Why we need to protect our Minahasan treasure, the yaki (Macaca nigra)

What to do when you see yaki being kept as pets

What to do when you see yaki being kept as pets

Christmas is filled with the joy of family gatherings to celebrate while enjoying various food. Like humans, the Yaki (Macaca nigra) live in social groups and need their family and friends to survive. The Yaki is a special monkey as they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world!

The Yaki plays an important role in people’s lives. Why? The Yaki eat up to 145 different species of fruit and plants and spread these seeds widely throughout the forests which allows new trees to grow. The Yaki keep the forests healthy and the forests keep humans healthy by providing fresh water, oxygen, food and other natural resources. The forest also protects the people against natural disasters such as floods and landslides. 

Unfortunately the Yaki experienced a population decline of more than 80% in the last 40 years and therefore have been given the status of Critically Endangered by the IUCN (International Union for Conservation of Nature). The major threats to the Yaki population are hunting and habitat loss. As the human population grows, people need more space to build their homes and land to grow food. When cutting trees to create more space for people, the homes of the Yaki (the forests) become smaller and smaller. The Yaki cannot find enough food in the forests anymore and therefore come to the farmers’ land to fill their empty stomachs.

The Yaki is protected by national law. UU No. 5 Tahun 1990 states that it is forbidden to capture, keep, hunt, sell, and transport Yaki (Macaca nigra), which applies to the skin or body, in part of whole, live or dead. The penalty for breaking this law is 5 years of imprisonment and a fine of 100 Million Rupiah.

Part of the reason why the Yaki has the Critically Endangered status is lack of effective law enforcement. People hunt and trade endangered wildlife with almost no consequences – at least up to now. We hope this will change and work closely together with the authorities to protect the remaining Yaki in the wild.

We will finish this Christmas consideration with asking you one more question: If there are more than 1 million Minahasan people in North Sulawesi and there are 5.000 Yaki left in the wild – how many Minahasan families can eat Yaki this Christmas before the species is extinct?

How can you help? Spread the word to friends and family about the Yaki and our plight to protect them! Politely refuse dishes with meat from endangered animals such as the Yaki. Send us a message on Facebook or email info@selamatkanyaki.com and we will send you our Yaki Information Banner that you can print and spread around your village! Help us spread the message about the importance of wildlife such as the Yaki, for a better future for the people of North Sulawesi and a life in harmony alongside Minahasa’s unique wildlife!

What to do when you see yaki trade in the market

What to do when you see yaki trade in the market

This article was written by Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator at Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki is a conservation program that aims to protect the remaining population of Yaki (Macaca nigra) in the wild. 

Mengapa kita perlu melindungi harta Minahasa kita, yaki (Macaca nigra)

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Natal dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati beragam makanan. Seperti manusia, yaki (Macaca nigra) juga tinggal dalam kelompok sosial dan membutuhkan keluarga dan teman untuk bertahan hidup. Yaki adalah monyet istimewa karena mereka hanya hidup secara liar di Sulawesi Utara dan tidak di tempat lain di dunia!

Yaki memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Mengapa? Yaki memakan hingga 145 jenis buah-buahan tumbuhan hutan yang berbeda dan menyebarkan biji-bijinya di seluruh hutan agar bisa bertumbuh menjadi pohon baru. Yaki menjaga hutan tetap sehat dan hutan menjaga manusia agar tetap sehat dengan menyediakan air, udara, makanan, dan sumber daya lain. Hutan juga menjaga manusia dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Sayangnya, yaki mengalami penurunan populasi sebesar lebih dari  80% dalam 40 tahun terakhir dan oleh karena itu mereka mendapat status Sangat Terancam oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ancaman utama terhadap populasi yaki adalah perburuan dan perusakan habitat. Seiring pertumbuhan penduduk, manusia membutuhkan semakin banyak ruang untuk membangun pemukiman dan lahan pertanian. Ketika mereka memotong pohon untuk menciptakan ruang bagi manusia, rumah yaki (hutan) semakin lama semakin kecil. Yaki tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup di hutan sehingga mereka terpaksa mencari makan di lahan pertanian untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Yaki dilindungi hukum negara. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 dinyatakan dengan jelas bahwa dilarang menangkap, memelihara, memburu, dan memindahkan yaki (Macaca nigra), yang berlaku pada kulit maupun tubuhnya, baik utuh maupun sebagian, baik hidup maupun mati. Hukuman bagi pelanggar undang-undang ini adalah 5 tahun penjara dan denda 100 juta Rupiah.

