Kasawari & Duasudara FMKH Day Trip to TWA. Batuputih

Pelaksanaan Day Trip bagi peserta Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) untuk dua kelurahan yakni Kelurahan Kasawari dan Duasudara telah dilaksanakan pada tanggal 13 November 2014, berlokasi di TWA. Batuputih. Tujuan kegiatan FMKH Day Trip yaitu untuk lebih memperkenalkan kawasan wisata alam dan keanekaragaman hayati, khususnya bagi masyarakat peserta FMKH dimana anggota forum ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar CA. Tangkoko dan CA. Duasudara.

On November 13 2014, the day trip to TWA Batuputih for Forum Masyarakat Konservasi Hutan (FMKH) has been done for Kasawari and Duasudara village. The main reason of this day trip is to introduce the tourism area and biodiversity to the member of this forum which are people that live surrounding Tangkoko and Duasudara Nature Reserves. 1

Kegiatan hari ini diawali dengan briefing singkat oleh Bapak Edies (Selamatkan Yaki) untuk pengecekan jumlah peserta, penjelasan singkat tentang TWA. Batuputih dan hal-hal yang yang terkait dengan pelaksanaan FMKH Day Trip beserta Kode Etik bagi pengunjung dalam memasuki kawasan wisata alam Batuputih. Total peserta yang ikut dalam FMKH Day Trip hari ini berjumlah 42 orang.

It started with short briefing given by our Tangkoko Project Officer Edyson at the entrance, while checking the number of the participant as also gave a short explanation about the TWA Batuputih and the most important is the Code of Conduct for visitor. There were 42 participants of the day.

2Peserta sangat bersemangat dan langsung berjalan memasuki hutan setelah briefing singkat. Tidak jauh setelah meninggalkan Pos 1, terlihat sekelompok Yaki di pantai. Rambo dua! Perjalanan yang mudah! Turis biasanya harus melakukan sedikit trekking untuk dapat bertemu kelompok Yaki, karena itu mereka sangat beruntung kali ini.

All participant were excited and went straight to the forest after the short briefing. Just for a little walk not far from the first post, a group of Yaki were seen on the beach. That’s Rambo 2! What an easy walk! Tourist normally has to do a little bit trekking to find the Yaki, so they were lucky.

Pengamatan Yaki dilakukan sambil menyusuri jalan pantai berlangsung kurang lebih 2 jam. Setelah puas memperhatikan perilaku Yaki yang baru pertama kali mereka lihat di alam liar, suguhan snack dan kopi hangat beserta menyambut di Pos 2. Partner kami3 Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project membantu memperkenalkan Yaki lebih dalam serta membuka kesempatan berdiskusi dengan para peserta. Terima kasih Stephan :)

It was about two hours the participant followed the Yaki by the beach. After satisfied with quite a show from the monkeys, snacks and coffee were waiting at Pos 2. Our partner Stephan Lentey from Macaca Nigra Project has also helped us introducing more about Yaki followed by discussion with the participants. Many thanks Stephan :)

Tangkoko benar-benar indah. Kami pun mengunjungi Macaca Nigra Project yang bertempat di Pos 3 yang menyambut kami dengan makan siang. Canda tawa silih berganti dari peserta maupun pemateri sampai pada diskusi sesi II. Akhirnya FMKH Day Trip ini diakhiri dengan doa oleh salah satu peserta. PUAS dan KAGUM!!! seperti itu mimik wajah yang terpancar dari peserta FMKH Day Trip hari ini!

Tangkoko is truly beautiful. We were also visiting Pos 3 which is the base of Macaca Nigra Project that hosted us with lunch. Smiling and laughing were framing our activities. The day was ended by a prayer for one of the participants. Satisfied and amazed, that was we can describe to see their expression.4

Talk after Talk – UNIMA and BPKH

Selamatkan Yaki diundang untuk menjadi pembicara pada dua kegiatan yang berbeda, dua hari berturut-turut! Baca pendapat Edyson mengenai kegiatan-kegiatan tersebut di sini!
Selamatkan Yaki was invited to give talks at two different events on two consecutive days! Read what Edyson has to say about it here!

Unima expo_seminar & workshop

UNIMA EXPO 2014
Pada tanggal 8 Oktober 2014, Selamatkan Yaki melakukan sosialisasi pada seminar yang dilaksanakan oleh Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Manado. Seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 mahasiswa dan dosen ini diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis UNIMA yang ke-59. Para peserta sangat antusias menyimak presentasi dan baru menyadari ternyata yaki hanya tersebar secara alami di Sulawesi Utara, apalagi setelah mengetahui penurunan populasinya yang cukup tinggi justru disebabkan oleh perilaku masyarakat Sulawesi Utara itu sendiri. Pada bagian akhir kami mengajak partisipasi peserta untuk membantu menyelamatkan sisa populasi satwa ini, khususnya kepada para mahasiswa dapat juga menjadi volunteer pada kegiatan-kegiatan yang kami laksanakan. SY juga memajang informasi Yaki dan spesies-spesies satwa liar yang dilindungi oleh Undang-undang pada stan Fakultas Ilmu Sosial. Stan pameran oleh fakultas-fakultas pada ajang UNIMA EXPO akan diselenggarakan hingga 18 Oktober 2014.

