Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2015

Torang Bacirita tentang konservasi Macaca nigra (Yaki) di Bitung-Airmadidi 2015

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Setelah sukses dengan acara “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013” yang adalah workshop stakeholder mengenai konservasi Macaca nigra atau yaki, program Selamatkan Yaki kembali mengadakan workshop serupa pada tanggal 28 Maret 2015 lalu di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, dan acara tersebut sukses besar!

After the successful “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013”, a stakeholder workshop regarding Macaca nigra or Yaki conservation, Selamatkan Yaki programme once again held a similar workshop on March 28th 2015 at Tasikoki Wildlife Rescue Centre, and the event was a huge success!

Workshop ini diikuti 52 peserta dari instansi-instansi pemerintah di Bitung dan Airmadidi seperti Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kepolisian, Satkamla TNI-AL,serta para camat dan lurah. Di antara para peserta juga terdapat perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat yang berkecimpung di bidang lingkungan hidup dan akademisi-akademisi dari perguruan tinggi di Bitung, Airmadidi dan sekitarnya. Peserta difokuskan dari Bitung dan Airmadidi karena kedua area ini merupakan area fokus Kampanye Kebanggaan Yaki tahun kedua. Bitung dan Airmadidi dipilih menjadi area kampanye tahun kedua karena jaraknya yang dekat dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, yang merupakan rumah dari populasi yaki yang paling banyak pada habitat aslinya.

As many as 52 participants from government institutions in Bitung and Airmadidisuch as the Forestry Department, Education and Culture Department, Tourism Department, Police Department, Indonesian Navy Marine Safety Unit, as well as the heads of sub-districts and villages (Camat and Lurah) took part in this workshop. Amongst the participants are also representatives from community organisations that are involved in environmental fields and academics from Universities in Bitung, Airmadidi, and its surrounding areas. The concentrated participants are from Bitung and Airmadidi, based to the reason that these areas are the focus of our 2nd year Yaki Pride Campaign. Bitung and Airmadidi were chosen as campaign areas based on the short distance from the Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, which is the natural habitat of most of the Yaki population.

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Tujuan dari workshop ini adalah agar para pemangku kepentingan dapat duduk bersama dan mendiskusikan peran masing-masing dalam meningkatkan kesadaran serta pendidikan konservasi Macaca nigra. Seperti halnya pepatah lama yang menjadi filosofi bangsa Indonesia yaitu “berat sama dipikul ringan sama di jinjing” , maka diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan ini diharapkan mampu menghasilkan ide dan kegiatan yang efektif dan menunjang kegiatan konservasi yaki. Untuk kepentingan itu, para peserta mengikuti beberapa materi, yang dibawakan antara lain oleh Dr. Noldy Tuerah selaku pimpinan Synergy Pacific Institute yang menaungi program Selamatkan Yaki dengan materi tentang Konservasi Macaca nigra di SULUT, dan ilmuwan Dr. Saroyo Sumarto M.Si yang telah mendedikasikan dirinya untuk pelestarian yaki dengan materi Alasan Ilmiah Konservasi Macaca nigra. Kedua narasumber ini memotivasi peserta workshop

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan efisien bagi pelestarian satwa, bertolak dari kapasitas dan budaya Sulut. Selain kedua pembicara yang menginspirasi ini, Caroline Tasirin selakuEducation Assistant di Selamatkan Yakimembawakan materi yang membahas suksesnya Kampanye Kebanggaan Yaki di Tomohon dan Langowan tahun lalu, serta memberi masukan bagi para peserta mengenai bagaimana mereka dapat berkontribusi pada kampanye tahun ini.

The purpose of this workshop is for stakeholders to be able to sit down together and discuss their respective roles in raising awareness as well as in Macaca nigra conservation education. Just like the old saying that has become a philosophy for our nation, about sharing both the joys and sorrows, the stakeholders’ joint discussions are expected to be fruitful of effective ideas and activities that support Yaki conservation activities. For this particular purpose, the participants were provided with materials presented by Dr. Noldy Tuerah, Director of Synergy Pacific

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah - Direktur Synergy Pacific Institute

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah – Direktur Synergy Pacific Institute

Institute which the Selamatkan Yaki programme is under, who spoke about Macaca nigra conservation in North Sulawesi and scientist Dr. Saroyo Sumarto M.Si whom had dedicated himself for yaki conservation and spoke about the scientific reasons behind Macaca nigra conservation. Both speakers motivated the workshop participants to come up with creative and efficient ideas for wildlife conservation based on the capacity and culture of North Sulawesi. Aside from these two inspiring speakers, Selamatkan Yaki’s Education Assistant, Caroline Tasirin, gave a presentation that helped describe the success of the 1st Yaki Pride Campaign in Tomohon and Langowan last year, as well as helping give inputs to participants on how they can contribute in this year’s campaign.

Peran setiap peserta dalam penyadartahuan mengenai konservasi yaki dibahas lebih dalam di Focus Group Discussion (FGD) pertama, di mana para peserta membahas topic FGD dalam kelompok-kelompok campuran. Hasil diskusi kelompok dibahas dalam sesi pleno dengan kesimpulan yang menarik; para peserta memilih rekomendasi yang paling penting untuk diterapkan, dan tiga rekomendasi teratas antara lainpenyitaan dan penegakan hukum oleh polisi dan tentara serta alokasi anggaran dan penyusunan Peraturan Daerah untuk konservasi oleh walikota dan bupati. Akan tetapi, mengingat tujuan utama workshop adalah kegiatan pendidikan dan penyadartahuan konservasi, kegiatan yang sangat direkomendasi oleh peserta juga termasuk pemasangan billboard untuk sosialisasi peraturan yang melarang perdagangan satwa liar oleh Kepala P.D. Pasar, kampanye penyadartahuan oleh para NGO, dan penyusunan kurikulum dan materi konservasi yang bisa diterapkan oleh setiap tingkat pendidikan (SD, SMP and SMA) melalui kerjasama universitas dan Dinas Pendidikan. Kelompok media, seperti F/21 dan Tribun Manado yang juga merupakan peserta workshop, juga diidentifikasi sebagai stakeholder yang penting dan direkomendasikan untuk menyebarkan pesan konservasi yaki melalui pameran/pertunjukkan dan untuk meliput kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konservasi melalui media sosial.

