Diskusi yang menarik dengan Kelompok Percinta Alam dan klub Fotografi di Tomohon!

Interesting discussion with Nature and Photography clubs in Tomohon!

178190_4550086848915_2024308382_oHari jumat tanggal 9 Juli 2013, Selamatkan yaki kembali menuju Tomohon; hari ini kami akan memberikan materi di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Kami telah mengundang kelompok pecinta alam dan Mawale untuk menghadiri presentasi kami. Sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat pada hari itu. Hujan sangat lebat turun ketika kami baru tiba. Dengan bantuan Alfian (presiden mahasiswa) kami mempersiapkan ruangan aula tampat pertemuan yang berkapasitas sampai 200 orang. Kami sangat penasaran dengan kehadiran peserta. Setelah kami sempat mencuri perhatian dari Klub fotografer, apakah juga akan jadi sama halnya dengan kehadiran peserta?

1073694_4550088968968_136878728_oFriday 9th July 2013, Selamatkan Yaki were heading up to Tomohon. This day we had a talk at the University in Tomohon: Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). We had invited Natures clubs and Photographer clubs in Tomohon to attend our presentation. The weather was not really friendly at that moment. Heavy rain started pouring soon after our arrival in Tomohon. With the helped of Alfian, (the president of student board), we prepared the university hall, a nice room which could fit 200 people! We were really curious about our participants for today! After getting the attention with our invitation followed by an interesting discussion online, will we have the same attention regarding the turn-out in participants today?

Setelah menunggu selama 1,5  jam, kami harus memulaikan presentasi kami, meskipun jumlah peserta tidak  seperti yang diharapkan, tapi kami sangat senang karena banyak anggota klub fotografy yang hadir, dan kami terlibat dalam diskusi yang menarik sesudah pemutaran film Yaki dari BBC. Diskusi yang sangat menarik. Diskusi yang sangat terbuka, interaksi yang baik antara komunitas yang memiliki cara pandang yang berbeda, namun sangat mendukung program kami, sangat menarik. Terima kasih Mawale Phorographer club, yang sudah sangat perhatian dan mendukung kami! Itulah yang kami inginkan! Suatu kerjasama dengan komunitas local, berbagi ide dan pendapat untuk konservasi Yaki yang lebih baik! 

1073820_4550084688861_1006304320_o

After the rain stopped (1,5 hours of waiting) we started our presentation even if the number of participants  was not really like expected. But in the end we were very happy because many people of the photographer club were attending and the BBC movie we played was followed by a great discussion! Very interesting! The things said were really mind-opened and it was an interesting interaction with other people who have different perspectives but at the same time really support our program, fascinating! This day turned out to be what we are looking for:  a collaboration with the local community and exchanging views and opinions to reach our common goal: improved Yaki Conservation!

1074086_4550086208899_1161598154_oCuaca hujan menjadi kendala dan penyebab tidak banyak peserta yang hadir, tapi kami masih memperoleh dukungan yang sangat besar dari kelompok pecinta alam di Tomohon! Terima kasih kepada Waldo Tulus dari HPA Tomohon, untuk MPAB Apostolos, MPA Paedagogie, KPAB Volcano, PA Rajawali, dan lain lainnya. Kami berharap akan terus membangun hubungan yang lebih baik di kemudian hari, untuk masa depan untuk keanekaragaman hayati kita! Terima kasih banyak kepada Alfian Komimbin yang telah memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada kami, dan kepada seluruh peserta. Terima kasih kepada Eka Egeten untuk fotonya. Banyak hal yang akan kami kerjakan nanti, mari bersama sama melestarikan alam kita, bersama kita Selamatkan Yaki!

