The Selamatkan Yaki team is Growing!

Living in Indonesia, an archipelago country with lots of tribes, religions, cultures, natures, languages, and many more made me love diversity. It is amazing.  Meeting and making friends with people from outside my country,  the differences of languages, nature, places and culture, made me appreciate more the variety that has been given by mother nature. As many tourists fall in love with the beautiful land of North Sulawesi, highland and underwater, I am really proud of the heritage of nature we have.  

- Lokon Mountain, view from my parents house in Tomohon. - Gunung Lokon, pemandangan dari rumah orang tua saya di Tomohon.

– Lokon Mountain, view from my parents house in Tomohon, North Sulawesi.
– Gunung Lokon, pemandangan dari rumah orang tua saya di Tomohon, Sulawesi Utara.

Hidup di Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya akan suku, agama, kebudayaan, alam, bahasa, dan banyak hal lain membuat saya cinta akan keanekaragaman.  Sungguh luar biasa.  Bertemu dan berteman dengan orang–orang dari luar negara, serta mengagumi perbedaan alam, tempat, dan kebudayaan, membuat saya lebih menghargai semua variasi yang disediakan oleh alam ini.  Seperti layaknya wisatawan yang jatuh cinta akan tanah Sulawesi Utara yang indah, bukit maupun bawah laut, saya bangga dengan warisan alam yang kita miliki.

_MG_9075My name is Reyni Tresia Palohoen, from Tomohon – North Sulawesi. Few years ago, conservation was “new” for me or I guess for many people in general here in my hometown Tomohon, a small developing town.  As we did not have environmental education when I was at school, I was not aware of the important role the environment has in our lives. Back in 2009, I did not really get into the environmental issues until I joined some big events such as volunteering in mangrove planting supporting the World Ocean Conference and Sail Bunaken Manado, dive introduction and beach cleaning in Boulevard beach. From then on, I have been meeting amazing people who work really hard in that field and help keep  me updated with environmental issues.

Nama saya Reyni Tresia Palohoen, dari Tomohon – Sulawesi Utara.  Beberapa tahun yang lalu, konservasi merupakan hal yang baru bagi saya atau bahkan mungkin bagi banyak orang di Tomohon pada umumnya, sebuah kota kecil yang sementara berkembang.  Dimana kami tidak memiliki kelas lingkungan saat saya masih bersekolah, atau bahkan belum mencapai tahap “sadar lingkungan”.  Pada tahun 2009 saya belum terlalu paham mengenai permasalahan lingkungan sampai saya mengikuti beberapa event besar seperti menjadi sukarelawan pada penananman pohon bakau mendukung kegiatan World Ocean Conference dan Sail Bunaken Manado, dan pengenalan selam sambil bersih-bersih pantai di Boulevard.  Sejak saat itu, saya bertemu orang-orang hebat yang bekerja keras di bidang itu serta banyak terupdate dengan informasi mengenai permasalahan lingkungan

Helen Sampson gave a talk about Selamatkan Yaki conservation programme at the English Camp in Tomohon 2009. - Helen Sampson membawakan materi tentang Program Konservasi Selamatkan Yaki pada English Camp di Tomohon 2009.

– Helen Sampson talked about Selamatkan Yaki  at the English Camp in Tomohon 2009.
– Helen Sampson bicara tentang  Selamatkan Yaki pada English Camp di Tomohon 2009.

It started when I was volunteering at an English Camp in 2011, which was the day I found out about the Macaca nigra (yaki) that  is threatened with extinction.  Living about 60 km away from Tangkoko Nature Reserve, I had not seen yaki in the wild before, and did not even know at that time that the yaki is an endemic species that can only be found here in North Sulawesi.  Sad to know that eating “bushmeat”, which has been famous in the Minahasan culture for a long time, is one of the causes that led this beautiful creature to face near extinction.  I am a Minahasan, but thanks to my parents we never had “bushmeat” on our menu.

Dimulai dengan menjadi sukarelawan dalam Perkemahan Bahasa Inggris di Tomohon 2011, merupakan hari dimana saya mengetahui tentang status Macaca nigra (yaki) yang sangat terancam punah.  Bertempat tinggal sekitar 60 km dari Cagar Alam Tangkoko, saya belum pernah melihat yaki di alam liar sebelumnya, dan bahkan saat itu belum tahu bahwa mereka merupakan satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di Sulawesi Utara.  Sangat sedih mengetahui bahwa “konsumsi satwa liar” yang terkenal dilakukan orang Minahasa, merupakan salah satu penyebab makhluk hidup yang indah ini menghadapi kepunahan.  Saya asli Minahasa, tapi terima kasih kepada orang tua saya karena kami tidak pernah menyajikan “daging satwa liar” dalam menu kami.

Helping the students writing an English Letter. Membantu para siswa dalam menulis surat Bahasa Inggris.

Helping the students writing an English Letter.
Membantu para siswa dalam menulis surat Bahasa Inggris.

