Torang Bacirita (“We discuss”) Green Gospel 2015

DSC_2151 (Medium)

The opening of the Torang Bacirita Green Gospel workshop which links conservation to religion.

Mengambil bagian dalam suatu kelompok mayoritas adalah suatu tanggung jawab. Contohnya, sebagai salah satu dari masyarakat mayoritas penganut agama Kristen yang bertanggung jawab terhadap Tuhan serta alam ciptaan-Nya. Menyadari akan tanggung jawab itu maka lewat Torang Bacirita Green Gospel 2015 Program Selamatkan Yaki kembali mengadakan Pertemuan dengan Pendeta pendeta yang ada di Bitung dan Airmadidi lewat Workshop Konservasi dalam Kekristenan tanggal 8 September 2015 di gereja  GMIM Sentrum Bitung.

Being part of a community is a responsibility. For example, becoming part of the Christian community carries the responsibility for protecting God His creation, under which nature. After identifying this responsibility together with priests from Tomohon and Langowan in 2014, Selamatkan Yaki gain held a second conservation workshop on Christianity named “Torang Bacirita Green Gospel”, this time with the Priests in Bitung and Airmadidi on September 8, 2015 in GMIM Sentrum church Bitung.

DSC_2179 (Medium)

Opening prayer by Pdt. Aser Esau S.Th.

Pendeta dan hamba Tuhan adalah tokoh masyarakat yang setiap hari berhubungan langsung dengan masyarakat, khususnya lewat Ibadah ibadah yang pasti setiap hari dilakukan. Salah satu cara pendekatan yang diambil oleh Selamatkan Yaki untuk meningkatan kesadaran masyarakat Bitung adalah khusunya masyarakat Kristiani adalah dengan workshop pendeta dan hamba Tuhan ini. Harapannya adalah dengan peran pendeta dan hamba Tuhan ini lewat pelajaran firman bisa menggugah kembali rasa tanggung jawab kristiani akan alam pemberian Tuhan khususnya terhadap Yaki, monyet yang hanya hidup di sulawesi Utara dan tidak terdapat di tempat lain di dunia atau Endemik. Dalam 40 tahun terakhir populasi Yaki sudah sangat menurun sebesar 80% disebabkan karena pengrusakan habitat dan perburuan sehingga membawa yaki dalam status terancam punah. Adapun status Yaki dalam hukum Indonesia adalah dilindungi oleh Undang Undang no 5 tahun 1990.

DSC_2190 (Medium)

Opening by Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi

Priests and ministers are public figures, who deal directly with the public every day especially through daily religious worship. As North Sulawesi is pre-dominantly Christian, one of the approaches adopted by Selamatkan Yaki to increase awareness of people in Bitung and Airmadidi on conservation, is this workshop for priests and ministers. The aim is to enhance the role of the priests and ministers in bringing across the sense of responsibility of the Christian communities for the natural gifts from God during their daily worships. Though focusing on conservation more generally, during this workshop one species was highlighted: the yaki (Macaca nigra), the monkeys that live only in North Sulawesi and are found nowhere else in the world, making them an endemic species. In the last 40 years, the population of yaki decreased by more than 80% due to habitat destruction and illegal hunting, resulting in the yaki being listed as Critically Endangered on the IUCN Red list of Threatened Species. The yaki is furthermore protected under Indonesian law (UU No. 5 tahun 1990).

DSC_2212 (Medium)

Introduction of the Selamatkan Yaki programme by Ance Tatinggulu

Sekilas mengenai acara Torang Bacirita green gospel 2015, seperti yang sudah pernah di lakukan sebelumnya di Tompaso Minahasa, kali ini di Bitung dihadiri oleh beberapa denominasi gereja yang ada di Bitung dan Pulau Lembeh seperti dari Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), dari Bimas Kristen Departemen Agama,  GMIM serta kehadiran Bapak Wakil walikota Max Lomban SE. MSi yang membuka acara ini dengan resmi serta menunjukkan support yang sangat luar biasa terhadap program Selamatkan Yaki dengan mengarahkan dan memotivasi para peserta sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk menyuarakan perlindungan terhadap CiptaanNya.

DSC_2325 (Medium)

Talk on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Yelty Ochotan S.Th, M.Th

The conservation workshop Torang Bacirita Green Gospel 2015 was attended by several church denominations from Bitung and Lembeh Island; Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM), Gereja Tiberias,  Gereja Masehi Advent Hari ke Tujuh (GMHK), Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI), Bimas of Christian Religious Affairs Guidance and GMIM. Also the Vice Mayor of Bitung, Max Lomban SE. MSi, was present and opened this event officially. Bapak Lomban showed big support to our Selamatkan Yaki programme by directing and motivating the participants from his own religious point of view.

DSC_2246 (Medium)

Talk by Stephan Lentey, Macaca Nigra Project, about the important role that yaki (Macaca nigra) play in human lives.

Peserta yang hadir rata rata baru pertama kali menghadiri acara seperti ini merasa tertarik dan antusias  dengan  materi tentang Yaki yang dibawakan oleh Stephan Lentey dari Macaca Nigra Project dan Etika Lingkungan dan Hak binatang oleh Ibu Jelty Ochotan STh, Mth yang kembali mengangkat tentang peran gereja dalam menghadapi perkembangan jaman dan teknologi yang membawa ke arah pengrusakan lingkungan dan tanggung jawab Gereja menghadapi tantangan ini.

