Kekuatan Media Sosial: era konservasi 3.0 | The Power of Social Media: the 3.0 conservation era

Oleh Puspita Insan Kamil, Analis Media Sosial

By social media analyst Puspita Insan Kamil

Saat ini, hampir semua orang menggunakan media sosial. Saya bertaruh, anda juga membaca artikel ini dari tautan yang terdapat pada pemberitahuan di Facebook, dikirim di email atau dari timeline Twitter anda (mohon untuk tidak ragu menulis komentar jika saya salah). Hal ini tidaklah mengejutkan mengingat kita hidup di jaman yang lebih cerdas dibandingkan dengan bertahun-tahun yang lalu, misalnya: semua tersedia untuk anda melalui OS (Operating System) termasuk telepon seluler anda. Jadi apa yang anda lakukan dengan telepon seluler anda setiap hari? Mencari mode terbaru, berbagi foto selfie anda ketika berada di hutan Indonesia atau sekedar mencari makanan yang akan anda makan hari ini? Bersamaan dengan era teknologi, media sosial muncul sebagai bintang baru yang bersinar. Berdasarkan Laporan Penelitian Planet Seluler Kita dari Google, 94 persen dari pengguna telepon seluler menggunakan smartphone mereka untuk berkomunikasi (Google, 2013). Karena manusia bersifat sosial, secara nyata kita memerlukan tempat untuk mengumpulkan dan berbagi informasi, yang dengan cara itulah kita bertahan. Jadi, sebesar apa kekuatan media sosial saat ini? Apakah itu bisa membantu kita membangun dunia yang lebih baik dan membuat perbedaan dalam konservasi?

Everyone uses social media these days. I bet you are reading this article by clicking on a link from your news feed on Facebook, sharer in email, or your Twitter timeline (please don’t hesitate to write a comment to me if I am wrong). It’s not surprising since we are living in a smarter world compared to many years ago: everything comes to you by OS (Operating System) including your mobile phone. So what do you do with your mobile phone every single day? Look for a new style, share your selfie picture from an Indonesian jungle, or just search what you’re going to eat today? Along with the technology era, the social media came up as a big new star. According to Google Our Mobile Planet Research Report, 94% of mobile phone owners use their smartphone for communication (Google, 2013). Since humans are social beings, we obviously need a place to gather and share information – that is how we survive. So how big is the power of social media nowadays? Can it help us build a better world and make a difference in conservation?

Facebook memberikan data khusus bagi para pengguna pasar yang disebut “Wawasan Penonton”. Menurut data RT (Real-Time) mereka, terdapat sekitar 60 juta penduduk Indonesia yang aktif menggunakan Facebook setiap harinya dan dari angka ini terdapat kira-kira 3 juta orang yang menambahkan “hewan” sebagai minat mereka, yang terdiri dari 64 persen pria dan 36 persen wanita (Facebook, 2015). “Minat” itu sendiri mengartikan kategori fanpage yang anda suka atau setiap post yang membuat anda tertarik.

Facebook provides marketers with special data, called “Audience Insights”. According to their RT (Real-Time) data, there are around 60 million Indonesian people who actively use Facebook on a daily basis and of this number there are approximately 3 million people who added “animal” to their interest, consisting of 64% men and 36% women (Facebook, 2015). The “interest” itself means a category of the fanpage you like or any post that you are interested to.

Lantas apakah arti dari angka ini? Hal itu mungkin menunjukkan bahwa orang-orang ini hanya menyukai kategori hewan seperti anda membawa hewan peliharaan ke rumah, bukan karena persoalan konservasi.

But what does this number mean? It may be that these people only liked the category animal, like you add a pet to your home, not out of conservation concern.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana media sosial bisa membuat perbedaan dalam konservasi, berikut beberapa pengetahuan dari teknologi yang amat cepat berkembang ini. Dalam industri teknologi, kita sering mengatakan bahwa terdapat 3 era evolusi program digital. Era 1.0, adalah sebuah masa dimana anda hanya bisa mendapatkan informasi dari program saja (interaksi satu arah), kemudian era 2.0, dimana anda dan sistem atau pengguna lainnya bisa berinteraksi satu sama lain secara independen atau sebagai satu komunitas. Terakhir, kita punya era 3.0 atau era pembelajaran mesin. Teknologi pembelajaran mesin ini membuat kita bisa menerima sugesti. Sebagai contoh, sugesti mengenai apa yang disukai teman kita (sistem akan berpikir bahwa kita akan menyukainya juga), dan semenjak kita berteman dengan orang-orang yang berbagi minat yang sama dengan kita, berdasarkan Teori Ketertarikan, kita akan menyukai sugesti tersebut! Bisakah anda bayangkan seberapa cepat informasi ini akan terkirim melalui jaringan dan mencapai orang lain yang memilih “hewan” sebagai minat mereka?

