Environmental Education Weekend with Suara Pulau and Celebio!

Another collaboration! This time, SY was invited to join Suara Pulau and Celebio’s Environmental Education Weekend in Lihunu, a village on the island of Bangka! Bangka is situated approximately 50 km north-east of Manado and is blessed with stunning beaches and awesome dive spots. Read Caroline’s take on the event!
Satu lagi kegiatan kolaborasi! Kali ini, SY diundang untuk bergabung dalam Akhir Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup di Lihunu, sebuah desa di pulau Bangka! Bangka terletak sekitar 50 km di timur laut Manado dan diberkahi pantai-pantai yang indah serta banyak dive spot yang memukau. Baca ulasan Caroline mengenai kegiatan ini!

DSC_0018_

It was a typical Saturday in the tropics – the sky was sunny with scattered clouds, the temperature was warm, and there was a fair amount of wind whipping up stomach-churning waves on our way to Bangka! Prisi, Vian, and I were joined by Jose of Suara Pulau, Mary, one of Suara Pulau’s sponsors, Michelle, a reporter, and Sammy, a photographer, on the boat heading for Lihunu. After a 45-minute boat ride we docked on the jetty and headed straight to the elementary school, where the activities were already underway. Marthin, Vina, and their Celebio team, who arrived in Lihunu on Friday, had gathered the elementary school students inside the classrooms and were now busy with the colouring competition. The students seemed very excited; there was the usual chatter of people borrowing colouring pencils and crayons from their friends, but also lively discussions on ideas for colours, drawing in additional scenery, and general talk. Ulfa, the coordinator of Suara Pulau, welcomed us warmly, and we chatted away while we waited for our turn.
DSC_0024Cuaca hari Sabtu itu tipikal iklim tropis – langit cerah dengan beberapa awan di sana-sini, udaranya hangat, dan angin yang cukup kuat menciptakan ombak tinggi selama perjalanan kami ke Bangka! Saya, Prisi, dan Vian menuju Lihunu dengan kapal bersama Jose dari Suara Pulau, Mary, salah satu sponsor Suara Pulau, Michelle, seorang wartawan, dan Sammy, seorang fotografer. Setelah perjalanan kapal selama 45 menit, kami merapat ke dermaga dan langsung menuju gedung SD, di mana kegiatan sudah dimulai. Marthin, Vina, dan tim dari Celebio, yang telah tiba di Lihunu sejak hari Jumat, telah mengumpulkan para siswa SD di dalam ruang kelas dan kini disibukkan lomba mewarnai. Para siswa tampak sangat senang; selain percakapan pinjam meminjam alat warna, para siswa juga berdiskusi dengan semangat mengenai pilihan warna, menggambar pemandangan tambahan, dan percakapan biasa. Ulfa, koordinator Suara Pulau, menyambut kami dengan hangat, dan kami bercakap-cakap sambil menunggu giliran kami tampil.

IMG_3611In no time at all, the junior high school students returned from their rehearsal for the Independence Day flag-raising ceremony (which was to be held the next morning) and filled the neighbouring classroom. We were ready to rumble! Vian loosened things up with his jokes and small games before I introduced the YYC jingle. It was an instant hit! After several spirited recitals, the students were ready to listen to our presentation. It was somewhat different to our previous school presentations; the small island ecosystem, along with the wildlife inhabiting it, was significantly different to the forest ecosystem that the yaki lives in. Thus, we had to make slight adjustments and accommodate several other wildlife species so it would remain relevant to the students. They were excellent listeners and quickly grasped the points I delivered. The quiz session saw plenty of enthusiastic hands; Prisi, Vian and I had to pay very close attention so we could tell who put up their hand first!
IMG_3610_FinTidak lama kemudian, para siswa SMP kembali dari latihan mereka untuk upacara bendera 17 Agustus (yang akan dilaksanakan esok paginya) dan segera berkumpul di ruang kelas sebelah. Kami siap mulai! Vian mencairkan suasana dengan candaannya dan games singkat sebelum saya mengajarkan Yel-yel YYC pada mereka. Yel-yel itu langsung hit! Setelah menyanyikan yel-yel beberapa kali, para siswa siap mendengarkan presentasi kami. Presentasi ini agak berbeda dengan presentasi yang kami bawakan di sekolah-sekolah dulu; ekosistem pulau kecil serta satwa yang tinggal di dalamnya agak berbeda dengan ekosistem hutan tempat tinggal yaki. Oleh karena itu, presentasi ini kami sesuaikan dan menyertakan beberapa spesies satwa lain yang relevan dengan lingkungan para siswa ini. Mereka pendengar yang sangat baik dan memahami materi kami dengan cepat. Para siswa sangat bersemangat ketika masuk sesi kuis; saya, Prisi dan Vian harus memperhatikan dengan cermat agar bisa melihat siapa yang pertama mengangkat tangan!

