Shooting Competition has officially started!

IMG_9814Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU) bekerjasama dengan Selamatkan Yaki kembali mengadakan suatu event yang menarik dan terbilang masih baru di Sulawesi Utara. Dalam rangka menyalurkan hobby menembak dari masyarakat Minahasa dan sekitarnya, maka pada tanggal 16 Agustus 2014 lalu, lomba menembak bertajuk “Pa’dior Shooting Competition” dibuka untuk umum.
Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU – North Sulawesi Institute for Art and Culture Foundation) in collaboration with Selamatkan Yaki has organised yet another interesting and innovative event for North Sulawesi. To accommodate the shooting hobby of Minahasan people, on August 16th 2014 the “Pa’dior Shooting Competition” was opened to the public.

IMG_9834“Menjaring atlit berprestasi yang berkarakter cinta lingkungan” adalah tema yang diangkat dalam kejuaraan ini. Selain berpotensi menghasilkan atlit-atlit berbakat di masa yang akan datang, dengan kejuaraan menembak ini diharapkan juga bisa meningkatkan pengetahuan serta rasa cinta terhadap lingkungan hidup yang ada di Sulawesi Utara ini.
“Gather accomplished, nature-loving athletes” is the general theme of the competition. Apart from producing talented future athletes, this shooting competition is expected to increase knowledge and consideration for the North Sulawesi’s natural wonders.

IMG_9842Untuk kejuaraan kali ini dibuka beberapa kategori, yaitu Air Rifle 10M Kelas Remaja (sampai 16 tahun) dan Kelas Umum, serta kategori Air Rifle Metal Silhouette 20M Kelas Umum. Lomba menembak ini merupakan yang pertama dari serangkaian lomba menembak yang rencananya akan diadakan selama setahun penuh, dimulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi dan ditutup dengan final di Pa’Dior Shooting Club Tompaso. Hasil lomba umumnya dimenangkan oleh atlit-atlit menebak muda Sulawesi Utara.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

Para pemenang hari ini. The winners of the day.

This competition is divided into several categories, which are Air Rifle 10M Teenagers (up to 16 years old) and General, and Air Rifle Metal Silhouette 20M General. This competition is the first of a series of shooting competitions spaced out over an entire year, starting from district-level up to province-level competitions, ending with the finals in Pa’Dior Shooting Club Tompaso. The General category was won by young shooting athletes of North Sulawesi.

IMG_9887

Beberapa penggiat menembak yang masih belia. Some of the younger shooting enthusiasts.

Lomba pembukaan ini berlangsung selama 1 hari dan dilaksanakan di kompleks YISBSU, Jl. Pinabetengan, kecamatan Tompaso. Lomba ini dirangkaikan dengan pembukaan Pa’dior Shooting Club dan peresmian Lapangan Tembak Indoor. Kejuaraan menembak ini bukan semata-mata suatu kegiatan kompetisi biasa. Selain kejuaraan ini terbilang baru karena dilaksanakan oleh organisasi masyarakat,  namun juga dengan kejuaraan ini diharapkan bisa merangkul para pecinta menembak dan masyarakat yang  punya hobby berburu, bukan hanya sekedar menyalurkan hobinya tetapi juga memperoleh edukasi tentang kekayaan alam Indonesia dan sebagai pemburu yang mampu melestarikan kekayaan alam ini, khususnya di Sulawesi Utara maka  “Berburu untuk masa depan” adalah salah satu moto yang di angkat juga dalam acara ini serta Torang bangga nyanda batembak satwa dilindungi”. Kegiatan ini merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk bangga akan potensi alam Indonesia khususnya satwa khas Sulawesi Utara. Hobi masyarakat tetap dijalankan, tapi perlindungan satwa pun lebih diperhatikan sehingga keharmonisan hidup antara sesama makhluk ciptaan Tuhan juga tetap terjaga dan bisa terhindar dari bencana alam.