On October 8 2014, Selamatkan Yaki attended a seminar organized by the Department of Geography Faculty of Social Sciences, State University of Manado. The seminar was attended by about 50 students and teachers is organized in the framework of the Anniversary of the 59th UNIMA. The participants were very enthusiastic to listen to the presentation and recently realized that Yaki only occur naturally in North Sulawesi, especially after learning that their population has been decline caused by the behavior of the people of North Sulawesi itself. At the end of the seminar we invited the participation to help save the rest of the population of these wildlife, especially the students that can also take part in volunteer activities that we carry out. SY also displaying information about the Yaki and many wildlife species that are protected by the law at the exhibition booth of the Faculty of Social Sciences. This exhibition were displaying at the event UNIMA EXPO until October 18, 2014.

Samb Ka BPKh Manado

SEMINAR BPKH
Pada Kamis 9 Oktober 2014, SY menghadiri Seminar Rehabilitasi dan Restorasi Kawasan Hutan menyongsong 50 tahun Sulawesi Utara yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado. Seminar yang dilaksanakan di hotel Sintesa Peninsula ini dibuka oleh Kepala Badan Litbang Kementerian Kehutanan RI, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang M.Sc. Dalam sambutannya, Awang menegaskan “upaya rehabilitasi dan restorasi tidak cukup hanya dengan diskusi dan menghasilkan formula saja, tetapi harus ditindaklanjuti secara sistematis dalam implementasinya. Kawasan hutan Sulawesi Utara memiliki satwa unik yang hanya terdapat di provinsi ini yaitu yaki (Macaca nigra), namun ancaman terhadap satwa ini cukup memprihatinkan. Untuk mengoptimalkan upaya pelestariannya, hendaknya yaki bisa dijadikan sebagai maskot Sulut”.

On Thursday, October 9, 2014, SY attended the Seminar Rehabilitation and Restoration of Forest Areas in celebrating the 50 years of the North Sulawesi organized by the Forestry Research Institute of Manado. This seminar was held at the Sintesa Peninsula hotel and was opened by the Head of the Ministry of Forestry Research and Development Agency, Prof. Dr Ir. San Afri Awang M.Sc. In his speech, Awang asserts “the rehabilitation and restoration efforts are not enough to generate discussion and formulas, but must be followed up systematically in its implementation. The forest of North Sulawesi has a unique species that can only be found in this province that is yaki (Macaca nigra), but the threat to these animals is quite concerened. To optimize yaki conservation, yaki should be known as the mascot of North Sulawesi “.

Tujuan dilaksanakannya seminar ini sendiri guna memberikan informasi kepada masyarakat dan tukar pendapat mengenai formulasi rumusan rehabilitasi dan restorasi kawasan hutan di Sulawesi Utara. Seminar yang digelar tepat pukul 10.00 WITA dihadiri oleh perwakilan UPTD Kehutanan dari berbagai daerah, para akademisi/perguruan tinggi, perusahaan di bidang kehutanan dan LSM.

This seminar was arranged in order to provide information to the community and to do brainstorm about formulations of rehabilitation and restoration of forest areas in North Sulawesi. The seminar that started at 10:00am sharp was attended by representatives of various regions UPTD Forestry, academics / universities, companies and NGOs in the field of forestry.

~

A Day of Arts & Crafts

Guess who spent last weekend playing with old newspaper, cardboard boxes, plastic bottles and…paper mâché?? SY team Caroline, Prisi, Riri and our Yaki Ambassador Angel went out on Saturday morning armed with glue, scissors and just whole lot of recycled stuff, ready for a day of arts & crafts!
Coba tebak siapa yang menghabiskan akhir pekan yang lalu bermain dengan koran bekas, kardus, botol plastik dan…adonan kertas?? Tim SY Caroline, Prisi, Riri dan Duta Yaki kami Angel berangkat hari Sabtu pagi lengkap dengan lem, gunting dan begitu banyak bahan daur ulang, siap untuk ber-KTK seharian!

Prisi, Riri, Angel & Caroline are very artistic beings ;) | Prisi, Riri, Angel & Caroline adalah manusia-manusia yang sangat artistik ;)

Prisi, Riri, Angel & Caroline are very artistic beings ;) | Prisi, Riri, Angel & Caroline adalah manusia-manusia yang sangat artistik ;)