IMG_3624After we finished the presentation for the junior high school students, we switched with Celebio. Celebio had an arts and crafts session with the junior high school students, using recycled materials, while we gave a presentation to the elementary school students. They were really excited about the YYC jingle too! So excited, in fact, that we made it into an extra competition; the student with the most enthusiastic moves got a special prize!
Setelah kami menyelesaikan presentasi untuk siswa SMP, kami bertukar dengan Celebio. Celebio mengajarkan para siswa SMP untuk membuat kerajinan tangan dengan bahan daur ulang, sementara kami memberikan presentasi pada para siswa SD. Mereka pun sangat bersemangat ketika belajar yel-yel YYC! Saking bersemangatnya, kami membuat lomba tambahan; siswa dengan gerakan paling bersemangat mendapat hadiah istimewa!

In the evening we put up a screen for movie night. Celebio’s video, “Adung, Sahabatku” about an orangutan in a rehabilitation facility, and our BBC documentary, was an instant hit with the children. They got to see the animals we talked to them about in action, and see what was being done to protect them. Hopefully, they would be motivated to protect their environment too!
Pada malam hari kami memasang layar untuk nonton bareng. Video dari Celebio, “Adung, Sahabatku” tentang seekor orangutan di pusat rehabilitasi, serta film BBC kami, sangat disukai anak-anak. Mereka dapat melihat para satwa yang dibahas tadi, dan juga melihat apa saja usaha yang dilakukan untuk perlindungan mereka. Kami berharap anak-anak ini pun termotivasi untuk melindungi lingkungan mereka!

IMG_3828_FinThe next day was Indonesia’s Independence Day, so the whole village attended the flag-raising ceremony and was busied with competitions that would be held after the ceremony. Our turn came up near midday; Celebio started with a puppet show, which attracted children and adults alike, and the weekend was rounded off with an environment-themed quiz for the students. It was great to see how much of our presentations the students remembered!
IMG_3821_FinHari esoknya adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat desa mengikuti upacara bendera dan lomba-lomba. Kami mendapat giliran tampil sekitar tengah hari; Celebio mengawalinya dengan panggung boneka, yang menarik perhatian baik anak-anak maupun orang tua, dan akhir pekan kami ditutup dengan cerdas cermat lingkungan bagi para siswa. Senang rasanya melihat para siswa mengingat banyak hal dari materi kami!

That very afternoon we headed back to the mainland by boat. The weekend was extremely busy, but it was equally rewarding! We had a great time collaborating with Suara Pulau and Celebio, and we hope we can collaborate again in the future!
Sore itu kami kembali ke daratan utama dengan kapal. Akhir pekan ini sangat sibuk, tapi juga sangat memuaskan. Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan Suara Pulau dan Celebio, dan kami berharap bisa berkolaborasi lagi di masa depan!

► Watch the video – Tonton videonya: http://youtu.be/cqf7cDFH1Ik
► Watch the students sing the Yaki Youth Camp jingle – Tonton para murid menyanyikan yel-yel Yaki Youth Camp: http://youtu.be/cCtIgkzF8FU

Have a look through the photos from the Weekend. Special thanks to Samuel Mamoto for the contribution!

This slideshow requires JavaScript.

