The road to Tombatu

Last month, July 4th 2013, the Selamatkan Yaki team was on the road again, this time heading to Tombatu, Minahasa Tengara (S-E). There the church GMIM organised the Youth Camp 2013 with 3000 participants this time! After our arrival we quickly recognised our supporters from Langowan: the members of the Nature Club Kpalang in Langowan! Great to meet them at this special event, where youth from all over Minahasa gathered to learn and discuss the ways of the Bible.

Bulan baru-baru ini tanggal july 4th 2013 tim selamatkan Yaki kembali melakukan perjalan kali kami menuju ke Tombatu Minahasa Tenggara di tempat ini sedang berlangsung perkemahan pemuda oleh gereja GMIM melibatkan kira-kira 3000 peserta. Saat kami tiba kami segera mengenal para pendukung kami dari Langowan yaitu kelompok pencinta alam Kpalang rasanya senang sekali bertemu dengan mereka di acara istimewa ini, di mana para pemuda di seluruh Minahasa berkumpul bersama-sama membahas tentang Alkitab.

Yunita opened our talk with connecting conservation with the Bible’s word. A good example is the passage on the Arc of Noah:

“And of every living thing, of all flesh, you shall bring two of every kind into the ark, to keep them alive with you; they shall be male and female Genesis 6:19”

Yunita membuka percakapan kami, dengan mencoba untuk menghubungkan antara pelestarian lingkungan dengan pelajaran Alkitab. Satu contoh nyata adalah dalam  cerita Bahtera Nuh. Dalam kitab Kejadian 6:19 dikatakan “dan dari segala yang hidup, dari segala mahkluk, dari semuanya haruslah engkau bawah satu pasang kedalam Bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa”.

Next, we showed the BBC Film “Yaki – Sang Penjaga Hutan”, which was at times responded to with laughter, surprise or shock. In answer to my question: “What did you think of the film?” our public said “Senang!” (We enjoyed it!)

Kemudian kami menujukan BBC film tentang Yaki-sang penjaga hutan yang di respon denga tertawa dan kejutan yang luar biasa dan ketika saya bertanya apa pendapat mereka dengan film yang mereka tonton semua mengatakan” senang!”

After our presentation about the Selamatkan Yaki programme and our upcoming Yaki Pride Campaign in Tomohon and Langowan, we showed our brand new yaki learning game: “Yayat – yaki sang Penjaga Hutan!” Which will be released online soon, so keep an eye on our website and follow our facebook page!

Setelah menyelesaikan presentase mengenai program Selamatkan Yaki dan kampanye Kebanggaan Yaki yang akan dating, di Tomohon dan Langowan, kami mempertunjukan permainan baru belajar tentang Yaki yaitu: “Yayat – Yaki sang Penjaga Hutan”! Yang akan di rilis segera secara online. Jadi tetap pantau website kami dan tetap ikuti halaman Facebook kami.

We ended our presentation with the message that we are looking for…. YOU!! How can you help us in our mission: yaki conservation? Well, by telling your friends and family about the yaki and our plight to protect them, by changing your lifestyle from “yaki-eater” to “yaki protector”! Also, if you live in or close to Tomohon, Langowan and Manado and you would like to help us organising our Yaki Youth Camp, please email us on volunteer@selamatkanyaki.com!

Kami akhiri presentasi kami dengan beberapa pesan yang kami tujukan bagi anda!!! bagaimana cara anda membantu misi kami di dalam konservasi Yaki? Caranya yaitu dengan menyampaikan  kepada keluarga, juga teman-temanmu untuk berjanji melindungi Yaki dengan cara mengubah gaya hidup dari “pemakan Yaki” menjadi “pelindung Yaki”! Atau buat kamu yang tinggal dekat Tomohon Langowan dan Manado kalian bisa menolong kami mengatur  perkemahan pemuda untuk penyelamatan Yaki  silahkan hubungi kami volunteer@selamatkanyaki.com.

Lastly, we did our Yaki quiz! Our winner has the following message, especially for you:

Terakhir kami melakukan kuis tentang Yaki dan pemenangnya mempunyai pesan dibawah ini khusus untuk anda:

This slideshow requires JavaScript.

~Learning with shades of green….

The last time I found myself writing here was back in February for our Bacan island expedition, so it is certainly pleasant to have found the opportunity to drape my words across what appears to have become quite an active and exciting blog!  Time for a massive post then I guess…

Terakhir  yang saya lakukan ketika itu adalah saat saya menulis tentang kepulangan saya di bulan Febuari untuk ekspedisi Pulau Bacan, tentunya ini merupakan satu kesempatan yang luarbiasa bisa menulis lagi di blog yang luarbiasa ini, dan saatnya untuk memposting…..

