Wildlife photographer David Slater supporting yaki conservation!

The power of media and collaboration to help the Yaki

Kekuatan media dan kolaborasi untuk menolong Yaki

1Do you recognise this photo? It was said to be a selfie made by a clever yaki in Batuputih Nature Recreation Park at Tangkoko Nature Reserve in North Sulawesi.

Apakah Anda mengenali foto ini? Dikatakan ini merupakan foto selfie yang dibuat oleh yaki yang pintar di TWA Batuputih di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara.

It looks as though this yaki is fascinated, exploring the many functions of a camera. Well, there is a story behind it… In Tangkoko Nature Reserve live approximately 2000 wild yaki. This is almost half of all remaining yaki in the wild, so protecting this Nature Reserve is a high priority for yaki conservationists like us!

Tampaknya terpesona, dan sedang mengutak-atik kamera. Nah, ada cerita di balik itu… Di Cagar Alam Tangkoko hidup kira-kira 2000 Yaki liar. Hampir setengah dari sisa Yaki di alam liar, untuk itu melindungi Cagar Alam ini adalah prioritas untuk konservasionis yaki seperti kita!

Here the yaki live in large social groups where they live, eat, play, groom and sleep among their friends and families. Sounds peaceful, doesn’t it?

Di sini, Yaki hidup dalam group-group sosial yang besar dimana mereka hidup, makan, bermain, mencari kutu dan tidur di antara teman-teman dan keularga. Kedengarannya damai bukan?

Unfortunately, there is more behind the scenes. The yaki are threatened by illegal logging and hunting. Many people are working to prevent this from happening, like our partners at the Macaca Nigra Project and the rangers working for the Natural Resources Conservation Agency (BKSDA). Additionally, tourism is implemented in the nature recreation park (a 635 hectare area of the reserve available for tourists) so people can view the yaki and other unique wildlife from a safe distance.

Sayangnya, ada banyak hal di balik layar. Yaki terancam oleh pembalakan liar dan perburuan. Manyak orang yang bekerja untuk mencegah ini terjadi, seperti partner kami di Macaca Nigra Project serta polisi hutan yang bekerja untuk Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.

Like humans, yaki are primates – a group of animals including monkeys, apes and lemurs. This means that we are much alike, in our genetic make-up, our behaviour and intelligence. This also means that we can put each other at risk, for example by entering the forest when unwell, touching our nose and then a tree. A yaki might touch this same tree when climbing up to build his nest that evening! Either through direct or in-direct contact, we can transmit diseases with big consequences. For example, a simple flu virus could possibly lead to death for a baby yaki.

Seperti manusia, yaki adalah primata – sekelompok binatang termasuk monyet, kera dan lemur. Ini artinya kita semua memiliki banyak kesamaan, dalam genetik, perilaku serta kecerdasan. Ini juga dapat berarti bahwa kita bisa saling membahayakan satu sama lain, contohnya ketika memasuki hutan dalam keadaan tidak sehat, menyentuh hidung kita lalu menyentuh pohon. Yaki dapat menyentuh pohon yang sama saat memanjat untuk membuat sarangnya pada malam hari! Bahkan kontak langsung atau tidak langsung, kita dapat menularkan penyakit dengan konsekuensi yang besar. Contohnya, virus flu yang sederhana dapat menyebabkan kematian seekor bayi yaki.

We can also become ill by being in close contact with other primates, like the yaki. For example, when people keep the yaki as a pet, this can lead to transfer of parasites or diseases such as tuberculosis to a family living nearby, including the children.

Kita juga dapat sakit dengan berada dekat dengan primata lain seperti yaki. Contohnya ketika orang menjadikan yaki sebagai peliharaan, itu pun dapat menyebabkan pertukaran parasit ataupun penyakit seperti tuberculosis kepada keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar, termasuk anak-anak.

Because of the risk of disease transmission and for both our and the yaki’s safety, there are Codes of Conduct when viewing the yaki in the wild, under which:

1. Keep a safe distance of minimal 5 meters between you and the yaki;

2. Do not feed the yaki. The forest provides them with a healthy diet and through feeding you can make them sick;

3. Do not leave rubbish and abstain from defecating and spitting whilst being near the yaki in the forest. This way you avoid pollution and disease transmission;

4. Do not use threatening behaviour: avoid shouting, sudden movements, making eye contact or moving directly towards the yaki. Stressed animals can be dangerous if threatened;

5. Do not use camera flash or powerful flashlights whilst observing the yaki as these can disorient or scare them or even cause eye injuries.