Fokus Grup Diskusi 1 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 1 – rekomendasi dari para peserta

The role of each participant in Yaki conservation awareness was discussed more thoroughly in the first Focus Group Discussions (FGD), in which the participants discuss the FGD topics in mixed groups. The results were then discussed as a group discussion in the plenary session which resulted in interesting conclusions; the most votes were given to the recommendation of the Police to improve the law enforcement and for the Mayor to provide funding for conservation activities in addition to create local laws (PERDA) on conservation. However, as this workshop focused specifically on conservation education and awareness raising , other highly recommended activities were for the Kepala pasar to provide billboards to contribute to awareness raising on the Indonesian wildlife protection laws, for NGOs to hold awareness raising campaigns, and for universities and the Head of Education (Dinas Pendidikan) to work together on creating a conservation curriculum for each level of education (elementary school, junior and senior high school). Media groups, such as the participating F21 and Tribun Manado, also were identified as an important stakeholder by spreading yaki conservation messages through exhibitions and to cover any conservation related events through social media channels.

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Pada siang harinya, rekomendasi untuk rencana kampanye disusun melalui FGD kedua, termasuk usulan kegiatan dan pesan kampanye. Selamatkan Yaki akan menyusun rencana kampanye berdasarkan rekomendasi-rekomendasi ini serta hasil survey skala besar di mana 1135 orang penduduk Bitung dan Airmadidi diwawancarai mengenai konservasi, komunikasi, dan metode kampanye yang mereka sukai. Selamatkan Yaki berharap para tokoh masyarakat yang menghadiri workshop hari Sabtu lalu dapat menjadi wajah dan suara kampanye kami dan bertindak sebagai Duta Yaki yang menyebarkan pesan bahwa kita seharusnya tidak memburu, memperdagangkan atau mengkonsumsi Macaca nigra atau yaki yang sangat terancam punah.

Later on in the day, recommendations for campaign plans were arranged through the second FGD, including the activities and campaign messages suggestions. Selamatkan Yaki will construct a campaign plan based on these recommendations and the result of a large-scale survey through which we interviewed 1135 residents in Bitung and Airmadidi regarding conservation, communication, and campaign methods that they are in favor of. Selamatkan Yaki hopes that community leaders who attended the workshop last Saturday could be the faces and voices of our campaign and would act as a Yaki Ambassador, spreading the message that we should not hunt, trade nor consume the Critically Endangered Macaca nigra or yaki.

Fokus Grup Diskusi 2 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 2 – rekomendasi dari para peserta

Karena yaki merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang tidak bisa hidup secara liar di tempat manapun di dunia, patutlah area Airmadidi dan Bitung berbangga karena yaki dalam jumlah yang besar hanya bisa ditemukan di sini. Sayangnya, jumlah yang besar ini tampaknya tidak seimbang dengan kecenderungan masyarakat untuk memburu yaki, baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijadikan peliharaan di rumah, ataupun mengalih fungsikan hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Di samping adanya UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999 yang melindungi yaki, alangkah baiknya jika masyarakat pun bahu membahu mempertahankan keanekaragaman hayati yang unik ini. Dengan stakehorders meeting ini diharapkan langkah-langkah pelestarian alam pada umumnya dan pelestarian yaki pada khususnya akan mendapat perhatian yang lebih besar dari masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Bitung dan Airmadidi, sehingga nanti tidak ada lagi satwa liar yang akan punah serta usaha perlindungan satwa liar akan lebih baik lagi.

Yaki is a North Sulawesi endemic species that cannot naturally live in any other place in the world, and it is for that reason that the Airmadidi and Bitung areas should be proud; a large amount of Yaki populations are only found within these areas. Unfortunately, this large amount seems disproportionate to the society’s tendencies to hunt yaki, be it for consumption or to be kept as pets, or converting forest, where they live, to make space for humans. Aside from the national law (Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 and Peraturan Pemerintah no. 7 Tahun 1999) that protects the yaki, it would be better if the society also join hands in preserving this unique biodiversity. Through the stakeholders meeting, we hope that nature conservation efforts in general and yaki conservation, especially, will become a bigger concern for the people of North Sulawesi, especially in Bitung and Airmadidi, so that in the future, wildlife will no longer face the threats of extinction and that wildlife protection can improve.

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki - Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki – Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Beberapa hari setelah Workshop Torang Bacirita tentang Konservasi Yaki, Meneer Edhie dari Akademi Maritim Indonesia (AMI) Bitung sudah menyebarkan pesan konservasi yaki dengan memasang banner info yaki untuk dibaca masyarakat! Terima kasih banyak Meneer Edhie, semoga yang lain akan segera mengikuti!

Just a few days after Workshop Torang Bacirita Yaki Conservation, Meneer Edhie from the Indonesian Maritime Academy (Akademi Maritim Indonesia) Bitung was already spreading the yaki conservation message by putting up our yaki information banner for the public to read! Many thanks, Meneer Edhie, hopefully others will soon follow!11020480_1046900885339233_3492717509067554482_n

Sudahkah Anda memasang banner Anda? Harap men-share foto banner yang sudah dipasang, serta Anda dan rekan-rekan Anda yang berpose bersama banner tersebut di Facebook group Torang Bacirita Konservasi Macaca nigra!

Have you put up your banner? Please share your photo of the already installed banner, as well as you and your friends pose with the banner in Torang Bacirita Konsevasi Macaca Nigra Facebook group!

Mewakili Tim Selamatkan Yaki, kami ingin berterima kasih pada semua peserta untuk masukannya. Rekomendasi dari workshop ini akan didistribusikan pada semua peserta melalui email dan dibagikan melalui group Facebook Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra. Sekali lagi, terima kasih kepada para peserta dan crew Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

On behalf of the Selamatkan Yaki team, we would like to thank all the participants for their input. Recommendations from the workshop will be distributed to all participants via email and shared through Facebook group Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation. Once again, thank you to all participants and Tasikoki Wildlife Rescue Center crew!

