Mari sambut angkatan kedua Duta Yaki SMA!

Hello pembaca, ini Caroline! Hari ini saya akan bercerita mengenai acara keren kami yang paling baru: Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Peserta dan panitia Yaki Youth Camp 2015!

Sudah lebih dari setahun sejak Yaki Youth Camp (YYC) terakhir dilaksanakan. Saya masih ingat dengan jelas antusiasme dan semangat para peserta, tapi saya sudah lupa dengan sikap malu-malu mereka ketika mereka pertama kali tiba di lokasi kegiatan. Saya tidak terkejut – 18 siswa, semuanya mewakili SMA/sederajat yang berbeda-beda, kini bertemu untuk pertama kalinya dalam kegiatan ini. Bagaimana kami memilih siswa-siswa ini? Tahun ini, kami mengunjungi setiap SMA/sederajat di Bitung dan Airmadidi dan menyampaikan sosialisasi bagi siswa dan guru mengenai pentingnya melindungi yaki dan alam kita. Siswa yang memperhatikan materi presentasi dan berhasil menjawab pertanyaan quiz di akhir sosialisasi dengan benar akan memenangkan Golden Ticket untuk mengikuti YYC 2015! Kami mengunjungi 34 SMA/sederajat dan menjangkau lebih dari 2500 siswa. Akhirnya, 18 perwakilan sekolah mengkonfirmasi undangan mereka untuk mengikuti YYC 2015 dan pergi bersama kami menuju kompleks museum Pa’Dior, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso, Minahasa. Saya membayangkan perjalanan menuju Tompaso hening karena para peserta belum saling mengenal. Keadaan itu akan segera berubah!

 

This slideshow requires JavaScript.

Untuk mengakrabkan diri malam itu, kami memainkan beberapa permainan nama agar semua saling mengenal. Selain 18 peserta dan 8 anggota tim Selamatkan Yaki, kami mengundang 5 tamu istimewa: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira, 5 Duta Yaki SMA kami dari YYC 2014! Karena semangat mereka yang luar biasa dalam menyebarkan pesan konservasi yaki, baik di sosialisasi sekolah bersama kami maupun di sosialisasi yang mereka laksanakan secara mandiri, mereka kami undang untuk mengikuti Yaki Youth Camp lagi, kali ini sebagai mentor untuk menginspirasi dan membantu para peserta. Seperti bisa dibayangkan, ada banyak sekali nama yang harus dihafal! Banyak yang tertukar-tukar dan banyak juga yang tertawa – tentu saja, itulah tujuan games ini dimainkan! Suasana semakin santai sesudah para peserta belajar dan latihan menyanyikan yel-yel YYC, dan ketika games selesai, semua siap menerima latar belakang kegiatan kami selama akhir pekan ini melalui Nonton Bareng. Melalui film yang diputar, peserta melihat sekilas isu-isu lingkungan yang dihadapi manusia secara global, sebelum menonton film pendek dari BBC mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi. Kegiatan ini menghibur sekaligus mendidik, dan peserta semakin paham mengenai spesies yang berusaha kita lindungi dan mempersiapkan mereka untuk materi-materi esok harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Semua peserta bangun pagi-pagi esok harinya untuk mengikuti olahraga pagi, dipimpin oleh Reyni. Gerak badan ini efektif mengusir sisa-sisa kantuk sehingga semua siap untuk mengikuti kegiatan hari kedua yang padat. Pagi itu diawali dengan sesi mengenai 10 hal yang bisa kalian lakukan untuk konservasi yaki, dengan saya sendiri sebagai pembicara dan dibantu Angel, Chia dan Uje. Mereka bertiga membantu menjelaskan beberapa ide umum yang bisa dilakukan para peserta, dan juga menceritakan pengalaman mereka mempraktekkan ide-ide tersebut. Bagian ini cukup menginspirasi! Setelah materi, semua mengikuti kegiatan speed-storming untuk mencari lebih banyak lagi ide praktis yang bisa diterapkan siswa SMA tapi juga efektif menjangkau masyarakat. Setelah itu, para peserta mendiskusikan hasil speedstorming dengan anggota Rambonya (istilah bagi sekelompok yaki, atau dalam kasus ini, sebutan bagi kelompok peserta) yang baru terbentuk, kemudian mempresentasikan 10 hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu konservasi yaki versi mereka sendiri. Rambo 4 memenangkan ronde ini dengan ide-ide mereka yang mudah diterapkan!

