Torang Bacirita (“We discuss”) Green Gospel 2015

DSC_2151 (Medium)

The opening of the Torang Bacirita Green Gospel workshop which links conservation to religion.

Mengambil bagian dalam suatu kelompok mayoritas adalah suatu tanggung jawab. Contohnya, sebagai salah satu dari masyarakat mayoritas penganut agama Kristen yang bertanggung jawab terhadap Tuhan serta alam ciptaan-Nya. Menyadari akan tanggung jawab itu maka lewat Torang Bacirita Green Gospel 2015 Program Selamatkan Yaki kembali mengadakan Pertemuan dengan Pendeta pendeta yang ada di Bitung dan Airmadidi lewat Workshop Konservasi dalam Kekristenan tanggal 8 September 2015 di gereja  GMIM Sentrum Bitung.

Being part of a community is a responsibility. For example, becoming part of the Christian community carries the responsibility for protecting God His creation, under which nature. After identifying this responsibility together with priests from Tomohon and Langowan in 2014, Selamatkan Yaki gain held a second conservation workshop on Christianity named “Torang Bacirita Green Gospel”, this time with the Priests in Bitung and Airmadidi on September 8, 2015 in GMIM Sentrum church Bitung.

DSC_2179 (Medium)

Opening prayer by Pdt. Aser Esau S.Th.

Pendeta dan hamba Tuhan adalah tokoh masyarakat yang setiap hari berhubungan langsung dengan masyarakat, khususnya lewat Ibadah ibadah yang pasti setiap hari dilakukan. Salah satu cara pendekatan yang diambil oleh Selamatkan Yaki untuk meningkatan kesadaran masyarakat Bitung adalah khusunya masyarakat Kristiani adalah dengan workshop pendeta dan hamba Tuhan ini. Harapannya adalah dengan peran pendeta dan hamba Tuhan ini lewat pelajaran firman bisa menggugah kembali rasa tanggung jawab kristiani akan alam pemberian Tuhan khususnya terhadap Yaki, monyet yang hanya hidup di sulawesi Utara dan tidak terdapat di tempat lain di dunia atau Endemik. Dalam 40 tahun terakhir populasi Yaki sudah sangat menurun sebesar 80% disebabkan karena pengrusakan habitat dan perburuan sehingga membawa yaki dalam status terancam punah. Adapun status Yaki dalam hukum Indonesia adalah dilindungi oleh Undang Undang no 5 tahun 1990.

DSC_2190 (Medium)

Opening by Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi

Priests and ministers are public figures, who deal directly with the public every day especially through daily religious worship. As North Sulawesi is pre-dominantly Christian, one of the approaches adopted by Selamatkan Yaki to increase awareness of people in Bitung and Airmadidi on conservation, is this workshop for priests and ministers. The aim is to enhance the role of the priests and ministers in bringing across the sense of responsibility of the Christian communities for the natural gifts from God during their daily worships. Though focusing on conservation more generally, during this workshop one species was highlighted: the yaki (Macaca nigra), the monkeys that live only in North Sulawesi and are found nowhere else in the world, making them an endemic species. In the last 40 years, the population of yaki decreased by more than 80% due to habitat destruction and illegal hunting, resulting in the yaki being listed as Critically Endangered on the IUCN Red list of Threatened Species. The yaki is furthermore protected under Indonesian law (UU No. 5 tahun 1990).

DSC_2212 (Medium)

Introduction of the Selamatkan Yaki programme by Ance Tatinggulu

Sekilas mengenai acara Torang Bacirita green gospel 2015, seperti yang sudah pernah di lakukan sebelumnya di Tompaso Minahasa, kali ini di Bitung dihadiri oleh beberapa denominasi gereja yang ada di Bitung dan Pulau Lembeh seperti dari Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), dari Bimas Kristen Departemen Agama,  GMIM serta kehadiran Bapak Wakil walikota Max Lomban SE. MSi yang membuka acara ini dengan resmi serta menunjukkan support yang sangat luar biasa terhadap program Selamatkan Yaki dengan mengarahkan dan memotivasi para peserta sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk menyuarakan perlindungan terhadap CiptaanNya.

