New Car!

Masih ingat dengan Quiz Night Selamatkan Yaki di Inggris? Kegiatan ini diselenggarakan oleh sukarelawan kami, Jodie, pada bulan Agustus 2013 lalu. Jodie adalah pegawai di Drusillas Park yang bertugas merawat Macaca nigra (yaki) yang dipelihara di sana, dan dia sempat tinggal di Sulawesi beberapa bulan untuk bekerja dengan tim SY. Dia kembali ke Inggris dengan banyak inspirasi dan ide pengumpulan dana untuk kebutuhan-kebutuhan pokok program kami!

Do you remember the Selamatkan Yaki quiz night in the UK? It was organised by our wonderful volunteer Jodie last August 2013. Jodie who is a keeper at Drusillas Park, working with captive Macaca nigra (yaki) came to Sulawesi a few months before that to work with the SY Team. She came back to the UK inspired and full of ideas how to fund-raise money for our programme’s most urgent needs!

Total donations

The lovely Jodie with the money she raised for Selamatkan Yaki’s project car! Jodie tersayang dengan jumlah uang yang dia kumpulkan untuk mobil proyek Selamatkan Yaki!

Pegawai di 5 kebun binatang yang berbeda di Inggris (kebun binatang Paignton, kebun binatang Newquay, London ZSL dan kebun binatang Dudley) bergabung dengan Jodie dan teman-teman pegawai Drusillas Park dalam menyelenggarakan quiz night, yang diadakan pada malam yang sama di setiap kebun binatang. Setiap peserta memberi sumbangan minimal £1 untuk mendaftar, yang akan disumbangkan untuk pengadaan mobil operasional bagi tim SY di Sulawesi. Uang yang disumbangkan berjumlah £1.242,40! Selamatkan Yaki ingin BERTERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA pada Jodie untuk kerjanya yang luar biasa dalam mewujudkan salah satu mimpi terbesar tim kami. Untuk informasi lebih lanjut mengenai acara ini, baca di sini. Terima kasih terbesar kepada sponsor Mohamed bin Zayed dan Save Our Spesies, atas dukungan mereka yang memungkinkan kami untuk membuat sisa biaya dari mobil,  di samping mendukung proyek Tangkoko.

Keepers at 5 different zoos in the UK (Paignton zoo, Newquay zoo, London ZSL and Dudley Zoological Gardens) joined Jodie and her fellow keepers at Drusillas Park in hosting the quiz night, which occurred on the same evening at every zoo. Each person paid £1 minimum donation to enter the quiz, which was going towards the project car for the SY team out in Sulawesi. The amount raised on the evening from all 5 collections was the amazing total of £1,242.40!  Selamatkan Yaki would like to give a big THANK YOU to Jodie for her wonderful efforts in making a dream come true for our team. For more information about this successful event read here. Huge thanks also go to our two sponsors Mohamed bin Zayed and Save Our Species, for their generous support which has enabled us to make up the remaining costs of the car in addition to supporting our Tangkoko project.

Harry dan Yunita pun mencari dengan teliti, dan dari semua mobil di Manado, kami mendapat mobil operasional yang sangat cocok! Ingin tahu kenapa kami membutuhkan mobil operasional? Baca penjelasan dari Yunita!

After a thorough search lead by Harry and Yunita among the many cars in Manado, we are happy to announce that we found a very suitable project car! Would you like to know why we need a project car? As main driver and ‘keeper’ of the car, Yunita explains how our programme benefits from this new beauty!

Caroline, Yunita, Reyni and Thirza with the project car. Like to see all of this new beauty? Scroll down now!

Caroline, Yunita, Reyni and Thirza with the project car. Like to see all of this new beauty? Scroll down now!

____________________

Program Selamatkan Yaki akhir-akhir ini sudah semakin berkembang. Jika semakin berkembang, maka tentunya semakin banyak kegiatan yang dilaksanakan, semakin bertambah orang yang terlibat langsung di dalamnya, dan tentunya juga mobilitas dalam melaksanakan kegiatan yang sudah terencana mulai sangat tinggi. Dan semuanya itu berkat kerja keras dari program manager Harry Hilser yang selama ini telah mengupayakan hubungan baik dengan kolega yang berada di luar Sulawesi Utara, khusunya lagi yang berada di luar negeri! Terima kasih untuk kerja kerasnya!

Selamatkan Yaki program has been growing fast. It means more activities are being organized, more people involved, and mobility requirements increase. It was all made possible by our hard-working program manager Harry Hilser. Thank you for the good networking that has been made with our colleagues abroad!

Semenjak bergabung dengan program Selamatkan Yaki dari tahun 2011, saya melaksanakan berupa survey-survey dan desiminasi di desa-desa. Transportasi menjadi kebutuhan yang luar biasa penting karena kami harus mengunjungi desa-desa yang jauh dari kota, bahkan di daerah yang sangat terpencil, untuk meneliti, membawakan laporan penelitian, presentasi dan itulah Selamatkan Yaki, sebagai program yang bergerak dalam penelitian, edukasi dan konservasi.

Since I joined Selamatkan Yaki in 2011, I have had to organize many activities outside of Manado such as surveys, village dissemination, and talks. Transportation became a necessity since we frequently visit remote villages as part of Selamatkan Yaki’s education, research and conservation activities.  

Pemutaran film "Yaki - Sang Penjaga Hutan". Showing the BBC film "Yaki - Sang Penjaga Hutan"

Pemutaran film “Yaki – Sang Penjaga Hutan” di Perkemahan Kreatif Remaja Gmim 2013 di Modoinding Minahasa Selatan. Showing the BBC film “Yaki – Sang Penjaga Hutan” at the GMIM Youth camp which was in Modoinding, quite far from Manado!

Edukasi merupakan bagian dari tanggung jawab saya sekarang ini sebagai Education Officer EARS (Education and Awareness Raising Strategy). Kami mempunyai banyak rencana untuk menyebarluaskan pesan pelestarian alam, terlebih khusus lagi mengenai perlindungan dan penyelamatan satwa Macaca  nigra yang terancam punah seperti yang sekarang ini sedang terjadi di Sulawesi Utara. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut maka transportasi memegang kunci untuk merangkul seluruh masyarakat terlebih lagi yang tinggal di dekat dengan habitat Macaca nigra yang tersisa.