To address the question how social media can make a difference in conservation, here are some insights in this rapidly developing technology. In the technology industry, we often say that there are 3 eras of digital platform evolution. There is the 1.0 era, where you can only get information from the platform (one way interaction), to 2.0, where you and the system, and any other user can interact with each other independently or as a community. Finally, we have the era of 3.0, or the machine learning era. This machine learning technology lets us receive suggestions, for example suggestions of what our friends like (the system will think that we will like that too), and since we become friends with people who share similar interests with us – according to Attraction Theory – we will like that suggestion! Can you imagine how fast this information goes through the lines and reaches other people who pick “animal” in their interest?

Faktor penting lainnya dalam irama media sosial disebut “ikatan”. Jika anda berniat untuk membantu sebuah organisasi dengan mempromosikannya kepada yang lain, jangan berhenti pada tingkat “like” saja di Facebook, tapi bagikan itu! Jika anda membagikannya, banyak orang yang akan melihatnya dimana ini berarti masuk dalam kategori “mencapai”. Akan tetapi, untuk benar-benar mempromosikan sebuah organisasi, hal ini tidaklah cukup. Jika anda memperbolehkan seseorang untuk melihat post dan bahkan menyukai fanpage-nya, barulah anda telah membuat sebuah “ikatan” dan itulah yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi. Kelihatannya agak sulit dilakukan, bukan?

Another crucial factor in social media metrics is called “engagement”. If you want to help an organisation by promoting it to others, don’t stop at the “like” level on Facebook, but share it! If you share it, people will see it which is measured through “reach”. But to really promote an organization, this isn’t enough. If you enable a person to see the post and even like the fanpage, then you are making one “engagement”, and that’s what the organisation needs. Well, kinda hard work isn’t it?

Saya telah bekerja di industri digital selama dua tahun dan saya tahu, secara bersama-sama kita bisa membuat perbedaan dalam konservasi melalui media sosial. Sebagai seorang pembaca, saya ingin anda menyadari bahwa media sosial, yang bisa anda akses dengan mudah melalui smartphone anda, muncul bersamaan dengan tanggung jawab. Jika anda menggunakannya untuk sesuatu yang salah, media sosial akan menjadi racun bagi konservasi. Tapi jika anda bisa menggunakannya secara bijak, maka media sosial bisa berperan sebagai penyembuh. Ketika anda membaca ini, ada begitu banyak pemburu ilegal yang aktif dalam media sosial, baik melalui post, grup maupun fanpage. Kita tidak bisa melawan mereka kecuali kita menggunakan senjata yang sama. Buat mereka merasa bersalah. Katakan pada mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang tidak benar. Katakan pada pihak yang mendukung mereka bahwa tindakan itu salah. Buatlah sebuah batas sosial atau pengucilan bagi mereka yang merusak konservasi, dimana hal ini bisa menjadi hukuman psikologi terbaik yang diketahui oleh para ilmuwan. Untuk menghukum mereka, kekuatan anda terbentang dalam akun media sosial anda. Gunakan secara bijak dan anda bisa membuat sebuah perbedaan dalam konservasi. Bergabunglah dengan era konservasi 3.0 kami!

I have been worked for digital industry for two years now and I know together we can make a difference in conservation through social media. As a reader, I would like you to realize that social media, which you can access easily through your smartphone, comes with a responsibility. If you use it wrongly, it could be a poison to conservation but if you use it wisely, it could act as a cure. While you are reading this, there are many illegal poachers active on social media, through posts, groups, or even fanpages. We can’t stand against them unless we use the same weapon. Make them feel that they are wrong. Tell them that they are wrong. Tell the people who support them that they are wrong. Make a social exclusion for people who harm conservation, since it is the best psychological punishment known by scientists. To punish them, your power lies in your social media accounts. Use them wisely and you can make a difference in conservation. Join our 3.0 conservation era!

Join Puspita on Twitter this Thursday, Feb 20th 2015 for more discussions on how social media can help conservation. Follow our Twitter and RT away😉

unnamed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s