The aim of having this day out was to sit together and create something out of recycled materials to contribute to the Yaki Exhibition that has been going on at Pa’Dior, Tompaso. So, with that in mind (and a dozen of old newspaper and loads of plastic bags & bottles at the back of the car), we made our way to Tomohon where we met up with Angel, then continued to Bukit Doa Mahawu, Tomohon, to let our inner artists out of their cages. Once arriving at Bukit Doa, we went straight to…buy snacks, actually, then sat down under a tree to…consume our snacks, obviously. Like any other creative being, we snacked and brainstormed about what we should make out of the recycled materials that we had collected beforehand, seeing as we had too much material and not enough manpower; we had originally expected more Yaki Ambassadors to join us, but alas, Angel was the only one who made it.
Tujuan dari hari jalan-jalan ini adalah untuk duduk bersama dan menciptakan sesuatu menggunakan bahan daur ulang untuk dikontribusikan kepada Pameran Yaki yang sedang berlangsung di Pa’Dior, Tompaso. Jadi, dengan tujuan tersebut di pikiran (dan selusin koran bekas dan begitu banyak tas & botol plastik di belakang mobil), kami pun berangkat ke Tomohon, di mana kami bertemu dengan Angel, kemudian lanjut ke Bukit Doa Mahawu, Tomohon, untuk melepaskan jiwa artistik kami dari kurungannya. Begitu sampai di Bukit Doa, kami langsung…beli cemilan, sebenarnya, lalu duduk di bawah pohon untuk…memakan cemilan kami, tentunya. Seperti makhluk kreatif lainnya, kami ngemil sambil memikirkan tentang apa yang bisa kami buat dari bahan-bahan daur ulang yang telah kami kumpulkan sebelumnya, karena kami punya terlalu banyak bahan tapi kekurangan orang; awalnya kami berharap ada beberapa lagi Duta Yaki yang bisa ikut, tapi akhirnya hanya Angel yang berhasil datang.

Undeterred, we continued our brainstorm until finally deciding to make some yaki-related items and have our go at paper mâché! It’s been a while since any of us created any form of paper-mâché-based craft (try elementary school!), so it seemed like a great way to get back in touch with it. We decided to make a yaki mask along with a yaki hand as well as a human hand, to demonstrate the similarities between humans and yaki. Decision made and snacks finished, we then relocated to a more secluded spot with lots of trees and a nice flow of breeze.

Angel, one of our Yaki Ambassadors, apparently enjoys playing with balloons in her spare time. | Angel, salah satu Duta Yaki kami, ternyata senang bermain balon di waktu senggangnya.

Angel, one of our Yaki Ambassadors, apparently enjoys playing with balloons in her spare time. | Angel, salah satu Duta Yaki kami, ternyata senang bermain balon di waktu senggangnya.

We started the first steps of our paper mâché craft; tearing up old newspaper, mixing glue with water and blowing up the balloon we brought along to supposedly use as base, but then it kept popping and there was even this one time where it popped while Riri was covering the balloon with paper mâché paste, therefore sending paste flying all over herself (which you can see on the video through the link provided at the bottom), so we finally gave up on it. Caroline had a “fun” time blowing up balloons and trying to keep it from popping, while Prisi tried not to hyperventilate over the prospect of balloons popping every 2 minutes.
Tidak terpengaruh, kami lanjut brainstorm sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuat sesuatu yang berhubungan dengan yaki dan mencoba membuatnya dari adonan kertas! Sudah lumayan lama sejak kami terakhir membuat prakarya menggunakan adonan kertas (sepertinya waktu masih SD!), jadi ini merupakan cara yang bagus untuk kembali mempraktekkannya. Kami memutuskan untuk membuat topeng yaki disertai tangan yaki dan tangan manusia, untuk menunjukkan kemiripan manusia dan yaki. Keputusan sudah ada dan cemilan sudah habis, kami kemudian berpindah ke tempat yang lebih tersembunyi dengan banyak pohon dan angin sepoi-sepoi.

Caroline makes the balloons, Riri pops em. | Caroline meniup balon, Riri meletuskannya.

Caroline makes the balloons, Riri pops em. | Caroline meniup balon, Riri meletuskannya.

Kami memulai tahap awal prakarya kami; menyobek koran bekas, mencampur lem dengan air dan meniup balon untuk dijadikan dasar prakarya, tapi balonnya terus meletus, bahkan ada saat dimana balon meletus saat Riri tengah menyebarkan lem di permukaan balon, mengakibatkan lem terbang melayang ke tubuhnya (bisa dilihat di video kami melalui link yang tersedia di bawah), jadi akhirnya kami menyerah. Caroline “kesenangan” meniup balon dan berusaha agar balon tidak meletus, sementara Prisi berusaha untuk tidak sesak nafas menunggu balon meletus tiap 2 menit.

Then it rained. Cue girls scrambling to collect everything and run for shelter.
Kemudian hujan. Cewek-cewek ini pun kelabakan mengumpulkan semuanya dan lari mencari tempat berteduh.

We relocated, yet again, this time to one of the  little restaurants available in the park and set up shop at the back part of the restaurant, near the trees and away from civilization. Never ones to back down, we picked up where we left off and started to form our yaki mask and hand. A couple of hours, sticky hands and lots of glue later, we had a yaki face, yaki hand and a human hand covered in paper mâché!

Our makeshift studio at the back of the restaurant. | Studio sementara kami di bagian belakan restoran.

Our makeshift studio at the back of the restaurant. | Studio sementara kami di bagian belakan restoran.

Kami pindah tempat lagi, kali ini ke salah satu restoran yang ada di dalam area taman dan membuat markas di bagian belakan restoran, dekat pepohonan dan jauh dari peradaban. Tidak kenal kata mundur, kami lanjut dan mulai membentuk topeng dan tangan yaki. Beberapa jam, tangan lengket dan banyak lem kemudian, kami memiliki wajah yaki, tangan yaki dan tangan manusia yang telah dibungkus adonan kertas!