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan, Fernando Lumowa dari Tribun Manado dan Themmy Doaly dari Mongabay, yang telah meliput acara kampanye kami, Workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra, seperti yang kita sudah menemukan 3 siaran pers, lihat di sini:

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

We would also like to thank the journalists, under which Fernando Lumowa from Tribun Manado and Themmy Doaly from Mongabay, who covered our campaign event, the workshop Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation, as we already found through these 3 press releases, see here:

http://www.seputarsulut.com/torang-bacirita-tentang-konservasi-yaki-di-bitung-airmadidi

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

Perjuangan kami melawan kepunahan: “Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!”

Band Bloodlines

Band asal Manado Bloodlines, Duta Yaki untuk generasi baru

Manado 16 April 2015 – Akhir pekan ini para penggemar musik akan membanjiri GodBless Park Manado dengan adanya penampilan dari band-band besar seperti Burgerkill, Taring dan Seringai. Di antara band-band ini adalah Bloodlines, yang pertama dari jenisnya di Manado dan sudah ada sejak tahun 2000, yang akan tampil pada hari Sabtu, 18 April. Bloodlines yang beranggotakan 6 orang ini telah menjadi Duta yaki sejak September 2014 dan secara aktif mendukung upaya konservasi di Sulawesi Utara. “Selain musik, kami juga tertarik dengan upaya konservasi,” kata Ade, salah satu vokalis Bloodlines, “karena upaya-upaya konservasi dapat berhasil jika turut didukung oleh masyarakat.” Pada bulan September 2014, para anggota Bloodlines memasuki panggung Manado Wheels Automorfosa Auto Contest di Lion Plaza, memakai kaos dengan logo dan slogan Kampanye Kebanggaan Yaki kami. Setelah penampilan yang luar biasa, band ini menutup penampilan mereka dengan menjelaskan mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi, sambil membagikan flyer mengenai program konservasi Selamatkan Yaki. “Sudah lumayan lama sejak kami pertama mendengar tentang Selamatkan Yaki, sekitar tahun 2011, melalui teman-teman pencinta alam saat kami masih di universitas. Sekarang kami akhirnya menemukan kesempatan untuk menyuarakan keprihatinan tentang monyet langka ini!” para anggota Bloodlines menjelaskan.

Yaki (Macaca nigra) adalah spesies primata yang endemik, yang artinya spesies yang hanya hidup secara alami di Sulawesi Utara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Sayangnya, yaki sangat terancam punah karena adanya perburuan dan perambahan hutan, serta jumlah populasi mereka yang telah menurun lebih dari 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun dilindungi oleh hukum nasional. “Melihat secara langsung kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan hidup di sekitar kita, juga melihat yaki yang dijadikan makanan oleh orang-orang rakus yang ingin memakan segala yang hidup, mengilhami kami untuk menjadi bagian dari upaya konservasi yaki“, kata Ade. Tapi bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki? Menurut Bloodlines, “Musik dapat menjangkau golongan masyarakat yang mungkin pada awalnya belum begitu akrab dengan masalah-masalah lingkungan, dan melalui musik kita bisa menyampaikan pesan-pesan mengenai masalah lingkungan tersebut. Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisnya!

Strategi Bloodlines dalam berkontribusi untuk konservasi yaki sangatlah jelas: “Menyelipkan pesan-pesan konservasi di acara-acara musik yang kami hadiri,” jelas Ade, “mengenai betapa pentingnya yaki bagi hutan Sulawesi Utara dan bagi kehidupan masyarakat Minahasa. Melalui kerjasama dengan program konservasi seperti Selamatkan Yaki, kami membantu memberikan suara bagi yaki dan berharap dapat memenangkan perjuangan melawan kepunahan!” tukasnya.

Ayo lihat orang-orang inspiratif ini beraksi! Bergabunglah di konser mereka di Godbless Park Manado pada Sabtu, 18 April 2015 (gratis, mulai pukul 17.00) dan beli kaos Yaki Ambassador Bloodlines x Selamatkan Yaki (edisi terbatas) yang akan tersedia di konser, atau silahkan pesan melalui Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines

Email: wearebloodlines@gmail.com

Facebook: www.facebook.com/Bloodlines

Bloodlines concert

Wildlife photographer David Slater supporting yaki conservation!

The power of media and collaboration to help the Yaki

Kekuatan media dan kolaborasi untuk menolong Yaki

1Do you recognise this photo? It was said to be a selfie made by a clever yaki in Batuputih Nature Recreation Park at Tangkoko Nature Reserve in North Sulawesi.

Apakah Anda mengenali foto ini? Dikatakan ini merupakan foto selfie yang dibuat oleh yaki yang pintar di TWA Batuputih di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara.

It looks as though this yaki is fascinated, exploring the many functions of a camera. Well, there is a story behind it… In Tangkoko Nature Reserve live approximately 2000 wild yaki. This is almost half of all remaining yaki in the wild, so protecting this Nature Reserve is a high priority for yaki conservationists like us!

Tampaknya terpesona, dan sedang mengutak-atik kamera. Nah, ada cerita di balik itu… Di Cagar Alam Tangkoko hidup kira-kira 2000 Yaki liar. Hampir setengah dari sisa Yaki di alam liar, untuk itu melindungi Cagar Alam ini adalah prioritas untuk konservasionis yaki seperti kita!

Here the yaki live in large social groups where they live, eat, play, groom and sleep among their friends and families. Sounds peaceful, doesn’t it?

Di sini, Yaki hidup dalam group-group sosial yang besar dimana mereka hidup, makan, bermain, mencari kutu dan tidur di antara teman-teman dan keularga. Kedengarannya damai bukan?

Unfortunately, there is more behind the scenes. The yaki are threatened by illegal logging and hunting. Many people are working to prevent this from happening, like our partners at the Macaca Nigra Project and the rangers working for the Natural Resources Conservation Agency (BKSDA). Additionally, tourism is implemented in the nature recreation park (a 635 hectare area of the reserve available for tourists) so people can view the yaki and other unique wildlife from a safe distance.

Sayangnya, ada banyak hal di balik layar. Yaki terancam oleh pembalakan liar dan perburuan. Manyak orang yang bekerja untuk mencegah ini terjadi, seperti partner kami di Macaca Nigra Project serta polisi hutan yang bekerja untuk Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.

