Meet Our Literature & Translation Volunteer: Dania

Say hi to another one of our highly-dedicated multitasking volunteer! Dania has been helping us for awhile now, from helping review and translate documents as well as blogs, transcribing videos, and had recently offered to help manage our social media!
Perkenalkan satu lagi sukarelawan kami yang berdedikasi tinggi dan senang multitasking! Dania sudah lumayan lama membantu kami, dari membantu meninjau ulang dan menerjemahkan dokumen dan blog, membuat transkrip video dan barusan ini menawarkan diri untuk ikut membantu mengelola media sosial kami!

DSC_0070

Me and my baby boy! | Saya bersama putra saya!

I am a Bachelor of Science and fulltime housewife. Writing is my hobby and I have published numerous stories and articles, both in local and national media as well as book. The reason why I love contributing in yaki conservation is because I love animals and I don’t like to see them being cruelly hunted.
Saya seorang Sarjana Biologi dan juga ibu rumah tangga. Saya memiliki hobi menulis dan telah mempublikasikan banyak cerita serta artikel, baik di media lokal maupun nasional juga buku. Alasan mengapa saya senang berkontribusi pada konservasi yaki adalah karena saya mencintai binatang dan tidak suka melihat mereka diburu dengan kejam.

_MG_3966

Inside Tangkoko | Di dalam Tangkoko

Macaca nigra is an endangered species that I am most able to reach easily, because we live in the same place: North Sulawesi. I also have beautiful memories with them when I worked in Tangkoko as a Research Assistant many years ago. That was the first time I realized I wanted to contribute in yaki conservation; I saw many things related to illegal hunting, such as injured monkeys and traps everywhere.
Macaca nigra adalah spesies terancam punah yang paling bisa saya jangkau karena kami tinggal di tempat yang sama yaitu Sulawesi Utara. Saya juga memiliki kenangan yang indah dengan mereka ketika masih bekerja di Tangkoko sebagai asisten penelitian beberapa tahun yang lalu. Itulah kali pertama saya sadar saya ingin berkontribusi dalam konservasi yaki; saya melihat banyak hal yang berhubungan dengan perburuan ilegal, seperti monyet yang terluka dan perangkap dimana-mana.

Team 090507_8

working with MNP | bekerja dengan MNP

After completing my work there, I had been looking for another way to save the yaki and I found SY through the internet. That is why, by joining SY I am able to not only contribute in conservation (by doing translations), but also increase my good experiences with monkeys.
Setelah menyelesaikan pekerjaan saya di sana, saya mencari cara lain untuk menyelamatkan yaki dan saya menemukan SY dari internet. Karena itulah, dengan bergabung di SY, saya tidak hanya bisa berkontribusi pada konservasi (dengan melakukan terjemahan), tapi juga menambah pengalaman saya bersama monyet.

Dania continues to contribute her time and energy in helping our program voluntarily and we are so lucky to have her on board!
Dania terus mengkontribusikan waktu dan tenaganya untuk membantu program kami secara sukarela dan kami sangat beruntung dia ikut bergabung!

Kekuatan Media Sosial: era konservasi 3.0 | The Power of Social Media: the 3.0 conservation era

Oleh Puspita Insan Kamil, Analis Media Sosial

By social media analyst Puspita Insan Kamil

Saat ini, hampir semua orang menggunakan media sosial. Saya bertaruh, anda juga membaca artikel ini dari tautan yang terdapat pada pemberitahuan di Facebook, dikirim di email atau dari timeline Twitter anda (mohon untuk tidak ragu menulis komentar jika saya salah). Hal ini tidaklah mengejutkan mengingat kita hidup di jaman yang lebih cerdas dibandingkan dengan bertahun-tahun yang lalu, misalnya: semua tersedia untuk anda melalui OS (Operating System) termasuk telepon seluler anda. Jadi apa yang anda lakukan dengan telepon seluler anda setiap hari? Mencari mode terbaru, berbagi foto selfie anda ketika berada di hutan Indonesia atau sekedar mencari makanan yang akan anda makan hari ini? Bersamaan dengan era teknologi, media sosial muncul sebagai bintang baru yang bersinar. Berdasarkan Laporan Penelitian Planet Seluler Kita dari Google, 94 persen dari pengguna telepon seluler menggunakan smartphone mereka untuk berkomunikasi (Google, 2013). Karena manusia bersifat sosial, secara nyata kita memerlukan tempat untuk mengumpulkan dan berbagi informasi, yang dengan cara itulah kita bertahan. Jadi, sebesar apa kekuatan media sosial saat ini? Apakah itu bisa membantu kita membangun dunia yang lebih baik dan membuat perbedaan dalam konservasi?