1074923_4550082688811_1165682635_oUnless the weather was not inviting and prevented some people to attend our talk, we nevertheless received support from the Nature and Photography Clubs in Tomohon. Thank you Mawale Photographer Club, for your curiosity, willingness to discuss your views with us and for your support! We would furthermore like to thank Waldo Tulus, from HPA Tomohon, MPAB Apostolos, MPA Phaedegogi, KPAB Volcano, PA Rajawali and the other Nature Clubs. We are looking forward to continue building our relationship in the future, for our biodiversity! A special thanks to Alfian Komimbin, who facilitates the team and gave us the change to give a talk in UKIT Tomohon, and a big thank you to all participants! Lastly, we would like to thank Eka Egeten for the photos. We have many things to do still, let us preserve the nature hand-in-hand, together we will save the Yaki!

Salam,

Yunita

Together with members from Mawale Photography Tomohon and Rajawali student club Bitung

Together with members from Mawale Photography Tomohon and Rajawali student club Bitung. Thanks everyone!

International Seminar on Forest and Biodiversity

Hello fellow nature lovers!

Hallo para pencinta lingkungan!

20130705 001It’s been a while now that I haven’t published any blog post and I would like to take the opportunity to present to you one of the recent events in which the Selamatkan Yaki team took part.

Sudah sekian lama saya tidak memposting di blog dan saat ini saya berkesempatan untuk memberitahukan kepada kalian salah satu kegiatan yang baru-baru ini tim SelamatkanYaki lakukan.

A few months ago, our dear friend Dr John Tasirin from the Synergy Pacific Institute for Sustainable Development asked us if we would be interested to contribute to the International Seminar on Forest and Biodiversity. He was co-hosting this event and was interested in having one of us making a presentation as key note speaker. Because our manager, Harry Hilser, was sadly not being able to attend, I volunteered to speak about one of our core projects: the creation of the Species Conservation Action Plan (SAP). I had participated in the creation of the SAP, by hosting our international workshop, but I was nowhere as knowledgeable as Harry on this complex document, this task promised to be interesting.

Beberapa bulan yang lalu, teman kami Dr.John Tasirin dari Synergy Pacific Institute for Sustainable Development bertanya apakah kami tertarik untuk berkontribusi pada sebuah seminar International tentang Hutan dan Biodiversity. Beliau  adalah penyelengara acara ini dan menginginkan salah satu dari kami untuk menjadi pembicara kunci di seminar ini. Namun, sayang sekali manager kami, Harry Hilser tidak dapat hadir dalam acara ini. Oleh karena itu,  saya dengan sukarela untuk menyampaikan presentasi mengenai proyek utama kami yaitu: the creation of the Species Conservation Action Plan (SAP). Saya ikut ambil bagian di dalam membuat SAP melalui International Workshop meskipun juga saya tidak sepandai Harry mengenai Dokument yang rumit ini.


Gaetan on stage with Dr John Tasirin and Mrs Ria Saryanthi.

Gaetan on stage with Dr John Tasirin and Mrs Ria Saryanthi.

The talk was scheduled for the 5th of July, 5 days after coming back from my yearly holidays. I had to prepare a 30 minutes talk, delivered in front of a conservationist audience, on a 90 pages document I hadn’t written and had just read a couple of times: challenge accepted! Here I was on the D-day morning, riding my scooter to fulfil my destiny (sorry for the cheesiness but it is a French standard). I arrived in the Novotel’s conference centre a bit early and realised that I wasn’t going to do my talk in the little nice and cosy side room as I expected. I was going to present the SAP in the main hall in front of a 300 people audience: not too bad for a first public presentation ever!

Presentasi itu dilaksanakan pada tanggal 5 july, lima hari setelah saya kembali dari liburan tahunan saya.. Saya harus mempersiapkan presentasi berdurasi selama 30 menit di depan para hadirin yang peduli dengan konservasi dari sebuah dokumen sebanyak 90 halaman yang tidak saya tulis dan hanya saya baca beberapa kali. . Tantangan tersebut saya terima!Pada pagi hari di hari H, saya mengendarai motor untuk menjalani nasib saya.. Saya tiba lebih awal di Novotel Converence Center dan sedikit terkejut ketika saya menyadari bahwa presentasi ini tidak akan dilaksanakan di ruangan yang nyaman dan kecil ini, tetapi di ruangan utama, tepatnya di depan 300 orang peserta: yah tidak terlalu buruk untuk pembicara pemula seperti saya.