DSC_2325 (Medium)

Talk on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Yelty Ochotan S.Th, M.Th

The conservation workshop Torang Bacirita Green Gospel 2015 was attended by several church denominations from Bitung and Lembeh Island; Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), Bimas of Christian Religious Affairs Guidance and GMIM. Also the Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi, was present and opened this event officially. Bapak Lomban showed big support to our Selamatkan Yaki programme by directing and motivating the participants from his own religious point of view.

DSC_2246 (Medium)

Talk by Stephan Lentey, Macaca Nigra Project, about the important role that yaki (Macaca nigra) play in human lives.

Peserta yang hadir rata rata baru pertama kali menghadiri acara seperti ini merasa tertarik dan antusias  dengan  materi tentang Yaki yang dibawakan oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project dan Etika Lingkungan dan Hak binatang oleh Ibu Jelty Ochotan STh, Mth yang kembali mengangkat tentang peran gereja dalam menghadapi perkembangan jaman dan teknologi yang membawa ke arah pengrusakan lingkungan dan tanggung jawab Gereja menghadapi tantangan ini.

Most participants attended an event like this for the first time and were interested and enthusiastic about the material about the yaki, presented by Stephan Lentey from Macaca Nigra Project and on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Jelty Ochotan sth, Mth, which again raised the topic about the role of the church in facing present day’s environmental destruction, and the responsibility of the Church to face this challenge.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Sesi diskusi dilakukan sebelum makan siang dan berjalan dengan sangat baik , peserta di libatkan dalam menyumbangkan ide dalam mengkritisi isu isu lingkungan dan peran gereja dalam mengatasi isu isu tersebut. Sumbangan pemikiran dikumpulkan dan dibahas bersama dalam presentasi kelompok. Semangat peserta tetap tinggi sampai sesi diskusi berakhir. Atas bantuan motivasi juga oleh salah satu Duta Yaki Ibu Khouny Lomban Rawung, menghasilkan hasil yang baik pula untuk peserta yang baru pertama kali mengikuti workshop seperti ini.

DSC_2556 (Medium)

Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who is a big supporter of the Yaki Pride Campaign in Bitung

The discussion sessions were before lunch and ran very well; all participants were involved in contributing ideas about environmental issues, and the church’s role in addressing those issues. All ideas were collected and discussed together in a group presentation. The spirit of the participants remained high until the end of the workshop. With the help of Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who motivated the participant as well, the workshop brought good results, especially since the majority of participants participated for the first time in a workshop like this.

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Sebelum di tutup dengan kesimpulan peserta di perkenalkan dengan sylabus bahan ajaran untuk sekolah minggu yang disusun oleh Caroline Tasirin. Sambutan baik dari peserta terhadap silabus ini bisa terlihat dari antusias peserta membaca dan memberikan spontanitas feedback yang sangat baik dalam menyempurnakan sylabus ini. Perhatian peserta akan acara ini sangat baik dan kesan yang baik di berikan oleh salah satu peserta mewakili seluruh peserta yang hadir: Pendeta Asser Esau STh yang menyadari akan peran mereka sebagai Pendeta dan memotivasi peserta lainnya dalam mengadakan perkunjungan ibadah untuk menyebarkan luaskan pesan pelestarian alam terlebih khusus lagi pelestarian satwa Yaki dalam ibadah ibadah di mana saja dan kapan saja mereka pergi dan berada.

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus Gbl. Fendra Hukom S.Th

Before closing with the conclusion, the participants were introduced with a teaching material syllabus for Sunday School, compiled by Caroline Tasirin, education assistant at Selamatkan Yaki. We received positive responses from participants on this syllabus, expressed by their enthusiastic feedback provided when reading the syllabus. This feedback will help us finalise this syllabus. We would like to thank the participants for giving their full attention during this workshop and sharing their impressions during the event, in particular Pastor Asser Esau sth who, already aware of his responsibilities as a priest towards God’s creation, has been motivating other participants in conducting visitation worship to disseminate the message of nature conservation widely, highlighting the yaki, in worships anywhere and anytime.

