SY Meningkatkan Kapasitas Pemandu di Tangkoko dan sekitar!

Tingginya tingkat kunjungan wisata ke Taman Wisata Alam Batuputih – Bitung harus dibarengi dengan ketersediaan pemandu yang memadai. Disamping banyaknya jumlah personil, yang tak kalah penting adalah dibutuhkannya kualitas pemandu yang dapat menjawab segala keingintahuan para wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata yang sudah sangat terkenal tersebut.

The higher level every year of many tourists visiting Batuputih Nature Park – Bitung is need to be balanced with the number of the guide.  Besides, the most important is the quality of the individual that can provide the sense of knowing of the tourists.

DSCN2268Salah satu proyek inti dari Selamatkan Yaki yaitu Program Peremajaan Tangkoko yang bertujuan meningkatkan perlindungan Tangkoko yang dipertimbangkan sebagai benteng pertahanan terakhir untuk yaki. Dengan harapan jangka panjang program ini adalah mengembangkan jangkauan secara luas dalam peningkatkan pengelolaan tingkat kelembagaan dan sistemik. Selamatkan Yaki telah membentuk kolaborasi bersama pihak-pihak terkait area ini.  Melalui penyusunan rencana; mengevaluasi kegiatan perlindungan saat ini, bekerja secara langsung dengan patroli menyediakan peralatan dan teknik, IMG_0380memfasilitasi dialog lokal dan regional, pemantauan kegiatan ilegal dan mengembangkan ekowisata, semuanya dimaksudkan agar pengelolaan kawasan lindung ini bisa dibawa ke standar yang lebih tinggi.

One of the core project in Selamatkan Yaki is Tangkoko Rejuvenation Programme which aims to improve protection of Tangkoko, considered the last stronghold for the macaques. Our long-term aims are to develop working models to incorporate larger-landscape level catchments, and enhance institutional and systemic level management. We have established a collaborative alliance representing key stakeholders in the area. By strategically evaluating current protection activities, working directly with patrols providing equipment and techniques, facilitating local and regional dialogue, monitoring illegal activities and developing ecotourism, it is proposed that management of this protected area can be brought to a higher standard.

Dan untuk menjawab kebutuhan pariwisata di atas, maka pada tanggal 20 – 22 November 2013 Program Selamatkan Yaki melaksanakan “Pelatihan Penyegaran Ekowisata” yang ditujukan kepada para pemandu wisata yang ada di seputaran kawasan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara yang wilayahnya menyatu dengan TWA Batuputih. Pelatihan ini terbuka untuk umum namun pada saat itu baru diikuti oleh 33 pemandu wisata yang berasal dari kelurahan  Batuputih Atas, Batuputih Bawah, Danowudu, Pinangunian, Kasawari dan dua orang peserta dari dari desa Lalumpe kecamatan Kombi Kabupaten Minahasa serta perwakilan dari HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bitung.IMG_0387

And to answer the tourism need for the guide, Selamatkan Yaki organized “Pelatihan Penyegaran Ekowisata” for the guide around Tangkoko Duasudara Nature Reserve at 20-22 November 2013. This training is open to the public, but at that time only 33 participants from the village Batuputih Atas, Batuputih Bawah, Danowudu, Pinangunian, Kasawari and two participants from Lalumpe, Kombi Minahasa and representatives of HPI (Indonesian Guides Association) Bitung.

Pelatihan ekowisata ini dilaksanakan di dua tempat terpisah yaitu pemberian materi di aula Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan praktek lapangan dilaksanakan langsung di TWA Batuputih. Untuk menjamin kualitas materi yang disampaikan maka tim Selamatkan Yaki mendatangkan pelatih dari Yapeka (Yayasan Pembelajaran Konservasi) Bogor untuk mengajarkan Ekowisata dan Teknik Pemanduan, sedangkan materi terkait Keanekaragaman Hayati dan potensinya bagi pariwisata oleh WCS (Wildlife Conservation Society) Sulawesi dan Celebio (Celebes Biodiversity). Yapeka telah berpengalaman dalam mengembangkan IMG_2755ekowisata di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. WCS merupakan lembaga konservasi International yang telah melakukan kegiatan konservasi keanekaragaman hayati selama lebih dari 15 tahun di Sulawesi. Sedangkan Celebio merupakan lembaga konservasi lokal dengan personil yang memiliki kemampuan pengelolaan keanekaragaman hayati dan teknik memfasilitasi pelatihan yang tidak perlu diragukan lagi.

