New member for Tangkoko Rejuvenation Programme

The Selamatkan Yaki team is getting bigger. Please welcome Vian, our Tangkoko Project Assistant!

Ancaman kerusakan terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati juga pastinya mengancam kehidupan manusia. Manusia bergantung pada lingkungan alami untuk makan, minum sampai obat-obatan. Menjaga dan melestarikan alam sama artinya menjaga kehidupan dan masa depan manusia.

The threats to the environment and biodiversity are threatening human’s life. Humans are depending on the environment for food, drinks, and also medication. By keeping the environment it means that we are keeping our life and also the future. 1

Saya Yoviani HL, biasanya dipanggil Vian. Lulusan Fakultas Pertanian UNSRAT. Aktif dalam kelompok mahasiswa pencinta alam semasa kuliah dan hobi beraktifitas di alam bebas, menjadi latar belakang saya bekerja di bidang konservasi.

My name is Yoviani HL and people call me Vian for short. I graduated from Faculty of Agriculture of Sam Ratulangi University. Have been active in a nature club during studying and 4doing outdoor activity is my hobby became the reasons of why now I work for conservation.

Sebelum bergabung dengan tim Selamatkan Yaki, saya pernah bekerja sebagai konsultan pada program pemberdayaan masyarakat di pedesaan dalam mengembangkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam secara lestari. Saya juga pernah terlibat dalam beberapa kegiatan konservasi, baik marine maupun teresterial.

Before joining the Selamatkan Yaki team, I worked as a consultant for a community empowerment programme in villages in order to develop the potential of human and nature resources in sustainable way. I also joined some conservation activities in marine and also terrestrial.

Aktifitas di alam bebas lain yang saya senangi yaitu fotografi. Fotografi landscape merupakan favorit saya disamping fotografi wildlife.

Another outdoor activities that I love is photography. And landscape photography is one of my favorite alongside wildlife photography.

Danau Tondano - Lake Tondano

Danau Tondano – Lake Tondano

Senang dan merupakan suatu kebangaan bisa bergabung dan menjadi bagian dari tim Selamatkan Yaki. Program konservasi untuk satwa endemik yang unik dengan ciri yang khas dan lucu. Yaki salah satu satwa yang terancam punah yang harus dijaga kelestariannya.

Happy and also proud of joining and be on board with Selamatkan Yaki team. A conservation programme for this unique animal with cute characteristic. Yaki is one of many animal that listed as critically endangered that have to be saved.

Bayi Yaki (Macaca nigra) 

Bayi Yaki (Macaca nigra)

Bagimanapun juga, menghargai keanekaragaman hayati berarti menghargai kehidupan dan masa depan manusia.

However, protecting the biodiversity means appreciating human’s life and future.

Salam lestari!

Our volunteer Joe: Why I decided to join the team…

Dear viewers, say hi to another awesome volunteer: Joseph Lolong! He has a finger in almost all graphic-related pies here in Selamatkan Yaki. Read on to know more about him!
Pembaca yang baik, sapalah satu lagi volunteer keren kami: Joseph Lolong! Dia terlibat dalam hampir semua urusan yang berkaitan dengan desain grafis di Selamatkan Yaki. Lanjutkan membaca untuk mengenalnya lebih jauh!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki's graphic design volunteer!

Say hi to Joe, Selamatkan Yaki’s graphic design volunteer!

Ahoy people of the page! My name is Joe. I work as an all-around designer and am currently staying in Jakarta.
Ahoy pembaca halaman! Nama saya Joe. Saya merupakan seorang designer full-time dan saat ini sedang tinggal di Jakarta. 

