Selamatkan Yaki celebrates Valentine’s Day 2014!

Valentine, atau yang kita kenal sebagai hari kasih sayang.  Sebagian orang merayakannya dengan bertukar hadiah dengan pacar, membagikan bunga, membuat kartu ucapan yang special, atau makan malam romantis.  Bagaimana dengan tim Selamatkan Yaki?

Valentine, the day of love.  Some people celebrate it with a gift exchange with their partner, give flowers, make a special valentine’s card, or even a romantic dinner.  What about the Selamatkan Yaki team?

Berbagi pesan tentang konservasi yaki di hari kasih sayang merupakan hal tersendiri untuk tim Selamatkan Yaki. Siapa menyangka, dari sebuah rencana awal untuk menyebarkan film pendek berdurasi 15 menit berjudul Yaki Sang Penjaga Hutan melalui saluran tv-tv lokal, berubah menjadi sebuah wawancara di Radio dan Stasiun TV lokal di Manado. Lebih dari

DSC_0158

Persiapan sebelum talk show dengan pihak Kompas TV-Pasific TV dan Radio Suara Manado. Preparing the talk show with Kompas TV-Pasific TV and Radio Suara Manado Radio.

bagus ya?! Tanggal 14 Februari 2014 yang lalu, Tim Selamatkan Yaki yang diwakili oleh Thirza dan Reyni berbincang-bincang tentang yaki di Radio lokal Suara Manado, serta menyebarkan pesan konservasi yaki lewat Live Talk Show “I Love Manado” di stasiun Pasific TV.

To share words about yaki conservation on Valentine’s Day was a special time for the Selamatkan Yaki team.  A plan to broadcast the 15 minutes movie produced by BBC “Yaki Sang Penjaga Hutan” (Yaki protectors of the forests) through the local TV stations, turned into attending talks on Radio and TV stations in Manado.  So cool! On February 14th 2014, our team represented by Thirza and Reyni talked about yaki on the Radio Station 91.8 FM Suara Manado, then spread the words about yaki conservation through a live talk show “I Love Manado” in Kompas TV-Pasific TV Manado.

Hari itu terasa istimewa dikarenakan bertepatan dengan hari kasih sayang.  Kami mengusung tema “Spread love by spreading the words!”  Perbincangan di radio berdurasi kurang lebih satu jam dipandu oleh Anthony, kami berbincang mengenai hal-hal yang perlu diketahui tentang yaki.  Di Indonesia, kami punya pepatah yang mengatakan “tidak dikenal, tidak disayang” oleh karena itu, kami menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan yaki kepada para pendengar. Di sela-sela perbincangan, Anthony juga memutar jingle dari SLANK yang berisi pesan tentang yaki, serta rekaman imut yang khusus dari pendukung kami Zefanya.  Durasi satu jam berlalu dengan cepat dan sepertinya, pendengar kami masih penasaran dan belum mau mengakhiri perbincangan

DSC_0171a

Thirza and Reyni talk about Things You Should Know about Yaki in Suara Manado Radio, guided by Anthony. Thirza dan Reyni berbincang tentang Hal-hal yang harus kamu ketahui tentang yaki bersama Anthony.

tentang yaki!  Tenang saja, suara-suara ini selanjutnya akan berubah wujud menjadi dua wanita yang masih akan menyebarkan pesan tentang yaki ini lewat siaran langsung di stasiun tv di gedung sebelah. Jadi, tetap ikuti kami!

It felt so special because it coincided with Valentine’s Day.  Our theme of the day was “Spread love by spreading the words!”. The talk on the radio was hosted by Anthony, we were chatting about things that you should know about yaki.  In Indonesia, we have this proverb “what is unknown, is unloved”…so that is why we seized this great opportunity to introduce yaki to the listeners.  During the talk, Anthony also played the jingle from SLANK and also the recording of our yaki educational video with the cute voice of our young supporter Zefanya.  One hour flew by really quickly and it seemed like our listeners were still curious and wanted more.  But don’t worry, because these voices were about to transform into two lovely ladies that are still spreading love about yaki through a live talk show from the TV station next door. So, follow us!

DSC_0190Jeda waktu yang tidak terlalu lama, membuat kami harus setengah berlari dari gedung radio ke gedung stasiun tv. Sangat mendebarkan!  Kami tidak sabar untuk melanjutkan topik hangat pagi ini, masih seputar dengan hati, warna merah, sesuai dengan tema hari ini yaitu valentine yaitu yaki panta merah. SEMPURNA!  Diawali dengan pemutaran perdana film yang diproduksi oleh BBC London yang berjudul “Yaki Sang Penjaga Hutan”.  Perasaan bahagia dan sedikit terharu saat melihat orang-orang di studio menyaksikan film tersebut, kamipun berpikir tentang berapa banyak orang yang sudah kami capai hari itu dalam menyebarkan pesan yang penting tentang yaki.  Selanjutnya, bersama pembawa acara “I Love Manado” saat itu, Diane Angie Kuntag, kami pun berbincang mengenai pentingnya konservasi yaki serta bagaimana cara berkontribusi di dalamnya. Dan tentu saja setelah menjelaskan tentang program Selamatkan Yaki, tak lupa kami mengucapkan terima kasih atas seluruh kerja keras serta dukungan dari pihak-pihak yang terlibat; anggota tim, sponsor, partner, para sukarelawan serta pendukung kami lewat media sosial.

