Environmental Education Weekend with Suara Pulau and Celebio!

Another collaboration! This time, SY was invited to join Suara Pulau and Celebio’s Environmental Education Weekend in Lihunu, a village on the island of Bangka! Bangka is situated approximately 50 km north-east of Manado and is blessed with stunning beaches and awesome dive spots. Read Caroline’s take on the event!
Satu lagi kegiatan kolaborasi! Kali ini, SY diundang untuk bergabung dalam Akhir Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup di Lihunu, sebuah desa di pulau Bangka! Bangka terletak sekitar 50 km di timur laut Manado dan diberkahi pantai-pantai yang indah serta banyak dive spot yang memukau. Baca ulasan Caroline mengenai kegiatan ini!

DSC_0018_

It was a typical Saturday in the tropics – the sky was sunny with scattered clouds, the temperature was warm, and there was a fair amount of wind whipping up stomach-churning waves on our way to Bangka! Prisi, Vian, and I were joined by Jose of Suara Pulau, Mary, one of Suara Pulau’s sponsors, Michelle, a reporter, and Sammy, a photographer, on the boat heading for Lihunu. After a 45-minute boat ride we docked on the jetty and headed straight to the elementary school, where the activities were already underway. Marthin, Vina, and their Celebio team, who arrived in Lihunu on Friday, had gathered the elementary school students inside the classrooms and were now busy with the colouring competition. The students seemed very excited; there was the usual chatter of people borrowing colouring pencils and crayons from their friends, but also lively discussions on ideas for colours, drawing in additional scenery, and general talk. Ulfa, the coordinator of Suara Pulau, welcomed us warmly, and we chatted away while we waited for our turn.
DSC_0024Cuaca hari Sabtu itu tipikal iklim tropis – langit cerah dengan beberapa awan di sana-sini, udaranya hangat, dan angin yang cukup kuat menciptakan ombak tinggi selama perjalanan kami ke Bangka! Saya, Prisi, dan Vian menuju Lihunu dengan kapal bersama Jose dari Suara Pulau, Mary, salah satu sponsor Suara Pulau, Michelle, seorang wartawan, dan Sammy, seorang fotografer. Setelah perjalanan kapal selama 45 menit, kami merapat ke dermaga dan langsung menuju gedung SD, di mana kegiatan sudah dimulai. Marthin, Vina, dan tim dari Celebio, yang telah tiba di Lihunu sejak hari Jumat, telah mengumpulkan para siswa SD di dalam ruang kelas dan kini disibukkan lomba mewarnai. Para siswa tampak sangat senang; selain percakapan pinjam meminjam alat warna, para siswa juga berdiskusi dengan semangat mengenai pilihan warna, menggambar pemandangan tambahan, dan percakapan biasa. Ulfa, koordinator Suara Pulau, menyambut kami dengan hangat, dan kami bercakap-cakap sambil menunggu giliran kami tampil.

IMG_3611In no time at all, the junior high school students returned from their rehearsal for the Independence Day flag-raising ceremony (which was to be held the next morning) and filled the neighbouring classroom. We were ready to rumble! Vian loosened things up with his jokes and small games before I introduced the YYC jingle. It was an instant hit! After several spirited recitals, the students were ready to listen to our presentation. It was somewhat different to our previous school presentations; the small island ecosystem, along with the wildlife inhabiting it, was significantly different to the forest ecosystem that the yaki lives in. Thus, we had to make slight adjustments and accommodate several other wildlife species so it would remain relevant to the students. They were excellent listeners and quickly grasped the points I delivered. The quiz session saw plenty of enthusiastic hands; Prisi, Vian and I had to pay very close attention so we could tell who put up their hand first!
IMG_3610_FinTidak lama kemudian, para siswa SMP kembali dari latihan mereka untuk upacara bendera 17 Agustus (yang akan dilaksanakan esok paginya) dan segera berkumpul di ruang kelas sebelah. Kami siap mulai! Vian mencairkan suasana dengan candaannya dan games singkat sebelum saya mengajarkan Yel-yel YYC pada mereka. Yel-yel itu langsung hit! Setelah menyanyikan yel-yel beberapa kali, para siswa siap mendengarkan presentasi kami. Presentasi ini agak berbeda dengan presentasi yang kami bawakan di sekolah-sekolah dulu; ekosistem pulau kecil serta satwa yang tinggal di dalamnya agak berbeda dengan ekosistem hutan tempat tinggal yaki. Oleh karena itu, presentasi ini kami sesuaikan dan menyertakan beberapa spesies satwa lain yang relevan dengan lingkungan para siswa ini. Mereka pendengar yang sangat baik dan memahami materi kami dengan cepat. Para siswa sangat bersemangat ketika masuk sesi kuis; saya, Prisi dan Vian harus memperhatikan dengan cermat agar bisa melihat siapa yang pertama mengangkat tangan!

IMG_3624After we finished the presentation for the junior high school students, we switched with Celebio. Celebio had an arts and crafts session with the junior high school students, using recycled materials, while we gave a presentation to the elementary school students. They were really excited about the YYC jingle too! So excited, in fact, that we made it into an extra competition; the student with the most enthusiastic moves got a special prize!
Setelah kami menyelesaikan presentasi untuk siswa SMP, kami bertukar dengan Celebio. Celebio mengajarkan para siswa SMP untuk membuat kerajinan tangan dengan bahan daur ulang, sementara kami memberikan presentasi pada para siswa SD. Mereka pun sangat bersemangat ketika belajar yel-yel YYC! Saking bersemangatnya, kami membuat lomba tambahan; siswa dengan gerakan paling bersemangat mendapat hadiah istimewa!

