Stakeholder workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2015

Torang Bacirita tentang konservasi Macaca nigra (Yaki) di Bitung-Airmadidi 2015

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Setelah sukses dengan acara “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013” yang adalah workshop stakeholder mengenai konservasi Macaca nigra atau yaki, program Selamatkan Yaki kembali mengadakan workshop serupa pada tanggal 28 Maret 2015 lalu di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, dan acara tersebut sukses besar!

After the successful “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013”, a stakeholder workshop regarding Macaca nigra or Yaki conservation, Selamatkan Yaki programme once again held a similar workshop on March 28th 2015 at Tasikoki Wildlife Rescue Centre, and the event was a huge success!

Workshop ini diikuti 52 peserta dari instansi-instansi pemerintah di Bitung dan Airmadidi seperti Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kepolisian, Satkamla TNI-AL,serta para camat dan lurah. Di antara para peserta juga terdapat perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat yang berkecimpung di bidang lingkungan hidup dan akademisi-akademisi dari perguruan tinggi di Bitung, Airmadidi dan sekitarnya. Peserta difokuskan dari Bitung dan Airmadidi karena kedua area ini merupakan area fokus Kampanye Kebanggaan Yaki tahun kedua. Bitung dan Airmadidi dipilih menjadi area kampanye tahun kedua karena jaraknya yang dekat dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, yang merupakan rumah dari populasi yaki yang paling banyak pada habitat aslinya.

As many as 52 participants from government institutions in Bitung and Airmadidisuch as the Forestry Department, Education and Culture Department, Tourism Department, Police Department, Indonesian Navy Marine Safety Unit, as well as the heads of sub-districts and villages (Camat and Lurah) took part in this workshop. Amongst the participants are also representatives from community organisations that are involved in environmental fields and academics from Universities in Bitung, Airmadidi, and its surrounding areas. The concentrated participants are from Bitung and Airmadidi, based to the reason that these areas are the focus of our 2nd year Yaki Pride Campaign. Bitung and Airmadidi were chosen as campaign areas based on the short distance from the Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, which is the natural habitat of most of the Yaki population.

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Tujuan dari workshop ini adalah agar para pemangku kepentingan dapat duduk bersama dan mendiskusikan peran masing-masing dalam meningkatkan kesadaran serta pendidikan konservasi Macaca nigra. Seperti halnya pepatah lama yang menjadi filosofi bangsa Indonesia yaitu “berat sama dipikul ringan sama di jinjing” , maka diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan ini diharapkan mampu menghasilkan ide dan kegiatan yang efektif dan menunjang kegiatan konservasi yaki. Untuk kepentingan itu, para peserta mengikuti beberapa materi, yang dibawakan antara lain oleh Dr. Noldy Tuerah selaku pimpinan Synergy Pacific Institute yang menaungi program Selamatkan Yaki dengan materi tentang Konservasi Macaca nigra di SULUT, dan ilmuwan Dr. Saroyo Sumarto M.Si yang telah mendedikasikan dirinya untuk pelestarian yaki dengan materi Alasan Ilmiah Konservasi Macaca nigra. Kedua narasumber ini memotivasi peserta workshop

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan efisien bagi pelestarian satwa, bertolak dari kapasitas dan budaya Sulut. Selain kedua pembicara yang menginspirasi ini, Caroline Tasirin selakuEducation Assistant di Selamatkan Yakimembawakan materi yang membahas suksesnya Kampanye Kebanggaan Yaki di Tomohon dan Langowan tahun lalu, serta memberi masukan bagi para peserta mengenai bagaimana mereka dapat berkontribusi pada kampanye tahun ini.