As an Education Officer, I am responsible in raising awareness and spreading conservation messages about Macaca nigra through education. We have many plans and ideas on how to spread the message to save them from extinction for the people who live near their native habitats in North Sulawesi.  To accomplish this mission, transportation holds a key role.

DSCN1668_400x300Setelah sekian lama melakukan penyewaan kendaraan dalam melaksanakan kegiatan maka saat ini saya secara pribadi merasa sangat bersyukur karena berkat kerja keras salah satu sukarelawan kami, Jodie Dryden, kami berhasil mengumpulkan dana untuk membeli satu mobil operasional. Terima kasih!

After repeatedly renting cars whenever we had to go on trips, I am personally very grateful for the progress that has been made by our volunteer Jodie Dryden, who managed to get us the funds to buy a car to use in our activities. Thank you for the amazing work!

DSCN1683_400x300Opel Blazer merah maroon dengan tampang yang sangat wild, super cool dan keren abis, berhasil kami miliki setelah dengan susah payah mencari, menimbang dan memilih mobil yang tersedia di Manado. Secara pribadi mobil ini: “gue banget gitu loh” (kata anak2 sekarang).  Saya sangat senang sekaligus merasa tertantang untuk bisa menggunakan mobil ini sebaik mungkin untuk menunjang kegiatan kami.

After going through all available cars in Manado and some serious consideration, we finally chose a Maroon Opel Blazer.With the “wild” appearance and super cool performance, personally “it’s really me” (as young people say). I’m very happy, and also challenged to take good care of ‘her’ during our activities.

Thumbs up for our new project car! Thank you all for your donations!

Thumbs up for our new project car! Thank you all for your donations! Jempol untuk mobil proyek kita yang baru! Terima kasih banyak untuk semua sumbangan!

Akhirnya, semoga dengan kendaraan ini kami bisa menjangkau lebih banyak orang di mana saja mereka berada, peningkatan kesadaran akan lebih tinggi serta jangkauan pesan pelestarian akan lebih luas lagi.  Siap-siap kepada sekolah-sekolah yang ada di Langowan dan Tomohon, kami  dengan kendaraan kami yang bernama ‘Blaster’ akan mengunjungi anda untuk berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang pelestarian satwa yaki yang ada di daerah tercinta kita Sulawesi Utara. Bersama kita bisa, bersama kita selamatkan yaki, torang jaga yaki karna torang peduli!

DSCN1662_400x300Last but not least, with our new car we hope that we can reach many more people wherever they may be, increase awareness even more and spread conservation messages everywhere. For high schools in Langowan and Tomohon, get ready because our Selamatkan Yaki team with our Blaster (as we’ve christened the car) will visit you soon to share our knowledge of wildlife, especially yaki in North Sulawesi. Together we will save the yaki. Torang jaga yaki karna torang peduli!

Yunita at the Selamatkan Yaki information stand in Langowan!

Yunita at the Selamatkan Yaki information stand in Langowan! Yunita di stand informasi Selamatkan Yaki di Langowan!

The Selamatkan Yaki team is Growing!

Living in Indonesia, an archipelago country with lots of tribes, religions, cultures, natures, languages, and many more made me love diversity. It is amazing.  Meeting and making friends with people from outside my country,  the differences of languages, nature, places and culture, made me appreciate more the variety that has been given by mother nature. As many tourists fall in love with the beautiful land of North Sulawesi, highland and underwater, I am really proud of the heritage of nature we have.  

- Lokon Mountain, view from my parents house in Tomohon. - Gunung Lokon, pemandangan dari rumah orang tua saya di Tomohon.

– Lokon Mountain, view from my parents house in Tomohon, North Sulawesi.
– Gunung Lokon, pemandangan dari rumah orang tua saya di Tomohon, Sulawesi Utara.

Hidup di Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya akan suku, agama, kebudayaan, alam, bahasa, dan banyak hal lain membuat saya cinta akan keanekaragaman.  Sungguh luar biasa.  Bertemu dan berteman dengan orang–orang dari luar negara, serta mengagumi perbedaan alam, tempat, dan kebudayaan, membuat saya lebih menghargai semua variasi yang disediakan oleh alam ini.  Seperti layaknya wisatawan yang jatuh cinta akan tanah Sulawesi Utara yang indah, bukit maupun bawah laut, saya bangga dengan warisan alam yang kita miliki.

_MG_9075My name is Reyni Tresia Palohoen, from Tomohon – North Sulawesi. Few years ago, conservation was “new” for me or I guess for many people in general here in my hometown Tomohon, a small developing town.  As we did not have environmental education when I was at school, I was not aware of the important role the environment has in our lives. Back in 2009, I did not really get into the environmental issues until I joined some big events such as volunteering in mangrove planting supporting the World Ocean Conference and Sail Bunaken Manado, dive introduction and beach cleaning in Boulevard beach. From then on, I have been meeting amazing people who work really hard in that field and help keep  me updated with environmental issues.

Nama saya Reyni Tresia Palohoen, dari Tomohon – Sulawesi Utara.  Beberapa tahun yang lalu, konservasi merupakan hal yang baru bagi saya atau bahkan mungkin bagi banyak orang di Tomohon pada umumnya, sebuah kota kecil yang sementara berkembang.  Dimana kami tidak memiliki kelas lingkungan saat saya masih bersekolah, atau bahkan belum mencapai tahap “sadar lingkungan”.  Pada tahun 2009 saya belum terlalu paham mengenai permasalahan lingkungan sampai saya mengikuti beberapa event besar seperti menjadi sukarelawan pada penananman pohon bakau mendukung kegiatan World Ocean Conference dan Sail Bunaken Manado, dan pengenalan selam sambil bersih-bersih pantai di Boulevard.  Sejak saat itu, saya bertemu orang-orang hebat yang bekerja keras di bidang itu serta banyak terupdate dengan informasi mengenai permasalahan lingkungan

Helen Sampson gave a talk about Selamatkan Yaki conservation programme at the English Camp in Tomohon 2009. - Helen Sampson membawakan materi tentang Program Konservasi Selamatkan Yaki pada English Camp di Tomohon 2009.