Since we needed to let our craft dry and harden, we decided to call it a day. It may not be perfectly sculptured, but it’s something. We’re looking forward to having another day of arts & crafts to finish up what we started, once we find the chance. We hope to have more people join us and could perhaps try to make new things?
Karena kami harus membiarkan prakarya kami kering dan mengeras, kami memutuskan untuk berhenti bekerja. Memang tidak terbentuk dengan sempurna, tapi inilah hasil kami. Kami berharap bisa mengadakan satu hari untuk prakarya lagi untuk menyelesaikan apa yang kami mulai, saat mendapat kesempatan. Kami harap ada lagi yang mau bergabung dengan kami dan mungkin kita bisa coba membuat hal yang baru lainnya?

Watch the video | Tonton videonya: http://youtu.be/4QJm92nN0gw

This slideshow requires JavaScript.

Shooting Competition has officially started!

IMG_9814Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU) bekerjasama dengan Selamatkan Yaki kembali mengadakan suatu event yang menarik dan terbilang masih baru di Sulawesi Utara. Dalam rangka menyalurkan hobby menembak dari masyarakat Minahasa dan sekitarnya, maka pada tanggal 16 Agustus 2014 lalu, lomba menembak bertajuk “Pa’dior Shooting Competition” dibuka untuk umum.
Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU – North Sulawesi Institute for Art and Culture Foundation) in collaboration with Selamatkan Yaki has organised yet another interesting and innovative event for North Sulawesi. To accommodate the shooting hobby of Minahasan people, on August 16th 2014 the “Pa’dior Shooting Competition” was opened to the public.

IMG_9834“Menjaring atlit berprestasi yang berkarakter cinta lingkungan” adalah tema yang diangkat dalam kejuaraan ini. Selain berpotensi menghasilkan atlit-atlit berbakat di masa yang akan datang, dengan kejuaraan menembak ini diharapkan juga bisa meningkatkan pengetahuan serta rasa cinta terhadap lingkungan hidup yang ada di Sulawesi Utara ini.
“Gather accomplished, nature-loving athletes” is the general theme of the competition. Apart from producing talented future athletes, this shooting competition is expected to increase knowledge and consideration for the North Sulawesi’s natural wonders.

IMG_9842Untuk kejuaraan kali ini dibuka beberapa kategori, yaitu Air Rifle 10M Kelas Remaja (sampai 16 tahun) dan Kelas Umum, serta kategori Air Rifle Metal Silhouette 20M Kelas Umum. Lomba menembak ini merupakan yang pertama dari serangkaian lomba menembak yang rencananya akan diadakan selama setahun penuh, dimulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi dan ditutup dengan final di Pa’Dior Shooting Club Tompaso. Hasil lomba umumnya dimenangkan oleh atlit-atlit menebak muda Sulawesi Utara.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

This competition is divided into several categories, which are Air Rifle 10M Teenagers (up to 16 years old) and General, and Air Rifle Metal Silhouette 20M General. This competition is the first of a series of shooting competitions spaced out over an entire year, starting from district-level up to province-level competitions, ending with the finals in Pa’Dior Shooting Club Tompaso. The General category was won by young shooting athletes of North Sulawesi.

IMG_9887

Beberapa penggiat menembak yang masih belia. Some of the younger shooting enthusiasts.

Lomba pembukaan ini berlangsung selama 1 hari dan dilaksanakan di kompleks YISBSU, Jl. Pinabetengan, kecamatan Tompaso. Lomba ini dirangkaikan dengan pembukaan Pa’dior Shooting Club dan peresmian Lapangan Tembak Indoor. Kejuaraan menembak ini bukan semata-mata suatu kegiatan kompetisi biasa. Selain kejuaraan ini terbilang baru karena dilaksanakan oleh organisasi masyarakat,  namun juga dengan kejuaraan ini diharapkan bisa merangkul para pecinta menembak dan masyarakat yang  punya hobby berburu, bukan hanya sekedar menyalurkan hobinya tetapi juga memperoleh edukasi tentang kekayaan alam Indonesia dan sebagai pemburu yang mampu melestarikan kekayaan alam ini, khususnya di Sulawesi Utara maka  “Berburu untuk masa depan” adalah salah satu moto yang di angkat juga dalam acara ini serta Torang bangga nyanda batembak satwa dilindungi”. Kegiatan ini merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk bangga akan potensi alam Indonesia khususnya satwa khas Sulawesi Utara. Hobi masyarakat tetap dijalankan, tapi perlindungan satwa pun lebih diperhatikan sehingga keharmonisan hidup antara sesama makhluk ciptaan Tuhan juga tetap terjaga dan bisa terhindar dari bencana alam.