In the evening we put up a screen for movie night. Celebio’s video, “Adung, Sahabatku” about an orangutan in a rehabilitation facility, and our BBC documentary, was an instant hit with the children. They got to see the animals we talked to them about in action, and see what was being done to protect them. Hopefully, they would be motivated to protect their environment too!
Pada malam hari kami memasang layar untuk nonton bareng. Video dari Celebio, “Adung, Sahabatku” tentang seekor orangutan di pusat rehabilitasi, serta film BBC kami, sangat disukai anak-anak. Mereka dapat melihat para satwa yang dibahas tadi, dan juga melihat apa saja usaha yang dilakukan untuk perlindungan mereka. Kami berharap anak-anak ini pun termotivasi untuk melindungi lingkungan mereka!

IMG_3828_FinThe next day was Indonesia’s Independence Day, so the whole village attended the flag-raising ceremony and was busied with competitions that would be held after the ceremony. Our turn came up near midday; Celebio started with a puppet show, which attracted children and adults alike, and the weekend was rounded off with an environment-themed quiz for the students. It was great to see how much of our presentations the students remembered!
IMG_3821_FinHari esoknya adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat desa mengikuti upacara bendera dan lomba-lomba. Kami mendapat giliran tampil sekitar tengah hari; Celebio mengawalinya dengan panggung boneka, yang menarik perhatian baik anak-anak maupun orang tua, dan akhir pekan kami ditutup dengan cerdas cermat lingkungan bagi para siswa. Senang rasanya melihat para siswa mengingat banyak hal dari materi kami!

That very afternoon we headed back to the mainland by boat. The weekend was extremely busy, but it was equally rewarding! We had a great time collaborating with Suara Pulau and Celebio, and we hope we can collaborate again in the future!
Sore itu kami kembali ke daratan utama dengan kapal. Akhir pekan ini sangat sibuk, tapi juga sangat memuaskan. Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan Suara Pulau dan Celebio, dan kami berharap bisa berkolaborasi lagi di masa depan!

► Watch the video – Tonton videonya: http://youtu.be/cqf7cDFH1Ik
► Watch the students sing the Yaki Youth Camp jingle – Tonton para murid menyanyikan yel-yel Yaki Youth Camp: http://youtu.be/cCtIgkzF8FU

Have a look through the photos from the Weekend. Special thanks to Samuel Mamoto for the contribution!

This slideshow requires JavaScript.

Sosialisasi di Perkemahan Kreatif Remaja GMIM

100_0078Masa liburan sekolah sudah berlalu dan sekarang semua aktivitas kembali normal. Apa saja yang dilakukan team Selamatkan Yaki untuk mengisi liburan sekolah? Seperti biasa team SY selalu sibuk dengan kegiatan penyadartahuan masyarakat dan masih tetap di lokasi target Langowan dan Tomohon. Tapi di liburan sekolah ini, Team “lovely ladies” Selamatkan Yaki juga menghadiri Perkemahan Kreatif Remaja GMIM tingkat sinode, yang diselenggarakan oleh Komisi Remaja Sinode GMIM. Kali ini Perkemahan Kreatif Remaja GMIM dilaksanakan di wilayah Manado Timur, tepatnya di daerah Mapanget. Bukan perkemahan remaja sinode namanya jika pesertanya sedikit; kali ini tercatat lebih dari tiga ribu peserta perkemahan yang datang dari seluruh penjuru Minahasa, Manado dan Bitung. Tidak seperti tahun lalu, di mana team SY sudah tercatat sebagai salah satu pembicara, kali ini, berkat kebaikan panitia pelaksana, kami diberikan kesempatan menyampaikan materi selama 2 jam dan kami sangat bersyukur untuk itu.
100_0082
School holiday has just finished and all activities have returned back to normal. What has the Selamatkan Yaki team been doing during the school holidays? As per usual, we have been busy with awareness raising activities in Langowan and Tomohon. This holiday, however, our “lovely ladies” from Selamatkan Yaki also joined the synodial-level GMIM Teens Creative Camp. This year, camp was held in Mapanget, East Manado. Around three thousand participants from all over Minahasa, Manado and Bitung joined the camp. Despite being unscheduled, the Selamatkan Yaki team was given a two-hour slot for the presentation.

100_0136Presentasi kami kali ini kami buka dengan pertanyaan, “Sudah tahu apa itu Selamatkan Yaki?” Banyak sekali peserta yang menjawab, “Sudaaaaah!” Pertanda yang baik, mengingat beberapa bulan terakhir ini kami sudah berkunjung ke lebih dari 40 SMP dan SMA di Tomohon dan Langowan, sehingga sangat wajar jika banyak dari mereka yang sudah tahu tentang SY. Presentasi berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi kali ini beberapa Duta Yaki kami juga merupakan peserta perkemahan remaja ini dan turut membantu menyampaikan materi. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo dan Vanessa Tewuh, serta volunteer junior kami, Zefanya, ikut membantu mengajarkan yel-yel Torang Jaga Yaki pada para peserta dan mencontohkan gerakannya. Yel-yel dinyanyikan dengan semangat dan gembira!
100_0094We opened our presentation with the question, “Do you know about Selamatkan Yaki?” Lots of participants answered, “Yeees!” A good sign, considering the time we spent over the past few months visiting over 40 high schools and junior high schools in Tomohon and Langowan. The presentation went very well, especially since several of our Yaki Ambassadors are also participants in the camp and helped out with the talk. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo and Vanesa Tewu, along with our junior volunteer, Zefanya, helped us teach our yaki jingle to the participants and demonstrate the moves. All the participants sang it out loud and had lots of fun!

