The Yaki Exhibition is officially open!

A couple of weeks ago, the Selamatkan Yaki team launched the Yaki Exhibition! This exhibition features a selection of yaki photographs taken by Andrew Walmsley, an extremely talented wildlife photographer, as well as several photographs showcasing Selamatkan Yaki’s activities and other yaki-themed artwork. This exhibition is held at Pa’Dior Museum, Tompaso, North Sulawesi. Thanks to our partners, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (North Sulawesi Art & Culture Institute) it will be part of their permanent exhibition, so make sure to drop by when you have the chance! For the time being, let’s read more about the preparations behind the exhibition.

Beberapa minggu lalu, tim Selamatkan Yaki meluncurkan Pameran Yaki! Pameran ini menampilkan beberapa foto pilihan karya Andrew Walmsley, seorang fotografer satwa liar yang sangat berbakat, juga beberapa foto yang menampilkan kegiatan-kegiatan di Selamatkan Yaki dan karya seni bertema yaki yang lain. Pameran ini diadakan di Museum Pa’Dior, di Institut Seni dan Budaya Sulawesi Utara. Jadi pastikan kalian mampir jika ada kesempatan! Untuk sekarang, mari membaca lebih banyak mengenai persiapan pameran ini.

We finally decided to hang the ribbon in front of the photographs of our awesome ambassadors! | Kami akhirnya memutuskan untuk menggantung pita pembukaan di depan foto duta-duta kami!

We finally decided to hang the ribbon in front of the photographs of our awesome ambassadors! | Kami akhirnya memutuskan untuk menggantung pita pembukaan di depan foto duta-duta kami!

It was the night before the “Torang Bacirita” event (we’ll post another story about that soon!) and the team was busy setting up equipment at Pa’Dior. The event was to start at 9.30AM the next morning and everything needed to be ready that night so the morning wouldn’t get too frantic! Some were putting up banners, others were arranging chairs and tables, others were putting up the photographs and text panels. The Yaki Exhibition was to be opened by Dr. Benny J. Mamoto, S.H, M.Si at the start of the “Torang Bacirita” event, so special care was taken in choosing how we would do it. So we went through our options and settled on the classic ribbon-cutting ceremony!

A banner with our campaign logo greeted participants at the entrance of Pa'Dior. | Spanduk dengan logo kampanye kami menyambut para peserta di Pa'Dior.

A banner with our campaign logo greeted participants at the entrance of Pa’Dior. | Spanduk dengan logo kampanye kami menyambut para peserta di Pa’Dior.

Malam sebelum kegiatan “Torang Bacirita” (kami akan segera mem-posting berita mengenai kegiatan ini!) tim SY sibuk mempersiapkan lokasi acara di Pa’Dior. Acara akan dimulai pukul 9.30 dan persiapan harus diselesaikan malam itu. Kalau tidak, esok paginya kami akan kewalahan! Ada yang memasang spanduk, ada yang mengatur meja dan kursi, dan ada yang memasang foto dan panel keterangan. Pameran Yaki akan dibuka oleh Dr. Benny J. Mamoto, S.H, M.Si di bagian awal acara “Torang Bacirita”, sehingga kami memberi perhatian lebih mengenai bagaimana pembukaan akan dilakukan. Setelah membahas berbagai kemungkinan, kami memilih acara potong pita!

Ready to cut the ribbon! We also decided to cover the photographs to keep the participants guessing. | Pita siap dipotong! Kami juga memutuskan untuk menutup foto-foto dengan kain agar peserta menebak-nebak foto seperti apa dibaliknya.

Ready to cut the ribbon! We also decided to cover the photographs to keep the participants guessing. | Pita siap dipotong! Kami juga memutuskan untuk menutup foto-foto dengan kain agar peserta menebak-nebak foto seperti apa dibaliknya.

Even with all the preparations we did the previous night, the morning was still quite hectic. The steady stream of perticipants kept the registration table busy, but once everyone was registered and settled down things went quite smoothly. Dr. Benny Mamoto’s opening remarks went by without a hitch, and in no time at all, it was time to cut the ribbon!