DSC_0211a

Pemutaran perdana di stasiun TV lokal di Manado, film Yaki Sang Penjaga Hutan yang diproduksi oleh BBC. Showing the movie Yaki The Guardian of The Forest produced by BBC, for the first time broadcast to local TV station in Manado.

The short gap between the shows meant we had to rush straight off to the TV station next door!  Wow… we were buzzing! We were still on fire to talk about the hot topic of the day, surrounded by heart, red colour, and matching with Valentine’s Day, that is yaki with the red heart shaped bottom.  PERFECT!  Started by showing the BBC movie “Yaki Sang Penjaga Hutan” for the very first time broadcasted through TV station, the mix feelings of happiness and also compassion by seeing the reactions of few people watching it in the studio, we were thinking of how many people we have reached this special day in spreading the important message about yaki.  Followed by the live talk show hosted by Diane Angie Kuntag, we chatted about the importance of yaki conservation and how to contribute to this cause. And of course we explained about Selamatkan Yaki, and didn’t forget to thank the hard work and support from all people behind it; team members, sponsors, partners, volunteers and supporters through social media channels.

Kami senang sekali! Sungguh pengalaman yang luar biasa.  Daerah jangkauan stasiun ini meliputi kota manado serta sebagian Minahasa Utara.  Kami berharap akan semakin banyak orang yang bisa berpartisipasi dalam konservasi yaki setelah pemutaran film tersebut. Dan semoga kerja keras kita semua bisa menginspirasi banyak orang.  Terima kasih banyak kepada Pak Saffri Sitepu selaku station manager di Kompas TV-Pasific TV

DSC_0198

Terima Kasih Kru acara “I Love Manado”, Kompas TV-Pasific TV Manado. Many thanks to the crew of “I Love Manado” show, Kompas TV-Pasific TV Manado.

Manado atas kesempatan tersebut.  Dan juga kepada seluruh crew Kompas TV-Pasific TV Manado dan Radio Suara Manado atas sambutan yang hangat.

We are so happy! It was such an amazing experience.  Kompas TV-Pasific TV channels are broadcasted in the whole of Manado city, and some areas in North Minahasa.  We hope that many more people would love to join the yaki conservation after watching the movie, listening to our team on the radio and TV. We hope that our hard work will inspire them to become part of saving this Critically Endangered primate which only lives in North Sulawesi! Special thanks to Saffri Sitepu, the Station Manager of Kompas TV-Pasific TV Manado, for this amazing chance, as well for the warm welcome for all the crew members at Kompas TV-Pasific TV Manado and Suara Manado Radio Station.

DSC_0211

(Diane, Thirza, Reyni) Talk about Yaki Konservation. Berbicara tentang konservasi yaki.

Selamatkan Yaki at the ABWAK Symposium!

Hi! It’s Jodie here! Hai! Ini Jodie!

Jodie - ABWAK Symposium (3)On March 1st 2014 I attended the annual ABWAK symposium held at Chester Zoo in the UK. ABWAK (Association of British and Irish Wild Animal Keepers) is a non-profit membership organisation for those interested and involved in the keeping of wild animals in the UK and Ireland. Their vision is to achieve and advance the highest standards of excellence in wild animal care.

Pada tanggal 1 Maret 2014 saya menghadiri symposium ABWAK tahunan yang diadakan di Kebun Binatang Chester di Inggris. ABWAK (Association of British and Irish Wild Animal Keepers – Ikatan Penjaga Satwa Liar di Inggris dan Irlandia) adalah organisasi nirlaba bagi mereka yang tertarik dan terlibat dengan pemeliharaan dan perawatan satwa liar di Inggris dan Irlandia. Visi mereka adalah mencapai dan meningkatkan standard terbaik bagi penjagaan satwa liar.

Jodie - ABWAK Symposium (1)The ABWAK symposium provides an excellent opportunity to share and network with colleagues and further advance knowledge and understanding. The symposium runs over two days, with presentations given by individuals from every level of animal keeping and with various backgrounds. I used this as a perfect opportunity to promote Selamatkan Yaki and yaki conservation to like-minded people and colleagues.

Simposium ABWAK merupakan kesempatan yang sangat baik untuk berbagi dan membangun jaringan dengan rekan-rekan sekerja dan meningkatkan ilmu dan pemahaman kita. Simposium ini dilaksanakan selama dua hari, dengan berbagai presentasi dari rekan-rekan dari setiap level  penjaga satwa liar dan dengan latar yang berbeda-beda. Saya memanfaatkan kesempatan untuk mempromosikan Selamatkan Yaki dan konservasi yaki pada teman-teman dan rekan-rekan yang berpikiran serupa dengan saya. 

Jodie - ABWAK Symposium (7)

Our charming merchandise and info stand! | Stand souvenir dan info kami yang menawan!

The symposium was hosted at Chester Zoo (UK) and it was attended by 170 delegates with different backgrounds in the animal world. Next to the presentation, I also had a stand with merchandise and leaflets to spread the word about our plight to protect the yaki. The event was a great way for everyone to get acquainted with the work of Selamatkan Yaki and to explain about the need to save this remarkable species and its environment.