Lewat Ayat alkitab yang sudah tersusun mereka kembali diingatkan sebagai pekerja di Ladang Tuhan untuk bekerja memperbaiki hubungan dengan Tuhan lewat memperbaiki hubungan dengan alam. Hubungan solider sesama ciptaan berarti alam harus diberlakukan dengan belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai bagian dari hidup. Sikap ini merupakan sikap  respek terhadap alam sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia sekaligus sebagai cermin kemuliaan Allah.

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Through the Bible verses that have been discussed during this workshop, the participants were reminded of their plight to improve the relationship with God, through improving relations with nature. Aspects discussed were: 1) relations between fellow creatures should be developed with compassion, 2) humans should be aware of the suffering of nature, as it’s an integral part of human life, and 3) a respectful attitude should be developed towards nature, God’s creation, as nature fulfills human needs as well as a mirrors the glory of God.

Selamat menunaikan tugas pelayanan kepada seluruh peserta Torang bacirita Green gospel 2015, semoga pesan pelestarian Makhluk ciptaan Tuhan akan terus berlanjut seantero Bitung bahkan di mana saja.

Yunita leading the Q&A session

Yunita leading the Q&A session

It was an honour to work together with all participants of Torang Bacirita Green Gospel 2015. With your help, we hope the message of preserving the creatures of God’s creation will continue to spread throughout Bitung. 

A big thank you to our sponsors the EAZA IUCN SSC Southeast Asia Conservation Fund, Dublin Zoo and CERZA Conservation.

Yunita Siwi, Education Officer at Selamatkan Yaki and coordinator of Torang Bacirita Green Gospel 2015

This slideshow requires JavaScript.

SLANK Save the Yaki

Quality Hotel 16 Agustus 2015

Halo sahabat Yaki! Apa kabar kalian saat ini? Kami ingin membagi cerita yang menarik dari duta Yaki kita grup music yang saat ini tetap eksis dan sudah melegenda di blantika musik tanah air. Siapa lagi kalau bukan SLANK. Nah! Mendengar nama SLANK pasti ingatan kita langsung tertuju kepada warna music rock n roll yang mereka usung sejak awal mereka berdiri pada Desember 1983. Dinamakan SLANK karena mereka kelihatan “selengean”. Kata “selengean” biasa digunakan untuk anak-anak muda jaman sekarang yang gayanya semau gue banget. Slank yang kali ini beranggotakan : Vocal – Akhadi Wira Satriaji (Kaka), Drums – Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Guitars – Abdee Negara (Abdee), Guitars – Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho), dan Basses – Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka), di balik gaya yang selengean itu ternyata mereka banyak menciptakan lagu yang bertemakan lingkungan seperti : “Nggak perawan lagi, Tepi campuhan, Bocah, Lembah Baliem, dan Alami.” Semua lagu itu diciptakan sebagai wujud nyata kecintaan mereka terhadap tanah air Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, flora dan fauna serta keanekaragaman hayati yang melimpah. Segala keindahan ini untuk kita nikmati dan lestarikan sampai generasi di masa depan.

IMG_7721

Harry showing and explaining the Yaki Magz

Hello friends of the yaki! How are you guys? We would love to share interesting story from our Yaki Ambassador, a legendary music group in Indonesia and still exist and up to date. Who else but SLANK. Well! Hearing the name of SLANK, our surely memories immediately drawn to the color of rock n roll music, which they proclaimed since its establishment in December 1983. It is called SLANK from ‘slangean’ (Javanese word) refers to youth nowadays which means ‘whatever I want’. Slank consists Akhadi Wira Satriaji (Kaka) as Vocal, Drums – Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Guitars – Abdee Negara (Abdee), Guitars – Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho), dan Basses – Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka), and behind the slangean style they have actually created songs with environmental themed such as “Nggak perawan lagi, Tepi campuhan, Bocah, Lembah Baliem, dan Alami.” All songs were written as tangible manifestation of their love of the country Indonesia which is rich in natural resources, wildlife, and all biodiversity. All this beauty is for us to enjoy and take care until the next generation.