This slideshow requires JavaScript.

Sesi berikutnya menampilkan Ronny Buol, fotografer yang cukup terkenal di Sulawesi Utara. Sehari-harinya ia bekerja sebagai reporter untuk Kompas.com, namun ia juga merupakan ketua F/21, lembaga pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mempromosikan keindahan alam dan budaya Sulawesi Utara melalui fotografi. Ia memberikan contoh-contoh yang sangat baik mengenai pentingnya fotografi bagi konservasi, beberapa di antaranya berasal dari pengalaman pribadi, dan juga memberikan tip-tip yang sangat bagus mengenai cara mengambil foto yang berkesan, tidak peduli jenis kamera apa yang digunakan. Ronny juga menekankan pentingnya caption untuk menyampaikan informasi yang tidak bisa disampaikan melalui foto. Materi ini langsung dipraktekkan ketika Rambo-Rambo berjalan-jalan dalam kompleks Pa’Dior, mencari objek untuk difoto dan membuat caption yang dapat memotivasi pemirsa untuk melindungi lingkungan. Agak sulit memilih di antara foto bunga dan buaya dan semut dan sampah, tapi akhirnya, juri memilih foto Rambo 1 sebagai pemenang ronde ini!

This slideshow requires JavaScript.

 

Makan siang pun berlalu, dan setelah semua sudah kenyang, kami mengikuti sesi ketiga yang dibawakan oleh partner kami, Macaca Nigra Project (MNP)! Yandhi dari MNP belum lama tiba bersama Deity, Nona dan Dilla dari Tangkoko Conservation Education (TCE) untuk membantu mengawasi dan memotivasi para siswa SMA ini. Materi Yandhi mengenai hubungan antara yaki, lingkungan hidup dan manusia memberikan informasi yang lebih lengkap pada peserta mengenai usaha kami melindungi si penjaga hutan berambut funky ini. Untuk membantu masyarakat lebih mengenal sesama primate ini, Jurriaan juga menyampaikan materi mengenai memperkenalkan yaki melalui ilustrasi. Sebagai pencipta game online yaki kami dan kontributor comic strip di kedua edisi Yaki Magz, tidak ada yang lebih baik untuk membawakan materi ini! Sesudah kedua materi ini, para peserta kembali ditantang untuk menerapkan pengetahuan baru mereka dengan membuat story board sederhana mengenai kehidupan yaki. Kami tidak mencari karya setara Michelangelo; kami ingin Rambo-Rambo ini menciptakan cerita mengenai yaki yang sekreatif mungkin dan mudah dipahami masyarakat, dengan bantuan beberapa gambar sederhana yang bisa membantu menjelaskan cerita itu. Setelah perundingan sengit, Rambo 1 dan 3 diputuskan menjadi pemenang lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Sore-sore merupakan waktu yang pas untuk Yaki & Dance! Reyni membuka sesi ini dengan memimpin semua peserta dalam demonstrasi dance sebagai pemanasan, sebelum memperkenalkan bagaimana dance dapat digunakan untuk membantu konservasi yaki. Setelah itu, manajer program Selamatkan Yaki turun tangan langsung dan mempertunjukkan keahlian breakdance-nya! Setelah dance battle yang sangat lucu, semua peserta sudah cukup santai untuk membuat konsep pertunjukan dance mereka sendiri untuk mempromosikan konservasi yaki. Koreografi dance bukan satu-satunya hal yang harus mereka pertimbangkan. Konsep mereka juga harus menjelaskan setting pertunjukan (lokasi, waktu, dll.) dan pesan yang akan mereka sampaikan bersama pertunjukan dance itu. Variasi yang ditampilkan cukup mengejutkan! Dari konsep flash mob hingga dance yang mirip Kabasaran dan pilihan musik dari Waka Waka hingga soundtrack Masha and the Bear, Rambo 1 dan 4 terpilih sebagai juara lomba ini!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah makan malam kami memulai sesi terakhir hari itu: bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki. Kami menghadirkan beberapa tamu yang sangat istimewa sebagai pembicarasesi ini! Opal dan Ade dari Bloodlines datang jauh-jauh dari Manado untuk berbagi pengalaman mereka dalam dunia music lokal. Bukan hanya itu, Ira, Duta Yaki SMA kami dari Langowan, mendapat undangan khusus mengikuti YYC 2015 berkat lagu ciptaannya tentang yaki! Prisi memperkenalkan pentingnya musik dan peran Duta Yaki dalam bidang musik sebelum mempersilahkan Bloodlines berbicara. Bloodlines didirikan lima belas tahun yang lalu dan kini menjadi salah satu band metal yang cukup ternama di Sulawesi Utara, serta memiliki fan base yang cukup besar. Melalui orasi singkat mereka ketika naik panggung, mereka menjangkau fans mereka dan menyebarkan pesan mengenai konservasi. Ira memiliki kisah yang agak berbeda. Setelah sosialisasi dari Yunita di sekolahnya tahun lalu, ia langsung menulis lagu yang menyentuh mengenai melindungi yaki. Ira membahas bagaimana siswa SMA dapat menggunakan musik mereka untuk membantu usaha konservasi dan memberikan beberapa tips yang sangat bagus mengenai menulis, merekam, dan membagikan lagu! Dengan pengetahuan baru ini, para Rambo kembali berdiskusi untuk lomba terakhir: membuat yel-yel yaki mereka sendiri. Para Rambo ini berhasil membuat beberapa medley yang sangat menghibur, dan akhirnya Rambo 4 dinobatkan sebagai juara lomba terakhir!