Most participants attended an event like this for the first time and were interested and enthusiastic about the material about the yaki, presented by Stephan Lentey from Macaca Nigra Project and on Environmental Ethics and the rights of animals by Mrs. Jelty Ochotan sth, Mth, which again raised the topic about the role of the church in facing present day’s environmental destruction, and the responsibility of the Church to face this challenge.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Focus group discussion about the environmental issues in the area and which role the church can play in raising awareness about these issues.

Sesi diskusi dilakukan sebelum makan siang dan berjalan dengan sangat baik , peserta di libatkan dalam menyumbangkan ide dalam mengkritisi isu isu lingkungan dan peran gereja dalam mengatasi isu isu tersebut. Sumbangan pemikiran dikumpulkan dan dibahas bersama dalam presentasi kelompok. Semangat peserta tetap tinggi sampai sesi diskusi berakhir. Atas bantuan motivasi juga oleh salah satu Duta Yaki Ibu Khouny Lomban Rawung, menghasilkan hasil yang baik pula untuk peserta yang baru pertama kali mengikuti workshop seperti ini.

DSC_2556 (Medium)

Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who is a big supporter of the Yaki Pride Campaign in Bitung

The discussion sessions were before lunch and ran very well; all participants were involved in contributing ideas about environmental issues, and the church’s role in addressing those issues. All ideas were collected and discussed together in a group presentation. The spirit of the participants remained high until the end of the workshop. With the help of Yaki Ambassador Mrs. Khouny Lomban Rawung who motivated the participant as well, the workshop brought good results, especially since the majority of participants participated for the first time in a workshop like this.

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Caroline presenting the conservation&religion syllabus for Sunday School implementation

Sebelum di tutup dengan kesimpulan peserta di perkenalkan dengan sylabus bahan ajaran untuk sekolah minggu yang disusun oleh Caroline Tasirin. Sambutan baik dari peserta terhadap silabus ini bisa terlihat dari antusias peserta membaca dan memberikan spontanitas feedback yang sangat baik dalam menyempurnakan sylabus ini. Perhatian peserta akan acara ini sangat baik dan kesan yang baik di berikan oleh salah satu peserta mewakili seluruh peserta yang hadir: Pendeta Asser Esau STh yang menyadari akan peran mereka sebagai Pendeta dan memotivasi peserta lainnya dalam mengadakan perkunjungan ibadah untuk menyebarkan luaskan pesan pelestarian alam terlebih khusus lagi pelestarian satwa Yaki dalam ibadah ibadah di mana saja dan kapan saja mereka pergi dan berada.

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus

Participant providing feedback on the Sunday School syllabus Gbl. Fendra Hukom S.Th

Before closing with the conclusion, the participants were introduced with a teaching material syllabus for Sunday School, compiled by Caroline Tasirin, education assistant at Selamatkan Yaki. We received positive responses from participants on this syllabus, expressed by their enthusiastic feedback provided when reading the syllabus. This feedback will help us finalise this syllabus. We would like to thank the participants for giving their full attention during this workshop and sharing their impressions during the event, in particular Pastor Asser Esau sth who, already aware of his responsibilities as a priest towards God’s creation, has been motivating other participants in conducting visitation worship to disseminate the message of nature conservation widely, highlighting the yaki, in worships anywhere and anytime.

Lewat Ayat alkitab yang sudah tersusun mereka kembali diingatkan sebagai pekerja di Ladang Tuhan untuk bekerja memperbaiki hubungan dengan Tuhan lewat memperbaiki hubungan dengan alam. Hubungan solider sesama ciptaan berarti alam harus diberlakukan dengan belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai bagian dari hidup. Sikap ini merupakan sikap  respek terhadap alam sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia sekaligus sebagai cermin kemuliaan Allah.

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Participants and committee of the Torang Bacirita Green Gospel Workshop 2015

Through the Bible verses that have been discussed during this workshop, the participants were reminded of their plight to improve the relationship with God, through improving relations with nature. Aspects discussed were: 1) relations between fellow creatures should be developed with compassion, 2) humans should be aware of the suffering of nature, as it’s an integral part of human life, and 3) a respectful attitude should be developed towards nature, God’s creation, as nature fulfills human needs as well as a mirrors the glory of God.

Selamat menunaikan tugas pelayanan kepada seluruh peserta Torang bacirita Green gospel 2015, semoga pesan pelestarian Makhluk ciptaan Tuhan akan terus berlanjut seantero Bitung bahkan di mana saja.

Yunita leading the Q&A session

Yunita leading the Q&A session

It was an honour to work together with all participants of Torang Bacirita Green Gospel 2015. With your help, we hope the message of preserving the creatures of God’s creation will continue to spread throughout Bitung. 

A big thank you to our sponsors the EAZA IUCN SSC Southeast Asia Conservation Fund, Dublin Zoo and CERZA Conservation.

Yunita Siwi, Education Officer at Selamatkan Yaki and coordinator of Torang Bacirita Green Gospel 2015

This slideshow requires JavaScript.

Yaki masuk sekolah di Bitung dan Airmadidi! Yaki school talks in Bitung and Airmadidi!