Simposium diadakan di Kebun Binatang Chester (Inggris) dan dihadiri 170 delegasi dengan latar belakang yang berbeda-beda di dunia satwa. Di samping area presentasi, saya mendirikan stand dengan barang-barang dagangan dan brosur untuk menyebarkan kabar mengenai usaha kami melindungi yaki. Acara ini merupakan tempat yang sangat baik bagi masyarakat untuk mengenalprogram Selamatkan Yaki dan untuk menjelaskan betapa pentingnya kita menyelamatkan spesies yang luar biasa ini serta lingkungan hidupnya. 

 

Some of the merchandise available for sale. | Beberapa souvenir yang dijual.

Some of the merchandise available for sale. | Beberapa souvenir yang dijual.

I feel the presentation has been very beneficial for the Selamatkan Yaki programme as many delegates now have a better understanding of the species and the work being done to save them. I returned from the symposium knowing that a few more people have fallen in love with the yaki, and I encouraged them to help conserve them!

Saya merasa presentasi ini sangat bermanfaat bagi program Selamatkan Yaki karena kini para delegasi yang menghadiri symposium lebih paham mengenai spesies ini dan usaha-usaha yang dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Ketika pulang dari symposium, saya yakin beberapa orang telah jatuh cinta dengan yaki, dan saya mendorong mereka untuk turut membantu melindungi yaki!

This slideshow requires JavaScript.

SY Meningkatkan Kapasitas Pemandu di Tangkoko dan sekitar!

Tingginya tingkat kunjungan wisata ke Taman Wisata Alam Batuputih – Bitung harus dibarengi dengan ketersediaan pemandu yang memadai. Disamping banyaknya jumlah personil, yang tak kalah penting adalah dibutuhkannya kualitas pemandu yang dapat menjawab segala keingintahuan para wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata yang sudah sangat terkenal tersebut.

The higher level every year of many tourists visiting Batuputih Nature Park – Bitung is need to be balanced with the number of the guide.  Besides, the most important is the quality of the individual that can provide the sense of knowing of the tourists.

DSCN2268Salah satu proyek inti dari Selamatkan Yaki yaitu Program Peremajaan Tangkoko yang bertujuan meningkatkan perlindungan Tangkoko yang dipertimbangkan sebagai benteng pertahanan terakhir untuk yaki. Dengan harapan jangka panjang program ini adalah mengembangkan jangkauan secara luas dalam peningkatkan pengelolaan tingkat kelembagaan dan sistemik. Selamatkan Yaki telah membentuk kolaborasi bersama pihak-pihak terkait area ini.  Melalui penyusunan rencana; mengevaluasi kegiatan perlindungan saat ini, bekerja secara langsung dengan patroli menyediakan peralatan dan teknik, IMG_0380memfasilitasi dialog lokal dan regional, pemantauan kegiatan ilegal dan mengembangkan ekowisata, semuanya dimaksudkan agar pengelolaan kawasan lindung ini bisa dibawa ke standar yang lebih tinggi.

One of the core project in Selamatkan Yaki is Tangkoko Rejuvenation Programme which aims to improve protection of Tangkoko, considered the last stronghold for the macaques. Our long-term aims are to develop working models to incorporate larger-landscape level catchments, and enhance institutional and systemic level management. We have established a collaborative alliance representing key stakeholders in the area. By strategically evaluating current protection activities, working directly with patrols providing equipment and techniques, facilitating local and regional dialogue, monitoring illegal activities and developing ecotourism, it is proposed that management of this protected area can be brought to a higher standard.

Dan untuk menjawab kebutuhan pariwisata di atas, maka pada tanggal 20 – 22 November 2013 Program Selamatkan Yaki melaksanakan “Pelatihan Penyegaran Ekowisata” yang ditujukan kepada para pemandu wisata yang ada di seputaran kawasan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara yang wilayahnya menyatu dengan TWA Batuputih. Pelatihan ini terbuka untuk umum namun pada saat itu baru diikuti oleh 33 pemandu wisata yang berasal dari kelurahan  Batuputih Atas, Batuputih Bawah, Danowudu, Pinangunian, Kasawari dan dua orang peserta dari dari desa Lalumpe kecamatan Kombi Kabupaten Minahasa serta perwakilan dari HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bitung.IMG_0387

And to answer the tourism need for the guide, Selamatkan Yaki organized “Pelatihan Penyegaran Ekowisata” for the guide around Tangkoko Duasudara Nature Reserve at 20-22 November 2013. This training is open to the public, but at that time only 33 participants from the village Batuputih Atas, Batuputih Bawah, Danowudu, Pinangunian, Kasawari and two participants from Lalumpe, Kombi Minahasa and representatives of HPI (Indonesian Guides Association) Bitung.