Like humans, yaki are primates – a group of animals including monkeys, apes and lemurs. This means that we are much alike, in our genetic make-up, our behaviour and intelligence. This also means that we can put each other at risk, for example by entering the forest when unwell, touching our nose and then a tree. A yaki might touch this same tree when climbing up to build his nest that evening! Either through direct or in-direct contact, we can transmit diseases with big consequences. For example, a simple flu virus could possibly lead to death for a baby yaki.

Seperti manusia, yaki adalah primata – sekelompok binatang termasuk monyet, kera dan lemur. Ini artinya kita semua memiliki banyak kesamaan, dalam genetik, perilaku serta kecerdasan. Ini juga dapat berarti bahwa kita bisa saling membahayakan satu sama lain, contohnya ketika memasuki hutan dalam keadaan tidak sehat, menyentuh hidung kita lalu menyentuh pohon. Yaki dapat menyentuh pohon yang sama saat memanjat untuk membuat sarangnya pada malam hari! Bahkan kontak langsung atau tidak langsung, kita dapat menularkan penyakit dengan konsekuensi yang besar. Contohnya, virus flu yang sederhana dapat menyebabkan kematian seekor bayi yaki.

We can also become ill by being in close contact with other primates, like the yaki. For example, when people keep the yaki as a pet, this can lead to transfer of parasites or diseases such as tuberculosis to a family living nearby, including the children.

Kita juga dapat sakit dengan berada dekat dengan primata lain seperti yaki. Contohnya ketika orang menjadikan yaki sebagai peliharaan, itu pun dapat menyebabkan pertukaran parasit ataupun penyakit seperti tuberculosis kepada keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar, termasuk anak-anak.

Because of the risk of disease transmission and for both our and the yaki’s safety, there are Codes of Conduct when viewing the yaki in the wild, under which:

1. Keep a safe distance of minimal 5 meters between you and the yaki;

2. Do not feed the yaki. The forest provides them with a healthy diet and through feeding you can make them sick;

3. Do not leave rubbish and abstain from defecating and spitting whilst being near the yaki in the forest. This way you avoid pollution and disease transmission;

4. Do not use threatening behaviour: avoid shouting, sudden movements, making eye contact or moving directly towards the yaki. Stressed animals can be dangerous if threatened;

5. Do not use camera flash or powerful flashlights whilst observing the yaki as these can disorient or scare them or even cause eye injuries.

Oleh karena resiko dari penularan penyakit serta untuk keamanan yaki, ada Kode Etik saat melihat yaki di alam, di antaranya;

1. Jaga jarak aman minimal 5 meter antara Anda dan yaki tersebut;

2. Jangan memberi makan yaki. Hutan menyediakan diet sehat untuk mereka dan dengan memberi makan Anda dapat membuat mereka sakit;

3. Jangan meninggalkan sampah dan jauhkan diri dari buang air besar dan meludah sementara berada dekat yaki di hutan. Dengan cara ini Anda menghindari polusi dan penularan penyakit;

4. Jangan melakukan perilaku mengancam: hindari berteriak, gerakan tiba-tiba, membuat kontak mata atau bergerak langsung menuju yaki tersebut. Hewan yang tertekan bisa berbahaya jika terancam;

5. Jangan menggunakan flash kamera atau senter yang silau sementara mengamati yaki sebagaimana ini dapat atau menakut-nakuti mereka atau bahkan menyebabkan cedera mata.

This brings me back to our famous yaki. When looking into the eyes of the yaki in the above photo, what do you see? We hope that people who have seen these amazing monkeys would love to come and see the yaki in their forest homes, or even help us to help them, but also remember that they are still wild animals and so should be viewed from a safe distance and not touched, even when they can be curious.

Hal ini membawa saya kembali ke yaki terkenal kami. Ketika melihat ke dalam mata yaki pada foto di atas, apa yang Anda lihat? Kami berharap bahwa orang yang telah melihat monyet menakjubkan ini akan senang untuk datang dan melihat yaki di rumah hutan mereka, atau bahkan membantu kita untuk membantu mereka, tetapi  ingat juga bahwa mereka masih binatang liar dan harus dilihat dari jarak yang aman dan tidak tersentuh, bahkan pada jarak yang bisa membuat mereka penasaran.

Yaki are also very intelligent, as English wildlife photographer David Slater discovered during his visit to Tangkoko in 2011. David cares deeply for the subjects of his photographs and after realising the impact his photo made around the world, he contacted our team and offered a donation strategy to support Selamatkan Yaki’s activities! Photo products company Picanova partnered with photographer David and handed out free canvas prints of the yaki selfie. With every free canvas ordered, £1 was donated to Selamatkan Yaki! With a further kind donation from David, a contribution of £533 was made to our programme. A fantastic opportunity, not only for the yaki to become a celebrity and to raise awareness internationally of our plight to save them, but also to fund our much needed conservation activities in North Sulawesi. This is all thanks to David’s efforts, who has highlighted the importance of collaboration and illustrated what can be achieved when combining our strengths – as Wildlife Photographer, Photo Company and Conservation Programme!

Yaki juga sangat cerdas, seperti yang didapati oleh fotografer satwa liar dari Inggris David Slater selama kunjungannya ke Tangkoko pada tahun 2011. David sangat peduli pada subjek foto dari foto-fotonya dan setelah menyadari dampak yang dibuat oleh fotonya  di seluruh dunia, ia menghubungi tim kami dan menawarkan strategi sumbangan untuk mendukung kegiatan Selamatkan Yaki! Perusahaan produk foto Picanova bermitra dengan fotografer David dan menyebarkan kanvas cetakan dari selfie yaki. Dengan setiap kanvas yang dipesan, £1 disumbangkan ke Selamatkan Yaki! Donasi selanjutnya dari David, yaitu kontribusi pribadi £533 diberikan untuk program kami. Sebuah kesempatan yang fantastis, tidak hanya untuk yaki untuk menjadi seorang selebriti dan untuk meningkatkan kesadaran internasional dari janji kami untuk menyelamatkan mereka, tetapi juga untuk mendanai kegiatan konservasi kami yang sangat diperlukan di Sulawesi Utara. Ini semua berkat usaha David, yang telah menyoroti pentingnya kolaborasi dan mengilustrasikan apa yang bisa dicapai ketika menggabungkan kekuatan kami – sebagai Fotografer Satwa Liar, Perusahaan Foto dan Program Konservasi!