Dalam rangka Kampanye Kebanggaan Yaki Bitung dan Airmadidi 2015, selama bulan April dan Mei ini Selamatkan Yaki dengan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kota Bitung mengadakan sosialisasi di SMA dan SMK sederajat se-Bitung dan Airmadidi. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat khususnya pelajar tentang  satwa liar khususnya Yaki, serta pemilihan satu orang Duta Yaki dari setiap sekolah.
As part of our Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi, throughout the months of April and May Selamatkan Yaki has been holding talks in high schools across Bitung and Airmadidi, with the recommendation from the Department of Education in Bitung. These talks aim to educate and raise the awareness of the community, especially students, about our environment and the wildlife within it, particularly the yaki, and also to choose one Yaki Ambassador from each school.

Sebanyak 34 dari total 35 sekolah SMA dan SMK sederajat di Bitung dan Airmadidi telah dijangkau sepanjang bulan April dan Mei ini berfokus pada kelas X serta total murid yang berpartisipasi adalah sebanyak 2530 pelajar. Dalam sosialisasi ini, pelajar SMA diberikan pengetahuan tentang peran penting Yaki terhadap lingkungan serta belajar lebih banyak tentang keistimewaan Yaki yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara yang artinya tidak dapat ditemukan secara liar di tempat lain di dunia.
Out of the 35 high schools in Bitung and Airmadidi, 34 has been visited throughout the months of April and May and a total of 2530 tenth grade students have been reached through these talks. In these talks, students learned about the yaki’s role in the environment and found out what made the yaki so special, as a species endemic to North Sulawesi that can’t be found in the wild anywhere else in the world.

Sosialisasi di sekolah-sekolah ini sangat didukung penuh secara positif oleh setiap pimpinan sekolah yang dikunjungi karena disadari mereka bahwa dalam kurun waktu 40 tahun terakhir populasi sangat menurun jauh sebanyak kurang lebih 80% sehingga Yaki atau Macaca nigra dikategorikan Kritis atau keberadaanya sudah terancam punah. Yaki juga dilindungi oleh pemerintah lewat Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Diharapkan generasi sekarang ini sadar dan mampu untuk mengambil tindakan yang tepat dalam pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Utara.
The talks were well received by principals, knowing that within the past 40 years yaki populations have declined by 80%, earning them the title of being Critically Endangered and threatened by extinction. The yaki is also protected by government laws. The current generation is expected to be aware and capable of making the right decisions when it comes to protecting the biodiversity in North Sulawesi.

Perhatian pelajar Bitung dan Airmadidi terhadap sosialisasi ini sangat tinggi, terbukti dengan antusiasnya dalam memperhatikan presentasi serta partisipasi dalam sesi tanya jawab tentang Yaki. Hal ini merupakan suatu pertanda baik karena dari sekian banyaknya pelajar yang ikut serta, hanya sebagian kecil yang pernah melihat Yaki secara langsung dengan mata kepala sendiri sehingga rasa penasaran serta ingin tahu yang tinggi akan binatang ini.
The attention of students in Bitung and Airmadidi towards these talks were very high, as we can see in their enthusiasm towards the talk itself and through their questions about the yaki. This is a good sign because out of all the students who listened to the talks, only a very small number has ever seen the yaki in the wild, making the majority even more curious about this animal.

Yaki sangat unik dan lucu! Pengetahuan tentang Yaki sangat berguna karena masih banyak anak-anak yang belum tahu tentang Yaki,” kata Indah Purwanto, salah satu peserta sosialisasi dari SMA N 2 Bitung. “Kita harus  share sebanyak-banyaknya tentang Yaki agar lebih banyak yang tahu tentang Yakisambung Gilbert Atang. Expresi yang sama juga disampaikan oleh pelajar SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, yang sangat tertarik dengan pengetahuan lingkungan. Menurut Joudy melalui sosialisasi ini  generasi muda menjadi lebih peduli dengan satwa langka khususnya Yaki. Gani Padengkalu juga menambahkan bahwa Yaki memegang peran penting bagi keseimbangan alam jadi harus dilestarikan.
The yaki is very unique and cute! Knowing about the yaki is very useful because a lot of kids my age don’t know anything about the yaki,” says Indah Purwanto, one of the participants in SMA N 2 Bitung. “We need to share info about the yaki as much as possible so more people know about the yaki,” Gilber Atang adds. A similar statement was expressed by a student from SMK N 1 Bitung, Joudy Watupongoh, who was very interested in the environment. According to Joudy, through these talks the young generation can learn to care more about rare wildlife, especially yaki. Gani Pandengkalu also adds that the yaki plays an important role to the balance of the ecosystem and thus needs to be protected.

Sosialisasi Kampanye Kebanggan Yaki 2015 di SMA dan SMK sederajat Bitung dan Airmadidi ditutup di Pulau Lembeh. Tiga sekolah terakhir yang dikunjungi adalah SMA LPM Motto, SMA N 3 Bitung dan SMK N 3 Bitung dengan tiga perwakilan Duta Yaki yaitu; Efrayanto Lumuhu (SMA LPM Motto), Dewi Manuho (SMA N 3 Bitung) dan Steven Tamarariha (SMK N 3 Bitung). Kunjungan ke Pulau Lembeh meninggalkan kesan yang sangat istimewa bagi seluruh tim Selamatkan atas penerimaan yang baik dari pihak pemerintah dalam hal Ini Camat Ibu Ledy Ambat, S.STP dan Lurah Pak Sofyan Mandiangan, pihak sekolah dan serta masyarakat.
High school talks for Yaki Pride Campaign 2015 in Bitung and Airmadidi was closed on the island of Lembeh. The final three schools that were visited are SMA LPM MOtto, SMA N 3 Bitung and SMK N 3 Bitung with their representatives Efrayanto Lumuhu, Dewi Manuho and Steven Tamarariha, respectively. The visit to Lembeh left a deep impression on the whole Selamatkan Yaki team due to the welcome from the government, Camat Ledy Ambat, S.STP and Lurah Pak Sofyan Mandiangan, also from the schools and the community.