Pelatihan ekowisata ini dilaksanakan di dua tempat terpisah yaitu pemberian materi di aula Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan praktek lapangan dilaksanakan langsung di TWA Batuputih. Untuk menjamin kualitas materi yang disampaikan maka tim Selamatkan Yaki mendatangkan pelatih dari Yapeka (Yayasan Pembelajaran Konservasi) Bogor untuk mengajarkan Ekowisata dan Teknik Pemanduan, sedangkan materi terkait Keanekaragaman Hayati dan potensinya bagi pariwisata oleh WCS (Wildlife Conservation Society) Sulawesi dan Celebio (Celebes Biodiversity). Yapeka telah berpengalaman dalam mengembangkan IMG_2755ekowisata di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. WCS merupakan lembaga konservasi International yang telah melakukan kegiatan konservasi keanekaragaman hayati selama lebih dari 15 tahun di Sulawesi. Sedangkan Celebio merupakan lembaga konservasi lokal dengan personil yang memiliki kemampuan pengelolaan keanekaragaman hayati dan teknik memfasilitasi pelatihan yang tidak perlu diragukan lagi.

This ecotourism training held in two separated place which were presentations at Tasikoki Rescue Center and field practice in TWA Batuputih.  To ensure the quality of the material submitted, Selamatkan Yaki invited a trainer from Yapeka (Conservation Education Foundation) Bogor to teach Ecotourism and scouting techniques, while the related material on Biological Diversity and its potential for tourism by the WCS (Wildlife Conservation Society) and Celebio Sulawesi (Celebes Biodiversity). Yapeka has experience in developing ecotourism in Java, Sumatra and Borneo. WCS is an International conservation organizations that had engaged in biodiversity conservation for more than 15 years in Sulawesi. While Celebio, a local conservation society with the knowledge of biodiversity management and facilitate technical training that do not have to be doubted.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta dibekali dengan pemahaman dan pengelolaan IMG_2758ekowisata, serta strategi dalam melaksanakan pemanduan. Selanjutnya disampaikan materi tentang keanekaragaman hayati Sulawesi dengan keunikannya yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata, dan yang lebih menguntungkan lagi adalah sebagian besar potensi tersebut bisa dijumpai di TWA Batuputih. Bagian yang paling penting yaitu pada pelaksanaan praktek lapangan, seluruh peserta mendapat kesempatan untuk mempraktekkan teknik memandu seperti yang telah diajarkan di kelas ditambah kemampuan improvisasi dari masing-masing peserta.

During the three days of the training, all participants were even with the understanding and management of ecotourism, as well as guidance in implementing strategies. Furthermore, the material presented on the unique biodiversity of Sulawesi that has the potential to be developed as tourist attractions, and more profitable is that most of the potential can be found in TWA Batuputih. The most important part is the implementation of the practice field, all participants have the opportunity to practice techniques such guide that has been taught in the class plus the ability to improvise from each participant.IMG_2870

Saat praktek lapangan, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat paket wisata kemudian menjual/menjelaskan paket yang telah dibuat kepada kelompok yang lain. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi ataupun bertanya terkait paket yang telah dijelaskan. Pembuatan paket ini dilaksanakan diruang kelas yang terdapat di Manggala Agni yang terletak pada lokasi sebelum pos 1 CA. Tangkoko-Duasudara. Setelah makan siang, praktek lapangan dimulai dari pos satu hingga IMG_0424mencapai pos 2 yang melalui jalan utama TWA Batuputih. Pada sesi ini peserta sangat antusias dalam mempraktekan kemampuan memandu yang dimiliki serta memperkenalkan potensi wisata yang ada di desanya masing-masing.

At the field practice, participants were split into three groups and worked on a task to make a tourist package then sell it to the other group.  The other groups were given a chance to give feedback or questions about the package.  This activity was in Manggala Agni building located before the first post Tangkoko-Duasudara Nature Reserves.  After lunch, the field practice started from first post to the second post through the main road of TWA Batuputih.  On this activity, all participants were enthusiastic in practicing the guiding technique by promoting the tourism potential in each village.

Untuk mengukur efektifitas pelatihan ini, kami melakukan evaluasi yang dilaksanakan pada awal dan akhir dari pelatihan. Evaluasi di awal dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman peserta tentang ekowisata dan keanekaragaman hayati yang akan diajarkan, selanjutnya evaluasi akhir untuk mengetahui tingkat penyerapan materi oleh para peserta.

Grafik jumlah peserta yang menjawab dengan benar tentang spesies Macaca yang terdapat di pulau Sulawesi saat evaluasi pada awal dan akhir pelatihan. Chart of the number of participants who answered correctly on the question about Macaque species on the Sulawesi island by pre and post – test.

Grafik jumlah peserta yang menjawab dengan benar tentang spesies Macaca yang terdapat di pulau Sulawesi saat evaluasi pada awal dan akhir pelatihan. Chart of the number of participants who answered correctly on the question about Macaque species on the Sulawesi island by pre and post – test.

To measure the electivity of this training, we did evaluation before-after the activities. The initial evaluation is intended to determine how much the understanding of each participants about ecotourism and biodiversity that will be taught, then the final evaluation to determine the level of absorption of the material by the participants.

IMG_0387Pelatihan ini merupakan yang pertama kalinya diadakan oleh Selamatkan Yaki, semenjak program peremajaan Tangkoko dimulai pada awal tahun 2012.  Namun, kami akan mengupayakan pelatihan ini diadakan setiap tahunnya untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas dari pemandu.