Selamatkan Yaki would like to give a big thank you to Wildlife Photographer David J Slater, in addition to Global Photo Products Company Picanova. For more beautiful imagery, please check David’s website www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

Selamatkan Yaki ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Fotografer Satwaliar David J Slater, serta kepada Global Photo Products Company Picanova. Untuk gambar-gambar indah lainnya, silahkan periksa website David: http://www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

By safeguarding the Yaki, we safeguard our future!

Dengan melindungi yaki, kita menjaga masa depan kita!

Meet Our Literature & Translation Volunteer: Dania

Say hi to another one of our highly-dedicated multitasking volunteer! Dania has been helping us for awhile now, from helping review and translate documents as well as blogs, transcribing videos, and had recently offered to help manage our social media!
Perkenalkan satu lagi sukarelawan kami yang berdedikasi tinggi dan senang multitasking! Dania sudah lumayan lama membantu kami, dari membantu meninjau ulang dan menerjemahkan dokumen dan blog, membuat transkrip video dan barusan ini menawarkan diri untuk ikut membantu mengelola media sosial kami!

DSC_0070

Me and my baby boy! | Saya bersama putra saya!

I am a Bachelor of Science and fulltime housewife. Writing is my hobby and I have published numerous stories and articles, both in local and national media as well as book. The reason why I love contributing in yaki conservation is because I love animals and I don’t like to see them being cruelly hunted.
Saya seorang Sarjana Biologi dan juga ibu rumah tangga. Saya memiliki hobi menulis dan telah mempublikasikan banyak cerita serta artikel, baik di media lokal maupun nasional juga buku. Alasan mengapa saya senang berkontribusi pada konservasi yaki adalah karena saya mencintai binatang dan tidak suka melihat mereka diburu dengan kejam.

_MG_3966

Inside Tangkoko | Di dalam Tangkoko

Macaca nigra is an endangered species that I am most able to reach easily, because we live in the same place: North Sulawesi. I also have beautiful memories with them when I worked in Tangkoko as a Research Assistant many years ago. That was the first time I realized I wanted to contribute in yaki conservation; I saw many things related to illegal hunting, such as injured monkeys and traps everywhere.
Macaca nigra adalah spesies terancam punah yang paling bisa saya jangkau karena kami tinggal di tempat yang sama yaitu Sulawesi Utara. Saya juga memiliki kenangan yang indah dengan mereka ketika masih bekerja di Tangkoko sebagai asisten penelitian beberapa tahun yang lalu. Itulah kali pertama saya sadar saya ingin berkontribusi dalam konservasi yaki; saya melihat banyak hal yang berhubungan dengan perburuan ilegal, seperti monyet yang terluka dan perangkap dimana-mana.

Team 090507_8

working with MNP | bekerja dengan MNP

After completing my work there, I had been looking for another way to save the yaki and I found SY through the internet. That is why, by joining SY I am able to not only contribute in conservation (by doing translations), but also increase my good experiences with monkeys.
Setelah menyelesaikan pekerjaan saya di sana, saya mencari cara lain untuk menyelamatkan yaki dan saya menemukan SY dari internet. Karena itulah, dengan bergabung di SY, saya tidak hanya bisa berkontribusi pada konservasi (dengan melakukan terjemahan), tapi juga menambah pengalaman saya bersama monyet.

Dania continues to contribute her time and energy in helping our program voluntarily and we are so lucky to have her on board!
Dania terus mengkontribusikan waktu dan tenaganya untuk membantu program kami secara sukarela dan kami sangat beruntung dia ikut bergabung!

Kekuatan Media Sosial: era konservasi 3.0 | The Power of Social Media: the 3.0 conservation era

Oleh Puspita Insan Kamil, Analis Media Sosial

By social media analyst Puspita Insan Kamil

Saat ini, hampir semua orang menggunakan media sosial. Saya bertaruh, anda juga membaca artikel ini dari tautan yang terdapat pada pemberitahuan di Facebook, dikirim di email atau dari timeline Twitter anda (mohon untuk tidak ragu menulis komentar jika saya salah). Hal ini tidaklah mengejutkan mengingat kita hidup di jaman yang lebih cerdas dibandingkan dengan bertahun-tahun yang lalu, misalnya: semua tersedia untuk anda melalui OS (Operating System) termasuk telepon seluler anda. Jadi apa yang anda lakukan dengan telepon seluler anda setiap hari? Mencari mode terbaru, berbagi foto selfie anda ketika berada di hutan Indonesia atau sekedar mencari makanan yang akan anda makan hari ini? Bersamaan dengan era teknologi, media sosial muncul sebagai bintang baru yang bersinar. Berdasarkan Laporan Penelitian Planet Seluler Kita dari Google, 94 persen dari pengguna telepon seluler menggunakan smartphone mereka untuk berkomunikasi (Google, 2013). Karena manusia bersifat sosial, secara nyata kita memerlukan tempat untuk mengumpulkan dan berbagi informasi, yang dengan cara itulah kita bertahan. Jadi, sebesar apa kekuatan media sosial saat ini? Apakah itu bisa membantu kita membangun dunia yang lebih baik dan membuat perbedaan dalam konservasi?

Everyone uses social media these days. I bet you are reading this article by clicking on a link from your news feed on Facebook, sharer in email, or your Twitter timeline (please don’t hesitate to write a comment to me if I am wrong). It’s not surprising since we are living in a smarter world compared to many years ago: everything comes to you by OS (Operating System) including your mobile phone. So what do you do with your mobile phone every single day? Look for a new style, share your selfie picture from an Indonesian jungle, or just search what you’re going to eat today? Along with the technology era, the social media came up as a big new star. According to Google Our Mobile Planet Research Report, 94% of mobile phone owners use their smartphone for communication (Google, 2013). Since humans are social beings, we obviously need a place to gather and share information – that is how we survive. So how big is the power of social media nowadays? Can it help us build a better world and make a difference in conservation?