IMG_9894

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

Di antara banner-banner kami, banner SLANK menarik banyak perhatian. Among our other banners, the SLANK banner attracted a lot of attention.

This opening competition was held for a day at YISBSU, Jl. Pinabetengan, district of Tompaso. This opening competition is part of the launching of Pa’Dior Shooting Club and the opening of the Indoor Shooting Range. This competition is no ordinary event. Not only is it a relatively new sport, organized by a community organization, it is also expected to unite shooting enthusiasts and hunters within a community. These hunters will have the chance, not only to pursue their hobby, but also to be educated on the riches of Indonesia’s nature and motivated to be hunters who are able to protect the natural riches of North Sulawesi. For that reason, “Hunting for the future” and “We are proud of not shooting protected wildlife” were set as two minor themes of the event. This activity is an appeal to everyone in North Sulawesi to be proud of Indonesia and North Sulawesi’s nature. Hobbies need not be neglected, but wildlife protection should also have its share of attention so harmony may be maintained and environmental emergencies may be avoided.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Tim kami bersama (ki-ka) Pak Hendrieks dari BKSDA, Pak Sudiyono, kepala BKSDA, Pak Benny, kepala YISBSU, dan Pak Mike, ketua Yayasan KOMPAK. Our team with (L-R) Pak Hendrieks of BKSDA, Pak Sudiyono, head of BKSDA, Pak Benny, head of YISBSU, and Pak Mike, head of KOMPAK Foundation.

Lanjutan dari serial kejuaraan menembak ini diadakan di  eks PT. Hijau, Ratahan, kec. Tombatu pada hari Sabtu tanggal 13 September 2014. Kali ini ada empat kategori yang dipertandingkan: Air Rifle 10M Kelas Remaja dan Kelas Umum, Air Rifle 10M Masyarakat Minteng, dan Air Rifle Metal Shilouette 30M. Perjalanan yang jauh tidak menyurutkan semangat tim Selamatkan Yaki untuk mendukung acara ini! Dalam acara ini dilantik pengurus cabang Minahasa Tenggara Perbakin yang dipimpin langsung oleh Ketua Perbakin Sulawesi Utara, bapak Drs. Sutoyo, M.Hum. Tim Selamatkan Yaki memperoleh kesempatan untuk menyam-paikan sosialisasi kepada pengurus Pengcab Perbakin Minahasa Tenggara dan masyarakat. Tanggapan masyarakat baik dan melalui kejuaraan ini, peningkatan kesadaran Kampanye Kebanggaan Yaki semakin luas.

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

Kompetisi ke-dua di Ratahan, Tombatu, tanggal 13 September 2014 | Second competition held in Ratahan, Tombatu, 13 September 2014

The next series of this shooting competition was held in the old factory of PT. Hijau, Ratahan, district of Tombatu, on Saturday, September 13th 2014. This time there were four categories: Air Rifle 10M Teenagers and General, Air Rifle 10M People of Southeast Minahasa and Air Rifle Metal Silhouette 30M General. The long trip to the location didn’t dampen the Selamatkan Yaki team’s spirit! In this event, the board for the Southeast Minahasa branch of Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia – Indonesian Association for Shooting) was appointed directly by the Chairman of North Sulawesi Perbakin Board, Drs. Sutoyo, M.Hum. The Selamatkan Yaki team got to give a presentation to the newly appointed board and the general public. People responded well and through this competition, awareness raising through our Yaki Pride Campaign spread even further.

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

Spanduk kami yang berisikan beberapa jenis satwa liar Sulawesi Utara yang dilindungi, serta hukum yang melindungi satwa tersebut | Our banner consisting of some of the protected wildlife in North Sulawesi, including the law that protects them

►Tonton video dari Ratahan, Tombatu | Watch the video from Ratahan, Tombatu: http://youtu.be/eS99LSty9YE

Selamatkan Yaki merasa bangga bisa turut mendukung acara ini dan kami berharap dapat terus berkolaborasi dengan Perbakin serta masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan kerja sama kita bisa, dengan kerjasama yaki bisa dilindungi dan lestari. Kejuaraan selanjutnya direncanakan di Ratatotok. Sampai bertemu di Ratatotok!
Selamatkan Yaki is proud to support this event and we hope we can continue to collaborate with Perbakin and the community for awareness raising. Through collaboration we can reach our goals, through collaboration the yaki can be protected. The next leg of the competition is planned for Ratatotok. We’ll see you at Ratatotok!