Full crowd of people!

Full crowd of people!

Presentasinya berjalan dengan baik dan itu berlangsung sekitar 27 menit. Meskipun saya mengalami keringat dingin sampai ketulang belakang dan mulutkering seperti gurun Sahara, semua berjalan mulus. Para peserta bisa menerima dengan baik isi dari presentasi saya mengenai SAP, proses penulisan serta implementasinya dan  situasi terkini SAP dari Macaca Nigra. Para peserta memiliki pertanyaan berkaitan dengan SAP dan terlihat begitu menikmati akan presentasi saya, begitupun pada presentasi Dr Jhon Lovett tentang ancaman Bioversity dan Ria Saryanthi yang berbicara tentang peluang pendanaan Konservasi.

Thirza together with Mrs Ria Saryanthi from the Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

Thirza together with Mrs Ria Saryanthi from the Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

This event was a really great opportunity to expand Selamatkan Yaki’s network and to present our work to a wide audience of fellow conservationists coming from all over Indonesia. We had the chance to meet a lot of governmental officials coming from the capital, Jakarta, and many representatives of other conservation programmes like ours. We spent most of the remaining day shaking hands and talking about conservations issues or about the Sulawesi crested black macaque’s situation with wonderful people.

Acara ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat penting buat SELAMATKAN YAKI di dalam membangun jaringan serta memberitahukan mengenai program kerja kami kepada seluruh pemerhati penyelamatan lingkungan yang datang dari seluruh Indonesia. kami juga memiliki kesempatan bertemu dengan pihak pemerintah Jakarta dan para perwakilan LSM lain yang memiliki program yang sama dengan kami. Kami juga mengisi waktu kami dengan berjabat tangan satu samalain serta membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan denga konservasi.

Thirza talking to Jufri Saini (Head of Scout Manado) and Santiago Pereira (Head of Bunaken National Park). These meetings are a great opportunity to network for our team!

Thirza talking to Jufri Saini (Head of Scout Manado) and Santiago Pereira (Head of Bunaken National Park). These meetings are a great opportunity to network for our team!

Kami benar-benar berterima kasih kepada Dr.John Tasirin dan penyelengara yang telah mengundang kami dan juga untuk sponsor kami yang telah memberikan kesempatan yang luar biasasehingga kami dapat hadir di sini, , di tempat kami berjuang untuk menyelamatkan sebuah spesis yang luar biasa yaitu: Yaki!

20130705 023That will be all for today my friends, but don’t forget:

Sekian untuk hari ini teman, jangan lupa:

Together we will save the Yaki!

Bersama-sama kita selamatkan YAKI!

Gaetan, Field Project Coordinator.

This slideshow requires JavaScript.

Selamatkan Yaki signed partnership!

Festival Pinawetengan, 7 Juli 2013

Selamatkan Yaki menandatangani kerjasama dengan Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. 

Selamatkan Yaki signed partnership with Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (Institute of Art & Culture North Sulawesi)!! 

Minggu kemarin adalah hari besar di Pa`Dior Tompaso Minahasa: Selamatkan Yaki berkesempatan menampilkan film dari BBC “Yaki – Sang Penjaga Hutan” dan melibatkan kelompok remaja belajar permainan tentang yaki.  Kami menjadi sorotan penting hari itu, karena kami mendapatkan kehormatan untuk menandatangani MoU (kerjasama) dengan Dr. Benny Mamoto, SH., M.Si, sebagai pimpinan Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di depan seluruh peserta dan pengunjung festival, lebih dari 1000 orang!