100_0112Materi presentasi pada perkemahan kali ini sedikit berbeda dengan tahun yang lalu karena kehadiran para Duta serta pemutaran video animasi dan testimonial dari SLANK yang berhasil menarik perhatian peserta perkemahan. Cuaca yang sangat panas serta tenda induk yang agak sempit tidak mengurangi semangat mereka untuk menyimak presentasi yang dibawakan oleh Caroline serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bagus tentang yaki. Peserta semakin antusias ketika waktu quiz tiba. Seperti biasa, setiap pertanyaan yang diajukan mendapat sambutan yang sangat meriah sehingga kami harus memasang mata lebih tajam untuk melihat siapa yang lebih dulu angkat tangan karena banyak sekali yang ingin menjawab. Setelah pertarungan sengit, jawara untuk tahun ini jatuh kepada Maya Kiling dari GMIM Sion Taraitak, Langowan. Tidak heran jika Langowan bisa menjadi juara.
100_0159The presentation for this year’s Teens Camp was slightly different because we had the Ambassadors present and played the yaki animation and SLANK testimony. Even though it was very hot in the main tent, it didn’t burn out the participants’ enthusiasm to listen to Caroline’s presentation and ask several excellent questions about the yaki. Excitement increased when the quiz started. We needed particularly sharp eyes to spot the first hand in the air. After hard competition, this year’s winner is Maya Kiling from GMIM Sion Taraitak, Langowan. No wonder if Langowan could become the winner.

100_0166Perkemahan kali ini sangat luar biasa! Banyak peserta yang bertanya mengapa SY belum datang ke sekolah mereka dan antusias sekali ketika melihat video tentang Yaki Youth Camp yang mudah-mudahan menginspirasi mereka. Sekali lagi, dengan tiga ribuan remaja GMIM, Selamatkan Yaki menaruh harapan agar semakin kokoh fondasi kesadaran generasi muda tentang lingkungan hidup serta pentingnya peran yaki bagi kehidupan masyarakat. Sampai bertemu di perkemahan tahun depan, teman-teman!
100_0081This year’s camp was amazing! Many of the participants asked to us why we haven’t visited their school and were particularly enthusiastic when we showed them the Yaki Youth Camp video. Once again, Selamatkan Yaki team put out our conservation message to the three thousand GMIM teens in hopes of strengthening the foundation of environmental awareness in our young generation, particularly the importance of the yaki for the community. See you at the next Teens Camp!

Response to Yaki “Selfies”

Short Press Release/ Response to Yaki “Selfies” – August 12th, 2014

Selfie copyright? What about the monkeys?

Harry Hilser, Programme Manager, Selamatkan Yaki – North Sulawesi, Indonesia

As conservationists we are concerned that recent media stories featuring Sulawesi crested black macaques fail to highlight the fact that this species is seriously threatened with extinction. These stories may even encourage people to seek close contact with the monkeys, which could have negative consequences for their survival.
Sebagai penggiat konservasi kami prihatin dengan artikel-artikel di media yang menampilkan monyet hitam Sulawesi namun tidak membahas fakta bahwa spesies ini terancam kepunahan. Artikel-artikel ini dapat mendorong masyarakat untuk mendekati para monyet, yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan spesies ini.

As our inboxes swell with a plethora of “monkey selfie” articles, the distinctive black face peering out of the text is none other than the curious and captivating Sulawesi crested black macaque – the focus for our conservation programme, “Selamatkan Yaki” (meaning “Save the Monkeys!” in Indonesian).
Seiring bertambahnya artikel “selfie monyet” yang memenuhi inbox kami, wajah hitam khas yang mengintip dari teks tidak lain adalah monyet hitam Sulawesi yang menarik dan penuh rasa ingin tahu – fokus dari program konservasi kami, “Selamatkan Yaki.”

Our programme, based in North Sulawesi, Indonesia aims to protect the remaining wild populations of these unique monkeys, which dropped by around 80% within 40 years! One of our major objectives is to raise the profile of the species. Through a wide network of supporters and social media channels – at local, national and international levels, we endeavour to inform as many people about their plight as possible. However, it is often the most quirky stories that receive the most attention – the current virality of the monkey selfie is a clear example. We hope that amongst the cacophony of media dialogue around copyright ownership, the context to these images might be heard.
Program kami, berbasis di Sulawesi Utara, Indonesia, bertujuan melindungi sisa populasi liar dari monyet unik ini, yang telah turun hingga 80% dalam 40 tahun! Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan profil spesies ini. Melalui jaringan pendukung dan media sosial yang luas – di tingkat lokal, nasional dan internasional, kami berusaha memberitahu sebanyak mungkin orang mengenai ancaman yang dihadapi para monyet ini. Akan tetapi, biasanya cerita yang tidak lazim yang menerima perhatian paling besar – cerita viral tentang selfie monyet baru-baru ini adalah contoh yang jelas. Kami berharap di antara dengungan dialog media di seputar hak cipta foto ini, konteks pengambilan foto ini pun bisa didengar.

As conservationists, we have the monkeys’ best interests in mind. Ecotourism plays an important role in preserving their remaining forests. However, we would like to discourage people from wishing to visit these monkeys (or any other wildlife) with the desire to get “up close and personal”. This can have many potential negative impacts, such as injury, disease transmission and conflict with local communities through over-confident animals straying into villages. Despite their natural curiosity, we advise all visitors to keep a distance of 5m, as dictated by the Code of Conduct produced by the Indonesian Forestry Department. As for monkey photos…our patron Andrew Walmsley has shown that great shots can be taken at a respectable distance.
Sebagai penggiat konservasi, kami mengupayakan yang terbaik bagi para monyet ini. Ekowisata memainkan peran yang penting dalam melindungi apa yang tersisa dari hutan mereka. Akan tetapi, kami ingin mencegah masyarakat dari mengunjungi para monyet ini hanya untuk berdekatan secara fisik. Kegiatan ini dapat berdampak buruk, misalnya cedera, transmisi penyakit dan konflik dengan masyarakat lokal karena para satwa ini tidak lagi takut untuk mendekati manusia dan masuk ke dalam desa-desa. Meskipun rasa ingin tahu satwa ini besar, kami menyarankan para pengunjung untuk mempertahankan jarak 5m dengan mereka, seperti yang ditetapkan Kode Etik yang dirilis Kementerian Kehutanan Indonesia. Menyangkut foto-foto monyet… pendukung kami Andrew Walmsley telah membuktikan bahwa foto-foto hebat bisa diambil dari jarak yang aman.