Dengan berakhirnya sosialisasi dan pemilihan Yaki Ambassador (Duta Yaki) perwakilan setiap sekolah, kegiatan akan dilanjutkan dengan Yaki Youth Camp (perkemahan konservasi Yaki).  Atas dukungan Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., para Duta Yaki ini akan digodok dalam Yaki Youth Camp pada tanggal 22-24 Mei 2015 nanti yang rencananya akan dilaksanakan di Museum Minahasa “Pa’Dior” di Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Jl Pinabetengan, Tompaso, Minahasa.
With the end of the school talks and selection of Yaki Ambassadors from each school, the activity will continue with Yaki Youth Camp. Thanks to the support from Dr. Benny J. Mamoto, S.H., M.Si., these Yaki Ambassadors will participate in Yaki Youth Camp that will be held on May 22nd – 24th 2015 in Pa’Dior Museum, North Sulawesi Institute for Art and Culture in Tompaso, Minahasa.

“Torang jaga Yaki karna torang peduli!  Together we will save the Yaki!” demikian seluruh peserta sosialisasi meneriakkan slogan Kampanye Kebanggan Yaki  menutup sosialisasi dari tim Selamatkan Yaki.
Torang jaga yaki karna torang peduli! Together we will save the yaki!” shouts the participating students, reciting our Yaki Pride Campaign slogan to end the talk from Selamatkan Yaki.

Perjuangan kami melawan kepunahan: “Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!”

 Our fight against extinction: “Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

Band Bloodlines

Band asal Manado Bloodlines, Duta Yaki untuk generasi baru Manadonese band Bloodlines,Yaki Ambassadors for the new generation

Manado 16 April 2015 – Akhir pekan ini para penggemar musik akan membanjiri GodBless Park Manado dengan adanya penampilan dari band-band besar seperti Burgerkill, Taring dan Seringai. Di antara band-band ini adalah Bloodlines, yang pertama dari jenisnya di Manado dan sudah ada sejak tahun 2000, yang akan tampil pada hari Sabtu, 18 April. Bloodlines yang beranggotakan 6 orang ini telah menjadi Duta yaki sejak September 2014 dan secara aktif mendukung upaya konservasi di Sulawesi Utara. “Selain musik, kami juga tertarik dengan upaya konservasi,” kata Ade, salah satu vokalis Bloodlines, “karena upaya-upaya konservasi dapat berhasil jika turut didukung oleh masyarakat.” Pada bulan September 2014, para anggota Bloodlines memasuki panggung Manado Wheels Automorfosa Auto Contest di Lion Plaza, memakai kaos dengan logo dan slogan Kampanye Kebanggaan Yaki kami. Setelah penampilan yang luar biasa, band ini menutup penampilan mereka dengan menjelaskan mengenai yaki dan ancaman yang mereka hadapi, sambil membagikan flyer mengenai program konservasi Selamatkan Yaki. “Sudah lumayan lama sejak kami pertama mendengar tentang Selamatkan Yaki, sekitar tahun 2011, melalui teman-teman pencinta alam saat kami masih di universitas. Sekarang kami akhirnya menemukan kesempatan untuk menyuarakan keprihatinan tentang monyet langka ini!” para anggota Bloodlines menjelaskan. Manado 16 April 2015 – This weekend music fans will pour into the GodBless Park with big bands playing such as Burgerkill, Taring and Seringai. Among these bands is the band Bloodlines, the first of its kind in Manado and have been around since 2000 who will perform on Saturday 18 April. Bloodlines, existing of 6 members, have been yaki ambassadors since September 2014 and actively support conservation efforts in North Sulawesi. “Apart from music, we are also interested in conservation efforts,” says Ade, one of Bloodlines’ vocalists, “because conservation of wildlife populations can be successful if supported by the community.” In September 2014, the members of bloodlines marched onto the stage of Manado Wheels Automorfosa Auto Contest in Lion Plaza, wearing T-shirts with the Yaki Pride Campaign logo and slogan. After an amazing performance, the band finished with a speech about the yaki and the threats that they face, while handing out pamphlets about the Selamatkan Yaki conservation programme. “It had been a while since we first heard about Selamatkan Yaki, around 2011, through our nature-loving friends, whom at the time were in university. Now we finally found the opportunity to give voice to our concerns about this endangered monkey!” members of Bloodlines explain.