Everyone uses social media these days. I bet you are reading this article by clicking on a link from your news feed on Facebook, sharer in email, or your Twitter timeline (please don’t hesitate to write a comment to me if I am wrong). It’s not surprising since we are living in a smarter world compared to many years ago: everything comes to you by OS (Operating System) including your mobile phone. So what do you do with your mobile phone every single day? Look for a new style, share your selfie picture from an Indonesian jungle, or just search what you’re going to eat today? Along with the technology era, the social media came up as a big new star. According to Google Our Mobile Planet Research Report, 94% of mobile phone owners use their smartphone for communication (Google, 2013). Since humans are social beings, we obviously need a place to gather and share information – that is how we survive. So how big is the power of social media nowadays? Can it help us build a better world and make a difference in conservation?

Facebook memberikan data khusus bagi para pengguna pasar yang disebut “Wawasan Penonton”. Menurut data RT (Real-Time) mereka, terdapat sekitar 60 juta penduduk Indonesia yang aktif menggunakan Facebook setiap harinya dan dari angka ini terdapat kira-kira 3 juta orang yang menambahkan “hewan” sebagai minat mereka, yang terdiri dari 64 persen pria dan 36 persen wanita (Facebook, 2015). “Minat” itu sendiri mengartikan kategori fanpage yang anda suka atau setiap post yang membuat anda tertarik.

Facebook provides marketers with special data, called “Audience Insights”. According to their RT (Real-Time) data, there are around 60 million Indonesian people who actively use Facebook on a daily basis and of this number there are approximately 3 million people who added “animal” to their interest, consisting of 64% men and 36% women (Facebook, 2015). The “interest” itself means a category of the fanpage you like or any post that you are interested to.

Lantas apakah arti dari angka ini? Hal itu mungkin menunjukkan bahwa orang-orang ini hanya menyukai kategori hewan seperti anda membawa hewan peliharaan ke rumah, bukan karena persoalan konservasi.

But what does this number mean? It may be that these people only liked the category animal, like you add a pet to your home, not out of conservation concern.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana media sosial bisa membuat perbedaan dalam konservasi, berikut beberapa pengetahuan dari teknologi yang amat cepat berkembang ini. Dalam industri teknologi, kita sering mengatakan bahwa terdapat 3 era evolusi program digital. Era 1.0, adalah sebuah masa dimana anda hanya bisa mendapatkan informasi dari program saja (interaksi satu arah), kemudian era 2.0, dimana anda dan sistem atau pengguna lainnya bisa berinteraksi satu sama lain secara independen atau sebagai satu komunitas. Terakhir, kita punya era 3.0 atau era pembelajaran mesin. Teknologi pembelajaran mesin ini membuat kita bisa menerima sugesti. Sebagai contoh, sugesti mengenai apa yang disukai teman kita (sistem akan berpikir bahwa kita akan menyukainya juga), dan semenjak kita berteman dengan orang-orang yang berbagi minat yang sama dengan kita, berdasarkan Teori Ketertarikan, kita akan menyukai sugesti tersebut! Bisakah anda bayangkan seberapa cepat informasi ini akan terkirim melalui jaringan dan mencapai orang lain yang memilih “hewan” sebagai minat mereka?