With regards to monkeys owning copyright for images, as the Guardian reports…why not? As a Critically Endangered endemic species (found nowhere else!) facing possible extinction, the monkeys and their conservation programmes need all the help they can get. So why not envision the monkeys getting something back, through some form of creative licensing system, where the subjects of films or photographs receive due credit for their appearance in (or actual creation of) said media? This said…we also understand the effort it can take to get good shots (whichever primate does the button clicking!), and feel that if images are obtained ethically, photographers deserve to receive both credit and payment for their labours. The sharing of their work is an incredibly powerful tool to raise awareness from which our programme has already benefitted greatly.
Berbicara soal kepemilikan hak cipta oleh para monyet, seperti yang dilansir dilansir Guardian… kenapa tidak? Sebagai satwa endemik (tidak bisa ditemukan di tempat lain!) yang Sangat Terancam dan memiliki kemungkinan punah, para monyet dan program konservasi mereka membutuhkan bantuan apa saja yang bisa mereka peroleh. Jadi kenapa tidak para monyet ini mendapat kembalian, dalam bentuk sistem lisensi kreatif, di aman subyek film atau foto mendapat penghargaan yang sepantasnya untuk penampilan (atau usaha penciptaan) mereka dalam media tersebut? Kami paham usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh foto yang bagus (tidak peduli primata mana yang menekan tombol shutter!) dan kami rasa jika para fotografer ini memperoleh foto mereka secara etis, mereka pantas mendapat penghargaan dan bayaran untuk usaha mereka. pembagian foto mereka adalah alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran, dan program kami sudah merasakan manfaatnya.

Images can touch the heart strings of many, such as this poignant article, the reader’s responses clearly demonstrating empathy for the mother mourning her dead infant. If you would like to help these forgotten players in this squabble over ownership rights, please visit our website http://www.selamatkanyaki.com and consider donating here, or simply spread the word.
Foto dapat menggerakkan hati banyak orang, seperti yang dibuktikan artikel miris ini, di mana reaksi pembaca menggambarkan empati untuk sang ibu yang menangisi bayinya yang mati. Jika anda ingin membantu para pemeran yang terlupakan dalam perebutan hak cipta, silahkan kunjungi website kami di http://www.selamatkanyaki.com dan pertimbangkan untuk menyumbang di sini, atau sekedar menyebarkan kabar.

Let us hope these images can benefit all: the public, with beautiful images and a greater awareness of these magnificent creatures; the photographer, with publicity and image sales; and the monkeys, with greater acknowledgement and support for their protection, and hope for their future.
Mari kita berharap foto-foto ini bermanfaat bagi semua pihak: masyarakat umum, dengan gambar yang indah dan kesadaran yang semakin meningkat akan satwa luar biasa ini; sang fotografer, dengan publisitas dan penjualan gambar; dan para monyet, dengan pengakuan dan dukungan yang semakin besar untuk perlindungan mereka, dan harapan untuk masa depan mereka.

Stan Informasi Pasar Tomohon | Tomohon Market Information Stand

Melanjutkan stan informasi yang diadakan di Langowan tanggal 5 dan 12 Juli, serta di Tomohon tanggal 26 Juli, pada hari Sabtu di minggu yang lalu tanggal 2 Agustus 2014, Selamatkan Yaki kembali ke Pasar Tomohon untuk mengadakan stan informasi yang kedua dan terakhir untuk daerah Tomohon. Stan informasi ini dijadwalkan pada hari-hari belanja menjelang Pengucapan Minahasa dan Tomohon, saat aktivitas jual-beli di pasar lebih tinggi dari biasanya.

JPG 1100_0225Following the previous information stands in Langowan on July 5th and 12th as well as in Tomohon on July 26th, our team headed out once more last weekend. On Saturday, August 2nd 2014, Selamatkan Yaki went back to the traditional market in Tomohon to set up another information stand there.These information stands were organised to take place on market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, when market activity is higher than usual.

Yaki, beserta satwa terancam punah lainnya, biasanya termasuk dalam menu makanan Pengucapan daerah Minahasa dan Tomohon, meskipun spesies ini sangat terancam punah. Stan informasi yaki ini merupakan salah satu cara untuk mengedukasi dan meningkatkan penyadartahuan di masyarakat mengenai masalah-masalah seputar yaki, khususnya perburuan ilegal untuk dijadikan bahan konsumsi manusia. Melalui stan informasi ini Selamatkan Yaki bisa menjangkau lebih banyak orang, tidak saja untuk menyampaikan informasi mengenai masalah-masalah tersebut dan meluruskan opini subjektif masyarakat terhadap yaki, tapi juga untuk meyakinkan mereka secara langsung untuk tidak lagi membeli, menyediakan dan mengkonsumsi daging satwa liar, khususnya yaki. Selain itu, kami juga mengajak masyarakat berdiskusi mengenai cara-cara agar masyarakat dapat ikut membantu perlindungan dan konservasi yaki serta habitatnya.

Yaki, along with other endangered animals, can be found on the Minahasan and Tomohon Thanksgiving menu, despite the fact that this particular species is now Critically Endangered. The yaki information stand is one of the ways to educate and raise awareness within the community about issues concerning yaki, especially illegal hunting for consumption. Through these information stands Selamatkan Yaki can reach out to more people to not only inform them of these issues and clarify any subjective opinions about yaki, but to also convince them to abstain from buying, serving and consuming bushmeat, particularly yaki. Other than that, we engage visitors to discuss about how they can help with the protection and conservation of the yaki and their habitat.