This is the first training that organized by Selamatkan Yaki, since we run the Tangkoko Rejuvenation Program at the end of 2012.  Though, we are going to pursue this training to be held every week to increase the capacity and quality of the guide.

Our 11th high school talk, now in Tomohon!

We’re halfway through our high school talks, and the response from the students and teachers have been really positive and encouraging! Read what Caroline has to say about the talk at SMA Negeri 1 Tomohon!

Sosialisasi di SMA-SMA sudah setengah jalan, dan respon dari para siswa dan guru sangat positif dan mendukung! Mari baca pendapat Caroline mengenai sosialisasi di SMA Negeri 1 Tomohon!

DSC_0483My day started much earlier than usual. Today, Yunita and I were heading up to Tomohon for another exciting round of high school talks, and we had to hit the road by 8 AM if we wanted to reach the schools on time. Usually we need no more than 45 minutes to reach Tomohon, through the winding but reasonably comfortable main road that connects Manado and Tomohon. However, in light of recent events, that road has been shut down for an unknown period of time, and we had to take an alternative road through the little villages nestled between the hills and forests of Minahasa and Tomohon. The road was narrow and wound even tighter than the (now unpassable) main road, was rather uneven and dipped in and out of valleys between the villages. It requires at least an hour to reach Tomohon via this road.

Thirza, introducing herself and explaining about the education program. | Thirza memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit mengenai program pendidikan kami.

Thirza, introducing herself and explaining about the education program. | Thirza memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit mengenai program pendidikan kami.

Kegiatan hari ini mulai lebih pagi dari biasanya. Hari ini, saya dan Yunita akan pergi ke Tomohon untuk sesi-sesi sosialisasi yang seru, dan kami harus berangkat pukul 8 pagi jika ingin tiba di sekolah tepat waktu. Biasanya perjalanan ke Tomohon menghabiskan waktu paling lama 45 menit, melalui jalan yang berkelok-kelok namun cukup nyaman. Akan tetapi, karena bencana yang terjadi belum lama ini, jalan ini ditutup untuk waktu yang belum ditentukan, dan kami harus mengikuti jalan alternatif yang melalui desa-desa kecil di antara pegunungan dan hutan-hutan Tomohon dan Minahasa. Jalan ini sempit dan lebih berkelok-kelok daripada jalan utama (yang kini tidak bisa dilalui), agak berlubang dan naik turun melintasi lembah dan gunung di antara desa-desa. Perlu waktu minimal 1 jam untuk mencapai Tomohon melalui jalan ini.

Today’s trip was slightly different – we have a couple of guests visiting! Aside from Yunita and me, we were joined by Thirza and Mark and Anna, two of our friends from Great Britain. They’re going to be in Manado for a fortnight and they came along today to visit the schools!

Perjalanan hari ini agak berbeda – ada beberapa tamu yang berkunjung! Selain saya dan Yunita, Thirza turut bergabung dengan kami, juga Mark dan Anna, dua orang teman dari Inggris. Mereka akan tinggal di Manado selama dua minggu dan hari ini mereka ikut berkunjung ke sekolah-sekolah!

Mark, introducing himself and Anna (who took the picture). | Mark memperkenalkan dirinya dan Anna (yang mengambil foto).

Mark, introducing himself and Anna (who took the picture). | Mark memperkenalkan dirinya dan Anna (yang mengambil foto).

We spent little over an hour on the road before entering Tomohon and we headed straight for SMA Negeri 1 Tomohon, the 11th high school we visited. We were warmly welcomed by the principal and teachers, and after a short chat in the principal’s office, we were shown to the hall, where the students were already assembling. After the usual introductions, I told the students that there was going to be a quiz at the end of the talk, and the winner will represent the school in our upcoming Yaki Youth Camp. The students were visibly interested, but still hesitant when I asked who wanted to join. Well, let’s see if I can change that reaction, shall we?

The hall was packed with students, and some teachers joined in as well. | Aula dipenuhi siswa, dan beberapa guru juga turut mendengarkan.

The hall was packed with students, and some teachers joined in as well. | Aula dipenuhi siswa, dan beberapa guru juga turut mendengarkan.

Kami menghabiskan waktu sejam lebih sedikit di perjalanan menuju Tomohon dan kami segera menuju SMA Negeri 1 Tomohon, sekolah kesebelas yang kami kunjungi. Kami disambut hangat oleh kepala sekolah dan para guru, dan setelah mengobrol singkat di ruang kepala sekolah, kami diantar ke aula, di mana para siswa sudah mulai berkumpul. Setelah perkenalan, saya mengatakan pada para siswa bahwa akan ada quiz di akhir materi, dan pemenangnya akan mewakili sekolah mereka di Yaki Youth Camp. Para siswa tampak tertarik, namun masih ragu-ragu ketika saya bertanya siapa yang ingin ikut. Semangat saya tidak surut melihat reaksi yang biasa-biasa ini – setelah saya selesai menyampaikan materi, reaksi mereka pasti lebih heboh!