Facebook memberikan data khusus bagi para pengguna pasar yang disebut “Wawasan Penonton”. Menurut data RT (Real-Time) mereka, terdapat sekitar 60 juta penduduk Indonesia yang aktif menggunakan Facebook setiap harinya dan dari angka ini terdapat kira-kira 3 juta orang yang menambahkan “hewan” sebagai minat mereka, yang terdiri dari 64 persen pria dan 36 persen wanita (Facebook, 2015). “Minat” itu sendiri mengartikan kategori fanpage yang anda suka atau setiap post yang membuat anda tertarik.

Facebook provides marketers with special data, called “Audience Insights”. According to their RT (Real-Time) data, there are around 60 million Indonesian people who actively use Facebook on a daily basis and of this number there are approximately 3 million people who added “animal” to their interest, consisting of 64% men and 36% women (Facebook, 2015). The “interest” itself means a category of the fanpage you like or any post that you are interested to.

Lantas apakah arti dari angka ini? Hal itu mungkin menunjukkan bahwa orang-orang ini hanya menyukai kategori hewan seperti anda membawa hewan peliharaan ke rumah, bukan karena persoalan konservasi.

But what does this number mean? It may be that these people only liked the category animal, like you add a pet to your home, not out of conservation concern.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana media sosial bisa membuat perbedaan dalam konservasi, berikut beberapa pengetahuan dari teknologi yang amat cepat berkembang ini. Dalam industri teknologi, kita sering mengatakan bahwa terdapat 3 era evolusi program digital. Era 1.0, adalah sebuah masa dimana anda hanya bisa mendapatkan informasi dari program saja (interaksi satu arah), kemudian era 2.0, dimana anda dan sistem atau pengguna lainnya bisa berinteraksi satu sama lain secara independen atau sebagai satu komunitas. Terakhir, kita punya era 3.0 atau era pembelajaran mesin. Teknologi pembelajaran mesin ini membuat kita bisa menerima sugesti. Sebagai contoh, sugesti mengenai apa yang disukai teman kita (sistem akan berpikir bahwa kita akan menyukainya juga), dan semenjak kita berteman dengan orang-orang yang berbagi minat yang sama dengan kita, berdasarkan Teori Ketertarikan, kita akan menyukai sugesti tersebut! Bisakah anda bayangkan seberapa cepat informasi ini akan terkirim melalui jaringan dan mencapai orang lain yang memilih “hewan” sebagai minat mereka?

To address the question how social media can make a difference in conservation, here are some insights in this rapidly developing technology. In the technology industry, we often say that there are 3 eras of digital platform evolution. There is the 1.0 era, where you can only get information from the platform (one way interaction), to 2.0, where you and the system, and any other user can interact with each other independently or as a community. Finally, we have the era of 3.0, or the machine learning era. This machine learning technology lets us receive suggestions, for example suggestions of what our friends like (the system will think that we will like that too), and since we become friends with people who share similar interests with us – according to Attraction Theory – we will like that suggestion! Can you imagine how fast this information goes through the lines and reaches other people who pick “animal” in their interest?

Faktor penting lainnya dalam irama media sosial disebut “ikatan”. Jika anda berniat untuk membantu sebuah organisasi dengan mempromosikannya kepada yang lain, jangan berhenti pada tingkat “like” saja di Facebook, tapi bagikan itu! Jika anda membagikannya, banyak orang yang akan melihatnya dimana ini berarti masuk dalam kategori “mencapai”. Akan tetapi, untuk benar-benar mempromosikan sebuah organisasi, hal ini tidaklah cukup. Jika anda memperbolehkan seseorang untuk melihat post dan bahkan menyukai fanpage-nya, barulah anda telah membuat sebuah “ikatan” dan itulah yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi. Kelihatannya agak sulit dilakukan, bukan?

Another crucial factor in social media metrics is called “engagement”. If you want to help an organisation by promoting it to others, don’t stop at the “like” level on Facebook, but share it! If you share it, people will see it which is measured through “reach”. But to really promote an organization, this isn’t enough. If you enable a person to see the post and even like the fanpage, then you are making one “engagement”, and that’s what the organisation needs. Well, kinda hard work isn’t it?

Saya telah bekerja di industri digital selama dua tahun dan saya tahu, secara bersama-sama kita bisa membuat perbedaan dalam konservasi melalui media sosial. Sebagai seorang pembaca, saya ingin anda menyadari bahwa media sosial, yang bisa anda akses dengan mudah melalui smartphone anda, muncul bersamaan dengan tanggung jawab. Jika anda menggunakannya untuk sesuatu yang salah, media sosial akan menjadi racun bagi konservasi. Tapi jika anda bisa menggunakannya secara bijak, maka media sosial bisa berperan sebagai penyembuh. Ketika anda membaca ini, ada begitu banyak pemburu ilegal yang aktif dalam media sosial, baik melalui post, grup maupun fanpage. Kita tidak bisa melawan mereka kecuali kita menggunakan senjata yang sama. Buat mereka merasa bersalah. Katakan pada mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang tidak benar. Katakan pada pihak yang mendukung mereka bahwa tindakan itu salah. Buatlah sebuah batas sosial atau pengucilan bagi mereka yang merusak konservasi, dimana hal ini bisa menjadi hukuman psikologi terbaik yang diketahui oleh para ilmuwan. Untuk menghukum mereka, kekuatan anda terbentang dalam akun media sosial anda. Gunakan secara bijak dan anda bisa membuat sebuah perbedaan dalam konservasi. Bergabunglah dengan era konservasi 3.0 kami!

I have been worked for digital industry for two years now and I know together we can make a difference in conservation through social media. As a reader, I would like you to realize that social media, which you can access easily through your smartphone, comes with a responsibility. If you use it wrongly, it could be a poison to conservation but if you use it wisely, it could act as a cure. While you are reading this, there are many illegal poachers active on social media, through posts, groups, or even fanpages. We can’t stand against them unless we use the same weapon. Make them feel that they are wrong. Tell them that they are wrong. Tell the people who support them that they are wrong. Make a social exclusion for people who harm conservation, since it is the best psychological punishment known by scientists. To punish them, your power lies in your social media accounts. Use them wisely and you can make a difference in conservation. Join our 3.0 conservation era!