The purpose of this workshop is for stakeholders to be able to sit down together and discuss their respective roles in raising awareness as well as in Macaca nigra conservation education. Just like the old saying that has become a philosophy for our nation, about sharing both the joys and sorrows, the stakeholders’ joint discussions are expected to be fruitful of effective ideas and activities that support Yaki conservation activities. For this particular purpose, the participants were provided with materials presented by Dr. Noldy Tuerah, Director of Synergy Pacific

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah - Direktur Synergy Pacific Institute

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah – Direktur Synergy Pacific Institute

Institute which the Selamatkan Yaki programme is under, who spoke about Macaca nigra conservation in North Sulawesi and scientist Dr. Saroyo Sumarto M.Si whom had dedicated himself for yaki conservation and spoke about the scientific reasons behind Macaca nigra conservation. Both speakers motivated the workshop participants to come up with creative and efficient ideas for wildlife conservation based on the capacity and culture of North Sulawesi. Aside from these two inspiring speakers, Selamatkan Yaki’s Education Assistant, Caroline Tasirin, gave a presentation that helped describe the success of the 1st Yaki Pride Campaign in Tomohon and Langowan last year, as well as helping give inputs to participants on how they can contribute in this year’s campaign.

Peran setiap peserta dalam penyadartahuan mengenai konservasi yaki dibahas lebih dalam di Focus Group Discussion (FGD) pertama, di mana para peserta membahas topic FGD dalam kelompok-kelompok campuran. Hasil diskusi kelompok dibahas dalam sesi pleno dengan kesimpulan yang menarik; para peserta memilih rekomendasi yang paling penting untuk diterapkan, dan tiga rekomendasi teratas antara lainpenyitaan dan penegakan hukum oleh polisi dan tentara serta alokasi anggaran dan penyusunan Peraturan Daerah untuk konservasi oleh walikota dan bupati. Akan tetapi, mengingat tujuan utama workshop adalah kegiatan pendidikan dan penyadartahuan konservasi, kegiatan yang sangat direkomendasi oleh peserta juga termasuk pemasangan billboard untuk sosialisasi peraturan yang melarang perdagangan satwa liar oleh Kepala P.D. Pasar, kampanye penyadartahuan oleh para NGO, dan penyusunan kurikulum dan materi konservasi yang bisa diterapkan oleh setiap tingkat pendidikan (SD, SMP and SMA) melalui kerjasama universitas dan Dinas Pendidikan. Kelompok media, seperti F/21 dan Tribun Manado yang juga merupakan peserta workshop, juga diidentifikasi sebagai stakeholder yang penting dan direkomendasikan untuk menyebarkan pesan konservasi yaki melalui pameran/pertunjukkan dan untuk meliput kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konservasi melalui media sosial.

Fokus Grup Diskusi 1 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 1 – rekomendasi dari para peserta

The role of each participant in Yaki conservation awareness was discussed more thoroughly in the first Focus Group Discussions (FGD), in which the participants discuss the FGD topics in mixed groups. The results were then discussed as a group discussion in the plenary session which resulted in interesting conclusions; the most votes were given to the recommendation of the Police to improve the law enforcement and for the Mayor to provide funding for conservation activities in addition to create local laws (PERDA) on conservation. However, as this workshop focused specifically on conservation education and awareness raising , other highly recommended activities were for the Kepala pasar to provide billboards to contribute to awareness raising on the Indonesian wildlife protection laws, for NGOs to hold awareness raising campaigns, and for universities and the Head of Education (Dinas Pendidikan) to work together on creating a conservation curriculum for each level of education (elementary school, junior and senior high school). Media groups, such as the participating F21 and Tribun Manado, also were identified as an important stakeholder by spreading yaki conservation messages through exhibitions and to cover any conservation related events through social media channels.

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Pada siang harinya, rekomendasi untuk rencana kampanye disusun melalui FGD kedua, termasuk usulan kegiatan dan pesan kampanye. Selamatkan Yaki akan menyusun rencana kampanye berdasarkan rekomendasi-rekomendasi ini serta hasil survey skala besar di mana 1135 orang penduduk Bitung dan Airmadidi diwawancarai mengenai konservasi, komunikasi, dan metode kampanye yang mereka sukai. Selamatkan Yaki berharap para tokoh masyarakat yang menghadiri workshop hari Sabtu lalu dapat menjadi wajah dan suara kampanye kami dan bertindak sebagai Duta Yaki yang menyebarkan pesan bahwa kita seharusnya tidak memburu, memperdagangkan atau mengkonsumsi Macaca nigra atau yaki yang sangat terancam punah.