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Bloodlines performing at Manado Mayhem festival while wearing Yaki Ambassador T shirts

Yaki (Macaca nigra) adalah spesies primata yang endemik, yang artinya spesies yang hanya hidup secara alami di Sulawesi Utara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Sayangnya, yaki sangat terancam punah karena adanya perburuan dan perambahan hutan, serta jumlah populasi mereka yang telah menurun lebih dari 80% dalam 40 tahun terakhir, meskipun dilindungi oleh hukum nasional. “Melihat secara langsung kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan hidup di sekitar kita, juga melihat yaki yang dijadikan makanan oleh orang-orang rakus yang ingin memakan segala yang hidup, mengilhami kami untuk menjadi bagian dari upaya konservasi yaki”, kata Ade. Tapi bagaimana musik dapat membantu konservasi yaki? Menurut Bloodlines, “Musik dapat menjangkau golongan masyarakat yang mungkin pada awalnya belum begitu akrab dengan masalah-masalah lingkungan, dan melalui musik kita bisa menyampaikan pesan-pesan mengenai masalah lingkungan tersebut. Musik adalah senjata dan lirik adalah amunisinya!” The yaki (Macaca nigra) is an endemic primate species, which means that they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world. Unfortunately, the yaki is Critically Endangered due to hunting and deforestation with their population number declining over 80% in the last 40 years, despite being protected by national law. “Seeing for ourselves all the activities that harm the environment around us, as well as seeing that yaki are being consumed by greedy people who want to eat any living thing inspired us to become part of yaki conservation efforts,” says Ade. But how can music help yaki conservation? According to Bloodlines, “Music can reach different groups of society which have yet to be exposed to environmental issues. Through music we can convey messages about these environmental issues. Music is the weapon and lyrics are the ammunition!”

This slideshow requires JavaScript.

Strategi Bloodlines dalam berkontribusi untuk konservasi yaki sangatlah jelas: “Menyelipkan pesan-pesan konservasi di acara-acara musik yang kami hadiri,” jelas Ade, “mengenai betapa pentingnya yaki bagi hutan Sulawesi Utara dan bagi kehidupan masyarakat Minahasa. Melalui kerjasama dengan program konservasi seperti Selamatkan Yaki, kami membantu memberikan suara bagi yaki dan berharap dapat memenangkan perjuangan melawan kepunahan!” tukasnya. Bloodlines strategy of contributing to yaki conservation is clear:By slipping in conservation messages at all the music events that we participate in”, clarifies Ade, “about how important the yaki is for the forest in North Sulawesi and the lives of the Minahasan people, and through collaboration with conservation programmes like Selamatkan Yaki, we give voice to the yaki and hope to win his fight against extinction!”

Loud praise from the fans after their last song

Loud praise from the fans after their last song

Ayo lihat orang-orang inspiratif ini beraksi! Bergabunglah di konser mereka di Godbless Park Manado pada Sabtu, 18 April 2015 (gratis, mulai pukul 17.00) dan beli kaos Yaki Ambassador Bloodlines x Selamatkan Yaki (edisi terbatas) yang akan tersedia di konser, atau silahkan pesan melalui Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines See these inspiring guys in action! Join their concert at the GodBless Park Manado on Saturday, 18 April 2015 (free entrance, starting at 17:00) and buy  the Bloodlines x Selamatkan Yaki Ambassador T shirt (limited edition) available at the concert, or order now through Facebook: http://www.facebook.com/Bloodlines

Email: wearebloodlines@gmail.com Facebook: www.facebook.com/Bloodlines

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines band members and our Selamatkan Yaki members, together we can save the yaki!.jpg

Bloodlines concert

Why we need to protect our Minahasan treasure, the yaki (Macaca nigra)

What to do when you see yaki being kept as pets

What to do when you see yaki being kept as pets

Christmas is filled with the joy of family gatherings to celebrate while enjoying various food. Like humans, the Yaki (Macaca nigra) live in social groups and need their family and friends to survive. The Yaki is a special monkey as they only live in North Sulawesi and nowhere else in the world!

The Yaki plays an important role in people’s lives. Why? The Yaki eat up to 145 different species of fruit and plants and spread these seeds widely throughout the forests which allows new trees to grow. The Yaki keep the forests healthy and the forests keep humans healthy by providing fresh water, oxygen, food and other natural resources. The forest also protects the people against natural disasters such as floods and landslides. 

Unfortunately the Yaki experienced a population decline of more than 80% in the last 40 years and therefore have been given the status of Critically Endangered by the IUCN (International Union for Conservation of Nature). The major threats to the Yaki population are hunting and habitat loss. As the human population grows, people need more space to build their homes and land to grow food. When cutting trees to create more space for people, the homes of the Yaki (the forests) become smaller and smaller. The Yaki cannot find enough food in the forests anymore and therefore come to the farmers’ land to fill their empty stomachs.

The Yaki is protected by national law. UU No. 5 Tahun 1990 states that it is forbidden to capture, keep, hunt, sell, and transport Yaki (Macaca nigra), which applies to the skin or body, in part of whole, live or dead. The penalty for breaking this law is 5 years of imprisonment and a fine of 100 Million Rupiah.

Part of the reason why the Yaki has the Critically Endangered status is lack of effective law enforcement. People hunt and trade endangered wildlife with almost no consequences – at least up to now. We hope this will change and work closely together with the authorities to protect the remaining Yaki in the wild.

We will finish this Christmas consideration with asking you one more question: If there are more than 1 million Minahasan people in North Sulawesi and there are 5.000 Yaki left in the wild – how many Minahasan families can eat Yaki this Christmas before the species is extinct?

