Stakeholder workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2015

Torang Bacirita tentang konservasi Macaca nigra (Yaki) di Bitung-Airmadidi 2015

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Workshop Torang Bacirita 28 Maret 2015 di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki

Setelah sukses dengan acara “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013” yang adalah workshop stakeholder mengenai konservasi Macaca nigra atau yaki, program Selamatkan Yaki kembali mengadakan workshop serupa pada tanggal 28 Maret 2015 lalu di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, dan acara tersebut sukses besar!

After the successful “Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra 2013”, a stakeholder workshop regarding Macaca nigra or Yaki conservation, Selamatkan Yaki programme once again held a similar workshop on March 28th 2015 at Tasikoki Wildlife Rescue Centre, and the event was a huge success!

Workshop ini diikuti 52 peserta dari instansi-instansi pemerintah di Bitung dan Airmadidi seperti Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kepolisian, Satkamla TNI-AL,serta para camat dan lurah. Di antara para peserta juga terdapat perwakilan dari organisasi-organisasi masyarakat yang berkecimpung di bidang lingkungan hidup dan akademisi-akademisi dari perguruan tinggi di Bitung, Airmadidi dan sekitarnya. Peserta difokuskan dari Bitung dan Airmadidi karena kedua area ini merupakan area fokus Kampanye Kebanggaan Yaki tahun kedua. Bitung dan Airmadidi dipilih menjadi area kampanye tahun kedua karena jaraknya yang dekat dengan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, yang merupakan rumah dari populasi yaki yang paling banyak pada habitat aslinya.

As many as 52 participants from government institutions in Bitung and Airmadidisuch as the Forestry Department, Education and Culture Department, Tourism Department, Police Department, Indonesian Navy Marine Safety Unit, as well as the heads of sub-districts and villages (Camat and Lurah) took part in this workshop. Amongst the participants are also representatives from community organisations that are involved in environmental fields and academics from Universities in Bitung, Airmadidi, and its surrounding areas. The concentrated participants are from Bitung and Airmadidi, based to the reason that these areas are the focus of our 2nd year Yaki Pride Campaign. Bitung and Airmadidi were chosen as campaign areas based on the short distance from the Tangkoko-Duasudara Nature Reserve, which is the natural habitat of most of the Yaki population.

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Semua peserta peserta menerima protokol penegakan hukum tentang Yaki dilindungi

Tujuan dari workshop ini adalah agar para pemangku kepentingan dapat duduk bersama dan mendiskusikan peran masing-masing dalam meningkatkan kesadaran serta pendidikan konservasi Macaca nigra. Seperti halnya pepatah lama yang menjadi filosofi bangsa Indonesia yaitu “berat sama dipikul ringan sama di jinjing” , maka diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan ini diharapkan mampu menghasilkan ide dan kegiatan yang efektif dan menunjang kegiatan konservasi yaki. Untuk kepentingan itu, para peserta mengikuti beberapa materi, yang dibawakan antara lain oleh Dr. Noldy Tuerah selaku pimpinan Synergy Pacific Institute yang menaungi program Selamatkan Yaki dengan materi tentang Konservasi Macaca nigra di SULUT, dan ilmuwan Dr. Saroyo Sumarto M.Si yang telah mendedikasikan dirinya untuk pelestarian yaki dengan materi Alasan Ilmiah Konservasi Macaca nigra. Kedua narasumber ini memotivasi peserta workshop

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

Presentasi oleh Dr. Saroyo Sumarto M.Si dari UNSRAT

untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan efisien bagi pelestarian satwa, bertolak dari kapasitas dan budaya Sulut. Selain kedua pembicara yang menginspirasi ini, Caroline Tasirin selakuEducation Assistant di Selamatkan Yakimembawakan materi yang membahas suksesnya Kampanye Kebanggaan Yaki di Tomohon dan Langowan tahun lalu, serta memberi masukan bagi para peserta mengenai bagaimana mereka dapat berkontribusi pada kampanye tahun ini.

The purpose of this workshop is for stakeholders to be able to sit down together and discuss their respective roles in raising awareness as well as in Macaca nigra conservation education. Just like the old saying that has become a philosophy for our nation, about sharing both the joys and sorrows, the stakeholders’ joint discussions are expected to be fruitful of effective ideas and activities that support Yaki conservation activities. For this particular purpose, the participants were provided with materials presented by Dr. Noldy Tuerah, Director of Synergy Pacific

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah - Direktur Synergy Pacific Institute

Presentasi dari Dr. Noldy Tuerah – Direktur Synergy Pacific Institute

Institute which the Selamatkan Yaki programme is under, who spoke about Macaca nigra conservation in North Sulawesi and scientist Dr. Saroyo Sumarto M.Si whom had dedicated himself for yaki conservation and spoke about the scientific reasons behind Macaca nigra conservation. Both speakers motivated the workshop participants to come up with creative and efficient ideas for wildlife conservation based on the capacity and culture of North Sulawesi. Aside from these two inspiring speakers, Selamatkan Yaki’s Education Assistant, Caroline Tasirin, gave a presentation that helped describe the success of the 1st Yaki Pride Campaign in Tomohon and Langowan last year, as well as helping give inputs to participants on how they can contribute in this year’s campaign.