Salah satu alasan yaki memiliki status Sangat Terancam adalah kurang efektifnya penegakan hukum. Banyak orang berburu dan menjual satwa yang terancam punah tanpa dihukum – setidaknya, hingga saat ini. Kami berharap keadaan ini akan berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melindungi sisa populasi yaki di alam liar.

Sebagai penutup, kami berharap Anda bisa mempertimbangkan hal ini: Jika ada lebih dari 1 juta masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dan tersisa 5.000 ekor yaki di alam liar  – berapa banyak keluarga di Minahasa yang akan memakan yaki pada Natal tahun ini sebelum spesies ini punah?

Bagaimana Anda bisa membantu? Beritahu keluarga dan teman-teman mengenai yaki dan pentingnya kita melindungi mereka! Tolak dengan sopan  hidangan yang berisi daging satwa yang terancam punah seperti yaki. Kirimkan pesan pada kami di Facebook atau email info@selamatkanyaki.com dan kami akan mengirim banner informasi yang bisa Anda cetak dan sebarkan di desa Anda! Bantu kamI menyebarkan pesan mengenai pentingnya satwa liar seperti yaki,  demi masa depan masyarakat Minahasa yang lebih baik dan kehidupan yang harmonis di sisi satwa liar Minahasa!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki - tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki – tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Penulis oleh Thirza Loffeld, Pendidikan dan Advocacy Koordinator di Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki adalah program konservasi yang bertujuan untuk melindungi sisa populasi yaki (Macaca nigra) di alam liar. Selamatkan Yaki memberikan penyadartahuan dan menghubungi pihak penting lainnya. Kunjungi website kami: www.selamatkanyaki.com

Three Peaks Challenge has been completed! Tantangan Tiga Puncak telah dicapai!

On July 5th 2014, 9 Zookeepers from 6 Zoos across England took part in the Three Peaks Challenge, which means they had to climb 3 of the highest mountains in the United Kingdom.

Pada tanggal 5 Juli 2014, sepuluh pekerja kebun binatang dari lima kebun binatang di Inggris mengambil bagian dalam tantangan tiga puncak, yang artinya mereka harus mendaki tiga puncak tertinggi di Inggris.threepeaks3

All nine of the climbers are zoo keepers, working in zoo collections in the UK taking care of the beloved Yaki population in captivity. As passionate Macaque enthusiasts, the group decided to do the challenge to raise money for Selamatkan Yaki, raising both funds and much needed awareness for the project.

Kesepuluh dari pendaki-pendaki ini adalah pekerja kebun binatang, yang bekerja di koleksi kebun binatang Inggris yang mengurus populasi Yaki kesayangan dalam penangkaran. Sebagai penggemar Makaka yang sangat antusias, kelompok ini memutuskan untuk melakukan tantangan ini demi menggalang dana untuk Selamatkan yaki, meningkatkan kedua-duanya yaitu dana dan kesadaran sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk proyek ini.

threepeaks4The completing of the challenge took the Macaque mountaineers 26 hours and 59 minutes with a sprint finish to secure this time. During this time they travelled a total of 13 hours by car and a 27 mile route ascending and descending 2900m.

Penyelesaian tantangan ini menghantar para pendaki gunung demi Makaka selama 26 jam dan 59menit dengan berlari secepat-cepatnya sampai finish demi mencapai jam ini. Mereka telah melakukan perjalanan dengan total 13 jam dengan mobil dan 27 mil rute naik turun 2900m.

Despite the grueling challenge, lack of sleep, coldness and sore feet the group finished the challenge in good spirits feeling a sense of overwhelming pride that they had achieved so much.

Meskipun tantangan melelahkan, kurang tidur, kedinginan dan sakit kaki, kelompok ini menyelesaikannya dengan penuh semangat dan rasa bangga yang luar biasa bahwa mereka telah melakukan pencapaian besar.

