Yaki masuk sekolah di Bitung dan Airmadidi! Yaki school talks in Bitung and Airmadidi!

Dalam rangka Kampanye Kebanggaan Yaki Bitung dan Airmadidi 2015, selama bulan April dan Mei ini Selamatkan Yaki dengan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kota Bitung mengadakan sosialisasi di SMA dan SMK sederajat se-Bitung dan Airmadidi. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat khususnya pelajar tentang  satwa liar khususnya Yaki, serta pemilihan satu orang Duta Yaki dari setiap sekolah.
As part of our Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi, throughout the months of April and May Selamatkan Yaki has been holding talks in high schools across Bitung and Airmadidi, with the recommendation from the Department of Education in Bitung. These talks aim to educate and raise the awareness of the community, especially students, about our environment and the wildlife within it, particularly the yaki, and also to choose one Yaki Ambassador from each school.

Sebanyak 34 dari total 35 sekolah SMA dan SMK sederajat di Bitung dan Airmadidi telah dijangkau sepanjang bulan April dan Mei ini berfokus pada kelas X serta total murid yang berpartisipasi adalah sebanyak 2530 pelajar. Dalam sosialisasi ini, pelajar SMA diberikan pengetahuan tentang peran penting Yaki terhadap lingkungan serta belajar lebih banyak tentang keistimewaan Yaki yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang artinya tidak dapat ditemukan secara liar di tempat lain di dunia.
Out of the 35 high schools in Bitung and Airmadidi, 34 has been visited throughout the months of April and May and a total of 2530 tenth grade students have been reached through these talks. In these talks, students learned about the yaki’s role in the environment and found out what made the yaki so special, as a species endemic to North Sulawesi that can’t be found in the wild anywhere else in the world.

Sosialisasi di sekolah-sekolah ini sangat didukung penuh secara positif oleh setiap pimpinan sekolah yang dikunjungi karena disadari mereka bahwa dalam kurun waktu 40 tahun terakhir populasi sangat menurun jauh sebanyak kurang lebih 80% sehingga Yaki atau Macaca nigra dikategorikan Kritis atau keberadaanya sudah terancam punah. Yaki juga dilindungi oleh pemerintah lewat Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Diharapkan generasi sekarang ini sadar dan mampu untuk mengambil tindakan yang tepat dalam pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Utara.
The talks were well received by principals, knowing that within the past 40 years yaki populations have declined by 80%, earning them the title of being Critically Endangered and threatened by extinction. The yaki is also protected by government laws. The current generation is expected to be aware and capable of making the right decisions when it comes to protecting the biodiversity in North Sulawesi.

Perhatian pelajar Bitung dan Airmadidi terhadap sosialisasi ini sangat tinggi, terbukti dengan antusiasnya dalam memperhatikan presentasi serta partisipasi dalam sesi tanya jawab tentang Yaki. Hal ini merupakan suatu pertanda baik karena dari sekian banyaknya pelajar yang ikut serta, hanya sebagian kecil yang pernah melihat Yaki secara langsung dengan mata kepala sendiri sehingga rasa penasaran serta ingin tahu yang tinggi akan binatang ini.
The attention of students in Bitung and Airmadidi towards these talks were very high, as we can see in their enthusiasm towards the talk itself and through their questions about the yaki. This is a good sign because out of all the students who listened to the talks, only a very small number has ever seen the yaki in the wild, making the majority even more curious about this animal.

Yaki sangat unik dan lucu! Pengetahuan tentang Yaki sangat berguna karena masih banyak anak-anak yang belum tahu tentang Yaki,” kata Indah Purwanto, salah satu peserta sosialisasi dari SMA N 2 Bitung. “Kita harus  share sebanyak-banyaknya tentang Yaki agar lebih banyak yang tahu tentang Yakisambung Gilbert Atang. Expresi yang sama juga disampaikan oleh pelajar SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, yang sangat tertarik dengan pengetahuan lingkungan. Menurut Joudy melalui sosialisasi ini  generasi muda menjadi lebih peduli dengan satwa langka khususnya Yaki. Gani Padengkalu juga menambahkan bahwa Yaki memegang peran penting bagi keseimbangan alam jadi harus dilestarikan.
The yaki is very unique and cute! Knowing about the yaki is very useful because a lot of kids my age don’t know anything about the yaki,” says Indah Purwanto, one of the participants in SMA N 2 Bitung. “We need to share info about the yaki as much as possible so more people know about the yaki,” Gilber Atang adds. A similar statement was expressed by a student from SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, who was very interested in the environment. According to Joudy, through these talks the young generation can learn to care more about rare wildlife, especially yaki. Gani Pandengkalu also adds that the yaki plays an important role to the balance of the ecosystem and thus needs to be protected.

Sosialisasi Kampanye Kebanggan Yaki 2015 di SMA dan SMK sederajat Bitung dan Airmadidi ditutup di Pulau Lembeh. Tiga sekolah terakhir yang dikunjungi adalah SMA LPM Motto, SMA N 3 Bitung dan SMK N 3 Bitung dengan tiga perwakilan Duta Yaki yaitu; Efrayanto Lumuhu (SMA LPM Motto), Dewi Manuho (SMA N 3 Bitung) dan Steven Tamarariha (SMK N 3 Bitung). Kunjungan ke Pulau Lembeh meninggalkan kesan yang sangat istimewa bagi seluruh tim Selamatkan atas penerimaan yang baik dari pihak pemerintah dalam hal Ini Camat Ibu Ledy Ambat, S.STP dan Lurah Pak Sofyan Mandiangan, pihak sekolah dan serta masyarakat.
High school talks for Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi was closed on the island of Lembeh. The final three schools that were visited are SMA LPM MOtto, SMA N 3 Bitung and SMK N 3 Bitung with their representatives Efrayanto Lumuhu, Dewi Manuho and Steven Tamarariha, respectively. The visit to Lembeh left a deep impression on the whole Selamatkan Yaki team due to the welcome from the government, Camat Ledy Ambat, S.STP and Lurah Pak Sofyan Mandiangan, also from the schools and the community.

Dengan berakhirnya sosialisasi dan pemilihan Yaki Ambassador (Duta Yaki) perwakilan setiap sekolah, kegiatan akan dilanjutkan dengan Yaki Youth Camp (perkemahan konservasi Yaki).  Atas dukungan Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., para Duta Yaki ini akan digodok dalam Yaki Youth Camp pada tanggal 22-24 Mei 2015 nanti yang rencananya akan dilaksanakan di Museum Minahasa “Pa’Dior” di Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Jl Pinabetengan, Tompaso, Minahasa.
With the end of the school talks and selection of Yaki Ambassadors from each school, the activity will continue with Yaki Youth Camp. Thanks to the support from Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., these Yaki Ambassadors will participate in Yaki Youth Camp that will be held on May 22nd – 24th 2015 in Pa’Dior Museum, North Sulawesi Institute for Art and Culture in Tompaso, Minahasa.

“Torang jaga Yaki karna torang peduli!  Together we will save the Yaki!” demikian seluruh peserta sosialisasi meneriakkan slogan Kampanye Kebanggan Yaki  menutup sosialisasi dari tim Selamatkan Yaki.
Torang jaga yaki karna torang peduli! Together we will save the yaki!” shouts the participating students, reciting our Yaki Pride Campaign slogan to end the talk from Selamatkan Yaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s