Sosialisasi di Perkemahan Kreatif Remaja GMIM

100_0078Masa liburan sekolah sudah berlalu dan sekarang semua aktivitas kembali normal. Apa saja yang dilakukan team Selamatkan Yaki untuk mengisi liburan sekolah? Seperti biasa team SY selalu sibuk dengan kegiatan penyadartahuan masyarakat dan masih tetap di lokasi target Langowan dan Tomohon. Tapi di liburan sekolah ini, Team “lovely ladies” Selamatkan Yaki juga menghadiri Perkemahan Kreatif Remaja GMIM tingkat sinode, yang diselenggarakan oleh Komisi Remaja Sinode GMIM. Kali ini Perkemahan Kreatif Remaja GMIM dilaksanakan di wilayah Manado Timur, tepatnya di daerah Mapanget. Bukan perkemahan remaja sinode namanya jika pesertanya sedikit; kali ini tercatat lebih dari tiga ribu peserta perkemahan yang datang dari seluruh penjuru Minahasa, Manado dan Bitung. Tidak seperti tahun lalu, di mana team SY sudah tercatat sebagai salah satu pembicara, kali ini, berkat kebaikan panitia pelaksana, kami diberikan kesempatan menyampaikan materi selama 2 jam dan kami sangat bersyukur untuk itu.
100_0082
School holiday has just finished and all activities have returned back to normal. What has the Selamatkan Yaki team been doing during the school holidays? As per usual, we have been busy with awareness raising activities in Langowan and Tomohon. This holiday, however, our “lovely ladies” from Selamatkan Yaki also joined the synodial-level GMIM Teens Creative Camp. This year, camp was held in Mapanget, East Manado. Around three thousand participants from all over Minahasa, Manado and Bitung joined the camp. Despite being unscheduled, the Selamatkan Yaki team was given a two-hour slot for the presentation.

100_0136Presentasi kami kali ini kami buka dengan pertanyaan, “Sudah tahu apa itu Selamatkan Yaki?” Banyak sekali peserta yang menjawab, “Sudaaaaah!” Pertanda yang baik, mengingat beberapa bulan terakhir ini kami sudah berkunjung ke lebih dari 40 SMP dan SMA di Tomohon dan Langowan, sehingga sangat wajar jika banyak dari mereka yang sudah tahu tentang SY. Presentasi berjalan dengan sangat baik, terlebih lagi kali ini beberapa Duta Yaki kami juga merupakan peserta perkemahan remaja ini dan turut membantu menyampaikan materi. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo dan Vanessa Tewuh, serta volunteer junior kami, Zefanya, ikut membantu mengajarkan yel-yel Torang Jaga Yaki pada para peserta dan mencontohkan gerakannya. Yel-yel dinyanyikan dengan semangat dan gembira!
100_0094We opened our presentation with the question, “Do you know about Selamatkan Yaki?” Lots of participants answered, “Yeees!” A good sign, considering the time we spent over the past few months visiting over 40 high schools and junior high schools in Tomohon and Langowan. The presentation went very well, especially since several of our Yaki Ambassadors are also participants in the camp and helped out with the talk. Ivan Welang, Jefry ‘Uje’ Manoppo and Vanesa Tewu, along with our junior volunteer, Zefanya, helped us teach our yaki jingle to the participants and demonstrate the moves. All the participants sang it out loud and had lots of fun!

100_0112Materi presentasi pada perkemahan kali ini sedikit berbeda dengan tahun yang lalu karena kehadiran para Duta serta pemutaran video animasi dan testimonial dari SLANK yang berhasil menarik perhatian peserta perkemahan. Cuaca yang sangat panas serta tenda induk yang agak sempit tidak mengurangi semangat mereka untuk menyimak presentasi yang dibawakan oleh Caroline serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bagus tentang yaki. Peserta semakin antusias ketika waktu quiz tiba. Seperti biasa, setiap pertanyaan yang diajukan mendapat sambutan yang sangat meriah sehingga kami harus memasang mata lebih tajam untuk melihat siapa yang lebih dulu angkat tangan karena banyak sekali yang ingin menjawab. Setelah pertarungan sengit, jawara untuk tahun ini jatuh kepada Maya Kiling dari GMIM Sion Taraitak, Langowan. Tidak heran jika Langowan bisa menjadi juara.
100_0159The presentation for this year’s Teens Camp was slightly different because we had the Ambassadors present and played the yaki animation and SLANK testimony. Even though it was very hot in the main tent, it didn’t burn out the participants’ enthusiasm to listen to Caroline’s presentation and ask several excellent questions about the yaki. Excitement increased when the quiz started. We needed particularly sharp eyes to spot the first hand in the air. After hard competition, this year’s winner is Maya Kiling from GMIM Sion Taraitak, Langowan. No wonder if Langowan could become the winner.