I decided to join Selamatkan Yaki on February 2014. That time, my close friend Carol posted info about Selamatkan Yaki on her Facebook timeline. I checked it out, and I found Oriana’s cute yaki illustration. That was the main trigger. I thought the illustration was so cool, I was challenged to make something like that too. Furthermore I asked Carol about the possibility to donate an artwork, and yes you bet, it lead to a small and enthusiastic discussion about Selamatkan Yaki. Shortly, she introduced me to Thirza and I was welcomed to the club!
Saya memutuskan untuk bergabung dengan Selamatkan Yaki pada Februari 2014. Pada waktu itu, sahabatku Carol membuat post mengenai Selamatkan Yaki pada timeline Facebook-nya. Saya membukanya, dan melihat ilustrasi yaki Oriana yang menggemaskan. Itu adalah pemicu utama. Saya merasa ilustrasi itu sangat keren, saya pun tertantang untuk membuat desain seperti itu. Saya bertanya lebih jauh pada Carol mengenai kemungkinan menyumbangkan karya seni, dan seperti yang sudah kamu duga, kami pun berdiskusi mengenai Selamatkan Yaki dengan bersemangat. Tidak lama kemudian, saya dikenalkan pada Thirza dan saya disambut dalam kelompok!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team!

Hi! Meet Yaki! An illustration by illustrator Oriana Chalbaud who inspired Joe to join the Selamatkan Yaki team! | Hi! Saya yaki! Ilustrasi karya Oriana Chalbaud ini menginspirasi Joe untuk bergabung dengan tim Selamatkan Yaki!

As we spoke, Thirza explained to me about the current crisis of the yaki, how this species is now extremely threatened and facing extinction. Of course I was surprised by this fact. As a “half-blood” (Dad is Manadonese, Mom is Padang-Jakartanese), I always feel disturbed when people ask whether I also consume “exotic Manado menus” i.e. bats, rats, and monkeys. The answer would always be no, especially after I found out that one of the main causes of their near-extinction is this eating habit.
Dalam percakapan kami, Thirza menjelaskan mengenai krisis yang dihadapi yaki, bagaimana spesies ini sangat terancam dan menghadapi kepunahan. Tentu saja saya terkejut dengan fakta ini. Sebagai seorang “darah campuran” (ayah Manado, ibu Padang-Jakarta), saya selalu merasa terganggu ketika ditanyai apakah saya juga mengonsumsi “makanan eksotis Manado” mis. paniki, tikus, dan yaki. Jawaban saya selalu tidak, terutama setelah saya mengetahui bahwa salah satu penyebab utama nyaris punahnya spesies ini adalah kebiasaan makan ini.

I think you all wonder what a designer can do to help yaki conservation. Believe it or not, I wondered the same question too. Do not imagine me dressed up like Indiana Jones, wandering the forest and battling with illegal hunters (or piranhas!). Those stuff are for Thirza and friends, but me, yeah, let’s just say geographically I am incapable of doing that. (Cheers mates!)
Saya rasa kalian semua penasaran apa yang bisa dilakukan seorang designer untuk membantu konservasi yaki. Percaya atau tidak, saya juga menanyakan hal yang sama. Jangan membayangkan saya berpakaian seperti Indiana Jones, berkelana melintasi rimba dan berperang melawan pemburu ilegal (atau piranha!). Hal seperti itu adalah bagian Thirza dkk., tapi saya, yah, katakan saja secara geografis saya tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan itu. (Cheers mates!)

However, I understand people use design to communicate (heavy) messages. Conservation is a message and it must be communicated. This is my place in the organisation: to help spread the conservation message, through the best skill I have: designing.
Akan tetapi, saya paham bahwa desain digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan (yang berat). Konservasi adalah sebuah pesan dan perlu dikomunikasikan. Ini adalah bagian saya dalam organisasi: membantu menyebarkan pesan konservasi, melalui skill terbaik saya: desain.

Surprisingly, I was appointed to help developing the first yaki magazine. I felt very honored, considering my “newbie” status on the club.
Saya kaget ketika dipercayakan untuk membantu mengembangkan majalah yaki pertama. Saya merasa sangat tersanjung, terutama karena saya merupakan “pendatang baru” dalam kelompok ini.

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe!

The very first Yaki Magazine! By our master brain: Joe! | Majalah Yaki pertama! Hasil karya master kami: Joe!

I believe lots of people consider “conservation” as a big word that requires big actions too. Well, I should say, even the biggest leap starts with small steps. You would never change anything if you don’t act.
Saya yakin banyak orang menganggap “konservasi” sebagai kata yang besar yang butuh tindakan besar pula. Perlu saya katakan, lompatan terbesar pun dimulai dengan langkah-langkah kecil. Kamu tidak akan mengubah apa-apa jika kamu tidak bertindak.