Bahkan setelah semua persiapan malam sebelumnya, pagi harinya tetap sangat sibuk. Peserta yang terus berdatangan membuat meja registrasi sangat sibuk, namun setelah semua peserta selesai mendaftar, semuanya berjalan lancar. Sambutan dari Dr. Benny Mamoto berjalan dengan baik, dan tanpa terasa, saatnya memotong pita!

The grand unveiling! | Penutup akhirnya dibuka!

The grand unveiling! | Penutup akhirnya dibuka!

Dr. Benny Mamoto and the participants walked around the room to look at the photographs. | Dr. Benny Mamoto dan para peserta berjalan mengitari ruangan untuk mengamati setiap foto.

Dr. Benny Mamoto and the participants walked around the room to look at the photographs. | Dr. Benny Mamoto dan para peserta berjalan mengitari ruangan untuk mengamati setiap foto.

After the opening, Dr. Benny Mamoto took time to admire all the photographs, along with the rest of the participants. Seeing the yaki’s daily life through Andrew Walmsley’s beautiful shots gave the participants something new to talk about, and hearing the comments and discussions that arose from the photographs assured us that the change of people’s attitude towards the yaki had already started between these participants.

Interesting discussion arose between participants. | Diskusi yang menarik timbul di antara para peserta.

Interesting discussion arose between participants. | Diskusi yang menarik timbul di antara para peserta.

Setelah acara pembukaan, Dr. Benny Mamoto mengagumi foto-foto yang dipajang satu persatu, bersama para peserta lain. Melihat keseharian yaki melalui hasil jepretan yang indah karya Andrew Walmsley memunculkan topik-topik baru bagi para peserta. Mendengar komentar dan diskusi yang timbul karena mengamati foto-foto pameran meyakinkan kami bahwa perubahan sikap terhadap yaki sudah dimulai di antara para peserta ini.

As the participants walked through the exhibition, Yunita gave a commentary on the photographs and the circumstances they were taken. | Sementara para peserta berjalan melihat-lihat pameran, Yunita menceritakan kisah latar dan kondisi di mana foto-foto tersebut diambil.

As the participants walked through the exhibition, Yunita gave a commentary on the photographs and the circumstances they were taken. | Sementara para peserta berjalan melihat-lihat pameran, Yunita menceritakan kisah latar dan kondisi di mana foto-foto tersebut diambil.

All too soon it was time to continue with the day’s programme. We would like thank Andrew Walmsley, and all the talented artists who gave us permission to display their work! We’re confident that we can reach people through art and motivate them to create something that will help spread conservation messages – be it through their own artwork, or something more prosaic, like community activities and initiatives. Together we can save the yaki!

Tidak terasa sudah waktunya melanjutkan acara hari itu. Kami ingin berterima kasih pada Andrew Walmsley, dan semua seniman berbakat yang mengizinkan kami menampilkan karya mereka! Kami yakin bahwa kita semua bisa menjangkau orang lain melalui seni dan memotivasi mereka untuk menciptakan sesuatu yang akan membantu menyebarkan pesan konservasi – entah melalui karya seni sendiri, atau melalui inisiatif dan kegiatan masyarakat. Bersama kita bisa menyelamatkan yaki!

This slideshow requires JavaScript.

Yaki information stands!

As most of you may know, our beloved yaki faces a rather unique threat here in North Sulawesi: being hunted for bushmeat. This problem is particularly bad in the lead-up to major holidays, such as Thanksgiving and Christmas. Here in SY, we’ve taken that into consideration and decided to put up information stands in Tomohon and Langowan, our main target for our upcoming Yaki Pride Campaign, just in time for Christmas! These stands are situated close to the markets, which are known for selling a high level of bushmeat, and we hope that through this awareness raising activity we can reach our intended audience more effectively. So far, we’ve held the information stands for three days, Thursday (12/12), Friday (13/12) and Saturday (12/14), and we’ll hold the last day on Saturday (12/21). Here’s the story behind the first day in Langowan!

