A Day of Arts & Crafts

Guess who spent last weekend playing with old newspaper, cardboard boxes, plastic bottles and…paper mâché?? SY team Caroline, Prisi, Riri and our Yaki Ambassador Angel went out on Saturday morning armed with glue, scissors and just whole lot of recycled stuff, ready for a day of arts & crafts!
Coba tebak siapa yang menghabiskan akhir pekan yang lalu bermain dengan koran bekas, kardus, botol plastik dan…adonan kertas?? Tim SY Caroline, Prisi, Riri dan Duta Yaki kami Angel berangkat hari Sabtu pagi lengkap dengan lem, gunting dan begitu banyak bahan daur ulang, siap untuk ber-KTK seharian!

Prisi, Riri, Angel & Caroline are very artistic beings ;) | Prisi, Riri, Angel & Caroline adalah manusia-manusia yang sangat artistik ;)

Prisi, Riri, Angel & Caroline are very artistic beings😉 | Prisi, Riri, Angel & Caroline adalah manusia-manusia yang sangat artistik😉

The aim of having this day out was to sit together and create something out of recycled materials to contribute to the Yaki Exhibition that has been going on at Pa’Dior, Tompaso. So, with that in mind (and a dozen of old newspaper and loads of plastic bags & bottles at the back of the car), we made our way to Tomohon where we met up with Angel, then continued to Bukit Doa Mahawu, Tomohon, to let our inner artists out of their cages. Once arriving at Bukit Doa, we went straight to…buy snacks, actually, then sat down under a tree to…consume our snacks, obviously. Like any other creative being, we snacked and brainstormed about what we should make out of the recycled materials that we had collected beforehand, seeing as we had too much material and not enough manpower; we had originally expected more Yaki Ambassadors to join us, but alas, Angel was the only one who made it.
Tujuan dari hari jalan-jalan ini adalah untuk duduk bersama dan menciptakan sesuatu menggunakan bahan daur ulang untuk dikontribusikan kepada Pameran Yaki yang sedang berlangsung di Pa’Dior, Tompaso. Jadi, dengan tujuan tersebut di pikiran (dan selusin koran bekas dan begitu banyak tas & botol plastik di belakang mobil), kami pun berangkat ke Tomohon, di mana kami bertemu dengan Angel, kemudian lanjut ke Bukit Doa Mahawu, Tomohon, untuk melepaskan jiwa artistik kami dari kurungannya. Begitu sampai di Bukit Doa, kami langsung…beli cemilan, sebenarnya, lalu duduk di bawah pohon untuk…memakan cemilan kami, tentunya. Seperti makhluk kreatif lainnya, kami ngemil sambil memikirkan tentang apa yang bisa kami buat dari bahan-bahan daur ulang yang telah kami kumpulkan sebelumnya, karena kami punya terlalu banyak bahan tapi kekurangan orang; awalnya kami berharap ada beberapa lagi Duta Yaki yang bisa ikut, tapi akhirnya hanya Angel yang berhasil datang.

Undeterred, we continued our brainstorm until finally deciding to make some yaki-related items and have our go at paper mâché! It’s been a while since any of us created any form of paper-mâché-based craft (try elementary school!), so it seemed like a great way to get back in touch with it. We decided to make a yaki mask along with a yaki hand as well as a human hand, to demonstrate the similarities between humans and yaki. Decision made and snacks finished, we then relocated to a more secluded spot with lots of trees and a nice flow of breeze.

Angel, one of our Yaki Ambassadors, apparently enjoys playing with balloons in her spare time. | Angel, salah satu Duta Yaki kami, ternyata senang bermain balon di waktu senggangnya.

Angel, one of our Yaki Ambassadors, apparently enjoys playing with balloons in her spare time. | Angel, salah satu Duta Yaki kami, ternyata senang bermain balon di waktu senggangnya.