To address the question how social media can make a difference in conservation, here are some insights in this rapidly developing technology. In the technology industry, we often say that there are 3 eras of digital platform evolution. There is the 1.0 era, where you can only get information from the platform (one way interaction), to 2.0, where you and the system, and any other user can interact with each other independently or as a community. Finally, we have the era of 3.0, or the machine learning era. This machine learning technology lets us receive suggestions, for example suggestions of what our friends like (the system will think that we will like that too), and since we become friends with people who share similar interests with us – according to Attraction Theory – we will like that suggestion! Can you imagine how fast this information goes through the lines and reaches other people who pick “animal” in their interest?

Faktor penting lainnya dalam irama media sosial disebut “ikatan”. Jika anda berniat untuk membantu sebuah organisasi dengan mempromosikannya kepada yang lain, jangan berhenti pada tingkat “like” saja di Facebook, tapi bagikan itu! Jika anda membagikannya, banyak orang yang akan melihatnya dimana ini berarti masuk dalam kategori “mencapai”. Akan tetapi, untuk benar-benar mempromosikan sebuah organisasi, hal ini tidaklah cukup. Jika anda memperbolehkan seseorang untuk melihat post dan bahkan menyukai fanpage-nya, barulah anda telah membuat sebuah “ikatan” dan itulah yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi. Kelihatannya agak sulit dilakukan, bukan?

Another crucial factor in social media metrics is called “engagement”. If you want to help an organisation by promoting it to others, don’t stop at the “like” level on Facebook, but share it! If you share it, people will see it which is measured through “reach”. But to really promote an organization, this isn’t enough. If you enable a person to see the post and even like the fanpage, then you are making one “engagement”, and that’s what the organisation needs. Well, kinda hard work isn’t it?

Saya telah bekerja di industri digital selama dua tahun dan saya tahu, secara bersama-sama kita bisa membuat perbedaan dalam konservasi melalui media sosial. Sebagai seorang pembaca, saya ingin anda menyadari bahwa media sosial, yang bisa anda akses dengan mudah melalui smartphone anda, muncul bersamaan dengan tanggung jawab. Jika anda menggunakannya untuk sesuatu yang salah, media sosial akan menjadi racun bagi konservasi. Tapi jika anda bisa menggunakannya secara bijak, maka media sosial bisa berperan sebagai penyembuh. Ketika anda membaca ini, ada begitu banyak pemburu ilegal yang aktif dalam media sosial, baik melalui post, grup maupun fanpage. Kita tidak bisa melawan mereka kecuali kita menggunakan senjata yang sama. Buat mereka merasa bersalah. Katakan pada mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang tidak benar. Katakan pada pihak yang mendukung mereka bahwa tindakan itu salah. Buatlah sebuah batas sosial atau pengucilan bagi mereka yang merusak konservasi, dimana hal ini bisa menjadi hukuman psikologi terbaik yang diketahui oleh para ilmuwan. Untuk menghukum mereka, kekuatan anda terbentang dalam akun media sosial anda. Gunakan secara bijak dan anda bisa membuat sebuah perbedaan dalam konservasi. Bergabunglah dengan era konservasi 3.0 kami!

I have been worked for digital industry for two years now and I know together we can make a difference in conservation through social media. As a reader, I would like you to realize that social media, which you can access easily through your smartphone, comes with a responsibility. If you use it wrongly, it could be a poison to conservation but if you use it wisely, it could act as a cure. While you are reading this, there are many illegal poachers active on social media, through posts, groups, or even fanpages. We can’t stand against them unless we use the same weapon. Make them feel that they are wrong. Tell them that they are wrong. Tell the people who support them that they are wrong. Make a social exclusion for people who harm conservation, since it is the best psychological punishment known by scientists. To punish them, your power lies in your social media accounts. Use them wisely and you can make a difference in conservation. Join our 3.0 conservation era!