OLYMPUS DIGITAL CAMERAI proceeded to explain why Sulawesi is important, biodiversity-wise, and why the yaki needs to be protected, followed by information on our Selamatkan Yaki programme. The students seemed fascinated when they learned about the biodiversity of Sulawesi, and were properly concerned when they learned of the yaki’s worrying population decline. By the time the Yaki Youth Camp was brought up again, their interest was much more pronounced! They also asked some very good questions that would not have been out of place in a biodiversity class for college seniors!

Saya pun menjelaskan mengapa Sulawesi penting dari segi keanekaragaman hayati, dan mengapa yaki perlu dilindungi, diikuti informasi mengenai program Selamatkan Yaki. Para siswa tampak kagum ketika mereka melihat betapa kayanya keanekaragaman hayati Sulawesi, dan sangat prihatin ketika mereka tahu mengenai penurunan populasi yaki yang mengkhawatirkan. Ketika tiba saatnya saya menerangkan lebih jauh mengenai Yaki Youth Camp, ketertarikan dan semangat mereka terlihat jelas! Mereka juga menanyakan beberapa pertanyaan yang sangat bagus, yang selevel dengan pertanyaan mahasiswa tingkat empat!

The winner of the first question. | Pemenang pertanyaan pertama.

The winner of the first question. | Pemenang pertanyaan pertama.

After the students asked us questions, it was my turn to ask them questions! There was a sharp swing in the volume when I clicked my pointer (the question was to be shown on the screen) – and hands shot up immediately! Fortunately I managed to spot the very first hand in the air… and he answered correctly! I handed him his prize before starting on the second question. The same thing happened at the second question – hands shot up, but not before I pointed to the first hand in the air and called him up. His answer was spot on! Now it was time for the third question, the “Golden Ticket” question, of which the winner will participate in our Yaki Youth Camp, representing their school. You could hear the anticipation in the air. A brief silence when the question popped up, and – hands in the air! The third question demanded a longer answer, and was not so easy to get right. Four different students had a go, but none gave the complete explanation we were looking for. Finally, the fifth student struck gold! Congratulations to Angelika who will represent SMA Negeri 1 Tomohon at our Yaki Youth Camp!

I had to pay close attention to the answers for the third question. We will only settle for the best! | Saya harus benar-benar memperhatikan jawaban-jawaban pertanyaan ketiga. Kami mencari jawaban terbaik!

I had to pay close attention to the answers for the third question. We will only settle for the best! | Saya harus benar-benar memperhatikan jawaban-jawaban pertanyaan ketiga. Kami mencari jawaban terbaik!

Setelah para siswa bertanya, giliran saya untuk bertanya pada mereka! Aula tiba-tiba hening ketika saya menekan tombol pointer (pertanyaan ditampilkan di presentasi) – dan tangan-tangan langsung teracung! Untungnya saya berhasil melihat siapa yang pertama mengangkat tangan… dan dia menjawab dengan benar! Saya memberikan hadiahnya sebelum masuk pada pertanyaan kedua. Hal yang sama terjadi di pertanyaan kedua – banyak yang mengangkat tangan, tapi saya berhasil melihat siapa pemilik tangan pertama dan memanggilnya ke depan. Jawabannya sangat tepat! Kini saatnya pertanyaan ketiga, pertanyaan “Golden Ticket”, di mana pemenangnya akan menjadi peserta Yaki Youth Camp, mewakili sekolahnya. Suasana terasa sangat tegang. Hening beberapa saat setelah pertanyaan tampil, dan – banyak tangan teracung! Pertanyaan ketiga perlu dijawab dengan lengkap, dan tidak mudah menjawabnya dengan benar. Empat siswa mencoba menjawab, namun tidak ada jawaban yang lengkap dan sesuai harapan kami. Akhirnya, siswa kelima berhasil! Selamat kepada Angelika yang akan mewakili SMA Negeri 1 Tomohon di Yaki Youth Camp!

Thank you for your support, SMA Negeri 1 Tomohon! | Terima kasih untuk dukungannya, SMA Negeri 1 Tomohon!

Thank you for your support, SMA Negeri 1 Tomohon! | Terima kasih untuk dukungannya, SMA Negeri 1 Tomohon!

It was a great talk, and we are very grateful for the support showed by the school.  The students’ enthusiasm also made us feel even more motivated than before. Thank you very much, SMA Negeri 1 Tomohon – you are all yaki ambassadors and thank you for helping us spread the word!

Sosialisasi ini sangat menyenangkan, dan kami sangat berterima kasih atas dukungan dari pihak sekolah. Semangat para siswa juga semakin memotivasi kami. Terima kasih banyak, SMA Negeri 1 Tomohon – kalian semua duta yaki kami dan terima kasih sudah membantu kami menyebarkan pesan kami!

This slideshow requires JavaScript.

Palu….its a rather long way away from Manado! – Palu…jauh juga dari Manado!