Seperti yang mungkin kalian sudah tahu, yaki kesayangan kita menghadapi ancaman yang unik di Sulawesi Utara: diburu untuk dijual dagingnya. Ancaman ini semakin parah menjelang hari-hari raya tertentu, seperti Pengucapan dan Natal. Kami di SY telah mempertimbangkan hal tersebut dan memutuskan untuk mengadakan stan informasi di Tomohon dan Langowan, target utama kami untuk Kampanye Kebanggaan Yaki, dalam hari-hari menjelang Natal! Stan ini terletak dekat dengan pasar, yang diketahui menjual daging satwa liar dalam jumlah besar, dan kami berharap kegiatan penyadartahuan ini dapat menjangkau sasaran kampanye kami dengan efektif. Sejauh ini, stan informasi kami telah berjalan selama tiga hari, Kamis (12/12), Jumat (13/12) dan Sabtu (14/12), dan Sabtu ini (21/12) adalah hari terakhir. Ikuti kisah hari pertama kami di Langowan!

Our information stand in the traditional market of Langowan attracted the interest of both young and old! | Stan informasi kami di pasar Langowan menarik perhatian beragam kalangan, tua dan muda!

Our information stand in the traditional market of Langowan attracted the interest of both young and old! | Stan informasi kami di pasar Langowan menarik perhatian beragam kalangan, tua dan muda!

The team’s day started with Yunita and Caroline setting off from Manado nice and early in the morning. An early start is necessary because Langowan is a 90-minute drive from Manado, and it’s best to have the information stand set up and ready to go in the morning, at the peak of people’s market activities.

Tim kami, Yunita dan Caroline, mengawali hari dengan berangkat dari Manado pagi-pagi. Tim perlu berangkat pagi karena butuh waktu kurang lebih 90 menit untuk mencapai Langowan dari Manado, dan stan harus siap dibuka pagi-pagi, saat puncak kegiatan pasar masyarakat.

Our information banner about the yaki spreads our message in a simple yet effective way! | Spanduk informasi tentang yaki menyampaikan pesan kami secara sederhana namun efektif!

Our information banner about the yaki spreads our message in a simple yet effective way! | Spanduk informasi tentang yaki menyampaikan pesan kami secara sederhana namun efektif!

Upon arriving, we were greeted by Kelompok Pencinta Alam Langowan (KPALANG), our partners in Langowan, who had volunteered to help out. The tent was already up, so we got straight to work, putting up the banners first. The information banner hadn’t been up 10 minutes and passers-by were already pausing, or slowing down, to read the information. It was really encouraging to get such quick reaction! We also put up a banner with SLANK’s picture. The idea was that people would know that these music icons supported our cause, and hopefully they’d be motivated to do the same and show their support by signing the banner. We also arranged the items for display – laptop and speakers for the yaki documentary, T-shirts and story books for sale, and a coloring-in station for kids, where they could color their own yaki mask.

Our colouring table draws a lot of interest! | Meja mewarnai kami sangat menarik perhatian!

Our colouring table draws a lot of interest! | Meja mewarnai kami sangat menarik perhatian!

Setibanya di sana, kami disambut Kelompok Pencinta Alam Langowan (KPALANG), mitra kami di Langowan, yang bersedia membantu sebagai sukarelawan. Tenda sudah berdiri, jadi kami langsung bergerak memasang spanduk. Belum 10 menit spanduk informasi dipasang, namun orang-orang yang lewat sudah mulai memperhatikan dan membaca informasi yang tertera. Reaksi yang cepat ini semakin menyemangati kami! Kami juga memasang spanduk dengan foto SLANK. Kami berharap masyarakat akan tahu bahwa ikon-ikon music ini mendukung kami, dan mereka akan tergerak untuk melakukan hal yang sama dan menunjukkan dukungan dengan menandatangani spanduk. Kami juga menata perlengkapan kami yang lain – laptop dan speaker untuk memutar film documenter tentang yaki, kaos dan buku cerita untuk dijual, dan peralatan mewarnai untuk anak-anak, di mana mereka bisa mewarnai sendiri topeng yaki untuk mereka simpan.

Our first signature! Do you support conserving the yaki, just like our ambassadors SLANK? | Tanda tangan pertama! Apakah kamu juga mendukung konservasi yaki, seperti duta kami, SLANK?