Peran setiap peserta dalam penyadartahuan mengenai konservasi yaki dibahas lebih dalam di Focus Group Discussion (FGD) pertama, di mana para peserta membahas topic FGD dalam kelompok-kelompok campuran. Hasil diskusi kelompok dibahas dalam sesi pleno dengan kesimpulan yang menarik; para peserta memilih rekomendasi yang paling penting untuk diterapkan, dan tiga rekomendasi teratas antara lainpenyitaan dan penegakan hukum oleh polisi dan tentara serta alokasi anggaran dan penyusunan Peraturan Daerah untuk konservasi oleh walikota dan bupati. Akan tetapi, mengingat tujuan utama workshop adalah kegiatan pendidikan dan penyadartahuan konservasi, kegiatan yang sangat direkomendasi oleh peserta juga termasuk pemasangan billboard untuk sosialisasi peraturan yang melarang perdagangan satwa liar oleh Kepala P.D. Pasar, kampanye penyadartahuan oleh para NGO, dan penyusunan kurikulum dan materi konservasi yang bisa diterapkan oleh setiap tingkat pendidikan (SD, SMP and SMA) melalui kerjasama universitas dan Dinas Pendidikan. Kelompok media, seperti F/21 dan Tribun Manado yang juga merupakan peserta workshop, juga diidentifikasi sebagai stakeholder yang penting dan direkomendasikan untuk menyebarkan pesan konservasi yaki melalui pameran/pertunjukkan dan untuk meliput kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konservasi melalui media sosial.

Fokus Grup Diskusi 1 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 1 – rekomendasi dari para peserta

The role of each participant in Yaki conservation awareness was discussed more thoroughly in the first Focus Group Discussions (FGD), in which the participants discuss the FGD topics in mixed groups. The results were then discussed as a group discussion in the plenary session which resulted in interesting conclusions; the most votes were given to the recommendation of the Police to improve the law enforcement and for the Mayor to provide funding for conservation activities in addition to create local laws (PERDA) on conservation. However, as this workshop focused specifically on conservation education and awareness raising , other highly recommended activities were for the Kepala pasar to provide billboards to contribute to awareness raising on the Indonesian wildlife protection laws, for NGOs to hold awareness raising campaigns, and for universities and the Head of Education (Dinas Pendidikan) to work together on creating a conservation curriculum for each level of education (elementary school, junior and senior high school). Media groups, such as the participating F21 and Tribun Manado, also were identified as an important stakeholder by spreading yaki conservation messages through exhibitions and to cover any conservation related events through social media channels.

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Hasil dari Fokus Grup Diskusi 1

Pada siang harinya, rekomendasi untuk rencana kampanye disusun melalui FGD kedua, termasuk usulan kegiatan dan pesan kampanye. Selamatkan Yaki akan menyusun rencana kampanye berdasarkan rekomendasi-rekomendasi ini serta hasil survey skala besar di mana 1135 orang penduduk Bitung dan Airmadidi diwawancarai mengenai konservasi, komunikasi, dan metode kampanye yang mereka sukai. Selamatkan Yaki berharap para tokoh masyarakat yang menghadiri workshop hari Sabtu lalu dapat menjadi wajah dan suara kampanye kami dan bertindak sebagai Duta Yaki yang menyebarkan pesan bahwa kita seharusnya tidak memburu, memperdagangkan atau mengkonsumsi Macaca nigra atau yaki yang sangat terancam punah.

Later on in the day, recommendations for campaign plans were arranged through the second FGD, including the activities and campaign messages suggestions. Selamatkan Yaki will construct a campaign plan based on these recommendations and the result of a large-scale survey through which we interviewed 1135 residents in Bitung and Airmadidi regarding conservation, communication, and campaign methods that they are in favor of. Selamatkan Yaki hopes that community leaders who attended the workshop last Saturday could be the faces and voices of our campaign and would act as a Yaki Ambassador, spreading the message that we should not hunt, trade nor consume the Critically Endangered Macaca nigra or yaki.