How can you help? Spread the word to friends and family about the Yaki and our plight to protect them! Politely refuse dishes with meat from endangered animals such as the Yaki. Send us a message on Facebook or email info@selamatkanyaki.com and we will send you our Yaki Information Banner that you can print and spread around your village! Help us spread the message about the importance of wildlife such as the Yaki, for a better future for the people of North Sulawesi and a life in harmony alongside Minahasa’s unique wildlife!

What to do when you see yaki trade in the market

What to do when you see yaki trade in the market

This article was written by Thirza Loffeld, Education and Advocacy Coordinator at Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki is a conservation program that aims to protect the remaining population of Yaki (Macaca nigra) in the wild. 

Mengapa kita perlu melindungi harta Minahasa kita, yaki (Macaca nigra)

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan

Natal dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati beragam makanan. Seperti manusia, yaki (Macaca nigra) juga tinggal dalam kelompok sosial dan membutuhkan keluarga dan teman untuk bertahan hidup. Yaki adalah monyet istimewa karena mereka hanya hidup secara liar di Sulawesi Utara dan tidak di tempat lain di dunia!

Yaki memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Mengapa? Yaki memakan hingga 145 jenis buah-buahan tumbuhan hutan yang berbeda dan menyebarkan biji-bijinya di seluruh hutan agar bisa bertumbuh menjadi pohon baru. Yaki menjaga hutan tetap sehat dan hutan menjaga manusia agar tetap sehat dengan menyediakan air, udara, makanan, dan sumber daya lain. Hutan juga menjaga manusia dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Sayangnya, yaki mengalami penurunan populasi sebesar lebih dari  80% dalam 40 tahun terakhir dan oleh karena itu mereka mendapat status Sangat Terancam oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ancaman utama terhadap populasi yaki adalah perburuan dan perusakan habitat. Seiring pertumbuhan penduduk, manusia membutuhkan semakin banyak ruang untuk membangun pemukiman dan lahan pertanian. Ketika mereka memotong pohon untuk menciptakan ruang bagi manusia, rumah yaki (hutan) semakin lama semakin kecil. Yaki tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup di hutan sehingga mereka terpaksa mencari makan di lahan pertanian untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Yaki dilindungi hukum negara. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 dinyatakan dengan jelas bahwa dilarang menangkap, memelihara, memburu, dan memindahkan yaki (Macaca nigra), yang berlaku pada kulit maupun tubuhnya, baik utuh maupun sebagian, baik hidup maupun mati. Hukuman bagi pelanggar undang-undang ini adalah 5 tahun penjara dan denda 100 juta Rupiah.

Salah satu alasan yaki memiliki status Sangat Terancam adalah kurang efektifnya penegakan hukum. Banyak orang berburu dan menjual satwa yang terancam punah tanpa dihukum – setidaknya, hingga saat ini. Kami berharap keadaan ini akan berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melindungi sisa populasi yaki di alam liar.

Sebagai penutup, kami berharap Anda bisa mempertimbangkan hal ini: Jika ada lebih dari 1 juta masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dan tersisa 5.000 ekor yaki di alam liar  – berapa banyak keluarga di Minahasa yang akan memakan yaki pada Natal tahun ini sebelum spesies ini punah?

Bagaimana Anda bisa membantu? Beritahu keluarga dan teman-teman mengenai yaki dan pentingnya kita melindungi mereka! Tolak dengan sopan  hidangan yang berisi daging satwa yang terancam punah seperti yaki. Kirimkan pesan pada kami di Facebook atau email info@selamatkanyaki.com dan kami akan mengirim banner informasi yang bisa Anda cetak dan sebarkan di desa Anda! Bantu kamI menyebarkan pesan mengenai pentingnya satwa liar seperti yaki,  demi masa depan masyarakat Minahasa yang lebih baik dan kehidupan yang harmonis di sisi satwa liar Minahasa!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki - tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki – tolong Anda cetak dan sebarkan di desa Anda!

Penulis oleh Thirza Loffeld, Pendidikan dan Advocacy Koordinator di Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki adalah program konservasi yang bertujuan untuk melindungi sisa populasi yaki (Macaca nigra) di alam liar. Selamatkan Yaki memberikan penyadartahuan dan menghubungi pihak penting lainnya. Kunjungi website kami: www.selamatkanyaki.com

Response to Yaki “Selfies”

Short Press Release/ Response to Yaki “Selfies” – August 12th, 2014

Selfie copyright? What about the monkeys?

Harry Hilser, Programme Manager, Selamatkan Yaki – North Sulawesi, Indonesia

As conservationists we are concerned that recent media stories featuring Sulawesi crested black macaques fail to highlight the fact that this species is seriously threatened with extinction. These stories may even encourage people to seek close contact with the monkeys, which could have negative consequences for their survival.
Sebagai penggiat konservasi kami prihatin dengan artikel-artikel di media yang menampilkan monyet hitam Sulawesi namun tidak membahas fakta bahwa spesies ini terancam kepunahan. Artikel-artikel ini dapat mendorong masyarakat untuk mendekati para monyet, yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan spesies ini.

As our inboxes swell with a plethora of “monkey selfie” articles, the distinctive black face peering out of the text is none other than the curious and captivating Sulawesi crested black macaque – the focus for our conservation programme, “Selamatkan Yaki” (meaning “Save the Monkeys!” in Indonesian).
Seiring bertambahnya artikel “selfie monyet” yang memenuhi inbox kami, wajah hitam khas yang mengintip dari teks tidak lain adalah monyet hitam Sulawesi yang menarik dan penuh rasa ingin tahu – fokus dari program konservasi kami, “Selamatkan Yaki.”