100_0166Perkemahan kali ini sangat luar biasa! Banyak peserta yang bertanya mengapa SY belum datang ke sekolah mereka dan antusias sekali ketika melihat video tentang Yaki Youth Camp yang mudah-mudahan menginspirasi mereka. Sekali lagi, dengan tiga ribuan remaja GMIM, Selamatkan Yaki menaruh harapan agar semakin kokoh fondasi kesadaran generasi muda tentang lingkungan hidup serta pentingnya peran yaki bagi kehidupan masyarakat. Sampai bertemu di perkemahan tahun depan, teman-teman!
100_0081This year’s camp was amazing! Many of the participants asked to us why we haven’t visited their school and were particularly enthusiastic when we showed them the Yaki Youth Camp video. Once again, Selamatkan Yaki team put out our conservation message to the three thousand GMIM teens in hopes of strengthening the foundation of environmental awareness in our young generation, particularly the importance of the yaki for the community. See you at the next Teens Camp!

Response to Yaki “Selfies”

Short Press Release/ Response to Yaki “Selfies” – August 12th, 2014

Selfie copyright? What about the monkeys?

Harry Hilser, Programme Manager, Selamatkan Yaki – North Sulawesi, Indonesia

As conservationists we are concerned that recent media stories featuring Sulawesi crested black macaques fail to highlight the fact that this species is seriously threatened with extinction. These stories may even encourage people to seek close contact with the monkeys, which could have negative consequences for their survival.
Sebagai penggiat konservasi kami prihatin dengan artikel-artikel di media yang menampilkan monyet hitam Sulawesi namun tidak membahas fakta bahwa spesies ini terancam kepunahan. Artikel-artikel ini dapat mendorong masyarakat untuk mendekati para monyet, yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan spesies ini.

As our inboxes swell with a plethora of “monkey selfie” articles, the distinctive black face peering out of the text is none other than the curious and captivating Sulawesi crested black macaque – the focus for our conservation programme, “Selamatkan Yaki” (meaning “Save the Monkeys!” in Indonesian).
Seiring bertambahnya artikel “selfie monyet” yang memenuhi inbox kami, wajah hitam khas yang mengintip dari teks tidak lain adalah monyet hitam Sulawesi yang menarik dan penuh rasa ingin tahu – fokus dari program konservasi kami, “Selamatkan Yaki.”

Our programme, based in North Sulawesi, Indonesia aims to protect the remaining wild populations of these unique monkeys, which dropped by around 80% within 40 years! One of our major objectives is to raise the profile of the species. Through a wide network of supporters and social media channels – at local, national and international levels, we endeavour to inform as many people about their plight as possible. However, it is often the most quirky stories that receive the most attention – the current virality of the monkey selfie is a clear example. We hope that amongst the cacophony of media dialogue around copyright ownership, the context to these images might be heard.
Program kami, berbasis di Sulawesi Utara, Indonesia, bertujuan melindungi sisa populasi liar dari monyet unik ini, yang telah turun hingga 80% dalam 40 tahun! Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan profil spesies ini. Melalui jaringan pendukung dan media sosial yang luas – di tingkat lokal, nasional dan internasional, kami berusaha memberitahu sebanyak mungkin orang mengenai ancaman yang dihadapi para monyet ini. Akan tetapi, biasanya cerita yang tidak lazim yang menerima perhatian paling besar – cerita viral tentang selfie monyet baru-baru ini adalah contoh yang jelas. Kami berharap di antara dengungan dialog media di seputar hak cipta foto ini, konteks pengambilan foto ini pun bisa didengar.

As conservationists, we have the monkeys’ best interests in mind. Ecotourism plays an important role in preserving their remaining forests. However, we would like to discourage people from wishing to visit these monkeys (or any other wildlife) with the desire to get “up close and personal”. This can have many potential negative impacts, such as injury, disease transmission and conflict with local communities through over-confident animals straying into villages. Despite their natural curiosity, we advise all visitors to keep a distance of 5m, as dictated by the Code of Conduct produced by the Indonesian Forestry Department. As for monkey photos…our patron Andrew Walmsley has shown that great shots can be taken at a respectable distance.
Sebagai penggiat konservasi, kami mengupayakan yang terbaik bagi para monyet ini. Ekowisata memainkan peran yang penting dalam melindungi apa yang tersisa dari hutan mereka. Akan tetapi, kami ingin mencegah masyarakat dari mengunjungi para monyet ini hanya untuk berdekatan secara fisik. Kegiatan ini dapat berdampak buruk, misalnya cedera, transmisi penyakit dan konflik dengan masyarakat lokal karena para satwa ini tidak lagi takut untuk mendekati manusia dan masuk ke dalam desa-desa. Meskipun rasa ingin tahu satwa ini besar, kami menyarankan para pengunjung untuk mempertahankan jarak 5m dengan mereka, seperti yang ditetapkan Kode Etik yang dirilis Kementerian Kehutanan Indonesia. Menyangkut foto-foto monyet… pendukung kami Andrew Walmsley telah membuktikan bahwa foto-foto hebat bisa diambil dari jarak yang aman.