Fokus Grup Diskusi 2 - rekomendasi dari para peserta

Fokus Grup Diskusi 2 – rekomendasi dari para peserta

Karena yaki merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang tidak bisa hidup secara liar di tempat manapun di dunia, patutlah area Airmadidi dan Bitung berbangga karena yaki dalam jumlah yang besar hanya bisa ditemukan di sini. Sayangnya, jumlah yang besar ini tampaknya tidak seimbang dengan kecenderungan masyarakat untuk memburu yaki, baik untuk dikonsumsi maupun untuk dijadikan peliharaan di rumah, ataupun mengalih fungsikan hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Di samping adanya UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999 yang melindungi yaki, alangkah baiknya jika masyarakat pun bahu membahu mempertahankan keanekaragaman hayati yang unik ini. Dengan stakehorders meeting ini diharapkan langkah-langkah pelestarian alam pada umumnya dan pelestarian yaki pada khususnya akan mendapat perhatian yang lebih besar dari masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Bitung dan Airmadidi, sehingga nanti tidak ada lagi satwa liar yang akan punah serta usaha perlindungan satwa liar akan lebih baik lagi.

Yaki is a North Sulawesi endemic species that cannot naturally live in any other place in the world, and it is for that reason that the Airmadidi and Bitung areas should be proud; a large amount of Yaki populations are only found within these areas. Unfortunately, this large amount seems disproportionate to the society’s tendencies to hunt yaki, be it for consumption or to be kept as pets, or converting forest, where they live, to make space for humans. Aside from the national law (Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 and Peraturan Pemerintah no. 7 Tahun 1999) that protects the yaki, it would be better if the society also join hands in preserving this unique biodiversity. Through the stakeholders meeting, we hope that nature conservation efforts in general and yaki conservation, especially, will become a bigger concern for the people of North Sulawesi, especially in Bitung and Airmadidi, so that in the future, wildlife will no longer face the threats of extinction and that wildlife protection can improve.

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki - Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Sesi tanya jawab dengan tim Selamatkan Yaki – Yunita Siwi, Caroline Tasirin dan Thirza Loffeld

Beberapa hari setelah Workshop Torang Bacirita tentang Konservasi Yaki, Meneer Edhie dari Akademi Maritim Indonesia (AMI) Bitung sudah menyebarkan pesan konservasi yaki dengan memasang banner info yaki untuk dibaca masyarakat! Terima kasih banyak Meneer Edhie, semoga yang lain akan segera mengikuti!

Just a few days after Workshop Torang Bacirita Yaki Conservation, Meneer Edhie from the Indonesian Maritime Academy (Akademi Maritim Indonesia) Bitung was already spreading the yaki conservation message by putting up our yaki information banner for the public to read! Many thanks, Meneer Edhie, hopefully others will soon follow!11020480_1046900885339233_3492717509067554482_n

Sudahkah Anda memasang banner Anda? Harap men-share foto banner yang sudah dipasang, serta Anda dan rekan-rekan Anda yang berpose bersama banner tersebut di Facebook group Torang Bacirita Konservasi Macaca nigra!

Have you put up your banner? Please share your photo of the already installed banner, as well as you and your friends pose with the banner in Torang Bacirita Konsevasi Macaca Nigra Facebook group!

Mewakili Tim Selamatkan Yaki, kami ingin berterima kasih pada semua peserta untuk masukannya. Rekomendasi dari workshop ini akan didistribusikan pada semua peserta melalui email dan dibagikan melalui group Facebook Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra. Sekali lagi, terima kasih kepada para peserta dan crew Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

Workshop ini dihadiri oleh 52 peserta dan sukses besar!

On behalf of the Selamatkan Yaki team, we would like to thank all the participants for their input. Recommendations from the workshop will be distributed to all participants via email and shared through Facebook group Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation. Once again, thank you to all participants and Tasikoki Wildlife Rescue Center crew!

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan, Fernando Lumowa dari Tribun Manado dan Themmy Doaly dari Mongabay, yang telah meliput acara kampanye kami, Workshop Torang Bacirita: Konservasi Macaca nigra, seperti yang kita sudah menemukan 3 siaran pers, lihat di sini:

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

We would also like to thank the journalists, under which Fernando Lumowa from Tribun Manado and Themmy Doaly from Mongabay, who covered our campaign event, the workshop Torang Bacirita: Macaca nigra Conservation, as we already found through these 3 press releases, see here:

http://www.seputarsulut.com/torang-bacirita-tentang-konservasi-yaki-di-bitung-airmadidi

http://manado.tribunnews.com/2015/03/27/bacirita-tentang-upaya-konservasi-yaki

http://beritamanado.com/bitung-dan-airmadidi-jadi-fokus-kampanye-selamatkan-yaki-2/

http://manado.tribunnews.com/2015/03/29/yayasan-save-yaki-giatkan-kampanye-edukasi-ke-masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s