Always nice to visit my quaint home town of Bradford-on-Avon in the UK

Always nice to visit my quaint home town of Bradford-on-Avon in the UK

I firstly wish to express how deeply proud of our whole team I am. As you may have gathered from previous posts so much has been going on, but there has been much more in the background and on other projects as the programme blossoms. So well done all, it’s exciting to be together in this time of growth for the programme!

Pertama-tama saya ingin mengekspresikan rasa banga saya kepada seluruh teman se tim saya seperti yang saya sudah pernah ungkapkan di posting saya sebelumnya,  banyak hal yang telah di kerjakan dengan berbagai macam proyek serta program yang sudah dan sedang berlangsung.  luarbiasa semuanya, sungguh sangat menyenangkan bisa sama-sama berkembang untuk kemajuan program-program organisasi kita.

~Nice to be back in Manado...

~Nice to be back in Manado…

I arrived back to Indonesia last week from a wonderful visit to the UK, and was filled with a deep sense of warmth upon my return (and not just the humidity moistening my pits!), awash with the challenges of mounting pressures mixed with the sentimental feelings of happiness at returning. The small details, down to the jostling joyous swiftlets that dance their flights as we observe them at breakfast, to the gloriously spicy sambal (chili paste) that accompanies every meal and which I have missed dearly – I have ensured my recent lack of sambal has been made up for now and I am surprised I am not having it in my coffee at this point!

Saya tiba di Indonesia minggu lalu dari kunjungan luarbiasa saya di Iggris, dan sepanjang kepulangan saya tidak hanya di liputi kehangatan yang luarbiasa tapi berbagai tantangan ganjalan juga tekanan campuraduk dengan perasaan sentimentil rasa gembira saat kembali. Sebuah mahkluk kecil terlihat turun dorong-dorongan gembira dengan tangkas menari dan terbang ketika kami amati mereka saat makan pagi. untuk sambal kesayang saya yang sungguh saya sangat rindukan yang  biasanya selalu jadi pendamping di setiap makanan dengan keyakinan penuh akan tersaji saat ini tapi ternyata herannya tidak saya dapatkan pada saat ini!

Selamat datang (welcome) to our eco-school!

Selamat datang (welcome) to our eco-school!

So it wasn’t any time at all before my lists of tasks were longer than the paper holding them, including invitations to events and meetings coming at me from all angles. One in particular was a gathering of conservation groups just the day after my arrival (no time to settle of course, that’s not allowed!) at a certain SMPN 14 in Manado – a junior high school with a funky theme – they are an eco-school looking to gain a higher status as hyper-green (or, well, official eco-school status)! So, an event had been planned to celebrate their environmentally friendly outlook and we had been invited to be part of the community of representatives to give some inspiration and help to celebrate why it is good to keep this particular colour in mind. 

Green.....and clean! win win!

Green…..and clean! win win!

Ini samasekali belumlah apa-apa sebelum daftar tugas-tugasku melebihi kertas yang merekap semuanya dimana saya langsung di hadapi banyak sekali undangan  ivent-ivent serta pertemuan-pertemuan yang datang dari para malikat-malikat. Salah satu event yang saya harus hadiri datang dari sebuah perkumpulan konservasi dan undangan ini datang tepat sehari saat saya tiba (tentu saja tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha,dan memang ini sama sekalai tidak di perbolehkan!) undangan ini berasal dari sebuah Sekolah menengah atas yaitu SMPN 14 Manado dengan sebuah tema yang menarik sekolah ini adalah sebuah sekolah yang berpredikat eco-school dan ingin meningkatkan status mereka menjadi hyper-green jadi sekolah ini berencana  merayakan program mereka yaitu sahabat lingkungan dan sengaja mengundang kami menjadi bagian dari komonitas ini dan juga sebagai perwakilan yang bisa memberikan inspirasi membantu menyelengarakan serta menanamkan pemahaman kenapa hal ini penting.

Recycling whilst filling space with green foliage breathes more life into our living spaces

Recycling whilst filling space with green foliage breathes more life into our living spaces

What a wonderful school it was! A welcome feeling was not far off, being immediately greeted by the beaming smiles of friendly staff and helpful students. We were led through areas lush with foliage; I had never seen so many hanging plants and orchids all dangling away happily in this pretty environment that gave the school a much more outdoorsy feeling than many, full of life and colour. As we waited for other speakers to arrive, an incessantly smiling headteacher/ artist/ environmentalist led us through to their arts and culture room. This offered a splendid and diverse array of souvenirs, bags, household items made out of cheap, recycled materials – bags made from plastic rubbish, ashtrays and even monkeys (first thing I spotted of course) whittled from coconut, the ubiquitous material of North Sulawesi. Then as if to make Gaetan feel at home, on our way to plant some trees around the back we stepped into the playing field to see a monumental water vesicle-based structure – the Eiffel Tower replicated out of old plastic bottles! Of course! Another great symbol of recycling standing proud to encourage all to reduce waste and make use of what we have – something that must become a greater priority here in Indonesia.