Selamatkan Yaki Volunteer UK Regional Coordinator and fellow climber Jodie Dryden said ‘All three climbs were both physically and mentally challenging! We were all so tired and so sore but the thought of the Yaki and how much we care fothreepeaks5r these animals got us through. They fact that we know the effort that the Selamatkan Yaki team do to protect the species helped us to continue the climb and get us through. When any of the climbers would get tired or unhappy, myself and the rest of the group would mimic the vocalizations of the Yaki and lip smack which would lift the mood of the whole group! We met people along the journey who paid attention to our large Selamatkan Yaki banner and our T-shirts and we explained about the programme and the magnificent Sulawesi Crested Black Macaque to them. I am extremely proud of the other climbers, they have all put in so much effort and shown so much passion for the species!’

Koordinator Sukarelawan Daerah Inggris Selamatkan Yaki dan sesama pendaki Jodie Dryden mengatakan ‘Ketiga puncak yang baik secara fisik dan mental sangat menantang! Kami semua sangat lelah dan kesakitan namun perhatian terhadap Yaki dan seberapa besar kami peduli dengan satwa ini membantu kami melewati itu. Ketika salah satu dari pendaki merasa sangat lelah dan kurang senang, saya sendiri bersama sisa dari kelompok akan menirukan vokalisasi dari Yaki serta mengecap-ngecapkan bibir yang akan menghidupkan suasana hati seluruh kelompok! Kami bertemu orang sepanjang perjalanan yang memperhatikan banner Selamatkan Yaki yang besar serta T-shirt kami maka kamipun menjelaskan kepada mereka tentang program serta Monyet Hitam threepeaks2Sulawesi yang agung kepada mereka. Saya sangat luar biasa bangga pada pendaki yang lain, mereka telah memberikan perjuangan yang besar serta telah menunjukkan betapa besar semangat untuk spesies ini!’

The Challenge was organized as a fundraising project and thanks to the amazing generosity of so many the amount raised in total reached £2738.78. These funds will be used to support the ongoing project and efforts made by Selamatkan Yaki to save the Sulawesi Crested Black Macaque!

Tantangan ini diselenggarakan sebagai sebuak proyek penggalangan dana dan terima kasih untuk kemurahan hati yang luar biasa dari begitu banyak dana yang dicapai yaitu 2.738.78 Pounds atau sekitar. Dana ini akan digunakan untuk mendukung proyek yang sedang berjalan dari Selamatkan Yaki untuk menyelamakan Monyet Hitam Sulawesi!

►Watch the video (English): http://youtu.be/9a1ozokzuDQ
►Tonton videonya (Bahasa Indonesia): http://youtu.be/aO6NEYWo1MI

FMKH Daytrip Part II: Pinangunian dan Winenet Satu to TWA Batuputih

Jumat 21 November 2014, pelaksanaan FMKH Day Trip untuk Kelurahan Pinangunian dan Kelurahan Winenet Satu, di lokasi yang sama seperti FMKH Day Trip sebelumnya yaitu di TWA Batuputih. Peserta yang mengikuti kegiatan hari ini, berjumlah 33 orang. Sedikit istimewa dengan FMKH Day Trip sebelumnya, kegiatan hari ini dihadiri oleh Manager Program Selamatkan Yaki, Harry Hilser, yang menambah antusias peserta dalam mengikuti kegiatan hari ini.

Friday November 21st 2014 was the second part of FMKH Day Trip and this time for Pinangunian and Winenet Satu but still at the same location which is at TWA Batuputih. We had 33 participants on that day, and a bit more special cause our Programme Manager, Harry Hilser was joining us that affected the enthusiasm of the participants.

Diawali dengan doa yang dibawakan oleh salah seorang peserta dimana mayoritas peserta beragama Kristen, selanjutnya briefing singkat yang disertai arahan-arahan dari Tim Selamatkan Yaki, pembacaan Kode Etik pengunjung yang dibacakan oleh John Ngala yang merupakan Koordinator FMKH Kelurahan Winenet Satu. Peserta pun minta untuk foto bersama sebelum memasuki TWA, diamana ada poster besar Yaki yang indah pada pintu masuk.1IMG_9447_A

Starting with an opening prayer as majority people here are Christian, then followed by briefing and John Ngala the coordinator of the forum of Winenet Satu helped us by reading the code of conducts for everyone. The participant asked for a group photo bellow a gigantic poster of Yaki at the entrance of the TWA.