Setelah sekian lama tidak jumpa akhirnya pada tanggal 16 Agustus 2015 bertempat di Quality Hotel Manado. Tim Selamatkan Yaki mendapat kesempatan bertemu lagi dengan SLANK yang saat itu hadir tanpa Abdee – sang gitaris Sayang sekali Abdee tidak dapat hadir karena sakit. Semoga cepat sembuh ya Abdee! Pengen tahu apa saja keseruan yang  dalam pertemuan kali ini? Cekidot!

After a long time ago since we met, finally we catch up with them on August 16th in Quality Hotel manado. Our team had chance to catch up with Slank that by that day presented without Abdee the guitarist that was ill. Get well soon Abdee! Do you want to know the fun thing happened on that day? Check it out!

Kami menyiapkan kaos istimewa kali ini. SLANK SAVE THE YAKI! Dimulai dengan foto-foto bersama keempat personil SLANK dengan menggunakan kaos yang bertuliskan ‘Slank Save the Yaki’ serta template untuk photo boot kami. Seperti biasa gaya mereka yang selengean mengundang tawa dari semua tim Selamatkan Yaki, tidak terkecuali beberapa wartawan yang saat itu sedang melakukan pengambilan gambar. Jangan bilang SLANK kalau tidak Funky… We had a lot of fun!

Special tshirt "Slank Save the Yaki".

Special tshirt “Slank Save the Yaki”.

We had prepared special t-shirt that time. SLANK SAVE THE YAKI! Started by taking photos them wearing the t-shirt, and few yaki photo-booth templates. As usual, their slangean poses made laugh to the entire team and some journalists who presented at that time. It’s no SLANK if it’s not funky… We had a lot of fun!

Sobat Yaki masih ingat kan, dalam beberapa kesempatan setiap kali tim Selamatkan yaki melakukan kegiatan sosialisasi dalam bentuk Info Stand menyertakan banner ‘Slank Duta Yaki’ dengan foto semua personil Slank. Banner ini digunakan untuk menampung dukungan dari semua orang dalam bentuk tanda tangan. “Wah banyak benar dukungannya ya…” ujar Kaka yang pada waktu itu sempat melihat dengan seksama banner yang sudah penuh tanda tangan. Terima kasih untuk kalian yang sudah sempat menandatangani banner-banner itu yah..

Did you remember a banner of “SLANK Duta Yaki” (Slank Yaki Ambassador) that is always hanged whenever we have informative stand? This banner consists signatures from visitors as a support of yaki conservation. “Wow..there are lot of supports here..”, said Kaka when saw the banners full with signatures. And many thanks for all of you who has contributed on those banners.

Tidak lupa juga dalam pertemuan yang singkat ini, Harry berbincang-bincang dengan SLANK dan mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan konservasi hutan dan satwa liar khususnya yaki. Yuk simak wawancaranya!

In this short meeting, Harry chatted with SLANK and ask some questions related to forest conservation and wildlife in particular yaki. Let’s read to the interview!

Harry mewawancarai Slank. Harry is interviewing Slank.

Harry mewawancarai Slank. Harry is interviewing Slank.

Harry : Mengapa perlu ada konservasi di Indonesia?
Slank : Karena Indonesia dan Brazil boleh dikatakan the last paru-paru dunia yang hutannya harus dijaga dan dilestarikan.

Harry : Why conservation is needed in Indonesia?
Slank : Because Indonesia and Brazil can be said as the last world lungs that we need to protect.

Harry : Mengapa Slank mau menjadi Duta Yaki ?
Slank : “Makaka…kan ada nama saya Kaka didalamnya,” seru Kaka. Secara pribadi saya (Kaka) sangat tergugah melihat teman-teman dari Selamatkan Yaki yang berjuang untuk menyelamatkan yaki dari ancaman kepunahan, lagi pula yaki ini kan Endemik cuman ada di Sulawesi Utara, cuma ada di Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya.”