Oleh karena resiko dari penularan penyakit serta untuk keamanan yaki, ada Kode Etik saat melihat yaki di alam, di antaranya;

1. Jaga jarak aman minimal 5 meter antara Anda dan yaki tersebut;

2. Jangan memberi makan yaki. Hutan menyediakan diet sehat untuk mereka dan dengan memberi makan Anda dapat membuat mereka sakit;

3. Jangan meninggalkan sampah dan jauhkan diri dari buang air besar dan meludah sementara berada dekat yaki di hutan. Dengan cara ini Anda menghindari polusi dan penularan penyakit;

4. Jangan melakukan perilaku mengancam: hindari berteriak, gerakan tiba-tiba, membuat kontak mata atau bergerak langsung menuju yaki tersebut. Hewan yang tertekan bisa berbahaya jika terancam;

5. Jangan menggunakan flash kamera atau senter yang silau sementara mengamati yaki sebagaimana ini dapat atau menakut-nakuti mereka atau bahkan menyebabkan cedera mata.

This brings me back to our famous yaki. When looking into the eyes of the yaki in the above photo, what do you see? We hope that people who have seen these amazing monkeys would love to come and see the yaki in their forest homes, or even help us to help them, but also remember that they are still wild animals and so should be viewed from a safe distance and not touched, even when they can be curious.

Hal ini membawa saya kembali ke yaki terkenal kami. Ketika melihat ke dalam mata yaki pada foto di atas, apa yang Anda lihat? Kami berharap bahwa orang yang telah melihat monyet menakjubkan ini akan senang untuk datang dan melihat yaki di rumah hutan mereka, atau bahkan membantu kita untuk membantu mereka, tetapi  ingat juga bahwa mereka masih binatang liar dan harus dilihat dari jarak yang aman dan tidak tersentuh, bahkan pada jarak yang bisa membuat mereka penasaran.

Yaki are also very intelligent, as English wildlife photographer David Slater discovered during his visit to Tangkoko in 2011. David cares deeply for the subjects of his photographs and after realising the impact his photo made around the world, he contacted our team and offered a donation strategy to support Selamatkan Yaki’s activities! Photo products company Picanova partnered with photographer David and handed out free canvas prints of the yaki selfie. With every free canvas ordered, £1 was donated to Selamatkan Yaki! With a further kind donation from David, a contribution of £533 was made to our programme. A fantastic opportunity, not only for the yaki to become a celebrity and to raise awareness internationally of our plight to save them, but also to fund our much needed conservation activities in North Sulawesi. This is all thanks to David’s efforts, who has highlighted the importance of collaboration and illustrated what can be achieved when combining our strengths – as Wildlife Photographer, Photo Company and Conservation Programme!

Yaki juga sangat cerdas, seperti yang didapati oleh fotografer satwa liar dari Inggris David Slater selama kunjungannya ke Tangkoko pada tahun 2011. David sangat peduli pada subjek foto dari foto-fotonya dan setelah menyadari dampak yang dibuat oleh fotonya  di seluruh dunia, ia menghubungi tim kami dan menawarkan strategi sumbangan untuk mendukung kegiatan Selamatkan Yaki! Perusahaan produk foto Picanova bermitra dengan fotografer David dan menyebarkan kanvas cetakan dari selfie yaki. Dengan setiap kanvas yang dipesan, £1 disumbangkan ke Selamatkan Yaki! Donasi selanjutnya dari David, yaitu kontribusi pribadi £533 diberikan untuk program kami. Sebuah kesempatan yang fantastis, tidak hanya untuk yaki untuk menjadi seorang selebriti dan untuk meningkatkan kesadaran internasional dari janji kami untuk menyelamatkan mereka, tetapi juga untuk mendanai kegiatan konservasi kami yang sangat diperlukan di Sulawesi Utara. Ini semua berkat usaha David, yang telah menyoroti pentingnya kolaborasi dan mengilustrasikan apa yang bisa dicapai ketika menggabungkan kekuatan kami – sebagai Fotografer Satwa Liar, Perusahaan Foto dan Program Konservasi!

Selamatkan Yaki would like to give a big thank you to Wildlife Photographer David J Slater, in addition to Global Photo Products Company Picanova. For more beautiful imagery, please check David’s website www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

Selamatkan Yaki ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Fotografer Satwaliar David J Slater, serta kepada Global Photo Products Company Picanova. Untuk gambar-gambar indah lainnya, silahkan periksa website David: http://www.DJSPHOTOGRAPHY.CO.UK

By safeguarding the Yaki, we safeguard our future!

Dengan melindungi yaki, kita menjaga masa depan kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s