Sambil menikmati suasana hutan Taman Wisata Alam Batuputih dengan berjalan kaki menuju Pos 2, beberapa peserta tampaknya bersemangat dengan bertanya tentang banyak hal mengenai TWA maupun satwa di dalamnya kepada Harry. Suasana terasa santai sesekali disertai dengan canda tawa. Beruntung! Tidak terlalu lama berjalan, salah satu kelompok Yaki sedang berada di area pantai antara Pos 1 dan Pos 2. Akhirnya peserta diarahkan ke area pantai untuk melihat Yaki. Beberapa pertanyaan seputar 1IMG_9451_Akehidupan Yaki, mengapa mereka senang mencari kutu, apa yang mereka makan, ditanyakan peserta dan sesekali para peserta tertawa karena melihat tingkah Yaki yang lucu. Hampir kurang lebih 1,5 jam peserta mengamati Yaki yang harus diakhiri karena rasa lapar yang mulai terasa.

While enjoying the forest by walking to Pos 2, some participant seemed excited by asking lots of questions to Harry about the TWA itself and the wildlife. It felt relaxing as they were laughing at small jokes. Lucky! Not long walking, a group of Yaki has seen in between Pos 1 and 2. Participant were heading to the beach to see them. They were also asking few questions about the Yaki, why do the Yaki love grooming, what do they eat, and some cheeky behavior entertain them. It was about one and half our watching the Yaki, ended by strafing feeling as it was already lunch time.

Setelah makan siang di Pos 3 (Pos MNP), acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan, baik peserta maupun dari Tim Selamatkan Yaki dan Macaca Nigra Project. Selanjutnya, sesi diskusi mengenai kehidupan Yaki lebih mendalam yang dibawakan oleh Stephan (MNP) ditemani dengan kudapan sore dan suasana alam-pantai Tangkoko membuat peserta antusias mengikuti jalannya diskusi ini.

After lunch at Pos 3 where MNP based, we continue with introduction 1IMG_9568_Aone by one for the participant to get to know each other as also Selamatkan Yaki and Macaca Nigra Project. Next, discussion more detail about Yaki were given by Stephan (MNP) next to the beach while everyone enjoying the afternoon snacks.

Banyak pertanyaan dari peserta seputar Yaki, sampai pada program kegiatan yang dilaksanakan oleh Selamatkan Yaki maupun MNP. Mendengar penjelasan dan pemaparan yang dibawakan oleh Harry, Edis dan Ephan, rasa kagum dan bangga serta rasa lebih memiliki terpancar dari wajah para peserta. “Memang enak….gagah disini !” komentar salah seorang peserta. “Mantap…terima kasih, sampe bakudapa lagi!” kata John Ngala (coordinator FMKH Winenet Satu)

1IMG_9588_AThere were lots of questions about Yaki and all programs of Selamatkan Yaki and Macaca Nigra Project. By hearing the explanation from Harry, Edies, and Ephan, we could see how they express proud and appreciation. “It’s comfy and beautiful here!” said one of the participant. “Awesome,..thank you so much and see you later!” said John Ngara (FMKH coordinator of Winenet Satu).

Meet Puspita, Social Media Analysis Volunteer! Perkenalkan Puspita, Relawan Analisa Media Sosial!