We started the first steps of our paper mâché craft; tearing up old newspaper, mixing glue with water and blowing up the balloon we brought along to supposedly use as base, but then it kept popping and there was even this one time where it popped while Riri was covering the balloon with paper mâché paste, therefore sending paste flying all over herself (which you can see on the video through the link provided at the bottom), so we finally gave up on it. Caroline had a “fun” time blowing up balloons and trying to keep it from popping, while Prisi tried not to hyperventilate over the prospect of balloons popping every 2 minutes.
Tidak terpengaruh, kami lanjut brainstorm sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuat sesuatu yang berhubungan dengan yaki dan mencoba membuatnya dari adonan kertas! Sudah lumayan lama sejak kami terakhir membuat prakarya menggunakan adonan kertas (sepertinya waktu masih SD!), jadi ini merupakan cara yang bagus untuk kembali mempraktekkannya. Kami memutuskan untuk membuat topeng yaki disertai tangan yaki dan tangan manusia, untuk menunjukkan kemiripan manusia dan yaki. Keputusan sudah ada dan cemilan sudah habis, kami kemudian berpindah ke tempat yang lebih tersembunyi dengan banyak pohon dan angin sepoi-sepoi.

Caroline makes the balloons, Riri pops em. | Caroline meniup balon, Riri meletuskannya.

Caroline makes the balloons, Riri pops em. | Caroline meniup balon, Riri meletuskannya.

Kami memulai tahap awal prakarya kami; menyobek koran bekas, mencampur lem dengan air dan meniup balon untuk dijadikan dasar prakarya, tapi balonnya terus meletus, bahkan ada saat dimana balon meletus saat Riri tengah menyebarkan lem di permukaan balon, mengakibatkan lem terbang melayang ke tubuhnya (bisa dilihat di video kami melalui link yang tersedia di bawah), jadi akhirnya kami menyerah. Caroline “kesenangan” meniup balon dan berusaha agar balon tidak meletus, sementara Prisi berusaha untuk tidak sesak nafas menunggu balon meletus tiap 2 menit.

Then it rained. Cue girls scrambling to collect everything and run for shelter.
Kemudian hujan. Cewek-cewek ini pun kelabakan mengumpulkan semuanya dan lari mencari tempat berteduh.

We relocated, yet again, this time to one of the  little restaurants available in the park and set up shop at the back part of the restaurant, near the trees and away from civilization. Never ones to back down, we picked up where we left off and started to form our yaki mask and hand. A couple of hours, sticky hands and lots of glue later, we had a yaki face, yaki hand and a human hand covered in paper mâché!

Our makeshift studio at the back of the restaurant. | Studio sementara kami di bagian belakan restoran.

Our makeshift studio at the back of the restaurant. | Studio sementara kami di bagian belakan restoran.

Kami pindah tempat lagi, kali ini ke salah satu restoran yang ada di dalam area taman dan membuat markas di bagian belakan restoran, dekat pepohonan dan jauh dari peradaban. Tidak kenal kata mundur, kami lanjut dan mulai membentuk topeng dan tangan yaki. Beberapa jam, tangan lengket dan banyak lem kemudian, kami memiliki wajah yaki, tangan yaki dan tangan manusia yang telah dibungkus adonan kertas!

Since we needed to let our craft dry and harden, we decided to call it a day. It may not be perfectly sculptured, but it’s something. We’re looking forward to having another day of arts & crafts to finish up what we started, once we find the chance. We hope to have more people join us and could perhaps try to make new things?
Karena kami harus membiarkan prakarya kami kering dan mengeras, kami memutuskan untuk berhenti bekerja. Memang tidak terbentuk dengan sempurna, tapi inilah hasil kami. Kami berharap bisa mengadakan satu hari untuk prakarya lagi untuk menyelesaikan apa yang kami mulai, saat mendapat kesempatan. Kami harap ada lagi yang mau bergabung dengan kami dan mungkin kita bisa coba membuat hal yang baru lainnya?

Watch the video | Tonton videonya: http://youtu.be/4QJm92nN0gw

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s