Hordes of surprisingly attentive pupils open ears to the presentations

Hordes of surprisingly attentive pupils open ears to the presentations

Ketika kami tiba di sekolah yang sangat luarbiasa ini kami disambut dengan begitu ramah dengan senyum lebar oleh para sataff serta para siswa dan kami langsung di di antar melewati area yang lebat dengan rerimbunan daun saya tidak melihat tanaman yang bergelantungan serta angrek-angrek berjuntai dengan di lingkungan yang cantik ini yang sebenarnya bisa memberikan sekolah ini pemandangan luar yang lebih menarik lebih hidup dan berwarna. Dan Sementara menungu pembicara kunci lainya kami dibawah oleh kepala sekolah menuju ruang seni dan budaya. Di dalam tersaji dengan baik sekali bermacam-macam perhiasan tandamata, tas-tas, serta berbagai kerajinan tangan yang dibuat dari bahan-bahan bekas murah kalo tas di buat dari sampah plastik, ada Asbak, bahkan ada monyet (benda pertama yang saya lihat tentu saja) yang di buat dari batok buah kelapa  yang materialnya tersebar luas di seluruh Sulawesi Utara. Dan ada satu hal yang tentu saja membuat Gaetan terasa seperti di kampung halamanya yaitu saat kami menginjak halaman bermain terdapat sebuah replika dari menara Eiffel.

Distracted....by the foliage....

Distracted….by the foliage….

Speakers gave talks on various topics, from the Head of the Natural Resources Agency (BKSDA), the Head of the Education Department of Manado, The Forestry Research Agency, Tasikoki Rescue and Education Centre and of course myself and the lovely Yunita from Selamatkan Yaki. Gaetan did a wonderful job with the photography, thanks G! The students were attentive and receptive, and I hope these messages ride strong with them throughout their lives, spreading to friends and families and reaching wide – further encouraging the government and local communities to adopt environmentally friendly policies and recognise ourselves as part of nature as we so clearly are, and yet that many of us forget the true meaning of.

Yunita explains how we can all make positive change

Yunita explains how we can all make positive change

Para pembicara memberikan paparanya dengan berbagai topic, para pembicara antara lain kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam, kepala dinas pendidikan Manado, the Forestry Reseach Agency, Pusat Penyelamatan dan Pendidikan Tasik Oki dan tentu saja saya serta Yunita dari Selamatkan Yaki. Para siswa sangat antusias dan sangat menerima akan pemaparan dengan harapan tentu saja dengan mengikuti acara ini pesan yang mereka peroleh dari acar ini dapat mereka teruskan kepada siapa saja serta bisa mendorong pemerintah serta komonitas lokal untuk dapat mengadopsi kebijakan-kebijakan ramah lingkungan dan mengenali diri kita sebagai bagian dari lingkungan itu sendiri yang mana  banyak dari kita yang belum mengerti arti sebenarnya akan pe ntingnya lingkungan bagi kehidupan kita.

Wall of pride - some green achievements from the school for all to see

Wall of pride – some green achievements from the school for all to see

I felt a deep sense of pride to be here at this event….proud of the school, for all the staff, the highly motivated headmaster and all the students setting a good example to be more sustainable and caring to our planet; proud of my staff for working so hard and making our programme move towards our objectives; proud to be here and proud to be doing what I am doing to help these charismatic black ninjas of the forest and their leafy homes. It is this sort of thing that reminds me why I am here…and to feel supported in doing it with such a pleasant network of others.  

Until next time, keep smiling 🙂 Harry

Gathering in the (French-esque) playing field for a thousand photos!

Gathering in the (French-esque) playing field for a thousand photos!

Tentu saja saya merasa bangga berada di sini dengan adanya ivent ini banga dengan sekolah ini,juga untuk semua staff, kepala sekolah yang sangat memotivasi juga buat seluruh siswa yang bisa menjadi pelopor yang baik di dalam menjaga kelangsungan planet ini, bangga juga buat semua staff kami dengan kerja kerasnya sehingga program ini bisa berjalan dengan sukses, bangga bisa di sini dan bangga dengan apa yang telah saya lakukan bisa menolong para ninja-ninja hitam berkarisma ini akan hutan mereka serta rumah rindang mereka. ini hal simpel yang selalu mengingatkan saya kenapa saya ada di sini…..dengan merasakan sebuah dukungan yang menyenangkan dari yang lain didalam melakukan semua ini.