IMG_9894

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

This opening competition was held for a day at YISBSU, Jl. Pinabetengan, district of Tompaso. This opening competition is part of the launching of Pa’Dior Shooting Club and the opening of the Indoor Shooting Range. This competition is no ordinary event. Not only is it a relatively new sport, organized by a community organization, it is also expected to unite shooting enthusiasts and hunters within a community. These hunters will have the chance, not only to pursue their hobby, but also to be educated on the riches of Indonesia’s nature and motivated to be hunters who are able to protect the natural riches of North Sulawesi. For that reason, “Hunting for the future” and “We are proud of not shooting protected wildlife” were set as two minor themes of the event. This activity is an appeal to everyone in North Sulawesi to be proud of Indonesia and North Sulawesi’s nature. Hobbies need not be neglected, but wildlife protection should also have its share of attention so harmony may be maintained and environmental emergencies may be avoided.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Lanjutan dari serial kejuaraan menembak ini diadakan di  eks PT. Hijau, Ratahan, kec. Tombatu pada hari Sabtu tanggal 13 September 2014. Kali ini ada empat kategori yang dipertandingkan: Air Rifle 10M Kelas Remaja dan Kelas Umum, Air Rifle 10M Masyarakat Minteng, dan Air Rifle Metal Shilouette 30M. Perjalanan yang jauh tidak menyurutkan semangat tim Selamatkan Yaki untuk mendukung acara ini! Dalam acara ini dilantik pengurus cabang Minahasa Tenggara Perbakin yang dipimpin langsung oleh Ketua Perbakin Sulawesi Utara, bapak Drs. Sutoyo, M.Hum. Tim Selamatkan Yaki memperoleh kesempatan untuk menyam-paikan sosialisasi kepada pengurus Pengcab Perbakin Minahasa Tenggara dan masyarakat. Tanggapan masyarakat baik dan melalui kejuaraan ini, peningkatan kesadaran Kampanye Kebanggaan Yaki semakin luas.

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

The next series of this shooting competition was held in the old factory of PT. Hijau, Ratahan, district of Tombatu, on Saturday, September 13th 2014. This time there were four categories: Air Rifle 10M Teenagers and General, Air Rifle 10M People of Southeast Minahasa and Air Rifle Metal Silhouette 30M General. The long trip to the location didn’t dampen the Selamatkan Yaki team’s spirit! In this event, the board for the Southeast Minahasa branch of Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia – Indonesian Association for Shooting) was appointed directly by the Chairman of North Sulawesi Perbakin Board, Drs. Sutoyo, M.Hum. The Selamatkan Yaki team got to give a presentation to the newly appointed board and the general public. People responded well and through this competition, awareness raising through our Yaki Pride Campaign spread even further.

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

►Tonton video dari Ratahan, Tombatu | Watch the video from Ratahan, Tombatu: http://youtu.be/eS99LSty9YE

Selamatkan Yaki merasa bangga bisa turut mendukung acara ini dan kami berharap dapat terus berkolaborasi dengan Perbakin serta masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan kerja sama kita bisa, dengan kerjasama yaki bisa dilindungi dan lestari. Kejuaraan selanjutnya direncanakan di Ratatotok. Sampai bertemu di Ratatotok!
Selamatkan Yaki is proud to support this event and we hope we can continue to collaborate with Perbakin and the community for awareness raising. Through collaboration we can reach our goals, through collaboration the yaki can be protected. The next leg of the competition is planned for Ratatotok. We’ll see you at Ratatotok!

This slideshow requires JavaScript.

 

Running a Marathon for the Yaki! | Lari Maraton Demi Yaki!

“Deciding who to run for was easy. The yaki are such a beautiful species yet it’s hard to believe that 90% of their population has vanished. After working with these guys and hearing about the work Selamatkan Yaki is doing to save them and their environment, it was an easy choice; it was time to help save the yaki,” says Lauren.
Memutuskan berlari untuk siapa, itu mudah. Yaki adalah spesies yang istimewa namun sulit dipercaya bahwa 90% dari populasi mereka telah lenyap. Setelah bekerja dengan Yaki dan mendengar tentang apa yang Selamatkan Yaki lakukan untuk menyelamatkan mereka serta lingkungan mereka, merupakan pilihan yang mudah; sudah waktunya untuk membantu menyelamatkan yaki,” kata Lauren.

10717598_739186452814337_241619892_n

The attention from the worldwide community towards wildlife in North Sulawesi has no end. On Sunday, September 28th 2014, two English girls—a zoo worker and a zoo volunteer at one of the zoos in England—took part in a fundraising event for the endemic wildlife, yaki (Sulawesi crested black macaque), conservation activities in North Sulawesi, by running a marathon.
Perhatian terhadap satwa liar Sulawesi Utara tak ada habis-habisnya dari masyarakat dunia. Pada Minggu  28 September 2014 lalu, 2 orang gadis Inggris—pekerja kebun binatang dan sukarelawan di salah satu kebun binatang Inggris—mengadakan aksi pengumpulan dana untuk kegiatan pelestarian satwa endemik Sulawesi Utara; Yaki (Monyet Hitam Sulawesi) dengan cara lari maraton.

These two beautiful Yaki Ambassadors from England, Lauren Amos and Jennifer Dixon, did the Tonbridge Half Marathon which is held every year by West Ken College and United Kingdom Athletic, joined by English communities with the purpose to fundraise for humanitarian causes, social institutions, as well as environmental causes. Events like this are often held in Europe to bring together people who enjoy giving back to the community through running a marathon. The help offered by these girls is very imperative to wildlife conservation activities in North Sulawesi.
Dua Duta Yaki cantik asal Inggris ini, Lauren Amos dan Jennifer Dixon, mengikuti acara Tonbridge Half Marathon yang  diselenggarakan setiap  tahun oleh West Ken College dan United Kingdom Athletic, diikuti oleh masyarakat Inggris dengan tujuan untuk menggalang dana bagi kegiatan kemanusiaan dan lembaga sosial serta kegiatan lingkungan. Acara seperti ini banyak  dilaksanakan di Eropa untuk merangkul orang-orang yang senang beramal melalui lari marathon. Bantuan yang diberikan oleh kedua gadis ini sangat berarti bagi kegiatan pelestarian satwa Yaki di Sulawesi utara ini.