JPG 2Kami memulai hari dengan mempersiapkan stan, yang menarik perhatian para penjual dan pembeli yang ada di sekitar kami, sambil juga menarik perhatian sekelompok anak yang sedang lewat. Selalu kalah kalau melawan rasa ingin tahu, apalagi saat ada spanduk besar bergambar dan kertas mewarnai, anak-anak ini mampir dan dengan malu-malu menanyakan apakah mereka bisa mewarnai bersama-sama. Sepanjang kegiatan mewarnai, mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar yaki dan lingkungan kepada tim SY, bahkan juga menyatakan bahwa ketika mereka sampai di rumah nanti, mereka akan mendesak Ayah dan Kakek mereka untuk berhenti memburu dan mengkonsumsi yaki, juga untuk berhenti memelihara yaki. Ada pula 3 sekawan yang dengan semangat meninggalkan stan informasi dengan misi (dan kertas mewarnai mereka): untuk langsung bergerak, mendatangi teman mereka yang memelihara yaki untuk mendesak teman mereka dan keluarganya untuk “stop ba ambe yaki dari utang (stop mengambil yaki dari hutan)”. Sangatlah memuaskan ketika melihat antusiasme anak-anak dalam melindungi lingkungan dan dengan kelompok anak-anak kali ini pun kami merasakannya.

We started our day by setting up shop, which caught the attention of the sellers and buyers around us, all the while catching the attention of a group of children passing by. As always curiosity wins, especially when big banners and colouring sheets are involved, and this group of kids stopped by and shyly asked if they could do some coloring together. Throughout their colouring activities, they kept firing questions about yaki and the environment towards the SY team, even stating that once they get home, they will demand that their fathers and grandfathers stop hunting and consuming yaki, as well as to stop keeping yaki as pets. A group of 3 friends had excitedly left the info stand with a mission (and their colouring sheets): to march over to their friend’s house and demand that she and her family “stop taking yaki from the forest”. It’s always so fulfilling to see how enthusiastic children are when it comes to protecting the environment and it was no different with these kids that day.

Pada akhirnya, para anak-anak ini kecewa saat mengetahui bahwa stan informasi hari itu merupakan stan informasi “terakhir” kami. Namun, seperti yang kami informasikan kepada mereka, stan informasi ini bukanlah yang paling terakhir, karena kami akan kembali lagi dengan jadwal yang baru yang bertepatan dengan acara-acara lainnya yang akan berlangsung di daerah Minahasa dan sekitarnya!

At the end of the day, the children were pretty bummed to learn that this information stand would be our “last” for now. But, as we have informed them, this will not be our last information stand ever, as we plan to come back with a new set of dates & places, in time for other festivities that will be happening around Minahasa!

100_0292

Tonton video Stan Informasi Pasar Tomohon | Watch the Tomohon Market Information Stand video: http://youtu.be/Agt-7YVtgUA

Baca tentang stan informasi sebelumnya | read about the previous information stands: Stan Informasi

Our Ambassadors talk at junior high schools in Langowan!

Early this year we visited high schools all over Langowan and picked a student from each school to be our Yaki Ambassador. Now, it’s these Ambassadors’ turn to talk in front of their juniors at junior high schools in Langowan and teach them to protect the environment and protect the yaki! Read more about their debut here!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

In mid-April, our Ambassadors, fresh out of our Yaki Youth Camp, went to SMP N 1 Langowan to give a talk, with our team overseeing. This debut talk in Langowan was delivered by Debora Manopo, Yaki Ambassador from SMA N 1 Langowan. “I graduated from SMP N 1 Langowan, so I wasn’t too nervous,” Debora said. “I think the students were initially interested because the yaki looks cute. They didn’t know that the yaki is nearly extinct, so they looked surprised when they discovered how few were left in the wild.”

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Junior high schools in Langowan are quite widespread. The furthest school we went to was in the village of Atep, a 30-minute car ride from Langowan . “I’ve never been to Atep, so I felt lucky to be able to go there to give a talk,” said Ira Manggribeth, Yaki Ambassador from SMA Kristen Schwarz Langowan. The people of Atep see the yaki quite often because the village is surrounded by relatively thick forests. “Even though the students have seen the yaki before, they seemed curious about our presentation. They’ve only ever seen yaki in passing, and don’t know the yaki’s daily habits. They also seemed surprised when they found out the yaki is almost extinct!”

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

After the intensive (but fun!) training in Yaki Youth Camp, we didn’t have to talk up front! Our team only accompanied and introduced the Ambassadors in the beginning of the presentation. The real talk, explaining the importance of protecting the environment and the yaki, was delivered by our Ambassadors. At SMP N 2 Langowan, The Ambassador who got the gig was Leyfi Kiling, from SMA N 2 Langowan. “I had mixed feelings during the presentation. My legs were shaking,” said Leyfi. “But talking in front of junior high school students was fun! They were noisy sometimes, but it was because they were interested in our topic. When we went into the Q&A and quiz session, they went wild trying to be the first hand in the air. Seeing them so enthusiastic and cheerful during my talk made me even more enthusiastic and cheerful!”

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

Apart from the talk, our Ambassadors motivated the students by telling them how conservation activities can be really fun, like what we did in Yaki Youth Camp, and of course we taught them our YYC Jingle! When the SY team visited SMP N 9 Langowan, the YYC Jingle was taught by Vanesa Tewuh, Yaki Ambassador from SMK N 1 Langowan. “The students laughed a lot when we taught them the jingle,” said Vanesa. “But when it was their turn to sing, they really bought it home!”

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Talks didn’t always go smoothly. In several schools, venue became an issue since they didn’t have a hall that could fit the students. “I went to the talk at SMP N 2 Langowan. All the students, from grade 7 to grade 9 were present, while the talk was held in one classroom. Some of the students had to stand through the presentation,” said Alfano Piri, Yaki Ambassador from SMK Yadika Langowan. In other schools, the hiccup came in the form of electrical problems. Our Ambassadors had to improvise and talk without the help of a projector! Ivan Welang, our Ambassador from SMA Yadika Langowan, delivered the presentation at SMP N 6 Langowan. Because the power went out, Ivan had to talk while holding up the laptop, occasionally walking among the students so they can see the presentation. “I felt nervous when the power went out, but I tried to act normal,” Ivan said. “Even without the projector, the students were enthusiastic because they were curious about the yaki.”

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

We’re very proud of our Ambassadors in Langowan. In the space of a few months, their public speaking abilities increased noticeably! Stay tuned for news about our Ambassadors in Tomohon, who have also given talks at junior high schools in Tomohon! We hope that with more awareness within the young generation about the threats the yaki face, the greater their actions to protect the yaki from extinction!