Later on in the day, recommendations for campaign plans were arranged through the second FGD, including the activities and campaign messages suggestions. Selamatkan Yaki will construct a campaign plan based on these recommendations and the result of a large-scale survey through which we interviewed 1135 residents in Bitung and Airmadidi regarding conservation, communication, and campaign methods that they are in favor of. Selamatkan Yaki hopes that community leaders who attended the workshop last Saturday could be the faces and voices of our campaign and would act as a Yaki Ambassador, spreading the message that we should not hunt, trade nor consume the Critically Endangered Macaca nigra or yaki.

Fokus Grup Diskusi 2 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 2 – rekomendasi dari para peserta

Karena yaki merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang tidak bisa hidup secara liar di tempat manapun di dunia, patutlah area Airmadidi dan Bitung berbangga karena yaki dalam jumlah yang besar hanya bisa ditemukan di sini. Sayangnya, jumlah yang besar ini tampaknya tidak seimbang dengan kecenderungan masyarakat untuk memburu yaki, baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijadikan peliharaan di rumah, ataupun mengalih fungsikan hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Di samping adanya UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999 yang melindungi yaki, alangkah baiknya jika masyarakat pun bahu membahu mempertahankan keanekaragaman hayati yang unik ini. Dengan stakehorders meeting ini diharapkan langkah-langkah pelestarian alam pada umumnya dan pelestarian yaki pada khususnya akan mendapat perhatian yang lebih besar dari masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Bitung dan Airmadidi, sehingga nanti tidak ada lagi satwa liar yang akan punah serta usaha perlindungan satwa liar akan lebih baik lagi.

Yaki is a North Sulawesi endemic species that cannot naturally live in any other place in the world, and it is for that reason that the Airmadidi and Bitung areas should be proud; a large amount of Yaki populations are only found within these areas. Unfortunately, this large amount seems disproportionate to the society’s tendencies to hunt yaki, be it for consumption or to be kept as pets, or converting forest, where they live, to make space for humans. Aside from the national law (Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 and Peraturan Pemerintah no. 7 Tahun 1999) that protects the yaki, it would be better if the society also join hands in preserving this unique biodiversity. Through the stakeholders meeting, we hope that nature conservation efforts in general and yaki conservation, especially, will become a bigger concern for the people of North Sulawesi, especially in Bitung and Airmadidi, so that in the future, wildlife will no longer face the threats of extinction and that wildlife protection can improve.

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki - Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki – Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Beberapa hari setelah Workshop Torang Bacirita tentang Konservasi Yaki, Meneer Edhie dari Akademi Maritim Indonesia (AMI) Bitung sudah menyebarkan pesan konservasi yaki dengan memasang banner info yaki untuk dibaca masyarakat! Terima kasih banyak Meneer Edhie, semoga yang lain akan segera mengikuti!

Just a few days after Workshop Torang Bacirita Yaki Conservation, Meneer Edhie from the Indonesian Maritime Academy (Akademi Maritim Indonesia) Bitung was already spreading the yaki conservation message by putting up our yaki information banner for the public to read! Many thanks, Meneer Edhie, hopefully others will soon follow!11020480_1046900885339233_3492717509067554482_n

Sudahkah Anda memasang banner Anda? Harap men-share foto banner yang sudah dipasang, serta Anda dan rekan-rekan Anda yang berpose bersama banner tersebut di Facebook group Torang Bacirita Konservasi Macaca nigra!

Have you put up your banner? Please share your photo of the already installed banner, as well as you and your friends pose with the banner in Torang Bacirita Konsevasi Macaca Nigra Facebook group!

