Surveying Airmadidi and Bitung

DSC_0144

Training in survey methods at the Selamatkan Yaki office in Manado.

Hello readers, Caroline speaking! After over month of surveys, I’m back with a fresh update on the happenings in Selamatkan Yaki’s Education Department. Currently we’re in the process of wrapping up EARS Year 1 in Langowan and Tomohon, but already we’re gearing up for EARS Year 2, this time in the district of Airmadidi and the city of Bitung. Unlike Langowan and Tomohon, both areas are in close proximity to North Sulawesi’s main biodiversity stronghold, Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, and thus have been exposed to some degree of awareness raising by various conservation organizations. Also unlike quiet Langowan and Tomohon, both Airmadidi and Bitung host high levels of trade activities. Bitung is a bustling port city in North Sulawesi, an important harbor that connects Indonesia with other nations around the Pacific, while Airmadidi is the center point that directly connects Minahasa and Manado to Bitung. Both areas are important hubs for all sorts of trade activities in North Sulawesi – including illegal wildlife and bushmeat trade. Close proximity to conservation areas, previous exposure to conservation activities, a markedly different lifestyle – this is going to be an interesting EARS Year 2!

Hallo pembaca, ini Caroline! Setelah beberapa bulan survey, saya kembali dengan update terbaru dari apa yang sedang dilakukan Bagian Pendidikan Selamatkan Yaki. Saat ini, kami sedang dalam proses merampungkan kegiatan EARS tahun pertama di Langowan dan Tomohon, namun sudah bersiap untuk tahun kedua, yang saat ini di daerah Airmadidi dan Kota Bitung. Berbeda dengan Langowan dan Tomohon, kedua area ini merupakan tuan rumah dengan tingkat perdagangan yang tinggi untuk kegiatan perdagangan. Bitung adalah kota pelabuhan yang ramai di Sulawesi Utara, sebuah pelabuhan penting yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara lain di seluruh Pasifik, sementara Airmadidi adalah titik pusat yang secara langsung menghubungkan Minahasa dan Manado ke Bitung. Kedua daerah ini penting untuk segala macam kegiatan perdagangan di Sulawesi Utara – termasuk perdagangan satwa liar dan dagingnya. Dekat dengan kawasan konservasi, telah mendapatkan paparan kegiatan konservasi sebelumnya, gaya hidup yang sangat berbeda – ini akan menjadi menarik EARS Tahun kedua!

DSC_0305

Preparing for survey in Bitung Tengah

Before we get anywhere with EARS activities, we need an objective picture of the community that we’re going to approach. Hence, the survey! Survey results will be the baseline for our EARS Year 2 activities in Airmadidi and Bitung and the comparison to measure the results of our campaign. Our survey team is now 8 people strong (including
Yunita and myself) and has been on the road since early October. We’re about to start our 7th week of surveys and after interviewing over 700 respondents between us, we have plenty of stories to tell!

Sebelum kami melanjutkan dengan kegiatan EARS, kami membutuhkan gambaran yang objektif dari masyarakat yang akan kami dekati. Karena itu, survey! Hasil dari survey akan menjadi dasar dari kegiatan EARS tahun ke dua di Airmadidi dan Bitung serta perbandingan untuk mengukur hasil dari kampanye kami. Tim survey kami saat ini ada delapan orang yang kuat (termasuk Yunita dan saya sendiri) yang sudah berjalan sejak awal Oktober. Saat ini kami segera memulai survey minggu ke 7 dan setelah mewawancarai lebih dari tujuh ratus responden, kami memiliki banyak sekali hal untuk diceritakan.

We kicked off the survey with Airmadidi and interviewed respondents in Airmadidi Atas, Airmadidi Bawah, Sarongsong 2 and Sampiri. These sub-districts were enormous, and looking for respondents involved a lot of walking! Each surveyor was allocated a certain number of respondents a day. Sometimes we were allotted respondents in different neighborhoods, and thanks to recent changes, consecutive neighborhoods may actually be situated on opposite ends of the sub-district. The majority of respondents are blue- and white-collar workers with minimum exposure to the “environment,” though some showed concern for environmental issues.

This yaki information banner is handed to each head of the village and head of the district (camat) in our survey areas

This yaki information banner is handed to each head of the village and head of the district (camat) in our survey areas

Kami memulai survey dengan Airmadidi dan mewawancarai responden di Airmadidi Atas, Airmadidi Bawah, Sarongsong 2 dan Sampiri. Kecamatan-kecamatan ini sangat besar, dan mencari responden memerlukan banyak berjalan kaki! Setiap surveyor diberi jatah responden di lingkungan yang berbeda-beda, dan terima kasih pada perubahan baru-baru ini, lingkungan yang berurutan bisa terletak pada akhir yang berlawanan dari kecamatan. Responden mayoritas pekerja dengan pekerja kantoran maupun wiraswasta dengan minimnya paparan tentang lingkungan, namun beberapa menunjukkan kepedulian tentang isu-isu lingkungan.

Bitung, on the other hand, was quite a different situation. The neighborhoods were very dense, the maze of side-streets was complicated, and the community also housed mostly blue- and white-collar workers. The people here, however, were much more aware of the environment, with Tangkoko-Duasudara Nature Reserve and Aertembaga Park virtually around the corner. The general location of our survey spots is also more diverse – aside from the busy downtown sub-districts, we will also be visiting villages that directly border Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, with a lifestyle that resembles our EARS Year 1 areas much more closely than the other spots of our EARS Year 2 survey. Another interesting village in Bitung that we’ve already surveyed is located on the island of Lembeh, a 10-minute ferry ride away from Bitung. It is popular belief that yaki populations on Lembeh have gone extinct. However, we heard differently… But only the results can tell for sure, so stay tuned for future updates!

Surveyors Ance and Donny - this calendar will be handed out to each of our 1135 respondents!

Surveyors Ance and Donny – this calendar will be handed out to each of our 1135 respondents!

Bitung, di sisi lain, memiliki situasi yang berbeda. Lingkungannya sangat padat, lorong-lorong jalan sangat membingungkan, dan masyarakat juga kebanyakan pekerja kantoran atau wiraswasta. Orang-orang di sini, bagaimanapun juga lebih sadar akan lingkungan, dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara dan Taman Aertembaga yang terlihat di sekitar. Titik-titik lokasi survey kami umumnya lebih bervariasi-disamping pusat kota yang sangat sibuk, kami juga akan mengunjungi kelurahan-kelurahan yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, dengan gaya hidup yang menyerupai area di EARS tahun pertama yang lebih mirip dibandingkan titik-titik lainnya. daerah menarik lain yang sudah kami survey terletak di Pulau Lembeh, sekitar sepuluh menit menyebrang dengan kapal ferry dari Bitung. Ada kepercayaan umum bahwa populasi yaki di Lembeh telah hilang. Namun, kami mendengar sebaliknya… Namun hanya hasil yang dapat menyebutkan dengan tepat, maka tetap ikuti pembaharuan kami di masa yang akan datang!We have three more sub-districts to survey, and just over 300 respondents to interview – it’s time for me to dive back into surveys!

Time for a group picture in stunning surroundings!

Meet our survey team! Caroline, Thirza, Linda, Yunita, Ruth, Ance, Donny, Yata and Idrus!

Kami masih punya tiga kecamatan untuk disurvey, dan hanya lebih dari 300 responden untuk diwawancarai – sudah saatnya saya menyelam kembali ke survey!

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s