Great day last Sunday at the Pa`Dior in Tompaso Minahasa: Selamatkan Yaki received the opportunity to display the BBC film “Yaki – Sang Penjaga Hutan” (Yaki – the Protector of the Forest) and involved the youth in yaki learning games. As highlight of our day, we had the honour to sign our MoU (partnership) together with Dr. Benny Mamoto, SH., M.Si, leader of Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, in front of more than 1000 people!

Untuk Kampanye Kebanggaan Yaki yang akan datang, kami akan bekerja sama dengan Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara untuk memadukan Konservasi Yaki ke dalam budaya Minahasa.  Sejak jaman dahulu yaki telah memegang peranan penting bagi sejarah Minahasa. Macaca nigra (yaki) sangat terancam punah, karena daging mereka diburu dan juga disebabkan karena hilangnya habitat atau tempat hidupnya. Kami bekerja sama dengan komunitas local, sekolah sekolah, universitas, kelompok pecinta alam, Gereja, media dan industri musik untuk bersama kita selamatkan yaki! kami mengucapkan terima kasih sedalam dalamnya kepada Dr. Benny Mamoto, SH., M.Si yang telah membka kesempatan untuk bekerja sama dengan Selamatkan Yaki, juga kepada Bpk DR.Ir. Theogives lasut MSi yang sudah membantu kami untuk mencapai kerjasama ini sekali lagi terima kasih.

For our upcoming Yaki Pride Campaign, we are working together with Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara to integrate Yaki conservation into the Minahasan culture. From early in the Minahasan history these macaques have been playing an important role in this culture. The Critically Endangered Macaca nigra (yaki) is threatened with extinction because they are hunted for their meat and as a result of habitat loss. We are working together with the local communities, schools, universities, nature lover clubs, churches, media and music industry: together we will save the yaki! We would like to give many thanks to  Dr. Benny Mamoto, SH., M.Si for the opportunity to colaborate with Institute, and to DR. Ir; Theogives Lasut Msi who really helpful Selamatkan Yaki in this events.

This slideshow requires JavaScript.

//

SY’s talk for 500 teenagers, GMIM Teenage Camp 2013!

Setelah menghabiskan waktu selama 4 jam mengemudi akhirnya, pada hari rabu tim Selamatkan Yaki tiba satu daerah yang indah, di Modoinding; mengapa kami harus datang jauh dari Manado ke tempat ini? Pada hari Kamis pagi, kami diberikan kesempatan untuk membawakan materi tentang konservasi Yaki dalam Perkemahan Kreatif Remaja Gmim 2013 di Modoinding Minahasa Selatan. Perkemahan ini adalah Agenda Tahunan Dari Komisi Remaja Sinode GMIM? Yang dihadiri kurang lebih sebanyak 1300 peserta. Saya, Thirza dan Jurriaan sangat bersemangat, karena perkemahan ini sangat besar (tahun tahun sebelumnya jumlah pesertanya mencapai 10.000 orang remaja!) dan menjadi kehormatan bagi kami Selamatkan Yaki Tim untuk berpartisipasi dalam acara ini.

After spending 4 hours driving, the Selamatkan Yaki Team finally arrived in a wonderful place called Modoinding last Wednesday evening. Why did we drive so far from Manado? On Thursday morning Selamatkan Yaki was scheduled to give a presentation about yaki conservation at the church Teenage Camp named “Perkemahan Kreatif Remaja GMIM 2013 Modoinding South Minahasa”. This camp, held by Komisi Remaja Sinode GMIM (GMIM teenage committee), had approximately 1300 participants. Me, Thirza and Jurriaan were very excited because the camp was really huge (the previous camp was attended by 10.000 teens!) and it was an honour for Selamatkan Yaki to participate in this event.