Mewakili Tim Selamatkan Yaki, kami ingin berterima kasih pada semua peserta untuk masukannya. Rekomendasi dari workshop ini akan didistribusikan pada semua peserta melalui email dan dibagikan melalui group Facebook Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra. Sekali lagi, terima kasih kepada para peserta dan crew Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

On behalf of the Selamatkan Yaki team, we would like to thank all the participants for their input. Recommendations from the workshop will be distributed to all participants via email and shared through Facebook group Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation. Once again, thank you to all participants and Tasikoki Wildlife Rescue Center crew!

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan, Fernando Lumowa dari Tribun Manado dan Themmy Doaly dari Mongabay, yang telah meliput acara kampanye kami, Workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra, seperti yang kita sudah menemukan 3 siaran pers, lihat di sini:

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

We would also like to thank the journalists, under which Fernando Lumowa from Tribun Manado and Themmy Doaly from Mongabay, who covered our campaign event, the workshop Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation, as we already found through these 3 press releases, see here:

http://www.seputarsulut.com/torang-bacirita-tentang-konservasi-yaki-di-bitung-airmadidi

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

Perjuangan kami melawan kepunahan: “Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!”

 Our fight against extinction: “Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

Band Bloodlines

Band asal Manado Bloodlines, Duta Yaki untuk generasi baru Manadonese band Bloodlines,Yaki Ambassadors for the new generation

Manado 16 April 2015 – Akhir pekan ini para penggemar musik akan membanjiri GodBless Park Manado dengan adanya penampilan dari band-band besar seperti Burgerkill, Taring dan Seringai. Di antara band-band ini adalah Bloodlines, yang pertama dari jenisnya di Manado dan sudah ada sejak tahun 2000, yang akan tampil pada hari Sabtu, 18 April. Bloodlines yang beranggotakan 6 orang ini telah menjadi Duta yaki sejak September 2014 dan secara aktif mendukung upaya konservasi di Sulawesi Utara. “Selain musik, kami juga tertarik dengan upaya konservasi,” kata Ade, salah satu vokalis Bloodlines, “karena upaya-upaya konservasi dapat berhasil jika turut didukung oleh masyarakat.” Pada bulan September 2014, para anggota Bloodlines memasuki panggung Manado Wheels Automorfosa Auto Contest di Lion Plaza, memakai kaos dengan logo dan slogan Kampanye Kebanggaan Yaki kami. Setelah penampilan yang luar biasa, band ini menutup penampilan mereka dengan menjelaskan mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi, sambil membagikan flyer mengenai program konservasi Selamatkan Yaki. “Sudah lumayan lama sejak kami pertama mendengar tentang Selamatkan Yaki, sekitar tahun 2011, melalui teman-teman pencinta alam saat kami masih di universitas. Sekarang kami akhirnya menemukan kesempatan untuk menyuarakan keprihatinan tentang monyet langka ini!” para anggota Bloodlines menjelaskan. Manado 16 April 2015 – This weekend music fans will pour into the GodBless Park with big bands playing such as Burgerkill, Taring and Seringai. Among these bands is the band Bloodlines, the first of its kind in Manado and have been around since 2000 who will perform on Saturday 18 April. Bloodlines, existing of 6 members, have been yaki ambassadors since September 2014 and actively support conservation efforts in North Sulawesi. “Apart from music, we are also interested in conservation efforts,” says Ade, one of Bloodlines’ vocalists, “because conservation of wildlife populations can be successful if supported by the community.” In September 2014, the members of bloodlines marched onto the stage of Manado Wheels Automorfosa Auto Contest in Lion Plaza, wearing T-shirts with the Yaki Pride Campaign logo and slogan. After an amazing performance, the band finished with a speech about the yaki and the threats that they face, while handing out pamphlets about the Selamatkan Yaki conservation programme. “It had been a while since we first heard about Selamatkan Yaki, around 2011, through our nature-loving friends, whom at the time were in university. Now we finally found the opportunity to give voice to our concerns about this endangered monkey!” members of Bloodlines explain.