To our dear followers,

DSCN1841I am finally getting around to my post about me and Gaetan’s trip to Palu, Central Sulawesi back in September. We had been invited for meetings regarding a proposal for a long-term conservation proUnited Nations Development Programme (UNDP)ons Development Programme (UNDP) and Ministry of Forestry here in Indonesia. This programme, called E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi) is a comprehensive strategy to protect 4 PAs in Sulawesi, including Tangkoko and its surrounds. The application has just been submitted to the GEF (Global Environmental Fund), and will be known whether successful next year. The programme focuses on 3 key components: 1. Enhancing systemic and institutional capacity for planning and management of Sulawesi PA system; 2. Financial sustainability of the Sulawesi PA system; 3. Threat reduction and collaborative governance. We have aided the consultants with preparing this application and have agreed to be collaborators for implementation of what is a much needed, broad scale conservation fund for Sulawesi.DSCN1883

Akhirnya saya  kembali untuk posting tentang perjalanan ke Palu, Sulawesi Tengah bersama Gaetan pada bulan September yang lalu. Kami diundang untuk pertemuan mengenai proposal untuk program konservasi jangka panjang dari Program Pembangunan United (UNDP) dan Kementerian Kehutanan di Indonesia.  Program ini disebut E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi) yang merupakan strategi komprehensif untuk melindungi 4 daerah dilindungi di Sulawesi, termasuk Tangkoko dan sekitarnya.  Aplikasi tersebut baru saja diserahkan kepada GEF (Global Environmental Fund), dan akan diketahui tahun depan apakah sukses.  Program ini berfokus pada 3 komponen kunci; 1.Meningkatkan kapasitas sistemik dan institusional untuk perencanaan dan pengelolaan sistem Daerah Lindung Sulawesi; 2. Kesinambungan keuangan dari sistem Daerah Lindung Sulawesi; 3. Pengurangan ancaman dan pemerintahan kolaboratif.  Kami telah dibantu oleh konsultan dalam persiapan aplikasi ini dan telah setuju untuk ber kolaborasi dalam implementasi akan apa yang paling dibutuhkan, pendanaan konservasi skala luas untuk Sulawesi.

So we set off on the Tuesday, all geared up for what we were expecting to be a somewhat epic drive from Manado. In fact, this turned out to be about 20 hours more epic than everyone had informed us! We passed through endless villages, each with its own quirky styles and many a goat in the road, which at times was less of a road and more of a DSCN1919treacherous labyrinth of holes. Beautiful landscapes watched over us we relaxed briefly mid journey in warm coastal waters, and fed on fried rice at the roadside.

Maka kami berangkat hari Selasa, semua perlengkapan telah siap untuk perjalanan yang kami harapkan “berkemudi” yang luar biasa dari Manado.  Bahkan, ternyata sudah 20 jam lebih mengejutkan dari waktu yang sudah diinformasikan orang kepada kami!  Kami melewati desa -desa tak berujung, masing-masing memiliki gaya unik sendiri serta banyak kambing di jalan, kadang-kadang ada jalan yang memiliki labirin lubang berbahaya daripada aspal jalan. Pemandangan indah menonton kami saat kami sedikit bersantai pada pertengahan perjalanan di perairan pantai yang hangat, dan makan nasi goreng di pinggir jalan.

After a very sweaty sleep in our car, which by then had the musky aroma of man, the second day was underway and we felt like we were doing well with time. It wasn’t until around lunch time when we checked our position on the satnav and couldn’t quite believe that we were not anywhere near where we thought we had been! We had set to arrive Wednesday afternoon, but it was already midnight as we were on the final stretch to the city, just one last hurdle – an eerie mountain range.

Setelah tidur yang sangat berkeringat di mobil kami, yang pada saat itu beraroma musky manusia, hari kedua berlangsung dan kami merasa seperti tepat waktu. Tidak sampai sekitar waktu makan siang ketika kami memeriksa posisi keberadaan kami di satnav dan sungguh tak bisa dipercaya bahwa kami jauh dari tempat yang semula kami kira tempat kami berada saat itu! Kami telah merencanakan untuk tiba Rabu sore, namu hari sudah tengah malam saat kami berada di bentangan untuk tiba di kota, hanya satu rintangan terakhir – sebuah pegunungan menakutkan.

The trip was a test for the new SY programme car, which, apart from being totally awesome to look at, was a dream to drive, and we were very proud of how it had handled the over 1,000km of progress we had made! We were proud… until that particular emotion changed to concern as we began our ascent. Our exhausted minds could not quite comprehend what was happening, but as we were getting less and less revs, we had to accept that it was inevitable….the clutch gave out 60 km from our destination. Hard to DSCN1833-2describe the unearthly environment we had broken down in, but I would liken it to a cross between the moon and a landslide. Amidst the stench of burned out clutch and our own amazement, we managed to convince some lovely locals to use their gigantic truck, laden with fizzy drinks, to tow us to the city. At 10kmh. On a rope which first pulled off our tow bar, then threatened to gobble up our wheel axel on every change in speed and subsequent yank!