marathon

Lauren and Jennifer were able to finish the Tonbridge Half Marathon within 2 hours and 15 minutes, with a distance of approximately 11.5 miles (19 km) and had to walk for about 2.4 km. “Half-a-marathon doesn’t sound like much, but to us it was. I’ve never run more than 5 miles (8 km), so to run the 13 miles (20 km) felt like a real achievement,” Lauren states.
Lauren and Jennifer mampu menyelesaikan Tonbridge Half Marathon dalam waktu 2 jam 15 menit, menempuh jarak sekitar 11.5 mil (19 km) dan harus berjalan sekitar 2,4 km. “Setengah maraton memang tidak kedengaran jauh, tapi untuk kami jauh. Saya belum pernah lari lebih dari 5 mil (8 km), sehingga lari 13 mil (20 km) adalah benar-benar sebuah pencapaian,” kata Lauren.

Looking back to a few days ago when BKSDA and its officers caught two people from Tomohon who massacred a group of monkeys in the Bolsel region, the efforts of these two Yaki Ambassadors are once again something that the people of North Sulawesi should reflect on; to be more concerned and proud of having this unique wildlife, that is currently Critically Endangered and protected by national law (UU No.5, 1990).
Melihat ke beberapa hari lalu di mana BKSDA serta aparatnya menangkap 2 orang asal Tomohon yang membantai sekelompok monyet di daerah Bolsel, maka adalah suatu perenungan bagi masyarakat Sulawesi Utara untuk kembali mencontoh kegiatan dari Duta Yaki pekerja kebun binatang di Inggris ini untuk lebih peduli dan bangga memiliki satwa khas Sulawesi Utara ini yang statusnya Sangat Terancam Punah serta dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990.

In general, the role of the government, assisted by environmental non-profits working to preserve the environment, will not succeed without the active participation and awareness of the community. The key to all activities done by both the government and NGOs is in the hands of the community. As residents of North Sulawesi, we ought to be more conscious, concerned and proud in preserving the environment, especially yaki because yaki only exist here, nowhere else in the world. If not us, who? If not now, when? We protect the yaki because we care. We should not be any less enthusiastic about protecting the environment than these two girls.
Peran pemerintah yang dibantu oleh lembaga non profit lingkungan untuk pelestarian lingkungan hidup pada umumnya tidak akan berhasil tanpa peran aktif serta kesadaran masyarakat. Semua kegiatan baik oleh pemerintah dan NGO kuncinya adalah di tangan masyarakat. Sebagai Masyarakat Sulawesi Utara sudah selayaknya kita lebih sadar, peduli dan bangga melestarikan lingkungan terlebih satwa Yaki, karena Yaki cuma ada pa torang di sini, nyanda ada di tempat lain  di dunia ini. Jika bukan kita siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Torang jaga Yaki karena torang peduli. Kita tidak boleh kalah semangat dengan 2 gadis ini dalam melestarikan lingkungan.

10354736_910806148949167_5329412529518958648_nLauren feels that even though it was tough, “that is how it was supposed to be; it had to be, in order to get enough sponsors to help make a difference. Crossing the finish line never felt so good.” Her team mate Jennifer adds, “It was really rewarding when I crossed the finish line and the whole time thinking about what an amazing project I was doing it for kept me going! I’m really glad I took part in it and I’ll train a lot more before next year’s one!”
Lauren merasa bahwa meskipun berat, “begitulah adanya; harus seberat itu agar kami bisa mendapat sponsor yang cukup untuk bisa membantu membawa perubahan. Melewati garis finish belum pernah terasa senikmat itu.” Jennifer, rekan setimnya, menambahkan, “Sangat terbalaskan ketika saya melewati garis finish dan sepanjang waktu memikirkan tentang betapa luar biasa proyek yang sedang saya lakukan yang terus mendorong saya! Benar-benar bahagia bisa mengambil bagian di dalamnya dan saya akan terus berlatih lebih banyak sebelum marathon tahun depan!”

These inspiring ladies originally targeted to raise £200 (± Rp 3,800,000) for Selamatkan Yaki but ultimately managed to raise a marvelous total of £486.50 (± Rp 9,300,000)! Massive thanks, Lauren & Jennifer! Keep up the good fight and together we will save the yaki!
Para wanita inspiratif ini awalnya menargetkan £200 (± Rp 3,800,000) untuk Selamatkan Yaki tetapi akhirnya berhasil menggalang dana sejumlah £486.50 (± Rp 9,300,000)! Terima kasih banyak, Lauren & Jennifer! Terus berjuang dan bersama kita bisa selamatkan yaki!

New member for Tangkoko Rejuvenation Programme

The Selamatkan Yaki team is getting bigger. Please welcome Vian, our Tangkoko Project Assistant!

Ancaman kerusakan terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati juga pastinya mengancam kehidupan manusia. Manusia bergantung pada lingkungan alami untuk makan, minum sampai obat-obatan. Menjaga dan melestarikan alam sama artinya menjaga kehidupan dan masa depan manusia.