Our first signature! Do you support conserving the yaki, just like our ambassadors SLANK? | Tanda tangan pertama! Apakah kamu juga mendukung konservasi yaki, seperti duta kami, SLANK?

It's busy at the markets in light of Christmas! Here's Yunita spreading our campaign stickers to an ojek driver. | Pasar semakin sibuk menjelang Natal! Tampak Yunita membagikan stiker kampanye ke salah satu tukang ojek dekat pasar.

It’s busy at the markets in light of Christmas! Here’s Yunita spreading our campaign stickers to an ojek driver. | Pasar semakin sibuk menjelang Natal! Tampak Yunita membagikan stiker kampanye ke salah satu tukang ojek dekat pasar.

Very soon, a large variety of visitors started dropping by. There were people going to and from the market, high school students, government workers on a lunch break, ojek drivers and shop owners. Later in the afternoon a steady stream of children also came by, and the coloring station became very crowded. Firstly the visitors seemed hesitant, but after casual small talk from Yunita and Caroline and the other volunteers, they were soon engaged in conversation and seemed quite enthusiastic in learning more about the yaki. The yaki documentary also played a big part in attracting attention, because visitors got a chance to see the yaki from a different point of view. The SLANK banner was also a big hit with visitors. So far, over 150 people have signed the banner to show their support for our cause! We are optimistic that these visitors gained new, valuable knowledge through our information stands, and would spread the information to their friends and family.

BBC's video gives a glimpse inside the daily lives of the yaki, living at Tangkoko Nature Reserve. | Video BBC menunjukkan keseharian yaki-yaki di Cagar Alam Tangkoko.

BBC’s video gives a glimpse inside the daily lives of the yaki, living at Tangkoko Nature Reserve. | Video BBC menunjukkan keseharian yaki-yaki di Cagar Alam Tangkoko.

Pengunjung pun segera berdatangan. Ada yang menuju ke atau kembali dari pasar, siswa-siswa SMA, pegawai negeri yang sedang istirahat makan, tukang ojek, dan pemilik toko. Saat hari semakin siang, anak-anak pun semakin ramai berdatangan, dan meja mewarnai menjadi sangat penuh. Pada awalnya para pengunjung agak malu-malu, namun setelah percakapan santai bersama Yunita dan Caroline dan para sukarelawan lain, mereka segera menjadi tertarik dan bersemangat bertanya-tanya mengenai yaki. Film documenter tentang yaki juga berperan penting dalam menarik perhatian, karena para pengunjung bisa melihat yaki dari sudut pandang yang berbeda. Spanduk SLANK juga sangat popular di antara para pengunjung. Sudah lebih 150 orang yang menandatangani spanduk kami untuk menunjukkan dukungan mereka! Kami optimis para pengunjung ini memperoleh informasi baru yang berharga melalui stan informasi kami, dan akan menyebarkan informasi ini pada keluarga dan teman-teman mereka.

A round of applause to this brother and sister, our first ambassadors for the day! | Tepuk tangan untuk kakak-adik ini, duta pertama kami hari ini!

A round of applause to this brother and sister, our first ambassadors for the day! | Tepuk tangan untuk kakak-adik ini, duta pertama kami hari ini!

Our fantastic team of volunteers for today; the members of Nature Lovers Club of Langowan! | Tim sukarelawan kami yang hebat; para anggota Kelompok Pencinta Alam Langowan!

Our fantastic team of volunteers for today; the members of Nature Lovers Club of Langowan! | Tim sukarelawan kami yang hebat; para anggota Kelompok Pencinta Alam Langowan!

In what felt like no time at all, it was late afternoon and the SY team had to return to Manado. It was a tiring day, but it was worth it! A great big thank you to KPALANG for being such a big help. We’ll see you again soon!

Tidak terasa, hari semakin sore dan tim SY harus kembali ke Manado. Hari yang sangat melelahkan, namun sepadan dengan semangat dan dukungan yang kami rasakan. Terima kasih banyak pada KPALANG yang sudah sangat membantu. Sampai jumpa lagi!

This slideshow requires JavaScript.

Ruth Papente : EARS Surveyor!