With regards to monkeys owning copyright for images, as the Guardian reports…why not? As a Critically Endangered endemic species (found nowhere else!) facing possible extinction, the monkeys and their conservation programmes need all the help they can get. So why not envision the monkeys getting something back, through some form of creative licensing system, where the subjects of films or photographs receive due credit for their appearance in (or actual creation of) said media? This said…we also understand the effort it can take to get good shots (whichever primate does the button clicking!), and feel that if images are obtained ethically, photographers deserve to receive both credit and payment for their labours. The sharing of their work is an incredibly powerful tool to raise awareness from which our programme has already benefitted greatly.
Berbicara soal kepemilikan hak cipta oleh para monyet, seperti yang dilansir dilansir Guardian… kenapa tidak? Sebagai satwa endemik (tidak bisa ditemukan di tempat lain!) yang Sangat Terancam dan memiliki kemungkinan punah, para monyet dan program konservasi mereka membutuhkan bantuan apa saja yang bisa mereka peroleh. Jadi kenapa tidak para monyet ini mendapat kembalian, dalam bentuk sistem lisensi kreatif, di aman subyek film atau foto mendapat penghargaan yang sepantasnya untuk penampilan (atau usaha penciptaan) mereka dalam media tersebut? Kami paham usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh foto yang bagus (tidak peduli primata mana yang menekan tombol shutter!) dan kami rasa jika para fotografer ini memperoleh foto mereka secara etis, mereka pantas mendapat penghargaan dan bayaran untuk usaha mereka. pembagian foto mereka adalah alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran, dan program kami sudah merasakan manfaatnya.

Images can touch the heart strings of many, such as this poignant article, the reader’s responses clearly demonstrating empathy for the mother mourning her dead infant. If you would like to help these forgotten players in this squabble over ownership rights, please visit our website http://www.selamatkanyaki.com and consider donating here, or simply spread the word.
Foto dapat menggerakkan hati banyak orang, seperti yang dibuktikan artikel miris ini, di mana reaksi pembaca menggambarkan empati untuk sang ibu yang menangisi bayinya yang mati. Jika anda ingin membantu para pemeran yang terlupakan dalam perebutan hak cipta, silahkan kunjungi website kami di http://www.selamatkanyaki.com dan pertimbangkan untuk menyumbang di sini, atau sekedar menyebarkan kabar.

Let us hope these images can benefit all: the public, with beautiful images and a greater awareness of these magnificent creatures; the photographer, with publicity and image sales; and the monkeys, with greater acknowledgement and support for their protection, and hope for their future.
Mari kita berharap foto-foto ini bermanfaat bagi semua pihak: masyarakat umum, dengan gambar yang indah dan kesadaran yang semakin meningkat akan satwa luar biasa ini; sang fotografer, dengan publisitas dan penjualan gambar; dan para monyet, dengan pengakuan dan dukungan yang semakin besar untuk perlindungan mereka, dan harapan untuk masa depan mereka.

Stan Informasi Pasar Tomohon | Tomohon Market Information Stand

Melanjutkan stan informasi yang diadakan di Langowan tanggal 5 dan 12 Juli, serta di Tomohon tanggal 26 Juli, pada hari Sabtu di minggu yang lalu tanggal 2 Agustus 2014, Selamatkan Yaki kembali ke Pasar Tomohon untuk mengadakan stan informasi yang kedua dan terakhir untuk daerah Tomohon. Stan informasi ini dijadwalkan pada hari-hari belanja menjelang Pengucapan Minahasa dan Tomohon, saat aktivitas jual-beli di pasar lebih tinggi dari biasanya.

JPG 1100_0225Following the previous information stands in Langowan on July 5th and 12th as well as in Tomohon on July 26th, our team headed out once more last weekend. On Saturday, August 2nd 2014, Selamatkan Yaki went back to the traditional market in Tomohon to set up another information stand there.These information stands were organised to take place on market days preceding the Minahasan and Tomohon Thanksgiving, when market activity is higher than usual.