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Para Duta berbicara di SMP-SMP Langowan!

Awal tahun ini kami mengunjungi SMA-SMA di seluruh Langowan dan memilih satu orang siswa dari setiap SMA untuk menjadi Duta Yaki kami. Sekarang, giliran para Duta ini yang berbicara di depan adik-adik mereka di SMP-SMP di Langowan dan menghimbau mereka untuk menjaga lingkungan dan melindungi yaki! Simak sepak terjang para Duta Yaki ini di SMP-SMP di Langowan!

 

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Over 800 students at SMP N 1 Langowan! | Lebih dari 800 siswa di SMP N 1 Langowan!

Pada pertengahan April, Duta-Duta yang masih penuh semangat sesudah Yaki Youth Camp diterjunkan ke SMP N 1 Langowan untuk memberikan sosialisasi, tentu saja dengan tim kami sebagai pendamping. Sosialisasi pembuka ini dibawakan oleh Debora Manopo, Duta Yaki dari SMA N 1 Langowan. “Saya merupakan alumni SMP N 1 Langowan, jadi saya tidak terlalu gugup,” kata Debora. “Saya rasa pada awalnya para siswa tertarik karena mereka merasa yaki itu lucu. Mereka tidak tahu yaki itu hampir punah, jadi mereka tampak kaget ketika tahu betapa sedikit jumlah yang tersisa di hutan.”

 

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

Ira gave the talk at SMP N 4 Atep together with Edo, Yaki Ambassador from Tomohon. |Ira menyampaikan materi di SMP N 4 Atep bersama Edo, Duta Yaki dari Tomohon.

SMP-SMP di Langowan letaknya cukup tersebar. SMP paling jauh yang kami kunjungi terletak di desa Atep, yang dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari Langowan menggunakan mobil. “Saya belum pernah ke Atep, jadi saya merasa beruntung bisa jalan-jalan ke sana untuk sosialisasi,” ujar Ira Manggribeth, Duta Yaki dari SMA Kristen Schwarz Langowan. Masyarakat masih sering melihat yaki di sekitar Atep karena desa tersebut dikelilingi hutan yang cukup lebat. “Meski para siswa pernah melihat yaki, mereka tetap saja penasaran dengan materi kami. Mereka hanya melihat yaki sekilas, tapi tidak tahu kesehariannya seperti apa. Mereka juga terlihat terkejut ketika tahu yaki hampir punah!”

 

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Leyfi at SMP N 2 Langowan. | Leyfi di SMP N 2 Langowan.

Setelah pelatihan yang cukup intensif (tapi menyenangkan!) di Yaki Youth Camp, kami sudah tidak perlu berbicara lagi di depan! Tim kami hanya mendampingi dan memperkenalkan para Duta di awal presentasi. Sosialisasi yang sesungguhnya, yang menjelaskan betapa pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga yaki, dibawakan para Duta kami. Di SMP N 2 Langowan, Duta yang diberi tugas untuk menyampaikan materi sosialisasi adalah Leyfi Kiling, Duta kami dari SMA N 2 Langowan. “Perasaan saya campur aduk ketika presentasi. Kaki saya sampai gemetaran,” ujar Leyfi. “Tapi ternyata menyenangkan berbicara di depan adik-adik SMP! Mereka kadang-kadang ribut, tapi ribut karena tertarik dengan topik yang kami bawakan. Ketika kami masuk sesi tanya-jawab dan quiz, mereka berebut angkat tangan. Melihat mereka bersemangat dan ceria mengikuti presentasi saya membuat saya juga semakin semangat dan semakin senang!”

 

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

The enthusiastic students from SMP N 9 Langowan. | Para siswa yang bersemangat di SMP N 9 Langowan.

Selain itu, mereka juga menyemangati adik-adik SMP dengan menceritakan bagaimana kegiatan konservasi bisa menjadi sangat seru, seperti yang kami lakukan di Yaki Youth Camp, dan tentu saja mengajarkan Yel-yel YYC kami pada mereka! Ketika tim SY mengunjungi SMP N 9 Langowan, tugas mengajarkan Yel-yel YYC diberikan pada Vanesa Tewuh, Duta Yaki dari SMK N 1 Langowan. “Para siswa tertawa-tawa ketika kami mengajarkan Yel-yel YYC,” kata Vanesa. “Tapi ketika giliran mereka bernyanyi, mereka menyanyikannya dengan semangat 45!”

 

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Some students at SMP N 2 Langowan also had to stand during the talk. | Di SMP N 2 pun ada siswa mengikuti presentasi sambil berdiri.

Sosialisasi tidak selamanya berjalan mulus. Di beberapa sekolah, ruang pertemuan menjadi kendala karena tidak ada aula yang bisa menampung semua siswa dengan nyaman. “Waktu itu, saya ikut sosialisasi di SMP N 2 Langowan. Sosialisasi diikuti seluruh siswa, dari kelas 7 hingga 9, sementara sosialisasi diadakan di satu ruangan kelas. Terpaksa, sebagian siswa mengikuti materi sambil berdiri,” ujar Alfano Piri, Duta Yaki dari SMK Yadika Langowan. Di sekolah-sekolah lain, sosialisasi sempat terhambat karena masalah listrik. Mau tidak mau, tim kami serta para Duta harus berimprovisasi dan menyampaikan materi tanpa bantuan projector! Ivan Welang, Duta kami dari SMA Yadika Langowan, mendapat giliran berbicara di depan siswa SMP N 6 Langowan. Karena kendala listrik, Ivan pun menyampaikan materi sambil memegang laptop, sesekali berjalan di antara para siswa agar mereka bisa melihat presentasi. “Saya merasa gugup ketika tahu tidak ada listrik, tapi saya berusaha berbicara seperti biasa,” kata Ivan. “Meski tidak ada projector, mereka tetap semangat mengikuti sosialisasi karena penasaran tentang yaki.”