Join Puspita on Twitter this Thursday, Feb 20th 2015 for more discussions on how social media can help conservation. Follow our Twitter and RT away 😉

unnamed

Kekuatan Media Sosial: 1000 pengikut Twitter untuk Selamatkan Yaki! | The Power of Social Media: 1000 Twitter Followers

Oleh Katharine Szokalo, penggemar Twitter

unnamed

Hari ini, kita merayakan tercapainya 1000 pengikut di Twitter! Ini merupakan pencapaian yang besar bagi sebuah program konservasi yang masih amat muda. Lihatlah dibalik layar dan baca apa yang dikatakan oleh ahli Twitter kami, Katharine, ketika melihat aktivitas
Twitter Selamatkan Yaki selama dua tahun.

Today, we are celebrating reaching 1000 followers on Twitter! A great achievement for a conservation programme as young as ours. Have a look behind the scenes and read what our Twitter expert Katharine has to say while looking back on Selamatkan Yaki’s two years of Twitter activities.

“Twitter digunakan oleh jutaan orang, bahkan hingga selebriti, dan itu merupakan cara tercepat untuk memperoleh pesan dalam wilayah publik” tutur Katharine Szokalo, yang telah menjadi bagian dari tim Media Sosial Selamatkan Yaki sejak awal berdiri. “Yaki ini bukanlah spesies primata yang cukup dikenal dan sebagian orang malah menganggap mereka gorila, percaya atau tidak! Twitter sudah membantu tim Selamatkan Yaki untuk menyebarkan kesadaran mengenai spesies ini dan menghasilkan pengikut lebih dari 1000 orang. Terima kasih kami ucapkan kepada kekuatan dari alat media sosial ini dan juga program media sosial lainnya seperti Facebook, Pinterest dan Instagram, dimana Selamatkan Yaki selalu punya pengikut baru setiap harinya.”

“Twitter is used by millions of people, even celebrities, and it’s a rapid way of getting messages out in the public domain” states Katharine Szokalo, who has been part of Selamatkan Yaki’s Social Media Team since the beginning. “The yaki are not such a well-known primate species and some people have even mistaken them for gorillas, believe it or not! Twitter has allowed the Selamatkan Yaki Team to spread awareness and generate over 1000 followers. Thanks to the power of this social media tool and other social media platforms such as Facebook, Pinterest and Instagram, Selamatkan Yaki has new followers every day.”

Media sosial membuat kita bisa terhubung satu sama lain. Di Selamatkan Yaki, kami menggunakan jaringan kami untuk menyebarkan pesan konservasi dan membuat para pengikut selalu mengetahui hal terbaru setiap saat. “Hal yang saya temukan, khususnya yang membuat kekuatan media sosial begitu luar biasa”, kata Katharine, “yaitu bahwa orang-orang dari seluruh dunia bisa belajar banyak mengenai yaki dan mereka bisa mulai mengerti ancaman-ancaman yang dihadapi spesies ini di alam juga bagaimana jumlah mereka berkurang begitu banyak. Dengan memperbolehkan para pengikut untuk berinteraksi dengan kami, berarti kami juga bisa menambahkan aspek yang menyenangkan. Sebagai contoh, Fakta Yaki kami di hari Rabu terbukti populer di antara pengikut kami dan banyak dari mereka yang melakukan re-tweet Fakta Yaki tersebut! Kami berharap akan semakin banyak orang yang mengikuti kami di Twitter dan kami juga ingin berterima kasih kepada para pengikut yang telah membagikan tautan kepada teman dan keluarganya. Dengan cara ini, kami bisa mengikat kekuatan dan mendorong banyak orang untuk ikut serta dalam kampanye kesadaran dari Selamatkan Yaki!”

Social media allows us to connect with each other. At Selamatkan Yaki we use our channels to spread our conservation message and keep our followers up to date in ‘real time’. “What I find especially amazing of the power of social media”, says Katharine, “is that people from all over the globe can learn more about the yaki, and that these people are beginning to understand the threats which the yaki face in the wild and how their numbers have decreased devastatingly. Allowing our followers to interact with us, means we can also add a fun aspect. Our Yaki Fact Wednesday for example has proved to be popular among our followers and many of them have re-tweeted the Yaki facts! We hope that more people will follow us on Twitter and we would like to thank our followers for sharing the links with friends and family. This way we can bundle our strengths and encourage more people to follow the Selamatkan Yaki awareness campaigns!”