Our programme, based in North Sulawesi, Indonesia aims to protect the remaining wild populations of these unique monkeys, which dropped by around 80% within 40 years! One of our major objectives is to raise the profile of the species. Through a wide network of supporters and social media channels – at local, national and international levels, we endeavour to inform as many people about their plight as possible. However, it is often the most quirky stories that receive the most attention – the current virality of the monkey selfie is a clear example. We hope that amongst the cacophony of media dialogue around copyright ownership, the context to these images might be heard.
Program kami, berbasis di Sulawesi Utara, Indonesia, bertujuan melindungi sisa populasi liar dari monyet unik ini, yang telah turun hingga 80% dalam 40 tahun! Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan profil spesies ini. Melalui jaringan pendukung dan media sosial yang luas – di tingkat lokal, nasional dan internasional, kami berusaha memberitahu sebanyak mungkin orang mengenai ancaman yang dihadapi para monyet ini. Akan tetapi, biasanya cerita yang tidak lazim yang menerima perhatian paling besar – cerita viral tentang selfie monyet baru-baru ini adalah contoh yang jelas. Kami berharap di antara dengungan dialog media di seputar hak cipta foto ini, konteks pengambilan foto ini pun bisa didengar.

As conservationists, we have the monkeys’ best interests in mind. Ecotourism plays an important role in preserving their remaining forests. However, we would like to discourage people from wishing to visit these monkeys (or any other wildlife) with the desire to get “up close and personal”. This can have many potential negative impacts, such as injury, disease transmission and conflict with local communities through over-confident animals straying into villages. Despite their natural curiosity, we advise all visitors to keep a distance of 5m, as dictated by the Code of Conduct produced by the Indonesian Forestry Department. As for monkey photos…our patron Andrew Walmsley has shown that great shots can be taken at a respectable distance.
Sebagai penggiat konservasi, kami mengupayakan yang terbaik bagi para monyet ini. Ekowisata memainkan peran yang penting dalam melindungi apa yang tersisa dari hutan mereka. Akan tetapi, kami ingin mencegah masyarakat dari mengunjungi para monyet ini hanya untuk berdekatan secara fisik. Kegiatan ini dapat berdampak buruk, misalnya cedera, transmisi penyakit dan konflik dengan masyarakat lokal karena para satwa ini tidak lagi takut untuk mendekati manusia dan masuk ke dalam desa-desa. Meskipun rasa ingin tahu satwa ini besar, kami menyarankan para pengunjung untuk mempertahankan jarak 5m dengan mereka, seperti yang ditetapkan Kode Etik yang dirilis Kementerian Kehutanan Indonesia. Menyangkut foto-foto monyet… pendukung kami Andrew Walmsley telah membuktikan bahwa foto-foto hebat bisa diambil dari jarak yang aman.

With regards to monkeys owning copyright for images, as the Guardian reports…why not? As a Critically Endangered endemic species (found nowhere else!) facing possible extinction, the monkeys and their conservation programmes need all the help they can get. So why not envision the monkeys getting something back, through some form of creative licensing system, where the subjects of films or photographs receive due credit for their appearance in (or actual creation of) said media? This said…we also understand the effort it can take to get good shots (whichever primate does the button clicking!), and feel that if images are obtained ethically, photographers deserve to receive both credit and payment for their labours. The sharing of their work is an incredibly powerful tool to raise awareness from which our programme has already benefitted greatly.
Berbicara soal kepemilikan hak cipta oleh para monyet, seperti yang dilansir dilansir Guardian… kenapa tidak? Sebagai satwa endemik (tidak bisa ditemukan di tempat lain!) yang Sangat Terancam dan memiliki kemungkinan punah, para monyet dan program konservasi mereka membutuhkan bantuan apa saja yang bisa mereka peroleh. Jadi kenapa tidak para monyet ini mendapat kembalian, dalam bentuk sistem lisensi kreatif, di aman subyek film atau foto mendapat penghargaan yang sepantasnya untuk penampilan (atau usaha penciptaan) mereka dalam media tersebut? Kami paham usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh foto yang bagus (tidak peduli primata mana yang menekan tombol shutter!) dan kami rasa jika para fotografer ini memperoleh foto mereka secara etis, mereka pantas mendapat penghargaan dan bayaran untuk usaha mereka. pembagian foto mereka adalah alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran, dan program kami sudah merasakan manfaatnya.

Images can touch the heart strings of many, such as this poignant article, the reader’s responses clearly demonstrating empathy for the mother mourning her dead infant. If you would like to help these forgotten players in this squabble over ownership rights, please visit our website http://www.selamatkanyaki.com and consider donating here, or simply spread the word.
Foto dapat menggerakkan hati banyak orang, seperti yang dibuktikan artikel miris ini, di mana reaksi pembaca menggambarkan empati untuk sang ibu yang menangisi bayinya yang mati. Jika anda ingin membantu para pemeran yang terlupakan dalam perebutan hak cipta, silahkan kunjungi website kami di http://www.selamatkanyaki.com dan pertimbangkan untuk menyumbang di sini, atau sekedar menyebarkan kabar.