Yaki is a vital part of the grand treasure of North Sulawesi and Indonesia. Imagine what would you say to your grandchildren when they find yaki pictures in a book of extinct animals and ask you these questions:
“Granddad, what happened to the yaki? They are so very cute and charismatic!”
“Well dearest, they’re extinct!”
“Uh, that’s too bad. Why did they go extinct?”
“Well, we ate them all.”
Yaki adalah bagian penting dari harta karun Sulawesi Utara dan Indonesia. Bayangkan apa yang akan kamu katakan pada cucu-cucumu ketika mereka melihat foto yaki di buku satwa yang sudah punah dan memulai percakapan:
“Opa, apa yang terjadi pada yaki? Mereka sangat lucu dan kharismatik!”
“Mereka sudah punah sayang!”
“Yah, sayang sekali. Mengapa mereka bisa punah?”
“Eh, kami memakan mereka semua.”

We are obliged, especially all Manadonese, pure-bloods or half-bloods, to help conserve the yaki. Our future generations deserve to witness this magnificent species. I know this sounds so dramatic but that’s the truth.
Kita semua wajib, terutama orang-orang Manado, darah-murni maupun darah-campuran, untuk membantu mengkonservasi yaki. Generasi masa depan patut melihat spesies yang gagah ini secara langsung. Saya tahu kata-kata ini agak dramatis tapi ini adalah kenyataan.

Selamatkan Yaki is a very charming and dynamic organisation. It is a nice place with super cool, welcoming talents (we hit national newspaper Kompas and had SLANK as our musical ambassador). All you need to do is sign up. Don’t you worry yet about your part. You will definitely find your place in this organisation. No matter how small you are able to do, or how far you live from the yakis, as long as you have a sincere willingness to help, you will always be welcomed! 🙂
Selamatkan Yaki adalah organisasi yang sangat luwes dan dinamis. Ini adalah tempat yang nyaman dengan bebrapa talenta yang super keren dan ramah (kami berhasil masuk dalam koran nasional Kompas dan bekerja sama dengan SLANK sebagai Duta kami di dunia musik). Yang perlu kamu lakukan hanya menghubungi mereka. Jangan dulu khawatir dengan apa yang bisa kamu lakukan. Kamu pasti akan menemukan tempatmu di organisasi ini. Tidak peduli berapa kecil pun kemampuanmu, atau berapa jauh jarakmu dari para yaki, selama kamu bersedia dan sungguh-sungguh ingin membantu, kamu pasti akan disambut! 🙂

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp! But don't worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon!

The first prints of the Indonesian version of Yaki Magz! All went to the participants of our Yaki Youth Camp. But don’t worry, the online versions (English and Indonesian) will be launched soon! | Cetakan bahasa Indonesia pertama dari Yaki Magz! Semuanya diberikan pada para peserta Yaki Youth Camp. Jangan khawatir, versi online (Inggris dan Indonesia) akan segera tersedia!

Teachers Training Workshop by TCE (PKT)

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Teachers Training Program participants and committees. | Peserta dan panitia Kegiatan Pelatihan Guru

Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) menggelar pelatihan guru selama 3 hari untuk guru-guru dari sekolah yang termasuk dalam program PKT. Dimulai tanggal 28 Agustus di aula SMP Negeri 2 Bitung, rangkaian kegiatan pelatihan yang berlangsung hingga tanggal 30 Agustus dibuka dengan sambutan selamat datang oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project, Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sulut, juga Bapak Sudiyono dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara yang turut menghimbau agar guru-guru lebih giat mengajak para siswa mengunjungi kawasan-kawasan konservasi di Sulawesi Utara. 

Marjudie Menajang from North Sulawesi Education Department welcoming participants and opening the event

Marjudie Menajang from North Sulawesi Provincial Education Department welcoming participants and opening the event. | Bapak Marjudie Menajang dari Dinas Pendidikan Nasional Propinsi SuLut menyambut peserta dan membuka kegiatan.

Tangkoko Conservation Education (TCE) organized a 3-day training program for teachers from schools that are part of the TCE program. Starting on August 28th at the hall of SMP N 2 Bitung, the training kicked off with welcome statements by Stephan Lentey from Macaca nigra Project, Mr. Marjudie Menajang from the North Sulawesi Provincial Education Department, as well as Mr. Sudiyono from the North Sulawesi Office of Conservation of Natural Resources who also encouraged teachers to take their students on trips to visit conservation areas in North Sulawesi more often.