Join Puspita on Twitter this Thursday, Feb 20th 2015 for more discussions on how social media can help conservation. Follow our Twitter and RT away ;)

unnamed

Kekuatan Media Sosial: 1000 pengikut Twitter untuk Selamatkan Yaki! | The Power of Social Media: 1000 Twitter Followers

Oleh Katharine Szokalo, penggemar Twitter

unnamed

Hari ini, kita merayakan tercapainya 1000 pengikut di Twitter! Ini merupakan pencapaian yang besar bagi sebuah program konservasi yang masih amat muda. Lihatlah dibalik layar dan baca apa yang dikatakan oleh ahli Twitter kami, Katharine, ketika melihat aktivitas
Twitter Selamatkan Yaki selama dua tahun.

Today, we are celebrating reaching 1000 followers on Twitter! A great achievement for a conservation programme as young as ours. Have a look behind the scenes and read what our Twitter expert Katharine has to say while looking back on Selamatkan Yaki’s two years of Twitter activities.

“Twitter digunakan oleh jutaan orang, bahkan hingga selebriti, dan itu merupakan cara tercepat untuk memperoleh pesan dalam wilayah publik” tutur Katharine Szokalo, yang telah menjadi bagian dari tim Media Sosial Selamatkan Yaki sejak awal berdiri. “Yaki ini bukanlah spesies primata yang cukup dikenal dan sebagian orang malah menganggap mereka gorila, percaya atau tidak! Twitter sudah membantu tim Selamatkan Yaki untuk menyebarkan kesadaran mengenai spesies ini dan menghasilkan pengikut lebih dari 1000 orang. Terima kasih kami ucapkan kepada kekuatan dari alat media sosial ini dan juga program media sosial lainnya seperti Facebook, Pinterest dan Instagram, dimana Selamatkan Yaki selalu punya pengikut baru setiap harinya.”

“Twitter is used by millions of people, even celebrities, and it’s a rapid way of getting messages out in the public domain” states Katharine Szokalo, who has been part of Selamatkan Yaki’s Social Media Team since the beginning. “The yaki are not such a well-known primate species and some people have even mistaken them for gorillas, believe it or not! Twitter has allowed the Selamatkan Yaki Team to spread awareness and generate over 1000 followers. Thanks to the power of this social media tool and other social media platforms such as Facebook, Pinterest and Instagram, Selamatkan Yaki has new followers every day.”

Media sosial membuat kita bisa terhubung satu sama lain. Di Selamatkan Yaki, kami menggunakan jaringan kami untuk menyebarkan pesan konservasi dan membuat para pengikut selalu mengetahui hal terbaru setiap saat. “Hal yang saya temukan, khususnya yang membuat kekuatan media sosial begitu luar biasa”, kata Katharine, “yaitu bahwa orang-orang dari seluruh dunia bisa belajar banyak mengenai yaki dan mereka bisa mulai mengerti ancaman-ancaman yang dihadapi spesies ini di alam juga bagaimana jumlah mereka berkurang begitu banyak. Dengan memperbolehkan para pengikut untuk berinteraksi dengan kami, berarti kami juga bisa menambahkan aspek yang menyenangkan. Sebagai contoh, Fakta Yaki kami di hari Rabu terbukti populer di antara pengikut kami dan banyak dari mereka yang melakukan re-tweet Fakta Yaki tersebut! Kami berharap akan semakin banyak orang yang mengikuti kami di Twitter dan kami juga ingin berterima kasih kepada para pengikut yang telah membagikan tautan kepada teman dan keluarganya. Dengan cara ini, kami bisa mengikat kekuatan dan mendorong banyak orang untuk ikut serta dalam kampanye kesadaran dari Selamatkan Yaki!”

Social media allows us to connect with each other. At Selamatkan Yaki we use our channels to spread our conservation message and keep our followers up to date in ‘real time’. “What I find especially amazing of the power of social media”, says Katharine, “is that people from all over the globe can learn more about the yaki, and that these people are beginning to understand the threats which the yaki face in the wild and how their numbers have decreased devastatingly. Allowing our followers to interact with us, means we can also add a fun aspect. Our Yaki Fact Wednesday for example has proved to be popular among our followers and many of them have re-tweeted the Yaki facts! We hope that more people will follow us on Twitter and we would like to thank our followers for sharing the links with friends and family. This way we can bundle our strengths and encourage more people to follow the Selamatkan Yaki awareness campaigns!”

Katharine telah menolong Tim Selamatkan Yaki dengan menjadi sukarelawan pada bagian media sosial. Ikuti board Pinterest kami dan lihatlah orang-orang di balik Selamatkan Yaki!

Katharine has been helping the Selamatkan Yaki Team by volunteering at the social media department. Follow our Pinterest board and see more people behind Selamatkan Yaki: https://www.pinterest.com/pin/450993350157579872/

Motivasi dan Dorongan untuk Mengurangi Masalah Perdagangan Satwa Liar | Motivation and Encouragement to Reduce the Plague of Wildlife Trade

Kolaborasi, komunikasi dan kerjasama merupakan beberapa rekomendasi yang paling sering diutarakan untuk membuat manajemen wilayah alam kita lebih terpadu dan efektif. Nilai-nilai yang penting ini rupanya menjadi motivasi pada sebuah pertemuan di akhir bulan dari tim gabungan khusus yang dirancang oleh pemerintah Indonesia untuk melindungi hutan di Sulawesi Utara, dimana arti sesungguhnya dari hal tersebut secara mengejutkan bersifat umum.

Collaboration, communication, cooperation…the often cited recommendations for more cohesive and effective management of our natural areas. It was these crucial values that were apparently the motivation for last month’s meeting of the special integrated task force designated by the Indonesian Government to safeguard forests in North Sulawesi, and the genuine sense of which was surprisingly prevalent.IMG_9607

Rapat Koordinasi Tim Terpadu Keamanan Hutan Sulawesi Utara (atau sebagaimana kebiasaan yang berlaku di sini yaitu memangkas istilah yang panjang menjadi format yang lebih mudah sehingga menjadi Rakortimdu yang merupakan rapat tim khusus untuk perlindungan hutan di Sulawesi Utara) adalah sebuah pertemuan dari para perwakilan yang  meliputi berbagai tingkat yang mencakup ahli kehutanan, polisi dan pembicara dari pihak pemerintah provinsi.