– Helen Sampson talked about Selamatkan Yaki  at the English Camp in Tomohon 2009.
– Helen Sampson bicara tentang  Selamatkan Yaki pada English Camp di Tomohon 2009.

It started when I was volunteering at an English Camp in 2011, which was the day I found out about the Macaca nigra (yaki) that  is threatened with extinction.  Living about 60 km away from Tangkoko Nature Reserve, I had not seen yaki in the wild before, and did not even know at that time that the yaki is an endemic species that can only be found here in North Sulawesi.  Sad to know that eating “bushmeat”, which has been famous in the Minahasan culture for a long time, is one of the causes that led this beautiful creature to face near extinction.  I am a Minahasan, but thanks to my parents we never had “bushmeat” on our menu.

Dimulai dengan menjadi sukarelawan dalam Perkemahan Bahasa Inggris di Tomohon 2011, merupakan hari dimana saya mengetahui tentang status Macaca nigra (yaki) yang sangat terancam punah.  Bertempat tinggal sekitar 60 km dari Cagar Alam Tangkoko, saya belum pernah melihat yaki di alam liar sebelumnya, dan bahkan saat itu belum tahu bahwa mereka merupakan satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di Sulawesi Utara.  Sangat sedih mengetahui bahwa “konsumsi satwa liar” yang terkenal dilakukan orang Minahasa, merupakan salah satu penyebab makhluk hidup yang indah ini menghadapi kepunahan.  Saya asli Minahasa, tapi terima kasih kepada orang tua saya karena kami tidak pernah menyajikan “daging satwa liar” dalam menu kami.

Helping the students writing an English Letter. Membantu para siswa dalam menulis surat Bahasa Inggris.

Helping the students writing an English Letter.
Membantu para siswa dalam menulis surat Bahasa Inggris.

“Why do lots of foreign people come to Indonesia and have a passion to work in conservation?” was the big question in my mind.  When I got to know the Selamatkan Yaki programme and realised that foreign people were the driving forces behind it , it made me feel embarrassed as a local girl that not more locals were involved. I got inspired and became one of the many supporters of Selamatkan Yaki.  I was helping at few activities of the environmental class in SMP 1 Bitung with interpreting the talk and communications in the class.  Together with the students, we had a beach cleaning activity in Tasikoki.  I really enjoyed it, as I also learned about the environment and met those exciting and fun students.  Later on, I kept supporting the programme by participating with the SY team in some activities directly and through social media.

From left to right: Reyni, Thirza, Harry, Hood and June.  - Kiri ke kanan : Reyni, Thirza, Harry, Hood, June

Reyni, Thirza, Harry, Hood, and June.

“Mengapa banyak orang asing datang ke Indonesia dan bersemangat bekerja dalam konservasi?” merupakan tanda tanya besar bagi saya.  Mengetahui program ini serta orang-orang asing di belakangnya membuat saya malu sebagai orang lokal.  Bukan hanya Selamatkan Yaki, tapi bagi banyak organisasi non – pemerintah lainnya di Indonesia.  Meskipun demikian, saya pun terinspirasi dan mengajukan diri sebagai salah satu dari banyak pendukung program Selamatkan Yaki.  Saya membantu dalam beberapa kegiatan pada kelas lingkungan di SMP 1 Bitung, dengan menjadi penerjemah untuk presentasi serta komunikasi di dalam kelas.  Bersama murid-murid kami mengadakan kegiatan bersih-bersih pantai di Tasikoki.  Saya sungguh menikmati saat-saat itu, dimana saya juga ikut belajar mengenai lingkungan, serta bertemu dengan siswa-siswa yang sangat bersemangat dan menyenangkan.  Selanjutnya, saya pun terus menjadi pendukung tim SY pada beberapa aktivitas secara langsung maupun melalui media sosial.

First pic of yaki on my camera in Tangkoko National park. - Foto yaki paling pertama dari kamera saya di TWA Tangkoko.

First pic of yaki on my camera in Tangkoko Nature Reserve.

Foto yaki paling pertama dari kamera saya di Cagar Alam Tangkoko.

I am interested in photography.  Seeing yaki pictures in the wild by Andrew Walmsley, who is a wildlife photographer, made me fall in love even more with this species and really made me want to get my camera and go to Tangkoko Nature Reserve. And finally, my first trip to see them in the wild gave me such an amazing feeling.  The sense of appreciating the nature yet at the same time mixed with an upset feeling, imagining how some of these yaki are kept as pets, living in captivity, and the fact that they are facing extinction.  Yaki is one of the species that are part of our heritage of North Sulawesi. They are such beautiful creatures and have the right to have a place in this world.

Saya tertarik dengan dunia fotografi.  Melihat foto-foto yaki di alam oleh Fotografer Satwa Liar – Andrew Walmsley, membuat saya lebih jatuh cinta dengan spesies ini dan menyemangati saya untuk membawa kamera ke Cagar Alam Tangkoko. Akhirnya, perjalanan saya untuk pertama kalinya melihat mereka di alam bebas membuat saya merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Rasa akan menghargai alam ini namun bercampur rasa sedih membayangkan yaki yang dijadikan peliharaan, hidup dalam penangkaran, serta kenyataan bahwa mereka menghadapi kepunahan.  Yaki merupakan harta karun Sulawesi Utara.  Mereka sungguh makhluk hidup yang indah, yang memiliki hak yang sama dengan manusia untuk berbagi tempat di dunia.

a

This is the third month now, after I officially joined Selamatkan Yaki as the programme secretary.  Such an amazing team with lovely people.  Through our exciting activities, I have been learning a lot about the yaki and I am very motivated by the hard work of other team members and volunteers all around the world.   Looking back at our successes in 2013, I am positive that this year is going to be even more successful. For sure, by working together we can save the yaki. I am so glad to be on board, with my knowledge and passion I really hope our team can reach many more people in order to save this Critically Endangered macaque and also inspire people to share our conservation values.