This slideshow requires JavaScript.

 

Running a Marathon for the Yaki! | Lari Maraton Demi Yaki!

“Deciding who to run for was easy. The yaki are such a beautiful species yet it’s hard to believe that 90% of their population has vanished. After working with these guys and hearing about the work Selamatkan Yaki is doing to save them and their environment, it was an easy choice; it was time to help save the yaki,” says Lauren.
Memutuskan berlari untuk siapa, itu mudah. Yaki adalah spesies yang istimewa namun sulit dipercaya bahwa 90% dari populasi mereka telah lenyap. Setelah bekerja dengan Yaki dan mendengar tentang apa yang Selamatkan Yaki lakukan untuk menyelamatkan mereka serta lingkungan mereka, merupakan pilihan yang mudah; sudah waktunya untuk membantu menyelamatkan yaki,” kata Lauren.

10717598_739186452814337_241619892_n

The attention from the worldwide community towards wildlife in North Sulawesi has no end. On Sunday, September 28th 2014, two English girls—a zoo worker and a zoo volunteer at one of the zoos in England—took part in a fundraising event for the endemic wildlife, yaki (Sulawesi crested black macaque), conservation activities in North Sulawesi, by running a marathon.
Perhatian terhadap satwa liar Sulawesi Utara tak ada habis-habisnya dari masyarakat dunia. Pada Minggu  28 September 2014 lalu, 2 orang gadis Inggris—pekerja kebun binatang dan sukarelawan di salah satu kebun binatang Inggris—mengadakan aksi pengumpulan dana untuk kegiatan pelestarian satwa endemik Sulawesi Utara; Yaki (Monyet Hitam Sulawesi) dengan cara lari maraton.

These two beautiful Yaki Ambassadors from England, Lauren Amos and Jennifer Dixon, did the Tonbridge Half Marathon which is held every year by West Ken College and United Kingdom Athletic, joined by English communities with the purpose to fundraise for humanitarian causes, social institutions, as well as environmental causes. Events like this are often held in Europe to bring together people who enjoy giving back to the community through running a marathon. The help offered by these girls is very imperative to wildlife conservation activities in North Sulawesi.
Dua Duta Yaki cantik asal Inggris ini, Lauren Amos dan Jennifer Dixon, mengikuti acara Tonbridge Half Marathon yang  diselenggarakan setiap  tahun oleh West Ken College dan United Kingdom Athletic, diikuti oleh masyarakat Inggris dengan tujuan untuk menggalang dana bagi kegiatan kemanusiaan dan lembaga sosial serta kegiatan lingkungan. Acara seperti ini banyak  dilaksanakan di Eropa untuk merangkul orang-orang yang senang beramal melalui lari marathon. Bantuan yang diberikan oleh kedua gadis ini sangat berarti bagi kegiatan pelestarian satwa Yaki di Sulawesi utara ini.

marathon

Lauren and Jennifer were able to finish the Tonbridge Half Marathon within 2 hours and 15 minutes, with a distance of approximately 11.5 miles (19 km) and had to walk for about 2.4 km. “Half-a-marathon doesn’t sound like much, but to us it was. I’ve never run more than 5 miles (8 km), so to run the 13 miles (20 km) felt like a real achievement,” Lauren states.
Lauren and Jennifer mampu menyelesaikan Tonbridge Half Marathon dalam waktu 2 jam 15 menit, menempuh jarak sekitar 11.5 mil (19 km) dan harus berjalan sekitar 2,4 km. “Setengah maraton memang tidak kedengaran jauh, tapi untuk kami jauh. Saya belum pernah lari lebih dari 5 mil (8 km), sehingga lari 13 mil (20 km) adalah benar-benar sebuah pencapaian,” kata Lauren.