‘Rapat Koordinasi Tim Terpadu Keamanaan Hutan Sulawesi Utara (or, as is the norm here, squishing these lengthy terms into a friendlier format: ‘Rakortimdu’: the special taskforce meeting for forest protection in North Sulawesi) was a gathering of the top representatives from multiple levels of forestry, police and provincial Government spokespersons.

Kami dari Selamatkan Yaki merasa terhormat telah diundang untuk memaparkan topik mengenai rute-rute perdagangan satwa liar dan terlebih khusus membeberkan beberapa kasus terbaru dari macaca yang diburu, diperdagangkan atau dipelihara sebagai hewan peliharaan. Pemaparan ini ternyata dapat diterima dengan baik, dimana kami juga mengambil kesempatan untuk membagikan protokol terbaru kami (tautan ke halaman protokol sudah diunggah) terhadap beberapa peristiwa perdagangan satwa liar serta gambaran kerangka kerja mengenai tindakan yang akan dilakukan, yang telah dikembangkan pada lokakarya Macaca nigra di tahun 2013. Kami benar-benar IMG_9609menekankan betapa perlunya kita memperkuat kapasitas dari pelaksana hukum serta sarana dan prasarana departemen terkait disaat memutuskan jaringan-jaringan dari pelaku utama perdagangan ini, yang amat disayangkan juga melibatkan para  pejabat.

We at Selamatkan Yaki feel privileged to have been invited to present on the topic of wildlife trade routes and especially expose some recent cases of macaques being hunted, traded or kept as pets. The talk was well received, during which we also took the opportunity to share our recently produced protocol (link to page with protocol uploaded) for wildlife trade occurrences, and a reflection of the framework for action developed at the Macaca nigra workshop in 2013. We emphasised the need to strengthen capacity of law enforcement personnel and departmental infrastructure whilst breaking some of the links for the main perpetrators of the trade – which unfortunately includes officials.

Pertemuan ini dihadiri oleh wakil gubernur Dr. Djouhari Kansil yang berpendapat bahwa sebuah tim yang bersatu padu akan bisa fokus pada pelaksanaan rencana kerja dalam mencegah deforestasi, termasuk memperketat peraturan dan menambah jaringan komunikasi. Acara itu juga dikemas dengan berbagai komentar dari beberapa kepala bagian mengenai tantangan dan rintangan yang sistematik. Saya merasa kritik mereka amat jujur dan beberapa di antaranya memberikan saran yang jelas untuk memperbaiki efektivitas kerja. Komentar-komentar khusus yang amat tajam merupakan beberapa referensi akan harapan perubahan yang positif dimana pemerintah yang baru telah membangkitkan rasa ini pada mereka yang hadir, yang selanjutnya akan membakar motivasi untuk berbicara dan berdiskusi.

The meeting was addressed by Vice Governor Dr. Djouhari Kansil, who expressed that the integrated team will be focussed on implementing an action plan to prevent and tackle deforestation, including tightening regulations and increasing communication channels. The day was packed with various heads of department’s reflections of challenges and systemic barriers. I felt their critique was open and from some showing clear direction to amend shortfalls in effectiveness. Especially poignant were the several references to the hope for positive change that the new presidency has instilled in those present – further fuelling the motivational feel of the talks and discussions.IMG_9639

Adapun kelanjutan dari pertemuan yang amat memotivasi ini adalah kunjungan seorang pejabat pada tanggal 9 Januari yang lalu yaitu Duta Besar Amerika Serikat Mr. Robert O. Blake Jr, di pusat pendidikan dan penyelamat satwa PPS Tasikoki yang juga merupakan partner kami. Beliau menggambarkan beberapa pencapaian dari Yayasan Masarang dan lainnya, saat menyoroti betapa mendesaknya kebutuhan akan tindakan yang tegas dan terkolaborasi untuk mengurangi persoalan utama dari perdagangan satwa di daerah. Vecky Lumentut selaku walikota Manado berjanji untuk menerbitkan peraturan (Perwako: Peraturan Walikota) mengenai larangan penjualan daging satwa liar, disaat dokumen surat edaran lokal sedang dirancang berdasarkan rekomendasi dari gubernur untuk memperketat kebijakan-kebijakan alam liar dan tindakan-tindakan pengaturan. Masalah satwa liar ini amat jelas telah menjadi berita unggulan yang nampaknya terus mengalami peningkatan di media lokal, entah mengenai frekuensi kejadian yang meningkat, laporan atau pengenalan serta nilai pada pokok persoalan yang masih tersisa untuk diselesaikan.

Following in the wake of this motivational gathering, January 9th saw an official visit to North Sulawesi by the United States Ambassador Mr Robert O. Blake Jr, with a gathering at our partners, the animal rescue and education centre PPS Tasikoki. The Ambassador reflected upon some of the achievements of the Masarang Foundation and others, whilst highlighting the urgent need for collaborative and firm action for the curtailment of the major issue of wildlife trade in the area. The Mayor of Manado Vecky Lumentut promised to issue regulations Perwako: City level regulations regarding the prohibition of the sale of bushmeat, whilst a local ‘surat edaran’ document is in draft with recommendations from the Governor for tightening nature-based policies and regulatory measures. Noticeably, wildlife-based issues have taken a seemingly increasing prominence in the local media – whether this is due to an increase in frequency of occurrence, reporting or recognition and value in the subject remains to be clear.

IMG_9654Kami akan memantau tindak lanjut dari pertemuan tersebut secara seksama dan berharap bisa melihat peraturan-peraturan dan berbagai rekomendasi seperti ini menjadi sebuah tindakan nyata yang nantinya akan membantu penghentian perdagangan yang kejam dari satwa liar yang unik dari suatu daerah.

We will be carefully monitoring the follow up from the meeting and hope to see regulations and recommendations such as these taken into action, to help put an end to the cruel trade of the area’s special and unique wildlife.