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Ivan giving the talk, laptop in hand. | Ivan menyampaikan materi dengan laptop di tangan.

Kami sangat bangga dengan Duta-Duta kami di Langowan. Dalam beberapa bulan, kemampuan mereka untuk menyampaikan pendapat di depan umum berkembang pesat! Nantikan kabar selanjutnya mengenai Duta-Duta kami di Tomohon, yang juga sudah melakukan sosialisasi kepada adik-adik mereka di SMP-SMP di Tomohon! Semoga dengan bertambahnya kesadaran generasi muda mengenai ancaman yang dihadapi yaki, semakin bertambah pula kesadaran untuk melindungi mereka dari ancaman kepunahan!

This slideshow requires JavaScript.

We have a new member on board: Prisi!

Ever wonder about the person behind the smart designs for our various campaign materials? Meet Prisillia Morley Loijens, our graphic-design-volunteer-turned-education-assistant!

Hello, everyone! My name is Prisillia Morley, also known as Prisi…but commonly known as Morley. Growing up, I had always been very much involved in music & visual arts; I took piano lessons, I drew and took painting lessons, my parents would take me to art museums and we would go see musical theater plays when we can. In school, I was that kid who got in trouble for doodling in class while the teacher babbled on about grammars & equations ;) Aside from being an arty kid, I also loved the outdoors; I absolutely adored the sea and just love the feeling of being surrounded by nature. It goes without saying that I ended up holding such an admiration towards nature and its vast variety of wildlife.

I enjoy taking photos. Sometimes I take over people's cameras and take nice photos for them ;) That camera in particular is my friend Oryza's. Historical camera with historical photos, that one...

I enjoy taking photos. Sometimes I take over people’s cameras and take nice photos for them ;) That camera in particular is my friend Oryza’s. Historical camera with historical photos, that one…

Hello, semuanya! Nama saya Prisillia Morley Loijens, juga dikenal sebagai Prisi…tapi banyak dikenal sebagai Morley. Dari kecil saya selalu terlibat dengan seni musik & seni visual; saya ikut les piano, saya menggambar dan les melukis, orang tua saya membawa saya ke museum seni dan kami melihat pentas teater musikal jika ada kesempatan. Di sekolah, saya adalah tipe murid yang selalu kena masalah karena senang menggambar disaat Guru mengoceh tentang tata bahasa & rumus hitungan ;) Selain menjadi anak yang senang dengan seni, saya juga sangat menyukai alam; saya sangat mengagumi laut dan sangat menyukai perasaan yang saya dapat ketika dikelilingi oleh alam. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa akhirnya muncul kekaguman tersendiri terhadap alam dan berbagai macam satwa liarnya.

With that admiration, came the need to save and protect; having gone through all these years learning about the issues threatening our environment & its wildlife helped me realize that I really wanted to take part in helping save our environment. Being in Design school just developed my way of thinking into one that is constantly conservation-related, always thinking of ways in which Design can help with conservation. It all started when my particular interest in marine conservation bloomed and blossomed rapidly; I found myself always trying to find ways to combine my academic background with conservation, by integrating the topic of both environmental & wildlife conservation into my school assignments.

When design meets marine conservation - I helped organized North Sulawesi's 1st Finathon in December 2013 and did some graphic design work for pledge banners and pins

Design meets marine conservation – I helped organized North Sulawesi’s 1st Finathon in December 2013 and did some graphic design work, too!

Now that I’m finally out of school, I’m gladly getting more involved and happily doing more work in conservation, by using my skills and knowledge in design & conceptualizing to help with conservation efforts in the real world, particularly in my beloved North Sulawesi!

Dengan adanya kekaguman tersebut, muncul pula rasa kebutuhan untuk menyelamatkan dan melindungi; setelah bertahun-tahun belajar tentang isu-isu yang mengancam alam kita & satwa liarnya, saya menyadari bahwa saya benar-benar ingin dapat ikut membantu menyelamatkan lingkungan kita. Sekolah di bidang desain membuat cara berpikir saya lebih berkembang menjadi cara berpikir yang selalu menghubungkan Desain dengan konservasi, selalu memikirkan cara-cara di mana Desain dapat membantu konservasi. Semua ini berawal ketika ketertarikan saya terhadap konservasi laut, khususnya, mulai mekar dan berkembang dengan begitu cepatnya; saya mulai menggabungkan latar belakang pendidikan saya dengan konservasi, dengan mengintegrasikan topik konservasi lingkungan & satwa liar ke dalam tugas-tugas sekolah saya. Sekarang, setelah akhirnya selesai dengan sekolah, saya dengan senang hati lebih terlibat dan bekerja di dunia konservasi, dengan menggunakan keterampilan & pengetahuan saya dalam desain & pemikiran konseptual untuk membantu upaya konservasi di dunia nyata, khususnya di daerah tercinta saya, Sulawesi Utara!

I first learned about Selamatkan Yaki when I met Program Manager Harry Hilser at a Christmas event in December 2012. I was in charge of guest registration that day and he was there to give SY some more exposure. When I was finally able to sit down next to him that day, I asked him about what SY is all about, which of course led him to explaining about the alarming fact that is the rapidly declining yaki population, mainly caused by human consumption and deforestation. The moment I learned about issues concerning our yaki (which is a North Sulawesi endemic species, found nowhere else in the world, by the way!), I knew that I had to get involved.

Saya pertama kali mengenal Selamatkan Yaki ketika saya bertemu Manajer Program, Harry Hilser,  di sebuah acara Natal pada bulan Desember 2012. Saat itu saya bertugas di bagian pendaftaran tamu dan Harry hadir untuk mempublikasikan SY ke lebih banyak orang. Ketika saya akhirnya bisa duduk di sebelahnya, saya bertanya-tanya tentang SY, yang tentu saja memancing dirinya untuk menjelaskan tentang fakta yang menghawatirkan yaitu penurunan populasi yaki yang sangat cepat, yang disebabkan oleh konsumsi manusia dan perambahan hutan. Ketika saya mengetahui lebih banyak tentang isu-isu seputar yaki (yang merupakan spesies endemik Sulawesi Utara, tidak dapat ditemukan di daerah lain di dunia, by the way!), saya tahu saat itu juga bahwa saya harus ikut terlibat.