The threats to the environment and biodiversity are threatening human’s life. Humans are depending on the environment for food, drinks, and also medication. By keeping the environment it means that we are keeping our life and also the future. 1

Saya Yoviani HL, biasanya dipanggil Vian. Lulusan Fakultas Pertanian UNSRAT. Aktif dalam kelompok mahasiswa pencinta alam semasa kuliah dan hobi beraktifitas di alam bebas, menjadi latar belakang saya bekerja di bidang konservasi.

My name is Yoviani HL and people call me Vian for short. I graduated from Faculty of Agriculture of Sam Ratulangi University. Have been active in a nature club during studying and 4doing outdoor activity is my hobby became the reasons of why now I work for conservation.

Sebelum bergabung dengan tim Selamatkan Yaki, saya pernah bekerja sebagai konsultan pada program pemberdayaan masyarakat di pedesaan dalam mengembangkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam secara lestari. Saya juga pernah terlibat dalam beberapa kegiatan konservasi, baik marine maupun teresterial.

Before joining the Selamatkan Yaki team, I worked as a consultant for a community empowerment programme in villages in order to develop the potential of human and nature resources in sustainable way. I also joined some conservation activities in marine and also terrestrial.

Aktifitas di alam bebas lain yang saya senangi yaitu fotografi. Fotografi landscape merupakan favorit saya disamping fotografi wildlife.

Another outdoor activities that I love is photography. And landscape photography is one of my favorite alongside wildlife photography.

Danau Tondano - Lake Tondano

Danau Tondano - Lake Tondano

Senang dan merupakan suatu kebangaan bisa bergabung dan menjadi bagian dari tim Selamatkan Yaki. Program konservasi untuk satwa endemik yang unik dengan ciri yang khas dan lucu. Yaki salah satu satwa yang terancam punah yang harus dijaga kelestariannya.

Happy and also proud of joining and be on board with Selamatkan Yaki team. A conservation programme for this unique animal with cute characteristic. Yaki is one of many animal that listed as critically endangered that have to be saved.

Bayi Yaki (Macaca nigra) 

Bayi Yaki (Macaca nigra)

Bagimanapun juga, menghargai keanekaragaman hayati berarti menghargai kehidupan dan masa depan manusia.

However, protecting the biodiversity means appreciating human’s life and future.

Salam lestari!

Our volunteer Joe: Why I decided to join the team…

Dear viewers, say hi to another awesome volunteer: Joseph Lolong! He has a finger in almost all graphic-related pies here in Selamatkan Yaki. Read on to know more about him!
Pembaca yang baik, sapalah satu lagi volunteer keren kami: Joseph Lolong! Dia terlibat dalam hampir semua urusan yang berkaitan dengan desain grafis di Selamatkan Yaki. Lanjutkan membaca untuk mengenalnya lebih jauh!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki's graphic design volunteer!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki’s graphic design volunteer!

Ahoy people of the page! My name is Joe. I work as an all-around designer and am currently staying in Jakarta.
Ahoy pembaca halaman! Nama saya Joe. Saya merupakan seorang designer full-time dan saat ini sedang tinggal di Jakarta. 

I decided to join Selamatkan Yaki on February 2014. That time, my close friend Carol posted info about Selamatkan Yaki on her Facebook timeline. I checked it out, and I found Oriana’s cute yaki illustration. That was the main trigger. I thought the illustration was so cool, I was challenged to make something like that too. Furthermore I asked Carol about the possibility to donate an artwork, and yes you bet, it lead to a small and enthusiastic discussion about Selamatkan Yaki. Shortly, she introduced me to Thirza and I was welcomed to the club!
Saya memutuskan untuk bergabung dengan Selamatkan Yaki pada Februari 2014. Pada waktu itu, sahabatku Carol membuat post mengenai Selamatkan Yaki pada timeline Facebook-nya. Saya membukanya, dan melihat ilustrasi yaki Oriana yang menggemaskan. Itu adalah pemicu utama. Saya merasa ilustrasi itu sangat keren, saya pun tertantang untuk membuat desain seperti itu. Saya bertanya lebih jauh pada Carol mengenai kemungkinan menyumbangkan karya seni, dan seperti yang sudah kamu duga, kami pun berdiskusi mengenai Selamatkan Yaki dengan bersemangat. Tidak lama kemudian, saya dikenalkan pada Thirza dan saya disambut dalam kelompok!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team! | Hi! Saya yaki! Ilustrasi karya Oriana Chalbaud ini menginspirasi Joe untuk bergabung dengan tim Selamatkan Yaki!

As we spoke, Thirza explained to me about the current crisis of the yaki, how this species is now extremely threatened and facing extinction. Of course I was surprised by this fact. As a “half-blood” (Dad is Manadonese, Mom is Padang-Jakartanese), I always feel disturbed when people ask whether I also consume “exotic Manado menus” i.e. bats, rats, and monkeys. The answer would always be no, especially after I found out that one of the main causes of their near-extinction is this eating habit.
Dalam percakapan kami, Thirza menjelaskan mengenai krisis yang dihadapi yaki, bagaimana spesies ini sangat terancam dan menghadapi kepunahan. Tentu saja saya terkejut dengan fakta ini. Sebagai seorang “darah campuran” (ayah Manado, ibu Padang-Jakarta), saya selalu merasa terganggu ketika ditanyai apakah saya juga mengonsumsi “makanan eksotis Manado” mis. paniki, tikus, dan yaki. Jawaban saya selalu tidak, terutama setelah saya mengetahui bahwa salah satu penyebab utama nyaris punahnya spesies ini adalah kebiasaan makan ini.