 Sampai ketemu lagi, Harry

This slideshow requires JavaScript.

New social media volunteers for SY! Relawan baru media sosial SY!

We would like to welcome our new social media experts, Katharine Szokalo and Brittany Kenyon into our team! Would you like to know more about their backgrounds and what inspired them to contribute to primate conservation? Read their introduction blogs here! 

Kami ingin menyambut ahli media sosial kami, Katharine Szokalo dan Brittany Kenyon ke dalam tim kami! Kalian ingin tahu mengenai latar belakang mereka dan apa yang menginspirasi mereka untuk berkontribusi dalam konservasi primata?? Baca mengenai mereka di blog ini!

Katharine Szokalo and her cat

Katharine and her cat!

Hello, I am Katharine. In 2011 I decided to follow my dreams and pursue a career working with animals. Prior to this I worked behind the scenes at two different universities and I studied for a Postgraduate Diploma in Corporate Communications.

Halo, nama saya Katharine. Pada tahun 2011 saya memutuskan untuk mengikuti impian saya dan mengejar karir untuk dapat bekerja dengan satwa. Sebelum itu, saya bekerja untuk dua universitas yang berbeda dan juga mengambil magister di bidang Komunikasi.

At the end of 2011, I began volunteering at an exotic pet refuge, a sanctuary that rescued animals from the pet trade and included everything from primates to an Alligator!  It was during my time there that I first encountered the Sulawesi crested black macaque (locally known as yaki), a female named Cinders who came from the entertainment industry. I found her so fascinating that I decided to try and find out as much as I could about this unique species. It was sad that Cinders never got to know her own kind, especially after I had visited wildlife Parks within the UK and seen groups of Yaki interacting with each other as they are very social animals living in big groups in the wild!

Pada akhir tahun 2011, saya mulai menjadi relawan di tempat perlindungan hewan peliharan eksotis yang menyelamatkan satwa dari perdagangan ilegal, termasuk di dalamnya satwa seperti primata dan aligator. Saat itu merupakan pertama kalinya saya melihat seekor yaki betina bernama Cinders yang diselamatkan dari industri hiburan. Saya terpesona oleh Cinders dan memutuskan untuk mencoba dan mencari tahu mengenai satwa unik ini. Sangat menyedihkan mengetahui bahwa Cider tidak akan pernah mengenal jenisnya sendiri, khususnya setelah saya mengunjungi kebun binatang di inggris dan melihat kelompok yaki yang berinteraksi satu sama lain mengingat bahwa yaki di alam liar merupakan primata social yang hidup berkelompok.

In September 2012, I started studying for the BIAZA Diploma in the Management of Zoo and Aquarium Animals. My interest in the Yaki lead me to find the Selamatkan Yaki Facebook page. I contacted Harry, the programme field manager, and then saw that SY were looking for Twitter volunteers, so I became a Twitter volunteer in December 2012.  In February of this year I left the exotic pet refuge and began volunteering at a very small Falconry and Wildlife Park.

Pada September 2012, saya mulai mengambil sarjana Management of Zoo and Aquarium Animals di BIAZA. Ketertarikan saya terhadap yaki mengarahkan saya pada program “Selamatkan Yaki” melalui Facebook. Saya kemudian menghubungi Harry, koordinator lapangan SY dan kemudian mengetahui behwa SY sedang mencari relawan untuk Twitter, dan kemudian saya menjadi relawan Twitter SY di bulan Desember 2012. Bulan February tahun ini saya kemudian berhenti di tempat perlindungan hewan peliharan eksotis dan memulai menjadi relawan di Falconry and Wildlife Park.

I have recently returned from volunteering at Wild Futures Monkey Sanctuary, which was an excellent experience and I am hopefully returning back to volunteer again in October. The Monkey Sanctuary rescues primates from the pet trade and campaigns to end the primate pet trade.

Saat ini saya baru saja ikut program relawan di Wild Futures Monkey Sanctuary, yang merupakan pengalaman yang sangat menarik dan semoga dapat kembali lagi menjadi relawan di bulan Oktober. Wild Futures Monkey Sanctuary menyelamatkan primata dari perdagangan ilegal dan melakukan kampanye untuk menghentikan perdagangan ilegal primata.