“Why do lots of foreign people come to Indonesia and have a passion to work in conservation?” was the big question in my mind.  When I got to know the Selamatkan Yaki programme and realised that foreign people were the driving forces behind it , it made me feel embarrassed as a local girl that not more locals were involved. I got inspired and became one of the many supporters of Selamatkan Yaki.  I was helping at few activities of the environmental class in SMP 1 Bitung with interpreting the talk and communications in the class.  Together with the students, we had a beach cleaning activity in Tasikoki.  I really enjoyed it, as I also learned about the environment and met those exciting and fun students.  Later on, I kept supporting the programme by participating with the SY team in some activities directly and through social media.

From left to right: Reyni, Thirza, Harry, Hood and June.  - Kiri ke kanan : Reyni, Thirza, Harry, Hood, June

Reyni, Thirza, Harry, Hood, and June.

“Mengapa banyak orang asing datang ke Indonesia dan bersemangat bekerja dalam konservasi?” merupakan tanda tanya besar bagi saya.  Mengetahui program ini serta orang-orang asing di belakangnya membuat saya malu sebagai orang lokal.  Bukan hanya Selamatkan Yaki, tapi bagi banyak organisasi non – pemerintah lainnya di Indonesia.  Meskipun demikian, saya pun terinspirasi dan mengajukan diri sebagai salah satu dari banyak pendukung program Selamatkan Yaki.  Saya membantu dalam beberapa kegiatan pada kelas lingkungan di SMP 1 Bitung, dengan menjadi penerjemah untuk presentasi serta komunikasi di dalam kelas.  Bersama murid-murid kami mengadakan kegiatan bersih-bersih pantai di Tasikoki.  Saya sungguh menikmati saat-saat itu, dimana saya juga ikut belajar mengenai lingkungan, serta bertemu dengan siswa-siswa yang sangat bersemangat dan menyenangkan.  Selanjutnya, saya pun terus menjadi pendukung tim SY pada beberapa aktivitas secara langsung maupun melalui media sosial.

First pic of yaki on my camera in Tangkoko National park. - Foto yaki paling pertama dari kamera saya di TWA Tangkoko.

First pic of yaki on my camera in Tangkoko Nature Reserve.

Foto yaki paling pertama dari kamera saya di Cagar Alam Tangkoko.

I am interested in photography.  Seeing yaki pictures in the wild by Andrew Walmsley, who is a wildlife photographer, made me fall in love even more with this species and really made me want to get my camera and go to Tangkoko Nature Reserve. And finally, my first trip to see them in the wild gave me such an amazing feeling.  The sense of appreciating the nature yet at the same time mixed with an upset feeling, imagining how some of these yaki are kept as pets, living in captivity, and the fact that they are facing extinction.  Yaki is one of the species that are part of our heritage of North Sulawesi. They are such beautiful creatures and have the right to have a place in this world.

Saya tertarik dengan dunia fotografi.  Melihat foto-foto yaki di alam oleh Fotografer Satwa Liar – Andrew Walmsley, membuat saya lebih jatuh cinta dengan spesies ini dan menyemangati saya untuk membawa kamera ke Cagar Alam Tangkoko. Akhirnya, perjalanan saya untuk pertama kalinya melihat mereka di alam bebas membuat saya merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Rasa akan menghargai alam ini namun bercampur rasa sedih membayangkan yaki yang dijadikan peliharaan, hidup dalam penangkaran, serta kenyataan bahwa mereka menghadapi kepunahan.  Yaki merupakan harta karun Sulawesi Utara.  Mereka sungguh makhluk hidup yang indah, yang memiliki hak yang sama dengan manusia untuk berbagi tempat di dunia.

a

This is the third month now, after I officially joined Selamatkan Yaki as the programme secretary.  Such an amazing team with lovely people.  Through our exciting activities, I have been learning a lot about the yaki and I am very motivated by the hard work of other team members and volunteers all around the world.   Looking back at our successes in 2013, I am positive that this year is going to be even more successful. For sure, by working together we can save the yaki. I am so glad to be on board, with my knowledge and passion I really hope our team can reach many more people in order to save this Critically Endangered macaque and also inspire people to share our conservation values.

Lovely place yaki house in Tangkoko National Park in Bitung, North Sulawesi. - Tempat yang indah untuk rumah yaki di Taman Nasional Tangkoko Bitung, Sulawesi Utara.

Lovely place yaki house in Tangkoko Nature Reserve in Bitung, North Sulawesi.

Tempat yang indah untuk rumah yaki di Cagar Alam Tangkoko Bitung, Sulawesi Utara.

Menjalani bulan ketiga, saya resmi bergabung sebagai Sekretaris Program Selamatkan Yaki.  Tim yang luar biasa dengan orang-orang yang luar biasa.  Melalui kegiatan-kegiatan kami yang menarik, saya telah belajar banyak mengenai yaki itu sendiri serta sangat termotivasi oleh kerja keras oleh anggota tim serta sukarelawan-sukarelawan dari berbagai negara. Melihat lagi kesuksesan kami di tahun 2013, saya sangat positif bahwa tahun ini akan lebih baik lagi. Pastinya, dengan bekerja bersama-sama kita bisa selamatkan yaki. Saya merasa sangat senang bisa bergabung, dengan pengetahuan dan semangat yang saya miliki semoga tim kami dapat menjangkau lebih banyak orang lagi dalam upaya menyelamatkan yaki dari kepunahan dan menginspirasi orang-orang dengan nilai-nilai konservasi.

~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s