Katharine telah menolong Tim Selamatkan Yaki dengan menjadi sukarelawan pada bagian media sosial. Ikuti board Pinterest kami dan lihatlah orang-orang di balik Selamatkan Yaki!

Katharine has been helping the Selamatkan Yaki Team by volunteering at the social media department. Follow our Pinterest board and see more people behind Selamatkan Yaki: https://www.pinterest.com/pin/450993350157579872/

Motivasi dan Dorongan untuk Mengurangi Masalah Perdagangan Satwa Liar | Motivation and Encouragement to Reduce the Plague of Wildlife Trade

Kolaborasi, komunikasi dan kerjasama merupakan beberapa rekomendasi yang paling sering diutarakan untuk membuat manajemen wilayah alam kita lebih terpadu dan efektif. Nilai-nilai yang penting ini rupanya menjadi motivasi pada sebuah pertemuan di akhir bulan dari tim gabungan khusus yang dirancang oleh pemerintah Indonesia untuk melindungi hutan di Sulawesi Utara, dimana arti sesungguhnya dari hal tersebut secara mengejutkan bersifat umum.

Collaboration, communication, cooperation…the often cited recommendations for more cohesive and effective management of our natural areas. It was these crucial values that were apparently the motivation for last month’s meeting of the special integrated task force designated by the Indonesian Government to safeguard forests in North Sulawesi, and the genuine sense of which was surprisingly prevalent.IMG_9607

Rapat Koordinasi Tim Terpadu Keamanan Hutan Sulawesi Utara (atau sebagaimana kebiasaan yang berlaku di sini yaitu memangkas istilah yang panjang menjadi format yang lebih mudah sehingga menjadi Rakortimdu yang merupakan rapat tim khusus untuk perlindungan hutan di Sulawesi Utara) adalah sebuah pertemuan dari para perwakilan yang  meliputi berbagai tingkat yang mencakup ahli kehutanan, polisi dan pembicara dari pihak pemerintah provinsi.

‘Rapat Koordinasi Tim Terpadu Keamanaan Hutan Sulawesi Utara (or, as is the norm here, squishing these lengthy terms into a friendlier format: ‘Rakortimdu’: the special taskforce meeting for forest protection in North Sulawesi) was a gathering of the top representatives from multiple levels of forestry, police and provincial Government spokespersons.

Kami dari Selamatkan Yaki merasa terhormat telah diundang untuk memaparkan topik mengenai rute-rute perdagangan satwa liar dan terlebih khusus membeberkan beberapa kasus terbaru dari macaca yang diburu, diperdagangkan atau dipelihara sebagai hewan peliharaan. Pemaparan ini ternyata dapat diterima dengan baik, dimana kami juga mengambil kesempatan untuk membagikan protokol terbaru kami (tautan ke halaman protokol sudah diunggah) terhadap beberapa peristiwa perdagangan satwa liar serta gambaran kerangka kerja mengenai tindakan yang akan dilakukan, yang telah dikembangkan pada lokakarya Macaca nigra di tahun 2013. Kami benar-benar IMG_9609menekankan betapa perlunya kita memperkuat kapasitas dari pelaksana hukum serta sarana dan prasarana departemen terkait disaat memutuskan jaringan-jaringan dari pelaku utama perdagangan ini, yang amat disayangkan juga melibatkan para  pejabat.

We at Selamatkan Yaki feel privileged to have been invited to present on the topic of wildlife trade routes and especially expose some recent cases of macaques being hunted, traded or kept as pets. The talk was well received, during which we also took the opportunity to share our recently produced protocol (link to page with protocol uploaded) for wildlife trade occurrences, and a reflection of the framework for action developed at the Macaca nigra workshop in 2013. We emphasised the need to strengthen capacity of law enforcement personnel and departmental infrastructure whilst breaking some of the links for the main perpetrators of the trade – which unfortunately includes officials.