This ecotourism training held in two separated place which were presentations at Tasikoki Rescue Center and field practice in TWA Batuputih.  To ensure the quality of the material submitted, Selamatkan Yaki invited a trainer from Yapeka (Conservation Education Foundation) Bogor to teach Ecotourism and scouting techniques, while the related material on Biological Diversity and its potential for tourism by the WCS (Wildlife Conservation Society) and Celebio Sulawesi (Celebes Biodiversity). Yapeka has experience in developing ecotourism in Java, Sumatra and Borneo. WCS is an International conservation organizations that had engaged in biodiversity conservation for more than 15 years in Sulawesi. While Celebio, a local conservation society with the knowledge of biodiversity management and facilitate technical training that do not have to be doubted.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta dibekali dengan pemahaman dan pengelolaan IMG_2758ekowisata, serta strategi dalam melaksanakan pemanduan. Selanjutnya disampaikan materi tentang keanekaragaman hayati Sulawesi dengan keunikannya yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata, dan yang lebih menguntungkan lagi adalah sebagian besar potensi tersebut bisa dijumpai di TWA Batuputih. Bagian yang paling penting yaitu pada pelaksanaan praktek lapangan, seluruh peserta mendapat kesempatan untuk mempraktekkan teknik memandu seperti yang telah diajarkan di kelas ditambah kemampuan improvisasi dari masing-masing peserta.

During the three days of the training, all participants were even with the understanding and management of ecotourism, as well as guidance in implementing strategies. Furthermore, the material presented on the unique biodiversity of Sulawesi that has the potential to be developed as tourist attractions, and more profitable is that most of the potential can be found in TWA Batuputih. The most important part is the implementation of the practice field, all participants have the opportunity to practice techniques such guide that has been taught in the class plus the ability to improvise from each participant.IMG_2870

Saat praktek lapangan, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat paket wisata kemudian menjual/menjelaskan paket yang telah dibuat kepada kelompok yang lain. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi ataupun bertanya terkait paket yang telah dijelaskan. Pembuatan paket ini dilaksanakan diruang kelas yang terdapat di Manggala Agni yang terletak pada lokasi sebelum pos 1 CA. Tangkoko-Duasudara. Setelah makan siang, praktek lapangan dimulai dari pos satu hingga IMG_0424mencapai pos 2 yang melalui jalan utama TWA Batuputih. Pada sesi ini peserta sangat antusias dalam mempraktekan kemampuan memandu yang dimiliki serta memperkenalkan potensi wisata yang ada di desanya masing-masing.

At the field practice, participants were split into three groups and worked on a task to make a tourist package then sell it to the other group.  The other groups were given a chance to give feedback or questions about the package.  This activity was in Manggala Agni building located before the first post Tangkoko-Duasudara Nature Reserves.  After lunch, the field practice started from first post to the second post through the main road of TWA Batuputih.  On this activity, all participants were enthusiastic in practicing the guiding technique by promoting the tourism potential in each village.

Untuk mengukur efektifitas pelatihan ini, kami melakukan evaluasi yang dilaksanakan pada awal dan akhir dari pelatihan. Evaluasi di awal dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman peserta tentang ekowisata dan keanekaragaman hayati yang akan diajarkan, selanjutnya evaluasi akhir untuk mengetahui tingkat penyerapan materi oleh para peserta.

Grafik jumlah peserta yang menjawab dengan benar tentang spesies Macaca yang terdapat di pulau Sulawesi saat evaluasi pada awal dan akhir pelatihan. Chart of the number of participants who answered correctly on the question about Macaque species on the Sulawesi island by pre and post – test.

Grafik jumlah peserta yang menjawab dengan benar tentang spesies Macaca yang terdapat di pulau Sulawesi saat evaluasi pada awal dan akhir pelatihan. Chart of the number of participants who answered correctly on the question about Macaque species on the Sulawesi island by pre and post – test.

To measure the electivity of this training, we did evaluation before-after the activities. The initial evaluation is intended to determine how much the understanding of each participants about ecotourism and biodiversity that will be taught, then the final evaluation to determine the level of absorption of the material by the participants.

IMG_0387Pelatihan ini merupakan yang pertama kalinya diadakan oleh Selamatkan Yaki, semenjak program peremajaan Tangkoko dimulai pada awal tahun 2012.  Namun, kami akan mengupayakan pelatihan ini diadakan setiap tahunnya untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas dari pemandu.

This is the first training that organized by Selamatkan Yaki, since we run the Tangkoko Rejuvenation Program at the end of 2012.  Though, we are going to pursue this training to be held every week to increase the capacity and quality of the guide.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s