Hello 🙂

My name is Puspita Insan Kamil, and I graduated with a degree in Psychology from Universitas Indonesia in January 2014. I took Social Psychology as a concentration, and one of its related area of studies was Environmental Psychology. I’m currently focusing on my passion and research topics such as: Gamification, Social Network Analysis, Big Data, Conservation Psychology, Animal Behavior, and Community-based Conservation. Besides working as a digital platform developer and social network analyst, I also volunteer for several NGOs that focus on animal welfare, conservation, disaster mitigation, and education. Last movement that I participated in with regards to animal welfare was Santa’s Missing Deer, a campaign to promote better welfare for Rusa timorensis in Universitas Indonesia that ended with the decision to move all the deers out, since the enclosure in UI doesn’t meet conservation standards. For more info about that campaign, you can check it here http://rusaui.com/campaign/index.html
Hello 🙂 Nama saya Puspita Insan Kamil, lulus dengan gelar Sarjana di bidang Psikologi dari Universitas Indonesia di bulan Januari 2014. Saya mengambil Psikologi Sosial sebagai mata kuliah utama, dan salah satu mata kuliah yang berhubungan dengan itu adalah Psikologi Lingkungan. Saat ini saya sedang fokus kepada topik penelitian dan kecintaan saya terhadap Gamification, Analisa Jejaring Sosial, Big Data, Psikologi Konservasi, Perilaku Hewan, dan Konservasi Berbasis Masyarakat. Selain bekerja sebagai developer platform digital dan analis jejaring sosial, saya juga merupakan relawan beberapa LSM yang fokus pada kesejahteraan hewan, konservasi, mitigasi bencana, dan pendidikan. Gerakan terakhir yang saya ikut terlibat adalah gerakan Santa’s Missing Deer, sebuah kampanye untuk menyuarakan kehidupan yang lebih sejahtera untuk Rusa timorensis di Universitas Indonesia yang berhasil diakhiri dengan dibuatnya keputusan untuk mengeluarkan rusa-rusa tersebut, karena area yang dibuat di UI tidak memenuhi standar-standar konservasi. Untuk informasih lebih mengenai gerakan ini, silahkan mengunjungi http://rusaui.com/campaign/index.html

I also have other favorite topics: geography, biology, and architecture (please don’t hesitate to contact me to chat about those topics! :). I love to write, to read, and to listen – enjoy reading National Geographic Magazine series the utmost. I also enjoy traveling, mountaineering, exploring new places and cultures, listening to folk songs, and planting. I also love to paint, design (but not too expert on that particular skill), and swimming.
Saya juga punya beberapa topik favorit: geografi, biologi, dan arsitektur (harap jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya untuk berbicara tentang topik-topik ini! :). Saya senang menulis, membaca, dan mendengar – paling senang membaca majalah National Geographic. Saya juga senang traveling, naik gunung, menjelajahi tempat-tempat baru serta budaya, mendengarkan lagu rakyat, dan menanam. Saya juga senang melukis, mendesain (tapi tidak terlalu mahir dalam skill tersebut), dan berenang.

First time I found Selamatkan Yaki was through a Facebook post on my timeline, shared by my friend from the department of Biology in Universitas Indonesia. I already had a big passion for animal welfare (don’t know where it came from, so don’t ask) and was curious about every living thing in this universe. At first I didn’t know about yaki at all, and didn’t know what I can do to help. So I just e-mailed SY and offered my skills on social network analytics and data interpretation as an alumni of the Psychology major, to help boost their campaign’s quality.
Saya pertama menemukan Selamatkan Yaki melalui sebuah postingan Facebook di timeline saya, yang dibagikan oleh teman saya dari fakultas Biologi di Universitas Indonesia. Saya memang sudah memiliki kecintaan terhadap kesejahteraan hewan (tidak tahu juga datangnya dari mana, jadi jangan ditanya) dan penasaran terhadap segala jenis makhluk hidup di dunia ini. Pertamanya saya tidak tahu apa-apa tentang yaki, dan tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu. Jadi saya mengirimkan e-email kepada SY dan menawarkan keterampilan saya dalam analisa jejaring sosial dan interpretasi data sebagai seorang alumni fakultas Psikologi, untuk membantu meningkatkan kualitas kampanye mereka.

Why I decided to join SY is just simply because I care and I do believe that change won’t happen unless we make it.
Mengapa saya memutuskan untuk bergabung dengan SY adalah karena saya peduli dan saya percaya bahwa perubahan tidak akan terjadi kalau tidak kita buat.

Meet me at my personal blog or just e-mail me!
Jumpai saya di blog personal saya atau silahkan kirimkan e-mail!

regards,
Puspita Insan Kamil