Let us hope these images can benefit all: the public, with beautiful images and a greater awareness of these magnificent creatures; the photographer, with publicity and image sales; and the monkeys, with greater acknowledgement and support for their protection, and hope for their future.
Mari kita berharap foto-foto ini bermanfaat bagi semua pihak: masyarakat umum, dengan gambar yang indah dan kesadaran yang semakin meningkat akan satwa luar biasa ini; sang fotografer, dengan publisitas dan penjualan gambar; dan para monyet, dengan pengakuan dan dukungan yang semakin besar untuk perlindungan mereka, dan harapan untuk masa depan mereka.

Yaki hampir punah: Gereja harus bertindak – Yaki almost extinct: how the church can help

This slideshow requires JavaScript.

Yaki atau Macaca nigra, adalah salah satu spesies endemik (hanya ada di satu tempat tidak ada di tempat lain di di dunia) Sulawesi Utara, dan keberadaaannya sudah sangat memprihatinkan. Dalam jangka waktu 40 tahun terakhir, populasinya menurun sangat drastis sampai 80%. Keadaan ini disebabkan karena hutan tempat hidup satwa ini telah diubah menjadi perkebunan bahkan perumahan, sehingga tidak ada lagi tempat untuk bernaung. Selain perambahan hutan ancaman lain yang menyebabkan penurunan populasi adalah karena perburuan. Alasan perburuan sering yang terjadi  adalah karena yaki dianggap hama, untuk dipelihara, dan yang paling sering terjadi khususnya di Sulawesi Utara ialah dikonsumsi. Yaki or Macaca nigra, is one of North Sulawesi’s endemic (found only in one place and nowhere else in the world) species and their existence is currently at a very alarming state. In the period of the last 40 years, yaki population has declined drastically to 80%. This situation is caused by forests in which the yaki live having been turned into farming fields, even housing estates, eliminating places for shelter. Other than the threat of encroachment, threats that cause population decline is hunting. Reason as to why hunting often happens is because yaki are considered as pests, pets and the most common reason especially in North Sulawesi, is consumption.

Pada tanggal 15 Juli 2014, di Pa’Dior YISBSU Tompaso, Yayasan Selamatkan Yaki mengadakan workshop bertajuk Torang Bacirita:Green Gospel (TBGG), yang dihadiri oleh Pendeta, Pastor, dan Hamba Tuhan di tingkat Sinodal atau Majelis Daerah, dan turut mengundang Departemen Agama dan pemerhati lingkungan yang ada di sekitar Tomohon dan Langowan. Workshop ini dilaksanakan dalam rangka Kampanye Kebanggan Yaki oleh Yayasan Selamatkan Yaki. Keterlibatandari pihak gereja dalam menyebarkan pesan konservasi sangat diperlukan mengingat bahwa penduduk Minahasa yang oleh umat Kristiani, sehingga gereja memiliki peran yang sangat krusial di tengah masyarakat; itulah yang melandasi TBGG ini dilaksanakan. On July 15th 2014, Selamatkan Yaki foundation held a workshop at Pa’Dior YISBSU Tompaso, titled Torang Bacirita: Green Gospel (TBGG), attended by Reverends, Pastor and Servants of the Lord (Hamba Tuhan) in the Sinodal or Regional Assembly level and also invited the Department of Religion and other environmentalists around Tomohon and Langowan. This workshop was conducted as a part of the Yaki Pride Campaign by Selamatkan Yaki. The involvements of the church in spreading conservation messages is desperately needed, given the fact that the majority of Minahasa people are Christians, giving the church a crucial role within the community; it is the reason under which TBGG was implemented.

Sudah saatnya gereja langsung bertindak nyata menyelamatkan semua ciptaan Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Salah satu peran gereja di tengah dunia adalah mengubah masyarakat dari konsumsi tinggi menjadi penyelamat dan penjaga lingkungan. Ini adalah perwujudan dari amanat agung yang diemban oleh seluruh umat manusia, yaitu untuk menjaga dan mengusahakan bumi, bukannya merombak dan mengeksploitasi berlebihan. It is time for churches to take real action in saving all of God’s creations that are very meaningful for human lives. One of the church’s roles in the world is to change society’s habit of high consumerism into being the savior and stewards of the environment. It is the embodiment of the great and holy mandate that is carried by all mankind, which is to maintain and manage the Earth, not to destroy and exploit redundantly.

Workshop dalam bentuk diskusi ini didahului dengan pemaparan materi dari peneliti dan ahli primata, serta tokoh rohaniawan Sulawesi Utara. Dari seminar ini diharapkan akan terbentuk komitmen bersama dari pimpinan gereja dalam penyusunan materi pelayanan yang lebih meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya pelestarian dan perlindungan terhadap ciptaan Tuhan, terlebih khusus satwa endemik Sulawesi Utara Macaca nigra sebagai satu bentuk pernyataan iman kristiani. This workshop that was organized in the form of discussions was preceded by talks given by researchers and primate experts, as well as religious icons of North Sulawesi. Through this seminar, joined-commitments are expected to be formed by leaders of churches with regards to preparations of service materials that will heighten awareness within the community about the importance of preservation as well as protection of God’s creations, especially the endemic species of North Sulawesi that is the Macaca nigra, as a form of statement of the Christian faith.

This slideshow requires JavaScript.