Yaki, beserta satwa terancam punah lainnya, biasanya termasuk dalam menu makanan Pengucapan daerah Minahasa dan Tomohon, meskipun spesies ini sangat terancam punah. Stan informasi yaki ini merupakan salah satu cara untuk mengedukasi dan meningkatkan penyadartahuan di masyarakat mengenai masalah-masalah seputar yaki, khususnya perburuan ilegal untuk dijadikan bahan konsumsi manusia. Melalui stan informasi ini Selamatkan Yaki bisa menjangkau lebih banyak orang, tidak saja untuk menyampaikan informasi mengenai masalah-masalah tersebut dan meluruskan opini subjektif masyarakat terhadap yaki, tapi juga untuk meyakinkan mereka secara langsung untuk tidak lagi membeli, menyediakan dan mengkonsumsi daging satwa liar, khususnya yaki. Selain itu, kami juga mengajak masyarakat berdiskusi mengenai cara-cara agar masyarakat dapat ikut membantu perlindungan dan konservasi yaki serta habitatnya.

Yaki, along with other endangered animals, can be found on the Minahasan and Tomohon Thanksgiving menu, despite the fact that this particular species is now Critically Endangered. The yaki information stand is one of the ways to educate and raise awareness within the community about issues concerning yaki, especially illegal hunting for consumption. Through these information stands Selamatkan Yaki can reach out to more people to not only inform them of these issues and clarify any subjective opinions about yaki, but to also convince them to abstain from buying, serving and consuming bushmeat, particularly yaki. Other than that, we engage visitors to discuss about how they can help with the protection and conservation of the yaki and their habitat.

JPG 2Kami memulai hari dengan mempersiapkan stan, yang menarik perhatian para penjual dan pembeli yang ada di sekitar kami, sambil juga menarik perhatian sekelompok anak yang sedang lewat. Selalu kalah kalau melawan rasa ingin tahu, apalagi saat ada spanduk besar bergambar dan kertas mewarnai, anak-anak ini mampir dan dengan malu-malu menanyakan apakah mereka bisa mewarnai bersama-sama. Sepanjang kegiatan mewarnai, mereka terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar yaki dan lingkungan kepada tim SY, bahkan juga menyatakan bahwa ketika mereka sampai di rumah nanti, mereka akan mendesak Ayah dan Kakek mereka untuk berhenti memburu dan mengkonsumsi yaki, juga untuk berhenti memelihara yaki. Ada pula 3 sekawan yang dengan semangat meninggalkan stan informasi dengan misi (dan kertas mewarnai mereka): untuk langsung bergerak, mendatangi teman mereka yang memelihara yaki untuk mendesak teman mereka dan keluarganya untuk “stop ba ambe yaki dari utang (stop mengambil yaki dari hutan)”. Sangatlah memuaskan ketika melihat antusiasme anak-anak dalam melindungi lingkungan dan dengan kelompok anak-anak kali ini pun kami merasakannya.

We started our day by setting up shop, which caught the attention of the sellers and buyers around us, all the while catching the attention of a group of children passing by. As always curiosity wins, especially when big banners and colouring sheets are involved, and this group of kids stopped by and shyly asked if they could do some coloring together. Throughout their colouring activities, they kept firing questions about yaki and the environment towards the SY team, even stating that once they get home, they will demand that their fathers and grandfathers stop hunting and consuming yaki, as well as to stop keeping yaki as pets. A group of 3 friends had excitedly left the info stand with a mission (and their colouring sheets): to march over to their friend’s house and demand that she and her family “stop taking yaki from the forest”. It’s always so fulfilling to see how enthusiastic children are when it comes to protecting the environment and it was no different with these kids that day.

Pada akhirnya, para anak-anak ini kecewa saat mengetahui bahwa stan informasi hari itu merupakan stan informasi “terakhir” kami. Namun, seperti yang kami informasikan kepada mereka, stan informasi ini bukanlah yang paling terakhir, karena kami akan kembali lagi dengan jadwal yang baru yang bertepatan dengan acara-acara lainnya yang akan berlangsung di daerah Minahasa dan sekitarnya!

At the end of the day, the children were pretty bummed to learn that this information stand would be our “last” for now. But, as we have informed them, this will not be our last information stand ever, as we plan to come back with a new set of dates & places, in time for other festivities that will be happening around Minahasa!

100_0292

► Tonton video Stan Informasi Pasar Tomohon | Watch the Tomohon Market Information Stand video: http://youtu.be/Agt-7YVtgUA

► Baca tentang stan informasi sebelumnya | read about the previous information stands: Stan Informasi