Lovely place yaki house in Tangkoko National Park in Bitung, North Sulawesi. - Tempat yang indah untuk rumah yaki di Taman Nasional Tangkoko Bitung, Sulawesi Utara.

Lovely place yaki house in Tangkoko Nature Reserve in Bitung, North Sulawesi.

Tempat yang indah untuk rumah yaki di Cagar Alam Tangkoko Bitung, Sulawesi Utara.

Menjalani bulan ketiga, saya resmi bergabung sebagai Sekretaris Program Selamatkan Yaki.  Tim yang luar biasa dengan orang-orang yang luar biasa.  Melalui kegiatan-kegiatan kami yang menarik, saya telah belajar banyak mengenai yaki itu sendiri serta sangat termotivasi oleh kerja keras oleh anggota tim serta sukarelawan-sukarelawan dari berbagai negara. Melihat lagi kesuksesan kami di tahun 2013, saya sangat positif bahwa tahun ini akan lebih baik lagi. Pastinya, dengan bekerja bersama-sama kita bisa selamatkan yaki. Saya merasa sangat senang bisa bergabung, dengan pengetahuan dan semangat yang saya miliki semoga tim kami dapat menjangkau lebih banyak orang lagi dalam upaya menyelamatkan yaki dari kepunahan dan menginspirasi orang-orang dengan nilai-nilai konservasi.

~

Sukarelawan di balik Departemen Pendidikan dan Penyadartahuan!

Membawa masyarakat Selamatkan Yaki up-to-date dengan berita terbaru dari konservasi termasuk kegiatan terbaru dan keberadaan tim Selamatkan Yaki kami, berikut adalah beberapa orang yang telah bekerja secara sukarela di balik itu!

Karina di hari kelulusannya.

Karina di hari kelulusannya.

“Hallo semua, nama saya Karina. Saya baru saja lulus dari University of Glasgow dengan gelar MSci dalam Genetika. Saya memiliki dua keinginan besar dalam hidup yaitu ilmu pengetahuan dan dunia hewan untuk itu sekarang saya telah lulus dan akan senang untuk menggunakan pengetahuan, keterampilan dan rasa iba untuk membantu membuat perbedaan dalam kelangsungan hidup dan perlindungan dari Monyet Hitam Sulawesi (yaki).

Sebuah film dokumenter BBC yang ditayangkan pada TV nasional Inggris menginformasikan lebih dalam tentang kehidupan Yaki  dan status mereka yang terancam punah. Sejak saat saya terusmemperhatikan monyet-monyet yang agung ini yang langsung langsung membuat saya jatuh cinta dengan karakter jahil mereka, interaksi seperti manusia dan gaya rambut mereka yang keren! Saya merasa sangat sedih mengetahui tentang penurunan populasi yang yang dramatis disebabkan oleh manusia berburu Yaki serta merusak habitat mereka. Saya juga berkesempatan bertemu kera Barbary yang sangat nakal namun lembut di Gibraltar namun menyedihkan melihat  habitat mereka telah diambil alih oleh manusia dan mereka juga merupakan spesies primata yang terancam punah. Kemitraan baru antara Selamatkan Yaki dan Moroccan Primate Conservation foundation (Yayasan Konservasi Primata Maroko) membuat kegiatan sukarelawan untuk tim SY lebih menarik dan bermanfaat! Pekerjaan yang dilakukan oleh tim SY sangat menginspirasi dan saya benar-benar percaya akan dukungan yang tepat dan antusiasme di balik tim yang hebat bekerja di program konservasi Selamatkan Yaki, monyet elok yang terancam punah dapat diselamatkan dengan masa depan yang cerah. Saya akan menjadwalkan update pada halaman Facebook dan Twitter SY dengan artikel berita terbaru, informasi, gambar dan video dari Yaki. Saya berharap bahwa dalam waktu dekat mendatang, saya dapat mengunjungi tim di Manado, bekerja sukarela dengan  keterampilan saya di bidang sains dan memenuhi monyet jahil yang telah menemukan tempat di hati saya .”

~

Nama saya Marsya Christyanti Sibarani, “Sibarani” adalah nama keluarga Batak, salah satu suku Indonesia dari Sumatera. Namun, saya telah tinggal di kota besar, Jakarta, sejak lahir, jadi saya tidak memiliki pengalaman masa kecil berinteraksi dengan hutan dan satwa liar. Di masih kecil, saya suka menonton documenter satwa liar dokumenter di TV, dan melalui program ini saya menyadari isu-isu lingkungan. Saya memutuskan untuk belajar di Departemen Biologi, Universitas Indonesia.

423445_3165864424178_1094619427_nSaat ini, saya sedang dalam tahun ketiga program sarjana di universitas, mengambil subjek ekologi hewan sebagai fokus studi saya. Pada tahun pertama, saya memutuskan bergabung dengan kelompok studi satwa liar bernama KSHL Comata. Ini merupakan organisasi mahasiswa yang menjadi pemerhati konservasi satwa liar. Melalui kelompok studi ini, saya belajar bagaimana bekerja di lapangan, mengamati satwa liar, merancang penelitian , dan mengkomunikasikan temuan kami untuk mempengaruhi orang. Kelompok studi ini juga membawa saya ke beberapa tempat mengagumkan seperti hutan pegunungan dari Pangrango Mountain, savana kering Baluran, dan surga burung di Pulau Rambut. Tim saya kelompok studi dan saya telah menerbitkan penelitian kami tentang komunitas burung perkotaan di ATBC Asia -Pasifik Chapter Meeting 2013, Banda Aceh.

Meskipun saya menyukai hampir setiap jenis satwa tapi minat utama saya adalah primata. Saya menyelesaikan magang saya tentang populasi siamang gibbon (Symphalangus syndactylus) di Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung, Sumatera. Saya berencana untuk menyelesaikan penelitian saya untuk gelar sarjana tentang siamang gibbon juga. Jika orang bertanya kepada mengapa saya mencintai spesies ini, saya akan menjawab karena mereka bernyanyi! Pertama kali melihat spesies ini adalah ketika saya datang ke Kebun Binatang Ragunan sebagai bagian dari program bidang Keanekaragaman Hewan. Saya mengunjungi kandang gibbon dan kemudian mereka menyerukan vokalisasi yang sangat keras. Merasa bahwa itu sangat mengagumkan, saya mulai membaca karya ilmiah tentang vokalisasi gibbon. Saya menjadi lebih tertarik dan mulai mempelajari lebih lanjut tentang ekologi dan perilaku mereka.

