Palu….its a rather long way away from Manado! – Palu…jauh juga dari Manado!

To our dear followers,

DSCN1841I am finally getting around to my post about me and Gaetan’s trip to Palu, Central Sulawesi back in September. We had been invited for meetings regarding a proposal for a long-term conservation proUnited Nations Development Programme (UNDP)ons Development Programme (UNDP) and Ministry of Forestry here in Indonesia. This programme, called E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi) is a comprehensive strategy to protect 4 PAs in Sulawesi, including Tangkoko and its surrounds. The application has just been submitted to the GEF (Global Environmental Fund), and will be known whether successful next year. The programme focuses on 3 key components: 1. Enhancing systemic and institutional capacity for planning and management of Sulawesi PA system; 2. Financial sustainability of the Sulawesi PA system; 3. Threat reduction and collaborative governance. We have aided the consultants with preparing this application and have agreed to be collaborators for implementation of what is a much needed, broad scale conservation fund for Sulawesi.DSCN1883

Akhirnya saya  kembali untuk posting tentang perjalanan ke Palu, Sulawesi Tengah bersama Gaetan pada bulan September yang lalu. Kami diundang untuk pertemuan mengenai proposal untuk program konservasi jangka panjang dari Program Pembangunan United (UNDP) dan Kementerian Kehutanan di Indonesia.  Program ini disebut E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi) yang merupakan strategi komprehensif untuk melindungi 4 daerah dilindungi di Sulawesi, termasuk Tangkoko dan sekitarnya.  Aplikasi tersebut baru saja diserahkan kepada GEF (Global Environmental Fund), dan akan diketahui tahun depan apakah sukses.  Program ini berfokus pada 3 komponen kunci; 1.Meningkatkan kapasitas sistemik dan institusional untuk perencanaan dan pengelolaan sistem Daerah Lindung Sulawesi; 2. Kesinambungan keuangan dari sistem Daerah Lindung Sulawesi; 3. Pengurangan ancaman dan pemerintahan kolaboratif.  Kami telah dibantu oleh konsultan dalam persiapan aplikasi ini dan telah setuju untuk ber kolaborasi dalam implementasi akan apa yang paling dibutuhkan, pendanaan konservasi skala luas untuk Sulawesi.

So we set off on the Tuesday, all geared up for what we were expecting to be a somewhat epic drive from Manado. In fact, this turned out to be about 20 hours more epic than everyone had informed us! We passed through endless villages, each with its own quirky styles and many a goat in the road, which at times was less of a road and more of a DSCN1919treacherous labyrinth of holes. Beautiful landscapes watched over us we relaxed briefly mid journey in warm coastal waters, and fed on fried rice at the roadside.

Maka kami berangkat hari Selasa, semua perlengkapan telah siap untuk perjalanan yang kami harapkan “berkemudi” yang luar biasa dari Manado.  Bahkan, ternyata sudah 20 jam lebih mengejutkan dari waktu yang sudah diinformasikan orang kepada kami!  Kami melewati desa -desa tak berujung, masing-masing memiliki gaya unik sendiri serta banyak kambing di jalan, kadang-kadang ada jalan yang memiliki labirin lubang berbahaya daripada aspal jalan. Pemandangan indah menonton kami saat kami sedikit bersantai pada pertengahan perjalanan di perairan pantai yang hangat, dan makan nasi goreng di pinggir jalan.

After a very sweaty sleep in our car, which by then had the musky aroma of man, the second day was underway and we felt like we were doing well with time. It wasn’t until around lunch time when we checked our position on the satnav and couldn’t quite believe that we were not anywhere near where we thought we had been! We had set to arrive Wednesday afternoon, but it was already midnight as we were on the final stretch to the city, just one last hurdle – an eerie mountain range.

Setelah tidur yang sangat berkeringat di mobil kami, yang pada saat itu beraroma musky manusia, hari kedua berlangsung dan kami merasa seperti tepat waktu. Tidak sampai sekitar waktu makan siang ketika kami memeriksa posisi keberadaan kami di satnav dan sungguh tak bisa dipercaya bahwa kami jauh dari tempat yang semula kami kira tempat kami berada saat itu! Kami telah merencanakan untuk tiba Rabu sore, namu hari sudah tengah malam saat kami berada di bentangan untuk tiba di kota, hanya satu rintangan terakhir – sebuah pegunungan menakutkan.

The trip was a test for the new SY programme car, which, apart from being totally awesome to look at, was a dream to drive, and we were very proud of how it had handled the over 1,000km of progress we had made! We were proud… until that particular emotion changed to concern as we began our ascent. Our exhausted minds could not quite comprehend what was happening, but as we were getting less and less revs, we had to accept that it was inevitable….the clutch gave out 60 km from our destination. Hard to DSCN1833-2describe the unearthly environment we had broken down in, but I would liken it to a cross between the moon and a landslide. Amidst the stench of burned out clutch and our own amazement, we managed to convince some lovely locals to use their gigantic truck, laden with fizzy drinks, to tow us to the city. At 10kmh. On a rope which first pulled off our tow bar, then threatened to gobble up our wheel axel on every change in speed and subsequent yank!

