Yaki hampir punah: Gereja harus bertindak – Yaki almost extinct: how the church can help

This slideshow requires JavaScript.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik (hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia) Sulawesi Utara, dan keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis sampai 80%. Keadaan ini disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah diubah menjadi perkebunan bahkan perumahan, sehingga tidak ada lagi tempat untuk bernaung. Selain perambahan hutan ancaman lain yang menyebabkan penurunan populasi adalah karena perburuan. Alasan perburuan sering yang terjadi  adalah karena yaki dianggap hama, untuk dipelihara, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi. Yaki or Macaca nigra, is one of North Sulawesi’s endemic (found only in one place and nowhere else in the world) species and their existence is currently at a very alarming state. In the period of the last 40 years, yaki population has declined drastically to 80%. This situation is caused by forests in which the yaki live having been turned into farming fields, even housing estates, eliminating places for shelter. Other than the threat of encroachment, threats that cause population decline is hunting. Reason as to why hunting often happens is because yaki are considered as pests, pets and the most common reason especially in North Sulawesi, is consumption.

Pada tanggal 15 Juli 2014, di Pa’Dior YISBSU Tompaso, Yayasan Selamatkan Yaki mengadakan workshop bertajuk Torang Bacirita:Green Gospel (TBGG), yang dihadiri oleh Pendeta, Pastor, dan Hamba Tuhan di tingkat Sinodal atau Majelis Daerah, dan turut mengundang Departemen Agama dan pemerhati lingkungan yang ada di sekitar Tomohon dan Langowan. Workshop ini dilaksanakan dalam rangka Kampanye Kebanggan Yaki oleh Yayasan Selamatkan Yaki. Keterlibatandari pihak gereja dalam menyebarkan pesan konservasi sangat diperlukan mengingat bahwa penduduk Minahasa yang oleh umat Kristiani, sehingga gereja memiliki peran yang sangat krusial di tengah masyarakat; itulah yang melandasi TBGG ini dilaksanakan. On July 15th 2014, Selamatkan Yaki foundation held a workshop at Pa’Dior YISBSU Tompaso, titled Torang Bacirita: Green Gospel (TBGG), attended by Reverends, Pastor and Servants of the Lord (Hamba Tuhan) in the Sinodal or Regional Assembly level and also invited the Department of Religion and other environmentalists around Tomohon and Langowan. This workshop was conducted as a part of the Yaki Pride Campaign by Selamatkan Yaki. The involvements of the church in spreading conservation messages is desperately needed, given the fact that the majority of Minahasa people are Christians, giving the church a crucial role within the community; it is the reason under which TBGG was implemented.

Sudah saatnya gereja langsung bertindak nyata menyelamatkan semua ciptaan Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satu peran gereja di tengah dunia adalah mengubah masyarakat dari konsumsi tinggi menjadi penyelamat dan penjaga lingkungan. Ini adalah perwujudan dari amanat agung yang diemban oleh seluruh umat manusia, yaitu untuk menjaga dan mengusahakan bumi, bukannya merombak dan mengeksploitasi berlebihan. It is time for churches to take real action in saving all of God’s creations that are very meaningful for human lives. One of the church’s roles in the world is to change society’s habit of high consumerism into being the savior and stewards of the environment. It is the embodiment of the great and holy mandate that is carried by all mankind, which is to maintain and manage the Earth, not to destroy and exploit redundantly.

Workshop dalam bentuk diskusi ini didahului dengan pemaparan materi dari peneliti dan ahli primata, serta tokoh rohaniawan Sulawesi Utara. Dari seminar ini diharapkan akan terbentuk komitmen bersama dari pimpinan gereja dalam penyusunan materi pelayanan yang lebih meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya pelestarian dan perlindungan terhadap ciptaan Tuhan, terlebih khusus satwa endemik Sulawesi Utara Macaca nigra sebagai satu bentuk pernyataan iman kristiani. This workshop that was organized in the form of discussions was preceded by talks given by researchers and primate experts, as well as religious icons of North Sulawesi. Through this seminar, joined-commitments are expected to be formed by leaders of churches with regards to preparations of service materials that will heighten awareness within the community about the importance of preservation as well as protection of God’s creations, especially the endemic species of North Sulawesi that is the Macaca nigra, as a form of statement of the Christian faith.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s