Terima kasih banyak dari yaki yang nakal atas uluran tangan dari semua sukarelawan kami.

Terima kasih banyak dari yaki yang nakal atas uluran tangan dari semua sukarelawan kami.

Saya bergabung dengan tim media social SY karena saya ingin berkontribusi untuk konservasi primata mulai dari melakukan hal-hal kecil: berbagi pesan. Setiap hari banyak orang dari berbagai usia mengakses internet, berselancar di media sosial. Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk berbagi isu-isu tentang satwa liar dalam rangka untuk menyebarkan pesan konservasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Alasan kedua adalah karena saya tidak benar-benar up-to -date dengan berita konservasi. Dengan menjadi bagian dari tim media sosial SY, saya harus terpacu mencari informasi lebih banyak dan lebih secara sukarela sehingga saya bisa berbagi berita yang tepat untuk orang lain.

Konservasi satwa liar merupakan masalah penting. Ekologi saja tidak akan mampu melindungi mereka. Konservasi adalah kerja tim antara para ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat. Langkah pertama untuk membuat orang sadar adalah untuk membiarkan mereka tahu tentang masalah ini. Jadi, mari kita menyebarkan pesan tersebut!

Volunteers Behind our Education and Awareness Department!

Bringing the Selamatkan Yaki public up-to-date with the latest news of conservation including the latest activities and whereabouts of our Selamatkan Yaki team, here are some people that have been working voluntarily behind it!

“Hi everyone, my name is Karina. I recently graduated from the University of Glasgow with a MSci in Genetics. I have 2 passions in life; science and animals and now that I have graduated, I would love to use my knowledge, skills and compassion to help make a difference in the survival and protection of the Sulawesi crested black macaques (yaki).

Karina on her graduation day. Karina di hari kelulusannya.

Karina on her graduation day.
Karina di hari kelulusannya.

In the UK, a BBC documentary was shown on national TV which informed viewers of the intimate lives of the Yaki and their Critically Endangered status. From the moment I set eyes on these majestic monkeys I instantly fell in love with their cheeky characters, human-like interactions and their cool hairstyle! I found it very sad to learn that their dramatic population decrease has been caused by humans hunting the Yaki and destroying their habitat. I also had the chance to meet a very cheeky yet gentle Barbary macaque in Gibraltar however it was sad to see that their habitat had been mainly taken over by humans and that they too are an endangered primate species. The new partnership between Selamatkan Yaki and the Moroccan Primate Conservation foundation makes volunteering for the SY team all the more exciting and rewarding! The work carried out by the SY team is inspiring and I truly believe that with the right support and enthusiasm behind the great team working on the Selamatkan Yaki conservation programme, this beautiful yet Critically Endangered monkey can be saved with a bright future ahead. I will be scheduling updates on the SY Facebook page and Twitter with recent news articles, information, pictures and videos of the Yaki. I hope that in the near future I will be able to visit the team in Manado, volunteer my skills in science and meet the cheeky monkeys that have found a place in my heart.”

~

My name is Marsya Christyanti Sibarani, “Sibarani” is a family name of Bataknese, one of the Indonesian tribes from Sumatra. However, I have lived in a big city, Jakarta, since I was born, so I did not have childhood experience of interacting with forest and its wildlife. When I was a little child, I loved to watch wildlife documentaries on TV, through these programmes I became aware of environmental issues. So I decided to go to the Department of Biology, University of Indonesia, after I graduated from high school.423445_3165864424178_1094619427_n

Currently, I am in my third year of Undergraduate program in my university, taking the subject of animal ecology as my study focus. In my first year, I decided to join a wildlife study group named KSHL Comata. It is a kind of student organization whose concern is wildlife conservation. Through this study group, I learned how to work in the field, observe the wildlife, design a research, and communicate our findings to influence people. This study group also took me to some awesome places such as montane forest of Pangrango Mountain, dry savanna of Baluran, and paradise of birds in Pulau Rambut. My study group team and I have published our research about urban bird community at the ATBC Asia-Pacific Chapter Meeting 2013, Banda Aceh.

Although I like almost every animal, my main interest is primates. I did my internship about siamang gibbon (Symphalangus syndactylus) population in Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung, Sumatra. I am planning to conduct my research for undergraduate degree about siamang gibbon as well. If people ask me why I love this species, I will answer because they sing! The first time I noticed this species was when I came to Ragunan Zoo as a part of Animal Diversity field course. I visited the siamang cage and then it uttered its vocalisation very loudly. I found that it was awesome, so I started to read scientific papers about siamang vocalisation. I became more interested and started to learn more about their ecology and behavior.

Many thanks from our cheeky yaki for the helping hands from our volunteers.

Many thanks from our cheeky yaki for the helping hands from our volunteers.

I joined SY social media team because I want to give contribution to primate conservation starting from doing little things: share the message. Every day many people from wide range of ages access the internet, surf the social media. It will be a good opportunity to share issues about wildlife in order to spread conservation message and increase people awareness. The second reason is because I was not really up-to-date with conservation news. By being a part of SY social media, I have to make myself to search more and more information voluntarily so I can share proper news to other people.

Wildlife conservation is an important issue. Ecologists alone will not be able to protect them. Conservation is a team work between the scientists, government, and communities. The first step to make people aware is to let them know about the issue. So, let’s spread the message!

Selamatkan Yaki Team talk about Conservation Education – Tim Selamatkan Yaki mengajarkan Pendidikan Konservasi

Pada tanggal 7 Desember 2013 yang lalu, tim Selamatkan Yaki diundang oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Sulawesi Utara untuk memberikan materi Pendidikan Konservasi pada kegiatan Perkemahan Konservasi yang dilaksanakan di TWA Batu Putih.  Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Nasional tahun 2013 yang jatuh pada tanggal 29 November. Peserta perkemahan berjumlah 35 orang, terdiri dari anggota FK3I dan Gerakan Pramuka Saka Wanabakti Cabang Kota Manado yang merupakan siswa-siswa dari tingkat SMP, SMU dan SMK di Kota Manado, serta mahasiswa dari UNSRAT dan UNIMA.