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Yaki (Macaca nigra) adalah spesies primata yang endemik, yang artinya spesies yang hanya hidup secara alami di Sulawesi Utara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Sayangnya, yaki sangat terancam punah karena adanya perburuan dan perambahan hutan, serta jumlah populasi mereka yang telah menurun lebih dari 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun dilindungi oleh hukum nasional. “Melihat secara langsung kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan hidup di sekitar kita, juga melihat yaki yang dijadikan makanan oleh orang-orang rakus yang ingin memakan segala yang hidup, mengilhami kami untuk menjadi bagian dari upaya konservasi yaki”, kata Ade. Tapi bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki? Menurut Bloodlines, “Musik dapat menjangkau golongan masyarakat yang mungkin pada awalnya belum begitu akrab dengan masalah-masalah lingkungan, dan melalui musik kita bisa menyampaikan pesan-pesan mengenai masalah lingkungan tersebut. Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!” The yaki (Macaca nigra) is an endemic primate species, which means that they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world. Unfortunately, the yaki is Critically Endangered due to hunting and deforestation with their population number declining over 80% in the last 40 years, despite being protected by national law. “Seeing for ourselves all the activities that harm the environment around us, as well as seeing that yaki are being consumed by greedy people who want to eat any living thing inspired us to become part of yaki conservation efforts,” says Ade. But how can music help yaki conservation? According to Bloodlines, “Music can reach different groups of society which have yet to be exposed to environmental issues. Through music we can convey messages about these environmental issues. Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

This slideshow requires JavaScript.

Strategi Bloodlines dalam berkontribusi untuk konservasi yaki sangatlah jelas: “Menyelipkan pesan-pesan konservasi di acara-acara musik yang kami hadiri,” jelas Ade, “mengenai betapa pentingnya yaki bagi hutan Sulawesi Utara dan bagi kehidupan masyarakat Minahasa. Melalui kerjasama dengan program konservasi seperti Selamatkan Yaki, kami membantu memberikan suara bagi yaki dan berharap dapat memenangkan perjuangan melawan kepunahan!” tukasnya. Bloodlines strategy of contributing to yaki conservation is clear:By slipping in conservation messages at all the music events that we participate in”, clarifies Ade, “about how important the yaki is for the forest in North Sulawesi and the lives of the Minahasan people, and through collaboration with conservation programmes like Selamatkan Yaki, we give voice to the yaki and hope to win his fight against extinction!”

Loud praise from the fans after their last song

Loud praise from the fans after their last song

Ayo lihat orang-orang inspiratif ini beraksi! Bergabunglah di konser mereka di Godbless Park Manado pada Sabtu, 18 April 2015 (gratis, mulai pukul 17.00) dan beli kaos Yaki Ambassador Bloodlines x Selamatkan Yaki (edisi terbatas) yang akan tersedia di konser, atau silahkan pesan melalui Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines See these inspiring guys in action! Join their concert at the GodBless Park Manado on Saturday, 18 April 2015 (free entrance, starting at 17:00) and buy  the Bloodlines x Selamatkan Yaki Ambassador T shirt (limited edition) available at the concert, or order now through Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines

Email: wearebloodlines@gmail.com Facebook: www.facebook.com/Bloodlines

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines concert

Wildlife photographer David Slater supporting yaki conservation!

The power of media and collaboration to help the Yaki

Kekuatan media dan kolaborasi untuk menolong Yaki

1Do you recognise this photo? It was said to be a selfie made by a clever yaki in Batuputih Nature Recreation Park at Tangkoko Nature Reserve in North Sulawesi.

Apakah Anda mengenali foto ini? Dikatakan ini merupakan foto selfie yang dibuat oleh yaki yang pintar di TWA Batuputih di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara.

It looks as though this yaki is fascinated, exploring the many functions of a camera. Well, there is a story behind it… In Tangkoko Nature Reserve live approximately 2000 wild yaki. This is almost half of all remaining yaki in the wild, so protecting this Nature Reserve is a high priority for yaki conservationists like us!

Tampaknya terpesona, dan sedang mengutak-atik kamera. Nah, ada cerita di balik itu… Di Cagar Alam Tangkoko hidup kira-kira 2000 Yaki liar. Hampir setengah dari sisa Yaki di alam liar, untuk itu melindungi Cagar Alam ini adalah prioritas untuk konservasionis yaki seperti kita!