I think you all wonder what a designer can do to help yaki conservation. Believe it or not, I wondered the same question too. Do not imagine me dressed up like Indiana Jones, wandering the forest and battling with illegal hunters (or piranhas!). Those stuff are for Thirza and friends, but me, yeah, let’s just say geographically I am incapable of doing that. (Cheers mates!)
Saya rasa kalian semua penasaran apa yang bisa dilakukan seorang designer untuk membantu konservasi yaki. Percaya atau tidak, saya juga menanyakan hal yang sama. Jangan membayangkan saya berpakaian seperti Indiana Jones, berkelana melintasi rimba dan berperang melawan pemburu ilegal (atau piranha!). Hal seperti itu adalah bagian Thirza dkk., tapi saya, yah, katakan saja secara geografis saya tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan itu. (Cheers mates!)

However, I understand people use design to communicate (heavy) messages. Conservation is a message and it must be communicated. This is my place in the organisation: to help spread the conservation message, through the best skill I have: designing.
Akan tetapi, saya paham bahwa desain digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan (yang berat). Konservasi adalah sebuah pesan dan perlu dikomunikasikan. Ini adalah bagian saya dalam organisasi: membantu menyebarkan pesan konservasi, melalui skill terbaik saya: desain.

Surprisingly, I was appointed to help developing the first yaki magazine. I felt very honored, considering my “newbie” status on the club.
Saya kaget ketika dipercayakan untuk membantu mengembangkan majalah yaki pertama. Saya merasa sangat tersanjung, terutama karena saya merupakan “pendatang baru” dalam kelompok ini.

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe!

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe! | Majalah Yaki pertama! Hasil karya master kami: Joe!

I believe lots of people consider “conservation” as a big word that requires big actions too. Well, I should say, even the biggest leap starts with small steps. You would never change anything if you don’t act.
Saya yakin banyak orang menganggap “konservasi” sebagai kata yang besar yang butuh tindakan besar pula. Perlu saya katakan, lompatan terbesar pun dimulai dengan langkah-langkah kecil. Kamu tidak akan mengubah apa-apa jika kamu tidak bertindak.

Yaki is a vital part of the grand treasure of North Sulawesi and Indonesia. Imagine what would you say to your grandchildren when they find yaki pictures in a book of extinct animals and ask you these questions:
“Granddad, what happened to the yaki? They are so very cute and charismatic!”
“Well dearest, they’re extinct!”
“Uh, that’s too bad. Why did they go extinct?”
“Well, we ate them all.”
Yaki adalah bagian penting dari harta karun Sulawesi Utara dan Indonesia. Bayangkan apa yang akan kamu katakan pada cucu-cucumu ketika mereka melihat foto yaki di buku satwa yang sudah punah dan memulai percakapan:
“Opa, apa yang terjadi pada yaki? Mereka sangat lucu dan kharismatik!”
“Mereka sudah punah sayang!”
“Yah, sayang sekali. Mengapa mereka bisa punah?”
“Eh, kami memakan mereka semua.”

We are obliged, especially all Manadonese, pure-bloods or half-bloods, to help conserve the yaki. Our future generations deserve to witness this magnificent species. I know this sounds so dramatic but that’s the truth.
Kita semua wajib, terutama orang-orang Manado, darah-murni maupun darah-campuran, untuk membantu mengkonservasi yaki. Generasi masa depan patut melihat spesies yang gagah ini secara langsung. Saya tahu kata-kata ini agak dramatis tapi ini adalah kenyataan.

Selamatkan Yaki is a very charming and dynamic organisation. It is a nice place with super cool, welcoming talents (we hit national newspaper Kompas and had SLANK as our musical ambassador). All you need to do is sign up. Don’t you worry yet about your part. You will definitely find your place in this organisation. No matter how small you are able to do, or how far you live from the yakis, as long as you have a sincere willingness to help, you will always be welcomed! :)
Selamatkan Yaki adalah organisasi yang sangat luwes dan dinamis. Ini adalah tempat yang nyaman dengan bebrapa talenta yang super keren dan ramah (kami berhasil masuk dalam koran nasional Kompas dan bekerja sama dengan SLANK sebagai Duta kami di dunia musik). Yang perlu kamu lakukan hanya menghubungi mereka. Jangan dulu khawatir dengan apa yang bisa kamu lakukan. Kamu pasti akan menemukan tempatmu di organisasi ini. Tidak peduli berapa kecil pun kemampuanmu, atau berapa jauh jarakmu dari para yaki, selama kamu bersedia dan sungguh-sungguh ingin membantu, kamu pasti akan disambut! :)

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp! But don't worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon!

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp. But don’t worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon! | Cetakan bahasa Indonesia pertama dari Yaki Magz! Semuanya diberikan pada para peserta Yaki Youth Camp. Jangan khawatir, versi online (Inggris dan Indonesia) akan segera tersedia!