Selamatkan Yaki was invited by the Communication Forum “Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda North Sulawesi” on November 7th 2013 to talk about Conservation Education at a Conservation Camp in Tangkoko Nature Reserve, Batuputih. The event was held to celebrate the National Tree Planting Day, on November 29th 2013.  There were 35 participants in total, including the members of FK3I and the Saka Wanabakti Boy Scout Manado representing junior and senior high school students in Manado, as well as students from the University in Manado (UNSRAT) and the Manado State University in Tondano (UNIMA).

Pohon Beringin Lubang,TWA Tangkoko

Pohon Beringin Lubang,TWA Tangkoko

Tim Selamatkan Yaki yang diwakili oleh Edies & Yunita, menyampaikan materi yang diawali dengan memperkenalkan program Selamatkan Yaki serta kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan di Sulawesi Utara. Dilanjutkan dengan penjelasan tentang Pendidikan Konservasi dan peran yang dapat dilakukan oleh setiap orang dalam melaksanakan dan menyebarluaskan kegiatan konservasi.

IMG_4333

The Selamatkan Yaki team was represented by Edies & Yunita and their talk started by introducing the Selamatkan Yaki programmes and our current and future activities. This was followed by an explanation of Conservation Education and the important roles that people can have in the implementation of conservation activities.

Pendidikan Konservasi atau bisa juga disebut Pendidikan Lingkungan adalah proses membangun populasi dunia yang sadar dan peduli mengenai lingkungan dan permasalahan yang terkait di dalamnya, dan memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap, motivasi dan komitmen untuk bekerja secara sendiri dan bersama menuju pemecahan masalah yang ada dan mencegah masalah lingkungan yang baru (Unesco 1978).

Conservation education or the Environmental Education is the process of building a world population that is aware and concerned about the environment and its associated problems, the knowledge, skills, attitudes, motivations and commitment to work individually and together towards solving existing problems and prevent new environmental problems (UNESCO 1978).
1543387_557253061026888_134871911_n

Selanjutnya, sesi tanya jawab terkait pendidikan konservasi maupun kegiatan dari Selamatkan Yaki yang sangat produktif. Peserta perkemahan bertanya tentang “Siapa saja yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Selamatkan Yaki dan bagaimana caranya bisa berpartisipasi?” Tim SY menyampaikan bahwa “Banyak pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan selamatkan Yaki termasuk para tokoh adat di Sulut, tokoh agama, akademisi, musisi dan masih banyak lagi yang lain. Dengan mendukung aktivitas kami, memberitahu keluarga dan kerabat tentang pentingnya yaki dalam kehidupan serta status mereka yang terancam punah serta tidak bisa dipelihara, diburu, dan diperdagangkan, karena yaki dilindungi UU Indonesia, maka anda telah berpartisipasi dengan program kami. IMG_4338

Furthermore, the discussion session related to the education and conservation activities of Selamatkan Yaki were very productive. One of the question was “Who has been participating in the Selamatkan Yaki’s activities and how to join?” SY team said that “Many people have been participating in our activities including elders, religious leaders, academics, musicians and many others in North Sulawesi. By joining and supporting our activities, by letting your family and friends know about how special the yaki is in our lives, that they are endangered, should not be kept as pet, nor hunted or traded, because they are protected by Indonesian law, then you are already participate in our programme”.

1558874_557254177693443_2070885400_nDan pada bagian akhir tak lupa pula disampaikan kepada seluruh peserta bahwa saat ini kegiatan Selamatkan Yaki mendapat dukungan dari grup band paling terkenal saat ini yaitu SLANK, serta mereka secara sukarela bersedia menjadi Duta Yaki. 

At the end of the talk, we did not forget to mention that the activities of Selamatkan Yaki has been supported by the most famous Indonesian band SLANK, who are now our Yaki ambassadors.

Salam Konservasi!

Edies & Yunita

This slideshow requires JavaScript.

Selamat Tahun Baru 2014!

Setelah tahun yang sangat luar biasa, kami ingin memberikan update tentang Education and Awareness Raising Project (EARS)! Sejak tahun lalu, proyek ini terfokus pada dua area kunci untuk konservasi yaki ; Kota Tomohon dan Langowan.  Kedua tempat ini memiliki pasar tradisional yang diketahui berfrekeunsi tinggi mengkonsumsi daging satwa yang hidup dihutan yang disebut “daging satwa liar” menurut data penelitian sebelumnya.  Juga jenis makaka, dimana Macaca nigra atau dikenal dengan sebutan local yaki, telah terlihat dijual di pasar-pasar ini.

Keingintahuan tentang dunia melalui mata yaki. Foto oleh Andrew Walmsley Fotografer Satwa liar.

Keingintahuan tentang dunia melalui mata yaki. Foto oleh Andrew Walmsley Fotografer Satwa liar.

Didahului survey menyeluruh selama dua setengah bulan, mewawancarai 781 responden di Tomohon dan Langowan, tim kami mengetahui bahwa lebih dari seperempat dari warga setempat yang diwawancari tidak mengetahui bahwa sebenarnya berburu atau memperdagangkan satwa langka Macaca nigra adalah illegal menurut hukum di Indonesia.  Selanjutnya, 89% responden yakin bahwa sebuah kampanye kebanggaan akan efektif untuk meningkatkan konservasi yaki.

Tim survey kami yang hebat! Dari kiri ke kanan Alfons, Myckel, Donny, Thirza, Keren, Yunita and Ruth!

Tim survey kami yang hebat! Dari kiri ke kanan Alfons, Myckel, Donny, Thirza, Keren, Yunita and Ruth!

