Response to Yaki “Selfies”

Short Press Release/ Response to Yaki “Selfies” – August 12th, 2014

Selfie copyright? What about the monkeys?

Harry Hilser, Programme Manager, Selamatkan Yaki – North Sulawesi, Indonesia

As conservationists we are concerned that recent media stories featuring Sulawesi crested black macaques fail to highlight the fact that this species is seriously threatened with extinction. These stories may even encourage people to seek close contact with the monkeys, which could have negative consequences for their survival.
Sebagai penggiat konservasi kami prihatin dengan artikel-artikel di media yang menampilkan monyet hitam Sulawesi namun tidak membahas fakta bahwa spesies ini terancam kepunahan. Artikel-artikel ini dapat mendorong masyarakat untuk mendekati para monyet, yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan spesies ini.

As our inboxes swell with a plethora of “monkey selfie” articles, the distinctive black face peering out of the text is none other than the curious and captivating Sulawesi crested black macaque – the focus for our conservation programme, “Selamatkan Yaki” (meaning “Save the Monkeys!” in Indonesian).
Seiring bertambahnya artikel “selfie monyet” yang memenuhi inbox kami, wajah hitam khas yang mengintip dari teks tidak lain adalah monyet hitam Sulawesi yang menarik dan penuh rasa ingin tahu – fokus dari program konservasi kami, “Selamatkan Yaki.”

Our programme, based in North Sulawesi, Indonesia aims to protect the remaining wild populations of these unique monkeys, which dropped by around 80% within 40 years! One of our major objectives is to raise the profile of the species. Through a wide network of supporters and social media channels – at local, national and international levels, we endeavour to inform as many people about their plight as possible. However, it is often the most quirky stories that receive the most attention – the current virality of the monkey selfie is a clear example. We hope that amongst the cacophony of media dialogue around copyright ownership, the context to these images might be heard.
Program kami, berbasis di Sulawesi Utara, Indonesia, bertujuan melindungi sisa populasi liar dari monyet unik ini, yang telah turun hingga 80% dalam 40 tahun! Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan profil spesies ini. Melalui jaringan pendukung dan media sosial yang luas – di tingkat lokal, nasional dan internasional, kami berusaha memberitahu sebanyak mungkin orang mengenai ancaman yang dihadapi para monyet ini. Akan tetapi, biasanya cerita yang tidak lazim yang menerima perhatian paling besar – cerita viral tentang selfie monyet baru-baru ini adalah contoh yang jelas. Kami berharap di antara dengungan dialog media di seputar hak cipta foto ini, konteks pengambilan foto ini pun bisa didengar.

As conservationists, we have the monkeys’ best interests in mind. Ecotourism plays an important role in preserving their remaining forests. However, we would like to discourage people from wishing to visit these monkeys (or any other wildlife) with the desire to get “up close and personal”. This can have many potential negative impacts, such as injury, disease transmission and conflict with local communities through over-confident animals straying into villages. Despite their natural curiosity, we advise all visitors to keep a distance of 5m, as dictated by the Code of Conduct produced by the Indonesian Forestry Department. As for monkey photos…our patron Andrew Walmsley has shown that great shots can be taken at a respectable distance.
Sebagai penggiat konservasi, kami mengupayakan yang terbaik bagi para monyet ini. Ekowisata memainkan peran yang penting dalam melindungi apa yang tersisa dari hutan mereka. Akan tetapi, kami ingin mencegah masyarakat dari mengunjungi para monyet ini hanya untuk berdekatan secara fisik. Kegiatan ini dapat berdampak buruk, misalnya cedera, transmisi penyakit dan konflik dengan masyarakat lokal karena para satwa ini tidak lagi takut untuk mendekati manusia dan masuk ke dalam desa-desa. Meskipun rasa ingin tahu satwa ini besar, kami menyarankan para pengunjung untuk mempertahankan jarak 5m dengan mereka, seperti yang ditetapkan Kode Etik yang dirilis Kementerian Kehutanan Indonesia. Menyangkut foto-foto monyet… pendukung kami Andrew Walmsley telah membuktikan bahwa foto-foto hebat bisa diambil dari jarak yang aman.

With regards to monkeys owning copyright for images, as the Guardian reports…why not? As a Critically Endangered endemic species (found nowhere else!) facing possible extinction, the monkeys and their conservation programmes need all the help they can get. So why not envision the monkeys getting something back, through some form of creative licensing system, where the subjects of films or photographs receive due credit for their appearance in (or actual creation of) said media? This said…we also understand the effort it can take to get good shots (whichever primate does the button clicking!), and feel that if images are obtained ethically, photographers deserve to receive both credit and payment for their labours. The sharing of their work is an incredibly powerful tool to raise awareness from which our programme has already benefitted greatly.
Berbicara soal kepemilikan hak cipta oleh para monyet, seperti yang dilansir dilansir Guardian… kenapa tidak? Sebagai satwa endemik (tidak bisa ditemukan di tempat lain!) yang Sangat Terancam dan memiliki kemungkinan punah, para monyet dan program konservasi mereka membutuhkan bantuan apa saja yang bisa mereka peroleh. Jadi kenapa tidak para monyet ini mendapat kembalian, dalam bentuk sistem lisensi kreatif, di aman subyek film atau foto mendapat penghargaan yang sepantasnya untuk penampilan (atau usaha penciptaan) mereka dalam media tersebut? Kami paham usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh foto yang bagus (tidak peduli primata mana yang menekan tombol shutter!) dan kami rasa jika para fotografer ini memperoleh foto mereka secara etis, mereka pantas mendapat penghargaan dan bayaran untuk usaha mereka. pembagian foto mereka adalah alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran, dan program kami sudah merasakan manfaatnya.

Images can touch the heart strings of many, such as this poignant article, the reader’s responses clearly demonstrating empathy for the mother mourning her dead infant. If you would like to help these forgotten players in this squabble over ownership rights, please visit our website http://www.selamatkanyaki.com and consider donating here, or simply spread the word.
Foto dapat menggerakkan hati banyak orang, seperti yang dibuktikan artikel miris ini, di mana reaksi pembaca menggambarkan empati untuk sang ibu yang menangisi bayinya yang mati. Jika anda ingin membantu para pemeran yang terlupakan dalam perebutan hak cipta, silahkan kunjungi website kami di http://www.selamatkanyaki.com dan pertimbangkan untuk menyumbang di sini, atau sekedar menyebarkan kabar.

Let us hope these images can benefit all: the public, with beautiful images and a greater awareness of these magnificent creatures; the photographer, with publicity and image sales; and the monkeys, with greater acknowledgement and support for their protection, and hope for their future.
Mari kita berharap foto-foto ini bermanfaat bagi semua pihak: masyarakat umum, dengan gambar yang indah dan kesadaran yang semakin meningkat akan satwa luar biasa ini; sang fotografer, dengan publisitas dan penjualan gambar; dan para monyet, dengan pengakuan dan dukungan yang semakin besar untuk perlindungan mereka, dan harapan untuk masa depan mereka.

One thought on “Response to Yaki “Selfies”

  1. Yours is an incredibly worthy cause and couldn’t agree more. For the sake of this beautiful species please keep up the fantastic work you do:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s