Perjalanan ini tes untuk mobil Program SY yang baru, selain menjadi benar—benar terlihat hebat, merupakan sebuah mimpi untuk mengemudikannya, dan kami sangat bangga bagaimana lebih dari 1.000 km tertangani dari kemajuan telah buat! Kami bangga … sampai pada emosi tertentu berubah menjadi keprihatinan karena dimulailah pendakian kami. Pikiran kelelahan kami tidak bisa cukup memahami apa yang terjadi, tapi sepertinya kami mengalami putaran yang semakin berkurang, sehingga tak terelakkan …. kopling menyerah pada 60 km jarak sampai pada tujuan kami.  Sulit untuk menggambarkan tidak wajarnya lingkungan dimana kami telah terperosok, tapi saya akan menyamakannyaDSCN1856 dengan sebuah persimpangan antara bulan dan tanah longsor. Di tengah bau terbakar kopling dan rasa takjub, kami berhasil meyakinkan beberapa warga yang ramah untuk menggunakan truk raksasa mereka yang memuat minuman bersoda, untuk menderek kami ke kota. Pada 10kmh. Tali yang pertama gandengan kami, kemudian mengancam untuk melahap axel roda kami pada setiap perubahan dalam kecepatan dan tarikan selanjutnya!

Finally, we were in Palu. At roughly 5am. Ouch. We had been dropped off outside a mechanic, where upon opening at 8am we hazily pushed our poor Blazer in to be seen to. We then made staggered our way to the hotel, where we had planned to meet the consultant at 9am after a good rest. It was ironically 9am when we walked in, bedraggled and weary, not really up for meeting anyone apart from the bed! This was in the end no issue – the first day was largely just discussions of specifics about Lore Lindu National Park. We had a great day on the Friday and Saturday, firstly with a meeting with the Forestry staff and manager from The Nature Conservancy, and site visits to Lore Lindu. This included trips to various community conservation projects, where there were maleo nesting grounds, natural hot springs and other environmental activities. We also met villagers who had set up DSCN1851apiculture (bee keeping) projects in villages as alternative livelihood programmes (unfathomably delicious honey!) and those who had signed CommunityConservation Agreements which facilitate greater community involvement in protection of the area. The visit was very inspiring, particularly with regards to the zonation system of resource use for the national park, and the Resort Base Management systems. Some strong lessons taken from this site, and we will keep in touch with the contacts we made.

Akhirnya, kami tiba di Palu.Kira-kira pukul 5 pagi. Ouch. Kami turun di depan toko mekanik, yang buka pada pukul 8 pagi dimana kami mendorong Blazer kami yang lemah untuk diperiksa. Kami kemudian terhuyung berjalan ke hotel, di mana berencana untuk menemui konsultan pada jam 9 pagi setelah istirahat secukupnya.  Sungguh ironis dimana pada jam 9 saat kami berjalan memasuki hotel, basah kuyup dan lemah, tidak terlalu siap untuk bertemu siapa saja selain tempat tidur! Merupakan akhri tanpa masalah – hari pertama sebagian besar hanya mendiskusikan spesifik tentang Taman Nasional Lore Lindu. Hari besar pada hari Jumat dan Sabtu, pertama pertemuan dengan staf Kehutanan dan manajer dari The Nature Conservancy, dan kunjungan lapangan ke Lore Lindu. Termasuk perjalanan ke berbagai proyek-proyek konservasi masyarakat, dimana ada tempat bertelur maleo, air panas alam dan kegiatan lingkungan lainnya. Kami juga bertemu penduduk desa yang telah mendirikan pemeliharaan lebah (bee keeping) proyek-proyek di desa-desa sebagai program mata pencaharian alternatif (madu lezat tak terkira!) Dan mereka yang telah menandatangani Kesepakatan Konservasi Masyarakat yang memfasilitasi keterlibatan masyarakat dalam perlindungan daerah. Kunjungan ini sangat inspiratif,DSCN1888 terutama berkaitan dengan sistem zonasi penggunaan sumber daya untuk taman nasional, dan sistem Pangkalan Manajemen Resort. Beberapa pelajaran yang kuat yang diambil dari situs ini, dan kami akan tetap berhubungan dengan kontak yang kami dapat.

After getting our beloved car back, with the clutch finally repaired we were set for the epic journey back. To travel a total of almost 2,500km is a real endurance for any vehicle, but apart the clutch issues, the car proved to be a fantastic drive. Thanks again to all who helped us raise the money to get it – it has also been an essential addition to all our other activities.

DSCN1812Setelah mendapatkan kembali mobil kami yang tercinta, dengan kopling yang akhirnya diperbaiki maka kami siap untuk perjalanan yang hebat. Untuk perjalanan total hampir 2.500 km adalah ketahanan nyata untuk kendaraan apapun, tapi selain masalah kopling, mobil terbukti menjadi drive yang fantastis. Terima kasih lagi untuk semua yang membantu kami mengumpulkan uang untuk mendapatkannya – mobil ini juga menjadi tambahan penting untuk semua kegiatan kami yang lain.

Many thanks to Chris Cosslett, consultant from UNDP and all the staff at Lore Lindu, and all those who helped us eventually get there and back! We learnt a lot during this visit, and in the end it was a very productive trip, leaving us inspired and with a great deal of memories! 😀

Terima kasih banyak kepada Chris Cosslett, konsultan dari UNDP dan semua staff di Lore Lindu, serta semua yang telah membantu kami untuk bisa sampai di sana dan kembali! Kami belajar banyak lewat kunjungan ini, dan pada akhirnya itu merupakan perjalanan yang sangat produktif, menginspirasi kami dengan banyak kenangan yang indah! 😀

Harry

This slideshow requires JavaScript.