This slideshow requires JavaScript.

Setelah istirahat malam, semuanya kembali bangun pagi untuk olahraga. Sesi olahraga kali ini lebih bersemangat setelah semuanya mendapat pengalaman dalam lomba dance hari sebelumnya! Setelah makan pagi dan MCK, peserta yang beragama Kristen mengikuti ibadah singkat di Minggu pagi itu. Setelah itu, waktunya para peserta melatih sosialisasi mereka sendiri. Sebagai pemanasan, saya memperkenalkan manfaat public speaking dalam kegiatan awareness raising dengan bantuan Edo dan Ira. Edo dan Ira memberikan tips mengenai bagaimana menghadapi siswa-siswa yang lebih muda, yang akan berguna ketika mereka mengadakan sosialisasi di SMP dan SD, dan juga berbagi pengalaman mereka dalam sosialisasi-sosialisasi yang pernah mereka ikuti. Kini peserta dibagi dalam kelompok berdasarkan letak sekolah untuk latihan sosialisasi. Menyenangkan sekali melihat setiap kelompok mempraktekkan semua yang mereka pelajari selama akhir pekan ini!

This slideshow requires JavaScript.

Tidak terasa kami memasuki penutupan Yaki Youth Camp 2015. Meskipun perbedaan skor sangat tipis, Rambo 1 dinobatkan sebagai kelompok pemenang untuk Yaki Youth Camp tahun ini! Suasana penutupan sangat berbeda dibandingkan ketika peserta baru tiba, tidak lebih dari 42 jam yang lalu. Mereka yang dulunya malu-malu dan pendiam kini sangat bersemangat, dan semua keraguan dan pertanyaan mengenai kegiatan Yaki Youth Camp hilang tak tersisa, digantikan dengan kenangan-kenangan yang seru dan pengetahuan baru tentang yaki! Kami ingin berterima kasih pada para kontributor: Ronny, Yandhi, Deity, Nona, Dila, Jurriaan, Opal, dan Ade; Duta Yaki tamu kami: Angel, Chia, Uje, Edo dan Ira; partner kami, Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara; dan tentu saja, 18 orang peserta Yaki Youth Camp 2015! Together we will save the yaki!

This slideshow requires JavaScript.

One thought on “Mari sambut angkatan kedua Duta Yaki SMA!

  1. Pingback: Menjadi Feature Tamu di Yaki Magz | Blog Ronny Buol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s