Looking back to a few days ago when BKSDA and its officers caught two people from Tomohon who massacred a group of monkeys in the Bolsel region, the efforts of these two Yaki Ambassadors are once again something that the people of North Sulawesi should reflect on; to be more concerned and proud of having this unique wildlife, that is currently Critically Endangered and protected by national law (UU No.5, 1990).
Melihat ke beberapa hari lalu di mana BKSDA serta aparatnya menangkap 2 orang asal Tomohon yang membantai sekelompok monyet di daerah Bolsel, maka adalah suatu perenungan bagi masyarakat Sulawesi Utara untuk kembali mencontoh kegiatan dari Duta Yaki pekerja kebun binatang di Inggris ini untuk lebih peduli dan bangga memiliki satwa khas Sulawesi Utara ini yang statusnya Sangat Terancam Punah serta dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990.

In general, the role of the government, assisted by environmental non-profits working to preserve the environment, will not succeed without the active participation and awareness of the community. The key to all activities done by both the government and NGOs is in the hands of the community. As residents of North Sulawesi, we ought to be more conscious, concerned and proud in preserving the environment, especially yaki because yaki only exist here, nowhere else in the world. If not us, who? If not now, when? We protect the yaki because we care. We should not be any less enthusiastic about protecting the environment than these two girls.
Peran pemerintah yang dibantu oleh lembaga non profit lingkungan untuk pelestarian lingkungan hidup pada umumnya tidak akan berhasil tanpa peran aktif serta kesadaran masyarakat. Semua kegiatan baik oleh pemerintah dan NGO kuncinya adalah di tangan masyarakat. Sebagai Masyarakat Sulawesi Utara sudah selayaknya kita lebih sadar, peduli dan bangga melestarikan lingkungan terlebih satwa Yaki, karena Yaki cuma ada pa torang di sini, nyanda ada di tempat lain  di dunia ini. Jika bukan kita siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Torang jaga Yaki karena torang peduli. Kita tidak boleh kalah semangat dengan 2 gadis ini dalam melestarikan lingkungan.

10354736_910806148949167_5329412529518958648_nLauren feels that even though it was tough, “that is how it was supposed to be; it had to be, in order to get enough sponsors to help make a difference. Crossing the finish line never felt so good.” Her team mate Jennifer adds, “It was really rewarding when I crossed the finish line and the whole time thinking about what an amazing project I was doing it for kept me going! I’m really glad I took part in it and I’ll train a lot more before next year’s one!”
Lauren merasa bahwa meskipun berat, “begitulah adanya; harus seberat itu agar kami bisa mendapat sponsor yang cukup untuk bisa membantu membawa perubahan. Melewati garis finish belum pernah terasa senikmat itu.” Jennifer, rekan setimnya, menambahkan, “Sangat terbalaskan ketika saya melewati garis finish dan sepanjang waktu memikirkan tentang betapa luar biasa proyek yang sedang saya lakukan yang terus mendorong saya! Benar-benar bahagia bisa mengambil bagian di dalamnya dan saya akan terus berlatih lebih banyak sebelum marathon tahun depan!”

These inspiring ladies originally targeted to raise £200 (± Rp 3,800,000) for Selamatkan Yaki but ultimately managed to raise a marvelous total of £486.50 (± Rp 9,300,000)! Massive thanks, Lauren & Jennifer! Keep up the good fight and together we will save the yaki!
Para wanita inspiratif ini awalnya menargetkan £200 (± Rp 3,800,000) untuk Selamatkan Yaki tetapi akhirnya berhasil menggalang dana sejumlah £486.50 (± Rp 9,300,000)! Terima kasih banyak, Lauren & Jennifer! Terus berjuang dan bersama kita bisa selamatkan yaki!