Hallo semuanya! Maaf karena terlalu lama meng-update kabar di blog – sebulan ini. Tim Selamatkan Yaki pada bulan November disibukkan  dengan dua acara sekaligus yaitu pelatihan pemandu wisata alam  dan diskusi “Torang Bacirita” yang akan kami ceritakan di blog mendatang.  Sebelum itu, kami ingin memperkenalkan Ruth Papente yang sudah sangat membantu sejak bergabung dengan tim survey.Mari kita membaca tanggapan Ruth mengenai survei.

Hello everyone! Sorry for the long gap between our blog posts – we’ve had a very busy month here at Selamatkan Yaki, what with Guide Training and Torang Bacirita discussion in a row. Stay with us, we’ll update you with exciting news about those events very soon! Before we jump into those events, we’d like to introduce a member of our team, Ruth Papente. She has been helping since joined the survey team. Let’s read what Ruth has to say about the surveys.

– – – – –

Hallo, nama saya Ruth, salah satu dari lima surveyor EARS. Saya sangat senang bisa bergabung dengan tim ini; puji Tuhan atas waktu berharga dan saya bisa bertemu dengan teman-teman baru dengan umur, latar belakang, serta karakter yang berbeda-beda namun semua bisa saling mengerti dan bekerjasama sehingga tim kami kompak.

Hello, I am Ruth one of the five surveyors for EARS. I’m really glad to join this team. We thank God for the good time as I got to meet new friends with different ages, basics, and characters though all of us could find a harmony which makes the team solid and close.

~ Setting up data entry in the office Selamatkan Yaki. ~ Suasana pengisian data di kantor Selamatkan Yaki.

~ Setting up data entry in the office Selamatkan Yaki.
~ Suasana pengisian data di kantor Selamatkan Yaki.

Salah satu proyek Selamatkan Yaki adalah edukasi dan penyadartahuan konservasi pada masyarakat. Diperlukan suatu sosialisasi atau kampanye sehingga masyarakat lebih tahu dan paham mengenai nilai nilai konservasi. Merupakan suatu keharusan, terlebih dahulu kita mengetahui latar belakang dan baseline dengan melakukan survey, selanjutnya informasi atau data awal ini bisa dijadikan patokan untuk perencanaan kegiatan mencapai tujuan Program Selamatkan Yaki.

Education and Awareness is an important goal of the Selamatkan Yaki Programme. Socialization and campaign to the society are needed to increase the support of conservation. But before starting those activities, it is a must that we need to know about people’s background, attitudes and behaviours. We find the baseline by doing a survey after which we can carry out our Education and Awareness Raising action plan.

Survey diadakan di dua tempat berbeda yaitu di desa Langowan dan Kota Tomohon dengan responden sebanyak kurang lebih 781 orang dari 8 desa. Alasan yang menjadi landasan untuk mengadakan survey di lokasi ini adalah karena terdapatnya pasar satwa dengan tingkat perdagangan yang cukup tinggi serta hasil survey sebelumnya dimana tingginya tingkat konsumsi daging satwa liar termasuk yaki.  Data yang dikumpulkan nantinya akan dibandingkan dengan data survey sesudah kampanye, dengan tujuan yaitu untuk melihat perbandingan sebelum dan sesudah kampanye, sejauh mana perubahan yang terjadi pada masyarakat Tomohon dan Langowan.

The baseline data collection was held in two different places, Langowan village and Tomohon City with more than 781 respondents in eight villages.  One of the reasons why we did the survey in these areas is because there are bushmeat markets with a high level trade in each of these places. Results of previous research have shown high level of consumption of bushmeats including yaki.  The information we have got will be later compared to the upcoming survey information after the impact of our campaign in the community.

Ada tantangan tersendiri dalam mencari dan bertemu dengan orang-orang baru, bertanya apakah mereka bersedia diwawancara, berinteraksi dengan mereka, dan menciptakan suasana yang nyaman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya cukup sulit. Seiring waktu, kami semakin terbiasa, dan kami menikmati kemampuan kami untuk mengendalikan suasana wawancara.

