay tuned for news about our Ambassadors in Tomohon, who have also given talks at junior high schools in Tomohon! We hope that with more awareness within the young generation about the threats the yaki face, the greater their actions to protect the yaki from extinction!

This slideshow requires JavaScript.