Sesudah sambutan-sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi mengenai Kurikulum 2013 oleh Ibu Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung, serta presentasi program oleh Mathilde Chanvin dari Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT) dan Yunita Siwi dari Selamatkan Yaki (SY). Topik pelajaran di hari pertama mencakup pengetahuan dasar lingkungan, ekosistem serta keragaman hayati, flora dan fauna di Indonesia dan Sulawesi, lebih khususnya yaki. Tim dari PKT yang beranggotakan Mathilde, Nona dan Deity memberikan penjelasan mengenai tiga topik pelajaran pertama, dilanjutkan oleh Caroline untuk menjelaskan lebih dalam tentang yaki.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department explaining about the new 2013 Curriculum, also known as K-13. | Dra. Kenny Mamahit dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Bitung menjelaskan tentang Kurikulum 2013, atau biasa disebut K-13.

The opening remarks were followed by a presentation about the 2013 Curriculum by Dra. Kenny Mamahit from the Bitung Education and Sports Department, as well as program presentations by Mathilde Chanvin from Tangkoko Conservation Education (TCE) and Yunita Siwi from Selamatkan Yaki (SY). Lesson topics for Day 1 consisted of basic environmental knowledge, the ecosystem and biodiversity, floras and faunas of Indonesia and Sulawesi, more particularly yaki. TCE team consisting of Mathilde, Nona and Deity explained about the first three lessons, followed by a more in-depth explanation about yaki by Caroline.

Selain berbagai presentasi dan penjelasan, dibuka juga sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin menayakan hal-hal seputar lingkungan dan konservasi. Dibantu oleh Martha dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST), berbagai pertanyaan dilontarkan oleh peserta yang antusias mencari tahu lebih banyak mengenai alam dan satwa Sulawesi Utara.

Other than various presentations and explanations, there was also a Q&A session for participants who wanted to ask about the environment and conservation. Assisted by Martha from Tasikoki Wildlife Rescue Center, various questions were fired by participants whom were enthusiastic towards knowing more about North Sulawesi nature and wildlife.

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Lessons for Day 1: Basic Environmental Education, Ecosystem & Biodiversity, Floras and Faunas of Indonesia & Sulawesi, and last but not least, Yaki! | Pelajaran Hari ke-1: Pendidikan Dasar Lingkungan, Ekosistem & Keragaman Hayati, Flora dan Fauna di Indonesia & Sulawesi, serta Yaki!

Hari pertama kegiatan pelatihan guru banyak diisi dengan bahan teori, namun peserta tidak terlihat keberatan; mereka terus memperhatikan materi yang diberikan oleh tim penyelenggara dan aktif dalam menyuarakan pendapat maupun pertanyaan. Pada hari kedua dan ketiga pelatihan, para peserta mengunjungi masing-masing Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki dan TWA Tangkoko-Batuputih, di mana mereka dapat mempelajari alam dan satwa Sulawesi Utara secara langsung!

Day 1 of the teachers training program was filled with theoretical materials, but the participants didn’t look burdened by it all; they listened and paid attention to what was given by the committee and stayed active in voicing their opinions and questions. Day 2 and 3 of the training, the participants got to visit Tasikoki Wildlife Rescue Center as well as Tangkoko-Batuputih Nature Recreation Park, respectively, where they got to learn more about North Sulawesi nature and wildlife directly!

Ini adalah langkah pertama yang baik dalam memperkenalkan dasar-dasar pendidikan lingkungan hidup pada para guru. Kami berharap para peserta dapat mengembangkan informasi yang mereka terima dalam program pelatihan ini dan menyertakan pendidikan lingkungan hidup dalam rencana mengajar mereka. Selamat kepada PKT yang telah menyelenggarakan event hebat ini; kami tidak sabar untuk berkolaborasi lagi di masa depan!

This was a great first step in getting teachers acquainted with the basics of environmental education. We hope that the participants will be able to build upon the information they gained during this training program and incorporate environmental education into their lesson plans. Congratulations to TCE for organizing such a wonderful event; we look forward to more collaboration in the future!