Perjalanan ini tes untuk mobil Program SY yang baru, selain menjadi benar—benar terlihat hebat, merupakan sebuah mimpi untuk mengemudikannya, dan kami sangat bangga bagaimana lebih dari 1.000 km tertangani dari kemajuan telah buat! Kami bangga … sampai pada emosi tertentu berubah menjadi keprihatinan karena dimulailah pendakian kami. Pikiran kelelahan kami tidak bisa cukup memahami apa yang terjadi, tapi sepertinya kami mengalami putaran yang semakin berkurang, sehingga tak terelakkan …. kopling menyerah pada 60 km jarak sampai pada tujuan kami.  Sulit untuk menggambarkan tidak wajarnya lingkungan dimana kami telah terperosok, tapi saya akan menyamakannyaDSCN1856 dengan sebuah persimpangan antara bulan dan tanah longsor. Di tengah bau terbakar kopling dan rasa takjub, kami berhasil meyakinkan beberapa warga yang ramah untuk menggunakan truk raksasa mereka yang memuat minuman bersoda, untuk menderek kami ke kota. Pada 10kmh. Tali yang pertama gandengan kami, kemudian mengancam untuk melahap axel roda kami pada setiap perubahan dalam kecepatan dan tarikan selanjutnya!

Finally, we were in Palu. At roughly 5am. Ouch. We had been dropped off outside a mechanic, where upon opening at 8am we hazily pushed our poor Blazer in to be seen to. We then made staggered our way to the hotel, where we had planned to meet the consultant at 9am after a good rest. It was ironically 9am when we walked in, bedraggled and weary, not really up for meeting anyone apart from the bed! This was in the end no issue – the first day was largely just discussions of specifics about Lore Lindu National Park. We had a great day on the Friday and Saturday, firstly with a meeting with the Forestry staff and manager from The Nature Conservancy, and site visits to Lore Lindu. This included trips to various community conservation projects, where there were maleo nesting grounds, natural hot springs and other environmental activities. We also met villagers who had set up DSCN1851apiculture (bee keeping) projects in villages as alternative livelihood programmes (unfathomably delicious honey!) and those who had signed CommunityConservation Agreements which facilitate greater community involvement in protection of the area. The visit was very inspiring, particularly with regards to the zonation system of resource use for the national park, and the Resort Base Management systems. Some strong lessons taken from this site, and we will keep in touch with the contacts we made.

Akhirnya, kami tiba di Palu.Kira-kira pukul 5 pagi. Ouch. Kami turun di depan toko mekanik, yang buka pada pukul 8 pagi dimana kami mendorong Blazer kami yang lemah untuk diperiksa. Kami kemudian terhuyung berjalan ke hotel, di mana berencana untuk menemui konsultan pada jam 9 pagi setelah istirahat secukupnya.  Sungguh ironis dimana pada jam 9 saat kami berjalan memasuki hotel, basah kuyup dan lemah, tidak terlalu siap untuk bertemu siapa saja selain tempat tidur! Merupakan akhri tanpa masalah – hari pertama sebagian besar hanya mendiskusikan spesifik tentang Taman Nasional Lore Lindu. Hari besar pada hari Jumat dan Sabtu, pertama pertemuan dengan staf Kehutanan dan manajer dari The Nature Conservancy, dan kunjungan lapangan ke Lore Lindu. Termasuk perjalanan ke berbagai proyek-proyek konservasi masyarakat, dimana ada tempat bertelur maleo, air panas alam dan kegiatan lingkungan lainnya. Kami juga bertemu penduduk desa yang telah mendirikan pemeliharaan lebah (bee keeping) proyek-proyek di desa-desa sebagai program mata pencaharian alternatif (madu lezat tak terkira!) Dan mereka yang telah menandatangani Kesepakatan Konservasi Masyarakat yang memfasilitasi keterlibatan masyarakat dalam perlindungan daerah. Kunjungan ini sangat inspiratif,DSCN1888 terutama berkaitan dengan sistem zonasi penggunaan sumber daya untuk taman nasional, dan sistem Pangkalan Manajemen Resort. Beberapa pelajaran yang kuat yang diambil dari situs ini, dan kami akan tetap berhubungan dengan kontak yang kami dapat.

After getting our beloved car back, with the clutch finally repaired we were set for the epic journey back. To travel a total of almost 2,500km is a real endurance for any vehicle, but apart the clutch issues, the car proved to be a fantastic drive. Thanks again to all who helped us raise the money to get it – it has also been an essential addition to all our other activities.

DSCN1812Setelah mendapatkan kembali mobil kami yang tercinta, dengan kopling yang akhirnya diperbaiki maka kami siap untuk perjalanan yang hebat. Untuk perjalanan total hampir 2.500 km adalah ketahanan nyata untuk kendaraan apapun, tapi selain masalah kopling, mobil terbukti menjadi drive yang fantastis. Terima kasih lagi untuk semua yang membantu kami mengumpulkan uang untuk mendapatkannya – mobil ini juga menjadi tambahan penting untuk semua kegiatan kami yang lain.

Many thanks to Chris Cosslett, consultant from UNDP and all the staff at Lore Lindu, and all those who helped us eventually get there and back! We learnt a lot during this visit, and in the end it was a very productive trip, leaving us inspired and with a great deal of memories!😀

Terima kasih banyak kepada Chris Cosslett, konsultan dari UNDP dan semua staff di Lore Lindu, serta semua yang telah membantu kami untuk bisa sampai di sana dan kembali! Kami belajar banyak lewat kunjungan ini, dan pada akhirnya itu merupakan perjalanan yang sangat produktif, menginspirasi kami dengan banyak kenangan yang indah!😀

Harry

This slideshow requires JavaScript.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s