I finally got the chance to join Selamatkan Yaki in November 2013 as a Graphic Design volunteer, a few months fresh out of college. I joined just in time to help get the 2013-2014 Yaki Pride Campaign going, by helping with informational text panel designs to accompany all the photographs that are currently up for display at the Yaki Exhibition in Pa’Dior, Tompaso-Minahasa, as well as other campaign materials. After wrapping up my studies in Bandung-West Java where I studied Visual Communication Design and graduated as a Bachelor of Design in August 2013, I settled back home in Manado and got back in touch with Harry to let him know that I was done with school and would love to finally offer some Design help for the SY program. He then told me to get in touch with Education & Advocacy Coordinator Thirza Loffeld…and the rest is history.

With Prof. Dr. W. A. Roeroe, a legend. Honored to have met him at the first Torang Bacirita event in November 2013, my first SY event as their new volunteer ;)

With Prof. Dr. W. A. Roeroe, a legend. Honored to have met him at the first Torang Bacirita event in November 2013, my first SY event as their new volunteer ;)

Saya akhirnya berkesempatan bergabung dengan Selamatkan Yaki di bulan November 2013 sebagai relawan Desain Grafis, beberapa bulan setelah lulus kuliah. Saya bergabung tepat waktu dan dapat ikut membantu menjalankan Kampanye Kebanggaan Yaki 2013-2014, dengan mendesain panel informasi yang menemani semua foto-foto yang saat ini dipamerkan di Pameran Yaki di Pa’Dior, Tompaso-Minahasa, beserta bahan-bahan kampanye lainnya. Setelah menyelesaikan kuliah Desain Komunikasi Visual di Bandung-Jawa Barat dan lulus sebagai Sarjana Desain pada bulan Agustus 2013, saya kembali lagi menetap di Manado dan kembali menghubungi Harry untuk mengabari bahwa saya sudah selesai sekolah dan dengan senang hati ingin menawarkan bantuan Desain untuk program SY. Ia kemudian memberitahu saya untuk langsung berhubungan dengan Koordinator Pendidikan & Advokasi, Thirza Loffeld…dan sisa ceritanya dapat ditebak.

Fast forward to 8 months later, just before my “gap-year” was coming to an end, a position opened up and I was offered to join the SY EARS (Education and Awareness Raising Strategy) team, as an Education Assistant, focusing mostly on Design & Communications, among other things. I most gladly accepted the offer, because I believe that design & visual communications can really support conservation efforts, especially in educating & spreading awareness. I also believe that good design is capable of bringing about positive changes in people’s behavior & ways of thinking. I want to help SY achieve all that and I’m super excited for everything that’s brewing here over at the SY HQ!

Fast forward ke 8 bulan kemudian, beberapa waktu sebelum “gap-year” saya berakhir, SY membuka lowongan kerja saya ditawarkan untuk bergabung dengan tim EARS (Strategi Pendidikan dan Penyadartahuan) SY, sebagai Education Assistant dengan tanggung jawab yang lebih terfokus pada bidang Desain & Komunikasi, di samping hal-hal lainnya. Dengan sangat senang hati saya menerima tawaran tersebut, karena saya percaya bahwa desain & komunikasi visual benar-benar dapat mendukung upaya-upaya konservasi, khususnya dalam memberikan edukasi dan penyadartahuan. Saya juga percaya bahwa desain yang baik mampu membawa perubahan positif terhadap perilaku dan cara berpikir masyarakat. Saya ingin membantu SY mencapai semua itu dan saya sangat antusias dengan semua yang sedang direncanakan & dipersiapkan di markas besar SY ini!

Me doing a little school project...about jumping Scrabble

Other than working on graphic design, I love spending time working on motion graphics. Here is me working on a stop-motion animation involving Scrabble letters! Shout out to my fellow Designer & partner-in-projects Olivia Pangkey for the killer photo.

Through this post I would also like to leave a message to my fellow Designers, that whether we realize it or not, design is a BIG part of conservation. On the one hand, conservation is all about scientific research, but all the different kinds of media that are available out there are pretty much the ammunition for a successful conservation campaign, through which we expose these scientific facts to people. By using the appropriate media, combined with good design execution, we will be able to send out messages effectively, giving us the amount of impact that we desire and achieving the results that we seek! I really hope that more Designers will realize how much help they can be for the environment & its wildlife and that they’d be willing to get involved with conservation by creating good designs, because it feels good to be good and do good!

Melalui postingan ini saya juga ingin meninggalkan pesan untuk teman-teman Desainer lainnya, bahwa sadar atau tidak, desain merupakan bagian BESAR dari konservasi. Di satu sisi dari konservasi, penelitian ilmiah mempunyai peranan besar, tetapi media-media yang tersedia dalam berbagai macam jenis merupakan amunisi dari suatu kampanye konservasi, yang mana kita gunakan untuk menyebarkan hasil-hasil penelitian ilmiah tersebut kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan media yang tepat, dikombinasikan dengan eksekusi desain yang baik, kita bisa menyalurkan pesan secara efektif, memberikan kita dampak yang kita inginkan dan mencapai hasil-hasil yang kita cari! Saya sangat berharap bahwa akan lebih banyak lagi Desainer yang sadar akan seberapa banyak bantuan yang bisa mereka berikan untuk lingkungan & satwa lainnya dan semoga menjadi lebih tergerak untuk mau terlibat dalam konservasi dengan menciptakan karya desain yang baik, karena senang rasanya bisa jadi orang baik dan melakukan hal-hal yang baik!

After her stint as one of our volunteer graphic designers, Prisi is full-time on our EARS team as an Education Assistant. We’re looking forward to her input on our upcoming projects!