Recently, I have expanded my activities with Selamatkan Yaki and become a social media volunteer, with the aim to keep Selamatkan Yaki public up-to-date with the latest primate conservation news, including the latest activities and whereabouts of the Selamatkan Yaki team through Facebook and other social media channels. I will also be helping the SY’s Education and Awareness Team with the development of new methods of reaching a wider audience, both nationally and internationally, e.g. by creating online competitions and events to promote our cause. I am looking forward to being part of such a great team!

Bulan ini saya menambah aktivitas saya di Selamatkan Yaki dan menjadi relawan media sosial, dengan tujuan untuk menjaga media sosial Selamatkan Yaki tetap up to date dengan berita dari konservasi primata, termasuk aktivitas terbaru dan hal lainnya mengenai tim SY. Saya juga akan membantu tim edukasi dan penyadartahuan SY dengan mengembangkan metode baru untuk mencapai pemerhati yang lebih luas, baik nasional dan internasional seperti membuat kompetisi dan acara untuk mempromosikan SY. Saya sangat senang sekali menjadi bagian dari tim yang luar biasa ini!

Our new volunteer Brittany!

Our new volunteer Brittany!

Hello! My name is Brittany and I am Selamatkan Yaki’s newest volunteer. I am currently living in upstate New York where I recently graduated from Ithaca College with a BA in anthropology. I finished my college career by writing a thesis about how humans’ view and treatment of non-human primates can ultimately change the behavior of non-human primates. The topic of my thesis, formally known as ethnoprimatology, has become a keen interest of mine.

Halo, Nama saya Britanny dan saya merupakan relawan baru di Selamatkan Yaki. Saat ini saya tinggal di New York dan baru saja lulus sarjana dari Ithaca Colleege  di bidang Anthropologi. Saya menyelesaikan sarjana saya dengan tesis mengenai bagaimana sudut pandang dan perawatan manusia terhadap primata dapat menjadi alasan utama perubahan perilaku primata. Topik tesis saya biasanya disebut sebagai ethnoprimnatologi yang merupakan hal yang menarik untuk saya.

Currently, I work in the admissions department of the Seneca Park Zoo in New York and as a grant researcher for the newly formed Monkey Madness Primate Sanctuary in California. In the past, I’ve interned at the Rochester Museum and Science Center in New York, Jungle Friends Primate Sanctuary in Florida and volunteered at the Fauna Foundation (a sanctuary for chimpanzees retired from biomedical research) in Montreal, Canada. I also attended a field school in Kenya where I learned much about conservation and evolution.

Saat ini saya bekerja di bagian administrasi di Seneca Park Zoo New York dan sebagai peneliti di program baru Monkey Madness Primate di California. Sebelumnya saya magang di Rochester Museum and Science Center, New York, Jungle Friends Primate Sanctuary, Florida dan menjadi relawan  di Fauna Foundation di Montreal, Canada. Saya juga mengikuti sekolah lapangan di Kenya dan belajar banyak mengenai konservasi dan evolusi.

I am working in primate conservation for a variety of reasons. In a recent article in the New York Times, there was a sentence that read: “to study primates today is not to discover them for the first time, but to perhaps say farewell.” This sentence really struck me; primates are such amazing animals and we should not be thinking of saying goodbye to them any time soon. There is a lot of work that can be done to conserve all species and given our close evolutionary history to primates, they should be a priority. Therefore, I believe in doing all the work that I can to help educate and spread the word about primate conservation!

Saya bekerja di bidang konservasi primata dengan berbagai alasan. Dalam sebuah artikel di New York Times, terdapat sebuah kalimat : mempelajari primata saat ini bukanlah untuk mengungkapkan mengenai mereka untuk pertama kalinya, tetapi mungkin untuk mengucapkan selamat tinggal. Kalimat tersebut sangat menusuk hati saya; primata merupakan satwa yang sangat luar biasa dan kita seharusnya tidak berfikir untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dalam waktu singkat. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk melestarikan semua spesies dan secara sejarah evolusi primata dekat dengan primata, maka seharusnya mereka menjadi prioritas.  Saya percaya dengan melakukan semua pekerjaan tersebut kita dapat membantu mengedukasi dan melakukan penyadartahuan mengenai konservasi primata!

During my short time with Selamatkan Yaki, I have worked to bring current conservation related articles to Facebook and Twitter. I am also working on the Pinterest boards (which you can find here). I am looking forward to my time with the program and spreading the work about the yaki!

Selama periode singkat saya di Selamatkan Yaki, saya melakukan penyebarluaskan artikel yang berhubungan dengan konservasi terbaru melalui Facebook dan Twitter. Saya juga membantu di Pinterest SY, tolong membaca di sini. Saya sangat senang untuk dapat membantu program ini dan menyebarkan informasi mengenai yaki!