Here the yaki live in large social groups where they live, eat, play, groom and sleep among their friends and families. Sounds peaceful, doesn’t it?

Di sini, Yaki hidup dalam group-group sosial yang besar dimana mereka hidup, makan, bermain, mencari kutu dan tidur di antara teman-teman dan keularga. Kedengarannya damai bukan?

Unfortunately, there is more behind the scenes. The yaki are threatened by illegal logging and hunting. Many people are working to prevent this from happening, like our partners at the Macaca Nigra Project and the rangers working for the Natural Resources Conservation Agency (BKSDA). Additionally, tourism is implemented in the nature recreation park (a 635 hectare area of the reserve available for tourists) so people can view the yaki and other unique wildlife from a safe distance.

Sayangnya, ada banyak hal di balik layar. Yaki terancam oleh pembalakan liar dan perburuan. Manyak orang yang bekerja untuk mencegah ini terjadi, seperti partner kami di Macaca Nigra Project serta polisi hutan yang bekerja untuk Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.

Like humans, yaki are primates – a group of animals including monkeys, apes and lemurs. This means that we are much alike, in our genetic make-up, our behaviour and intelligence. This also means that we can put each other at risk, for example by entering the forest when unwell, touching our nose and then a tree. A yaki might touch this same tree when climbing up to build his nest that evening! Either through direct or in-direct contact, we can transmit diseases with big consequences. For example, a simple flu virus could possibly lead to death for a baby yaki.

Seperti manusia, yaki adalah primata – sekelompok binatang termasuk monyet, kera dan lemur. Ini artinya kita semua memiliki banyak kesamaan, dalam genetik, perilaku serta kecerdasan. Ini juga dapat berarti bahwa kita bisa saling membahayakan satu sama lain, contohnya ketika memasuki hutan dalam keadaan tidak sehat, menyentuh hidung kita lalu menyentuh pohon. Yaki dapat menyentuh pohon yang sama saat memanjat untuk membuat sarangnya pada malam hari! Bahkan kontak langsung atau tidak langsung, kita dapat menularkan penyakit dengan konsekuensi yang besar. Contohnya, virus flu yang sederhana dapat menyebabkan kematian seekor bayi yaki.

We can also become ill by being in close contact with other primates, like the yaki. For example, when people keep the yaki as a pet, this can lead to transfer of parasites or diseases such as tuberculosis to a family living nearby, including the children.

Kita juga dapat sakit dengan berada dekat dengan primata lain seperti yaki. Contohnya ketika orang menjadikan yaki sebagai peliharaan, itu pun dapat menyebabkan pertukaran parasit ataupun penyakit seperti tuberculosis kepada keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar, termasuk anak-anak.

Because of the risk of disease transmission and for both our and the yaki’s safety, there are Codes of Conduct when viewing the yaki in the wild, under which:

1. Keep a safe distance of minimal 5 meters between you and the yaki;

2. Do not feed the yaki. The forest provides them with a healthy diet and through feeding you can make them sick;

3. Do not leave rubbish and abstain from defecating and spitting whilst being near the yaki in the forest. This way you avoid pollution and disease transmission;

4. Do not use threatening behaviour: avoid shouting, sudden movements, making eye contact or moving directly towards the yaki. Stressed animals can be dangerous if threatened;

5. Do not use camera flash or powerful flashlights whilst observing the yaki as these can disorient or scare them or even cause eye injuries.

Oleh karena resiko dari penularan penyakit serta untuk keamanan yaki, ada Kode Etik saat melihat yaki di alam, di antaranya;

1. Jaga jarak aman minimal 5 meter antara Anda dan yaki tersebut;

2. Jangan memberi makan yaki. Hutan menyediakan diet sehat untuk mereka dan dengan memberi makan Anda dapat membuat mereka sakit;

3. Jangan meninggalkan sampah dan jauhkan diri dari buang air besar dan meludah sementara berada dekat yaki di hutan. Dengan cara ini Anda menghindari polusi dan penularan penyakit;

4. Jangan melakukan perilaku mengancam: hindari berteriak, gerakan tiba-tiba, membuat kontak mata atau bergerak langsung menuju yaki tersebut. Hewan yang tertekan bisa berbahaya jika terancam;

5. Jangan menggunakan flash kamera atau senter yang silau sementara mengamati yaki sebagaimana ini dapat atau menakut-nakuti mereka atau bahkan menyebabkan cedera mata.