Pertemuan ini dihadiri oleh wakil gubernur Dr. Djouhari Kansil yang berpendapat bahwa sebuah tim yang bersatu padu akan bisa fokus pada pelaksanaan rencana kerja dalam mencegah deforestasi, termasuk memperketat peraturan dan menambah jaringan komunikasi. Acara itu juga dikemas dengan berbagai komentar dari beberapa kepala bagian mengenai tantangan dan rintangan yang sistematik. Saya merasa kritik mereka amat jujur dan beberapa di antaranya memberikan saran yang jelas untuk memperbaiki efektivitas kerja. Komentar-komentar khusus yang amat tajam merupakan beberapa referensi akan harapan perubahan yang positif dimana pemerintah yang baru telah membangkitkan rasa ini pada mereka yang hadir, yang selanjutnya akan membakar motivasi untuk berbicara dan berdiskusi.

The meeting was addressed by Vice Governor Dr. Djouhari Kansil, who expressed that the integrated team will be focussed on implementing an action plan to prevent and tackle deforestation, including tightening regulations and increasing communication channels. The day was packed with various heads of department’s reflections of challenges and systemic barriers. I felt their critique was open and from some showing clear direction to amend shortfalls in effectiveness. Especially poignant were the several references to the hope for positive change that the new presidency has instilled in those present – further fuelling the motivational feel of the talks and discussions.IMG_9639

Adapun kelanjutan dari pertemuan yang amat memotivasi ini adalah kunjungan seorang pejabat pada tanggal 9 Januari yang lalu yaitu Duta Besar Amerika Serikat Mr. Robert O. Blake Jr, di pusat pendidikan dan penyelamat satwa PPS Tasikoki yang juga merupakan partner kami. Beliau menggambarkan beberapa pencapaian dari Yayasan Masarang dan lainnya, saat menyoroti betapa mendesaknya kebutuhan akan tindakan yang tegas dan terkolaborasi untuk mengurangi persoalan utama dari perdagangan satwa di daerah. Vecky Lumentut selaku walikota Manado berjanji untuk menerbitkan peraturan (Perwako: Peraturan Walikota) mengenai larangan penjualan daging satwa liar, disaat dokumen surat edaran lokal sedang dirancang berdasarkan rekomendasi dari gubernur untuk memperketat kebijakan-kebijakan alam liar dan tindakan-tindakan pengaturan. Masalah satwa liar ini amat jelas telah menjadi berita unggulan yang nampaknya terus mengalami peningkatan di media lokal, entah mengenai frekuensi kejadian yang meningkat, laporan atau pengenalan serta nilai pada pokok persoalan yang masih tersisa untuk diselesaikan.

Following in the wake of this motivational gathering, January 9th saw an official visit to North Sulawesi by the United States Ambassador Mr Robert O. Blake Jr, with a gathering at our partners, the animal rescue and education centre PPS Tasikoki. The Ambassador reflected upon some of the achievements of the Masarang Foundation and others, whilst highlighting the urgent need for collaborative and firm action for the curtailment of the major issue of wildlife trade in the area. The Mayor of Manado Vecky Lumentut promised to issue regulations Perwako: City level regulations regarding the prohibition of the sale of bushmeat, whilst a local ‘surat edaran’ document is in draft with recommendations from the Governor for tightening nature-based policies and regulatory measures. Noticeably, wildlife-based issues have taken a seemingly increasing prominence in the local media – whether this is due to an increase in frequency of occurrence, reporting or recognition and value in the subject remains to be clear.

IMG_9654Kami akan memantau tindak lanjut dari pertemuan tersebut secara seksama dan berharap bisa melihat peraturan-peraturan dan berbagai rekomendasi seperti ini menjadi sebuah tindakan nyata yang nantinya akan membantu penghentian perdagangan yang kejam dari satwa liar yang unik dari suatu daerah.

We will be carefully monitoring the follow up from the meeting and hope to see regulations and recommendations such as these taken into action, to help put an end to the cruel trade of the area’s special and unique wildlife.