It’s challenging when we must find and meet new people, asking them if they would like to be interviewed, interact with them, and creating a good mood to answer the questions in the questionnaire. It sounds easy but it is actually not. As time passed, we got more used to it, and we started to enjoy being able to control the atmosphere of our interviews.

~The rain and cold almost every morning in Langowan was not become a problem for Survey Team. ~Hujan dan dingin hampir setiap pagi di Langowan, namun bukan menjadi masalah bagi Tim Survey.

~The rain and cold almost every morning in Langowan was not become a problem for Survey Team.
~Hujan dan dingin hampir setiap pagi di Langowan, namun bukan menjadi masalah bagi Tim Survey.

Pada awalnya kami mengikuti workshop di kantor, diikuti dengan 3 hari percobaan di 3 desa yang berbeda, yaitu; Bulo -Tateli, Kumelembuai – Tomohon, dan Kayawu – Tomohon. Ini dimaksudkan sebagai latihan sekaligus pemanasan sebelum pengumpulan data sebenarnya. Selanjutnya kami memulai survei di Langowan dan Tomohon. Di Langowan, ada 4 desa yang harus disurvei. Desa-desa itu adalah Noongan, Noongan I, Kawatak, dan Walantakan. Di Tomohon, kami harus mensurvei Tara-tara I, Walian, Talete II, dan Kakaskasen I.

First of all we had a workshop in the office, then three pilot days in three different villages, which are: Bulo (Tateli) , Kumelembuai (Tomohon), and Kayawu (Tomohon). This was meant to warm us up before collecting the actual data. Then we started to do the surveys in Langowan and Tomohon. In Langowan we had to survey four villages. They are: Noongan, Noongan III, Kawatak, and Walantakan. For Tomohon we have: Tara-tara I, Walian, Talete II , and Kakaskasen I.

Kami menyelesaikan survei di Langowan dalam waktu satu bulan. Ada banyak cerita dan kejadian di tempat ini. Kami bertemu dengan responden yang memiliki kepribadian dan sikap yang berbeda-beda; kadang kami disambut dengan senyum lebar, kadang dengan tatapan penuh rasa curiga, dan kadang mereka bahkan menolak menjadi responden. Jika terjadi demikian, kami harus menemukan pengganti, misalnya orang lain di rumah itu ataupun tetangga mereka. Namun secara keseluruhan, mereka yang setuju menjadi responden menjawab cukup bebas, dan survey berjalan cukup lancar. Survei di Tomohon sedikit lebih sulit. Hal ini karena Tomohon merupakan kota yang baru berkembang, dengan warga yang lebih sibuk dan lebih cuek. Kesamaan maupun perbedaan pendapat antara masyarakat di Langowan dan Tomohon cukup menarik berdasarkan beragamnya kebiasaan sehari-hari serta budaya masyarakat.

We finished the Langowan surveys in one month. There were so many stories and so many things happened in this location. We got to meet respondents in many characters and attitudes; sometimes they received us with big smile, others with a suspicious look, and sometimes they refuse to be our respondent. Then we must find their replacement, like other people in the house or their neighbors. But overall, the people who did agree to be our respondents answered questions quite freely, and things went more or less smoothly. Surveys in Tomohon were a little bit harder than Langowan. It’s because Tomohon is a new developing city, where the citizens were busier and more indifferent.  It was interesting to see similarities and also differences  in people’s opinions between Langowan and Tomohon, according to the differences between the citizens’ daily activities and basic cultures.

From left to right - Ruth, Keren, Myckel, Donny, Yunita and Alfons.

From left to right – Ruth, Keren, Myckel, Donny, Yunita and Alfons.

Survey terselesaikan dengan baik, puji Tuhan untuk waktu berharga ini serta dengan kerja keras dan kesabaran angota tim.  Dan tentu saja, terima kasih banyak untuk jawaban-jawaban yang jujur, pendapat serta masukan dari seluruh masyarakat. Terima kasih untuk semua kebaikannya, kiranya Tuhan memberkati kalian.

All surveys went well, we thank God for this precious time with hard work and patience of the team. And of course, big thanks to all repondents in Tomohon and Langowan. Thank you for the honest answers, opinions and suggestions. Thank you for all the kindness, may God bless you all.