This brings me back to our famous yaki. When looking into the eyes of the yaki in the above photo, what do you see? We hope that people who have seen these amazing monkeys would love to come and see the yaki in their forest homes, or even help us to help them, but also remember that they are still wild animals and so should be viewed from a safe distance and not touched, even when they can be curious.

Hal ini membawa saya kembali ke yaki terkenal kami. Ketika melihat ke dalam mata yaki pada foto di atas, apa yang Anda lihat? Kami berharap bahwa orang yang telah melihat monyet menakjubkan ini akan senang untuk datang dan melihat yaki di rumah hutan mereka, atau bahkan membantu kita untuk membantu mereka, tetapi  ingat juga bahwa mereka masih binatang liar dan harus dilihat dari jarak yang aman dan tidak tersentuh, bahkan pada jarak yang bisa membuat mereka penasaran.

Yaki are also very intelligent, as English wildlife photographer David Slater discovered during his visit to Tangkoko in 2011. David cares deeply for the subjects of his photographs and after realising the impact his photo made around the world, he contacted our team and offered a donation strategy to support Selamatkan Yaki’s activities! Photo products company Picanova partnered with photographer David and handed out free canvas prints of the yaki selfie. With every free canvas ordered, £1 was donated to Selamatkan Yaki! With a further kind donation from David, a contribution of £533 was made to our programme. A fantastic opportunity, not only for the yaki to become a celebrity and to raise awareness internationally of our plight to save them, but also to fund our much needed conservation activities in North Sulawesi. This is all thanks to David’s efforts, who has highlighted the importance of collaboration and illustrated what can be achieved when combining our strengths – as Wildlife Photographer, Photo Company and Conservation Programme!

Yaki juga sangat cerdas, seperti yang didapati oleh fotografer satwa liar dari Inggris David Slater selama kunjungannya ke Tangkoko pada tahun 2011. David sangat peduli pada subjek foto dari foto-fotonya dan setelah menyadari dampak yang dibuat oleh fotonya  di seluruh dunia, ia menghubungi tim kami dan menawarkan strategi sumbangan untuk mendukung kegiatan Selamatkan Yaki! Perusahaan produk foto Picanova bermitra dengan fotografer David dan menyebarkan kanvas cetakan dari selfie yaki. Dengan setiap kanvas yang dipesan, £1 disumbangkan ke Selamatkan Yaki! Donasi selanjutnya dari David, yaitu kontribusi pribadi £533 diberikan untuk program kami. Sebuah kesempatan yang fantastis, tidak hanya untuk yaki untuk menjadi seorang selebriti dan untuk meningkatkan kesadaran internasional dari janji kami untuk menyelamatkan mereka, tetapi juga untuk mendanai kegiatan konservasi kami yang sangat diperlukan di Sulawesi Utara. Ini semua berkat usaha David, yang telah menyoroti pentingnya kolaborasi dan mengilustrasikan apa yang bisa dicapai ketika menggabungkan kekuatan kami – sebagai Fotografer Satwa Liar, Perusahaan Foto dan Program Konservasi!

Selamatkan Yaki would like to give a big thank you to Wildlife Photographer David J Slater, in addition to Global Photo Products Company Picanova. For more beautiful imagery, please check David’s website www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

Selamatkan Yaki ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Fotografer Satwaliar David J Slater, serta kepada Global Photo Products Company Picanova. Untuk gambar-gambar indah lainnya, silahkan periksa website David: http://www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

By safeguarding the Yaki, we safeguard our future!

Dengan melindungi yaki, kita menjaga masa depan kita!