Harry : Why does Slank want to be Yaki Ambassador?
Slanks : Macaca…there is my name inside it, said Kaka. I personally feel motivated by seeing the work of Selamatkan Yaki to save this species, and this yaki is endemic to North Sulawesi, only in Indonesia. If not us, who else are going to protect them!

Harry : Bagaimana musik dapat berkontribusi dalam konservasi dan apa pesan-pesan Slank untuk para Slankers mania terkait konservasi?
Slank: “Kami tidak akan pernah menyerah untuk menyuarakan pesan-pesan konservasi karena buat kami music does a lot buat konservasi , music lebih efektif karena denga nyanyian kita dapat menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat ketimbang talk show dimana kadang orang hanya datang minta foto, makanya kami Slank selalu berpikir bagaimana music Rock n Roll show bisa menyampaikan pesan visi misi yang dapat di bawa pulang orang banyak seperti, Save Yaki, Save mangrove, Save coral, Save pulau terluar,” ungkap Kaka.

IMG_7795Harry : How can music contribute in conservation and what is your message for Slankers (the fan club)?
Slank : We are not going to give up to shout the conservation messages out, as for us music does a lot, it is more effective because through singing we can deliver positive messages to many people compare than doing talk show where fans come to only take pictures, that is why Slank always think of how Rock n Roll musci can deliver vision and mission, for example together with Selamatkan Yaki, save mangroves, save corals, save the outer islands,” said Kaka.

“Makanya jangan makan yaki! Yaki jangan di tumis! Makan kelinci saja gue nggak tega apalagi yaki yang bentuknya seperti kita, ia nggak?” seru Bimbim.
“Jangan ada Yaki di pasar ekstrim!” tegas Ivanka.
“Untuk Para Slankers dimana saja, Slankers bisa menjadi agen pelindung yaki yang memberitahu, mengajak teman, Kerabat atau siapa saja untuk peduli terhadap konservasi hutan dan satwa liar Yaki.”

“So, don’t eat yaki! Don’t saute yaki! I don’t even able to eat rabbit, especially yaki that looks so similar like us, right? said Bimbin.
“Don’t sell yaki in extreme market!” clear Ivanka.
“To all Slankers anywhere, Slankers can be the agent to save the yaki, through spreading message, invite people, family or friends to care about forest conservation and wildlife espceially yaki.”

Well, setelah mendengar jawaban-jawaban dari Slank ternyata mereka sangat peduli terhadap alam di Indonesia, luar biasa! Sahabat yaki bagaimana dengan kita? “Kalau Slank bisa masa torang nyanda?” demikian bunyi kalimat dalam Slank banner yang sampai hari ini mendapat respon yang sangat positif dari semua kalangan.

IMG_7864Well after heard the answers from Slank, they do care about the nature of Indonesia, cool! Friends of yaki, how about us? “If SLANK do why can’t us?” that’s what written on our Slank banner that have been getting positive responds from many people.

Setelah sesi wawancara, akhirnya pertemuan kali ini ditutup dengan foto bersama seluruh Tim Selamatkan Yaki. Kami juga merekap video singkat dengan mengucapkan slogan kampanye kebanggan Yaki; “Torang Jaga Yaki karna Torang Peduli! Peace!” Selamat berkarya SLANK! Terimakasih buat dukungannya! Semoga pertemuan kali ini akan memberi motivasi positif bagi Tim Selamatkan Yaki untuk lebih giat lagi dalam perlindungan dan pelestarian satwa Yaki dan tentunya bagi sahabat Yaki dan semua masyarakat untuk lebih peduli terhadap konservasi hutan di Sulawesi Utara dan Indonesia. Save Yaki! Cheers! Ance-SY

After the interview session, the meeting ended by group photos of all SY team and Slank. We had also recorded short message with our yaki pride campaign slogan; “We protect the yaki because we care!” Keep the good work SLANK! Thank you for the support! Hopefully this meeting will provide positive motivation for SY team to be more active in the protection and preservation of wildlife and of course for friends Yaki and for all the people to be more concerned about the forests and yaki conservation in North Sulawesi and Indonesia. Save Yaki! Cheers! Ance-SY.