Stan Informasi untuk selamatkan yaki – Information stands to save the yaki!

Bulan lalu, sekelompok siswa asal Jakarta yang melakukan study tour dikejutkan dengan pemandangan seekor yaki, yang tampaknya belum lama mati, tergantung di atas salah satu meja penjual di Pasar Tomohon. Penjual-penjual sekitar tidak merasa bahwa ini adalah pemandangan yang tidak wajar. Bahkan, salah seorang sopir angkot berkata bahwa daging yaki dikonsumsi hampir setiap hari oleh beberapa orang.Masyarakat yang mengkonsumsi yaki secara teratur mungkin sedikit, tapi jumlah yang sedikit ini cukup untuk menekan populasi yaki hingga hampir punah.
Some time ago, a group of students from Jakarta visited the Tomohon Market as part of their study tour. They were shocked to see a yaki, which looked like it had recently died, hanging above one of the seller’s stalls. Other sellers did not seem to think that the sight was unusual. One angkot driver even said that yaki meat was consumed almost daily by some people. Despite this, it seems that only a few particular people still regularly eat yaki, but this is still enough to bring these animals close to disappearing forever.

20140607_080821_

Yaki adalah monyet sangat terancam namun masih dapat ditemukan di pasar-pasar di Sulawesi Utara, seperti yang tampak di pasar Tomohon. Despite that the Macaca nigra is Critically Endangered, this primate can still be seen for sale on the traditional markets in North Sulawesi, such as the market in Tomohon in the photo.

Meskipun sebagian masyarakat mengklaim masih sering melihat yaki liar, hal ini tidak bisa dijadikan tolak ukur populasi mereka di hutan tersebut, apalagi di Sulawesi Utara secara keseluruhan. Biasanya masyarakat hanya menjumpai satu kelompok yaki secara berulang kali sehingga mereka mendapat kesan jumlah yaki di hutan tersebut masih banyak. Padahal menurut penelitian, populasi yaki di Sulawesi Utara kini tersisa kurang dari 5.000 ekor, dengan 2.000 ekor di antaranya hidup di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara. Jumlah ini adalah hasil dari penurunan populasi sebesar 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun yaki dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Even though people claim that yaki sightings happened frequently, this does not represent their population in that particular forest, let alone the entire North Sulawesi. People often spot one yaki group repeatedly, giving the impression of an abundant population in the forest, whereas research shows that there are less than 5.000 yaki remaining in North Sulawesi, 2.000 of which can be found in Tangkoko-Duasudara Nature Reserve. These numbers are the result of an 80% population decline over the past 40 years, despite the fact that yaki are protected under UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Menanggapi kenyataan ini, Selamatkan Yaki bekerjasama dengan P.D. Pasar Langowan dan Tomohon akan mengadakan stan informasi di Pasar Langowan pada tanggal 5 dan 12 Juli, diikuti Pasar Tomohon pada tanggal 26 Juli dan 2 Agustus. Tanggal-tanggal ini sengaja dipilih mengingat ini merupakan hari pasar yang ramai, baik di Langowan maupun Tomohon. Apalagi tanggal-tanggal ini adalah hari pasar menjelang masing-masing Pengucapan Minahasa dan Tomohon, sehingga bisa dipastikan animo membeli masyarakat lebih tinggi dari biasanya.
To address this issue, Selamatkan Yaki will collaborate with the market officials of Langowan and Tomohon and open information stands in the markets of Langowan on July 5th and 12th, followed by Pasar Tomohon on July 26th and August 2nd. The dates were chosen to coincide with the major market days in both Langowan and Tomohon. Each set of dates also happen to be market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, respectively, so market activity will be higher than usual.

Langowan 121213 (79)

The Selamatkan Yaki team raising awareness through information stands near the markets of Langowan and Tomohon last December around Christmas time.

Pengucapan di Minahasa dan Tomohon terkenal dengan acara ramah tamah yang menyajikan berbagai jenis makanan, dan satwa liar yang terancam punah, salah satunya yaki, pun termasuk dalam deretan hidangan yang bisa ditemui. Kami memilih hari pasar menjelang Pengucapan dengan harapan bisa meyakinkan masyarakat untuk tidak membeli dan menghidangkan daging satwa liar, terutama yaki. Di stand informasi ini, masyarakat bisa bertanya pada tim Selamatkan Yaki mengenai yaki dan habitatnya dan langsung mendapat jawaban yang jelas dan memiliki dasar ilmiah. Ini akan berguna untuk meluruskan pendapat-pendapat subjektif dan menggerakan masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan hidup pada umumnya dan yaki pada khususnya.
Thanksgiving celebrations in Minahasa and Tomohon are known for meals serving various types of food, with endangered animals, one of them the yaki, being part of the menu. The market days preceding Thanksgiving were chosen in the hopes that we convince people to abstain from buying and serving bushmeat, particularly yaki. In these information stands, people can ask the Selamatkan Yaki team about the yaki and their habitat and get direct, well-informed answers. This will help clarify subjective opinions and hopefully motivate people to care about the environment, especially the yaki.

Populasi satwa liar bukannya tidak terbatas; konsumsi terus menerus dari masyarakat, ditambah perambahan hutan yang tidak terkendali, akan mendorong jenis-jenis satwa ini semakin dekat ke ambang kepunahan. Hal ini terutama mengkhawatirkan bagi satwa endemik, seperti yaki, yang tidak bisa ditemui di luar Minahasa. Yaki menyebarkan biji dari 145 jenis buah yang tumbuh di hutan, dengan demikian membantu pertumbuhan mereka dan menjamin hutan yang sehat, yang pada akhirnya akan menguntungkan manusia. Apabila mereka punah, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan mereka atau mengganti peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Alangkah baiknya jika kita bangga dan aktif melindungi alam Sulawesi Utara kita, demi kebaikan kita dan anak cucu kita.
Wildlife populations are not unlimited; continuous consumption of endangered species, along with uncontrolled habitat encroachment, will push species even closer to the brink of extinction. This is particularly worrying for endemic species, like the yaki, that cannot be found outside of Minahasa. The yaki distributes the seeds of 145 different fruits that grow in the forest, thus assisting their growth and ensuring a healthy forest, which in turn will benefit humans. If they go extinct, there is nothing that we can do to bring them back or replace the role they play in maintaining the balance of our ecosystem.  We should be proudly and actively protecting the nature in North Sulawesi, for our own and our children’s benefits.

Stan informasi di Langowan Desember 2013

Untuk masa depan anak-anak kita, kita perlu melindungi hutan dan semua satwa yang tinggal di dalamnya. For the future of the next generation, our children, we need to conserve the forests and all animals in it.

One thought on “Stan Informasi untuk selamatkan yaki – Information stands to save the yaki!

  1. Pingback: Stan Informasi Pasar Tomohon | Tomohon Market Information Stand | Working to save Sulawesi crested black macaques and their habitat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s