Presentasi kami awali dengan apa kata Firman mengenai penciptaan alam semesta, makhluk hidup, dan tentunya konservasi. Setelah itu kami adakan pemutaran Film tentang Yaki sang Penjaga Hutan yang di buat oleh BBC London, dan dilanjutkan dengan presentasi mengenai program kami dan Kampanye Kebanggaan yang dilaksanakan dalam waktu dekat ini, dan kemudian quis juga uji coba online game Yaki. Para remaja sangat antusias dalam mengikuti presentasi. Mulai dari awal tentang apa kata firman, kemudian dilanjutkan dengan presentasi, mereka mendengarkan dengan baik, dan ketika di minta untuk ikut berpartisipasi maju ke depan untuk menjawab pertanyaan quis, dengan semangat mereka maju dan menjawab pertanyaan. Begitu juga saat ujicoba online game, remaja remaja ini semakin heboh ketika teman mereka coba untuk mainkan game ini. Momen yang sangat mengesankan!

Our presentation started with what the Bible says about the creation of the universe, all the living things, wildlife, and of course about conservation. After this we played the film “Yaki sang penjaga  hutan”, made by BBC London, followed by a presentation on our programme and upcoming Yaki Pride Campaign. Next a quiz and our brand-new Yaki online Game!  The teens were ecstatic!  From the beginning, when I explaining about what the Bible says and during the presentation, they were listening intensively, and after this they participated with great enthusiasm when we asked volunteers to join us on the stage to answer our quiz-questions and to play the Yaki online game! They all seem to enjoy our activities, especially the movie. They were very interested and the crowd was full of energy, cheering for their friend who tried the Yaki learning game. What a wonderful moment! 

Remaja remaja ini adalah generasi penerus, dan masa depan kita. Jika saat ini orang Minahasa masih berburu dan makan yaki, dengan presentasi bagi remaja ini kami berharap bahwa generasi kami yang akan datang akan lebih mengerti mengenai betapa pentingnya yaki dan seberapa vital hubungannya dengan hutan dan manusia. Dengan menghadiri perkemahan remaja GMIM ini merupakan salah satu cara dalam menjangkau lebih banyak orang lagi, dan berharap semoga mereka bisa mulai mengubah cara hidup yang ada sekarang ini, dari pemakan yaki menjadi pelindung Yaki! Dengan materi yang dibawakan ini kami juga berharap generasi ini dan mencoba untuk melestarikan satwa liar unik yang hampir punah, yang ada di di Sulawesi Utara seperti Yaki. Dan mereka akan mulai menyebarkan pesan ini kepada keluarga dan teman.  

These teenagers are our next generation, our future! These days Minahasan people still hunt and eat Yaki. With this talk we hope that our next generation will be more understanding about how important the Yaki is, and its vital relation with our forests and we humans! Attending this GMIM teenage camp is a way to reach many young people who will hopefully change the current lifestyle of Minahasan people from yaki eaters to yaki protectors!  Through our talk we hope that this young generation will start to change their ideas about conserving the endangered wildlife, unique to North Sulawesi, like the yaki, and that they will start spreading the message to their family and friends.

Selamatkan Yaki Tim mengucapkan terima kasih sealam dalamnya kepada Komisi Remaja Sinode GMIM, Panitia perkemahan Kreatif Remaja GMIM yang sudah memberikan kesempatan kepada Tim untuk bisa memberikan materi, telah melayani kami dengan sangat baik dengan penginapannya juga. Terima kasih khususnya kepada Pnt Maxi Sahensolar yang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk bekerja sama, dan mempertemukan kami dengan remaja GMIM, mudah mudahan kerjasama kita akan terus terjalin di lain waktu.

 “Bersama kita bisa, bersama kita selamatkan yaki!”

The Selamatkan Yaki team would like to thank the Komisi Remaja Sinode Gmim and the Panitia perkemahan Kreatif Remaja GMIM for providing us with the opportunity to do our talk and for providing us with a really nice Guest House. A special thank you to Mr Maxi Sahensolar who gave us the opportunity to meet all these wonderful teenagers. We hope our collaboration will continue in the nearby future!

Together we will save the Yaki!

This slideshow requires JavaScript.