Kami memutuskan untuk mengatur sebuah pertemuan, menyatukan pemimpin-pemimpin masyarakat dengan keahlian-keahlian di bidangnya; tokoh-tokoh agama dan institusi pendidikan, tokoh-tokoh masyarakat, kepala-kepala pasar, dan tokoh-tokoh kebudayaan.  Pada 23 November 2013, kami menjadi penyelenggara acara “Torang Bacirita : Konservasi Yaki” (Mari kita berdiskusi : Konservasi Yaki”) di museum partner kami Yayasan Institut Seni dan Budaya Sulawesi Utara di Tompaso.

Yunita memperkenalkan Tokoh Budaya Dr. Benny J. Mamoto SH. M.Si pada acara Torang Bacirita.

Yunita memperkenalkan Tokoh Budaya Dr. Benny J. Mamoto SH. M.Si pada acara Torang Bacirita.

Pembicara Utama Prof. Dr. Roeroe, Tokoh Agama dan Budaya,  Harry dan Thirza.

Pembicara Utama Prof. Dr. Roeroe, Tokoh Agama dan Budaya, Harry dan Thirza.

Pembicara utama membahas konservasi yaki dari sudut-sudut pandang yang berbeda : peranan penting yaki dalam kehidupan manusia, dari perspektif agama dan kebudayaan.  Pembicaraan ini diikuti dengan diskusi-diskusi kelompok, yang menuntun pada hasil-hasil yang sangat menarik yang menjadi dasar untuk kampanye kami.

Diskusi kelompok yang pertama adalah tentang cara-cara mana sajakah dalam bidang pendidikan dan penyadartahuan seluruh stakeholder dapat berkontribusi.  Sore harinya, diikuti oleh sesi kedua yang terfokus pada Kampanye Kebanggaan Yaki, membahas tentang pesan-pesan serta aktivitas-aktivitas apa saja yang cocok untuk merubah pengetahuan masyarakat, sikap dan perilaku sehubungan dengan konservasi yaki.

Peserta Torang Bacirita bersama-sama mendiskusikan pendidikan dan penyadartahuan konservasi yaki!

Peserta Torang Bacirita bersama-sama mendiskusikan pendidikan dan penyadartahuan konservasi yaki!

Pada waktu dan tempat yang sama pada acara ini, kami membuka Pameran Yaki yang paling pertama! Foto-foto yang indah dari yaki oleh Fotografer Satwa liar Andrew Walmsley juga dilengkapi dengan seni dan design Yaki dari seluruh dunia!

Diskusi yang produktif antara para peserta tentang peranan yaki diantara Kebudayaan Minahasa, dipicu oleh pameran yaki kami!

Diskusi yang produktif antara para peserta tentang peranan yaki diantara Kebudayaan Minahasa, dipicu oleh pameran yaki kami!

Berdasarkan usul-usul yang terkumpul pada acara “Torang Bacirita”, kami telah membuat perencanaan kampanye, yang melibatkan berbagai stakeholder. Tepat sebelum liburan, dua billboard diproduksi dan ditempatkan pada lokasi-lokasi strategis di Kota Tomohon dan Langowan.

Hore! Billboard pertama kami diproduksi dan di dekat jalan yang sibuk sebelum liburan, efektif meningkatkan kesadaran tentang konservasi yaki. Terima kasih Ibu Camat Syske (Bupati Tomohon Barat) untuk mendukung tujuan kita!

Hore! Billboard pertama kami diproduksi dan ditempatkan dekat jalan yang ramai sebelum liburan, efektif meningkatkan kesadaran tentang konservasi yaki. Terima kasih Ibu Camat Syske (Bupati Tomohon Barat) untuk mendukung tujuan kami!

Setiap billboard menampilkan tokoh masyarakat, dalam hal ini kepala daerah Langowan Timur dan Tomohon Barat, termasuk pesan mereka mendukung konservasi yaki. Dengan bantuan dari sponsor tambahan, billboard lainnya akan menyusul mulai dari bulan ini dan akan menyebar ke seluruh wilayah kampanye untuk menjangkau orang sebanyak mungkin. Karena hari libur, terutama Natal, dan peningkatan perdagangan daging secara sekitar waktu ini kami juga mengadakan stand informasi di pasar tradisional Tomohon dan Langowan.

Stand informasi pada 21 Desember 2013, salah satu tanggal tersibuk di pasar tradisional Tomohon.

Stand informasi pada 21 Desember 2013, salah satu tanggal tersibuk di pasar tradisional Tomohon.

Selama empat hari tersibuk di pasar, tim kami mengangkat kesadaran tentang yaki, status mereka sangat terancam punah dan cara-cara untuk membantu konservasi yaki. Banyak relawan dari beberapa Klub Pecinta Alam membantu selama menjangkau para pengunjung pasar dari muda sampai tua di antaranya: Kelompok Pecinta Alam Langowan (Kpalang) dan Arannaka & KPAB Volcano di Tomohon. Kami membagi-bagikan stiker kampanye, poster pendidikan, dan menjual buku-buku yaki kami dan kampanye T-shirt!

Keceriaan untuk semua umur pada Stand Informasi Kampanye kami.

Keceriaan untuk semua umur pada Stand Informasi Kampanye kami.

Kami juga menyediakan spanduk informasi, kegiatan untuk anak-anak di mana mereka bisa membuat masker yaki mereka sendiri, dan lebih dari 200 orang menandatangani Banner Konservasi Yaki kami untuk menunjukkan dukungan mereka! Kami sangat senang bagaimana masyarakat setempat telah menerima kegiatan pendidikan dan peningkatan kesadaran kami selama tahun 2013 yang produktif dan kami berharap untuk melanjutkan kampanye kami di tahun baru ini!

Tim Tomohon kami yang menakjubkan!

Tim Tomohon kami yang menakjubkan!

Untuk EARS 2014 kata kunci adalah : Kolaborasi, berbagi informasi dan peningkatan kapasitas! Bersama-sama kita bisa membangun dasar yang kuat untuk konservasi Macaca nigra dan spesies langka lainnya di negeri ini Indonesia indah!

Atas nama tim kami, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas minat Anda dan dukungan dari program kami! Silakan lihat blog kami di situs ini untuk penjelasan lengkap dari masing-masing kegiatan kampanye kami sejauh ini, termasuk berbagai foto lucu, menarik dan indah yang diambil oleh tim kami.

Selamat tahun baru dan semoga kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan di 2014 serta di tahun-tahun mendatang! Tim Selamatkan Yaki.

Selamat tahun baru dan semoga kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan di 2014 serta di tahun-tahun mendatang! Tim Selamatkan Yaki.

Semoga yang terbaik di 2014 untuk anda semua!

Thirza

Koordinator Pendidikan dan Advokasi Selamatkan Yaki.

This slideshow requires JavaScript.

Happy New Year!! Looking back on a great first year of EARS!

After such an amazing year, we would like to give you an update about our Education and Awareness Raising Project (EARS)! This and last year, the project focuses on two key areas for yaki conservation: the cities of Tomohon and Langowan. Both places have a traditional market where previous researchers found a high frequency of meat from animals living in the forests, the so-called “bushmeat”. Also macaque species, under which the Macaca nigra or locally known as yaki, have been seen for sale at these markets.

The wonders of the world through the eyes of a yaki. Photo by Andrew Walmsely

The wonders of the world through the eyes of a yaki. Photo by Andrew Walmsley

After an extensive survey of two and a half months, interviewing 781 respondents in Tomohon and Langowan, our team discovered that more than a quarter of the interviewed local communities are not aware that it is actually illegal according to the Indonesian law to hunt or trade the Critically Endangered Macaca nigra. Furthermore 89% of the respondents believed an awareness campaign to be effective to improve the conservation of the yaki.

IMG_2773

Our amazing survey team! From left to right: Alfons, Myckel, Donny, Thirza, Keren, Yunita and Ruth!

We decided to organise a meeting, bringing together community leaders with different expertise: heads of religious and educational institutes, the respected elders, heads of the markets and cultural leaders. On November 23rd, we hosted the event “Torang Bacirita: Konservasi Yaki” (“Let us discuss: yaki conservation”) at the Minahasa Museum of our partner the North Sulawesi Institute of Art & Culture in Tompaso.

Yunita introducing Dr. Benny J. Mamoto SH. M.Si at the Torang Bacirita event.

Yunita introducing cultural leader Dr. Benny J. Mamoto SH. M.Si at the Torang Bacirita event.

Our key speakers approached yaki conservation from different point of views: the important role of yaki in human lives, from a religious and cultural perspective. These talks were followed by two focus group discussions, which lead to very interesting results and laid the foundation for our campaign.

Key speaker Prof. Dr. Roeroe, religious and cultural leader, with Harry and Thirza at the event.

Our key speaker: religious and cultural leader Prof. Dr. Roeroe, with Harry and Thirza at the event.

The first focus group discussion was about the ways in which all stakeholders can contribute to yaki conservation through education and awareness raising. In the afternoon, this was followed by a second session focusing on the Yaki Pride Campaign, discussing which messages and activities would be most suitable to change people’s knowledge, attitudes and behaviour regarding yaki conservation. 

The participants of the Torang Bacirita event, coming together to discuss education and awareness raising for yaki conservation!

The participants of the Torang Bacirita event, coming together to discuss education and awareness raising for yaki conservation!

At the same location and day of this event, we had the opening of our very first Yaki Exhibition! The beautiful yaki photos of Wildlife Photographer Andrew Walmsley were complemented with Yaki art and designs from all around the world!

A productive discussion among participants about the role of yaki within the Minahasan culture, triggered by our Yaki exhibition!

A productive discussion among participants about the role of yaki within the Minahasan culture, triggered by our Yaki exhibition!

Based on the recommendations gathered at the “Torang Bacirita”- event, we have made a campaign planning, involving the various stakeholders.  Just before the holidays, two billboards were produced and placed on strategic locations in Tomohon and Langowan.

Hooray! Our first billboard was produced and up near a busy road before the holidays, effectively raising awareness about yaki conservation. Thank you Camat Ibu Syske supporting our cause!

Hooray! Our first billboard was produced and up near a busy road before the holidays, effectively raising awareness about yaki conservation. Thank you Camat Ibu Syske (head of district Tomohon West) for supporting our cause!

Each billboard features a community leader, in this case the heads of the districts Langowan East and Tomohon West, including their message of support of yaki conservation. With the help of additional sponsors, more billboards will follow from this month and will be spread throughout the campaign areas to reach as many people as possible.

Because of the holidays, especially Christmas, and the increase of bushmeat trade around this time we also held information stands at the traditional markets of Tomohon and Langowan.

Information stand in Tomohon on 21 December 2013, one of the busiest days at the traditional market!

Information stand in Tomohon on 21 December 2013, one of the busiest days at the traditional market!

During four of the busiest market days, our team raised awareness about the yaki, their Critically Endangered status and ways to help yaki conservation. Many volunteers of several Nature Lovers Clubs helped during these days reaching out from young to old among the market visitors: Kelompok Pecinta Alam Langowan (Kpalang) and Arannaka & KPAB Volcano in Tomohon.

We handed out campaign stickers, educational posters, and sold our yaki books and campaign T-shirts!

Fun for all ages at our Campaign Information Stand!

Fun for all ages at our Campaign Information Stand!

We also had information banners, activities for children during which they could make their very own yaki mask and more than 200 people signed our Yaki Conservation Banner to show their support!

We are very happy how the local communities have received our education and awareness raising activities during a productive 2013 and we are looking forward to continue our campaign in this brand-new year! 

Our wonderful Tomohon team!

Our wonderful Tomohon team!

For our EARS 2014 our key words will be: Collaboration, Information sharing and Capacity building! Together we can build a solid foundation for the conservation of Macaca nigra and other endangered species in this beautiful country Indonesia!

On behalf of our team, I would like to say many thanks for your interest and support of our programme! Please see our blog on this site for an extensive description of each of our campaign events so far, including a wide range of funny, interesting and beautiful photos taken by our team.

Happy New Year and we wish you lots of happiness, success, and good health for 2014 and the years to come! The Selamatkan Yaki team

Happy New Year and we wish you lots of happiness, success, and good health for 2014 and the years to come! The Selamatkan Yaki team

 Wishing you all the best for 2014!

Thirza

Education and Advocacy Coordinator with Selamatkan Yaki

This slideshow requires JavaScript.